About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Rabu, 23 Oktober 2013

When I Miss You - Henry


1.        Title                      : When I Miss You
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast                      : Henry Lau, Hwang Minhye and other cast find by your self.
4.        Rated                   : PG 15
5.        Genre                   : AU, romance and other.
6.        Lenght                  : Oneshoot
7.        Disclaimer            : story is Mine!! Typo(s) anywhere and NO PLAGIAT. FF special untuk Mochi Gege.... makin imut makin tenar aja. Saenggil chukae hamnida... J


Story....



Author POV
            Semua orang yang berada disuatu ruangan studio disalah satu stasiun TV ternama di Korea terdiam membisu. Mereka sibuk menyimak setiap nada yang keluar dari sebuah alat musik yang tengah dimainkan oleh seseorang disana. prokk prokk prokkkk. Suara tepuk tangan mengisi seisi studio setelah orang itu kembali duduk.

“Henry-ssi, bagaimana pendapatmu tentang minialbum solo pertamamu ?” Henry- dia tersenyum ramah lalu meletakan biola yang masih dipegangnya dimeja dengan hati-hati.

“Album ini kupersembahkan untuk semua penggemarku. Terima kasih pada mereka yang selalu mendukungku. Juga hyeongdeul yang mengajariku segala hal dan menjagaku disini.” Kembali. Suara tepuk tangan itu menggema.

“Apa keluargamu di Kanada mengetahui sekarang kau sibuk dengan album solo-mu ?” Henry mengangguk sebelm ia menjawab.

“Yah, mereka tahu. Mereka mendukungku dan seseorang pernah berpesan padaku, jangan pernah melupakan keluarga yang membesarkanmu dan semua orang yang membuatmu bisa diatas panggung.” Sang MC terlihat semakin penasaran dengan jawaban yang diberikan Henry, ia kembali bertanya dan ini sedikit keluar dari naskah.

“Nuguya ? Apakah itu seseorang yang sangat berarti untukmu ?” Henry menengadahkan kepalanya keatas. Ia tersenyum saat cahaya lampu yang menerpa matanya terbentuk seperti siluet seseorang dimatanya.

“Dia sangat penting untukku. Darinya aku belajar tentang kesetiaan dan kerja keras.” Ucap Henry tanpa sadar. Ia kembali mengarahkan perhatiannya pada audion saat Kyuhyun yang datang dari backstage duduk disampingnya.

“Fokus Henry-ah.” Bisik Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan samar dari Henry.

***

“Hari ini kau kenapa ?” Henry membalikkan badannya. Ia tersenyum canggung saat Kyuhyun menatapnya menyelidik.

“Gwaenchana Hyeong.” Kyuhyun mencibir. Kyuhyun melangkahkan kakinya hingga kini ia berada dibalkon tepat disamping Henry.

“Walaupun aku bukan Donghae Hyeong tapi kau terlalu mudah ditebak. Ck! Yeoja, nugu ?” Henry kembali menerawang, ia menatap sebuah bintang yang berada diatasnya tanpa berkedib. Wajahnya menampakkan raut kesedihan disana. Kyuhyun terdiam melihat dongsaeng –satu-satunya- itu. Sedikit merasa bersalah ia berdehem untuk menarik perhatian Henry.

“Jangan jatuh cinta terlalu dalam pada seorang gadis. Itu tidak baik untuk kariermu. Kau baru saja menitih kariermu sebagai seorang penyanyi solo di Korea, walaupun kau anggota Sub SJ-M, Fans Korea itu lebih overprotective dari china. Itu justru akan membahayakan gadis itu.” Henry hanya tersenyum mendengar ucapan dari Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun bermaksud baik, Kyuhyun mengkhawatirkannya. Tapi masalahnya bukan itu. Kyuhyun tak tahu apa yang terjadi padanya.

“Masuklah, besok jadwalmu padat Henry-ah.” Henry menanggapinya dengan senyum simpul. Ia menurunkan tangan Kyuhyun yang berada dibahunya.

“Kau duluan saja Hyeong. Aku masih ingin disini” Kyuhyun mengangguk.

“Aku tidak tahu apa yang kau rasakan tapi saranku jangan terlalu larut karena itu membuatmu semakin sakit.” Henry mengangguk, ia kini duduk bersilah diatas lantai. Matanya terasa memanas hingga kini air matanya turun.

Niga bogoshipeojyeodo- kau tetap tak berbalik menatapku.” Henry Lau. Seorang penyanyi yang jatuh cinta pada biola hingga biola adalah bagain dari hidupnya- Namja itu kini terlihat begitu menyedihkan. Terisak dalam diam seperti- pengecut. Henry sadar, ia memang pengecut- ini salahnya. Ia tahu!!

***

            Henry menyeret koper berwarna hitam keluar dari kamar Heechul dan Hangeng-dulu- disambut tatapan aneh dari Hyeongdeulnya yang berkumpul didepan TV. Eunhyuk berdiri ia melangkah mendekati Henry- ia mengitarinya Henry sebelum pandangannya jatuh pada koper yang berada dibelakang Henry.

“Kau mau kemana Henry-ah ?”

“Aku akan ke Kanada. Aku mendapat jatah libur seminggu setelah promosi ‘Trap’.” Eunhyuk mengangguk.

“Ini didalam ruangan, kenapa kau memakai kacamata hitam Henry-ah ?” Sedikit tergagap Henry memutar otaknya. Ia membenarkan letak kacamatanya lalu tersenyum.

“Tidak apa-apa Sungmin Hyeong. Semuanya- aku pergi dulu. Annyeong.” Ia sadar Kyuhyun menatapnya aneh. Oleh karena itu lebih baik ia segera pergi sebelum Hyeongdeulnya bertanya lebih macam-macam lagi.

***

Henry POV
           
            Kuhidup udara kota Shanghai dalam-dalam. Iya, sekarang aku bukan berada di Kanada, sekarang aku di China. Sungguh, bukan maksudku untuk membohongi hyeongdeul, tapi- aku sudah tak bisa menahannya lagi. Dari Young Jo -uri chingu- aku tahu dimana dia berada. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku. Tapi rasa ini sungguh menyesakkan. Aku sudah tak bisa menahannya terlalu.

“Hwang Minhye sekarang dihotel yang sama denganmu. Ia dan kakaknya Hwang Minhyun sedang mengadakan pertemuan diruangan khusus. Entahlah aku tak tahu tepatnya disebelah mana. Tapi kudengar mereka akan selesai sekitar pukul 8 malam. Atau besok pagi karena kudengar Minhyun akan ke Beijing dan Minhye tetap di Shanghai. Kau bisa menemuinya tapi jangan sampai ketahuan oleh Minhyun, walaupun Minhyun di Beijing tidak menutup kemungkinan ia tahu kau menemuinya, itu akan sangat berbahaya. Mianhae hanya itu yang bisa aku beritahukan padamu Henry-ah, berhati-hatilah”

            Kumasukan kembali ponselku ke saku. Aku tak bisa berjanji ini yang terakhir kalinya Minhye-ah, karena kau segalanya untukku.

***

Author POV

“hemmpttt” yeoja itu terus berusaha berontak saat mulutnya tiba-tiba dibekap oleh seseorang dan menyeretnya hingga kini mereka berada didekat tangga darutat. Dukkk. Sekarang orang itu memojokannya pada dinding hingga yeoja itu dapat melihat siapa orang yang tengah membekap mulutnya.
           
            Tubuh yeoja itu menegang. Matanya terus menatap wajah yang berjarak beberapa centi dihadapannya. Tubuhnya terasa kaku seolah berbanding dengan pikirannya yang tak ingin melihat namja itu. Greeppp. Bahkan saat namja itu memeluk tubuhnya dengan hangat ia hanya bisa diam. Ini bukan dirinya! Dia bukan yeoja yang lemah seperti ini!

Neomu Bogoshipeo.” Kalimat itu semakin membuatnya terkukung dalam perasaannya. Ini salah. Dia dan pria yang kini memeluknya begitu berbeda. Mereka tak pantas seperti ini. Bukannya berontak justru air mata yang jatuh melewati pipinya yang tirus hingga mengenai kemeja orang itu.

“Apa aku memelukmu terlalu erat. Minhye-ah, ulljima.” Minhye hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. Ia ingin menyingkirkan jari yang kini mengusap pipinya lembut tapi tubuhnya terasa lemas. Ia memang selalu tak berdaya dihadapan orang ini.

“Disini bukan tempatmu oppa. Bukankah aku sudah memintamu untuk berpura-pura tidak saling mengenal ? Kenapa kau justru ada disini ? Kita berbeda. Kau tahu disini sangat berbahaya untukmu.” Orang itu hanya tersenyum. Ia mengecup kening Minhye lama- ia menyalurkan semua perasaan yang dipendamnya bertumpuk-tumpuk selama 4 tahun ini.

Because I Miss You 

***
           
            Henry menatap jengah Minhye yang terus gelisah menatap sana sini dan mengabaikan makanan yang ada dihadapannya. Ia meletakan sumpit yang ada ditanganya lalu menggenggam tangan Minhye hingga akhirnya Minhye mentapa Henry.

“Kau kenapa ?” Minhye menggelang gusar.

“Kau tahu orang suruhan Oppa bisa ada dimana saja.” Henry tampak tak peduli. Ia kembali menyumpitkan daging lalu menyodorkannya pada Minhye. Dengan enggan Minhye membuka mulutnya.

“Bisakah kita kembali seperti 4 tahun yang lalu Hwang Minhye ? Hanya untuk hari ini saja, Jeball~” Minhye menuduk. Bukannya ia tidak mau. Bahkan dalam hatipun ia sebenarnya ingin terus bersama namja yang dicintainya itu. Henry.

“Sekarang semuanya sudah berbeda. Mana bisa begitu.” Henry mendesah berat. Minhye sangat mematuhi mendiang appa-nya. Henry kembali menatap Minhye dalam.

“Kalau begitu lakukan itu untukku. Satu kali ini saja~” Dan Minhye tak akan sanggup untuk menolak. Minhye menunduk. “Kembali seperti 4 tahun yang lalu adalah yang paling ingin aku lakukan tapi paling mustahil terjadi sekarang.”

“Kalau begitu kau hanya cukup diam dan ikuti aku.” Minhye menggeleng pelan.

“Minhyun Oppa tidak akan mengijinkannya. Begitu juga dengan appa.” “Jangan katakan ini pada Minhyun hyeong. Minhye-ah, jebal~ temani aku. Satu hari ini saja.” Memelas. Dan Minhye tak tahan hingga akhirnya ia mengangguk samar. Henry langsung membawanya kepelukannya, tak sadar mereka cukup menarik perhatian pengunjung maupun pelayan di kedai kecil ini.

***

            Hal pertama yang mereka lakukan adalah menonton di bioskop dan kali ini Henry menggunakan penyamaran, membuat Minhye sedikit risih dan sebal. Terlihat sekali raut wajahnya yang sedikit cemberut.

“Wae ? Filmnya tidak bagus ?” Minhye menggeleng. Ia menyingkirkan tangan Henry yang berusaha memeluknya dari samping.

“Ani.”

“Ada yang kau inginkan ?”

“Lepaskan maskermu.” Jawab Minhye cepat. “MWO ?” beruntung mereka duduk dideretan kursi paling belakang hingga tak seorangpun mendengar petikan Henry. Atau mendengar tapi mengacuhkannya.

“Yang benar saja.” Minhye kembali merenggut cemberut.

“4 tahun yang lalu di Okinawa juga seperti itu.” Henry berpikir keras. Ia tak mungkin mengacuhkan permintaan Minhye, tapi di Shanghai siapa yang tidak mengenalnya. Di kedai tadi saja ia masih menggunakan kacamata hitam besarnya.

“Geurae. Setelah keluar dari sini tidak ada alat penyamaran apapun.” Minhye tersenyum senang. Setidaknya dengan begitu bisa mengobati rasa rindunya selama 4 tahun ini. “Gomawo Oppa”

***

            Minhye menyandarkan kepalanya dipunggung Henry. Angin awal musim gugur memainkan rambut panjangnya dan membelai wajahnya halus. Minhye memejamkan matanya, menikmati kesunyian di lembah gunung Huangshan provinsi Anhui.

“Kau senang ?” Minhye hanya mengangguk sebagai jawaban. Henry kembali terdiam, ia membiarkan Minhye menikmati suasana lembah Huangshan dengan sepeda tanpa mengganggunya.

“Kita akan kemana ?”

“Ketempat yang tidak ada banyak orang seperti di Okinawa.”

***
           
            Mereka saling bersandar. Minhye bersandar di bahu Henry dan Henry merebahkan kepalanya diatas kepala Minhye. Di salah satu puncak Gunung Huangshan yang menghadap kearah barat mereka bisa melihat matahari yang terbenam diselimuti awan putih. Dan pohon tusam yang menjadi ciri khas gunung ini terlihat seperti rumput dari atas sini. Ya, setidaknya disini cukup sepi bukan ?

“Oppa, setelah ini kembalilah seperti dulu. Kau harus hidup dengan baik, aku tahu selama ini tidak benar-benar melupakanku ani ? Kau diam-diam mengikutiku. Aku benarkan ?” Henry tak menjawab. Ia masih ingin bersama gadisnya disini lebih lama. Hingga matahari terbit pun tak masalah jika ia bisa.

“Aku adalah putri seorang mafia. Apa yang menyebabkanmu bisa jatuh cinta padaku eoh ?” Minhye kembali bersuara memecahkan keheningan diantara mereka.

“Karena kau berbeda. Kau berbeda dimata, kau begitu tulus dan tidak berpura-pura. Aku suka kejujuranmu itu. Aku suka senyumnya, karena itu kau aku mencintaimu.” Minhye ingin menangis. Jawaban yang keluar dari mulut Henry membuatnya ingin keluar dari kehidupan gelapnya tapi-

“Setelah ini berjanjilah untukku. Benar-benar berjanji untukku oppa.” Henry menegakkan kepalanya, ia berubah menjadi bersandar pada pohon tusam dibelakangnya.
“Kau tahu sendiri bukan seberapa keras aku berusaha pada akhirnya aku akan kembali menatap punggungmu.” Mereka sama. Sama-sama keras kepala.

“Impianku selalu bersamamu, setidaknya itu yang bisa kau bawa dariku. Henry Oppa, kita begitu berbeda. Jangan egois seperti ini. Aku mencintaimu, jika kau juga mencintaiku pergilah, jangan kembali. Impianku hidup bersamamu, biola itu hidupku kutitipkan sepenuhnya padamu.” Gemerlap bintang dengan hembusan angin musim gugur menemani kesunyian mereka yang masih terdiam dengan bulan sabit yang mengintip dibalik awan malam.

“Hwang Minhye waktumu habis.” Henry hanya bisa menatap namja yang berdiri tak jauh dari mereka. Namja yang berdiri paling depan diantara beberapa namja dibelakangnya. Ia merasakan pergerakan dari Minhye. Minhye melepas pelukannya dan kini ia berdiri dan berjalan menjauh darinya.

“Tuan Lau, kuperingatkan jangan sekali-kali mendekati Minhye lagi!!” Minhyun menatap dingin Henry dan membimbing yeodongsaengnya untuk pergi.

“Ini kesempatan terakhirmu, jangan pernah kau ulangi ini lagi.” Ujar Minhyun sebelum akhirnya meninggalkan puncak Huangshan. Sementara Henry masih menyandarkan punggungnya pada pohon tusam dengan pandangan yang terkunci pada sosok Minhye-nya. Ingin sekali- ingin ia membawa Minhye pergi untuknya sendiri. Kenapa dunia harus berbeda ? Semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar