About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Jumat, 23 Agustus 2013

Fate : Fate [Choi Siwon-Choi Jonghyun]

1.        Title                      : Fate Chaptered 3 : Fate
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Casts                    : Jung Jiyoung, Choi Siwon[Udah pada tahu ya ni orang member boyband apa. Ok bagi yang belum tahu Visualnya Super Junior, Choi Siwon putra konglomerat pemilik Hyundai Departement Store*Tebar berlian*], Choi Jonghyun[Changjo Teentop], Jung Byunghee[G.O MBLAQ]  and other casts find by your self!!
4.        Rated                   : PG 13
5.        Lenght                  : Short Story*Rencana Threesome*
6.        Genre                   : AU, Romance, Family and other up to readers.
7.        Disclaimer            : Choi Siwon pasti member Super Junior*peluk satu-satu*, Choi Jonghyun member Teentop*maksud ane Changjo* karena author lagi kesem-sem sama ni bocah jadi ni bocah nyempil di ni FF. Ada 3 part di FF ni dan itu diambil dari lirik lagu Hero bagian Shindong oppa yang paling unhyuk-unhyuk*cubit pipi* pertama Down, Pain dan Fate. Dan jadilah ni FF. Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No PLAGIAT. Pure present by me Ikrillah Khoirun Nisa’ atau pena name sama Fortunia Ryu*tunjukin tag name* segitu aja yah.. capek!!

Story.....


Jonghyun POV
“Eotteokhae ?” aku hanya menghembuskan nafas berat lalu duduk disamping Byunghee hyeong.
“Dia hanya makan 2 suap tapi sudah minum obat. Demamnya belum turun juga hyeong padahal keadaannya sudah lebih baik dari kemarin” aku tersenyum penuh kelelahan. Sejak 2 hari yang lalu Jiyoung jatuh sakit karena kehujanan atau lebih tepatnya membiarkan dirinya terguyur hujan. Ia tak pernah menjadi pendiam seperti ini walau apapun masalah yang menimpanya, setidaknya ia akan banyak bicara atau melampiaskannya pada hal lain.
“Aku belum memberitahu appa masalah ini. Ia hanya tahu kalau Jiyoung sakit karena kehujanan, aku juga melarang Park Uisanim memberitahu appa kalau Jiyoung mengalami depresi ringan” aku mengangguk paham, kuminum jus jambu yang disediakan Byunghee hyeong untukku, kuminum 3 teguk lalu meletakkannya kembali karena kudapati Byunghee hyeong menatapku dengan tatapan yang-
“Waeyo hyeong ? Kenapa menatapku seperti itu, kau membuatku takut hyeong” lihatlah, ia justru tersenyum gaje sekarang. Menggelikan!! Aigoo~
“Hufffh... selama 5 hari ini kau menginap disini, apa orang tuamu tak mengkhawatirkanmu Jonghyun-ah ? Bukannya aku mengusirmu hanya saja- aish!! Aku berterima kasih padamu yang sudah menjaga Jiyoung tapi- aigo~ bagaimana mengatakannya ya ?”keningku mengkerut menatap Byunghee hyeong yang mengacak rambutnya frustasi. Aigoo~ ada apa dengan orang ini ?
“Kau mengerikan hyeong. Tadi kau menatapku seolah aku pencuri sekarang kau ngomong tidak jelas. Jangan membuatku takut hyeong” dia menghentikan acara mengacak rambutnya lalu menatapku penuh arti. Aigoo~ pasti ada hal aneh yang akan terjadi sebentar lagi.
“Begini, pertama aku mewakili Jiyoung dan appa mengucapkan banyak terima kasih padamu karena sudah menjaganya selama ini. Aku heran- yah, aku tahu kau menyukai Jiyoung tapi Jonghyun-ah, yang membuatku semakin heran adalah kau tetap berada disampingnya dan justru memintanya untuk mencurahkan semuanya padamu. Bukankah menyakitkan melihat orang yang kita cintai tidak membalas perasaan kita tapi justru menangisi orang lain. Maksudku- berhenti menyakiti dirimu sendiri. Aku tak melarangmu menjaga Jiyoung aku justru sangat berterima kasih tapi-”
“Pikirkan dirimu sendiri Jonghyun-ah. Aku kerap melihatmu tersenyum sambil menatap wajah Jiyoung yang sedang tidur tapi wajahmu basah dengan air mata. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Lupakan Jiyoung dan aku akan menjaganya sendiri, aku yakin pasti bisa mengembalikannya seperti dulu” kupejamkan mataku, mataku terasa panas. Kurasakan tepukan pelan dibahu kiriku. Kuangkat wajahku memandangnya yang menatapku prihatin.
“Secara fisik kau memang tak terluka tapi secara batin- diantara kalian bertiga kau yang paling sakit Jonghyun-ah” aku mengangguk dengan mata terpejam.
“Tapi hyeong- disini setidaknya ada Jiyoung yang bisa kujaga dan ada kau dan Jung Ahjussi yang menjagaku. Membangunkanku, menanyakan bagaimana hariku, setidaknya disini aku bisa merasakan bagaimana itu keluarga hyeong” kuhembuskan nafas sejenak lalu mengambil nafas perlahan mengingat perlakuan yang selama ini kuterima.
“Aku bahkan tak ingat kapan Abeoji mengusap kepalaku, bahkan memanggil namaku. Tak pernah juga ia menelponku saat diluar negeri atau sekedar mengirimiku pesan. Disana ada Siwon hyeong. Hanya Siwon hyeong yang dibutuhkan disana, bukan aku. Hanya Siwon hyeong anak Choi Jihoon yang terhormat itu hyeong bukan aku” Tess.. tess.. tess...
            Sudut bibirku bergetar. Rasanya sakit sekali, mendapat perlakuan yang berbeda. Bukan!! Bukan perlakuan yang berbeda tapi- tak pernah dianggap. Rasanya seperti aku tak ingin lahir didunia ini. Kurasakan Byunghee hyeong memelukku mengusap rambutku. Rasanya nyaman walau yang melakukannya adalah orang yang tak memiliki hubungan darah denganku.
“Kau ternyata masih anak kecil yang sudah sekali Jonghyun-ah”
“Kumohon jangan menyuruhku pulang. Aku ingin disini, aku janji akan menjaga Jiyoung hanya sebagai seorang kakak” Yah... akan kucoba, walau sampai saat ini aku masih belum bisa memusnahkan rasa ini. Bahkan kadang aku masih bermimpi untuk bisa memilikinya.
“Kau membenci Siwon hyeong hingga ingin merebut Jiyoung dari sisinya ?” aku hanya menggeleng lemah.
“Ani. Aku mencintainya karena itu dirinya. Walau aku mencintainya aku selalu menekan itu dan menanamkan dalam pikiranku bahwa dia adalah milik Siwon hyeong yang harus kujaga. Walau tak bisa kupungkiri aku juga menginginkannya. Tapi aku selalu menepisnya hyeong” aku melepaskan pelukanku lalu menyusap air mata yang mengalir dari mataku dengan cepat. Choi Jonghyun menangis!! Pasti aku akan menjadi bulan-bulanan Chan Hee hyeong dan Byung Hun hyeong.
“Dari awal aku sudah tak yakin dengan Siwon hyeong. Walau aku selalu berusaha menerimanya mengingat bagaimana Jiyoung tersenyum tapi- pada akhirnya tetap saja aku ragu”
“Aku lebih memilihmu Jonghyun-ah. Sekarang- buatlah Jiyoung membuka hatinya untukmu. Mungkin ini akan terdengar egois, buat adikku tersenyum jika kau tak ingin kutendang keluar dari rumah ini ok ?” aku hanya mengangguk semangat sambil tersenyum. Kami tertawa ringan entah karena apa.
“Sesekali pulanglah kerumah, tengok Jihyun Ahjumma. Ucapkan salamku padanya dan maaf menjadikan putra kesayangannya guardial Uri Jiyoung. Ah- aku pergi dulu ada meeting dan appa memintaku untuk mengantikannya. Ck!! Lulus kuliah saja belum” aku hanya mengangguk sambil mendengarkan ocehannya yang entahlah. Mulutnya benar-benar seperti Jiyoung jika ngomel. Dasar kakak adik!!
*** Fate:Fate ***

Jiyoung POV
            Kubuka mataku perlahan yang terasa berat. Uhhh... aku haus tapi tubuhku lemas sekali. Kutolehkan kepalaku kesamping kanan ranjang. Seseorang dengan tangan sebagai bantal tidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala di ranjang. Kugerakan tanganku menyentuh tangannya.
“Jonghyun-ah” aigoo~ serak sekali.
“Ah!! Kau sudah bangun Jiyoung-ah. Sebentar, kuambilkan minum” aku hanya mengangguk lemah menunggu dirinya yang pergi kedapur mungkin ? Aigoo~ kepalaku pusing sekali.
“Ini” ia membantuku duduk dengan bersandar di headboard. Kuteguk perlahan air putih yang dibawanya.
“Gomawo” ia mengangguk lalu meletakkan gelas itu di nakas sambil tersenyum.
            Ranjang berderik saat ia naik keatas ranjang lalu meraih kepalaku untuk bersandar dibahunya. Kupejamkan mataku lagi, bukan ingin tidur hanya saja ini nyaman. Ia tahu cara membuatku tenang. Jonghyun-ah gomawo!! Tangannya menyentuh kepalaku lalu mengelusnya lembut.
“Eotteokhae ? Nyaman ? Bagaimana keadaanmu sekarang ?” tanyannya lembut. Ia begitu memperhatikanku, merawatku dengan baik. Tangannya yang satunya lagi meraih tanganku lalu menggenggamnya erat. Hangat.
“Demammu sudah turun, jadi mulai besok aku bisa sekolah dan tidur dikamar tamu” aku mengangkat kepalaku memandangnya bingung.
“Kau ijin dari sekolah ?” ia hanya mengangguk polos. Aku mendesah berat lalu kusandarkan lagi kepalaku dibahunya.
“Kenapa kau melakukannya ?”
“Karena aku ingin menjagamu, membuatmu tersenyum lagi. Selalu disampingmu saat kau membutuhkan sandaran, saat kau membutuhkan teman bicara, saat kau frustasi. Aku ingin mendengarnya, aku ingin kau membaginya denganku. Apapun untukmu tersenyum Jiyoung-ah” Kau terlalu baik padaku Jonghyun-ah. Maaf- bukankah aku gadis bodoh yang meratapi hidupnya ditinggal kekasihnya sedangkan ada namja yang begitu baik menawarkan bahunya untukku menangis tanpa bisa membalas apa-apa.
“Apa kau masih mencintaiku ?” 5 detik aku menunggu, tapi ia hanya diam. Tubuhnya tak bereaksi apa-apa hanya gerakan tangannya dikepalaku berhenti sejenak.
“Aku selalu mencintaimu, tapi jangan dipikirkan. Aku akan senang melihatmu tersenyum walau itu bukan untukku atau karena aku” kulepas tautan tanganku dengannya, kuangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.
“Kenapa kau begitu ? Aku tahu ini membuatmu sakit, karena saat ini aku merasakan bagaimana sakitnya tidak bisa memiliki orang yang kita cintai. Seharusnya kau pergi jauh Jonghyun-ah... jangan pedulikan aku” tangannya menangkup dipipiku, hingga air mataku jatuh mengenai tangannya. Ibu jarinya terus menyeka air mata yang keluar tapi percuma karena ini terus mengalir.
“Jangan pernah menangis karena aku. Sekarang luapkan segara yang kau rasakan padaku, curahkan semua yang mengganggu pikiranmu... jangan menahannya sendiri” kupeluk erat punggungnya. Tak kuhiraukan air mataku yang jatuh membasahi bajunya. Kupukul-pukul pelan punggungnya melampiaskan emosiku.
“Kenapa ia begitu jahat Jonghyun-ah ? Apa dia hanya mempermainkanku ? Apa ia tahu aku sakit ? Kenapa ia tak kemari juga ? Apa benar ia- Beginikah rasanya sakit ?” hiks.. ia hanya diam saja. Membiarkanku menumpahkan semua yang mengganggu pikiranku dalam pelukannya. Membuat beban yang menghimpit kepalaku menjadi lebih ringan...
“Kau boleh menangis tapi hanya jika diperlukan” kata-katanya- mirip dengan Siwon oppa. Jonghyun-ah...
*** Fate:Fate ***

Choi Siwon
            Kutepikan mobilku dipinggir sungai Ujigawa dibawah jembatan Asagiri. Sungai yang membelah kecamatan Uji menjadi 2. Kubuka atap mobil hingga udara pinggir kota Kyoto yang sedikit menenangkan hatiku yang risau masuk kedalam paru-paruku lalu menghembuskannya perlahan.
“Seperti perjanjian kita- 2 minggu. Dan ini hari terakhir Hyoeun-ah. Kuharap kau mengerti” kutolehkan kepalaku kesamping. Hyoeun menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Matahari tenggelem menjadi background dirinya bak seorang putri yang sangat cantik namun- hati ini sudah dimiliki oleh orang lain Hyoeun-ah. Kusandarkan kepalaku sambil menghela nafas.
“Bukankah sudah aku katakan oppa, jika kau tak ingin menikmatinya setidaknya anggaplah ini liburan. Terbebas dari rutinitas dan setumpuk berkas yang membosankan itu” aku menoleh padanya yang menatapku dengan raut yang tenang.
“Kau tahu, selama 2 minggu ini aku begitu merasakan bahwa kau- sepertinya tak bisa berpaling dari bocah SMA itu” aku mendecak sebal. Lalu kembali keposisiku-bersandar dengan tatapan lurus kedepan-.
“Dia bukan bocah SMA Hyoeun-ah. Dia punya nama namanya Jung Jiyoung tapi aku lebih suka memanggilnya Uri Jung, Uri Princess atau Ji-ah” ucapku dan tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Jiyoung-ah kau sedang apa sekarang ? Apa kau tahu apa yang terjadi kini ? Semoga tidak.
“Hyoeu-” ucapanku berhenti saat aku menolehkan kepalaku, kudapati wajahnya yang sendu dengan tatapan mata sayu juga- air mata. Apa karena aku membicarakan Jiyoung, tapikan hanya sedikit!! Apa iya karena itu ?
            Kuangkat tangan kananku menyentuh pundaknya, ia menoleh dan menghapus air matanya cepat. Beberapa saat ia menunduk kemudian mengangkat wajahnya kembali dengan senyum yang terkesan canggung.
“Kau kenapa ?” tanyaku lembut membuatnya nyaman dan mau menceritakannya padaku. Bukannya menjawab ia malah kembali menunduk. Hey!!
“Kenapa harus berakhir ? Apa benar-benar harus berakhir ? Aku tak rela waktu terus berjalan dan ini semua berakhir” walau hanya sebuah gumaman tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas karena suasana disini sangat sepi. Kutarik tubuhnya hingga ia berada dalam dekapanku.
            Tubuhnya mulai bergetar, awalnya tidak ada isak tangis walau kuyakin kemeja putih yang kupakai basah karena aku merasakannya. Hingga isakan lirih mulai terdengar seirama dengan kicauan burung yang terbang bebas kembali kesarangnya karena langit mulai gelap.
            Mian Hyoeun-ah. Tapi hati ini tak bisa ubah karena ia sendiri yang memilihnya. Kurasakan tangannya yang meremas kemeja putihku sembari terisak. Kutepuk-tepuk pundaknya lembut berusaha menenangkan walau kenyataannya tak berhasil. Jiyoung lebih membutuhkanku. Aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Dan juga karena aku begitu membutuhkannya tak peduli berapa lama aku harus menunggunya untuk menjadi milikku yang sah secara hukum maupun agama. Karena dia napasku. Maafkan aku Hyoeun-ah, disana ada seseorang yang lebih pantas dariku untuk memelukmu seperti ini, semoga kau cepat menemukannya.
*** Fate:Fate ***

            Kutekan bel dengan tidak sabaran. Bukan tidak sabar tapi aku begitu merindukannya. Hampir 3 minggu tanpa komunikasi apa-apa membuatku kurang bergairah untuk bangun dari tempat tidur.
Ckleet
“Jonghyun- Siwon hyeong!?! Untuk apa kau kemari” aku hanya tersenyum mataku sedikit melirik kedalam rumah keluarga Jung.
“Bertemu Jiyoung, ia tak keluarkan ?” tanyaku ramah. Agak aneh memang, biasanya Byunghee akan menyuruhku langsung masuk atau membiarkanku langsung ke kamar Uri Princess.
“Untuk apa ? Belum puas kau membuatnya menangis dan menghilangkan senyumnya. Kali ini apalagi yang akan kau ambil darinya hyeong ?” aku menyerngit bingung. Baru kali ini Byunghee berbicara denganku-didepan pintu pula-dengan nada dingin tanpa menatapku.
“Chukae, atas pertunanganmu” Blammm. Kuusap wajahku kasar lalu mengambil ponsel yang berada disaku hoodie abu-abu yang kupakai. Jung Byunghee kurang ajar!! Beraninya dia menutup pintu begitu saja.
“Yeobosaeyo”
“...”
“Aku tak peduli abeoji harus kembali malam ini juga. Lamar Jiyoung untukku”
“....”
“Terserah, yang jelas aku mau malam ini. Ia tahu semuanya”
*** Fate:Fate ***

“Siwon-ah, berhentilah memasang wajah cemberut seperti itu. Semua akan baik-baik saja. Jiyoung tidak mungkin dijodohkan ia kan masih SMA” aku hanya menghela nafas. Bukan itu Eomma~ tapi ia pasti terus menangis, lupa makan dan aigoo~. Kau namjachingu paling buruk sedunia Choi Siwon!! You’re so Bad!!
“Mian hyeong. Habis kenapa kau mengirim video itu ? Kalau kau pergi diam-diam mungkin lebih baik” kupelototi Jonghyun yang sekarang hanya menunduk.
“Jangan salahkan Jonghyun, lagi pula kau ada-ada saja” aku hanya diam, bukan karena kali ini abeoji yang bicara tapi karena kami sudah sampai.
            Eomma menekan bel 2 kali namun belum ada yang membuka juga. Apa mereka tidak ada dirumah ? Bukannya biasanya mereka berkumpul hingga waktunya tidur. Atau mereka pergi keluar negeri karena tak ingin melihat Jiyoung yang- ah!! Hentikan pikiranmu yang tak benar akhir-akhir ini Choi Siwon!!
“Choi Siwon” aku berbalik. Seorang yeoja menggunakan dress putih ¾ dengan leher dililit syal biru muda berdiri diantara dua laki-laki beda usia-Byunghee dan Tuan Jung-. Wajahnya terlihat pucat dan agak kurus, apa ia sakit ?
“Selamat sore tuan Jung. Ah, ada hal yang harus kami bicarakan pada anda sekeluarga. Bisakah kita bicara didalam ?” kupikir tuan Jung belum tahu karena wajahnya biasa-biasa saja sedangkan Byunghee menuntun Jiyoung berjalan menjaganya-dariku mungkin-. Aku hanya menghela nafas(lagi).
*** Fate:Fate ***

“Jadi kedatangan anda kemari untuk melamar putriku ? Ah- bukannya apa-apa tapi bukankah Siwon sudah bertunangan beberapa saat yang lalu ?” Mwo ? Kupikir tuan Jung tak tahu, tapi kenapa ia biasa-biasa saja saat menatapku tapi.
“Itu- pertunangan itu batal karena Hyoeun yang memintanya. Juga Siwon yang tidak ingin melepas Jiyoung” kulirik Jiyoung yang terus menunduk dan menggengam tangan Byunghee. Bukan!! Bukan menggenggam tapi meremas. Ia gugup, takut atau cemas. Diantara itulah yang ia rasakan.
“Kupikir itu Siwon saja yang menjelaskan, aku takut salah bicara. Jadi- apa anda mau menerimanya ?” aku menatap lekat tuan Jung. Kumohon, aku tak ingin kehilangannya.
“Jiyoung-ah”
“Ne appa”
“Bagaimana menurutmu ?”
“Tak harus menikah dalam waktu dekat, aku hanya ingin memastikan hubungan kita. Dan-maaf untuk kejadian itu” ucapku menyela yang dihadiahi pelototkan abeoji. Aku tak peduli yang penting Jiyoung percaya padaku.
“Baiklah, aku- menerima”
*** Fate:Fate ***

Jonghyun POV
“Jonghyun-ah kau tahu kenapa abeoji memanggilmu kemari ?” aku hanya menggeleng karena aku memang tak tahu.
“Aku tahu kau menyukai Jiyoung, geuraechi ?” aku mengangkat wajahku menatap abeoji yang tanpa ekspresi sedikitpun. Sangat canggung. Dari mana ia tahu ? Selama ini yang mengetahui ini hanya Jiyoung dan Byunghee Hyeong jadi tak mungkin mereka-
“Ne. Benar”
“Kau akan kujodohkan dengan putri tuan Jung Gojong, namanya Seulri. Dia setahun lebih muda dari Jiyoung. Ini fotonya” aku melirik sekilas foto yang dilemparkan abeoji diatas meja.
“Nde abeoji” aku hanya bisa diam, aku tak pernah bisa menolak karena aku tak punya kuasa untuk
menolak. Bukankah begitu ? Setidaknya Jiyoung sudah bersama Siwon hyeong, bukankah ada yang menjamin kebahagiaannya sekarang.
            Abeoji~ apakah kau tak merasa begitu kejam padaku ? Tidakkah kau merasa bahwa aku- anakmu juga, aku juga ingin kau tersenyum lembut seperti yang kau lakukan pada Siwon hyeong. Sebenarnya aku kau anggap apa dimatamu ?
“Dan mulai sekarang jaga jarak dengan Jiyoung. Kau boleh keluar”
*** Fate:Fate ***

End => Fate
End => Fate

Tidak ada komentar:

Posting Komentar