1.
Title : Unpredictable Life Part 1
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Choi Si Won, Go Jin Mi, Kim
Kibum, Yoo Ji Eun and other casts find by your self.
4.
Genre : AU, Married Life, Angst and
others up to reader.
5.
Lenght : Chapter/Series
6.
Rated : PG 15/PG17
7.
Disclaimer : FF pertama saja tentang married life.
Kenapa castnya Si Won oppa ? Karena saya entah kenapa pingin aja tu orang
cepetan married. Kekekek, entah itu pikiran dari mana. Story is Mine!! No
Plagiat. Typo(s) anywhere.
Story...
Seoul yang cerah. Sudah memasuki bulan April, banyak bunga sakura
yang bermekaran ditaman sebuah universitas. Paichai University. Sebuah mobil
audi TT Coupe putih memasuki pelataran universitas ini. Tak lama seorang yeoja
turun dari mobil.
“Gomawo Oppa. hati-hati, semoga harimu menyenangkan.” ujar yeoja
tersebut kala sang pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya. “Ne chagiya~, mian
nanti siang Oppa tidak bisa menjemputmu. Oppa harus mengecek langsung salah
satu departement store. Kau tak apa kan pulang sendiri ?” tanya namja berkaca
mata hitam dari dalam mobil. Sang yeoja hanya mengangguk.
“Ne Oppa.” “Kalau begitu Oppa pergi
dulu. Annyeong.” setelah memastikan mobil namja itu menghilang dari jarak
pandanganya, yeoja itu berbalik berjalan menuju. Sampai dilorong lantai 3 yang cukup
sepi, tiba-tiba ada yang menariknya dan mendorongnya hingga punggungnya
menyentuh tembok. Yeoja itu tak kaget. Ini sudah biasa untuknya.
Cup
Kecupan singkat mendarat di bibir yeoja itu. Niatan sang namja
untuk melepaskan tautan mereka namun yeoja itu justru menarik tengkuk namja itu
dan melumatnya pelan. Tak mau kalah namja itu balas melumat bibir yeoja itu
hingga mereka melepaskan tautan karena pasokan oksigen yang sudah kritis.
“Kau jadi nakal sekarang. Apa yang telah diajarkan presiden
direktur Choi itu padamu ?” Goda sang namja sambil mengelus pipi yeoja-nya itu.
Yeoja-nya ? Mungkin ?
“Ia tak pernah menyentuhku oppa. aku begini karena kau nappeun sunbae !!” balas sang yeoja sambil menurunkan tangan
namja yang mengelus pipinya. Kemudian tangannya bergelayut manja dilengan kiri
namja itu. Mereka mulai berjalan bersama.
“Kau suka kan ? Kalau kau tidak suka, kau pasti sudah menolaknya!”
“Ya, ya, ya. Kau menang oppa.”
“Tidak ada yang bisa mengalahkan Lee Hyuk Jae. Aku janji, ada
saatnya dimana hanya ada kita saja, dan dunia akan tahu kau milikku. Yoo Ji Eun
milik Lee Hyuk Jae!” walau terdengat bercanda namun tersirat keinginan dan
tekat yang besar didalamnya.
“Ne Oppa. aku tunggu bualanmu itu.” Ji Eun terkikik sambil terus
bergelayut manja dilengan Hyuk Jae. “Hya!! Ini bukan candaan ataupun bualan Ny.
Lee.” sebuah jitakan mendarat diubun-ubun Ji Eun. “Margaku Yoo bukan Lee. Dan
kenapa oppa suka sekali menjitak kepalaku. Sakit tahu.. Si Won oppa saja tidak
pernah menjitakku. Ia tak pernah kasar padaku. Beda sekali denganmu oppa.” Hyuk
jae mendelik kesal pada Ji Eun. Melihat ekspresi Hyuk Jae yang seperti itu,
membuat tawa Ji Eun pecah seketika dilorong ini.
“Terus saja tertawa. Terus banding-bandingkan aku dengannya.” dumel
Hyuk Jae.
***
Semua pegawai kantor Hyundai
Departement store berjajar rapi mulai dipintu utama hingga menuju evalator.
Saat pintu utama terbuka, semua pegawai
langsung membungkuk 90 derajat. Choi Si Won, presiden direktur sejak satu tahun
yang lalu menggantikan ayahnya dan dibelakangnya Kim Kibum, asisten sekaligus
sahabatnya. Saat kedua orang itu sudah berada didepan evalator, seorang general
manager sedikit menegakkan tubuhnya.
“Selamat pagi Sajangnim. Semoga hari anda menyenangkan.” ujar GM
yang usia-nya sudah menginjak 40 tahunan itu. “Em.” singkat. Presdir muda Choi
itu memang terkenal dingin. Walaupun banyak pagawai yang diam-diam menyukainya,
mereka tak akan berani menunjukkannya karena mereka sayang pada pekerjaan
mereka di Hyundai ini.
Si Won dan Kibum memasuki evalator
lalu Kibum menekan tombol untuk menutup pintu evalator dan menekan tombol untuk
menuju lantai paling atas. Ruang kerja Si Won dan Kibum. Lantai atas yang luas
dan mewah hanya untuk 2 orang saja di Hyundai ini.
“Kibum-ah,
jam berapa kita berangkat ke departement store itu ?” “Jam 10, setelah itu tuan
dan nyonya besar meminta anda untuk makan siang bersama mereka direstaurant jepang
yang ada disebrang jalan.” “Oh~” itulah akhir pembicaraan dari kedua manusia
tampan didalam evalator tersebut.
***
Seorang ah, ani!! 2 namja tampan
dengan balutan jas formal memasuki sebuah restaurant bernuansa japan spring.
Satu namja yang lebih pendek beberapa centi dari yang satunya menunjuk meja
yang terletak dipojok ruangan tersebut. Mereka berdua kemudian melanjutkan
jalannya yang tadi terhenti.
“Si Won-ie!! Perkenalkan ini Go Jin Mi. Putri dari Pemilik
Cheondung resort.” Ny. Choi terlihat antusias memperkenalkan Jin Mi pada putra
sulungnya. Si Won sedikit membungkuk memberi salam lalu duduk samping eommanya.
“Sajangnim sebaiknya saya pamit-”
“Jangan Kibum-ah. Ini bukan acara formal. Hanya acara biasa saja.
Ikutlah untuk santai sejenak disini.” Kibum terlihat menimbang-nimbang lalu
mengangguk dan duduk dihadapan Jin Mi. Disamping kanannya ada Si Won.
“Ah, sebaiknya kita tak usah berbelit-belit lagi. Si Won,
sebenarnya Jin Mi dan kau sudah kami tunangkan sejak Jin Mi masih berusia 1
tahun dan kau 5 tahun. Dan 2 bulan lagi kalian akan menikah.” cecar Tn. Choi.
Hening. Tak ada yang membuka suara. Jin Mi terus menatap Si Won
was-was. Ia memang sudah terjerat pada pesona Si Won sejak pertama melihat Si
Won tadi. Intinya ia tak akan menyesal menyetujui perjodohan ini. Namun
ekspresi Si Won berbeda. Wajahnya semakin terlihat datar walau ia tak
mengucapkan apapun. Ny. Choi dan Kibum yang paham tipikal orang seperti apa Si
Won, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Si Won tidak suka urusan
pribadi seperti ini dicampuri oleh siapapun termasuk orang tuannya sendiri. Ia
tak suka itu.
“Aku pergi.” Ny. Choi hanya mampu menghela nafasnya saat putranya
melenggang begitu saja meninggalkan mereka. Ia sudah menerka-nerka apa yang
akan dilakukan putra semata wayangnya itu, tapi syukurlah setidaknya ia tak
merusak acara dengan menggebrak meja atau membanting piring. Ny. Choi menatap
Kibum dan Kibum langsung mengangguk, bangkit menyusul Si Won seperti yang
diperintahkan Ny. Choi melalui tatapannya. Sekarang pandangan Ny. Choi beralih
pada Jin Mi yang dari tadi hanya diam.
“Jin Mi-ya, kapan orang tuamu pulang dari China ? Jika masih lama
Sebaiknya kau tinggal bersama dengan kami saja. Hitung-hitung untuk mengenal
keluarga kami lebih dekat.” usul Ny. Choi yang disambut petikan setuju Tn.
Choi.
Jin Mi senang, namun yang ada dalam
pikirannya sekarang apakah tak apa ? Ia tak bodoh dan ia tahu bahwa putra Choi
itu terlihat tak menyukainya. Bahkan menatapnya saja enggan.
***
“Oppa~” Hyuk Jae berbalik. Seuntas senyuman terbit di bibirnya.
Tangannya ia rentangkan bersiap-siap menerima pelukan dari yeoja yang baru saja
memanggilnya. Grepp. Ia menyandarkan dagunya manja dipundak yeoja itu. Ji Eun.
Yeoja itu melepaskan pelukan Hyuk Jae padanya lalu bergelayut manja dilengan
kiri Hyuk Jae sambil berjalan beriringan menuju taman belakang universitas.
“Oppa, jujur aku tak enak jika aku harus bersikap seperti
mencintainya. Aku sudah tak tahan. Kau juga pasti sangat cemburu bukan aku
bersama dengan Si Won oppa. Aku- juga tak ingin jika saat berdua denganmu aku
merasa was-was jika Si Won Oppa tahu.” Hyuk Jae menghentikan langkahnya
mendengar penuturan yeojanya itu. Ia- tak ingin membuat orang tuanya susah
karena perusahaan Si Won adalah investor terbesar bagi mereka. Dan mengancam
banyak karyawannya.
“Kau yakin, ? Lalu apa
resikonya, jika harus mengorbankan banyak orang aku tak bisa apalagi
keluargaku. Aku tak ingin mereka kembali susah hanya karena aku. Lebih baik
kita seperti ini Ji Eun-ya.” Ji Eun tersenyum dan berdiri tepat dihadapan Hyuk
Jae. Untung taman ini cukup sepi.
“Aku dengar Si Won oppa akan dijodohkan. Aku ingin memanfaatkan
kesempatan ini untuk keluar dari cengkramannya. Aku janji tak akan
mengait-ngaitkan denganmu Oppa. Aku- akan membuat alasan. Lagi pula orang tua Si
Won oppa sama-sama orang yang penuh obsesi. Apapun yang mereka inginkan harus
terpenuhi.” Hyuk Jae mengacak poni Ji Eun gemas. Ia tersenyum simpul.
“Geurae, tapi- kita tak boleh langsung terlihat bersama. Si Won
pasti tak akan melepasmu begitu saja.” Ji Eun mengangguk. Lalu dengan cepat
mencium pipi kiri Hyuk Jae dan berlari menjauh. Hyuk Jae terkekeh geli.
“Yak!! Nappeun yeoja!!” seru Hyuk Jae sebelum mengejar Ji Eun yang
berlari kearah kolam.
***
Flashback
“Aku langsung pada intinya saja nona. Kudengar dari sekertaris Kim,
kau berhubungan dengan putraku selama 6 bulan terakhir ini benar ?” Ny. Choi,
menatap tajam pada Ji Eun yang menampakkan ekspresi tenang. Sejujurnya, Ny.
Choi sedikit terperangah melihat sikap Ji Eun.
“Ne, itu semua benar.” jawab Ji Eun dengan mantap. “Jika aku
memintamu untuk melepas putraku bagaimana ? Apa kau sanggup ? Kulihat kau bukan
tipe wanita yang tergila-gila pada harta lalu apa yang kau inginkan untuk
mengganti putraku ? Bukan maksudku untuk merendahkanmu, hanya saja-”
“Anda tak perlu memberikan apa-apa. Jika dengan wanita itu Si Won
Oppa akan bahagia aku akan pergi melepasnya. Anda tak perlu khawatir. Aku hanya
meminta Si Won Oppa nyaman bersama yeoja itu.” potong Ji Eun. Ny. Choi
menaikkan satu alisnya. “Kau yakin ?” tanya Ny. Choi. “Ne!!” dalam hati Ji Eun
berteriak senang. Rasanya ia ingin meloncat-loncat saking senangnya!!
Flashback End!!
***
“Oppa~!!” Si Won tersenyum. Ia bangkit dan memeluk gadisnya
sebentar. Lalu kembali duduk.
“Ada apa oppa mendadak ingin bertemu ? kebetulan sekali ada hal
yang ingin aku sampaikan oppa.” nada bicara Ji Eun terdengar begitu serius. Si
Won menatap was-was gadisnya itu.
“Kau katakan dulu!!” sanggah Si Won. Ji Eun menunduk lalu menatap
kembali Si Won. “Aku- ak- aku- baik-baik saja. Jeongmal!! Aku tak apa jika oppa
meninggalkanku. Aku- rela melepas oppa.” Ji Eun langsung menunduk. Melihat
tatapan Si Won yang setajam elang itu membuat nyalinya menciut. Mungkin Si Won
begitu mengerikan untuknya dan- Hyuk Jae mungkin ?
“Wae ? Apa karena perjodohan gila itu ? Siapa yang memberitahumu ?
Oh.. pasti suruhan eomma atau- eomma sendiri yang datang menemuimu ?” raut
frustasi dengan rahang yang mengeras. Si Won terlihat menakutkan dimata Ji Eun
sekarang.
“Mian. Tapi- yeoja itu pasti jauh lebih baik dariku. Semua yang
dimilikinya lebih baik daripada apa yang ada pada diriku.” sahut Ji Eun lirih.
Dalam hatinya ia membenarkan itu adanya. Ia sudah menduakan Si Won. Dan ia
ingin Si Won benar-benar bahagia. “Tapi hatiku memilihmu. Hyun-ya, apa kau tahu
seberapa besar aku mencintaimu ?” Ji Eun mengalihkan tatapannya.
“Dia- yeoja itu, jika ia tak ada mungkin kita bisa bersama. Tapi-
bukan karena itu, tapi karena takdir juga. Mungkin- kita tak mengijinkan kita
bersama. Aku pergi dulu oppa!!” cepat-cepat Ji Eun berlari keluar dari cafe
tersebut. Ia- merasa tak enak jika harus terus menerus membohongi Si Won.
Sementara didalam cafe Si Won masih termenung. ‘Jika ia tak ada
mungkin kita bersama’ itulah sebait kalimat yang bersarang diotaknya saat ini. Go
Jin Mi, akan lebih baik kau tak muncul secara tiba-tiba dan mengacaukan hidupku
seperti ini!! Petik Si Won dalam hati.
***
“Kenapa kau menerima pejodohan gila ini ?” Dingin dan acuh. Membuat
Jin Mi semakin menundukkan kepalanya. Sejak pertemuan itu Jin Mi tahu Si Won
sudah tak suka padanya. Jin Mi adalah seorang mahasiswa psikolog, jadi ia tahu
reaksi penolakan dari nada bicara Si Won.
“Wae ? jawab aku nona Go !!”
Jin Mi mengangkat kepalanya perlahan, matanya langsung disambut tatapan tajam Si
Won. Membuatnya kembali mengantupkan bibirnya yang detik sebelumnya ingin
menjawab.
“Kar-re-na. A-aku. Mencintaimu.” Jin Mi menjawab dengan tergagap.
Mendengar jawaban dari Jin Mi, Si Won memincingkan matanya dan tersenyum sinis.
“Begitukah ? Geurae, kita lanjutkan permainan ini nona Go.” Jin Mi yang tak
tahu apa maksud ucapan Si Won hanya kembali menunduk. Kadang ia berpikir
bagaimana caranya membuat namja sesempurna Si Won bisa tulus mencintainya. Dulu
ia tak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama namun kini ia
merasakannya.
“Aku pergi.” Si Won bangkit dan meninggalkan Jin Mi yang masih
duduk didalam cafe itu. Matanya mengikuti gerak-gerik punggung namja itu.
Setelah ekor matanya tak lagi menangkap bayangan namja itu, Jin Mi menunduk.
Matanya berair namun dengan cepat ia mengusapnya kasar lalu-dipaksa-tersenyum.
***
Pagi ini berbeda untuk Jin Mi.
Biasanya ia akan berkutat dengan buku atau menyiram bunga anggrek yang ia
tanam. Tapi kini ia berada didepan sebuah cermin besar. Dengan banyak orang
yang terus memoleskan make up diwajahnya. Ia tak tahu dengan gaun pengantin
putih ini ia merasa bahagia atau tidak. Pertama ia tahu Si Won tidak
menyukainya. Kedua ia tak begitu tahu tipikal namja seperti apa Si Won itu. Dan
ketiga ia merasa benar-benar jatuh pada pria tampan itu. Seorang direktur muda
dengan sejuta pesona yang mampu menarik siapa saja termasuk dirinya.
“Nona, anda sudah ditunggu.” Jin Mi berbalik. Semua orang yang dari
tadi memoles wajahnya juga menghentikan pekerjaan mereka.
“Ne, aku akan segera turun kalian keluarlah.”
“Tapi nona-”
“Aku lebih suka seperti ini. Natural.” semua orang keluar dari
kamar Jin Mi. Tatapan Jin Mi kembali pada cermin. Atau pada dirinya yang berada
didalam cermin ? Tangan halusnya menyentuh permukaan cermin dengan wajah yang-
tak percaya, tegang, senang dan- khawatir. Ia khawatir Si Won tak bisa
menerimanya. “Jin Mi-ya, apakah ini kau ? Hidupmu yang baru akan segera
dimulai. Jangan kecewakan orang tuamu, apa lagi Si Won. Berusahalah untuk
melakukan yang terbaik.” ucapnya dengan penuh kesungguhan. Wajahnya kembali
sendu dan berbalik.
***
Semua orang menatap kagum pada
wanita yang tengah berjalan diatas red carpet ditengah gereja. Altar tujuannya.
Baju pengantin tanpa lengan dengan tali kecil. Mengembang dibagian bawah dan
sebaket bunga mawar putih. Dadanya membusung tegak dengan arah pandang lurus
kedepan. Dengan senyuman yang tulus entah palsu digandeng oleh appanya yang
baru saja kembali untuk pernikahannya.
“Aku serahkan putriku untuk hidup bersamamu Si Won-ah, aku harap
kau akan menjaganya dengan segenap hatimu.” tuan Go menyerahkan tangan kanan Jin
Mi yang dari tadi digenggamnya. “Ne.” tanpa ragu Si Won meraih genggaman tangan
Jin Mi dan membawanya dihadapan pastur.
Jin Mi terus memandangi Si Won dari balik tudung putihnya. Ia masih
tak percaya Si Won memanpakkan senyum pada hari pernikahan mereka. ‘Bolehkan
aku berharap ? Aku akan berusaha sebaik mungkin, karena aku tahu hatimu saat
ini bukan milikku tapi aku akan bertahan untuk rasa ini.’
[Untuk
acara pernikahan silahkan dibayangkan sendiri. Saya gak tahu. Maklum, saya muslim
takut salah hehehe, nyengir#senyum tanpa
dosa#]
***
“Oppa, kau ingin aku siapkan air hangat ?” tanya Jin Mi memecahkan
keheningan diantara mereka sedari tadi di apartement baru mereka. “Tak perlu
aku akan langsung tidur.” jawab Si Won datar. Jin Mi termenung. Otaknya
berpikir keras. Bagaimana dia mengatakannya dengan cara yang tepat. Huff,
sungguh. Si Won bangkit menuju kamar-karena kamarnya hanya ada 1- namun
pertanyaan yang berhasil lolos dari mulut Jin Mi menghentikan langkahnya.
“Siapa gadis itu ? Apa itu yeojachingu-mu Oppa ?” pertanyaan itu
berhasil menahan Si Won. Walaupun Si Won hanya menghentikan langkahnya menuju
kamar mereka, namun ia tahu Si Won mengerti maksud dari pertanyaannya.
“Dimana kau bertemu dengannya ?” Jin Mi tersenyum, ia pikir jika ia
dapat memahami Si Won mungkin ia bisa memiliki hati namja yang tadi pagi resmi
menjadi suaminya. Orang yang akan bersamanya menjalani kehidupan hingga akhir
hayatnya. Mungkin ?
“Aku tak sengaja melihatnya saat bersama oppa di cafe. Aku tak sengaja
melihatnya.” Si Won berbalik menatap Jin Mi yang masih duduk disofa dengan
tajam. Jin Mi sedikit tersentak mendapat tatapan seetajam itu. “Ne, dia
yeoja-ku. Mungkin jika kau tak pernah ada didunia ini aku sudah bahagia
bersamanya. Ck, kenapa aku harus berurusan dengan gadis manja sepertimu.
Menyusahkan!! Dan asal kau tahu aku tak akan pernah mencintaimu, jadi buang
pikiran itu jauh-jauh dari otakmu. Dan selamat datang didunia barumu, kau baru
saja membuka pintu neraka duniamu sendiri.” Jin Mi ternganga tak percaya
menatap punggung suaminya yang berjalan cepat menuju kamar dan membanting
pintunya begitu saja.
Gadis itu menatap kosong kedepan. ‘apa yang harus aku lakukan ?
Eomma, aku tak ingin mengecewakan kalian, aku yakin Si Won oppa sebenarnya orang
yang baik. Aku mungkin sudah jatuh dalam pesonanya eomma. Eomma, bantu aku
untuk menjalani semua ini, agar aku dan Si Won oppa dapat membina rumah tangga
kami dengan baik. Ya Tuhan, semoga kau dapat membuka hati Si Won oppa untukku.
Setidaknya menerimaku sebagai istrinya. Menghargaiku sebagai seorang yeoja
walau mungkin hatinya akan sulit menerimaku karena cinta memang tak bisa
dipaksa. Hatinya sudah menjadi milik wanita lain. Aku ikhlas, hanya saja aku
ingin sebagian kecil ruang dihatinya setidaknya sebagai teman’
***
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar