1.
Title : Fate Chaptered 1 : Down
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Jung Jiyoung, Choi Siwon[Udah
pada tahu ya ni orang member boyband apa. Ok bagi yang belum tahu Visualnya
Super Junior, Choi Siwon putra konglomerat pemilik Hyundai Departement
Store*Tebar berlian*], Choi Jonghyun[Changjo Teentop], Jung Byunghee[G.O MBLAQ]
and other casts find by your self!!
4.
Rated : PG 13
5.
Lenght : Short Story*Rencana
Threesome*
6.
Genre : AU, Romance, Family and
other up to readers.
7.
Disclaimer : Choi Siwon pasti member Super
Junior*peluk satu-satu*, Choi Jonghyun member Teentop*maksud ane Changjo*
karena author lagi kesem-sem sama ni bocah jadi ni bocah nyempil di ni FF. Ada
3 part di FF ni dan itu diambil dari lirik lagu Hero bagian Shindong oppa yang
paling unhyuk-unhyuk*cubit pipi* pertama Down, Pain dan Fate. Dan jadilah ni
FF. Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No PLAGIAT. Pure present by me
Ikrillah Khoirun Nisa’ atau pena name sama Fortunia Ryu*tunjukin tag name*
segitu aja yah.. capek!!
Kuteguk jus jeruk dan
menelannya cepat. Kenapa bocah ini tak henti-henti bicara tak jelas seperti ini
? Argh!! Sungguh tak bisa dipercaya, kenapa Siwon oppa bisa memiliki saudara
tiri seperti ini ? Dan yang menjadi masalahnya adalah kenapa ia tak pernah mau
lepas dariku. Aish!! Dia pikir aku eomma-nya ?
“Young, kau tak mendengarku ?” Jonghyun-nama bocah itu*dia lebih
tua 3 tahun dariku* tapi kelakuannya saat kekanakan-melipat kedua tangannya
diatas meja dan menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Tersenyum sok manis!!
“Young!!” aku terus diam tak mendengarkannya. Mataku terfokus pada
ponsel yang kuletakkan diatas meja kantin.
“Young!! Kau menunggu pesan dari Siwon hyeong ? Bukankah sudah
kukatakan ia itu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakanmu. Kenapa kau terus
berada disampingnya ? Kenapa tidak mencoba berpaling darinya saja ? Kalian
terlalu banyak perbedaan Young!!” aku mendesus kesal. Bocah ini!! Tak tahu
apa-apa tapi main ceramah tak berisi sesuka hatinya. Kalau dia bukan
namdongsaeng Siwon oppa sudah kujahit mulutnya!!
“Kenapa kau selalu seperti ini ? Kau semakin membuat suasana hati
kacau Choi Jonghyun!!” lihatlah, ia justru tersenyum cerah.
“Kenapa kau tersenyum ? Mengerikan!!” gertakku tapi ia justru
tersenyum semakin lebar sambil menopang dagunya.
“Aku suka melihat kalian tak akur. Bukankah sudah kubilang kau tak
pantas dengannya, kalian begitu banyak perbedaan. Siwon hyeong juga selalu
sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan kemarin ia tak mengucapkan selamat ulang
tahun padamu bukan ? Kalian miskin komunikasi. Jung Jiyoung, kenapa kau masih
bertahan ?” aku memutar bola mataku malas.
“Jawabanku masih sama karena aku mencintainya”
“Dan aku mencintaimu” mataku terbelakak. Kukibaskan tangan kiriku
dan tertawa renyah.
“Ini tak lucu Jonghyun!! Aku sedang ada masalah dengan Siwon oppa
jadi jangan bergurau sekarang” kuteguk lagi jus jeruk yang masih tersisa untuk
membasahi tenggorokanku.
“Usia kalian berbeda 11 tahun, apa kau tak sadar itu ? Dia butuh
hubungan yang serius bukan main-main. Dia sudah dewasa dan kita masih remaja,
bisakah kau merasakannya ? Dan aku tak bercanda, aku serius. Aku mencintaimu.
Aku benci melihatmu tersenyum padanya dan menganggapku anak kecil” matanya
berubah serius. Aish, kuacak rambutnya gemas sambil tersenyum sebelum pergi
meninggalkannya.
“Jangan kekanakan Jonghyun-ah, walaupun kau lebih tua dariku tapi
kenapa sikapmu seperti anak SD ? Aku pergi dulu Sunbaenim” ucapku sambil
melangkah pergi, baru 2 langkah sebuah tangan menghentikan langkahku.
“Aku serius. Akan kubuktikan bahwa kau lebih pantas menjadi milikku
nona Jung. Bukan namja tukang cari muka itu” aku memandangnya tak mengerti. Ia
melepaskan cengkramannya pada pergelangan tanganku lalu melenggang menghampiri
teman-teman satu gengnya.
Kulanjutkan
langkahku menuju kelas. Jonghyun-ah, jangan seperti itu. Aku memang
merasakannya. Aku merasakan tatapan yang berbeda saat kau menatapku tapi- aku
tak menyangka kau akan mengungkapkannya seperti ini. Ini tak boleh
Jonghyun-ah!!
***
Aku mengetuk pintu
ruang kerja Siwon oppa. Yah, sekarang aku berada di kantor pusat Hyundai
departement store. Kata sekertaris Jang-sekertaris Siwon oppa yang tadi bertemu
di lobi- Siwon oppa sedang ada diruangannya. Kuketuk lagi tapi belum ada
sautan. Kuputar kenop pintu dan membukanya sedikit. Kulihat dia sedang sibuk
dengan berkas-berkas –entah itu ada- dan ia terlihat tenggelam dalam dunianya
sendiri. Benar-benar Workholic!!
“Oppa” Siwon oppa mendongak, saat matanya melihatku ia tersenyum
lembut. Aigoo~ senyumnya begitu menenangkan. Kudorong pintu ini untuk membukanya
lebih lebar. Lalu kulangkahkan kakiku mendekatinya. Aku berdiri satu meter dari
meja kerjanya.
“Ada apa Uri Jung ?” tanyanya sambil menautkan jari tangannya dan
memandangku seolah-olah aku putri raja. Dan aku menyukainya.
“Ada yang ingin oppa sampaikan padaku ?” aku masih berdiri enggan
untuk melangkah mendekatinya. Kenapa Siwon oppa belum paham juga jika aku
sedang merajuk ? Apa benar kata Jonghyun kalau Siwon oppa mulai melupakanku dan
mencari yeoja yang- aish!! Tidak mungkin. Kugelengkan kepalaku untuk membuang
pikiran-pikiran aneh yang entah datang dari mana.
“Ji-ah!!”
“Ye!!” aish, Siwon oppa pasti melihat kelakuanku barusan. Omona!!
Memalukan sekali kau Jung Jiyoung!!
“Kau kenapa ?” Dia berdiri dan menghampiriku, memasukan kedua
tangannya kesaku celana hitamnya. Matanya menelisik diriku mencari jawaban atas
kelakuanku. Oppa, kau melupakan sesuatu kemarin! Apa kau tak ingat ?
“Ji-ah” tangannya memegang kedua pundakku, satu tangannya digunakan
untuk menyentuh daguku membuat mata kami saling bertemu. Mata yang damai, yah..
itu yang selalu kurasakan saat bertatapan dengannya. Membuatku nyaman.
“Kau kenapa chagiya ? Ada masalah ? dan- kenapa kau belum ganti
baju ?” aku kembali menunduk enggan bertatapan dengannya. Biarkan saja, aku
suka merajuk padanya.
“Oppa- kau melupakan sesuatu kemarin ?” ia nampak berfikir. Tak
lama kemudian ia melepaskan tangannya dari bahuku. Ia kembali berjalan menuju
meja kerjanya lalu membuka laci paling atas. Ia kembali berdiri didepanku
dengan membawa paper bag berwarna putih.
“Mian aku baru bisa memberikannya sekarang. Sungguh Jiyoung-ah,
kemarin aku sibuk dan aku baru pulang jam 10 malam. Aku tak mungkin pergi
kerumahmu karena sudah larut malam. Lagi pula kau pasti sudah tidur dan-”
“Aku bukan ingin oppa. Oppa~ kau melupakannya bukan ?” ia menatapku
intens saat aku menyelanya. Bukan- bukan hadiah, kado, ataupun barang-barang
mahal yang aku inginkan oppa. Neo nappeun!!
“Mianhae chagiya jika aku lupa. Sekarang katakan apa yang kau
inginkan ?” kugigit bibir bawahku untuk meredakan emosiku. Bukankah tahun lalu
kau sendiri yang berjanji, kenapa sekarang kau sendiri yang lupa ? Atau- kau
pura-pura lupa.
“Jiyoung-ah” aku enggan menggan menatapnya walau ia terus menatapku
dalam. Apa hubungan ini hanya sekedar main-main saja ? Apa benar kau tak serius
menjalin hubungan ini denganku oppa ?
Kusendakkan kedua
tangannya lalu berbalik. Aku berjalan cepat menuju pintu untuk keluar ruang
kerjanya. Kuhentikan langkahku sebentar tanpa berbalik. “Dibawah pohon maple,
saat salju turun tahun lalu” kulanjutkan langkahku meninggalkannya. Benarkan !!
apa ia sudah muak denganku ? Ia tak mengejarku ataupun menahanku.
***
Kubuka pintu rumah
dengan malas. Kuganti sepatu sekolah yang kukenakan dengan sandal rumah lalu
berjalan menuju dapur. Kuambil gelas dan menuangkan air dingin yang kuambil
dari kulkas lalu meneguknya.
“Nona, anda sudah pulang. Ada yang menunggu anda ditaman dengan
tuan muda Byunghee” aku mengangguk. Kuletakkan gelas yang airnya tinggal
setengah gelas.
“Gamsahamnida ahjumma” nugu ? Siwon oppa ? Apa ia sudah paham
maksud dari ucapanku tadi ? kulangkahkan kakiku menuju taman belakang dengan
senyum yang mengembang. Aigoo~ sudah kubilang dia itu memang seorang pangeran.
Sangat mempesona, sikapnya dan semua yang ada padanya dirinya.
Senyumku langsung
menghilang saat kulihat Jonghyun melambaikan tangannya padaku. Byunghee oppa
menyuruhku mendekati mereka dengan isyarat tangannya. Kulangkahkan kakiku
mendekati mereka yang tengah memberi makan ikan koi peliharan Byunghee oppa.
“Ige- tadi Siwon hyeong menitipkannya padaku. Ia juga meminta maaf
karena tak bisa menepati janjinya sekarang, ia berpesan agar kau mau
menunggunya hingga ada waktu yang tepat” aku mengangguk dan menerima paper bag
yang disodorkan Jonghyun. Bukan apa-apa, hanya saja aku kecewa kenapa ia tak
langsung menemuiku. Apa meluangkan 30 menit saja untuk datang kemari dan
meminta maaf tak bisa. Aku tak menuntut untuk ia menepatinya segera, aku hanya
ingin ia tak melupakan hal sekecil apapun tentang diriku.
“Kenapa Siwon oppa menyuruhmu kemari ?” tanyaku sambil meletakan
paper bag itu diatas batu pinggir kolam.
“Dia sibuk” aku hanya mengangguk paham. Memang sih sibuk, tapi
tidak bisakah sebentar saja ia meluangkan waktunya untukku.
“Aku heran yang pacaran denganmu itu Siwon hyeong atau Jonghyun
Young-ah ? Kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jonghyun daripada dengan
Siwon. Kau tidak sedang memacari keduanya bukan ?” kujitak kepala Byunghee oppa
yang asal bicara ini. Aish!!
“Oppa ngawur!! Tak mungkin aku mempunyai dua namjachingu, apa lagi
mereka bersaudara. Lebih baik oppa jaga mulut oppa saja kalau tidak mau kepala
oppa yang kena imbasnya”
“Habis, kau dan Jonghyun begitu dekat. Siapapun yang melihatnya
secara sekilas pasti akan berpikir kalian sepasang kekasih”
“Itu karena Jonghyun suka sekali menempel padaku oppa. Kalau begitu
suruh dia untuk tidak menggangguku lagi. Lagi pula dia itu sudah seperti oppa
untukku” kulirik Jonghyun sekilas. Raut wajahnya menampakan sedikit kekecewaan.
Apa benar apa ia ucapkan tadi pagi ? Apa ia benar-benar serius ? Aish Jung
Jiyoung babo!! Dia itukan tukang ngawur dan tak pernah serius, kenapa harus
dipikirkan!!
“Aku permisi hyeong, Jiyoung-ah. Aku ada acara dengan teman” aku
hanya mengangguk menatap punggungnya yang kini menjauhi kami.
“Kenapa melihatnya seperti itu ? Iya aku tahu, jika kau menyukainya
katakan saja. Sebenarnya oppa juga lebih suka kau dengan Jonghyun daripada
Siwon hyeong. Masak adik iparku lebih tua dariku, yang benar saja” kuambil
sedikit air dengan tanganku lalu kucipratkan hingga mengenai kaos putih polos
yang dikenakan Byunghee oppa.
“Yak!! Berhenti Jiyoung-ah!! Geurae, oppa diam” kukibas-kibaskan
tanganku agar sedikit mengering. Kami lama terdiam, larut dalam pemikiran
masing-masing.
“Kau ada masalah dengan Siwon Hyeong ? Dari kemarin wajahmu tidak
enak dipandang Jiyoung-ah, wae geurae ? Kau bisa cerita pada oppa” mataku
mengikuti gerakan ikan koi berwarna orange yang berenang dengan bebas dikolam.
“Apa iya Siwon oppa hanya mempermainkanku oppa ? em- maksudku, apa
ia- Siwon oppa tak serius denganku oppa ?” ujarku lirih. Aku tahu Byunghee oppa
kini tengah menatapku, tapi aku enggan menatapnya. Aku tak ingin ia menjadi
khawatir.
“Memangnya kenapa ?”
“Tahun lalu ia berjanji untuk mengenalkanku pada keluarganya.
Maksudku mengenalkanku sebagai yeojachingu-nya. Itu janjinya saat ulang tahunku
tahun lalu. Tapi kemarin- jangankan mengenalkanku, memberi ucapan selamat ulang
tahun saja tidak” tuturku lemas. Air mata bodoh jangan keluar. Cukup semalam saja!!
“Jadi maksudmu-”
“Bukan aku yang memintanya oppa tapi Siwon oppa sendiri. Tapi
sekarang- aku tak yakin ia mengingat hari ulang tahunku. Dia hanya memberiku
kado apa dia berpikir jika memberiku kado bisa membuatku lunak. Ia pikir aku
anak kecil yang-”
“Kau memang anak kecil yang manja. Tuan putri lihat ini” kulirik
tangannya yang menggenggam dress putih mungkin panjangnya sekitar selutut
dengan renda dibawahnya dan lengan pendek. Motif bunga-bunga dibagian pinggang
kebawah. Manis memang.
“Dan ini!!” aku menerima surat yang diberikan Byunghee oppa pada
tangan kananku. Warna hijau kesukaanku.
“Aku tak membacanya tapi mungkin surat itu akan menjelaskan
semuanya. Aish!! Kenapa Siwon hyeong tahu cara membuat Tuan Putri Jung merasa
tersanjung. Aku pergi dulu” Byunghee oppa memasukan kembali dress itu kedalam
paper bag lalu melenggang pergi meninggalkanku sambil bersenandung.
Setelah punggung
Byunghee oppa tak terlihat lagi kualihkan pandanganku pada kertas berwarna
hijau muda yang ada ditangan kananku. Kubuka lipatannya dan membacanya dalam
diam.
Pertama Saengil Chukha Hamnida Uri Jiyoung Princess...
Mian, kau pasti
kesal dengan oppa. Baiklah, oppa benar-benar minta maaf. Bukan maksud oppa
untuk melupakan hari ulang tahunmu. Oppa tak mungkin lupa hari dimana putri
cantik ini lahir karena hari itu adalah hari dimana oppa sangat bersyukur pada
Tuhan.
Semoga kau semakin
dewasa, cantik, pintar. Semoga kau selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Dan
janji oppa tahun lalu- maaf untuk sekarang oppa tak bisa. Tunggulah sebentar
lagi, akan ada saatnya.
Jangan terlalu
banyak menangis, tidur siang baik untukmu agar wajahmu tak cepat menua
Princess...
No matter what happen, i’ll promise you, that i always be your
Guardial Angel..
Your Man-Choi Siwon
Aku tersenyum lalu
meraih paper bag yang diletakan Byunghee oppa disampingku lalu memasukan kertas
itu kedalamnya. Lalu berjalan menuju kamar, tidur siang adalah pilihan terbaik.
Biasa memang tapi apa yang dia lakukan selalu membuatku merasa tersanjung.
***
“Jiyoung-ah!! Ireona. Ji-ah!!” aku mengeliat pelan saat sebuah
tangan menepuk-nepuk pipiku ringan dan menggoyangkan tanganku. Aish
mengganggu!!
“Byunghee oppa, bangunkan aku saat makan malam saja. Aku masih
ngantuk” ucapku dengan mata tertutup. Kenapa orang itu selalu mengganggu
ketenanganku. Kurang kerjaan sekali.
Kurasakan sepasang
tangan hangat melingkar kupinggangku setelah kudengar samar-samar suara derikan
ranjang. Kurasakan juga hembusan nafas menerpa wajahku, Byunghee oppa tidak
mungkin seperti ini, biasanya dia akan mencubit hidungku jika aku tak
bangun-bangun. Karena penasaran kubuka mataku perlahan-lahan. Sosok yang semula
samar kini terlihat jelas terbentuk diretina mataku. Sosok yang akhir-akhir ini
sulit untuk kuhubungi, ia tengah tersenyum manis didepanku.
“Ireona Uri Princess Jung” CUP. Aku hanya mengerjap-ngerjapkan
mataku kaget. Ia tak bergerak hanya menempelkan bibirnya saja. Satu tangannya
beralih mengelus pucuk kepalaku. Ah.. nyamannya!!
“Jika kau tak bangun-bangun kupastikan kau takkan bisa bernafas”
refleks aku langsung mendorong dadanya dan merubah posisiku menjadi duduk.
Kulirik Siwon oppa yang mengikutiku duduk bersandar pada headboard sambil
terkekeh.
“Berhenti oppa. Kau mengerikan!!” ia justru menjadi tertawa renyah.
Menyebalkan.
“Berhenti merajuk Princess Jung. Cepat ganti bajumu, aku ingin
mengajakmu kesuatu tempat” ucapnya sambil beranjak dari ranjang berjalan menuju
pintu untuk keluar. Ia berbalik memandangku sebentar sebelum berucap. Ah, baru
kusadari ia masih memakai kemeja biru dan jas hitamnya tadi siang. Ia pasti
belum pulang kerumah.
“Ah ya pakai dress yang kuberikan untukmu tadi” aku mengangguk,
setelah ia menutup pintu aku beranjak untuk bersiap-siap.
***
Mataku terus
memandang kearah luar, menatap jalanan Seoul yang berwarna-warni karena cahaya
dari lampu-lampu. Kusandarkan kepalaku, kemudian kutengokan kepalaku kesamping
kiri. Wajahnya yang serius memperhatikan jalan membuat senyum ini tak kuasa
kutahan. Dari tadi kami belum mengeluarkan sepatah katapun dan aku masih ingin
tetap seperti ini. Diam sambil memandangi wajahnya.
“Princess Jung, aku tahu aku tampan. Tapi berhenti memandangku
seperti itu” ujarnya namun tetap menatap lurus kedepan.
“Oppa diamlah, aku lebih suka memandangimu seperti ini” ia tak
menyahut. Bukankah ia sangat dewasa dan pengertian. Ah- mengingat perbedaan
usia itu membuat mood-ku sedikit memburuk.
“Sampai. Ji-ah, ayo turun” aku mengamati sekitar dari dalam mobil.
Bukankah ini-
“Kajja turun. Uri eomma dan abeoji sudah menunggu” aku memandangnya
seolah bertanya apakah ia serius ?
“Kajja!!” kutahan tangannya yang hendak membuka seatbelt.
“Oppa serius ?” ia menggenggam tanganku dan menatap mataku lembut.
Aigoo~ jujur walaupun aku memintanya menepati janjinya tapi aku belum siap
bertemu dengan Choi Ahjumma dan Choi Ahjussi. Keringat dingin mulai keluar dari
pelipis dan telapak tanganku. Tanda bahwa aku sedang gugup.
“Kau bertanya aku serius untuk memperkenalkanmu pada orang tuaku
atau menanyakan keseriusan hubungan kita ? Jiyoung-ah, kau pikir aku tak bisa
membaca gelagatmu saat menemuiku di kantor tadi siang eh ?” aku menunduk.
Memang, aku meragukan hubungan ini. Ditambah akhir-akhir ini kami miskin
komunikasi.
“Maaf baru sekarang aku bisa mempertemukanmu dengan orang tuaku,
kau tahu bukan abeoji ada di Jepang dan ia baru bisa pulang sekarang. Dan untuk
hubungan kita- aku tak pernah main-main Jiyoung-ah. Diusiaku yang sekarang tak
ada waktu untuk main-main. Aku mencintaimu dengan tulus. Terima kasih atas
pengertianmu selama ini” CUP. Kecupan hangat mendarat dikeningku cukup lama.
Sekitar 1 menit ia menarik wajahnya.
“Sudah nyaman ? genggam tanganku dan jangan takut ara” aku
mengangguk sambil tersenyum. Tak sungka ternyata ia benar-benar serius dengan
ucapannya. Gamsahamnida oppa, kau memberitahuku rasa manisnya cinta.
END => Story Down
TBC => Story Fate

Tidak ada komentar:
Posting Komentar