1.
Title : Love Is Energy
3.
Twitter : @ryu_woon
4.
Cast : Kim Jong Woon, Choi Hyo
Eun and others.
5.
Rated : PG 15/T
6.
Lenght : Oneshoot
7.
Genre : AU, Romance, Tragedy and
others.
8.
Disclaimer : Typo(s) anywhere, Story is Mine!!
No Plagiat. Hope you like it.
Story. . .
Author POV
Walau jantungku
ini sudah lelah lalu menyerah dan menyuruhku untuk menutup mata, aku akan
selalu membuka mataku selama itu kau. Selama kau ada dalam jarak pandangku maka
aku akan tetap hidup. Karena kau. . . adalah sumber energi kehidupanku.
Hyo Eun tersenyum cerah dan melangkah
dengan riang menyusuri lorong rumah besar bergaya modern dengan segala interior
mewah di setiap jengkal sisinya. Gadis itu bersiul ringan hingga ia sampai di
lantai 3 rumah itu, ia berjalan ke kanan tepat di depan pintu berwarna coklat
tua dengan ukiran yang indah ia berhenti. Napasnya yang sedikit tersengal
- sengal tak dihiraukan walau jantungnya
terasa mulai nyeri.
Tok tok tok
. . .
Tok tok tok
. .
.
“Hwang Ahjumma Jong Woon Oppa kemana ? apa tidak ada di kamar ? Aku
mengetuknya dari tadi tapi tak ada sautan ?” Hyo Eun langsung menyetop salah
satu pelayan setia di rumah ini saat beliau melintas. Hwang Ahjumma sedikit ingat – ingat dimana
tuan muda-nya sekarang berada namun akhirnya ia menggeleng. “Ahjumma tidur
sekitar pukul 11 malam setelah mengunci pintu depan. Tapi sepertinya Tuan Muda
belum kembali dari kemarin.” Hyo Eun mengangguk dan membiarkan Hwang Ahjumma
kembali melakukan tugasnya mengurus rumah dengan lantai 3 ini. Gurat kekecewaan
jelas terlihat di wajahnya yang terlihat mulai memucat karena menaiki tangga
tadi.
Hyo Eun membuka kamar yang tak di
kunci itu dengan lemas. Seperti dugaannya, jika Jong Woon ada di dalam kamarnya maka kamarnya pasti
di kunci tapi jika Jong Woon tak ada di kamarnya kamarnya akan dibiarkan
terbuka. Ia melihat setiap foto yang terpajang di dinding yang di cat coklat muda itu. Pandangannya
berhenti pada suatu tempat dimana terpajang foto Jong Woon dan Hye In kekasihnya
itu tak ada. Pandangan Hyo Eun jatuh pada sepihan kaca yang berserakan di
lantai tak jauh dari foto itu biasa terpajang. Dadanya mulai terasa sesak lagi.
“Hyo Eun tenang. Kontrol emosimu.”
Tangannya menyentuh dada tepat di jantungnya. Rasa nyerinya berasal dari sana.
“Pasti mereka bertengkar lagi dan Jong Woon Oppa terpuruk karenanya.” Hyo Eun
memejamkan matanya. Antara sesak, sakit hati, tak rela dan nyeri di jantungnya
yang mulai berdetak tak normal. Hyo Eun berjalan menuju tempat tidur lalu merebahkan
tubuhnya di sana. Meredam rasa nyeri pada jantungnya dan- ulu hatinya.
***
Hyo Eun menghampiri Jong Woon dan
mengambil alih handuk yang digunakan Jong Woon untuk membersihkan wajahnya yang
lebam. Dengan telaten Hyo Eun membersihkan wajah Jong Woon akhirnya mengoleskan
salep di pipi, pelipis, dan dagunya yang membiru. “Awh. . .” Hyo Eun
menghaluskan lagi gerakannya tak ingin membuat Jong Woon merasakan sakit yang
lebih.
“Aku di sini sejak jam 7 pagi, tapi
Oppa tak ada. Oppa belum pulang dan pulang dengan keadaan seperti ini.” Jong
Woon memejamkan matanya, pikirannya kacau, hatinya kacau. Yang ia butuhkan
ketenangan dan- Hye In. “Oppa ada masalah dengan Hye In-ssi ? Apa Hye In-ssi
selingkuh lagi ? Kenapa Oppa masih bertahan dengannya, Oppa tahu itu hanya
melukai dirimu sendiri. Dia bukan satu – satunya wanita yang ada di dunia ini
jadi jangan daulat dirinya adalah takdirmu. Takdir Tuhan tak ada yang tahu. Kau
lihat Oppa, dirimu sangat kacau.” Kepalan tangan Jong Woon mengeras, efek
alkohol yang tadi malam dikonsumsinya belum hilang membuat kepalanya pusing
ditambah perkataan Hyo Eun.
“Kau bisa diam tidak. Lebih baik kau
pulang sekarang. Berhenti menceramahi ini hidupku dan perlu kau ingat seburuk
apapun Hye In ia tetap wanita yang ku cintai bukan dirimu. Aku mencintainya
‘tulus’.” Jong Woon melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Hyo
Eun yang sudah merawat lukanya. Hyo Eun menatap punggung Jong Woon nanar. Lagi
– lagi, jantungnya seperti berdetak lebih cepat dan tak karuan.
“Oppa, jaga dirimu baik – baik. Aku
pergi untuk beberapa saat. Mungkin 1 minggu, saat aku kembali kuharap kau dan
Hye In-ssi sudah berbaikan. Annyeong.” Jong Woon tetap melangkah dengan wajah
dingin dan datarnya, setelah punggung Jong Woon tenggelam dari jarak pandangnya
Hyo Eun melangkah keluar. Ia menutup pintu utama dengan memegangi dadanya lain.
Ia meraih ponsel di sakunya mengetikan sesuatu sebelum tubuhnya luluh berbaring
di atas lantai yang dingin di depan rumah megah itu.
***
Hye In membuka pintu rumahnya dengan
kesal. Siapa orang di pagi buta seperti ini bertamu ? Apa tidak tahu adab
bertamu yang baik eoh orang itu ? mata Hye In membulat melihat siapa orang
dibalik pintu rumahnya. Kim Jong Woon. Orang yang paling ia benci. Ia benci
karena harus melakukan perjodohan gila dengan namja yang sekarang terlihat
berantakan dan lusuh itu. Hye In berusaha mendorong pintu agar Jong Woon tidak
bisa masuk tapi nampaknya namja itu berusaha keras untuk bertemu Hye In. Ia
mendorong pintu berlawanan arah dengan Hye In bermaksud untuk membuka pintu
itu.
“Hye In-ah, kumohon. Kembalilah
padaku, buka pintunya dan kita bicarakan baik – baik.” Hye In menggeleng keras.
Ia berusaha menutup pintu dan menghalangi pria itu masuk. Brakkk. Pintu
itu tertutup sempurna. Jong Woon sedikit terpental karena dorongan Hye In ke
pintu cukup keras membuatnya sekarang tertunduk di atas lantai. Aneh bukan
seorang namja kalah dengan yeoja saat beradu kekuatan. Itu karena selama 5 hari
terakhir ini Kim Jong Woon, pemilik cafe Mouse Rabbit itu menghabiskan waktunya
dengan minuman berkadar alkohol yang biasa disebut soju atau bahkan vodka. Tak
ada yang dilakukannya, ia hanya menunduk tanpa melakukan apapun. Keinginannya
hanya satu, bisa mempersunting Hye In, hidup bersama dan bahagia dengan wanita
yang dicintainya itu.
Tapi itu tak akan mudah, sudah
berkali – kali ah mungkin jika dihitung – hitung sejak 4 tahun yang lalu Hye In
sudah lebih dari 10 kali melakukan ini padanya. Berselingkuh untuk memutuskan
perjodohan yang gila menurutnya. Padahal bagi Jong Woon, gadis itu segalanya.
Pusat pengendali dunianya. “Hye In-ah, aku tahu kau pasti mendengarkanku. Ah,
baiklah jika kau tak mau membuka pintunya. Yang jelas aku begitu mencintaimu,
aku tak akan membiarkan seorang-pun memilikimu kecuali aku karena takdirmu
hanya bersamaku. Seberapa keras kau berlari pada akhirnya kau juga akan kembali
ke pelukanku jugakan. Aku yakin kali ini tak akan berlangsung lama seperti
sebelumnya. Aku hanya memintamu untuk agar jangan melakukan itu lagi,” ucapan
Jong Woon yang lantang terhenti. Ia memejamkan kepalanya karena kepalanya
terasa sakit dan berat. Perutnya mulai berulah. Rasanya seperti ada yang
mengikatnya erat – erat menekan perutnya hingga rasanya sangat perih dan sakit.
“Aku tahu kau tak mencintaiku, seperti kataku kita bertunangan dulu dan jika
memang tak bisa kau bisa pergi. Tapi aku mohon padamu dengan sangat. . .”
“Belajarlah mencintaiku.” Tubuh itu roboh.
Hye In memang mendengarnya dari dalam, sejujurnya ia khawatir pada Jong Woon
tapi ia tak ingin seolah – olah ia perhatian dengan Jong Woon dan membuat
dirinya harus berhadapan lagi dengan namja itu. Setelah 5 menit tak ada suara
Hye In memutuskan menuju kamarnya. Ia ingin bebas dari laki – laki itu. Ia juga
lelah, ia ingin hidup dengan tenang bersama dengan namja yang benar – benar
diinginkannya. Benar – benar dicintainya bukan hanya sekedar perjodohan.
***
Hyo Eun keluar dari mobil, ia
dibantu Jong Hyun kakak keduanya untuk membawa Jong Woon ke mobil mereka.
Selama perjalanan ke rumah sakit Hyo Eun terus menatap wajah Jong Woon yang
sudah 5 hari ini tak ia temui. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya semakin
kurus. Ia tak yakin setiap harinya ia makan dengan benar. Tangan halus Hyo Eun
menyentuh wajah pucat itu dengan sayang. Tatapan matanya menyiratkan betapa
terlukanya ia melihat kondisi orang yang begitu dicintainya seperti ini.
“Ingat Hyo Eun-ah, jaga emosimu atau
kau juga akan berakhir di ranjang rumah sakit lagi.” Hyo Eun mengangguk namun
air matanya sudah meleleh. Usianya masih muda 18 tahun tapi ia sudah tak
melanjutkan sekolahnya karena suatu hal. “Aku, akan selalu membuatmu bahagia
Oppa. Bagaimana-pun caranya, walau itu menyakitkan untukku. Karena dengan
begitu aku akan merasa hidupku berguna. Dan aku bahagia melihat sumber
kehidupanku, alasanku untuk membuka mataku tersenyum seperti biasanya.” Bisik
Hyo Eun tepat di telinga Jong Woon. Gadis itu kini sudah terbiasa mengendalikan
emosinya tapi jika melihat laki – laki yang kini dipangkunya itu kacau maka
semuanya akan hancur. Rasa sakit yang dirasakan laki – laki itu akan berdampak
dua kali lipat pada dirinya. Oleh karena itu ia lebih memilih laki – laki itu
bahagia walau bukan bersamanya.
***
Hyo Eun memandangi tubuh yang
berbaring di atas ranjang dengan damainya. Berbanding terbalik ketika namja itu
tersadar. Satu tangannya bertautan dengan tangan Jong Woon, sementara dokter di
sampingnya masih sibuk mengecek keadaan Jong Woon dan Jong Hyun kakaknya sedang
duduk manis di sofa menjaga yeodongsaeng-nya dari jauh. “Setelah ia sadar
langsung ambilkan teh hangat atau air putih lalu suruh ia minum obat, setengah
jam kemudian ia baru boleh makan tapi usahakan bubur saja agar mudah dicerna.”
Jong Hyun memperhatikan raut adiknya yang menyimak penuturan Nam Uisanim dengan
serius. Terkadang ia prihatin dengan kondisi adiknya, mencintai tanpa dicintai.
Mungkin normal untuk sebagian orang tapi adiknya- saat adiknya tak bisa
menormalkan emosinya nyawanya ada di ujung bahaya karena jantung sialan itu.
Jong Hyun mengikuti langkah Nam
Uisanim keluar, sampai di lorong yang cukup sepi ia menghentikan langkah dokter
muda itu. “Ini tentang penyakit Hyo Eun.” Nam Uisanim mengangguk paham, ia
hendak membuka suara namun Jong Hyun kembali menyela. “Jika operasi dengan mencangkok
jantungnya apa kemungkinan berhasil diatas 60 % ? Aku tak tahan melihatnya
terus seperti ini. ia tak bebas mengekspresikan apa yang tengah ia rasakan.”
Terdengar nada putus asa di sana. Nam Uisanim mengusap bahu Jong Hyun, seolah
berkata agar dirinya tegar.
“Kemungkinan berhasil 80 % jika
melakukan operasi saat ini tapi. . . yang menjadi masalahnya adalah mencari
jantung yang cocok itu sangat sulit. Dari keluarga itu tak menjamin.” Jong Hyun
memejamkan matanya, kapan penderitaan adiknya akan berakhir ? “Bersabarlah,
jika Tuhan memang menghendaki pasti pendonor itu akan ada.”
***
“Oppa, kenapa kau menyakiti dirimu
sendiri ? Kau tahu itu sama saja menyakitiku. Kenapa kau bisa sekacau ini,
biasanya kau tak sampai mabuk – mabukan terus menerus hingga sakit. Kau lihat
tubuhmu sendiri korbannya.” Hyo Eun menyingkirkan anak rambut Jong Woon,
mengusap kening yang terasa panas dengan tangan kirinya. “Cepatlah sembuh,
berbagilah denganku, aku tak bisa melihatmu terus terpuruk seperti ini.”
***
“Kenapa ia tak bisa mencintaiku ?
Apa yang kurang dariku ? Kau saja bisa mencintaiku seperti itu tapi kenapa Hye
In tidak bisa. Sebenarnya namja seperti apa yang Hye In inginkan ? Aku bahkan
tak akan mempermasalahkan masalah ini jika ia mau kembali padaku. Tapi kau tahu
Hyo Eun-ah, ia justru menutup pintu rumahnya rapat – rapat, menjalankan mobilnya
dengan kecepatan tinggi, atau menyusup di balik kerumunan orang – orang jika ia
melihatku.” Hyo Eun membiarkan Jong Woon menumpahkan segalanya di pundaknya. Ia
membiarkan namja itu menangis di sana. Tangannya mengepal, walaupun ia
mendengar semuanya ia berusaha tak memusingkannya apalagi memasukkannya dalam
hati. Tapi tak ia pungkiri napasnya mulai memburu dan dadanya- atau lebih
tepatnya jantungnya kembali nyeri.
“Ia adalah segalanya bagiku, tak ada
yang aku inginkan di dunia ini kecuali dirinya yang berada di sisiku,
mencintaiku dan menyayangiku. Menjadi penyemangatku dalam menjalani hari –
hariku yang penat. Kenapa Hyo Eun-ah ? Kenapa tidak bisa ? Kenapa dia tak mau ?
Wae ?” Kelopak mata Hyo Eun sedikit tertutup namun linangan air mata terlihat
jelas di sana. ‘Begitu juga denganmu Oppa. Kenapa kau tak bisa mencintaiku ?
Aku bahkan selalu berada di sampingmu, tak peduli seperti apa sikapmu padaku.
Apapun yang kau lakukan padaku secara sadar atau tidak, yang jelas aku-
saranghamnida.’ Tess. Setitik air mata terjatuh di rambut hitam Jong
Woon, namja itu sedikit tersentak saat ia menegakkan tubuhnya yeoja yang berada
di pelukannya yang menjadi sandarannya mencurahkan isi hatinya tak sadarkan
diri. Wajah pucat pasi dengan keringat dingin yang keluar dari pori – pori
kulitnya.
***
Hyo Eun melengkuh kecil, ia membuka
matanya yang kini terasa lebih ringan. Wajah ceria itu semakin berseri saat
melihat Jong Woon berada di samping ranjangnya. Ia tertidur dengan posisi duduk
namun kepala yang merebah di ranjang rumah sakit yang Hyo Eun gunakan. Tangan
Jong Woon berada di atas kepalanya dan tangan lainnya menggenggam tangan
kirinya. Mungkinkah namja ini simpati padanya ? Apa Jong Woon sudah mengetahui
penyakitnya sehingga ia simpati padanya seperti ini ?
“Kau sudah bangun, akan kupanggilkan
Nam Uisanim sebentar.” Hyo Eun tak melepaskan tangan Jong Woon yang hendak
pergi. Kapan Jong Woon bangun ? ia terlalu serius menatapi tangan Jong Woon
yang menggenggam tangannya. “Aku sudah biasa, seharusnya Oppa istirahat. Cha,
kembalilah ke kamarmu. Aku sudah tak apa – apa.” Jong Woon terlihat ragu tapi
ia mengangguk, namun ia lebih memilih duduk di tempatnya lagi daripada kembali
ke kamarnya.
“Kenapa kau tak bilang jantungmu. .
.”
“Tak apa, aku sudah terbiasa keluar
masuk rumah sakit. Jika tidak kambuh ya untuk cek, Oppa tak usah khawatir aku
sudah baikan kok.” Yeoja itu terlihat tersenyum ceria. Ia senang tapi ia
tak ingin karena senangnya ini membuat jantungnya kembali bekerja terlalu cepat
dan membuatnya harus berbaring terlalu lama di sini. “Mianhae. . .” Jong Woon
menunduk, ia tahu sekarang kenapa wajah Hyo Eun kerap terlihat pucat, itu
karena kerja jantungnya yang tak normal.
“Kau pasti tertekan karena ucapan
kasarku padamu selama ini. Aku pasti sering membuat emosimu naik turun. Apa
sebegitu cintanya kah kau padaku hingga kau rela melakukan ini ?” Hyo Eun
mengangguk ringan seolah tak ada beban sama sekali dalam hidupnya. “Aku senang
melakukannya, walaupun begitu aku berterimakasih sekali padamu Oppa, aku masih
bisa merasakan perasaan ini seperti yang dirasakan orang normal. Aku senang kau
menganggapku ada. Itu sudah lebih dari cukup. Jigeum, nan neomu
haengbokkaeyeo.” Melihat senyuman itu membuat hati Jong Woon terenyuh. Hatinya
bergetar mendengar penuturan halus yeoja yang sering diacuhkannya itu.
***
Jong Woon POV
Kubuka mulutku lebar – lebar
menerima suapan dari Hyo Eun yang duduk di kursi di samping ranjangku. Gadis
yang keras kepala padahal dari wajahnya saja ia belum terlihat sehat. Yeoja ini
memang begitu telaten melayaniku, melakukan ini itu untukku dan memerhatikanku.
Sayang kenapa bukan dia saja orang yang aku cintai. “Jong Woon.” Kualihkan
pandanganku ke arah pintu. Eomma mendekat, ia terlihat membawa beberapa buah –
buahan di tangannya. “Ada yang ingin ingin eomma katakan padamu.” Aku hanya
mengangguk sebagai jawaban, memersilakannya untuk bicara lebih. “Hye In mau
bertunangan denganmu.”
“Benarkah Eomma ? Hye In mau
bertunangan denganku ?” Apa yang dipikirkan yeoja itu ? Yah jujur aku senang
mendengarnya. Tapi ini sangat ganjil untukku, juga. . . sebagian hatiku merasa.
. . molla aku tak tahu dengan pasti apa yang sedang aku rasakan sekarang. “Iya,
eomma sendiri juga sempat kaget tapi tadi Hye In sendiri yang mengatakannya
pada eomma. Ia juga bilang kalau ia mengkhawatirkanmu dan merindukanmu. Apa ia
tak tahu kalau kau sakit ?” Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Satu –
satunya orang yang selalu menemaniku adalah Hyo Eun. Tunggu. Hyo Eun. Kualihkan
pandanganku dari eomma. Kutatap lekat – lekat dirinya yang kini menunduk. Aku
memang tak tahu sekarang bagaimana ekspresi wajahnya tapi aku tahu sekarang ia
pasti sangat sedih dan. . .
Kuulurkan tanganku untuk menyentuh
wajahnya. Wajahnya basah tapi bukan karena air mata tapi karena keringat.
Wajahnya terlihat begitu pucat. Tanpa pikir panjang aku turun dan
menggendongnya menuju ruangan Nam Uisanim.
***
Hyo Eun POV
Aku tersenyum ke arahnya yang dari
tadi terus menatapku. Setelah tahu aku memiliki penyakit ini Jong Woon Oppa
memang tak pernah berkata kasar padaku, ia justru sangat perhatian padaku. Ya,
ia hanya kasian padaku. Saatnya memasangkan cincin setelah Kim Ahjussi
berpidato singkat. Tuhan, kuatkan aku jebal. . .
Rasanya dadaku sangat sakit saat
dirinya terikat, seolah sebagian dari diriku ikut lenyap. Tuhan kuatkan aku. .
. kuulas sebuah senyum simpul untuknya yang berada di atas podium yang terus
menatapku. Aku tahu ia pasti khawatir. Aniya Oppa melihatmu bahagia sudah cukup
untukku. Akh. . . sakit yang sama kenapa harus aku rasakan lagi. Kau pantas
bersanding dengan Hye In-ssi, ia begitu cantik dan sempurna. Jikalau kau
mencintaiku-pun kita tak akan bisa bersama. Karena maut bisa datang menjemputku
kapan saja. Ya, lebih baik memang ia mencintai wanita lain. . . sepertinya.
***
Author POV
Hyo Eun berdiri dekat dengan podium
dimana Jong Woon dan Hye In yang akan saling memasangkan cincin yang mengikat
mereka. Ia terus tersenyum meski hatinya menjerit, walau ia tak sanggup melihat
itu. Melihat namja yang dicintainya terikat dengan orang lain. Hye In melihat
ada yang aneh dari gerak – gerik namja yang akan bertunangan dengannya.
Seminggu. Ia mencari jawaban untuk hatinya, perasaan apa yang ada untuk Jong
Woon dan ia yakin, dirinya mencintai namja itu. Namja yang dari tadi sibuk
memperhatikan seseorang. Dan yang lebih menyentak hatinya adalah Jong Woon tak
menggenggam tangannya atau merangkul bahunya hangat seperti yang biasa
dilakukan Jong Woon padanya. Jong Woon mengambil cincin yang sudah disiapkan
ibunya untuk disematkan di jari Hye In.
Brukkk
Spontan Jong Woon melompat turun
dari podium dan menggendong tubuh yang roboh itu digendongannya. Membawanya
keluar dari ruangan yang ditata megah hanya untuk acara pertunangannya itu.
Menyisakan tanda tanya banyak orang di sana. Siapa yeoja itu sehingga secara
spontan Jong Woon membawanya pergi. Meninggalkan acara ini. meninggalkan Hye
In. Membawa yeoja itu tanpa bicara apapun.
Hye In mencelos, seperti inikah
rasanya dikhianati ? Walaupun apa yang dilakukan Jong Woon memang belum
termasuk mengkhianati tapi dari gerak – gerik Jong Woon, tatapan mata namja
yang pernah hanya tertuju untuknya itu menatap gadis itu berbeda. Seperti cara
namja itu menatapnya dulu. Ya, dulu. Dua minggu tak bertemu, kenapa Jong
Woon-nya dulu bisa berpaling darinya ?
***
Jong Woon menggenggam tangan Hyo Eun
erat. Nam Uisanim baru saja keluar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar
ICU ini. Sejak diperjalanan tadi air matanya turun tanpa ia tahu kenapa. Ia tak
ingin Hyo Eun terus merasakan sakit seperti ini terus menerus. ‘Sejak lahir
jantung Hyo Eun memang ada kelainan. Jantungnya akan berdetak secara tak wajar
jika ia hanya berlari kecil atau naik – turun tangga yang membuat napasnya
tersenggal. Jantungnya juga akan berdetak lebih cepat ketika emosinya tak
stabil. Terlalu bahagia atau terlalu sedih membuat jantungnya berdetak dengan
cepat dan sewaktu – waktu bisa berhenti. Jantungnya memang tak sempurna, sekat
di biliknya juga tak sempurna terbentuk. Mungkin itu karena ia lahir sebelum
waktunya. Ia lahir saat masih 6 bulan di kandungan.’ Ucapan Nam Uisanim
saat melihat Hyo Eun tak sadarkan diri saat bersamanya seminggu yang lalu terus
terinang.
Jong Woon menggeleng pelan. “Kau
tahu ? Jigeum, I Think i love you Hyo Eun-ah. Aku pernah berharap agar Tuhan
membuatku berhenti mencintai Hye In dan merubahnya agar mencintaimu. Aku akan
melakukan apapun untukmu, agar kau bisa merasakan apa itu bahagia, senang,
sedih, sakit, bingung. Aku tak tahu bagaimana rasanya menekan apa yang tengah
kita rasakan, itu lebih sulit daripada menyembunyikan sebuah kebohongan bukan
?”
Jong Woon mengecup tangan Hyo Eun
yang digenggamnya dengan erat. Sesaat kemudian ia sedikit merangkak untuk
mengecup kening Hyo Eun yang penuh keringat. “Saranghae.” Jong Woon menarik
wajahnya, memberi jarak antara dirinya dan Hyo Eun memandangi wajah pucat yeoja
itu. Menikmati pahatan Tuhan pada wajah yeoja yang berhasil mengajarkannya
tentang kasih sayang, ketulusan, dan ikhlas.
Setelah ia rasa cukup Jong Woon kembali
mengecup kening Hyo Eun. Kali ini lebih lama, hingga air matanya kembali turun
bahkan beberapa menetes membasahi wajah Hyo Eun. “Aku memang kacau saat Hye In
meninggalkanku tapi aku hancur, sakit dan tak rela melihatmu hanya terbaring
seperti ini. Kau, wanita pertama yang membuatku meneteskan air mata. . . Choi
Hyo Eun.” Pungkas Jong Woon sebelum beranjak untuk meninggalkan ruangan ini.
Bahkan saat ia hendak menutup pintu ruang ICU itu ia masih menatap lekat wajah
yang terbaring di atas ranjang dengan damai. Ia tak bisa diam saja, ia ingin
melakukan sesuatu yang berarti untuk Hyo Eun.
***
Hyo Eun membuka matanya perlahan.
Cahaya matahari pagi mulai masuk lewat pupil matanya. Kelopak matanya yang
sudah 3 minggu tak terangkat terasa sedikit berat saat ia membukanya. Ia
tersenyum saat menoleh ke samping. Di sofa panjang dekat pintu kedua kakak laki
– lakinya tengah tertidur dengan posisi terduduk. “Jong Hyun Oppa, Si Won
Oppa,” panggil Hyo Eun lirih. Kerongkongannya terasa begitu kering membuatnya
tak bisa bersuara lebih keras. Senyum Hyo Eun melebar saat melihat Jong Hyun
menggeliat kecil dalam tidurnya. Detik berikutnya mata kakak kesayangannya itu
terbuka sepenuhnya.
“Hyo Eun-ah, kau sudah sadar ?”
senyum bahagia merekah di bibir Jong Hyun, ia menggoyangkan tubuh yang masih
tertidur di sampingnya –Si Won-. Melihat hyeongnya sudah menggeliat hendak
bangun, Jong Hyun bangkit mendekati Hyo Eun. Ia meraih kursi di samping ranjang
untuk duduk lalu membantuk Hyo Eun untuk duduk dan menyodorka air minum untuk
adiknya itu. “Gomawo Oppa.” Si Won kini duduk di tepi ranjang Hyo Eun sambil
mengucek matanya. Gurat kelelahan jelas terlihat di wajah tampannya.
“Bagaimana keadaanmu ? Kau tahu Oppa
sangat takut jika operasimu gagal dan Oppa tak bisa melihat senyumanmu lagi Hyo
Eun-ah.” Runtut Jong Hyun kegirangan melihat adiknya yang sudah sadar. “Sudah
baik, bahkan ini jauh lebih baik sekarang. Aku ingin mengunjungi makam orang
yang mau memberikan jantungnya untukku. Aku sangat berterimakasih padanya. Dia
siapa Oppa ?” Kali ini Jong Hyun terdiam. Ia belum memikirkan kata – kata yang
tepat untuk ia ucapkan pada Hyo Eun.
“Seseorang yang sangat mencintaimu.”
Jawab Si Won sambil menatap tembok, ia harap adiknya puas dengan jawabannya
tapi nyatanya Hyo Eun justru terlihat semakin penasaran. “Nugu ? Aku pasti
mengenalnya.” 5 menit mereka terdiam. Lidah kedua namja itu terasa kelu untuk
mengucapkan satu nama saja. “Nuguya ?” Tanya Hyo Eun lagi karena kedua Oppa-nya
tak kunjung menjawab pertanyaanya.
“Dia- Geu namja. . .” Hyo Eun
mengangkat sebelah alisnya menanti lanjutan ucapan Si Won sementara Jong Hyun
memilih menundukan kepalanya. “Kim Jong Woon.” Ucap Jong Hyun lirih karena Si
Won tak kunjung melanjutkan ucapannya. Bibir Hyo Eun bergetar, rasa sakit itu
kini hanya berasal dari hatinya. Ia menggeleng pelan, ia. . . tak ingin
mempercayai kenyataan ini.
***
Tubuh Hyo Eun melemas. Iya, ia
menginginkan Jong Woon bahagia dan tenang walau tanpa dirinya tapi bukan
berarti Jong Woon-lah yang berkorban untuknya. Ia lebih baik mati dengan
penyakit ini daripada ia hidup tanpa sosok yang menjadi semangatnya untuk
hidup. Hyo Eun meraih surat dari Jong Woon yang diletakan Jong Jin di atas
nakas. Ia mengusap air mata yang turun membasahi pipinya sebelum membaca surat
itu. Memantapkan dalam hati bahwa ia sanggup menerima kenyataan yang ada. Bahwa
sumber energi kehiduapnnya telah tiada . . .
Tangan Hyo Eun sedikit bergetar,
rasa ragu menghinggapi hatinya. Ia bisa gila jika Jong Woon benar – benar
meninggalkannya. ‘Aku takkan pernah meninggalkanmu, aku tahu kau muak denganku
tapi kenapa harus seperti ini caramu menghilang Oppa ? Kau meninggalkan jejak
yang sulit terhapus, andai aku tahu- aku tak akan membiarkanmu tahu tentang
penyakit ini.’
Uri saranghaneun, Choi Hyo Eun
Annyeong...
Mianhae, aku terus membuatmu menangis... aku tahu air matamu itu
sungguh berharga, maafkan aku yang baru menyadarinya. Hyo Eun-ah, sekarang kau
bisa merasakan senang dan sedih tanpa harus menahan dirimu. Tanpa takut dadamu
terasa sakit lagi. Gomawo, karena telah mencintaiku. Aku merasa sangat senang,
neomu haengbokkaeyeo. Geudae- aku rasa sudah cukup aku marasakan dunia ini.
Setelah ini hiduplah dengan baik, jangan sia – siakan hidupmu.
Aku telah membayar semua yang kau berikan untukku dengan itu. Maaf
jika kau merasa kurang setimpal, akrena hanya itu yang bisa aku berikan. Semoga
kau bahagia, do’aku selalu menyertaimu
Kim Jong Woon
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar