1. Title : Unbreakable Life Part 1
2. Author : Fortunia Ryu
3. Casts : Kim Kibum, Cho Hyunri, Park Jinyoung, Cho Kyuhyun, Jung Yunho, dan masih banyak lagi cast yang akan keluar masuk sesuka Author.
4. Genre : Romace, Family, others. I don't Know.
5. Lenght : Series/Chaptered
6. Rated : PG 17/PG 15/PG13. Terserah.
7. Disclaimer : Story is Mine!! Don't be Plagiat and Copas. Warning Typo(s)
Story............................
2. Author : Fortunia Ryu
3. Casts : Kim Kibum, Cho Hyunri, Park Jinyoung, Cho Kyuhyun, Jung Yunho, dan masih banyak lagi cast yang akan keluar masuk sesuka Author.
4. Genre : Romace, Family, others. I don't Know.
5. Lenght : Series/Chaptered
6. Rated : PG 17/PG 15/PG13. Terserah.
7. Disclaimer : Story is Mine!! Don't be Plagiat and Copas. Warning Typo(s)
Story............................
Author POV
Namja itu dengan erat menggenggam jemari istrinya. Melahirkan memang mempertaruhkan nyawa. Teriakan yang memetikkan telinga itu terdengar jelas diluar bersalin sebuah rumah sakit itu.
"Nyonya, sekali lagi. kepalanya sudah terlihat" instruksi seorang dokter muda itu.
"Ngeh. Ah.... sa-k-kit. Ah..." deru nafas itu terdengar semakin memburu. Suami dari yeoja itu terus memberikan semangat. Walau sebenarnya, hatinya enggan untuk menerima ini.
"Argh................."
"Owek..owek...owek" petikan panjang diiringi dengan tangisan sesosok bayi mungil itu membuat orang yang ada diseluruh ruangan itu bernafas lega. Ah, bukan. Bukan hanya orang-orang yang ada diruangan itu. Namun juga seorang namja yang berumur sekitar hampir menginjak 30 tahun itu menarik nafas lega. Ia mengamati seluruh aktivitas yang ada diruangan itu dari kaca jendela.
Senyuman manis mengembang disudut bibirnya. Namun lama kelamaan senyum itu menjadi senyuman miris saat melihat namja yang menyandang status sebagai suami dari yeoja yang baru saja melahirkan itu keluar dan berdiri dihadapannya.
"Sudah aku putuskan untuk merawatnya. Aku harap kau pergi dan jangan ganggu hidup kami lagi" ketara sekali nada ketus itu dalam kata per kata yang keluar.
"Baiklah. Aku harap kau mau menjaganya. Setidaknya jangan membencinya. Aku sungguh minta maaf. Itu hanya sebuah kecelakaan. Hyejin memang cinta pertamaku. Namun aku sudah tak mempunyai rasa apapun padanya. Kami pergi"
Namja itu menggandeng namja kecil yang baru berusia 8 tahun. Ia menengok kesamping. Melihat untuk terakhir kalinya bayi mungil itu.
"Yeoja. Dia yeoja" namja itu masih memasang wajah datar. Setelah mengucapkan itu ia kembali masuk ke dalam ruang bersalin meninggalkan namja dengan seorang anak laki-laki kecil itu.
"Appa" anak itu menarik-narik ujung jas yang dikenakan namja itu.
"Kajja"
*********
Seorang yeoja terlihat kalang kabut dilorong Kyughee Univeristy. Ia sesekali merutuki oppanya dengan sumpah serapahnya. Jam tangan berwarna krem dilengan kirinya itu sudah menunjukan pukul 08.32.
Bruuuuk
"Yak! Kau tidak punya mata eoh ? kau tahu aku sudah telat" bukannya minta maaf yeoja bermarga Cho dengan nama lengkap Cho Hyunri itu justru membentak orang yang ditabraknya. Ia bangkit tanpa memperdulikan siapa orang yang ditabraknya.
"Lain kali kau harus lebih hati-hati. Pakai matamu saat berjalan. Kau merusak dandananku" ucap Hyunri sebelum melenggang pergi.
"Ckckckckckck. Kenapa dongsaengmu lebih mengerikan darimu Kyu-ah" namja tampan itu merapihkan kemejanya setelah membereskan buku-buku yang dibawanya. Ia melangkah santai menuju kelasnya.
*****
"Kau terlambat lagi Nona Cho" terlihat dosen Jung menatap tajam mahasiswinya yang sudah terkenal tidak tahu aturan itu.
"Mian. Jika anda ingin menyelahkan, salahkan saja Kyuhyun oppa. Dia meninggalkanku dan berangkat sendiri" sahut Hyunri santai ia melangkah menuju tempat duduknya. Belum sampai ia mendudukan pantatnya, dosen Jung sudah berkata.
"Siapa yang menyuruhmu duduk. Aku sudah muak dengan segala tingkahmu. Sekarang kau keluar dari kelas. Tugas khusus untukmu, buat rangkuman tentang tata bahasa dalam puisi. Sebelum pulang kau harus menyerahkannya padaku jika tidak aku tidak akan mengurusi nilaimu lagi" seluruh kelas tercengang. Ini pertama kalinya Hyunri dikeluarkan dari kelas. Walau ia biasa membuat onar, nilai IP-nya selalu tinggi. Itulah yang membuat dosen memaafkannya jika terlambat. Namun kali ini... sepertinya ia memang harus menanggung ulahnya.
"Baiklah" dengan langkah santai ia berjalan keluar kelas. Dosen Jung hanya memandang mahasiswanya nanar. Senyum miris terukir jelas dibibirnya. Perpustakaan adalah tujuan Hyunri saat ini. Ia adalah mahasiswi jurusan bahasa dan sastra. Dia juga merupakan seorang penulis novel. Tapi yang paling mencengangkan adalah bahwa ia adalah dongsaeng dari dosen di Kyunghee. Cho Kyuhyun dan lebih parahnya ia adalah pembuat onar disini.
Terlambat adalah hal biasa untuknya. Tidur dalam kelas adalah sesuatu yang lumprah. Bahkan dengan santainya ia bermain game saat dosen sedang dikelas. Ia juga pernah kepergok berciuman diruang kesehatan. Minum alkohol adalah favoritenya. Masuk Club malam adalah hiburan untuknya, tapi ia adalah seorang yeoja yang kesepian.
Appa dan eommanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jika Kyuhyun mengalihkan rasa kesepiannya dengan bermain game, Hyunri memilih minuman alkohol dan kehidupan malam sebagai pelariannya.
*****
"Hah.... selasai. Masih jam 10. Lebih baik aku tidur saja. Lagi pula disini sepi" Hyunri menutup bukunya. Ia meletakkan kepalanya diatas meja baca perpustakaan. Sekarang memang masih ada kelas jadi perpustakaan sangat sepi. Kelas berakhir satu jam lagi.
Bruuuuk
Suara buku berjatuhan membuat Hyunri membuka matanya lagi. ia mengedarkan pandangannya kesegala arah diruangan perpustakaan ini. Ia melihat seorang namja tengah memunguti bukunya yang berjatuhan. Namja itu menunduk sehingga Hyunri tidak bisa melihat wajahnya.
"Yak! Sepertinya kau namja yang tadi pagi menabrakku ani ? bisakah kau tidak berisik! Kau mengganggu tidurku bodoh" Suara Hyunri menggema diruangan perpustakaan. Namja itu menengangkat kepalanya perlahan. Ia mencari yeoja mana yang berani membentaknya. Apalagi mengatainya 'bodoh'.
"OMO!!" Hyunri memetik melihat wajah namja yang tak jauh darinya. 'kau dalam masalah Cho Hyunri babo' rutuknya dalam hati.
"Bisa kau ulangi lagi kata-katamu itu Nona Cho ?" Namja itu kinni menatap Hyunri tajam. Mana ada Dosen dikatai oleh mahasiswanya sendiri.
"...." tak ada jawaban dari Hyunri. Yeoja cantik dengan mata bulat dan berbulu mata lentik itu menunduk.
"Kenapa kau tidak bisa menjawab ? kau memang dongsaeng dari Kyuhyun, tapi bisakah mulutmu itu dijaga!!" Hyunri gemetar. Bukan karena ia dibentak. Tapi karena yang sedang memarahinya, yang dari tadi ia sebut dengan kata 'bodoh' itu adalah Kim Ki Bum. Sahabat oppanya, juga orang yang dicintainya.
"Mi-mi-an Kibum oppa" Hyunri masih menunduk. Ia tak berani menatap Kibum yang sedang menatapnya tajam. Suaranya saja gemetar.
"Disini kampus. Bukankah sudah aku bilang panggil aku Kansanim. Kau harus membenahi kebiasaan burukmu yang telah mendarah daging itu. Aku tahu masalahmu, tapi ini salah" Hyunri tidak mampu berkata-kata. Jika oppanya sendiri yang sedang berkhotbah, ia akan dengan senang hati melayaninya atau bahkan membuat Kyuhyun jengkel. Tapi jika Kibum yang memarahinya, ia hanya bisa diam.
"Lebih baik sekarang kau perbaiki sikapmu. Walau kau sangat pintar tapi jika kelakuanmu seperti itu, kau tidak bisa membuat bangga orang tuamu. Bagaimana caramu membuktikan pada mereka jika bukan hanya Kyuhyun anak mereka ?" Hyunri hampir menitihkan air matanya. Orang taunya yang selalu membangga-banggakan Kyuhyun didepan relasi bisnisnya. Kibum berjalan mendekati Hyunri yang masih duduk. Ia memegang bahu yeoja itu lembut.
"Raih cita-citamu, semua mimpimu. Jalan hidupmu masih panjang. Aku pergi dulu" setelah dirasa tidak ada derap langkah itu, Hyunri mengangkat wajahnya. Air mukanya menampakan rasa kurang kasih sayang. Hidungnya memerah, pipinya basah. Ia tersenyum miris.
"Setidaknya aku tidak bisa membenci Kyuhyun karena dia adalah sahabatmu oppa"
*******
"Hyunri-ah. Kajja temani aku di dance floor" ujar seorang namja menghampiri Hyunri. Keadaanya saat ini setengah sadar karena dari tadi entah berapa banyak minuman dengan kadar alkohol sedang itu melewati tenggorokannya.
"Aku hanya ingin disini. Aku sedang tidak berniat disana" matanya setengah terbuka. Menurutnya dengan minum setidaknya ia tidak memikirkan kasih sayang orang tuanya yang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil.
"Baiklah. Jika kau mau mendengarkan saranku lebih baik sekarang kau pulang kau sudah setengah sadar. Jangan buat orang tuamu semakin berprasangka buruk padamu. Ini sudah hampir tengah malam" Jinyoung-nama namja itu- mengusap rambut Hyunri lembut. Sebetulnya ia mencintai yeoja itu, namun perasaanya bertepuk sebelah tangan.
"Nanti. Jika aku sudah lebih baik" suara Hyunri terdengar parau. Ia menegeguk lagi minuman itu. Jinyoung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku kesana dulu. jaga dirimu baik-baik" Jinyoung bangkit dari duduknya. Ia berbaur dengan orang-orang yang tengah mencari kesenangan di lantai dance. Dunia malam.
***
"Kau lihatkan sendirikan Hyuna. Mungkin ini alasannya Jinyoung memutuskanmu secara sepihak waktu itu" ujar seorang yeoja pada chingunya yang baru saja melihat pemandangan dimeja bartender.
"Dia harus diberi pelajaran untuk berhenti menggoda Jinyoung oppa. Kau masih mencintainya kan ?" ujar salah seorang yeoja yang memakai mini dress biru.
Yeoja bernama Hyuna itu sudah menampakkan wajah tak menyenangkan di wajah cantiknya. Kukunya memutih karena menahan amarah. Cemburu tepatnya. Gaun hitam pendek dengan belahann dada rendah dan punggung terekspos itu memberi kesan bahwa ia adalah primadona di Club ini.
Dengan langkah panjang, Hyuna menghampiri Hyunri yang sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua chingu-nya mengekor dibelakangnya. Braaak. Tangannya yang putih dengan kuku-kuku panjang itu menggebrak meja.
Hyunri menatapnya malas. Hyuna memang sudah berapa kali mendatanginya. Jika kau berfikir saat ini mereka menjadi pusat perhatian kau salah besar!! Orang-orang disini hanya perduli dengan dirinya sendiri. Itulah kehidupan malam. Sangat mengesankan!!
"Wae ?" Hyunri membuka matanya selebar yang ia bisa. Hyuna mencelos melihat wajah jutek yeoja dihadapannya. 'Hyuna lebih cantik, lebih sexy. Kenapa Jiyoung tertarik dengan yeoja jutek seperti Hyunri ? tidak ada daya tarik'
"Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu. Jauhi Jinyoung oppa. Dia itu milikku. Gara-gara kau hubungan kami hancur. Dasar yeoja sial. Yeoja tak tahu aturan" bentakan Hyuna hanya terdengar seperti bisikan saja. Suara musik di Club ini menenggelamkan suaranya.
"Aku tidak pernah merebut Jinyoung oppa. Aku juga tidak pernah mencintainya, apa lagi memacarinya. Jinyoung oppa itu bukan milik siapa-siapa. Kau kan sudah putus dengannya" ujar Hyunri keras. Jika ia tidak berbicara dengan kesar maka Hyuna tidak akan mendengarnya.
"Kalau begitu jauhi Jinyoung oppa jika kau tidak menyukainya. Dan kau tidak perlu datang kemari" Hyuna sudah terbawa emosi. Rasanya ia ingin mencakar dan menjambak rambut Hyunri.
"Club ini bukan milikmu. Jadi terserah siapa saja yang ingin kemari" gigi Hyuna bergelatuk.
"Kau-" Hyuna tercekat. Ia menatap Hyunri tajam namun yang ditatap hendak bangkit dari duduknya.
"Aku pergi dulu. jika kau bisa merubah cara berpakaianmu kurasa itu tidak terlalu buruk" Hyunri memegang pundak Hyuna. Ia mendekatkan mulutnya ditelinga Hyuna.
"Jinyoung tidak suka yeoja yang memakai pakaian dengan belahan dada rendah" Hyunri menarik tubuhnya. Ia berjalan meninggalkan Hyuna yang masih memandangnya.
"Hah... sialan! Dasar yeoja bermulut pedas"
******
Hyunri keluar dari mobilnya Lexus IS 300 hitam keperakannya. Ia berjalan kebelakang. Ia menendang ban mobilnya kesal. Ia melirik jamnya 00.13. jam segini mana ada taxi yang melintas. Ia melihat halte bus yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melihat daftar keberangkatan bus. 05.45. itulah bus yang paling awal beroprasi.
"Aghrr...." Hyunri mengerang kesal. Kemudian ia putuskan untuk berjalan kaki. Walau ia tahu memerlukan waktu sekitar satu jam untuk sampai dirumah.
Hyunri POV
Kurapatkan sweter tipis yang membalut tubuhku. Setidaknya dengan begini akan lebih hangat. Kepalaku masih pusing karena efek alkohol. Atau karena perkataan orang tuaku. Molla. Jalanan sudah sangat sepi. Bahkan dari tadi sudah tidak ada kendaraan yang lewat.
"Ah... kau lihat Jong kwon-ah, ada yeoja yeoppo ditengah-tengah malam seperti ini. Menurutmu sebaiknya kita apakan. Kau tahu sendirikan sekarang sedang dingin sekali. Hahahahaha....." entah datang darimana, kulihat 2 namja dengan pakaian urakan itu mendekat kearahku. Segera aku berbalik arah untuk menghindari mereka. Yang jelas firasatku tidak enak.
"Tangkap dia" ujar salah seorang dari mereka. Sekuat tenaga aku berlari menjauhi mereka namun baru beberapa meter salah seorang dari mereka berhasil menggenggam tanganku kasar.
"Lepaskan" kuhentak-hentakkan tanganku berusaha melepaskan diri. Tapi ini sulit. Namja itu justru mencengkramnya lebih erat dan kurasakan pergelangan tanganku mulai sakit.
"Seret saja ia" sekuat tenaga aku melepaskan diri. Tapi mereka membawaku atau lebih tepatnya menyeretku disebuah gang kecil yang remang-remang. Eottohke ? aku harus bagaimana ? tuhan tolong aku ? aku tidak mau dicap sebagai gadis murahan!! Aku tidak mau mendengar ucapan yang lebih menyakitkan lagi.
Mereka menyudutkanku ditembok. Satu dari mereka mencium bibirku kasar. Melumatnya, menggigitnya menghisapnya. Sedangkan yang satu lagi meremas bokongku dan mengecup leherku dari samping. Tuhan.. aku tidak ingin ini... air mataku jatuh.
Plaaaaak.
"Buka mulut bodoh. Balas ciumanku jika kau tak ingin aku berbuat kasar. Aku tidak meyuruhku menangis" namja itu kembali melumat bibirku yang berdarah karena digigitnya. Pipiku panas. Kupejamkan mataku. Menyedihkan.
"Ah..." kurasakan rambutku ditarik. Tuhan siapa aja tolong aku....!!!
Buugh, buuugh
Kubuka mataku yang terpejam. Mataku terpaku melihat namja yang sedang saling menghantam. Sejak kapan ia bisa berkelahi ? kulihat ia memelintir tangan salah satu namja yang tadi menyentuhku. Sedangkan yang satunya lagi sudah terkapar dengan wajah membiru.
Tubuhku runtuh kebawah. Lutut kulemas. Baru tadi pagi ia menasehatiku untuk tidak pergi ke Club. Sekarang ia menemukanku dalam keadaan seperti ini. Harga diriku jatuh sudah dihadapannya. Kau memang menyedihakan Cho Hyunri. Air mata ini kembali turun. Bahkan isak tangisku sudah tak mampu kutahan. Kutenggelamkan wajahku diantara lututku.
Hangat. Kurasakan seseorang memelukku. Ia mengusap kepalaku lembut. Nyaman. Kim Kibum. Kenapa kau selalu hadir saat aku membutuhkanmu ? kau membuatku selalu bergantung padamu.
"Sudahlah. Sekarang sudah malam. Lebih baik kau malam ini tidur dirumahku. Untuk besok biar aku yang menjelaskannya pada orang tuamu" tangannya yang lembut meraih pinggangku. Memapahku untuk jalan.
"Gomawo" lirih. Hanya sebuah bisikan yang jelas kau tak akan mampu mendengarnya yang mampu kuucapkan.
*****
"Sekarang kau langsung tidur. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang. Sebaiknya besok kau tidak usah masuk ke kampus dulu" Kibum oppa. Aku ingin sekali mengatakan ini. Aku mencintaimu oppa.
"Istirahatlah" ia membaringkanku diranjang salah satu kamarnya. Ia mngencup keningku lembut. Tangannya yang hangat mengelus rambutku.
"Jalja" kutarik tangannya. Putar otak Hyunri! Bukankah saat ini sangat langka ?
"Wae ?" aku menatapnya ragu.
"Oppa, temani aku tidur. Kali ini saja. Aku-"
"Ya sudah. Oppa akan menemanimu" aku tersenyum. Kepalaku masih sedikit pusing.
"Oppa, kemari" aku menepuk tempat tidur yang masih kosong disampingku.
"Tapi-" Aku memasang wajah memelas. Aku ingin berada didekatnya lebih lama. Aku tak akan memikirkan harga diriku lagi. masa bodoh dengan itu.
Ia terlihat ragu kemudian mengangguk. Ranjang sedikit berderik saat ia menaiki ranjang. Aku langsung memeluknya. Segera kutenggelamkan wajahku didadanya. Menghirup aroma tubuhnya yang menjadi candu tersendiri untukku.
"Jangan begini. Hyunri-ah" ia berusaha melepaskan pelukanku. Tapi aku memeluknya semakin erat. Malam ini. Hanya malam ini. Aku tidak berharap bisa menjadi istrinya. Aku tahu ia sudah dijodohkan walau dia acuh pada yeoja itu. Malam ini aku ingin tidur dalam pelukannya yang hangat.
"Oppa, malam ini saja. Aku mohon. Aku takut" kudengar ia menghela nafasnya kasar. Tangannya mengelus rambutku dan yang satunya memeluk tubuhku. Saat ini kami tidur dengan memiringkan tubuh. Dengan begini lebih leluasa aku memeluk tubuhnya. Entah bagaimana ceritanya ia bisa menemukanku disana. Menyelamatkanku.
"Gomawo"
"Cheonma. Sudahlah, tidur"
*****
Aku tersenyum. Pagi paling indah dalam hidupku. Posisi kami bahkan masih sama seperti tadi malam. Atau tepatnya tadi dini hari. Kualihkan tangan kiri yang tadinya memeluk tubuhnya yang hangat ke arah pipinya. Menyentuhnya dan mengusapnya. Wajahnya begitu mempesona. Bahkan saat tidur seperti ini, wajahnya jauh lebih tampan. Yah... walaupun ekspresi favoritku adalah saat melihatnya serius dengan buku psikolognya.
Kelopak mata itu menutupi mata yang dalam diam kutatap. Setidaknya dengan adanya dirimu aku tidak bisa membenci Kyuhyun oppa. Memang aku sadar ini bukan salah Kyuhyun oppa. Salah orang tuaku yang membeda-bedakan kami. Kuelus hidungnya yang mancung. Sentuhanku turun kebibirnya yang berwarna pink tipis.
Cuup
Cuup
Hanya 2 kali kecupan ringan. Aku tak berani melakukan lebih. Itu bisa mengganggu tidurnya. Kutenggelamkan lagi wajahku didadanya yang bidang dan hangat. Pelukannya aku berani berharap. Tapi pelukan orang tuaku ? entah aku bahkan ragu apakah dulu aku selalu ditimang-timang. Aku ragu jika dulu aku meminum ASI eomma. Mataku kembali memanas. Sudah berapa banyak air mataku yang turun.
"Argggh" petikku tertahan. Sudut bibirku terasa perih saat air mataku turun. Aku menjauhkan diriku kemudian duduk diatas ranjang. Kusentuh perlahan sudut bibirku. Sepertinya bengkak.
"Kau kenapa Hyunri-ah" kurasakan sebuah tangan memegang pundakku. Oppa, apa kau tahu apa yang kulakukan tadi.
"Gwaenchana" tangannya memutar tubuhku. Matanya yang indah menatap setiap inchi wajahku. Kuberanikan diri untuk menatapnya.
"OMO!! Oppa, wajahmu- kau-" kuangkat tanganku menyentuh pelipisnya. Aku yakin itu karena kejadian semalam.
"Awh..." ia meringis saat aku menyentuh luka itu. Terdapat darah yang mengering disana.
"Kau sendiri kenapa ? apa itu perbuatan namja brengsek itu ?" kuturunkan tanganku. Ku menunduk.
"Sebentar" kulihat ia bangkit lalu membuka pintu keluar kamar. Ia tak menutup lagi pintu itu, aku rasa ia pergi kearah dapur.
Asal kau tahu saja. Ini pertama kalinya aku berkunjung kerumahnya dan masuk kekamarnya. Kamar ini biasa saja, namun rapi. Sangat rapi. Berbeda sekali dengan kamarku, jika tidak ada yang membereskannya kamarku itu 11, 12 dengan kandang sapi. Kekekekek..... aku terkekeh sendiri jika mengingat bagaimana keadaan kamarku itu.
"Hyunri"
"Eh" kudongakkan kepalaaku. Kapan ia masuk ? kenapa tiba-tiba ia sudah berada didepanku.
Kurasakan tangannya mengobati pipiku yang sedikit lebam dan sudut bibirku yang terlihat sedikit bengkak. Kutatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa cm saja. Wajahnya ketika serius memang selalu menawan. Oppa... kapan kau akan terlihat jelek dimataku ? kulihat pelipisnya sedikit membiru. Mungkin itu karena tonjokan namja-namja itu. Mian oppa sudah merusak pahatan wajahmu yang menawan itu.
"Cha! Selesai" kulihat ia menegakkan kembali tubuhnya. Ia duduk disampingku.
"Gomawo. Kuharap oppa-"
"Tidak mengatakan itu pada Eomma dan Appa, apalagi Kyuhyun!!" ia memotong ucapanku. Dulu ia juga pernah membawaku kerumah sakit karena aku ikut balapan dan terjatuh. Hehehehe...
"Oppa" aku memegang lengannya.
"Aish... ya sudah. Tapi pertanyaanku adalah kenapa orangtua-mu seperti tidak mengacuhkanmu ? bukan maksudku untuk ikut campur. Aku hanya heran kenapa mereka seperti itu" kuhela nafasku. Jika aku tahu akan berusaha memperbaikinya. Setidaknya aku ingin disayang oleh mereka. Menjadi kebanggaan mereka. Bukan hanya Kyuhyun oppa.
"Aku tak tahu. Aku pernah menanyakan ini pada Eomma. Dulu saat aku masih di SHS, aku pernah bertengkar dengan sunbae yeoja. Sunbae itu tiba-tiba menarik rambutku dari belakang saat ditoilet. Karena itu Eomma dipanggil kesekolah. Setelah sampai dirumah, aku langsung ditampar Eomma. Aku ingat itu adalah kali pertama Eomma menamparku. Walau sejak dulu Eomma tidak pernah suka denganku, tapi ia tak pernah menamparku. Saat itu aku bertanya kenapa Eomma selalu mengutamakan Oppa, kenapa Eomma tidak pernah percaya padaku, kenapa Eomma tidak pernah mengelus rambutku seperti yang dilakukannya pada Oppa sebelum Oppa berangkat kuliah. Kenapa eomma tidak menyayangiku" Aku rasa ini keluar lagi. kuusap kasar air mata ini. Kuhela nafas berkali-kali.
"Ia hanya menjawab. Kau anak pembawa sial. Anak yang tak pernah diinginkan. Anak yang tak tahu aturan. Mungkin sejak saat itu juga aku mengenal dunia malam" aku tersenyum miris menatap tembok putih yang ada didepanku. Air mata ini selalu keluar saat mengingat kejadian itu. Aku rasa sebuah tangan menyentuh punggungku yang hanya menggenakan dress yang kulapisi sweter tadi malam.
"Sudahlah. Sekarang lebih baik kau bersihkan dirimu. Nanti akan oppa antar"
___________________________________________________________________________
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar