About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Selasa, 31 Desember 2013

[Chaptered] Unpredictable Life Part 2 - Choi Si Won

1.      Title                 : Unpredictable Life Part 2
2.      Author             : Fortunia Ryu
3.      Casts               : Choi Si Won, Go Jin Mi, Kim Kibum, Yoo Ji Eun and other casts find by your self.
4.      Genre              : AU, Married Life, Angst and others up to reader.
5.      Lenght             : Chapter/Series
6.      Rated              : PG 15/PG17
7.      Disclaimer       : FF pertama saja tentang married life. Kenapa castnya Si Won oppa ? Karena saya entah kenapa pingin aja tu orang cepetan married. Kekekek, entah itu pikiran dari mana. Story is Mine!! No Plagiat. Typo(s) anywhere.



Story...



            Malam telah berganti pagi hari yang hangat. Hari demi hari nona Go yang biasanya hidup dengan penuh aturan dari orang tuanya kini hidup dengan suami yang memang dicintainya tapi- entahlah. Tuan Muda Choi yang terhormat itu sepertinya mengabaikan perasaan Jin Mi atau karena Jin Mi yang tak bisa mengungkapkan isi hatinya ? Mollayeo~, ia takut Si Won akan lebih kejam padanya jika ia lancang berani menunjukan perasaannya itu pada suaminya.

            Jin Mi  mengerjap-ngerjapkan matanya. Di depan matanya terpampang jelas wajah suaminya yang tengah tertidur pulas. Raut wajahnya damai namun penuh kelelahan. Satu alasan lain yang membuatnya bertahan. Raut wajah ini- membuatnya tak tega meninggalkan Si Won sendirian. Jadi ia rela menjadikan dirinya pelampiasan berbagai bentuk amarah suaminya. Tangannya terulur menyentuh kening yang penuh peluh itu. Mengusapnya lalu menciumnya sekilas sebelum bangkit untuk membersihkan diri. 3 bulan lamanya hingga ia hafal apa yang disukai suaminya dan yang tidak disukai suaminya. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti minum kopi di pagi hari sebelum ke kantor misalnya.


***


            Dengan telaten Jin Mi memasak omelet, nasi goreng, dan menyiapkan secangkir kopi hangat. Hari ini Si Won ada meeting jam 8 jadi ia tak bisa menyiapkan masakan yang terlalu rumit. Jimni menatanya diatas nampan putih dan membawanya ke kamar Si Won. Ia menepuk – nepuk pipi Si Won pelan. Merasa terganggu Si Won membuka matanya, belum sempat ia menyemprot Jin Mi dengan ucapan pedasnya Jin Mi lebih dulu berucap.

“Oppa, ini sarapannya. Maaf aku hanya bisa membuat ini karena sebentar lagi oppa ada rapat bukan ? Aku permisi dulu, aku siapkan air hangatnya untuk mandi.” Jin Mi berlalu dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Terkadang itu membuat Si Won bingung. Kenapa wanita itu masih memilih bertahan di sampingnya ? Kenapa tidak meminta cerai dan kembali ke rumah nyaman orang tuannya. Dengan begitukan orang tuanya tak ada alasan untuk mengekangnya karena Jin Mi sendiri sudah menyerah. Si Won menggeleng pelan lalu menyantap nasi goreng buatan istrinya.


***


            Jin Mi memakaikan dasi dengan telaten di leher suaminya. Tentu saja dengan senyum mengembang sedangkan Si Won hanya menatapnya datar. Setelah selesai Si Won berjalan ke depan untuk segera berangkat dan Jin Mi mengekor dibelakangnya membawakan tas kerja Si Won. Sampai didepan pintu Jin Mi menyerahkan tas yang dibawanya pada Si Won lalu dengan cepat Si Won mengambilkan.

“Jangan lupa bersihkan rumah. Aku tak ingin kaca jendela kotor seperti kemarin dan toilet juga masih kotor. Jika kau tak mengerjakannya dengan benar siapkan dirimu untuk tidur di kamar mandi lagi.” Si Won belum berubah, dan tentu saja melakukan itu untuk melampiaskan nafsunya. Kata kasar masih kurang untuk mewakilinya. Jin Mi mengangguk patuh, ia tersenyum kikuk menanggangi ucapan Si Won. Sebenarnya ia sedikit takut karena jujur saja tubuhnya masih sakit dan badannya sedikit menggigil karena semalam ia tidur di lantai kamar mandi yang dingin. Terlebih wajah Si Won yang begitu dingin, tapi bagaimana lagi ? Si Won adalah orang yang dipilihkan orang tuanya bukan.

“Ne oppa. Arraseo!! Hati-hati semoga harimu menyenangkan. Semoga pekerjaanmu lancar.” Lirih Jin Mi saat Si Won melewatinya, tak menghiraukannya dan memilih langsung masuk kemobilnya dan menstaternya. Jin Mi menghela nafas. ‘Suatu saat nanti ini pasti akan berakhir’ itulah yang menjadi semangat baginya. Kehidupan akan terus berputar jadi kau harus bertahan Go Jin Mi. Sepeninggal Si Won, Jin Mi kembali masuk kedalam rumah. Ia mengambil pakaian kotor yang hendak dicucinya namun suara bel yang dipencet seseorang menghentikan aktivitasnya.

Cekleet

“Han Ahjumma.” sapa Jin Mi dengan senyuman namun raut wajah kepala pembantu rumah tangga di keluarganya ini menunjukan ekspresi gelisah bercampur kaget membuat Jin Mi menatapnya serius.

“Kajja masuk ahjumma. Sebaiknya bicarakan didalam.” Han Ahjumma mengikuti Jin Mi dan duduk disofa ruang tamu. Sejenak Han Ahjumma mengedarkan pandangannya pada setiap sudut rumah megah ini.

“Waeyo ahjumma ?.” Han Ahjumma memandang nona mudanya sebelum menjawab. “Rumah besar ini hanya nona dan tuan muda saja menempati ? Apa anda sendiri yang membersihkan rumah ini nona ? Walaupun ini tidak sebesar kediaman tuan Go, tapi ini pasti sangat melelahkan bila dikerjakan seorang diri. Wajah Nona juga terlihat sedikit pucat pasti sangat melelahkan mengurus urusan rumah tangga dan membersihkan rumah sebesar ini. Nona terlihat kurusan.” Jin Mi hanya tersenyum. Mengingat bagaimana dulu kehidupannya sebelum menikah. Jika ia ingin apa-apa hanya cukup berucap lalu dengan sendirinya ada. Walau ia ingin melakukannya sendiri, tapi para pelayannya tak akan membiarkannya.

“Ne, aku suka ahjumma. Ini salah satu keinginanku. Menjadi ibu rumah tangga itu menyenangkan.” Walau akan lebih menyenangkan jika Si Won oppa setidaknya memperlakukanku selayaknya istri. Tambah Jin Mi dalam hati. “Tapi rumah ini terlalu besar nona.” Jin Mi hanya tersenyum, tak boleh ada yang tahu keadaan rumah tangganya. Tiba-tiba ia teringat orang tuanya. Sudah 2 bulan ini ia tak bertemu mereka.

“Ahjumma, bagaimana keadaan eomma dan abeoji ? Aku merindukan mereka. Sudah lama aku tak bertemu mereka.” Dari wajah Han Ahjumma kembali tersirat kesedihan, membuat Jin Mi menaikan satu alisnya. “Waeyo ahjumma ?” Han Ahjumma menunduk. “Nona kuharap anda tabah. Tuan dan nyonya besar meninggal dalam kecelakaan mobil di Kyoto saat hendak menuju bandara untuk pulang ke korea. Dan ini- berkas-berkas aset keluarga anda- juga surat wasiat dari ayah anda nona.” Wajah Jin Mi berubah sendu namun dengan tatapan kosong menatap map-map yang kini berada di atas meja.

“Ahjumma- secepat itukah mereka- tega sekali.” air mata itu turun menyusuri wajah putihnya yang sedikit memucat. Tangannya mengepal menahan emosinya. Kedua orang tuanya pergi meninggalkannya seorang diri. Bahkan suami-nya-pun tak bisa disebut seorang suami. Lalu dimana ia harus bersandar sekarang ?

“Nona, saya harap anda tabah dan mengikhlaskan mereka. Rumah utama akan diberikan kepada tuan muda Jung Hyun Jung sepupu anda. Dan untuk lebih lengkapnya anda bisa membacanya disurat wasiat itu. Saya mohon undur diri. Jenazah tuan dan nyonya akan tiba nanti sore nona.” Jin Mi mengangguk dan menghapus air matanya kasar lalu tersenyum.

“Ne ahjumma. Aku baik-baik saja. Ahjumma tak usah khawatir, terima kasih karena sudah menjaga dan merawat ku hingga kini dan melayani eomma dan abeoji hingga akhir hayat mereka. Terima kasih ahjumma.” Han Ahjumma hanya tersenyum sekilas lalu mengangguk. Ia sebenarnya ingin menenangkan nona muda yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri namun ia harus kembali ke kediaman Go untuk mengurus pemakaman. Wanita paruh baya itu mengusap kepala Jin Mi sebentar sebelum pergi.

Jin Mi menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Air matanya kembali turun. Matanya sudah memerah dan isakan mulai terdengar. Jin Mi tertunduk dilantai, melipat kedua kakinya lalu menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Tangannya membekap mulut kecilnya untuk sedikit meredam isakan. Ia mengabaikan tugas rumah yang harus dikerjakannya. Dan untuk sejenak mengabaikan bagaimana amukan Si Won padanya nanti. Ia tahu pria dingin itu tak akan mendengar alasan apapun darinya tapi- kehilangan orang tua-nya sekaligus membuat dirinya tak mampu menyangga kehidupan yang harus dijalaninya kini.


***


            Jin Mi memandangi smartphone yang berada dalam genggamannya. Ia ragu untuk mendial nomor yang tertera di layarnya. Ia memejamkan mata sejenak mengumpulkan kekuatan untuk dapat bersuara nantinya. Jari lentiknya menyentuh layar smartphone putih itu dan mendekatkannya ketelinga kirinya.

“Yeobosaeyo.” sapaan dingin itu sedikit membuatnya takut. Ia menggigit kuku jari telunjuknya sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya. “Jika tidak ada hal yang ingin kau bicarakan aku tutup telponnya. Mengganggu.” “GEUMANHAE!!.” Jin Mi sedikit berteriak. Ia mengatur napasnya. “Ppalliwa”

“Uri Eomma dan Abeoji kecelakaan, mereka- kini sudah kembali ke sang pencipta.” Jin Mi memberi jeda. Mengambil napas sebelum melanjutkan ucapannya. Berusaha menahan tangis yang kadang tak bisa ia kontrol. “Aku sudah tahu lalu kenapa ?”

“Aku harap oppa bisa pulang cepat. Sore nanti jenazah mereka akan sampai dan langsung dimakamkan. Aku harap oppa mau meluangkan waktunya sebentar untukku. Jebal, aku janji ini permintaan pertama dan terakhir dariku. Aku janji akan mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar tanpa membuat oppa terus marah-marah padaku.” Jin Mi mengeraskan gigitan pada kuku jari telunjuknya. Bersiap-siap menunggu jawaban dari Si Won.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” desis Jin Mi diakhir karena Si Won tak kunjung memberi jawaban. “Geurae.” PIP. Jin Mi sedikit tersenyum. Walau Si Won menjawabnya dengan satu kata.

Jin Mi kembali menatap map-map yang berada diatas meja. Ia mengambil amplop berwarna coklat tua dan membukanya. Secarik kertas biru muda. Ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya hati-hati.
           
Untuk putriku yang manja walau ia selalu berusaha bersikap mandiri. Go Jin Mi tersayang. Atau sekarang menjadi Choi Jin Mi ? ckckck, walau sekarang kau sudah menjadi istri orang yang abeoji percaya untuk menjagamu, tapi rasanya kenapa tak ingin melepasmu putriku.
           
Entah kenapa akhir-akhir ini abeoji merasa begitu merindukanmu. Apa kau juga merindukan abeojimu yang tak setampan suamimu itu ? Apa kau melupakan abeoji karena sudah ada pria tampan disisimu ? Abeoji tak yakin, karena katamu bukankah abeoji selamanya tetap pria paling tampan bukan ?

Jin Mi-ah, jadilah istri yang baik. Sekarang kau harus mandiri, jadilah seorang istri dan eomma yang baik untuk anak-anakmu kelak. Abeoji tak bisa memanjakanmu lagi, sekarang kau menjadi tanggung jawab suamimu. Istri yang baik itu jangan terlalu banyak menuntut seperti eomma-mu. Tapi cobalah mengerti suamimu. Abeoji percaya dengan Si Won, ia orang yang bertanggung jawab. Jangan membuatnya seperti kau adalah tanggungnya, cobalah menjadi sandarannya karena dibalik pria yang sukses itu ada sosok wanita tegar dibelakangnya, seperti eommamu.
           
Kalian harus hidup bahagia arratchi!! Abeoji tak menerima penolakan karena ini perintah!! Kami menyayangimu, teruslah berdiri dibalik punggung kokoh suamimu Jin Mi sayang~

Abeoji.
           

Jin Mi mengalihkan pandangannya dari kertas yang baru saja ia baca. Menatap awan melalui jendela besar di kamar utama. Abeoji-nya sangat menyukai Si Won, ia bahkan tak mengetahui kehidupan mereka yang sebenarnya. Ia merasa seperti membohongi orang tuanya sendiri. Ia selalu berusaha menjadi istri yang baik namun respon yang diberikan suaminya berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.

‘Aku berjanji abeoji, apapun yang terjadi aku- tetap akan menjadi Ny. Choi, selamanya. Walau ia sendiri yang menginginkan pernikahan ini berakhir, tapi aku akan tetap bertahan. Aku berjanji, maaf- karena membohongi kalian selama ini abeoji, eomma’


***


            Kini dipemakaman yang beberapa menit yang lalu masih terlihat ramai kini mulai  lenggang. Hanya Jin Mi, Si Won, Han Ahjumma, Hyun Jung dan Jung ahjumma-dongsaeng eomma Jin Mi- yang melingkari 2 gundukan yang masih baru. Hyun Jung memegang pundak Jin Mi yang sudah dianggap noona-nya sendiri. Menyangga yeoja itu agar tak terjatuh karena kakinya begitu lemas tak bertenaga.

“Nona ini hampir gelap. Sebaiknya kita kembali.” Jin Mi mengangguk. Si Won memasukan kedua tangannya kesaku celana hitam kerjanya. Hyun Jung masih setia memapah Jin Mi menuju mobil.

Han ahjumma berjalan dibelakang Si Won, Jin Mi dan Hyun Jung. Ia berjalan berdampingan dengan adik nyonyanya-Jung Hyo Min-. Hyo Min membisikan kata-kata yang sendari tadi mengganggu pikirannya juga.

“Apa hubungan Jin Mi dan suaminya sedang tidak baik ? Kenapa dari tadi aku tak melihat rasa simpati sedikitpun dari mata Si Won.” Han ahjumma meneguk liurnya dengan susah payah. Ia pikir wanita disampingnya tak menyadari hal itu. “Molla. Aku juga tak tahu nyonya, setahuku hubungan mereka baik-baik saja. Hanya saja-”

“Bicarakan nanti dirumah.” pungkas Hyo Min.


***


            Si Won masuk kekamar yang dulu menjadi kamar Jin Mi sewaktu masih tinggal dengan orang tuanya. Ia menemukan Jin Mi menekuk kakinya dan duduk diatas ranjang dengan pandangan kosong dan dagu yang disandarkan diatas lututnya yang ditekuk. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu terlihat begitu rapuh. Dari yang ia tahu Jin Mi memang menyayangi orang tuanya, terutama abeojinya dan menerima perjodohan dengannya karena itu permintaan abeojinya.

            Si Won melangkah mendekati ranjang dan duduk ditepi ranjang. Derikan ranjang sepertinya membuyarkan lamuman Jin Mi. Ia tersikap lalu memandang Si Won sejenak sebelum akhirnya ia bangkit dari ranjang. Membuka pintu lemari dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia membawa map-map itu dan meletakkannya diatas ranjang. Didepan Si Won.

“Ige- dari orang tuaku. Bacalah.” Si Won meraih map itu dan menatap Jin Mi lalu membuka map itu. “Ini milikmu. Aku akan merubahnya menjadi atas namamu.” ujar Si Won dingin. Jin Mi menghela napas.

“Dalam surat yang ditulis Abeoji ini memang diberikan untukmu oppa. Besok aku akan mengambil semua berkas-berkas Abeoji padamu karena yang bisa mengambilnya hanya aku. Aku hanya ingin menyampaikan itu.” Jin Mi membaringkan dirinya diatas tempat tidur.

Terselip rasa iba kala Si Won menatap punggung yeoja yang tidur membelakanginya itu. Anak yatim piatu yang ia siksa. Tapi bukankah Jin Mi sendiri yang tetap berada disampingnya. Salahkan saja yeoja itu karenanya ia dan- ah sudahlah!! Si Won menyimpan map itu dilaci nakas kemudian membaringkan tubuhnya disamping Jin Mi.


***


            Yah.. Jin Mi sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia terlihat sibuk dengan bahan-bahan makanan yang ada dihadapannya. Sesekali ia menyeka peluh yang keluar dari pelipisnya. Bagaimana ia tidak lelah Jin Mi bangun jam 5 pagi untuk menyapu halaman depan, mencuci pakaian kotor dengan ‘tangan’ dan sekarang ia harus memasak untuk suaminya. Jin Mi menghentikan aktivitasnya sejenak, iamenghirup udara sebanyak – banyaknya dengan mata terpejam lalu membuangnya. Ia berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Semangat. ‘Hanya melakukannya dengan benar dan jangan Si Won oppa marah.’ itulah kata-kata yang selalu ia pegang baik-baik.

“Aku akan pulang larut malam. Kau kuijinkan tidur lebih dahulu.” Jin Mi menoleh kearah meja makan putih dibelakangnya. Si Won terlihat sedang mengancingkan lengan kemejanya dan Jin Mi hanya tersenyum seraya mengangguk. Tak lama Jin Mi menata masakan yang sudah dibuatnya untuk sarapan Si Won dan menyajikannya diharapan suaminya.

Mereka makan dalam diam. “Setelah proyek pembangunan pabrik di Incheon selesai kita akan bercerai. Setelah proyek itu selesai perusahaan keluargamu resmi ditutup dan kita akhiri rumah tangga gila ini.” Jin Mi menoleh cepat ke arah Si Won. “Dan kau tak bisa menolak.” Mata Jin Mi menajam. Dari raut gadis itu tergambar jelas bahwa dia tak menyukai apa yang baru saja dilontarkan Si Won.

            “Mianhae tapi kau tak akan pernah bisa menceraikan aku.”

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar