1.
Title : Fate Chaptered 3 : Fate
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Jung Jiyoung, Choi
Siwon[Udah pada tahu ya ni orang member boyband apa. Ok bagi yang belum tahu
Visualnya Super Junior, Choi Siwon putra konglomerat pemilik Hyundai
Departement Store*Tebar berlian*], Choi Jonghyun[Changjo Teentop], Jung
Byunghee[G.O MBLAQ] and other casts find
by your self!!
4.
Rated : PG 13
5.
Lenght : Short Story*Rencana
Threesome*
6.
Genre : AU, Romance, Family and
other up to readers.
7.
Disclaimer : Choi Siwon pasti member Super
Junior*peluk satu-satu*, Choi Jonghyun member Teentop*maksud ane Changjo*
karena author lagi kesem-sem sama ni bocah jadi ni bocah nyempil di ni FF. Ada
3 part di FF ni dan itu diambil dari lirik lagu Hero bagian Shindong oppa yang
paling unhyuk-unhyuk*cubit pipi* pertama Down, Pain dan Fate. Dan jadilah ni
FF. Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No PLAGIAT. Pure present by me
Ikrillah Khoirun Nisa’ atau pena name sama Fortunia Ryu*tunjukin tag name*
segitu aja yah.. capek!!
Jonghyun POV
“Eotteokhae ?” aku hanya menghembuskan nafas berat lalu duduk
disamping Byunghee hyeong.
“Aku belum memberitahu appa masalah ini. Ia hanya tahu kalau
Jiyoung sakit karena kehujanan, aku juga melarang Park Uisanim memberitahu appa
kalau Jiyoung mengalami depresi ringan” aku mengangguk paham, kuminum jus jambu
yang disediakan Byunghee hyeong untukku, kuminum 3 teguk lalu meletakkannya
kembali karena kudapati Byunghee hyeong menatapku dengan tatapan yang-
“Waeyo hyeong ? Kenapa menatapku seperti itu, kau membuatku takut
hyeong” lihatlah, ia justru tersenyum gaje sekarang. Menggelikan!! Aigoo~
“Hufffh... selama 5 hari ini kau menginap disini, apa orang tuamu
tak mengkhawatirkanmu Jonghyun-ah ? Bukannya aku mengusirmu hanya saja- aish!!
Aku berterima kasih padamu yang sudah menjaga Jiyoung tapi- aigo~ bagaimana
mengatakannya ya ?”keningku mengkerut menatap Byunghee hyeong yang mengacak
rambutnya frustasi. Aigoo~ ada apa dengan orang ini ?
“Kau mengerikan hyeong. Tadi kau menatapku seolah aku pencuri
sekarang kau ngomong tidak jelas. Jangan membuatku takut hyeong” dia
menghentikan acara mengacak rambutnya lalu menatapku penuh arti. Aigoo~ pasti
ada hal aneh yang akan terjadi sebentar lagi.
“Begini, pertama aku mewakili Jiyoung dan appa mengucapkan banyak
terima kasih padamu karena sudah menjaganya selama ini. Aku heran- yah, aku
tahu kau menyukai Jiyoung tapi Jonghyun-ah, yang membuatku semakin heran adalah
kau tetap berada disampingnya dan justru memintanya untuk mencurahkan semuanya
padamu. Bukankah menyakitkan melihat orang yang kita cintai tidak membalas
perasaan kita tapi justru menangisi orang lain. Maksudku- berhenti menyakiti
dirimu sendiri. Aku tak melarangmu menjaga Jiyoung aku justru sangat berterima
kasih tapi-”
“Pikirkan dirimu sendiri Jonghyun-ah. Aku kerap melihatmu tersenyum
sambil menatap wajah Jiyoung yang sedang tidur tapi wajahmu basah dengan air
mata. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Lupakan Jiyoung dan aku
akan menjaganya sendiri, aku yakin pasti bisa mengembalikannya seperti dulu”
kupejamkan mataku, mataku terasa panas. Kurasakan tepukan pelan dibahu kiriku.
Kuangkat wajahku memandangnya yang menatapku prihatin.
“Secara fisik kau memang tak terluka tapi secara batin- diantara
kalian bertiga kau yang paling sakit Jonghyun-ah” aku mengangguk dengan mata
terpejam.
“Tapi hyeong- disini setidaknya ada Jiyoung yang bisa kujaga dan
ada kau dan Jung Ahjussi yang menjagaku. Membangunkanku, menanyakan bagaimana
hariku, setidaknya disini aku bisa merasakan bagaimana itu keluarga hyeong”
kuhembuskan nafas sejenak lalu mengambil nafas perlahan mengingat perlakuan
yang selama ini kuterima.
“Aku bahkan tak ingat kapan Abeoji mengusap kepalaku, bahkan
memanggil namaku. Tak pernah juga ia menelponku saat diluar negeri atau sekedar
mengirimiku pesan. Disana ada Siwon hyeong. Hanya Siwon hyeong yang dibutuhkan
disana, bukan aku. Hanya Siwon hyeong anak Choi Jihoon yang terhormat itu
hyeong bukan aku” Tess.. tess.. tess...
Sudut bibirku
bergetar. Rasanya sakit sekali, mendapat perlakuan yang berbeda. Bukan!! Bukan
perlakuan yang berbeda tapi- tak pernah dianggap. Rasanya seperti aku tak ingin
lahir didunia ini. Kurasakan Byunghee hyeong memelukku mengusap rambutku.
Rasanya nyaman walau yang melakukannya adalah orang yang tak memiliki hubungan
darah denganku.
“Kau ternyata masih anak kecil yang sudah sekali Jonghyun-ah”
“Kumohon jangan menyuruhku pulang. Aku ingin disini, aku janji akan
menjaga Jiyoung hanya sebagai seorang kakak” Yah... akan kucoba, walau sampai
saat ini aku masih belum bisa memusnahkan rasa ini. Bahkan kadang aku masih
bermimpi untuk bisa memilikinya.
“Kau membenci Siwon hyeong hingga ingin merebut Jiyoung dari
sisinya ?” aku hanya menggeleng lemah.
“Ani. Aku mencintainya karena itu dirinya. Walau aku mencintainya
aku selalu menekan itu dan menanamkan dalam pikiranku bahwa dia adalah milik
Siwon hyeong yang harus kujaga. Walau tak bisa kupungkiri aku juga
menginginkannya. Tapi aku selalu menepisnya hyeong” aku melepaskan pelukanku
lalu menyusap air mata yang mengalir dari mataku dengan cepat. Choi Jonghyun
menangis!! Pasti aku akan menjadi bulan-bulanan Chan Hee hyeong dan Byung Hun
hyeong.
“Dari awal aku sudah tak yakin dengan Siwon hyeong. Walau aku
selalu berusaha menerimanya mengingat bagaimana Jiyoung tersenyum tapi- pada
akhirnya tetap saja aku ragu”
“Aku lebih memilihmu Jonghyun-ah. Sekarang- buatlah Jiyoung membuka
hatinya untukmu. Mungkin ini akan terdengar egois, buat adikku tersenyum jika
kau tak ingin kutendang keluar dari rumah ini ok ?” aku hanya mengangguk
semangat sambil tersenyum. Kami tertawa ringan entah karena apa.
“Sesekali pulanglah kerumah, tengok Jihyun Ahjumma. Ucapkan salamku
padanya dan maaf menjadikan putra kesayangannya guardial Uri Jiyoung. Ah- aku
pergi dulu ada meeting dan appa memintaku untuk mengantikannya. Ck!! Lulus
kuliah saja belum” aku hanya mengangguk sambil mendengarkan ocehannya yang entahlah.
Mulutnya benar-benar seperti Jiyoung jika ngomel. Dasar kakak adik!!
*** Fate:Fate ***
Jiyoung POV
Kubuka mataku
perlahan yang terasa berat. Uhhh... aku haus tapi tubuhku lemas sekali.
Kutolehkan kepalaku kesamping kanan ranjang. Seseorang dengan tangan sebagai
bantal tidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala di ranjang. Kugerakan
tanganku menyentuh tangannya.
“Jonghyun-ah” aigoo~ serak sekali.
“Ah!! Kau sudah bangun Jiyoung-ah. Sebentar, kuambilkan minum” aku
hanya mengangguk lemah menunggu dirinya yang pergi kedapur mungkin ? Aigoo~
kepalaku pusing sekali.
“Ini” ia membantuku duduk dengan bersandar di headboard. Kuteguk
perlahan air putih yang dibawanya.
“Gomawo” ia mengangguk lalu meletakkan gelas itu di nakas sambil
tersenyum.
Ranjang berderik
saat ia naik keatas ranjang lalu meraih kepalaku untuk bersandar dibahunya.
Kupejamkan mataku lagi, bukan ingin tidur hanya saja ini nyaman. Ia tahu cara
membuatku tenang. Jonghyun-ah gomawo!! Tangannya menyentuh kepalaku lalu
mengelusnya lembut.
“Eotteokhae ? Nyaman ? Bagaimana keadaanmu sekarang ?” tanyannya
lembut. Ia begitu memperhatikanku, merawatku dengan baik. Tangannya yang
satunya lagi meraih tanganku lalu menggenggamnya erat. Hangat.
“Demammu sudah turun, jadi mulai besok aku bisa sekolah dan tidur
dikamar tamu” aku mengangkat kepalaku memandangnya bingung.
“Kau ijin dari sekolah ?” ia hanya mengangguk polos. Aku mendesah
berat lalu kusandarkan lagi kepalaku dibahunya.
“Kenapa kau melakukannya ?”
“Karena aku ingin menjagamu, membuatmu tersenyum lagi. Selalu
disampingmu saat kau membutuhkan sandaran, saat kau membutuhkan teman bicara,
saat kau frustasi. Aku ingin mendengarnya, aku ingin kau membaginya denganku.
Apapun untukmu tersenyum Jiyoung-ah” Kau terlalu baik padaku Jonghyun-ah. Maaf-
bukankah aku gadis bodoh yang meratapi hidupnya ditinggal kekasihnya sedangkan
ada namja yang begitu baik menawarkan bahunya untukku menangis tanpa bisa
membalas apa-apa.
“Apa kau masih mencintaiku ?” 5 detik aku menunggu, tapi ia hanya
diam. Tubuhnya tak bereaksi apa-apa hanya gerakan tangannya dikepalaku berhenti
sejenak.
“Aku selalu mencintaimu, tapi jangan dipikirkan. Aku akan senang
melihatmu tersenyum walau itu bukan untukku atau karena aku” kulepas tautan
tanganku dengannya, kuangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.
“Kenapa kau begitu ? Aku tahu ini membuatmu sakit, karena saat ini
aku merasakan bagaimana sakitnya tidak bisa memiliki orang yang kita cintai.
Seharusnya kau pergi jauh Jonghyun-ah... jangan pedulikan aku” tangannya
menangkup dipipiku, hingga air mataku jatuh mengenai tangannya. Ibu jarinya
terus menyeka air mata yang keluar tapi percuma karena ini terus mengalir.
“Jangan pernah menangis karena aku. Sekarang luapkan segara yang
kau rasakan padaku, curahkan semua yang mengganggu pikiranmu... jangan
menahannya sendiri” kupeluk erat punggungnya. Tak kuhiraukan air mataku yang
jatuh membasahi bajunya. Kupukul-pukul pelan punggungnya melampiaskan emosiku.
“Kenapa ia begitu jahat Jonghyun-ah ? Apa dia hanya mempermainkanku
? Apa ia tahu aku sakit ? Kenapa ia tak kemari juga ? Apa benar ia- Beginikah
rasanya sakit ?” hiks.. ia hanya diam saja. Membiarkanku menumpahkan semua yang
mengganggu pikiranku dalam pelukannya. Membuat beban yang menghimpit kepalaku
menjadi lebih ringan...
“Kau boleh menangis tapi hanya jika diperlukan” kata-katanya- mirip
dengan Siwon oppa. Jonghyun-ah...
*** Fate:Fate ***
Choi Siwon
Kutepikan mobilku
dipinggir sungai Ujigawa dibawah jembatan Asagiri. Sungai yang membelah
kecamatan Uji menjadi 2. Kubuka atap mobil hingga udara pinggir kota Kyoto yang
sedikit menenangkan hatiku yang risau masuk kedalam paru-paruku lalu
menghembuskannya perlahan.
“Seperti perjanjian kita- 2 minggu. Dan ini hari terakhir
Hyoeun-ah. Kuharap kau mengerti” kutolehkan kepalaku kesamping. Hyoeun
menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Matahari tenggelem menjadi
background dirinya bak seorang putri yang sangat cantik namun- hati ini sudah dimiliki
oleh orang lain Hyoeun-ah. Kusandarkan kepalaku sambil menghela nafas.
“Bukankah sudah aku katakan oppa, jika kau tak ingin menikmatinya
setidaknya anggaplah ini liburan. Terbebas dari rutinitas dan setumpuk berkas
yang membosankan itu” aku menoleh padanya yang menatapku dengan raut yang
tenang.
“Kau tahu, selama 2 minggu ini aku begitu merasakan bahwa kau-
sepertinya tak bisa berpaling dari bocah SMA itu” aku mendecak sebal. Lalu
kembali keposisiku-bersandar dengan tatapan lurus kedepan-.
“Dia bukan bocah SMA Hyoeun-ah. Dia punya nama namanya Jung Jiyoung
tapi aku lebih suka memanggilnya Uri Jung, Uri Princess atau Ji-ah” ucapku dan
tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.
Jiyoung-ah kau sedang apa sekarang ? Apa kau tahu apa yang terjadi kini ?
Semoga tidak.
“Hyoeu-” ucapanku berhenti saat aku menolehkan kepalaku, kudapati
wajahnya yang sendu dengan tatapan mata sayu juga- air mata. Apa karena aku
membicarakan Jiyoung, tapikan hanya sedikit!! Apa iya karena itu ?
Kuangkat tangan
kananku menyentuh pundaknya, ia menoleh dan menghapus air matanya cepat.
Beberapa saat ia menunduk kemudian mengangkat wajahnya kembali dengan senyum
yang terkesan canggung.
“Kau kenapa ?” tanyaku lembut membuatnya nyaman dan mau
menceritakannya padaku. Bukannya menjawab ia malah kembali menunduk. Hey!!
“Kenapa harus berakhir ? Apa benar-benar harus berakhir ? Aku tak
rela waktu terus berjalan dan ini semua berakhir” walau hanya sebuah gumaman
tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas karena suasana disini sangat sepi. Kutarik
tubuhnya hingga ia berada dalam dekapanku.
Tubuhnya mulai
bergetar, awalnya tidak ada isak tangis walau kuyakin kemeja putih yang kupakai
basah karena aku merasakannya. Hingga isakan lirih mulai terdengar seirama
dengan kicauan burung yang terbang bebas kembali kesarangnya karena langit
mulai gelap.
Mian Hyoeun-ah.
Tapi hati ini tak bisa ubah karena ia sendiri yang memilihnya. Kurasakan
tangannya yang meremas kemeja putihku sembari terisak. Kutepuk-tepuk pundaknya
lembut berusaha menenangkan walau kenyataannya tak berhasil. Jiyoung lebih
membutuhkanku. Aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Dan juga karena aku
begitu membutuhkannya tak peduli berapa lama aku harus menunggunya untuk
menjadi milikku yang sah secara hukum maupun agama. Karena dia napasku. Maafkan
aku Hyoeun-ah, disana ada seseorang yang lebih pantas dariku untuk memelukmu
seperti ini, semoga kau cepat menemukannya.
*** Fate:Fate ***
Kutekan bel dengan
tidak sabaran. Bukan tidak sabar tapi aku begitu merindukannya. Hampir 3 minggu
tanpa komunikasi apa-apa membuatku kurang bergairah untuk bangun dari tempat
tidur.
Ckleet
“Jonghyun- Siwon hyeong!?! Untuk apa kau kemari” aku hanya
tersenyum mataku sedikit melirik kedalam rumah keluarga Jung.
“Bertemu Jiyoung, ia tak keluarkan ?” tanyaku ramah. Agak aneh
memang, biasanya Byunghee akan menyuruhku langsung masuk atau membiarkanku
langsung ke kamar Uri Princess.
“Untuk apa ? Belum puas kau membuatnya menangis dan menghilangkan
senyumnya. Kali ini apalagi yang akan kau ambil darinya hyeong ?” aku
menyerngit bingung. Baru kali ini Byunghee berbicara denganku-didepan pintu
pula-dengan nada dingin tanpa menatapku.
“Chukae, atas pertunanganmu” Blammm. Kuusap wajahku kasar
lalu mengambil ponsel yang berada disaku hoodie abu-abu yang kupakai. Jung
Byunghee kurang ajar!! Beraninya dia menutup pintu begitu saja.
“Yeobosaeyo”
“...”
“Aku tak peduli abeoji harus kembali malam ini juga. Lamar Jiyoung
untukku”
“....”
“Terserah, yang jelas aku mau malam ini. Ia tahu semuanya”
*** Fate:Fate ***
“Siwon-ah, berhentilah memasang wajah cemberut seperti itu. Semua
akan baik-baik saja. Jiyoung tidak mungkin dijodohkan ia kan masih SMA” aku
hanya menghela nafas. Bukan itu Eomma~ tapi ia pasti terus menangis, lupa makan
dan aigoo~. Kau namjachingu paling buruk sedunia Choi Siwon!! You’re so Bad!!
“Mian hyeong. Habis kenapa kau mengirim video itu ? Kalau kau pergi
diam-diam mungkin lebih baik” kupelototi Jonghyun yang sekarang hanya menunduk.
“Jangan salahkan Jonghyun, lagi pula kau ada-ada saja” aku hanya
diam, bukan karena kali ini abeoji yang bicara tapi karena kami sudah sampai.
“Selamat sore tuan Jung. Ah, ada hal yang harus kami bicarakan pada
anda sekeluarga. Bisakah kita bicara didalam ?” kupikir tuan Jung belum tahu
karena wajahnya biasa-biasa saja sedangkan Byunghee menuntun Jiyoung berjalan
menjaganya-dariku mungkin-. Aku hanya menghela nafas(lagi).
*** Fate:Fate ***
“Jadi kedatangan anda kemari untuk melamar putriku ? Ah- bukannya
apa-apa tapi bukankah Siwon sudah bertunangan beberapa saat yang lalu ?” Mwo ?
Kupikir tuan Jung tak tahu, tapi kenapa ia biasa-biasa saja saat menatapku
tapi.
“Itu- pertunangan itu batal karena Hyoeun yang memintanya. Juga
Siwon yang tidak ingin melepas Jiyoung” kulirik Jiyoung yang terus menunduk dan
menggengam tangan Byunghee. Bukan!! Bukan menggenggam tapi meremas. Ia gugup,
takut atau cemas. Diantara itulah yang ia rasakan.
“Kupikir itu Siwon saja yang menjelaskan, aku takut salah bicara.
Jadi- apa anda mau menerimanya ?” aku menatap lekat tuan Jung. Kumohon, aku tak
ingin kehilangannya.
“Jiyoung-ah”
“Ne appa”
“Bagaimana menurutmu ?”
“Tak harus menikah dalam waktu dekat, aku hanya ingin memastikan
hubungan kita. Dan-maaf untuk kejadian itu” ucapku menyela yang dihadiahi
pelototkan abeoji. Aku tak peduli yang penting Jiyoung percaya padaku.
“Baiklah, aku- menerima”
*** Fate:Fate ***
Jonghyun POV
“Jonghyun-ah kau tahu kenapa abeoji memanggilmu kemari ?” aku hanya
menggeleng karena aku memang tak tahu.
“Aku tahu kau menyukai Jiyoung, geuraechi ?” aku mengangkat wajahku
menatap abeoji yang tanpa ekspresi sedikitpun. Sangat canggung. Dari mana ia
tahu ? Selama ini yang mengetahui ini hanya Jiyoung dan Byunghee Hyeong jadi
tak mungkin mereka-
“Ne. Benar”
“Kau akan kujodohkan dengan putri tuan Jung Gojong, namanya Seulri.
Dia setahun lebih muda dari Jiyoung. Ini fotonya” aku melirik sekilas foto yang
dilemparkan abeoji diatas meja.
“Nde abeoji” aku hanya bisa diam, aku tak pernah bisa menolak
karena aku tak punya kuasa untuk
menolak. Bukankah begitu ? Setidaknya Jiyoung sudah bersama Siwon hyeong, bukankah ada yang menjamin kebahagiaannya sekarang.
menolak. Bukankah begitu ? Setidaknya Jiyoung sudah bersama Siwon hyeong, bukankah ada yang menjamin kebahagiaannya sekarang.
Abeoji~ apakah kau
tak merasa begitu kejam padaku ? Tidakkah kau merasa bahwa aku- anakmu juga,
aku juga ingin kau tersenyum lembut seperti yang kau lakukan pada Siwon hyeong.
Sebenarnya aku kau anggap apa dimatamu ?
“Dan mulai sekarang jaga jarak dengan Jiyoung. Kau boleh keluar”
*** Fate:Fate ***
End => Fate
End => Fate

Tidak ada komentar:
Posting Komentar