The
Secret of Dark Devil and Vampire
Part 3 : To You
Lee Dong Hae – Oh Min Hwa
Present By : Choikang Lover
“Kami
sama – sama makhluk kegelapan yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun
kaum kami berbeda. Apakah iya kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan
melakukan apapun termasuk menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu
bersama.”
Precious Chapter. . .
“Yang
Mulia,” itu suara ibunya. Ia adalah oleh tertinggi sekarang disini karena
menggantikan ayahnya yang tengah dalam proses penyembuhan sekarang. “Eomma,” Min Hwa langsung mendekap tubuh
ibunya. Menyandarkan dagunya pada bahu ibunya yang telah tua. “Jangan seperti
ayahmu, ibu mohon jangan perang lagi. Jangan menjadi sosok asing yang kejam
seperti dulu lagi. Ibu hanya takut kau tak seberuntung dulu. Ibu hanya takut
kau akan musnah seperti kakakmu dulu. Ibu takut. . .”
Chapter
3. . .
Sayap hitam pekat milik Dong Hae
perlahan menghilang dipunggungnya setelah kaki pemuda –iblis- itu menapak
menyentuh tanah. Kakinya melangkah pasti mengikuti instingnya walaupun ia belum
tahu dimana tempat yang ia tuju. Langit mendung terlihat lebih pekat disini. Di
puncak gunung Everest. Entah bagaimana bisa Sang Pewaris Tahta Iblis itu sampai
di dunia manusia. Terlebih tempat itu terkenal sangat dingin. Di sini hanya ada
batuan besar yang ditutupi salju abadi. Lalu dimana iblis –sialan- itu ?
makhluk yang dicari – carinya.
“Tak usah mengumpat begitu Yang Mulia.
Hamba disini.” Sebuah suara tertangkap indra pendengarnya. Tidak, ia tak ada
disini. Ia menggunakan telepati. Dong Hae menajamkan pendengarannya. “Di balik
gunung ini ada sebuah gua yang tertutup batu besar. Disana aku berada.”
Tanpa
tunggu lama Dong Hae kembali terbang dengan sayap hitamnya, matanya menelisik
jeli gua yang dimaksud. Ketemu. Dong Hae langsung turun. Ditancapkannya pedang
Black Soul miliknya pada batu yang menutupi mulut gua. Entah bagaimana batu
besar itu langsung runtuh menjadi kerikil kecil yang bertebaran. Dong Hae
mengambil Black Soulnya dan melangkah memasuki gua.
Dingin.
Mungkin untuk manusia biasa mereka tak akan kuat dengan suhu disini. Bahkan
suhu diluar jauh lebih hangat daripada suhu disini. Gua yang terbuah dari es
yang beku terlihat seperti gua kristal. “Cho Kyu Hyun,” panggil Dong Hae saat
melihat punggung bersayap abu – abu yang berdiri membelakanginya itu. Kyu Hyun
berbalik, menampilkan senyum manisnya dan langsung berlutut memberi hormat.
“Anda datang Yang Mulia,” basa – basinya.
Dong
Hae melangkah mendekati Kyu Hyun, ia penasaran dengan sosok yang terbaring diatas
es beku itu. “Nuguya ?” Kyu Hyun
mengikuti pandangan Dong Hae, ia tersenyum. “Mate-ku, Hwang Ji Na. Ia manusia
setengah vampire. Namun jiwa manusianya terlalu kuat, ia akan membusuk jika
kubiarkan dalam peti mati.” Dong Hae mengangguk, tangan menyentuh pipi pucat
wanita itu. “Kau membawanya kemari agar ia tak busuk karena suhu disini sangat
dingin. Kau berniat mengawetkannya secara alami,” imbuh Dong Hae.
“Anda
tahu terlalu banyak tentang vampire Yang Mulia. Mungkin ini karena Anda terlalu
dekat dengan Putri Vampire itu.” Dong Hae tersentak. Ucapan Kyu Hyun seolah
mengingatkannya perihal kedatangannya kemari. Dong Hae duduk diatas es yang
cukup luas dengan permukaan lebih tinggi dibanding yang lainnya itu, ia
memandang Kyu Hyun dengan sewajarnya. “Bisakah kau melepaskan Min Hwa untukku
?” bukan meminta, ucapan Dong Hae lebih tepatnya memerintah Kyu Hyun. “Aku
bukan panglimamu lagi. Kau tak berhak memerintahku Yang Mulia,” ujarnya datar.
“Apa
yang harus kulakukan agar kau melepaskan Min Hwa ?” tanya Dong Hae mencoba
bernegosiasi dengan Kyu Hyun walaupun terlihat jelas Kyu Hyun terlihat tak
berminat. “Mate-mu bukan Oh Min Hwa tapi Han Seung Yeon. Apa yang membuatmu
mengubah buku takdir itu Yang Mulia ? apa karena Han Yeon hanya manusia biasa ?
bukankah itu lebih mudah daripada Min Hwa yang seorang pemimpin bangsa vampire
sekarang ?” Dong Hae menatap langit – langit gua sendu. “Mudah saja, aku tak
bisa berhenti untuk memikirkannya.”
“Baiklah,”
Kyu Hyun mengambil jeda sejenak. “Anda pasti tahu bahwa darah murni vampire
bisa mengubah manusia ataupun manusia setengah vampire baik dalam keadaan hidup
maupun mati untuk dihidupkan kembali sebagai vampire.” Dong Hae menatap Kyu
Hyun bingung. “Jangan katakan kau menginginkan darah Min Hwa ? setetes saja
gadis vampire itu pasti tak mau meneteskan darahnya terlebih untukmu. Ia alergi
dengan iblis sekarang.” Kyu Hyun memutar bola matanya malas. Dasar tidak peka,
batinnya.
“Ada
tiga darah murni yang tersisa disini. Yang Mulia Raja Vampire, Putri Oh Min Hwa
dan seorang vampire murni yang hidup di dunia manusia. Awalnya aku berencana
untuk meminta dua – tiga tetes dari vampire murni yang hidup disini. Setelah Ji
Na kembali hidup aku akan menusuk jantung gadis vampire itu dengan belati
perakku, atau mungkin dengan Dark Twinsku.” Dong Hae tak terkejut, hal lumrah
jika seorang Cho Kyu Hyun berniat membunuh Oh Min Hwa. Untuk itulah
kedatangannya ke sini. “Lalu bagaimana dengan penawaranmu itu ?” Dong Hae
memandang wajah pucat mate Kyu Hyun yang sedang terbaring –mati- itu.
“Mudah
saja, aku minta beberapa tetes darah Oh Min Hwa untuk menghidupkan Ji Na.
Setelah itu aku akan memberinya sedikit pelajaran untuk menebus delapan tahun
ini Ji Na yang hanya dapat terbaring –mati-.” Dong Hae membulatkan matanya.
“Bagaimana bila setelah memberikan darahnya untuk-” “tidak. Tidak ada penarawan
lain,” potong Kyu Hyun.
“Baiklah,
akan kubawa Min Hwa kemari. Tapi bisakah kau berjanji satu hal padaku ?” Dong
Hae berdiri, ia beranjak dari duduknya kini ia berhadapan dengan Kyu Hyun.
“Suatu saat nanti aku dan Min Hwa pasti membutuhkan bantuanmu. Maukah kau
memihakku ?” Kyu Hyun mengangguk mantap. “Dengan catatan gadis vampire itu mau
menghidupkan Ji Na. Ia yang sudah membuat Ji Na seperti ini, tapi bila ia bisa
menebus kesalahannya mungkin aku bisa meringankan pembalasanku untuknya.
Semakin cepat ia kemari semakin ringan pembalasanku.”
***
Langit biru menjadi atap daerah hutan
Ataros. Walaupun langit biru cerah namun cahaya matahari tak sanggup untuk
menerobosnya. “Yang Mulia, anda yakin akan kesana seorang diri ?” tanya Eun
Yeon, kepala pelayan yang mengabdi padanya. “Ye, aku akan baik – baik saja.”
Eun Yeon menatap Nonanya yang terus melangkah di depannya. Di bagian utara
hutan Ataros ada sebuah air terjun yang airnya sungguh dingin dan pemandangan
disekitarnya sungguh indah dengan hijau tanaman hujan tropis. Air terjun itulah
yang menjadi perbatasan antara wilayah kaum vampire dengan iblis. Seolah
setelah air terjun itu terdapat gerbang dimensi disana. Tak semua makhluk dapat
melewati gerbang dimensi itu.
“Bagaimana perasaan anda ?” tanya Eun
Yeon lagi. Pelayan itu tahu semua yang terjadi padanya. “Seperti yang dimiliki
manusia. Rindu.” Eun Yeon tersenyum, ia tahu Nonanya tengah menatap air terjun
itu. Disana Nonanya dan Putra Mahkota Iblis biasa menghabiskan waktu sebelum
perang yang terjadi hampir sembilan tahun lalu itu. “Jika Yang Mulia kesana,
anda pasti bisa bertemu dengannya,” ujar Eun Yeon menggebu – gebu. “Dan mungkin
ia akan menyeretku untuk memisahkan kepalaku dari tubuhku,” candanya dengan
tawa renyah yang lama tak terdengar.
“Hati – hati Yang Mulia.” Min Hwa
melangkah memasuki gerbang dimensi itu. Ia hanya membawa belati kepemimpinan
dan panahnya. Mungkin taringnya juga bisa jadi senjata.
***
“Kau sangat merindukankukah ?” Dong
Hae melayang rendah, ia tertawa renyah saat gadis vampire itu terus melangkah
dengan wajah datar. Dong Hae menghembuskan napasnya, tangannya mencengkram erat
bahu gadis vampire itu dan membawanya terbang cepat menuju istananya yang ada
di puncak bukit sana dengan wajah datar. Min Hwa merasa Dong Hae sudah kembali
menjadi sosoknya yang menyebalkan, tidak seperti saat mereka kembali pertama
bertemu yang terkesan menghindarinya. Entah ini hanya perasaanya saja atau
memang benar walau Dong Hae tetap menolongnya.
Dong Hae menjatuhkan gadis vampire itu
dari ketinggian sepuluh meter diatas tanah berumput dihalaman istana. Gadis itu
mengumpat lirih lantas berdiri dan membersihkan gaunnya yang kotor. “Kita
bertemu lagi, kau datang menghantarkan nyawamu eoh ?” Yoo Chun dan beberapa
pengawal kacangan itu mendekati Min Hwa membuat gadis itu tersentak. Yeah, Yoo
Chun sangat bernapsu untuk membunuhnya entah dengan motif apa.
“Aku datang kemari memenuhi undangan
Tuan kalian membicarakan perjanjian damai dua puluh lima tahun yang disepakati
delapan tahun silam.” Yoo Chun tertawa meremeh. “Yang Mulia tak akan
mengundangmu kemari sebelum ia memberitahuku rencananya,” sahut Yoo Chun,
panglima itu langsung menarik pedangnya dan mengacungkannya seolah menantang.
“Sayangnya aku kemari bukan untuk melawanmu.” Gadis vampire yang arogan itu
berbalik dan melangkah memasuki istana tanpa memerdulikan Yoo Chun.
Dengan kesal Yoo Chun melayangkan
pedangnya hendak menyayat punggung Putri Vampire itu namun sebuah Black Soul
menahan pedang Yoo Chun. “Biarkan ia lewat.” Yoo Chun kembali mendengus kesal.
“Tapi Yang Mulia-” “ayah ingin bertemu dengannya, kau antarkan dia,” sela Dong
Hae. “Mwoya ? naega ? kenapa bukan-” “ayah melarangku untuk menemuinya sampai
hukumanku selesai.” Yah, jika vampire paling alergi dengan iblis adalah Tuan
Putri Oh Min Hwa sedangkan iblis paling alergi dengan vampire adalah Park Yoo
Chun Sang Panglima.
Yoo Chun berjalan cepat di depan Min
Hwa, gadis itu acuh – acuh saja. Mereka melewati lorong – lorong yang tak bisa
dihapal sekali jalan saja hingga berakhir di depan sebuah pintu berdaun dua
dari logam dengan ukiran rumit itu. Yoo Chun membuka pintu itu mempersilahkan
Min Hwa masuk tanpa suara. Mereka sampai diruang pertemuan bangsa iblis dan Min
Hwa adalah bangsa vampire pertama yang menginjak tempat ini.
“Yang Mulia, Putri Vampire datang.”
Yoo Chun lantas meninggalkan tempat itu setelah memberi salam –pemberitahuan-
pada sang raja. Setelah mereka hanya berdua sang raja yang berdiri menatap
keluar dari jendela itu berbalik. “Selamat datang Tuan Putri,” sambutnya dengan
senyum menyeringai dan tepukan tangan dari pemimpin iblis tersebut. “Kau sangat
berani, bahkan terlalu pemberani Oh Min Hwa,” lanjutnya sinis.
***
To Be
Countinue. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar