About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Senin, 30 Desember 2013

[Twoshoot] Just One But Wrong Way Part A - Shim Chang Min


1.        Title                      : Just One But Wrong Way
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast                  : Shim Chang Min (TVXQ/DBSK/THSK) Yoo Ji Eun, Hwang Sae Ra, Park Yoo Chun (TVXQ/DBSK/THSK), Cho Kyu Hyun (Super Junior) and others.
4.        Lenght                  : Twoshoot
5.        Rated                   : PG 17
6.        Genre                   : AU, angst, romance, Psiko.
7.        Disclaimer            : Story is Mine!! FF pertama dengan cast Chang Min Oppa si tiang listriknya DBSK, kan kalo di SJ tiang listriknya Zhou Mi gege. Typo(s) anywhere, No Plagiat, no bash. Oh ya waktu nulis ada 4 lagu yang terus saja dengerin. SJ – Someday, Kara – Runaway, SJ KRY – Let’s Not sama Chang Min, Jun Su (DBSK) ft Kyu Hyun Ryeo Wook (SJ) – Wish.



Story.....


            “Anak muda sebentar lagi kau akan bertemu dengan jodohmu. Hanya saja untuk bisa bersamanya begitu banyak rintangan. Jika kau tak sanggup lebih baik dari awal kau tidak bertemu dengannya. Bahkan nyawamu sendiri taruhannya. Jika kau pulang ke rumah keluargamu maka takdirmu akan berubah tapi kau tak akan bertemu dengannya. Jika kau tetap egois untuk kembali ke apartementmu kau akan bertemu dengannya.” Ji Eun tersenyum meremehkan lalu menarik tangan kanannya yang digenggam oleh Ahjumma penjual soju dengan kasar. “Aku tak percaya dengan ramalan seperti itu. Hidupku itu tergantung aku sendiri Ahjumma. Kau pasti orang yang berambisi menjadi paranormal tapi tak kesampaian ya. Maaf ahjumma jika kata – kataku sedikit kasar tapi ya tahu apa kau tentang hidupku.”

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum mendengar jawaban Ji Eun. “Setelah kau bertemu dengannya kau tak bisa lepas darinya. Akan banyak air mata dan rasa sakit yang akan kau rasakan. Tapi dialah jodohmu. Kau hanya bisa bertahan atau mengakhirinya dengan jalan kematian. Tapi jika kau memilih mati pun saat kau berainkarnasi jodohmu tetaplah dia. Lingkaran takdir ini tak bisa diputuskan. Jika kau bisa menyelesaikannya di kehidupan ini, di kehidupan selanjutnya kau akan bahagia dengannya tanpa air mata dari awal.” Ji Eun memilih untuk melenggang pergi meninggalkan kedai soju itu dengan langkah angkuh.

Yoo Ji Eun, gadis itu menangis dalam diam di sini. Di tepi sungai Han, sendiri. Matanya menatap lurus ke depan dengan sendu. Ingatannya kembali pada fakta yang baru ia ingat beberapa saat lalu. ‘Nona Yoo, anda positif hamil’. Bekas jejak air mata yang hampir kering itu kembali basah, mata bening itu terpejam. Merasakan belaian angin malam menyentuh hatinya yang terluka. Sakit.

“Eomma, aku ingin ikut eomma ke langit, boleh ? Di sini tak ada satu-pun yang menyayangiku, mati pun tak ada orang yang akan merasa kehilangan. Eomma, jika aku di sana bersamamu aku yakin eomma pasti menyayangiku. Appa, oppa, chingudeul ? Tak ada. Tak ada satu pun dari mereka yang menyayangiku. Aku lelah, kehidupan ini melelahkan.” Ujar Ji Eun lirih.

           “Hahaha  dia jodohku ? menggelikan. Bahkan aku hanya mainannya.” Tawa sumbang itu kembali terdengar. Beberapa detik kemudian tawa itu kembali berubah menjadi isakan pilu lagi.

            Cukup puas berada di sini selama 2 jam, gadis itu memutuskan untuk kembali. Kembali ke nereka. Matanya sayu tanpa semangat hidup, tubuhnya yang ringkih diterpa angin malam yang dingin membuatnya sedikit menggigil. Namun itu semua dihiraukannya, karena ia harus menyiapkan hatinya. Untuk kembali menerima luka dari namja yang dicintainya.


***


            “Baru pulang. Jam berapa sekarang Nona Yoo ?” Yoo Ji Eun mengarahkan tatapan matanya pada namja yang tengah duduk sofa ruang tengah milik namja itu. Ya, ia mengfokuskan tatapan matanya untuk membalas tatapan sinis nan tajam dari sang namja. Ia berusaha menghilangkan sosok yang tengah duduk bersandar pada dada namja itu. Wanita yang paling ia- benci ? Apa Ji Eun berhak untuk membencinya ? Sepertinya tidak.

            “Sungai Han.” Tandas Ji Eun singkat. Ia berjalan menuju kamar yang telah dihuninya selama 1 bulan terakhir ini. Belum sempat ia menyentuh gagang pintu tubuhnya sudah ditarik seseorang hingga kini ia berbalik menghadap orang itu. Tangannya yang dicengkram erat membuatnya hanya diam. Kenapa ia bisa selemah ini ? pantas namja di depannya itu bisa dengan mudah menindasnya. Menjadikannya budaknya. Miris, Ji Eun hanya bisa tertawa dalam hati menatap wajah namja di hadapannya.

            “Ada apa Chang Min-ssi ? Ada Sae Ra di sana, kenapa kau masih mengejarku ? kau bisa bermain hingga puaskan dengannya. Aku lelah, aku benar – benar lelah sekarang. Bisakah kau mengijinkanku untuk istirahat sejenak. Aku sangat lelah sekarang.” Chang Min menatap wanita di hadapannya sendu, lama kelamaan cengkraman tangannya melemah dan ia hanya bisa menatap Ji Eun yang berlalu dari hadapannya. Wajah pucat Ji Eun membuat hatinya gelisah, sejak tadi pagi ia melihat air muka Ji Eun tak sesegar biasanya.

            “Oppa.” Chang Min berbalik dan langsung meraih pinggang Sae Ra menatap iris coklat wanita itu dalam. Aneh, kenapa rasa itu seakan lenyap ? kemana hilangnya getaran itu ? sejak kapan hal itu terjadi ? Sae Ra adalah satu – satunya wanita yang dapat dicintainya, yang berhasil masuk ke dalam relung hatinya. Tapi kenapa kini saat ia menatap iris coklat yang membuatnya hanyut itu seakan membosankan ?

            “Oppa, Chang Min Oppa.” Chang Min mengerjapkan matanya kikuk, ia tersenyum innocent andalannya. “Kau tak mendengarkan perkataanku dari tadi ?” Chang Min mengusap pipi putih Sae Ra yang tirus sambil tersenyum. “Aku terlalu hanyut dalam pesonamu Sae Ra-ya.” Kontan saja ucapan Chang Min mendatangkan senyum lebar dari Sae Ra. “Aku pikir kau mulai tertarik pada Ji Eun. Kenapa kau tadi mengejarnya Oppa ? kau menelantarkanku, kau tahu.” Chang Min tertawa renyah mendengar ucapan Sae Ra yang merajuk. “Lalu bagaimana dengan aku yang harus melihatmu bermesraan dengan Yoo Chun Hyeong eoh ? Kau tahu rasanya aku ingin sekali untuk menghajar wajahnya itu karena tangannya selalu bermain di tubuhmu itu.” Mata Sae Ra melebar, tak menyangka dengan jawaban yang terlontar dari Chang Min. “Aku akan memutuskannya jika kau benar – benar siap melamarku. Dia juga bermain dengan banyak wanita di luar sana. Hanya saja aku ini yeojachingu resminya.” Lugas Sae Ra. “Bagaimana kalau kita langsung ke kamarmu saja Chang Min Oppa ?” bisik Sae Ra di telinga kanan Chang Min.

            Chang Min langsung mengangkat tubuh ramping dengan bentuk ‘S’ itu lalu merebahkannya di atas tempat tidur. Namun kali ini berbeda, sebagian tubuhnya tak menginginkan aktivitas ini. Sebagian pikirannya tertuju pada Ji Eun, yah Yoo Ji Eun.


***


            Chang Min menutup pintu kamarnya dengan pelan agar Sae Ra tak terbangun, ia melangkah menuju dapur lalu meminum air putih beberapa teguk. Ck! Lihatlah keadaanya, hanya menggunakan celana jeans selutut dengan tubuh yang basah karena keringat, dan jangan lupa rambut yang acak – acakan. Dirasa air putih tak cukup menenangkan pikirannya Chang Min melangkah, tepat di depan sebuah pintu ia berhenti. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu coklat muda itu pelan.

            Chang Min mengeluarkan earphone dan ponselnya lalu menyumpalkan earphone itu ke telinganya. Tangannya mengotak – atik ponselnya sebentar sebelum ia merebahkan tubuhnya di samping seseorang yang tengah tertidur dengan  gelisah. Tangan kirinya ia gunakan untuk dijadikan bantal wanita itu. Setelah dirasaka cukup nyaman tangan kanan Chang Min beralih mengusap kening yang penuh dengan keringat dingin itu lembut.

            “Apa yang sedang kau mimpikan ?” Chang Min terkekeh sendiri. Gila. Wanita itu dengan berada di alam bawah sadarnya, kenapa mengajaknya bicara ? “Apa kau bermimpi tengah melayaniku hingga membuatmu takut ? Yoo Ji Eun, Night.” Padahal ini sudah jam 1 dini hari, hahaha. Chang Min memejamkan matanya, tangan kanannya ini merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Memberikan kehangatana bagi keduanya.

            “Sepertinya  selamanya kau tak bisa lepas dariku Nona Yoo.”


***


            “Yoo Chun Hyeong.” Chang Min tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Yoo Chun dan Sae Ra yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Tunggu. Kenapa Sae Ra berjalan di belakang Yoo Chun, bukankah biasanya tangan Yoo Chun akan selalu menempel pada tubuh wanita itu. Bugh. Belum sempat tersadar dari pemikirannya Chang Min sudah terjerembab ke belakang karena pukulan Yoo Chun.

            Chang Min menatap Yoo Chun sengit, ia tak terima karena Yoo Chun memukulnya. Jika ada masalah bukankah bisa diselesaikan dengan baik – baik ? “Kau kenapa Hyeong ?” desis Chang Min, Yoo Chun hanya tertawa sinis lalu menatap Sae Ra yang menunduk takut. “Jika kau ingin bermain kau bisa menggunakan wanita lain, kenapa harus Sae Ra ? kenapa harus yeojachingu eoh ?” bugh. Lagi, Yoo Chun melayangkan pukulannya di pipi kiri Chang Min.

            “Jika kau masih menganggap aku seperti Hyeongmu Sendiri akhiri hubungan gelapmu dengan Sae Ra sekarang juga dihadapanku. Aku akan menganggap semua yang telah kalian lakukan selama ini padaku tak pernah terjadi.” Yoo Chun menatap Chang Min tajam, ucapannya tadi tak terdengar seperti pilihan tapi seperti perintah. Namun Chang Min, ia menatap Sae Ra tapi wanita itu tak kunjung mengangkat wajahnya. Ia memejamkan matanya, Sae Ra seperti penyambung nyawanya tapi Yoo Chun seperti Hyeongnya.

            “Aku memilih Sae Ra.” Yoo Chun terperangah tak percaya, ia merasa seperti orang bodoh. Chang Min memilih Sae Ra sudah sejauh apa hubungan Chang Min dengan Sae Ra-nya itu sebenarnya ? “Kalian ” Tangan Yoo Chun mengepal kuat tapi ia berusaha untuk mengontrol emosinya, ia tak ingin melukai orang yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri babak beluk karenanya.

            Yoo Chun berlalu meninggalkan mereka di lorong. Sepeninggal Yoo Chun Sae Ra baru berani mengangkat wajahnya ia berjalan mendekati Chang Min. Plakk. Chang Min menyentuh pipinya, Sae Ra wanita kedua yang berhasil menamparnya. Tapi ia tak ingin membalas, ia tak ingin melukai wanita dihapannya.

            “Shim Chang Min! Bukankah kau tahu bahwa aku tak bisa hidup tanpa Yoo Chun, kenapa kau lakukan ini padaku ? Seharusnya kau merelakanku setelah apa yang aku lakukan untukmu selama ini. aku  membencimu.” Chang Min memandang punggung Sae Ra yang berjalan menjauhinya nanar. Selama ini Sae Ra-lah yang membuatnya bisa bertahan, jika Sae Ra pergi penyokong itu tak ada lagi ia akan- hancur.


***


            Chang Min melajukan motornya seperti orang kesetanan. Tanpa helm dan terkadang mengumpat menyumpahi seseorang. Chang Min memakirkan motornya asal di depan rumahnya, ia membuka pintu dengan kasar membuat Ji Eun yang tengah membersihkan rumah itu tergelonjak kaget. Tanpa babibu Chang Min mencengkram pundak wanita itu kencang, membuat Ji Eun meringis.

            Ji Eun menatap Chang Min meminta penjelasan. Matanya tersirat kelelahan dan luka yang mendalam. “Apa aku melakukan kesalahan lagi di matamu ? jika memang sekarang kau ingin membunuhku, bunuh saja aku. Tapi bisakah kau lepaskan cengkramanmu itu dari pundakku sebentar ?” Chang Min melepaskan cengkramannya pada pundak Ji Eun, namun matanya tetap menatap tajam setiap gerak – gerik Ji Eun. “Ige- terserah kau mau membukanya atau membuangnya yang jelas aku sudah memberikan ini padamu.” Chang Min merebut amplop coklat yang disodorkan Ji Eun. Ia melemparnya ke sofa asal.

            Dengan sekali tarikan Chang Min membawa Ji Eun keluar rumah, ia menaiki motornya dan Ji Eun pasrah dengan apa yang akan dilakukan Chang Min padanya. “Chang Min-ah, kau tahu  hal terbodoh yang aku lakukan dalam hidupku adalah mengikuti permainanmu. Tapi hal paling membuatku bahagia adalah aku dapat berada di dekatmu. Tak peduli kau hanya menganggapku sebagai budak untuk membayar hutang bodoh itu.” Lirik Ji Eun menatap punggung di hadapannya yang membawa motor dengan kecepatan gila.


***


            Ji Eun mengamati baik – baik wajah yang ada di depannya yang hanya berjarak 5 cm dari wajahnya. Aroma tubuh yang akan selalu ia ingat baik – baik, sementara Chang Min tak peduli dengan lengan Ji Eun yang membiru karena ia mengikatnya dengan erat pada sebuah pohon. Tangan Ji Eun diikat keatas pada sebuah pohon beringin yang cukup besar. Chang Min melirik Ji Eun dengan tatapan tajamnya. Bukannya menunduk seperti yang biasa dilakukan Ji Eun saat ia menatapnya tajam, Ji Eun justru tersenyum lemah dengan tatapan mata yang terus tertuju padanya.

            “Kau salah jika kau tersenyum seperti itu membuatku luluh dan melepaskanmu dari ajalmu.” Ujar Chang Min tajam. Ji Eun masih saja tersenyum lemah, ia ingin sekali menyentuh wajah itu sekali saja dengan tangannya. Ia ingin sekali mengingat bagaimana lekuk tegas di wajah namja yang membuatnya jatuh dalam lubang yang gelap. Terlalu dalam hingga membuatnya tak bisa kembali lagi.

            “Sebelum kau membunuhku bisa kau memberitahuku apa kesalahanku kali ini ?” tanya Ji Eun tenang membuat Chang Min tertawa keras, lebih tepatnya tertawa mengejek entah itu tawa untuk dirinya yang bodoh memacari yeojachingu hyeongnya sendiri atau untuk Ji Eun yang sok tak tahu menurutnya. Chang Min mencengkram dagu Ji Eun membuat Ji Eun mendongak, ia sedikit memcondongkan tubuhnya hingga mata mereka beradu. “Sudah aku tegaskan padamu jika Yoo Chun Hyeong tahu hubunganku dan Sae Ra kau adalah orang pertama yang akan aku cabut nyawanya.” Ji Eun mengangguk sambil tersenyum, setitik air mata turun dari mata obsidian kelamnya. “Sayangnya aku sudah berjanji padamu aku tak akan memberitahu Yoo Chun-ssi tentang hubungan kalian, dan aku memang tak memberitahunya. Kau mungkin tak ingat janjiku padamu ini, karena aku hanya pelayanmu saja. Tapi bagiku, aku akan menjaga semua yang ada pada dirimu. Aku tak akan mengingkarinya karena aku  sangat mencintaimu Chang Min-ah.”

            Hati kecilnya terenyuh mendengar rangkaian kata Ji Eun yang baru saja melintas di telinganya. Tapi Chang Min tetaplah Shim Chang Min. Hatinya seolah beku dan tak peka terhadap apa yang sebenarnya ia rasakan. “Itu salahmu aku tak peduli kau jatuh cinta padaku atau tidak. Satu hal yang harus kau tahu, aku kehilangan penyokong kehidupanmu dan kau harus menanggung akibatnya. Seperti katamu mungkin kau tak memberitahu Yoo Chun Hyeong tapi mungkin kau menyuruh orang lain untuk memberitahu Yoo Chun Hyeong.” Chang Min melepaskan cengkramannya ia mundur dan mengambil sesuatu di dekat pohon beringin itu. Tiga buah anak panah dan busurnya.

            Chang Min melangkah mundur hingga berjarak kurang lebih 100 meter ia berhenti. “Ada kata – kata terakhir nona Yoo Ji Eun ?” Ji Eun membalas tatapan sengit Chang Min dengan mata sayunya. “Sampaikan maafku pada abeoji karena tak bisa menjadi anak yang bisa ia banggakan sampai aku mati.” Ujar Ji Eun dengan suara sesamar angin. “Dan aku mencintaimu Shim Chang Min.”  Lanjut Ji Eun lirih.

Tanpa basa – basi Chang Min mengambil anak panah pertama lalu menarik tali pada busur dan  slessssp. Ji Eun sedikit meringis anak panah itu sedikit menggores tangannya yang diikat keatas. Tak menancap di tangannya tapi goresannya membuat darahnya mengalir cukup deras. Chang Min tersenyum, ia kembali bersiap dengan anak panak keduanya. “Itu permulaan dan inilah intinya.” Desis Chang Min sebelum melepas anak panah itu. Chang Min memusatkan konsentrasinya anak panah itu dilepasnya bersamaan dengan ponselnya yang bergetar di saku celana jeans biru tuanya.

            “Argh ” Chang Min melirik Ji Eun sambil tersenyum puas lalu mengangkat ponselnya yang bergetar. Ia puas melihat Ji Eun merintih kesakitan dengan anak panah yang menancap di bahu kanannya. Menusuk tulang belikatnya mungkin ? “Yeobosaeyo,” Sapa Chang Min setelah mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya. “Chang Min-ah eoddiseoyo ?” Chang Min sedikit mencerna nada bicara Kyu Hyun yang terdengar sangat khawatir. “Waeyo Kyu ?” Kyu Hyun mengambil napas sebelum menjawab, Chang Min bahkan bisa mendengar deru napas Kyu Hyun yang tak beraturan seperti orang yang baru lari. “Ji Eun tak ada di rumahmu. Padahal ia kan sedang hamil. Seharusnya ia banyak istirahat di rumah, tubuhnya sedang tidak baik saat aku mengantarnya ke dokter minggu lalu.” Chang Min langsung mengalihkan tatapannya pada Ji Eun yang mulai memejamkan matanya, bibirnya bergetar dan darah mengotori bajunya.

            Chang Min langsung mematikan ponselnya lalu berlari menuju Ji Eun diikatnya. Tangannya menepuk pipi Ji Eun pelan, Ji Eun hanya memandangnya sendu dengan mata yang tinggal sebaris. Chang Min langsung melepaskan ikatan tangan Ji Eun dan membopongnya. Satu hal yang mendominasi hatinya kini, khawatir.


***


            Chang Min memejamkan matanya rapat – rapat. Matanya yang sipit sedikit berair entah karena apa. Dadanya naik turun tak karuan membuatnya terkadang sulit untuk menghirup udara yang ada di sekitarnya. “Shim Chang Min.” Chang Min menoleh, ia mendapati Kyu Hyun yang berlari ke arah lalu melempar amplop berwarna coklat dengan stempel rumah sakit di mana ia berada sekarang.

            “Dasar wanita murahan. Ternyata ia bermain dengan namja lain.” Kyu Hyun menatap tajam Chang Min lalu tanpa diduga ia melayangkan pukulan keras di pipi kanan Chang Min menambah sederet luka di wajah tampannya. Chang Min menatap Kyu Hyun sinis lalu ia tertawa mengejek. “Atau jangan – jangan kau adalah ayah dari janin yang dikandung Ji Eun. Ck! Kau bermain dengan mainan sahabatmu sendiri Cho!” Keduanya saling menatap tajam hingga suara Kyu Hyun membuat hati Chang Min tertohok.

            “Seberapa gilanya dia bermain di klub malam hanya kau yang membawanya di atas ranjang tuan Shim. Dan sayangnya tuan Shim yang idiot ini terlalu terpaku pada seseorang yang dianggapnya pahlawan tapi sayangnya kau tak memiliki hak apapun apalagi memiliki orang itu. Dan kau  aku bisa saja melaporkanmu pada polisi tentang tindakan bejatmu itu jika Ji Eun tidak menghalangiku.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar