1.
Title : Just One But Wrong Way
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Cast : Shim Chang Min
(TVXQ/DBSK/THSK) Yoo Ji Eun, Hwang Sae Ra, Park Yoo Chun (TVXQ/DBSK/THSK), Cho
Kyu Hyun (Super Junior) and others.
4.
Lenght : Twoshoot
5.
Rated : PG 17
6.
Genre : AU, angst, romance, Psiko.
7.
Disclaimer : Story is Mine!! FF pertama dengan
cast Chang Min Oppa si tiang listriknya DBSK, kan kalo di SJ tiang listriknya
Zhou Mi gege. Typo(s) anywhere, No Plagiat, no bash. Oh ya waktu nulis ada 4
lagu yang terus saja dengerin. SJ – Someday, Kara – Runaway, SJ KRY – Let’s Not
sama Chang Min, Jun Su (DBSK) ft Kyu Hyun Ryeo Wook (SJ) – Wish.
Story.....
“Anak muda sebentar lagi kau akan
bertemu dengan jodohmu. Hanya saja untuk bisa bersamanya begitu banyak
rintangan. Jika kau tak sanggup lebih baik dari awal kau tidak bertemu
dengannya. Bahkan nyawamu sendiri taruhannya. Jika kau pulang ke rumah
keluargamu maka takdirmu akan berubah tapi kau tak akan bertemu dengannya. Jika
kau tetap egois untuk kembali ke apartementmu kau akan bertemu dengannya.” Ji
Eun tersenyum meremehkan lalu menarik tangan kanannya yang digenggam oleh
Ahjumma penjual soju dengan kasar. “Aku tak percaya dengan ramalan seperti itu.
Hidupku itu tergantung aku sendiri Ahjumma. Kau pasti orang yang berambisi
menjadi paranormal tapi tak kesampaian ya. Maaf ahjumma jika kata – kataku
sedikit kasar tapi ya
tahu apa kau
tentang hidupku.”
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum mendengar jawaban Ji Eun.
“Setelah kau bertemu dengannya kau tak bisa lepas darinya. Akan banyak air mata
dan rasa sakit yang akan kau rasakan. Tapi dialah jodohmu. Kau hanya bisa
bertahan atau mengakhirinya dengan jalan kematian. Tapi jika kau memilih mati
pun saat kau berainkarnasi jodohmu tetaplah dia. Lingkaran takdir ini tak bisa
diputuskan. Jika kau bisa menyelesaikannya di kehidupan ini, di kehidupan
selanjutnya kau akan bahagia dengannya tanpa air mata dari awal.” Ji Eun memilih
untuk melenggang pergi meninggalkan kedai soju itu dengan langkah angkuh.
Yoo Ji Eun, gadis itu menangis dalam diam di sini. Di tepi sungai
Han, sendiri. Matanya menatap lurus ke depan dengan sendu. Ingatannya kembali
pada fakta yang baru ia ingat beberapa saat lalu. ‘Nona Yoo, anda positif
hamil’. Bekas jejak air mata yang hampir kering itu kembali basah, mata bening
itu terpejam. Merasakan belaian angin malam menyentuh hatinya yang terluka.
Sakit.
“Eomma, aku ingin ikut eomma ke langit, boleh ? Di sini tak ada
satu-pun yang menyayangiku, mati pun tak ada orang yang akan merasa kehilangan.
Eomma, jika aku di sana bersamamu aku yakin eomma pasti menyayangiku. Appa,
oppa, chingudeul ? Tak ada. Tak ada satu pun dari mereka yang menyayangiku. Aku
lelah, kehidupan ini melelahkan.” Ujar Ji Eun lirih.
“Hahaha
dia jodohku ? menggelikan. Bahkan aku hanya
mainannya.” Tawa sumbang itu kembali terdengar. Beberapa detik kemudian tawa
itu kembali berubah menjadi isakan pilu lagi.
Cukup puas berada di sini selama 2
jam, gadis itu memutuskan untuk kembali. Kembali ke nereka. Matanya sayu tanpa
semangat hidup, tubuhnya yang ringkih diterpa angin malam yang dingin
membuatnya sedikit menggigil. Namun itu semua dihiraukannya, karena ia harus
menyiapkan hatinya. Untuk kembali menerima luka dari namja yang dicintainya.
***
“Baru
pulang. Jam berapa sekarang Nona Yoo ?” Yoo Ji Eun mengarahkan tatapan matanya
pada namja yang tengah duduk sofa ruang tengah milik namja itu. Ya, ia
mengfokuskan tatapan matanya untuk membalas tatapan sinis nan tajam dari sang
namja. Ia berusaha menghilangkan sosok yang tengah duduk bersandar pada dada
namja itu. Wanita yang paling ia- benci ? Apa Ji Eun berhak untuk membencinya ?
Sepertinya tidak.
“Sungai
Han.” Tandas Ji Eun singkat. Ia berjalan menuju kamar yang telah dihuninya
selama 1 bulan terakhir ini. Belum sempat ia menyentuh gagang pintu tubuhnya
sudah ditarik seseorang hingga kini ia berbalik menghadap orang itu. Tangannya
yang dicengkram erat membuatnya hanya diam. Kenapa ia bisa selemah ini ? pantas
namja di depannya itu bisa dengan mudah menindasnya. Menjadikannya budaknya.
Miris, Ji Eun hanya bisa tertawa dalam hati menatap wajah namja di hadapannya.
“Ada
apa Chang Min-ssi ? Ada Sae Ra di sana, kenapa kau masih mengejarku ? kau bisa
bermain hingga puaskan dengannya. Aku lelah, aku benar – benar lelah sekarang.
Bisakah kau mengijinkanku untuk istirahat sejenak. Aku sangat lelah sekarang.”
Chang Min menatap wanita di hadapannya sendu, lama kelamaan cengkraman tangannya
melemah dan ia hanya bisa menatap Ji Eun yang berlalu dari hadapannya. Wajah
pucat Ji Eun membuat hatinya gelisah, sejak tadi pagi ia melihat air muka Ji
Eun tak sesegar biasanya.
“Oppa.”
Chang Min berbalik dan langsung meraih pinggang Sae Ra menatap iris coklat
wanita itu dalam. Aneh, kenapa rasa itu seakan lenyap ? kemana hilangnya
getaran itu ? sejak kapan hal itu terjadi ? Sae Ra adalah satu – satunya wanita
yang dapat dicintainya, yang berhasil masuk ke dalam relung hatinya. Tapi
kenapa kini saat ia menatap iris coklat yang membuatnya hanyut itu seakan
membosankan ?
“Oppa,
Chang Min Oppa.” Chang Min mengerjapkan matanya kikuk, ia tersenyum innocent
andalannya. “Kau tak mendengarkan perkataanku dari tadi ?” Chang Min mengusap
pipi putih Sae Ra yang tirus sambil tersenyum. “Aku terlalu hanyut dalam
pesonamu Sae Ra-ya.” Kontan saja ucapan Chang Min mendatangkan senyum lebar
dari Sae Ra. “Aku pikir kau mulai tertarik pada Ji Eun. Kenapa kau tadi
mengejarnya Oppa ? kau menelantarkanku, kau tahu.” Chang Min tertawa renyah
mendengar ucapan Sae Ra yang merajuk. “Lalu bagaimana dengan aku yang harus
melihatmu bermesraan dengan Yoo Chun Hyeong eoh ? Kau tahu rasanya aku ingin
sekali untuk menghajar wajahnya itu karena tangannya selalu bermain di tubuhmu
itu.” Mata Sae Ra melebar, tak menyangka dengan jawaban yang terlontar dari
Chang Min. “Aku akan memutuskannya jika kau benar – benar siap melamarku. Dia
juga bermain dengan banyak wanita di luar sana. Hanya saja aku ini yeojachingu
resminya.” Lugas Sae Ra. “Bagaimana kalau kita langsung ke kamarmu saja Chang
Min Oppa ?” bisik Sae Ra di telinga kanan Chang Min.
Chang
Min langsung mengangkat tubuh ramping dengan bentuk ‘S’ itu lalu merebahkannya
di atas tempat tidur. Namun kali ini berbeda, sebagian tubuhnya tak
menginginkan aktivitas ini. Sebagian pikirannya tertuju pada Ji Eun, yah Yoo Ji
Eun.
***
Chang
Min menutup pintu kamarnya dengan pelan agar Sae Ra tak terbangun, ia melangkah
menuju dapur lalu meminum air putih beberapa teguk. Ck! Lihatlah keadaanya,
hanya menggunakan celana jeans selutut dengan tubuh yang basah karena keringat,
dan jangan lupa rambut yang acak – acakan. Dirasa air putih tak cukup
menenangkan pikirannya Chang Min melangkah, tepat di depan sebuah pintu ia
berhenti. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu coklat muda itu pelan.
Chang
Min mengeluarkan earphone dan ponselnya lalu menyumpalkan earphone itu ke
telinganya. Tangannya mengotak – atik ponselnya sebentar sebelum ia merebahkan
tubuhnya di samping seseorang yang tengah tertidur dengan
gelisah. Tangan kirinya ia
gunakan untuk dijadikan bantal wanita itu. Setelah dirasaka cukup nyaman tangan
kanan Chang Min beralih mengusap kening yang penuh dengan keringat dingin itu
lembut.
“Apa
yang sedang kau mimpikan ?” Chang Min terkekeh sendiri. Gila. Wanita itu dengan
berada di alam bawah sadarnya, kenapa mengajaknya bicara ? “Apa kau bermimpi
tengah melayaniku hingga membuatmu takut ? Yoo Ji Eun, Night.” Padahal ini
sudah jam 1 dini hari, hahaha. Chang Min memejamkan matanya, tangan kanannya
ini merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Memberikan kehangatana bagi keduanya.
“Sepertinya
selamanya kau tak bisa lepas
dariku Nona Yoo.”
***
“Yoo
Chun Hyeong.” Chang Min tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Yoo Chun
dan Sae Ra yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Tunggu. Kenapa Sae Ra
berjalan di belakang Yoo Chun, bukankah biasanya tangan Yoo Chun akan selalu
menempel pada tubuh wanita itu. Bugh. Belum sempat tersadar dari
pemikirannya Chang Min sudah terjerembab ke belakang karena pukulan Yoo Chun.
Chang
Min menatap Yoo Chun sengit, ia tak terima karena Yoo Chun memukulnya. Jika ada
masalah bukankah bisa diselesaikan dengan baik – baik ? “Kau kenapa Hyeong ?”
desis Chang Min, Yoo Chun hanya tertawa sinis lalu menatap Sae Ra yang menunduk
takut. “Jika kau ingin bermain kau bisa menggunakan wanita lain, kenapa harus
Sae Ra ? kenapa harus yeojachingu eoh ?” bugh. Lagi, Yoo Chun
melayangkan pukulannya di pipi kiri Chang Min.
“Jika
kau masih menganggap aku seperti Hyeongmu Sendiri akhiri hubungan gelapmu
dengan Sae Ra sekarang juga dihadapanku. Aku akan menganggap semua yang telah
kalian lakukan selama ini padaku tak pernah terjadi.” Yoo Chun menatap Chang
Min tajam, ucapannya tadi tak terdengar seperti pilihan tapi seperti perintah.
Namun Chang Min, ia menatap Sae Ra tapi wanita itu tak kunjung mengangkat
wajahnya. Ia memejamkan matanya, Sae Ra seperti penyambung nyawanya tapi Yoo
Chun seperti Hyeongnya.
“Aku
memilih Sae Ra.” Yoo Chun terperangah tak percaya, ia merasa seperti orang
bodoh. Chang Min memilih Sae Ra sudah sejauh apa hubungan Chang Min dengan Sae
Ra-nya itu sebenarnya ? “Kalian
” Tangan Yoo Chun mengepal kuat tapi ia berusaha untuk mengontrol
emosinya, ia tak ingin melukai orang yang sudah dianggapnya seperti adiknya
sendiri babak beluk karenanya.
Yoo
Chun berlalu meninggalkan mereka di lorong. Sepeninggal Yoo Chun Sae Ra baru
berani mengangkat wajahnya ia berjalan mendekati Chang Min. Plakk. Chang
Min menyentuh pipinya, Sae Ra wanita kedua yang berhasil menamparnya. Tapi ia
tak ingin membalas, ia tak ingin melukai wanita dihapannya.
“Shim
Chang Min! Bukankah kau tahu bahwa aku tak bisa hidup tanpa Yoo Chun, kenapa
kau lakukan ini padaku ? Seharusnya kau merelakanku setelah apa yang aku
lakukan untukmu selama ini. aku
membencimu.” Chang Min
memandang punggung Sae Ra yang berjalan menjauhinya nanar. Selama ini Sae
Ra-lah yang membuatnya bisa bertahan, jika Sae Ra pergi penyokong itu tak ada
lagi ia akan- hancur.
***
Chang
Min melajukan motornya seperti orang kesetanan. Tanpa helm dan terkadang
mengumpat menyumpahi seseorang. Chang Min memakirkan motornya asal di depan
rumahnya, ia membuka pintu dengan kasar membuat Ji Eun yang tengah membersihkan
rumah itu tergelonjak kaget. Tanpa babibu Chang Min mencengkram pundak wanita
itu kencang, membuat Ji Eun meringis.
Ji
Eun menatap Chang Min meminta penjelasan. Matanya tersirat kelelahan dan luka
yang mendalam. “Apa aku melakukan kesalahan lagi di matamu ? jika memang
sekarang kau ingin membunuhku, bunuh saja aku. Tapi bisakah kau lepaskan
cengkramanmu itu dari pundakku sebentar ?” Chang Min melepaskan cengkramannya
pada pundak Ji Eun, namun matanya tetap menatap tajam setiap gerak – gerik Ji
Eun. “Ige- terserah kau mau membukanya atau membuangnya yang jelas aku sudah
memberikan ini padamu.” Chang Min merebut amplop coklat yang disodorkan Ji Eun.
Ia melemparnya ke sofa asal.
Dengan
sekali tarikan Chang Min membawa Ji Eun keluar rumah, ia menaiki motornya dan
Ji Eun pasrah dengan apa yang akan dilakukan Chang Min padanya. “Chang Min-ah,
kau tahu
hal terbodoh yang aku
lakukan dalam hidupku adalah mengikuti permainanmu. Tapi hal paling membuatku
bahagia adalah aku dapat berada di dekatmu. Tak peduli kau hanya menganggapku
sebagai budak untuk membayar hutang bodoh itu.” Lirik Ji Eun menatap punggung
di hadapannya yang membawa motor dengan kecepatan gila.
***
Ji
Eun mengamati baik – baik wajah yang ada di depannya yang hanya berjarak 5 cm
dari wajahnya. Aroma tubuh yang akan selalu ia ingat baik – baik, sementara
Chang Min tak peduli dengan lengan Ji Eun yang membiru karena ia mengikatnya
dengan erat pada sebuah pohon. Tangan Ji Eun diikat keatas pada sebuah pohon
beringin yang cukup besar. Chang Min melirik Ji Eun dengan tatapan tajamnya.
Bukannya menunduk seperti yang biasa dilakukan Ji Eun saat ia menatapnya tajam,
Ji Eun justru tersenyum lemah dengan tatapan mata yang terus tertuju padanya.
“Kau
salah jika kau tersenyum seperti itu membuatku luluh dan melepaskanmu dari
ajalmu.” Ujar Chang Min tajam. Ji Eun masih saja tersenyum lemah, ia ingin
sekali menyentuh wajah itu sekali saja dengan tangannya. Ia ingin sekali
mengingat bagaimana lekuk tegas di wajah namja yang membuatnya jatuh dalam
lubang yang gelap. Terlalu dalam hingga membuatnya tak bisa kembali lagi.
“Sebelum
kau membunuhku bisa kau memberitahuku apa kesalahanku kali ini ?” tanya Ji Eun
tenang membuat Chang Min tertawa keras, lebih tepatnya tertawa mengejek entah
itu tawa untuk dirinya yang bodoh memacari yeojachingu hyeongnya sendiri atau
untuk Ji Eun yang sok tak tahu menurutnya. Chang Min mencengkram dagu Ji Eun
membuat Ji Eun mendongak, ia sedikit memcondongkan tubuhnya hingga mata mereka
beradu. “Sudah aku tegaskan padamu jika Yoo Chun Hyeong tahu hubunganku dan Sae
Ra kau adalah orang pertama yang akan aku cabut nyawanya.” Ji Eun mengangguk
sambil tersenyum, setitik air mata turun dari mata obsidian kelamnya.
“Sayangnya aku sudah berjanji padamu aku tak akan memberitahu Yoo Chun-ssi
tentang hubungan kalian, dan aku memang tak memberitahunya. Kau mungkin tak
ingat janjiku padamu ini, karena aku hanya pelayanmu saja. Tapi bagiku, aku
akan menjaga semua yang ada pada dirimu. Aku tak akan mengingkarinya karena aku
sangat mencintaimu Chang
Min-ah.”
Hati
kecilnya terenyuh mendengar rangkaian kata Ji Eun yang baru saja melintas di
telinganya. Tapi Chang Min tetaplah Shim Chang Min. Hatinya seolah beku dan tak
peka terhadap apa yang sebenarnya ia rasakan. “Itu salahmu aku tak peduli kau
jatuh cinta padaku atau tidak. Satu hal yang harus kau tahu, aku kehilangan
penyokong kehidupanmu dan kau harus menanggung akibatnya. Seperti katamu
mungkin kau tak memberitahu Yoo Chun Hyeong tapi mungkin kau menyuruh orang
lain untuk memberitahu Yoo Chun Hyeong.” Chang Min melepaskan cengkramannya ia
mundur dan mengambil sesuatu di dekat pohon beringin itu. Tiga buah anak panah
dan busurnya.
Chang
Min melangkah mundur hingga berjarak kurang lebih 100 meter ia berhenti. “Ada
kata – kata terakhir nona Yoo Ji Eun ?” Ji Eun membalas tatapan sengit Chang
Min dengan mata sayunya. “Sampaikan maafku pada abeoji karena tak bisa menjadi
anak yang bisa ia banggakan sampai aku mati.” Ujar Ji Eun dengan suara sesamar
angin. “Dan aku mencintaimu Shim Chang Min.”
Lanjut Ji Eun lirih.
Tanpa basa – basi Chang Min
mengambil anak panah pertama lalu menarik tali pada busur dan
slessssp. Ji Eun
sedikit meringis anak panah itu sedikit menggores tangannya yang diikat keatas.
Tak menancap di tangannya tapi goresannya membuat darahnya mengalir cukup
deras. Chang Min tersenyum, ia kembali bersiap dengan anak panak keduanya. “Itu
permulaan dan inilah intinya.” Desis Chang Min sebelum melepas anak panah itu. Chang
Min memusatkan konsentrasinya anak panah itu dilepasnya bersamaan dengan
ponselnya yang bergetar di saku celana jeans biru tuanya.
“Argh
” Chang Min melirik Ji Eun sambil tersenyum puas lalu mengangkat
ponselnya yang bergetar. Ia puas melihat Ji Eun merintih kesakitan dengan anak
panah yang menancap di bahu kanannya. Menusuk tulang belikatnya mungkin ?
“Yeobosaeyo,” Sapa Chang Min setelah mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya.
“Chang Min-ah eoddiseoyo ?” Chang Min sedikit mencerna nada bicara Kyu Hyun
yang terdengar sangat khawatir. “Waeyo Kyu ?” Kyu Hyun mengambil napas sebelum
menjawab, Chang Min bahkan bisa mendengar deru napas Kyu Hyun yang tak beraturan
seperti orang yang baru lari. “Ji Eun tak ada di rumahmu. Padahal ia kan sedang
hamil. Seharusnya ia banyak istirahat di rumah, tubuhnya sedang tidak baik saat
aku mengantarnya ke dokter minggu lalu.” Chang Min langsung mengalihkan
tatapannya pada Ji Eun yang mulai memejamkan matanya, bibirnya bergetar dan
darah mengotori bajunya.
Chang
Min langsung mematikan ponselnya lalu berlari menuju Ji Eun diikatnya.
Tangannya menepuk pipi Ji Eun pelan, Ji Eun hanya memandangnya sendu dengan
mata yang tinggal sebaris. Chang Min langsung melepaskan ikatan tangan Ji Eun
dan membopongnya. Satu hal yang mendominasi hatinya kini, khawatir.
***
Chang
Min memejamkan matanya rapat – rapat. Matanya yang sipit sedikit berair entah
karena apa. Dadanya naik turun tak karuan membuatnya terkadang sulit untuk
menghirup udara yang ada di sekitarnya. “Shim Chang Min.” Chang Min menoleh, ia
mendapati Kyu Hyun yang berlari ke arah lalu melempar amplop berwarna coklat
dengan stempel rumah sakit di mana ia berada sekarang.
“Dasar
wanita murahan. Ternyata ia bermain dengan namja lain.” Kyu Hyun menatap tajam
Chang Min lalu tanpa diduga ia melayangkan pukulan keras di pipi kanan Chang
Min menambah sederet luka di wajah tampannya. Chang Min menatap Kyu Hyun sinis
lalu ia tertawa mengejek. “Atau jangan – jangan kau adalah ayah dari janin yang
dikandung Ji Eun. Ck! Kau bermain dengan mainan sahabatmu sendiri Cho!”
Keduanya saling menatap tajam hingga suara Kyu Hyun membuat hati Chang Min
tertohok.
“Seberapa
gilanya dia bermain di klub malam hanya kau yang membawanya di atas ranjang
tuan Shim. Dan sayangnya tuan Shim yang idiot ini terlalu terpaku pada
seseorang yang dianggapnya pahlawan tapi sayangnya kau tak memiliki hak apapun
apalagi memiliki orang itu. Dan kau
aku bisa saja melaporkanmu
pada polisi tentang tindakan bejatmu itu jika Ji Eun tidak menghalangiku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar