1.
Title : Unpredictable Life Part 2
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Choi Si Won, Go Jin Mi, Kim
Kibum, Yoo Ji Eun and other casts find by your self.
4.
Genre : AU, Married Life, Angst and
others up to reader.
5.
Lenght : Chapter/Series
6.
Rated : PG 15/PG17
7.
Disclaimer : FF pertama saja tentang married life.
Kenapa castnya Si Won oppa ? Karena saya entah kenapa pingin aja tu orang
cepetan married. Kekekek, entah itu pikiran dari mana. Story is Mine!! No
Plagiat. Typo(s) anywhere.
Story...
Malam telah berganti pagi hari yang
hangat. Hari demi hari nona Go yang biasanya hidup dengan penuh aturan dari
orang tuanya kini hidup dengan suami yang memang dicintainya tapi- entahlah.
Tuan Muda Choi yang terhormat itu sepertinya mengabaikan perasaan Jin Mi atau
karena Jin Mi yang tak bisa mengungkapkan isi hatinya ? Mollayeo~, ia takut Si
Won akan lebih kejam padanya jika ia lancang berani menunjukan perasaannya itu
pada suaminya.
Jin Mi mengerjap-ngerjapkan matanya. Di depan
matanya terpampang jelas wajah suaminya yang tengah tertidur pulas. Raut
wajahnya damai namun penuh kelelahan. Satu alasan lain yang membuatnya
bertahan. Raut wajah ini- membuatnya tak tega meninggalkan Si Won sendirian.
Jadi ia rela menjadikan dirinya pelampiasan berbagai bentuk amarah suaminya.
Tangannya terulur menyentuh kening yang penuh peluh itu. Mengusapnya lalu
menciumnya sekilas sebelum bangkit untuk membersihkan diri. 3 bulan lamanya
hingga ia hafal apa yang disukai suaminya dan yang tidak disukai suaminya.
Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti minum kopi di pagi hari sebelum ke kantor
misalnya.
***
Dengan telaten Jin Mi memasak
omelet, nasi goreng, dan menyiapkan secangkir kopi hangat. Hari ini Si Won ada
meeting jam 8 jadi ia tak bisa menyiapkan masakan yang terlalu rumit. Jimni
menatanya diatas nampan putih dan membawanya ke kamar Si Won. Ia menepuk – nepuk
pipi Si Won pelan. Merasa terganggu Si Won membuka matanya, belum sempat ia
menyemprot Jin Mi dengan ucapan pedasnya Jin Mi lebih dulu berucap.
“Oppa, ini sarapannya. Maaf aku hanya bisa membuat ini karena
sebentar lagi oppa ada rapat bukan ? Aku permisi dulu, aku siapkan air
hangatnya untuk mandi.” Jin Mi berlalu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Terkadang itu membuat Si Won bingung. Kenapa wanita itu masih memilih bertahan
di sampingnya ? Kenapa tidak meminta cerai dan kembali ke rumah nyaman orang
tuannya. Dengan begitukan orang tuanya tak ada alasan untuk mengekangnya karena
Jin Mi sendiri sudah menyerah. Si Won menggeleng pelan lalu menyantap nasi
goreng buatan istrinya.
***
Jin Mi memakaikan dasi dengan
telaten di leher suaminya. Tentu saja dengan senyum mengembang sedangkan Si Won
hanya menatapnya datar. Setelah selesai Si Won berjalan ke depan untuk segera
berangkat dan Jin Mi mengekor dibelakangnya membawakan tas kerja Si Won. Sampai
didepan pintu Jin Mi menyerahkan tas yang dibawanya pada Si Won lalu dengan
cepat Si Won mengambilkan.
“Jangan lupa bersihkan rumah. Aku tak ingin kaca jendela kotor
seperti kemarin dan toilet juga masih kotor. Jika kau tak mengerjakannya dengan
benar siapkan dirimu untuk tidur di kamar mandi lagi.” Si Won belum berubah,
dan tentu saja melakukan itu untuk melampiaskan nafsunya. Kata kasar masih
kurang untuk mewakilinya. Jin Mi mengangguk patuh, ia tersenyum kikuk
menanggangi ucapan Si Won. Sebenarnya ia sedikit takut karena jujur saja
tubuhnya masih sakit dan badannya sedikit menggigil karena semalam ia tidur di
lantai kamar mandi yang dingin. Terlebih wajah Si Won yang begitu dingin, tapi
bagaimana lagi ? Si Won adalah orang yang dipilihkan orang tuanya bukan.
“Ne oppa. Arraseo!! Hati-hati semoga harimu menyenangkan. Semoga
pekerjaanmu lancar.” Lirih Jin Mi saat Si Won melewatinya, tak menghiraukannya
dan memilih langsung masuk kemobilnya dan menstaternya. Jin Mi menghela nafas.
‘Suatu saat nanti ini pasti akan berakhir’ itulah yang menjadi semangat
baginya. Kehidupan akan terus berputar jadi kau harus bertahan Go Jin Mi. Sepeninggal
Si Won, Jin Mi kembali masuk kedalam rumah. Ia mengambil pakaian kotor yang
hendak dicucinya namun suara bel yang dipencet seseorang menghentikan
aktivitasnya.
Cekleet
“Han Ahjumma.” sapa Jin Mi dengan senyuman namun raut wajah kepala
pembantu rumah tangga di keluarganya ini menunjukan ekspresi gelisah bercampur
kaget membuat Jin Mi menatapnya serius.
“Kajja masuk ahjumma. Sebaiknya bicarakan didalam.” Han Ahjumma
mengikuti Jin Mi dan duduk disofa ruang tamu. Sejenak Han Ahjumma mengedarkan
pandangannya pada setiap sudut rumah megah ini.
“Waeyo ahjumma ?.” Han Ahjumma memandang nona mudanya sebelum
menjawab. “Rumah besar ini hanya nona dan tuan muda saja menempati ? Apa anda
sendiri yang membersihkan rumah ini nona ? Walaupun ini tidak sebesar kediaman
tuan Go, tapi ini pasti sangat melelahkan bila dikerjakan seorang diri. Wajah
Nona juga terlihat sedikit pucat pasti sangat melelahkan mengurus urusan rumah
tangga dan membersihkan rumah sebesar ini. Nona terlihat kurusan.” Jin Mi hanya
tersenyum. Mengingat bagaimana dulu kehidupannya sebelum menikah. Jika ia ingin
apa-apa hanya cukup berucap lalu dengan sendirinya ada. Walau ia ingin
melakukannya sendiri, tapi para pelayannya tak akan membiarkannya.
“Ne, aku suka ahjumma. Ini salah satu keinginanku. Menjadi ibu
rumah tangga itu menyenangkan.” Walau akan lebih menyenangkan jika Si Won oppa
setidaknya memperlakukanku selayaknya istri. Tambah Jin Mi dalam hati. “Tapi
rumah ini terlalu besar nona.” Jin Mi hanya tersenyum, tak boleh ada yang tahu
keadaan rumah tangganya. Tiba-tiba ia teringat orang tuanya. Sudah 2 bulan ini
ia tak bertemu mereka.
“Ahjumma, bagaimana keadaan eomma dan abeoji ? Aku merindukan
mereka. Sudah lama aku tak bertemu mereka.” Dari wajah Han Ahjumma kembali
tersirat kesedihan, membuat Jin Mi menaikan satu alisnya. “Waeyo ahjumma ?” Han
Ahjumma menunduk. “Nona kuharap anda tabah. Tuan dan nyonya besar meninggal
dalam kecelakaan mobil di Kyoto saat hendak menuju bandara untuk pulang ke
korea. Dan ini- berkas-berkas aset keluarga anda- juga surat wasiat dari ayah
anda nona.” Wajah Jin Mi berubah sendu namun dengan tatapan kosong menatap
map-map yang kini berada di atas meja.
“Ahjumma- secepat itukah mereka- tega sekali.” air mata itu turun
menyusuri wajah putihnya yang sedikit memucat. Tangannya mengepal menahan
emosinya. Kedua orang tuanya pergi meninggalkannya seorang diri. Bahkan
suami-nya-pun tak bisa disebut seorang suami. Lalu dimana ia harus bersandar
sekarang ?
“Nona, saya harap anda tabah dan mengikhlaskan mereka. Rumah utama
akan diberikan kepada tuan muda Jung Hyun Jung sepupu anda. Dan untuk lebih
lengkapnya anda bisa membacanya disurat wasiat itu. Saya mohon undur diri.
Jenazah tuan dan nyonya akan tiba nanti sore nona.” Jin Mi mengangguk dan
menghapus air matanya kasar lalu tersenyum.
“Ne ahjumma. Aku baik-baik saja. Ahjumma tak usah khawatir, terima
kasih karena sudah menjaga dan merawat ku hingga kini dan melayani eomma dan
abeoji hingga akhir hayat mereka. Terima kasih ahjumma.” Han Ahjumma hanya
tersenyum sekilas lalu mengangguk. Ia sebenarnya ingin menenangkan nona muda
yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri namun ia harus kembali ke kediaman
Go untuk mengurus pemakaman. Wanita paruh baya itu mengusap kepala Jin Mi
sebentar sebelum pergi.
Jin Mi menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Air matanya kembali
turun. Matanya sudah memerah dan isakan mulai terdengar. Jin Mi tertunduk
dilantai, melipat kedua kakinya lalu menenggelamkan wajahnya diantara lututnya.
Tangannya membekap mulut kecilnya untuk sedikit meredam isakan. Ia mengabaikan
tugas rumah yang harus dikerjakannya. Dan untuk sejenak mengabaikan bagaimana
amukan Si Won padanya nanti. Ia tahu pria dingin itu tak akan mendengar alasan
apapun darinya tapi- kehilangan orang tua-nya sekaligus membuat dirinya tak
mampu menyangga kehidupan yang harus dijalaninya kini.
***
Jin Mi memandangi smartphone yang
berada dalam genggamannya. Ia ragu untuk mendial nomor yang tertera di layarnya.
Ia memejamkan mata sejenak mengumpulkan kekuatan untuk dapat bersuara nantinya.
Jari lentiknya menyentuh layar smartphone putih itu dan mendekatkannya
ketelinga kirinya.
“Yeobosaeyo.” sapaan dingin itu sedikit membuatnya takut. Ia
menggigit kuku jari telunjuknya sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya. “Jika
tidak ada hal yang ingin kau bicarakan aku tutup telponnya. Mengganggu.” “GEUMANHAE!!.”
Jin Mi sedikit berteriak. Ia mengatur napasnya. “Ppalliwa”
“Uri Eomma dan Abeoji kecelakaan, mereka- kini sudah kembali ke
sang pencipta.” Jin Mi memberi jeda. Mengambil napas sebelum melanjutkan
ucapannya. Berusaha menahan tangis yang kadang tak bisa ia kontrol. “Aku sudah
tahu lalu kenapa ?”
“Aku harap oppa bisa pulang cepat. Sore nanti jenazah mereka akan
sampai dan langsung dimakamkan. Aku harap oppa mau meluangkan waktunya sebentar
untukku. Jebal, aku janji ini permintaan pertama dan terakhir dariku. Aku janji
akan mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar tanpa membuat oppa terus
marah-marah padaku.” Jin Mi mengeraskan gigitan pada kuku jari telunjuknya.
Bersiap-siap menunggu jawaban dari Si Won.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” desis Jin Mi diakhir karena
Si Won tak kunjung memberi jawaban. “Geurae.” PIP. Jin Mi sedikit tersenyum.
Walau Si Won menjawabnya dengan satu kata.
Jin Mi kembali menatap map-map yang berada diatas meja. Ia
mengambil amplop berwarna coklat tua dan membukanya. Secarik kertas biru muda.
Ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya hati-hati.
Untuk putriku yang manja walau ia selalu berusaha bersikap mandiri.
Go Jin Mi tersayang. Atau sekarang menjadi Choi Jin Mi ? ckckck, walau sekarang
kau sudah menjadi istri orang yang abeoji percaya untuk menjagamu, tapi rasanya
kenapa tak ingin melepasmu putriku.
Entah kenapa akhir-akhir ini abeoji merasa begitu merindukanmu. Apa
kau juga merindukan abeojimu yang tak setampan suamimu itu ? Apa kau melupakan
abeoji karena sudah ada pria tampan disisimu ? Abeoji tak yakin, karena katamu
bukankah abeoji selamanya tetap pria paling tampan bukan ?
Jin Mi-ah, jadilah istri yang baik. Sekarang kau harus mandiri,
jadilah seorang istri dan eomma yang baik untuk anak-anakmu kelak. Abeoji tak
bisa memanjakanmu lagi, sekarang kau menjadi tanggung jawab suamimu. Istri yang
baik itu jangan terlalu banyak menuntut seperti eomma-mu. Tapi cobalah mengerti
suamimu. Abeoji percaya dengan Si Won, ia orang yang bertanggung jawab. Jangan membuatnya
seperti kau adalah tanggungnya, cobalah menjadi sandarannya karena dibalik pria
yang sukses itu ada sosok wanita tegar dibelakangnya, seperti eommamu.
Kalian harus hidup bahagia arratchi!! Abeoji tak menerima penolakan
karena ini perintah!! Kami menyayangimu, teruslah berdiri dibalik punggung
kokoh suamimu Jin Mi sayang~
Abeoji.
Jin Mi mengalihkan pandangannya dari kertas yang baru saja ia baca.
Menatap awan melalui jendela besar di kamar utama. Abeoji-nya sangat menyukai Si
Won, ia bahkan tak mengetahui kehidupan mereka yang sebenarnya. Ia merasa
seperti membohongi orang tuanya sendiri. Ia selalu berusaha menjadi istri yang
baik namun respon yang diberikan suaminya berbanding terbalik dengan apa yang
ia harapkan.
‘Aku berjanji abeoji, apapun yang terjadi aku- tetap akan menjadi
Ny. Choi, selamanya. Walau ia sendiri yang menginginkan pernikahan ini
berakhir, tapi aku akan tetap bertahan. Aku berjanji, maaf- karena membohongi
kalian selama ini abeoji, eomma’
***
Kini dipemakaman yang beberapa menit
yang lalu masih terlihat ramai kini mulai lenggang. Hanya Jin Mi, Si Won, Han Ahjumma, Hyun
Jung dan Jung ahjumma-dongsaeng eomma Jin Mi- yang melingkari 2 gundukan yang
masih baru. Hyun Jung memegang pundak Jin Mi yang sudah dianggap noona-nya
sendiri. Menyangga yeoja itu agar tak terjatuh karena kakinya begitu lemas tak
bertenaga.
“Nona ini hampir gelap. Sebaiknya kita kembali.” Jin Mi mengangguk.
Si Won memasukan kedua tangannya kesaku celana hitam kerjanya. Hyun Jung masih
setia memapah Jin Mi menuju mobil.
Han ahjumma berjalan dibelakang Si Won, Jin Mi dan Hyun Jung. Ia
berjalan berdampingan dengan adik nyonyanya-Jung Hyo Min-. Hyo Min membisikan
kata-kata yang sendari tadi mengganggu pikirannya juga.
“Apa hubungan Jin Mi dan suaminya sedang tidak baik ? Kenapa dari
tadi aku tak melihat rasa simpati sedikitpun dari mata Si Won.” Han ahjumma
meneguk liurnya dengan susah payah. Ia pikir wanita disampingnya tak menyadari
hal itu. “Molla. Aku juga tak tahu nyonya, setahuku hubungan mereka baik-baik
saja. Hanya saja-”
“Bicarakan nanti dirumah.” pungkas Hyo Min.
***
Si Won masuk kekamar yang dulu
menjadi kamar Jin Mi sewaktu masih tinggal dengan orang tuanya. Ia menemukan Jin
Mi menekuk kakinya dan duduk diatas ranjang dengan pandangan kosong dan dagu
yang disandarkan diatas lututnya yang ditekuk. Ini pertama kalinya ia melihat
gadis itu terlihat begitu rapuh. Dari yang ia tahu Jin Mi memang menyayangi
orang tuanya, terutama abeojinya dan menerima perjodohan dengannya karena itu
permintaan abeojinya.
Si Won melangkah mendekati ranjang
dan duduk ditepi ranjang. Derikan ranjang sepertinya membuyarkan lamuman Jin Mi.
Ia tersikap lalu memandang Si Won sejenak sebelum akhirnya ia bangkit dari
ranjang. Membuka pintu lemari dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia membawa
map-map itu dan meletakkannya diatas ranjang. Didepan Si Won.
“Ige- dari orang tuaku. Bacalah.” Si Won meraih map itu dan menatap
Jin Mi lalu membuka map itu. “Ini milikmu. Aku akan merubahnya menjadi atas
namamu.” ujar Si Won dingin. Jin Mi menghela napas.
“Dalam surat yang ditulis Abeoji ini memang diberikan untukmu oppa.
Besok aku akan mengambil semua berkas-berkas Abeoji padamu karena yang bisa
mengambilnya hanya aku. Aku hanya ingin menyampaikan itu.” Jin Mi membaringkan
dirinya diatas tempat tidur.
Terselip rasa iba kala Si Won menatap punggung yeoja yang tidur
membelakanginya itu. Anak yatim piatu yang ia siksa. Tapi bukankah Jin Mi
sendiri yang tetap berada disampingnya. Salahkan saja yeoja itu karenanya ia
dan- ah sudahlah!! Si Won menyimpan map itu dilaci nakas kemudian membaringkan
tubuhnya disamping Jin Mi.
***
Yah.. Jin Mi sudah kembali menjalani
rutinitasnya seperti biasa. Ia terlihat sibuk dengan bahan-bahan makanan yang
ada dihadapannya. Sesekali ia menyeka peluh yang keluar dari pelipisnya. Bagaimana
ia tidak lelah Jin Mi bangun jam 5 pagi untuk menyapu halaman depan, mencuci
pakaian kotor dengan ‘tangan’ dan sekarang ia harus memasak untuk suaminya. Jin
Mi menghentikan aktivitasnya sejenak, iamenghirup udara sebanyak – banyaknya
dengan mata terpejam lalu membuangnya. Ia berusaha mengangkat kedua sudut
bibirnya membentuk sebuah senyuman. Semangat. ‘Hanya melakukannya dengan benar
dan jangan Si Won oppa marah.’ itulah kata-kata yang selalu ia pegang
baik-baik.
“Aku akan pulang larut malam. Kau kuijinkan tidur lebih dahulu.”
Jin Mi menoleh kearah meja makan putih dibelakangnya. Si Won terlihat sedang
mengancingkan lengan kemejanya dan Jin Mi hanya tersenyum seraya mengangguk.
Tak lama Jin Mi menata masakan yang sudah dibuatnya untuk sarapan Si Won dan
menyajikannya diharapan suaminya.
Mereka makan dalam diam. “Setelah proyek pembangunan pabrik di
Incheon selesai kita akan bercerai. Setelah proyek itu selesai perusahaan
keluargamu resmi ditutup dan kita akhiri rumah tangga gila ini.” Jin Mi menoleh
cepat ke arah Si Won. “Dan kau tak bisa menolak.” Mata Jin Mi menajam. Dari
raut gadis itu tergambar jelas bahwa dia tak menyukai apa yang baru saja
dilontarkan Si Won.
“Mianhae tapi kau tak akan pernah
bisa menceraikan aku.”
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar