1.
Title : When I Miss You
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Cast : Henry Lau, Hwang Minhye
and other cast find by your self.
4.
Rated : PG 15
5.
Genre : AU, romance and other.
6.
Lenght : Oneshoot
7.
Disclaimer : story is Mine!! Typo(s)
anywhere and NO PLAGIAT. FF special untuk Mochi Gege.... makin imut makin
tenar aja. Saenggil chukae hamnida... J
Story....
Author
POV
Semua orang yang berada disuatu
ruangan studio disalah satu stasiun TV ternama di Korea terdiam membisu. Mereka
sibuk menyimak setiap nada yang keluar dari sebuah alat musik yang tengah
dimainkan oleh seseorang disana. prokk prokk prokkkk. Suara tepuk tangan
mengisi seisi studio setelah orang itu kembali duduk.
“Henry-ssi,
bagaimana pendapatmu tentang minialbum solo pertamamu ?” Henry- dia tersenyum
ramah lalu meletakan biola yang masih dipegangnya dimeja dengan hati-hati.
“Album ini
kupersembahkan untuk semua penggemarku. Terima kasih pada mereka yang selalu
mendukungku. Juga hyeongdeul yang mengajariku segala hal dan menjagaku disini.”
Kembali. Suara tepuk tangan itu menggema.
“Apa keluargamu
di Kanada mengetahui sekarang kau sibuk dengan album solo-mu ?” Henry
mengangguk sebelm ia menjawab.
“Yah, mereka
tahu. Mereka mendukungku dan seseorang pernah berpesan padaku, jangan pernah
melupakan keluarga yang membesarkanmu dan semua orang yang membuatmu bisa
diatas panggung.” Sang MC terlihat semakin penasaran dengan jawaban yang
diberikan Henry, ia kembali bertanya dan ini sedikit keluar dari naskah.
“Nuguya ?
Apakah itu seseorang yang sangat berarti untukmu ?” Henry menengadahkan
kepalanya keatas. Ia tersenyum saat cahaya lampu yang menerpa matanya terbentuk
seperti siluet seseorang dimatanya.
“Dia sangat
penting untukku. Darinya aku belajar tentang kesetiaan dan kerja keras.” Ucap
Henry tanpa sadar. Ia kembali mengarahkan perhatiannya pada audion saat Kyuhyun
yang datang dari backstage duduk disampingnya.
“Fokus
Henry-ah.” Bisik Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan samar dari Henry.
***
“Hari ini kau
kenapa ?” Henry membalikkan badannya. Ia tersenyum canggung saat Kyuhyun
menatapnya menyelidik.
“Gwaenchana
Hyeong.” Kyuhyun mencibir. Kyuhyun melangkahkan kakinya hingga kini ia berada
dibalkon tepat disamping Henry.
“Walaupun aku
bukan Donghae Hyeong tapi kau terlalu mudah ditebak. Ck! Yeoja, nugu ?” Henry
kembali menerawang, ia menatap sebuah bintang yang berada diatasnya tanpa
berkedib. Wajahnya menampakkan raut kesedihan disana. Kyuhyun terdiam melihat
dongsaeng –satu-satunya- itu. Sedikit merasa bersalah ia berdehem untuk menarik
perhatian Henry.
“Jangan jatuh
cinta terlalu dalam pada seorang gadis. Itu tidak baik untuk kariermu. Kau baru
saja menitih kariermu sebagai seorang penyanyi solo di Korea, walaupun kau
anggota Sub SJ-M, Fans Korea itu lebih overprotective dari china. Itu justru akan
membahayakan gadis itu.” Henry hanya tersenyum mendengar ucapan dari Kyuhyun.
Ia tahu Kyuhyun bermaksud baik, Kyuhyun mengkhawatirkannya. Tapi masalahnya
bukan itu. Kyuhyun tak tahu apa yang terjadi padanya.
“Masuklah,
besok jadwalmu padat Henry-ah.” Henry menanggapinya dengan senyum simpul. Ia
menurunkan tangan Kyuhyun yang berada dibahunya.
“Kau duluan
saja Hyeong. Aku masih ingin disini” Kyuhyun mengangguk.
“Aku tidak tahu
apa yang kau rasakan tapi saranku jangan terlalu larut karena itu membuatmu
semakin sakit.” Henry mengangguk, ia kini duduk bersilah diatas lantai. Matanya
terasa memanas hingga kini air matanya turun.
“Niga
bogoshipeojyeodo- kau tetap tak berbalik menatapku.” Henry Lau. Seorang
penyanyi yang jatuh cinta pada biola hingga biola adalah bagain dari hidupnya-
Namja itu kini terlihat begitu menyedihkan. Terisak dalam diam seperti-
pengecut. Henry sadar, ia memang pengecut- ini salahnya. Ia tahu!!
***
Henry menyeret koper berwarna hitam
keluar dari kamar Heechul dan Hangeng-dulu- disambut tatapan aneh dari
Hyeongdeulnya yang berkumpul didepan TV. Eunhyuk berdiri ia melangkah mendekati
Henry- ia mengitarinya Henry sebelum pandangannya jatuh pada koper yang berada
dibelakang Henry.
“Kau mau kemana
Henry-ah ?”
“Aku akan ke
Kanada. Aku mendapat jatah libur seminggu setelah promosi ‘Trap’.” Eunhyuk
mengangguk.
“Ini didalam
ruangan, kenapa kau memakai kacamata hitam Henry-ah ?” Sedikit tergagap Henry
memutar otaknya. Ia membenarkan letak kacamatanya lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa
Sungmin Hyeong. Semuanya- aku pergi dulu. Annyeong.” Ia sadar Kyuhyun
menatapnya aneh. Oleh karena itu lebih baik ia segera pergi sebelum
Hyeongdeulnya bertanya lebih macam-macam lagi.
***
Henry
POV
Kuhidup udara kota Shanghai
dalam-dalam. Iya, sekarang aku bukan berada di Kanada, sekarang aku di China.
Sungguh, bukan maksudku untuk membohongi hyeongdeul, tapi- aku sudah tak bisa
menahannya lagi. Dari Young Jo -uri chingu- aku tahu dimana dia berada. Maaf,
aku tidak bisa menepati janjiku. Tapi rasa ini sungguh menyesakkan. Aku sudah
tak bisa menahannya terlalu.
“Hwang
Minhye sekarang dihotel yang sama denganmu. Ia dan kakaknya Hwang Minhyun
sedang mengadakan pertemuan diruangan khusus. Entahlah aku tak tahu tepatnya
disebelah mana. Tapi kudengar mereka akan selesai sekitar pukul 8 malam. Atau
besok pagi karena kudengar Minhyun akan ke Beijing dan Minhye tetap di
Shanghai. Kau bisa menemuinya tapi jangan sampai ketahuan oleh Minhyun,
walaupun Minhyun di Beijing tidak menutup kemungkinan ia tahu kau menemuinya,
itu akan sangat berbahaya. Mianhae hanya itu yang bisa aku beritahukan padamu
Henry-ah, berhati-hatilah”
Kumasukan kembali ponselku ke saku.
Aku tak bisa berjanji ini yang terakhir kalinya Minhye-ah, karena kau segalanya
untukku.
***
Author
POV
“hemmpttt”
yeoja itu terus berusaha berontak saat mulutnya tiba-tiba dibekap oleh
seseorang dan menyeretnya hingga kini mereka berada didekat tangga darutat. Dukkk.
Sekarang orang itu memojokannya pada dinding hingga yeoja itu dapat melihat
siapa orang yang tengah membekap mulutnya.
Tubuh yeoja itu menegang. Matanya
terus menatap wajah yang berjarak beberapa centi dihadapannya. Tubuhnya terasa
kaku seolah berbanding dengan pikirannya yang tak ingin melihat namja itu. Greeppp.
Bahkan saat namja itu memeluk tubuhnya dengan hangat ia hanya bisa diam. Ini
bukan dirinya! Dia bukan yeoja yang lemah seperti ini!
“Neomu
Bogoshipeo.” Kalimat itu semakin membuatnya terkukung dalam perasaannya.
Ini salah. Dia dan pria yang kini memeluknya begitu berbeda. Mereka tak pantas
seperti ini. Bukannya berontak justru air mata yang jatuh melewati pipinya yang
tirus hingga mengenai kemeja orang itu.
“Apa aku
memelukmu terlalu erat. Minhye-ah, ulljima.” Minhye hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. Ia ingin menyingkirkan jari yang kini
mengusap pipinya lembut tapi tubuhnya terasa lemas. Ia memang selalu tak
berdaya dihadapan orang ini.
“Disini bukan
tempatmu oppa. Bukankah aku sudah memintamu untuk berpura-pura tidak saling
mengenal ? Kenapa kau justru ada disini ? Kita berbeda. Kau tahu disini sangat
berbahaya untukmu.” Orang itu hanya tersenyum. Ia mengecup kening Minhye lama-
ia menyalurkan semua perasaan yang dipendamnya bertumpuk-tumpuk selama 4 tahun
ini.
“Because I
Miss You”
***
Henry menatap jengah Minhye yang terus gelisah menatap sana sini dan mengabaikan makanan yang ada dihadapannya. Ia meletakan sumpit yang ada ditanganya lalu menggenggam tangan Minhye hingga akhirnya Minhye mentapa Henry.
“Kau kenapa ?”
Minhye menggelang gusar.
“Kau tahu orang
suruhan Oppa bisa ada dimana saja.” Henry tampak tak peduli. Ia kembali
menyumpitkan daging lalu menyodorkannya pada Minhye. Dengan enggan Minhye
membuka mulutnya.
“Bisakah kita
kembali seperti 4 tahun yang lalu Hwang Minhye ? Hanya untuk hari ini saja,
Jeball~” Minhye menuduk. Bukannya ia tidak mau. Bahkan dalam hatipun ia
sebenarnya ingin terus bersama namja yang dicintainya itu. Henry.
“Sekarang
semuanya sudah berbeda. Mana bisa begitu.” Henry mendesah berat. Minhye sangat
mematuhi mendiang appa-nya. Henry kembali menatap Minhye dalam.
“Kalau begitu
lakukan itu untukku. Satu kali ini saja~” Dan Minhye tak akan sanggup untuk
menolak. Minhye menunduk. “Kembali seperti 4 tahun yang lalu adalah yang paling
ingin aku lakukan tapi paling mustahil terjadi sekarang.”
“Kalau begitu
kau hanya cukup diam dan ikuti aku.” Minhye menggeleng pelan.
“Minhyun Oppa
tidak akan mengijinkannya. Begitu juga dengan appa.” “Jangan katakan ini pada
Minhyun hyeong. Minhye-ah, jebal~ temani aku. Satu hari ini saja.” Memelas. Dan
Minhye tak tahan hingga akhirnya ia mengangguk samar. Henry langsung membawanya
kepelukannya, tak sadar mereka cukup menarik perhatian pengunjung maupun
pelayan di kedai kecil ini.
***
Hal pertama yang mereka lakukan
adalah menonton di bioskop dan kali ini Henry menggunakan penyamaran, membuat
Minhye sedikit risih dan sebal. Terlihat sekali raut wajahnya yang sedikit
cemberut.
“Wae ? Filmnya
tidak bagus ?” Minhye menggeleng. Ia menyingkirkan tangan Henry yang berusaha memeluknya
dari samping.
“Ani.”
“Ada yang kau
inginkan ?”
“Lepaskan
maskermu.” Jawab Minhye cepat. “MWO ?” beruntung mereka duduk dideretan kursi
paling belakang hingga tak seorangpun mendengar petikan Henry. Atau mendengar
tapi mengacuhkannya.
“Yang benar
saja.” Minhye kembali merenggut cemberut.
“4 tahun yang
lalu di Okinawa juga seperti itu.” Henry berpikir keras. Ia tak mungkin
mengacuhkan permintaan Minhye, tapi di Shanghai siapa yang tidak mengenalnya.
Di kedai tadi saja ia masih menggunakan kacamata hitam besarnya.
“Geurae.
Setelah keluar dari sini tidak ada alat penyamaran apapun.” Minhye tersenyum
senang. Setidaknya dengan begitu bisa mengobati rasa rindunya selama 4 tahun
ini. “Gomawo Oppa”
***
Minhye menyandarkan kepalanya
dipunggung Henry. Angin awal musim gugur memainkan rambut panjangnya dan
membelai wajahnya halus. Minhye memejamkan matanya, menikmati kesunyian di lembah
gunung Huangshan provinsi Anhui.
“Kau senang ?”
Minhye hanya mengangguk sebagai jawaban. Henry kembali terdiam, ia membiarkan
Minhye menikmati suasana lembah Huangshan dengan sepeda tanpa mengganggunya.
“Kita akan
kemana ?”
“Ketempat yang
tidak ada banyak orang seperti di Okinawa.”
***
Mereka saling bersandar. Minhye
bersandar di bahu Henry dan Henry merebahkan kepalanya diatas kepala Minhye. Di
salah satu puncak Gunung Huangshan yang menghadap kearah barat mereka bisa
melihat matahari yang terbenam diselimuti awan putih. Dan pohon tusam yang
menjadi ciri khas gunung ini terlihat seperti rumput dari atas sini. Ya,
setidaknya disini cukup sepi bukan ?
“Oppa, setelah
ini kembalilah seperti dulu. Kau harus hidup dengan baik, aku tahu selama ini
tidak benar-benar melupakanku ani ? Kau diam-diam mengikutiku. Aku benarkan ?”
Henry tak menjawab. Ia masih ingin bersama gadisnya disini lebih lama. Hingga
matahari terbit pun tak masalah jika ia bisa.
“Aku adalah
putri seorang mafia. Apa yang menyebabkanmu bisa jatuh cinta padaku eoh ?”
Minhye kembali bersuara memecahkan keheningan diantara mereka.
“Karena kau
berbeda. Kau berbeda dimata, kau begitu tulus dan tidak berpura-pura. Aku suka
kejujuranmu itu. Aku suka senyumnya, karena itu kau aku mencintaimu.” Minhye
ingin menangis. Jawaban yang keluar dari mulut Henry membuatnya ingin keluar
dari kehidupan gelapnya tapi-
“Setelah ini berjanjilah
untukku. Benar-benar berjanji untukku oppa.” Henry menegakkan kepalanya, ia
berubah menjadi bersandar pada pohon tusam dibelakangnya.
“Kau tahu
sendiri bukan seberapa keras aku berusaha pada akhirnya aku akan kembali
menatap punggungmu.” Mereka sama. Sama-sama keras kepala.
“Impianku
selalu bersamamu, setidaknya itu yang bisa kau bawa dariku. Henry Oppa, kita
begitu berbeda. Jangan egois seperti ini. Aku mencintaimu, jika kau juga
mencintaiku pergilah, jangan kembali. Impianku hidup bersamamu, biola itu
hidupku kutitipkan sepenuhnya padamu.” Gemerlap bintang dengan hembusan angin
musim gugur menemani kesunyian mereka yang masih terdiam dengan bulan sabit
yang mengintip dibalik awan malam.
“Hwang Minhye
waktumu habis.” Henry hanya bisa menatap namja yang berdiri tak jauh dari
mereka. Namja yang berdiri paling depan diantara beberapa namja dibelakangnya.
Ia merasakan pergerakan dari Minhye. Minhye melepas pelukannya dan kini ia
berdiri dan berjalan menjauh darinya.
“Tuan Lau,
kuperingatkan jangan sekali-kali mendekati Minhye lagi!!” Minhyun menatap
dingin Henry dan membimbing yeodongsaengnya untuk pergi.
“Ini kesempatan
terakhirmu, jangan pernah kau ulangi ini lagi.” Ujar Minhyun sebelum akhirnya
meninggalkan puncak Huangshan. Sementara Henry masih menyandarkan punggungnya
pada pohon tusam dengan pandangan yang terkunci pada sosok Minhye-nya. Ingin
sekali- ingin ia membawa Minhye pergi untuknya sendiri. Kenapa dunia harus
berbeda ? Semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar