About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Jumat, 17 Oktober 2014

The Secret of Dark Devil and Vampire || Part 3


The Secret of Dark Devil and Vampire
Part 3 : To You
Lee Dong Hae – Oh Min Hwa
Present By : Choikang Lover



“Kami sama – sama makhluk kegelapan yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun kaum kami berbeda. Apakah iya kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan melakukan apapun termasuk menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu bersama.”



Precious Chapter. . .

“Yang Mulia,” itu suara ibunya. Ia adalah oleh tertinggi sekarang disini karena menggantikan ayahnya yang tengah dalam proses penyembuhan sekarang. “Eomma,” Min Hwa langsung mendekap tubuh ibunya. Menyandarkan dagunya pada bahu ibunya yang telah tua. “Jangan seperti ayahmu, ibu mohon jangan perang lagi. Jangan menjadi sosok asing yang kejam seperti dulu lagi. Ibu hanya takut kau tak seberuntung dulu. Ibu hanya takut kau akan musnah seperti kakakmu dulu. Ibu takut. . .”

Chapter 3. . .

          Sayap hitam pekat milik Dong Hae perlahan menghilang dipunggungnya setelah kaki pemuda –iblis- itu menapak menyentuh tanah. Kakinya melangkah pasti mengikuti instingnya walaupun ia belum tahu dimana tempat yang ia tuju. Langit mendung terlihat lebih pekat disini. Di puncak gunung Everest. Entah bagaimana bisa Sang Pewaris Tahta Iblis itu sampai di dunia manusia. Terlebih tempat itu terkenal sangat dingin. Di sini hanya ada batuan besar yang ditutupi salju abadi. Lalu dimana iblis –sialan- itu ? makhluk yang dicari – carinya.

          “Tak usah mengumpat begitu Yang Mulia. Hamba disini.” Sebuah suara tertangkap indra pendengarnya. Tidak, ia tak ada disini. Ia menggunakan telepati. Dong Hae menajamkan pendengarannya. “Di balik gunung ini ada sebuah gua yang tertutup batu besar. Disana aku berada.”

Tanpa tunggu lama Dong Hae kembali terbang dengan sayap hitamnya, matanya menelisik jeli gua yang dimaksud. Ketemu. Dong Hae langsung turun. Ditancapkannya pedang Black Soul miliknya pada batu yang menutupi mulut gua. Entah bagaimana batu besar itu langsung runtuh menjadi kerikil kecil yang bertebaran. Dong Hae mengambil Black Soulnya dan melangkah memasuki gua.

Dingin. Mungkin untuk manusia biasa mereka tak akan kuat dengan suhu disini. Bahkan suhu diluar jauh lebih hangat daripada suhu disini. Gua yang terbuah dari es yang beku terlihat seperti gua kristal. “Cho Kyu Hyun,” panggil Dong Hae saat melihat punggung bersayap abu – abu yang berdiri membelakanginya itu. Kyu Hyun berbalik, menampilkan senyum manisnya dan langsung berlutut memberi hormat. “Anda datang Yang Mulia,” basa – basinya.

Dong Hae melangkah mendekati Kyu Hyun, ia penasaran dengan sosok yang terbaring diatas es beku itu. “Nuguya ?” Kyu Hyun mengikuti pandangan Dong Hae, ia tersenyum. “Mate-ku, Hwang Ji Na. Ia manusia setengah vampire. Namun jiwa manusianya terlalu kuat, ia akan membusuk jika kubiarkan dalam peti mati.” Dong Hae mengangguk, tangan menyentuh pipi pucat wanita itu. “Kau membawanya kemari agar ia tak busuk karena suhu disini sangat dingin. Kau berniat mengawetkannya secara alami,” imbuh Dong Hae.

“Anda tahu terlalu banyak tentang vampire Yang Mulia. Mungkin ini karena Anda terlalu dekat dengan Putri Vampire itu.” Dong Hae tersentak. Ucapan Kyu Hyun seolah mengingatkannya perihal kedatangannya kemari. Dong Hae duduk diatas es yang cukup luas dengan permukaan lebih tinggi dibanding yang lainnya itu, ia memandang Kyu Hyun dengan sewajarnya. “Bisakah kau melepaskan Min Hwa untukku ?” bukan meminta, ucapan Dong Hae lebih tepatnya memerintah Kyu Hyun. “Aku bukan panglimamu lagi. Kau tak berhak memerintahku Yang Mulia,” ujarnya datar.

“Apa yang harus kulakukan agar kau melepaskan Min Hwa ?” tanya Dong Hae mencoba bernegosiasi dengan Kyu Hyun walaupun terlihat jelas Kyu Hyun terlihat tak berminat. “Mate-mu bukan Oh Min Hwa tapi Han Seung Yeon. Apa yang membuatmu mengubah buku takdir itu Yang Mulia ? apa karena Han Yeon hanya manusia biasa ? bukankah itu lebih mudah daripada Min Hwa yang seorang pemimpin bangsa vampire sekarang ?” Dong Hae menatap langit – langit gua sendu. “Mudah saja, aku tak bisa berhenti untuk memikirkannya.”

“Baiklah,” Kyu Hyun mengambil jeda sejenak. “Anda pasti tahu bahwa darah murni vampire bisa mengubah manusia ataupun manusia setengah vampire baik dalam keadaan hidup maupun mati untuk dihidupkan kembali sebagai vampire.” Dong Hae menatap Kyu Hyun bingung. “Jangan katakan kau menginginkan darah Min Hwa ? setetes saja gadis vampire itu pasti tak mau meneteskan darahnya terlebih untukmu. Ia alergi dengan iblis sekarang.” Kyu Hyun memutar bola matanya malas. Dasar tidak peka, batinnya.

“Ada tiga darah murni yang tersisa disini. Yang Mulia Raja Vampire, Putri Oh Min Hwa dan seorang vampire murni yang hidup di dunia manusia. Awalnya aku berencana untuk meminta dua – tiga tetes dari vampire murni yang hidup disini. Setelah Ji Na kembali hidup aku akan menusuk jantung gadis vampire itu dengan belati perakku, atau mungkin dengan Dark Twinsku.” Dong Hae tak terkejut, hal lumrah jika seorang Cho Kyu Hyun berniat membunuh Oh Min Hwa. Untuk itulah kedatangannya ke sini. “Lalu bagaimana dengan penawaranmu itu ?” Dong Hae memandang wajah pucat mate Kyu Hyun yang sedang terbaring –mati- itu.

“Mudah saja, aku minta beberapa tetes darah Oh Min Hwa untuk menghidupkan Ji Na. Setelah itu aku akan memberinya sedikit pelajaran untuk menebus delapan tahun ini Ji Na yang hanya dapat terbaring –mati-.” Dong Hae membulatkan matanya. “Bagaimana bila setelah memberikan darahnya untuk-” “tidak. Tidak ada penarawan lain,” potong Kyu Hyun.

“Baiklah, akan kubawa Min Hwa kemari. Tapi bisakah kau berjanji satu hal padaku ?” Dong Hae berdiri, ia beranjak dari duduknya kini ia berhadapan dengan Kyu Hyun. “Suatu saat nanti aku dan Min Hwa pasti membutuhkan bantuanmu. Maukah kau memihakku ?” Kyu Hyun mengangguk mantap. “Dengan catatan gadis vampire itu mau menghidupkan Ji Na. Ia yang sudah membuat Ji Na seperti ini, tapi bila ia bisa menebus kesalahannya mungkin aku bisa meringankan pembalasanku untuknya. Semakin cepat ia kemari semakin ringan pembalasanku.”

***

          Langit biru menjadi atap daerah hutan Ataros. Walaupun langit biru cerah namun cahaya matahari tak sanggup untuk menerobosnya. “Yang Mulia, anda yakin akan kesana seorang diri ?” tanya Eun Yeon, kepala pelayan yang mengabdi padanya. “Ye, aku akan baik – baik saja.” Eun Yeon menatap Nonanya yang terus melangkah di depannya. Di bagian utara hutan Ataros ada sebuah air terjun yang airnya sungguh dingin dan pemandangan disekitarnya sungguh indah dengan hijau tanaman hujan tropis. Air terjun itulah yang menjadi perbatasan antara wilayah kaum vampire dengan iblis. Seolah setelah air terjun itu terdapat gerbang dimensi disana. Tak semua makhluk dapat melewati gerbang dimensi itu.

          “Bagaimana perasaan anda ?” tanya Eun Yeon lagi. Pelayan itu tahu semua yang terjadi padanya. “Seperti yang dimiliki manusia. Rindu.” Eun Yeon tersenyum, ia tahu Nonanya tengah menatap air terjun itu. Disana Nonanya dan Putra Mahkota Iblis biasa menghabiskan waktu sebelum perang yang terjadi hampir sembilan tahun lalu itu. “Jika Yang Mulia kesana, anda pasti bisa bertemu dengannya,” ujar Eun Yeon menggebu – gebu. “Dan mungkin ia akan menyeretku untuk memisahkan kepalaku dari tubuhku,” candanya dengan tawa renyah yang lama tak terdengar.

          “Hati – hati Yang Mulia.” Min Hwa melangkah memasuki gerbang dimensi itu. Ia hanya membawa belati kepemimpinan dan panahnya. Mungkin taringnya juga bisa jadi senjata.

***

          “Kau sangat merindukankukah ?” Dong Hae melayang rendah, ia tertawa renyah saat gadis vampire itu terus melangkah dengan wajah datar. Dong Hae menghembuskan napasnya, tangannya mencengkram erat bahu gadis vampire itu dan membawanya terbang cepat menuju istananya yang ada di puncak bukit sana dengan wajah datar. Min Hwa merasa Dong Hae sudah kembali menjadi sosoknya yang menyebalkan, tidak seperti saat mereka kembali pertama bertemu yang terkesan menghindarinya. Entah ini hanya perasaanya saja atau memang benar walau Dong Hae tetap menolongnya.

          Dong Hae menjatuhkan gadis vampire itu dari ketinggian sepuluh meter diatas tanah berumput dihalaman istana. Gadis itu mengumpat lirih lantas berdiri dan membersihkan gaunnya yang kotor. “Kita bertemu lagi, kau datang menghantarkan nyawamu eoh ?” Yoo Chun dan beberapa pengawal kacangan itu mendekati Min Hwa membuat gadis itu tersentak. Yeah, Yoo Chun sangat bernapsu untuk membunuhnya entah dengan motif apa.

          “Aku datang kemari memenuhi undangan Tuan kalian membicarakan perjanjian damai dua puluh lima tahun yang disepakati delapan tahun silam.” Yoo Chun tertawa meremeh. “Yang Mulia tak akan mengundangmu kemari sebelum ia memberitahuku rencananya,” sahut Yoo Chun, panglima itu langsung menarik pedangnya dan mengacungkannya seolah menantang. “Sayangnya aku kemari bukan untuk melawanmu.” Gadis vampire yang arogan itu berbalik dan melangkah memasuki istana tanpa memerdulikan Yoo Chun.

          Dengan kesal Yoo Chun melayangkan pedangnya hendak menyayat punggung Putri Vampire itu namun sebuah Black Soul menahan pedang Yoo Chun. “Biarkan ia lewat.” Yoo Chun kembali mendengus kesal. “Tapi Yang Mulia-” “ayah ingin bertemu dengannya, kau antarkan dia,” sela Dong Hae. “Mwoya ? naega ? kenapa bukan-” “ayah melarangku untuk menemuinya sampai hukumanku selesai.” Yah, jika vampire paling alergi dengan iblis adalah Tuan Putri Oh Min Hwa sedangkan iblis paling alergi dengan vampire adalah Park Yoo Chun Sang Panglima.

          Yoo Chun berjalan cepat di depan Min Hwa, gadis itu acuh – acuh saja. Mereka melewati lorong – lorong yang tak bisa dihapal sekali jalan saja hingga berakhir di depan sebuah pintu berdaun dua dari logam dengan ukiran rumit itu. Yoo Chun membuka pintu itu mempersilahkan Min Hwa masuk tanpa suara. Mereka sampai diruang pertemuan bangsa iblis dan Min Hwa adalah bangsa vampire pertama yang menginjak tempat ini.

          “Yang Mulia, Putri Vampire datang.” Yoo Chun lantas meninggalkan tempat itu setelah memberi salam –pemberitahuan- pada sang raja. Setelah mereka hanya berdua sang raja yang berdiri menatap keluar dari jendela itu berbalik. “Selamat datang Tuan Putri,” sambutnya dengan senyum menyeringai dan tepukan tangan dari pemimpin iblis tersebut. “Kau sangat berani, bahkan terlalu pemberani Oh Min Hwa,” lanjutnya sinis.

***

To Be Countinue. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar