About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Selasa, 17 Desember 2013

(FF) Oneshoot - Love is Energy [Kim Jong Woon]


1.        Title                      : Love Is Energy
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Twitter                 : @ryu_woon
4.        Cast                      : Kim Jong Woon, Choi Hyo Eun and others.
5.        Rated                   : PG 15/T
6.        Lenght                  : Oneshoot
7.        Genre                   : AU, Romance, Tragedy and others.
8.        Disclaimer            : Typo(s) anywhere, Story is Mine!! No Plagiat. Hope you like it.


Story. . .



Author POV


            Walau jantungku ini sudah lelah lalu menyerah dan menyuruhku untuk menutup mata, aku akan selalu membuka mataku selama itu kau. Selama kau ada dalam jarak pandangku maka aku akan tetap hidup. Karena kau. . . adalah sumber energi kehidupanku.

            Hyo Eun tersenyum cerah dan melangkah dengan riang menyusuri lorong rumah besar bergaya modern dengan segala interior mewah di setiap jengkal sisinya. Gadis itu bersiul ringan hingga ia sampai di lantai 3 rumah itu, ia berjalan ke kanan tepat di depan pintu berwarna coklat tua dengan ukiran yang indah ia berhenti. Napasnya yang sedikit tersengal -  sengal tak dihiraukan walau jantungnya terasa mulai nyeri.

Tok tok tok
. . .
Tok tok tok
. . .

“Hwang Ahjumma Jong Woon Oppa kemana ? apa tidak ada di kamar ? Aku mengetuknya dari tadi tapi tak ada sautan ?” Hyo Eun langsung menyetop salah satu pelayan setia di rumah ini saat beliau melintas.  Hwang Ahjumma sedikit ingat – ingat dimana tuan muda-nya sekarang berada namun akhirnya ia menggeleng. “Ahjumma tidur sekitar pukul 11 malam setelah mengunci pintu depan. Tapi sepertinya Tuan Muda belum kembali dari kemarin.” Hyo Eun mengangguk dan membiarkan Hwang Ahjumma kembali melakukan tugasnya mengurus rumah dengan lantai 3 ini. Gurat kekecewaan jelas terlihat di wajahnya yang terlihat mulai memucat karena menaiki tangga tadi.

            Hyo Eun membuka kamar yang tak di kunci itu dengan lemas. Seperti dugaannya, jika  Jong Woon ada di dalam kamarnya maka kamarnya pasti di kunci tapi jika Jong Woon tak ada di kamarnya kamarnya akan dibiarkan terbuka. Ia melihat setiap foto yang terpajang di dinding  yang di cat coklat muda itu. Pandangannya berhenti pada suatu tempat dimana terpajang foto Jong Woon dan Hye In kekasihnya itu tak ada. Pandangan Hyo Eun jatuh pada sepihan kaca yang berserakan di lantai tak jauh dari foto itu biasa terpajang. Dadanya mulai terasa sesak lagi.

            “Hyo Eun tenang. Kontrol emosimu.” Tangannya menyentuh dada tepat di jantungnya. Rasa nyerinya berasal dari sana. “Pasti mereka bertengkar lagi dan Jong Woon Oppa terpuruk karenanya.” Hyo Eun memejamkan matanya. Antara sesak, sakit hati, tak rela dan nyeri di jantungnya yang mulai berdetak tak normal. Hyo Eun berjalan menuju tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di sana. Meredam rasa nyeri pada jantungnya dan- ulu hatinya.


***


            Hyo Eun menghampiri Jong Woon dan mengambil alih handuk yang digunakan Jong Woon untuk membersihkan wajahnya yang lebam. Dengan telaten Hyo Eun membersihkan wajah Jong Woon akhirnya mengoleskan salep di pipi, pelipis, dan dagunya yang membiru. “Awh. . .” Hyo Eun menghaluskan lagi gerakannya tak ingin membuat Jong Woon merasakan sakit yang lebih.

            “Aku di sini sejak jam 7 pagi, tapi Oppa tak ada. Oppa belum pulang dan pulang dengan keadaan seperti ini.” Jong Woon memejamkan matanya, pikirannya kacau, hatinya kacau. Yang ia butuhkan ketenangan dan- Hye In. “Oppa ada masalah dengan Hye In-ssi ? Apa Hye In-ssi selingkuh lagi ? Kenapa Oppa masih bertahan dengannya, Oppa tahu itu hanya melukai dirimu sendiri. Dia bukan satu – satunya wanita yang ada di dunia ini jadi jangan daulat dirinya adalah takdirmu. Takdir Tuhan tak ada yang tahu. Kau lihat Oppa, dirimu sangat kacau.” Kepalan tangan Jong Woon mengeras, efek alkohol yang tadi malam dikonsumsinya belum hilang membuat kepalanya pusing ditambah perkataan Hyo Eun.

            “Kau bisa diam tidak. Lebih baik kau pulang sekarang. Berhenti menceramahi ini hidupku dan perlu kau ingat seburuk apapun Hye In ia tetap wanita yang ku cintai bukan dirimu. Aku mencintainya ‘tulus’.” Jong Woon melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Hyo Eun yang sudah merawat lukanya. Hyo Eun menatap punggung Jong Woon nanar. Lagi – lagi, jantungnya seperti berdetak lebih cepat dan tak karuan.

            “Oppa, jaga dirimu baik – baik. Aku pergi untuk beberapa saat. Mungkin 1 minggu, saat aku kembali kuharap kau dan Hye In-ssi sudah berbaikan. Annyeong.” Jong Woon tetap melangkah dengan wajah dingin dan datarnya, setelah punggung Jong Woon tenggelam dari jarak pandangnya Hyo Eun melangkah keluar. Ia menutup pintu utama dengan memegangi dadanya lain. Ia meraih ponsel di sakunya mengetikan sesuatu sebelum tubuhnya luluh berbaring di atas lantai yang dingin di depan rumah megah itu.


***


            Hye In membuka pintu rumahnya dengan kesal. Siapa orang di pagi buta seperti ini bertamu ? Apa tidak tahu adab bertamu yang baik eoh orang itu ? mata Hye In membulat melihat siapa orang dibalik pintu rumahnya. Kim Jong Woon. Orang yang paling ia benci. Ia benci karena harus melakukan perjodohan gila dengan namja yang sekarang terlihat berantakan dan lusuh itu. Hye In berusaha mendorong pintu agar Jong Woon tidak bisa masuk tapi nampaknya namja itu berusaha keras untuk bertemu Hye In. Ia mendorong pintu berlawanan arah dengan Hye In bermaksud untuk membuka pintu itu.

            “Hye In-ah, kumohon. Kembalilah padaku, buka pintunya dan kita bicarakan baik – baik.” Hye In menggeleng keras. Ia berusaha menutup pintu dan menghalangi pria itu masuk. Brakkk. Pintu itu tertutup sempurna. Jong Woon sedikit terpental karena dorongan Hye In ke pintu cukup keras membuatnya sekarang tertunduk di atas lantai. Aneh bukan seorang namja kalah dengan yeoja saat beradu kekuatan. Itu karena selama 5 hari terakhir ini Kim Jong Woon, pemilik cafe Mouse Rabbit itu menghabiskan waktunya dengan minuman berkadar alkohol yang biasa disebut soju atau bahkan vodka. Tak ada yang dilakukannya, ia hanya menunduk tanpa melakukan apapun. Keinginannya hanya satu, bisa mempersunting Hye In, hidup bersama dan bahagia dengan wanita yang dicintainya itu.

            Tapi itu tak akan mudah, sudah berkali – kali ah mungkin jika dihitung – hitung sejak 4 tahun yang lalu Hye In sudah lebih dari 10 kali melakukan ini padanya. Berselingkuh untuk memutuskan perjodohan yang gila menurutnya. Padahal bagi Jong Woon, gadis itu segalanya. Pusat pengendali dunianya. “Hye In-ah, aku tahu kau pasti mendengarkanku. Ah, baiklah jika kau tak mau membuka pintunya. Yang jelas aku begitu mencintaimu, aku tak akan membiarkan seorang-pun memilikimu kecuali aku karena takdirmu hanya bersamaku. Seberapa keras kau berlari pada akhirnya kau juga akan kembali ke pelukanku jugakan. Aku yakin kali ini tak akan berlangsung lama seperti sebelumnya. Aku hanya memintamu untuk agar jangan melakukan itu lagi,” ucapan Jong Woon yang lantang terhenti. Ia memejamkan kepalanya karena kepalanya terasa sakit dan berat. Perutnya mulai berulah. Rasanya seperti ada yang mengikatnya erat – erat menekan perutnya hingga rasanya sangat perih dan sakit. “Aku tahu kau tak mencintaiku, seperti kataku kita bertunangan dulu dan jika memang tak bisa kau bisa pergi. Tapi aku mohon padamu dengan sangat. . .”

            “Belajarlah mencintaiku.” Tubuh itu roboh. Hye In memang mendengarnya dari dalam, sejujurnya ia khawatir pada Jong Woon tapi ia tak ingin seolah – olah ia perhatian dengan Jong Woon dan membuat dirinya harus berhadapan lagi dengan namja itu. Setelah 5 menit tak ada suara Hye In memutuskan menuju kamarnya. Ia ingin bebas dari laki – laki itu. Ia juga lelah, ia ingin hidup dengan tenang bersama dengan namja yang benar – benar diinginkannya. Benar – benar dicintainya bukan hanya sekedar perjodohan.


***


            Hyo Eun keluar dari mobil, ia dibantu Jong Hyun kakak keduanya untuk membawa Jong Woon ke mobil mereka. Selama perjalanan ke rumah sakit Hyo Eun terus menatap wajah Jong Woon yang sudah 5 hari ini tak ia temui. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya semakin kurus. Ia tak yakin setiap harinya ia makan dengan benar. Tangan halus Hyo Eun menyentuh wajah pucat itu dengan sayang. Tatapan matanya menyiratkan betapa terlukanya ia melihat kondisi orang yang begitu dicintainya seperti ini.

            “Ingat Hyo Eun-ah, jaga emosimu atau kau juga akan berakhir di ranjang rumah sakit lagi.” Hyo Eun mengangguk namun air matanya sudah meleleh. Usianya masih muda 18 tahun tapi ia sudah tak melanjutkan sekolahnya karena suatu hal. “Aku, akan selalu membuatmu bahagia Oppa. Bagaimana-pun caranya, walau itu menyakitkan untukku. Karena dengan begitu aku akan merasa hidupku berguna. Dan aku bahagia melihat sumber kehidupanku, alasanku untuk membuka mataku tersenyum seperti biasanya.” Bisik Hyo Eun tepat di telinga Jong Woon. Gadis itu kini sudah terbiasa mengendalikan emosinya tapi jika melihat laki – laki yang kini dipangkunya itu kacau maka semuanya akan hancur. Rasa sakit yang dirasakan laki – laki itu akan berdampak dua kali lipat pada dirinya. Oleh karena itu ia lebih memilih laki – laki itu bahagia walau bukan bersamanya.


***


            Hyo Eun memandangi tubuh yang berbaring di atas ranjang dengan damainya. Berbanding terbalik ketika namja itu tersadar. Satu tangannya bertautan dengan tangan Jong Woon, sementara dokter di sampingnya masih sibuk mengecek keadaan Jong Woon dan Jong Hyun kakaknya sedang duduk manis di sofa menjaga yeodongsaeng-nya dari jauh. “Setelah ia sadar langsung ambilkan teh hangat atau air putih lalu suruh ia minum obat, setengah jam kemudian ia baru boleh makan tapi usahakan bubur saja agar mudah dicerna.” Jong Hyun memperhatikan raut adiknya yang menyimak penuturan Nam Uisanim dengan serius. Terkadang ia prihatin dengan kondisi adiknya, mencintai tanpa dicintai. Mungkin normal untuk sebagian orang tapi adiknya- saat adiknya tak bisa menormalkan emosinya nyawanya ada di ujung bahaya karena jantung sialan itu.

            Jong Hyun mengikuti langkah Nam Uisanim keluar, sampai di lorong yang cukup sepi ia menghentikan langkah dokter muda itu. “Ini tentang penyakit Hyo Eun.” Nam Uisanim mengangguk paham, ia hendak membuka suara namun Jong Hyun kembali menyela. “Jika operasi dengan mencangkok jantungnya apa kemungkinan berhasil diatas 60 % ? Aku tak tahan melihatnya terus seperti ini. ia tak bebas mengekspresikan apa yang tengah ia rasakan.” Terdengar nada putus asa di sana. Nam Uisanim mengusap bahu Jong Hyun, seolah berkata agar dirinya tegar.

            “Kemungkinan berhasil 80 % jika melakukan operasi saat ini tapi. . . yang menjadi masalahnya adalah mencari jantung yang cocok itu sangat sulit. Dari keluarga itu tak menjamin.” Jong Hyun memejamkan matanya, kapan penderitaan adiknya akan berakhir ? “Bersabarlah, jika Tuhan memang menghendaki pasti pendonor itu akan ada.”


***


            “Oppa, kenapa kau menyakiti dirimu sendiri ? Kau tahu itu sama saja menyakitiku. Kenapa kau bisa sekacau ini, biasanya kau tak sampai mabuk – mabukan terus menerus hingga sakit. Kau lihat tubuhmu sendiri korbannya.” Hyo Eun menyingkirkan anak rambut Jong Woon, mengusap kening yang terasa panas dengan tangan kirinya. “Cepatlah sembuh, berbagilah denganku, aku tak bisa melihatmu terus terpuruk seperti ini.”


***


            “Kenapa ia tak bisa mencintaiku ? Apa yang kurang dariku ? Kau saja bisa mencintaiku seperti itu tapi kenapa Hye In tidak bisa. Sebenarnya namja seperti apa yang Hye In inginkan ? Aku bahkan tak akan mempermasalahkan masalah ini jika ia mau kembali padaku. Tapi kau tahu Hyo Eun-ah, ia justru menutup pintu rumahnya rapat – rapat, menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, atau menyusup di balik kerumunan orang – orang jika ia melihatku.” Hyo Eun membiarkan Jong Woon menumpahkan segalanya di pundaknya. Ia membiarkan namja itu menangis di sana. Tangannya mengepal, walaupun ia mendengar semuanya ia berusaha tak memusingkannya apalagi memasukkannya dalam hati. Tapi tak ia pungkiri napasnya mulai memburu dan dadanya- atau lebih tepatnya jantungnya kembali nyeri.

            “Ia adalah segalanya bagiku, tak ada yang aku inginkan di dunia ini kecuali dirinya yang berada di sisiku, mencintaiku dan menyayangiku. Menjadi penyemangatku dalam menjalani hari – hariku yang penat. Kenapa Hyo Eun-ah ? Kenapa tidak bisa ? Kenapa dia tak mau ? Wae ?” Kelopak mata Hyo Eun sedikit tertutup namun linangan air mata terlihat jelas di sana. ‘Begitu juga denganmu Oppa. Kenapa kau tak bisa mencintaiku ? Aku bahkan selalu berada di sampingmu, tak peduli seperti apa sikapmu padaku. Apapun yang kau lakukan padaku secara sadar atau tidak, yang jelas aku- saranghamnida.’ Tess. Setitik air mata terjatuh di rambut hitam Jong Woon, namja itu sedikit tersentak saat ia menegakkan tubuhnya yeoja yang berada di pelukannya yang menjadi sandarannya mencurahkan isi hatinya tak sadarkan diri. Wajah pucat pasi dengan keringat dingin yang keluar dari pori – pori kulitnya.


***


            Hyo Eun melengkuh kecil, ia membuka matanya yang kini terasa lebih ringan. Wajah ceria itu semakin berseri saat melihat Jong Woon berada di samping ranjangnya. Ia tertidur dengan posisi duduk namun kepala yang merebah di ranjang rumah sakit yang Hyo Eun gunakan. Tangan Jong Woon berada di atas kepalanya dan tangan lainnya menggenggam tangan kirinya. Mungkinkah namja ini simpati padanya ? Apa Jong Woon sudah mengetahui penyakitnya sehingga ia simpati padanya seperti ini ?

            “Kau sudah bangun, akan kupanggilkan Nam Uisanim sebentar.” Hyo Eun tak melepaskan tangan Jong Woon yang hendak pergi. Kapan Jong Woon bangun ? ia terlalu serius menatapi tangan Jong Woon yang menggenggam tangannya. “Aku sudah biasa, seharusnya Oppa istirahat. Cha, kembalilah ke kamarmu. Aku sudah tak apa – apa.” Jong Woon terlihat ragu tapi ia mengangguk, namun ia lebih memilih duduk di tempatnya lagi daripada kembali ke kamarnya.

            “Kenapa kau tak bilang jantungmu. . .”

            “Tak apa, aku sudah terbiasa keluar masuk rumah sakit. Jika tidak kambuh ya untuk cek, Oppa tak usah khawatir aku sudah baikan kok.” Yeoja itu terlihat tersenyum ceria. Ia senang tapi ia tak ingin karena senangnya ini membuat jantungnya kembali bekerja terlalu cepat dan membuatnya harus berbaring terlalu lama di sini. “Mianhae. . .” Jong Woon menunduk, ia tahu sekarang kenapa wajah Hyo Eun kerap terlihat pucat, itu karena kerja jantungnya yang tak normal.

           “Kau pasti tertekan karena ucapan kasarku padamu selama ini. Aku pasti sering membuat emosimu naik turun. Apa sebegitu cintanya kah kau padaku hingga kau rela melakukan ini ?” Hyo Eun mengangguk ringan seolah tak ada beban sama sekali dalam hidupnya. “Aku senang melakukannya, walaupun begitu aku berterimakasih sekali padamu Oppa, aku masih bisa merasakan perasaan ini seperti yang dirasakan orang normal. Aku senang kau menganggapku ada. Itu sudah lebih dari cukup. Jigeum, nan neomu haengbokkaeyeo.” Melihat senyuman itu membuat hati Jong Woon terenyuh. Hatinya bergetar mendengar penuturan halus yeoja yang sering diacuhkannya itu.


***


Jong Woon POV

            Kubuka mulutku lebar – lebar menerima suapan dari Hyo Eun yang duduk di kursi di samping ranjangku. Gadis yang keras kepala padahal dari wajahnya saja ia belum terlihat sehat. Yeoja ini memang begitu telaten melayaniku, melakukan ini itu untukku dan memerhatikanku. Sayang kenapa bukan dia saja orang yang aku cintai. “Jong Woon.” Kualihkan pandanganku ke arah pintu. Eomma mendekat, ia terlihat membawa beberapa buah – buahan di tangannya. “Ada yang ingin ingin eomma katakan padamu.” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, memersilakannya untuk bicara lebih. “Hye In mau bertunangan denganmu.”

            “Benarkah Eomma ? Hye In mau bertunangan denganku ?” Apa yang dipikirkan yeoja itu ? Yah jujur aku senang mendengarnya. Tapi ini sangat ganjil untukku, juga. . . sebagian hatiku merasa. . . molla aku tak tahu dengan pasti apa yang sedang aku rasakan sekarang. “Iya, eomma sendiri juga sempat kaget tapi tadi Hye In sendiri yang mengatakannya pada eomma. Ia juga bilang kalau ia mengkhawatirkanmu dan merindukanmu. Apa ia tak tahu kalau kau sakit ?” Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Satu – satunya orang yang selalu menemaniku adalah Hyo Eun. Tunggu. Hyo Eun. Kualihkan pandanganku dari eomma. Kutatap lekat – lekat dirinya yang kini menunduk. Aku memang tak tahu sekarang bagaimana ekspresi wajahnya tapi aku tahu sekarang ia pasti sangat sedih dan. . .

            Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Wajahnya basah tapi bukan karena air mata tapi karena keringat. Wajahnya terlihat begitu pucat. Tanpa pikir panjang aku turun dan menggendongnya menuju ruangan Nam Uisanim.


***


Hyo Eun POV

            Aku tersenyum ke arahnya yang dari tadi terus menatapku. Setelah tahu aku memiliki penyakit ini Jong Woon Oppa memang tak pernah berkata kasar padaku, ia justru sangat perhatian padaku. Ya, ia hanya kasian padaku. Saatnya memasangkan cincin setelah Kim Ahjussi berpidato singkat. Tuhan, kuatkan aku jebal. . .

            Rasanya dadaku sangat sakit saat dirinya terikat, seolah sebagian dari diriku ikut lenyap. Tuhan kuatkan aku. . . kuulas sebuah senyum simpul untuknya yang berada di atas podium yang terus menatapku. Aku tahu ia pasti khawatir. Aniya Oppa melihatmu bahagia sudah cukup untukku. Akh. . . sakit yang sama kenapa harus aku rasakan lagi. Kau pantas bersanding dengan Hye In-ssi, ia begitu cantik dan sempurna. Jikalau kau mencintaiku-pun kita tak akan bisa bersama. Karena maut bisa datang menjemputku kapan saja. Ya, lebih baik memang ia mencintai wanita lain. . . sepertinya.


***

Author POV

            Hyo Eun berdiri dekat dengan podium dimana Jong Woon dan Hye In yang akan saling memasangkan cincin yang mengikat mereka. Ia terus tersenyum meski hatinya menjerit, walau ia tak sanggup melihat itu. Melihat namja yang dicintainya terikat dengan orang lain. Hye In melihat ada yang aneh dari gerak – gerik namja yang akan bertunangan dengannya. Seminggu. Ia mencari jawaban untuk hatinya, perasaan apa yang ada untuk Jong Woon dan ia yakin, dirinya mencintai namja itu. Namja yang dari tadi sibuk memperhatikan seseorang. Dan yang lebih menyentak hatinya adalah Jong Woon tak menggenggam tangannya atau merangkul bahunya hangat seperti yang biasa dilakukan Jong Woon padanya. Jong Woon mengambil cincin yang sudah disiapkan ibunya untuk disematkan di jari Hye In.

Brukkk

            Spontan Jong Woon melompat turun dari podium dan menggendong tubuh yang roboh itu digendongannya. Membawanya keluar dari ruangan yang ditata megah hanya untuk acara pertunangannya itu. Menyisakan tanda tanya banyak orang di sana. Siapa yeoja itu sehingga secara spontan Jong Woon membawanya pergi. Meninggalkan acara ini. meninggalkan Hye In. Membawa yeoja itu tanpa bicara apapun.

            Hye In mencelos, seperti inikah rasanya dikhianati ? Walaupun apa yang dilakukan Jong Woon memang belum termasuk mengkhianati tapi dari gerak – gerik Jong Woon, tatapan mata namja yang pernah hanya tertuju untuknya itu menatap gadis itu berbeda. Seperti cara namja itu menatapnya dulu. Ya, dulu. Dua minggu tak bertemu, kenapa Jong Woon-nya dulu bisa berpaling darinya ?

***

            Jong Woon menggenggam tangan Hyo Eun erat. Nam Uisanim baru saja keluar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar ICU ini. Sejak diperjalanan tadi air matanya turun tanpa ia tahu kenapa. Ia tak ingin Hyo Eun terus merasakan sakit seperti ini terus menerus. ‘Sejak lahir jantung Hyo Eun memang ada kelainan. Jantungnya akan berdetak secara tak wajar jika ia hanya berlari kecil atau naik – turun tangga yang membuat napasnya tersenggal. Jantungnya juga akan berdetak lebih cepat ketika emosinya tak stabil. Terlalu bahagia atau terlalu sedih membuat jantungnya berdetak dengan cepat dan sewaktu – waktu bisa berhenti. Jantungnya memang tak sempurna, sekat di biliknya juga tak sempurna terbentuk. Mungkin itu karena ia lahir sebelum waktunya. Ia lahir saat masih 6 bulan di kandungan.’ Ucapan Nam Uisanim saat melihat Hyo Eun tak sadarkan diri saat bersamanya seminggu yang lalu terus terinang.

            Jong Woon menggeleng pelan. “Kau tahu ? Jigeum, I Think i love you Hyo Eun-ah. Aku pernah berharap agar Tuhan membuatku berhenti mencintai Hye In dan merubahnya agar mencintaimu. Aku akan melakukan apapun untukmu, agar kau bisa merasakan apa itu bahagia, senang, sedih, sakit, bingung. Aku tak tahu bagaimana rasanya menekan apa yang tengah kita rasakan, itu lebih sulit daripada menyembunyikan sebuah kebohongan bukan ?”

            Jong Woon mengecup tangan Hyo Eun yang digenggamnya dengan erat. Sesaat kemudian ia sedikit merangkak untuk mengecup kening Hyo Eun yang penuh keringat. “Saranghae.” Jong Woon menarik wajahnya, memberi jarak antara dirinya dan Hyo Eun memandangi wajah pucat yeoja itu. Menikmati pahatan Tuhan pada wajah yeoja yang berhasil mengajarkannya tentang kasih sayang, ketulusan, dan ikhlas.

            Setelah ia rasa cukup Jong Woon kembali mengecup kening Hyo Eun. Kali ini lebih lama, hingga air matanya kembali turun bahkan beberapa menetes membasahi wajah Hyo Eun. “Aku memang kacau saat Hye In meninggalkanku tapi aku hancur, sakit dan tak rela melihatmu hanya terbaring seperti ini. Kau, wanita pertama yang membuatku meneteskan air mata. . . Choi Hyo Eun.” Pungkas Jong Woon sebelum beranjak untuk meninggalkan ruangan ini. Bahkan saat ia hendak menutup pintu ruang ICU itu ia masih menatap lekat wajah yang terbaring di atas ranjang dengan damai. Ia tak bisa diam saja, ia ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk Hyo Eun.


***

            Hyo Eun membuka matanya perlahan. Cahaya matahari pagi mulai masuk lewat pupil matanya. Kelopak matanya yang sudah 3 minggu tak terangkat terasa sedikit berat saat ia membukanya. Ia tersenyum saat menoleh ke samping. Di sofa panjang dekat pintu kedua kakak laki – lakinya tengah tertidur dengan posisi terduduk. “Jong Hyun Oppa, Si Won Oppa,” panggil Hyo Eun lirih. Kerongkongannya terasa begitu kering membuatnya tak bisa bersuara lebih keras. Senyum Hyo Eun melebar saat melihat Jong Hyun menggeliat kecil dalam tidurnya. Detik berikutnya mata kakak kesayangannya itu terbuka sepenuhnya.

            “Hyo Eun-ah, kau sudah sadar ?” senyum bahagia merekah di bibir Jong Hyun, ia menggoyangkan tubuh yang masih tertidur di sampingnya –Si Won-. Melihat hyeongnya sudah menggeliat hendak bangun, Jong Hyun bangkit mendekati Hyo Eun. Ia meraih kursi di samping ranjang untuk duduk lalu membantuk Hyo Eun untuk duduk dan menyodorka air minum untuk adiknya itu. “Gomawo Oppa.” Si Won kini duduk di tepi ranjang Hyo Eun sambil mengucek matanya. Gurat kelelahan jelas terlihat di wajah tampannya.

            “Bagaimana keadaanmu ? Kau tahu Oppa sangat takut jika operasimu gagal dan Oppa tak bisa melihat senyumanmu lagi Hyo Eun-ah.” Runtut Jong Hyun kegirangan melihat adiknya yang sudah sadar. “Sudah baik, bahkan ini jauh lebih baik sekarang. Aku ingin mengunjungi makam orang yang mau memberikan jantungnya untukku. Aku sangat berterimakasih padanya. Dia siapa Oppa ?” Kali ini Jong Hyun terdiam. Ia belum memikirkan kata – kata yang tepat untuk ia ucapkan pada Hyo Eun.

            “Seseorang yang sangat mencintaimu.” Jawab Si Won sambil menatap tembok, ia harap adiknya puas dengan jawabannya tapi nyatanya Hyo Eun justru terlihat semakin penasaran. “Nugu ? Aku pasti mengenalnya.” 5 menit mereka terdiam. Lidah kedua namja itu terasa kelu untuk mengucapkan satu nama saja. “Nuguya ?” Tanya Hyo Eun lagi karena kedua Oppa-nya tak kunjung menjawab pertanyaanya.

            “Dia- Geu namja. . .” Hyo Eun mengangkat sebelah alisnya menanti lanjutan ucapan Si Won sementara Jong Hyun memilih menundukan kepalanya. “Kim Jong Woon.” Ucap Jong Hyun lirih karena Si Won tak kunjung melanjutkan ucapannya. Bibir Hyo Eun bergetar, rasa sakit itu kini hanya berasal dari hatinya. Ia menggeleng pelan, ia. . . tak ingin mempercayai kenyataan ini.


***


            Tubuh Hyo Eun melemas. Iya, ia menginginkan Jong Woon bahagia dan tenang walau tanpa dirinya tapi bukan berarti Jong Woon-lah yang berkorban untuknya. Ia lebih baik mati dengan penyakit ini daripada ia hidup tanpa sosok yang menjadi semangatnya untuk hidup. Hyo Eun meraih surat dari Jong Woon yang diletakan Jong Jin di atas nakas. Ia mengusap air mata yang turun membasahi pipinya sebelum membaca surat itu. Memantapkan dalam hati bahwa ia sanggup menerima kenyataan yang ada. Bahwa sumber energi kehiduapnnya telah tiada . . .

            Tangan Hyo Eun sedikit bergetar, rasa ragu menghinggapi hatinya. Ia bisa gila jika Jong Woon benar – benar meninggalkannya. ‘Aku takkan pernah meninggalkanmu, aku tahu kau muak denganku tapi kenapa harus seperti ini caramu menghilang Oppa ? Kau meninggalkan jejak yang sulit terhapus, andai aku tahu- aku tak akan membiarkanmu tahu tentang penyakit ini.’


Uri saranghaneun, Choi Hyo Eun


Annyeong...
Mianhae, aku terus membuatmu menangis... aku tahu air matamu itu sungguh berharga, maafkan aku yang baru menyadarinya. Hyo Eun-ah, sekarang kau bisa merasakan senang dan sedih tanpa harus menahan dirimu. Tanpa takut dadamu terasa sakit lagi. Gomawo, karena telah mencintaiku. Aku merasa sangat senang, neomu haengbokkaeyeo. Geudae- aku rasa sudah cukup aku marasakan dunia ini. Setelah ini hiduplah dengan baik, jangan sia – siakan hidupmu.

Aku telah membayar semua yang kau berikan untukku dengan itu. Maaf jika kau merasa kurang setimpal, akrena hanya itu yang bisa aku berikan. Semoga kau bahagia, do’aku selalu menyertaimu


Kim Jong Woon

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar