1.
Title :
Shining Star
2.
Author : Fortunia
Ryu
3.
Cast :
seadanya -_-
4.
Rated : G
5.
Lenght : Songfict
6.
Genre : I don’t
Know
7.
Disclaimer : No
comment!!
Shining Star!!
like a little diamond, makes me love
내겐 꿈결같은 달콤한 미소로 날 바라보며 속삭여줘 항상 함께 할거라 till the end of time
(Naegen
kkumgyeolgatheun dalkhomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo hangsang hamkke
halgeora till the end of time)
Menatapku dengan
senyum manis seperti mimpi untukku, kita akan selalu bersama, hingga akhir
waktu
“Eonni,
kenapa harus aku ? Kenapa bukan eonni saja ? Aku juga harus kerja eonni!!!”
Aish... yang benar saja. Mengantar Jonghyun si bocah tengil itu ke sekolahnya.
Oh GOD! Yang ada dia membuatku ingin merebusnya jika tak mengingat ia
keponakanku. Sincaa~
“Ayolah
Jina~ dia sudah berjanji untuk tidak membuatmu kesal.” Cihhh. Anak itu. Didepan
eomma-nya saja ia bisa berkata manis. Sebenarnya makan apa sih dia ? “Atau
kukatakan pada appa untuk segera mempertemukanmu dengan Jung Dongjon-ssi.” HAH
? “ANDWAE!!!” sialan. Kumasukan potongan roti dengan malah dan kulihat bocah
tengil berumur 9 tahun itu tersenyum sok manis disamping ibunya.
“Jonghyun. Ayo berangkat!!!” Aku bangkit dan mengambil kunci
motor. Bocah ini, kenapa memeluk pinggangku!! Kulepaskan tangannya dan
kusejajarkan tinggi tubuhku dengannya. “Choi Jonghyun, jika kau tak ingin kena
masalah sebaiknya kau turuti apa kata ahjumma, arraseo ?” aku hanya melongo
saat Jonghyun hanya tersenyum sambil mengangguk. Apa anak ini sudah jinak
sekarang ? Atau ia salah makan sesuatu ? Molla~
Oh! Day by Day
Hari demi hari
항상 내 곁에 그대가 머물러 줘
(Hangsang nae
gyeothe geudaega meomulleojweo)
Kumohon untuk
selalu tinggal disisiku
“Ahjumma~
itu namanya Jihye, dan yang disampingnya namanya Dongwoon dan Eunji.”
Geumanhae! Jina tidak memperhatikan teman-teman yang ditunjuk oleh
keponakannya, tapi ia terpaku pada orang yang menggandeng bocah yang akui
keponakannya itu sebagai temannya. “Annyeong Jonghyun-ah, ini ahjumma-mu ya.
Wah, dia lebih pantas dipanggil noona daripada Ahjumma.” Jina tersigap.
Didepannya- didepannya sosok namja yang begitu dipujanya, dielu-elukan namanya
dulu olehnya, kini tersenyum kearahnya dan mengulurkan tangannya untuk ia
jabat.
“Choi
Siwon.” Jina tersenyum kaku. Bukan. Bukan karena ia takut atau narvous tapi
karena ia kehilangan sistem koordinasi tubuhnya, hingga untuk tersenyum saja
rasanya sangat sulit. “Choi Jina.” Siwon mengangguk paham. “Jonghyun sering menceritakan
ahjumma-nya pada Dongwoon, dan aku tak sengaja mendengarnya.” Jina tersenyum
malu. Ia tak pernah lagi berharap hal ini akan terjadi pada hidupnya setelah 11
tahun yang lalu. Kejadian yang membuat semangat hidupnya turun.
“Jina-ssi, aku titip Dongwoon. Aku harus ke kantor, nanti
eomma Dongwoon akan menyusul kemari. Gomawo.” Jina masih terpaku.
Bercakap-cakap hangat dan menjabat tangan seorang Choi Siwon. Sungguh, ia rela
mengantar keponakannya yang nakal ini agar bisa lebih dekat dengan namja paruh
baya tampan tersebut.
“Kata
Donghae Ahjussi Jonghyun tidak boleh membuat Ahjumma marah, jadi mianhae
ahjumma jika selama ini Jonghyun membuat ahjumma kesal dan marah.” Jina kembali
tersikap. Jadi- ia menatap yeoja kecil bernama Jihye. Pantas saja, binar mata
itu- milik Lee Donghae!! Kenapa keponakannya itu bisa mengenal dekat
orang-orang itu ? Kenapa bukan dia ? mungkin setelah ini Jina akan langsung
memanjakan Jonghyun.
Stay in my heart
눈부신 Shining my love
(Stay in my
heart nunbusin shining my love)
Tinggal dalam
hatiku, mempesona, bersinarlah cintaku
Kutatap
laptop biru laut yang ada sekarang ada dihadapanku. Kubuka lalu kunyalakan. Tep.
Masih menyala. Sudah berapa tahun aku tak menelantarkan laptop kesayanganku ini
? 11 tahun mungkin ? kumasukan password ‘0611200513’. Background sebuah grup
dengan jumlah 13 yang tengah berdiri diantara warna biru menyapaku. Kubuka satu
per satu folder yang ada. Tess. Sebuah video yang menjadi video
favoritku ‘A Walk to Remember Super Junior’. Lautan biru ini- aku
merindukannya. Aku merindukan kehidupanku dulu. Sangat.
Waktu yang
tak bisa kuputar ulang. Bagaimana caranya mengulang ini semua ? Mengayunkan
light stick biru diantara mereka sambil menyerukan nama mereka tanpa lelah
dengan sukacita. Kapan hal itu dapat terjadi lagi ? Kapan ? Mungkinkah ?
늘 바라고 있죠 항상 거기에서 웃음짓기를
(Neul barago
itjyo hangsang geogieseo useumjitgireul)
Selalu berharap,
kamu akan tetap tersenyum di tempat itu
뜻 모를 오해와 이유 없는 미움에 힘이 들어도
(Tteut moreul
ohaewa iyu eobneun miume himi deureodo)
Bahkan ketika
kamu menderita karena kesalahpahaman dan kebencian yang tak beralasan
Kubuka akun
yang sudah lama aku tinggalkan semenjak ‘mereka’ memutuskan keluar dari dunia
hiburan dan memilih menjadi orang biasa setelah kontraknya selesai dengan
agensinya. Kuklik list friend di akun facebook. Hwang Minhye- sudah lama
sekali, apakah ia masih mengenalku ?
‘Annyeong eonni’
‘Annyeong nugu ?’
‘Choi Jina’
‘Nde ? Ini benar kau Jina-ah... kau kemana saja ? Sudah lama
sekali, terakhir kita saling bercakap-cakap sebelum mereka ‘terbebas’ yah..’
‘Ehm, eonni benar. Kupikir eonni sudah tak mengenalku.
Setelah kejadian itu aku pergi ke Filipina karena abeoji dipindah tugakan di
kedutaan Filipina. Bagaimana kabar eonni ?’
‘Jaljinayo. Kau sendiri Jina-ah ?’
‘Nado’
‘Sebentar lagi tanggal 6 November. Mungkin kali ini sama
seperti sebelumnya, aku merindukan saat-saat seperti dulu. Menghabiskan satu
malam penuh untuk merayakan itu dengan yang lain dan mereka.’
‘Aku juga eonni. Kau tahu eonni-ya, tadi pagi saat aku
mengantar keponakanku ke sekolah aku bertemu dengan salah satu dari mereka.’
‘lalu ?’
‘Aku hanya diam. Rasanya seperti mati rasa, aku tak tahu
harus bagaimana.’
‘huuu~ payah.’
‘Eonni, aku ingin sekali membaur dalam biru seperti dulu.’
‘Itu hanya mimpi Jina-ah, sangat sulit walau aku sendiri juga
ingin.’
‘Pasti bisa, bagaimana jika kita mengadakan acara seperti
konser untuk merayakan yang ke-19 tahun.’
‘Kau pikir ada yang mau melihat eoh ? Media tidak akan
membiarkan mereka tampil.’
‘Tanpa sponsor eonni.’
‘Bagaimana caranya ?’
‘Donasi.’
‘Yang benar saja ? Jina-ah, jangan terlalu bermimpi. Setelah
mereka selesai kontrak dan media seperti membuang mereka karena popularitas
mereka meredup, ini tak akan mudah seperti dulu. Terlebih sudah 11 tahun sejak
mereka berpisah, pertanyaanku jangankan menjadi ELF masih mengingat mereka saja
belum tentu orang yang mengaku ELF akan ingat bukan ?’
더 먼 곳을 봐요 이제 시작이죠 울고 싶을 땐 내게 기대요
(Deo meon goseul
bwayo ije sijakijyo ulgo shipheulttaen naege gidaeyo)
Mulai sekarang
lihatlah tempat yang lebih jauh, jika kamu ingin menangis bersandarlah padaku
부족하지만 그댈 지킬게요
(Bujokhajiman
geudael jikhilgeyo)
Meskipun aku
mempunyai kekurangan, aku akan melindungimu
“Waah.. suara appa sangat merdu. Kata eomma dulu apa seorang
penyanyi ani ?” Namja itu mengangguk, ia lalu meraih tubuh putrinya dan
mendudukkannya dipangkuannya. “Apa dulu appa sangat terkenal ?” tanya gadis
cilik itu dengan mata berbinar, sedangkan sang ayah kembali memutar rekaman
masa lalunya.
“Dulu kami
sangat terkenal. Tapi... segala sesuatunya itu tidak ada yang abadi Eunji-ya.
Ada saat dimana kita berada diatas ada juga saat kita berada dibawah.” Namja
itu menyandarkan dagunya pada puncuk kepala putrinya yang memegang gitar yang
tadi digunakan namja paruh baya itu untuk mengiringinya bernyanyi. “Tapi Eunji
tidak paham dengan maksud appa.” Seru bocah itu dengan nada kesal membuat namja
tadi tersenyum.
“Tunggu-
tadi appa bilang kami ? Berarti appa tidak sendiri ?” Tanya Eunji sambil
menoleh berusaha menatap wajah appa-nya. “Ehm. Dulu sebelum debut menjadi
penyanyi- appa dan teman-teman appa melalui masa latihan yang sangat panjang.
Dan setelah debut menjadi penyanyi, tidak banyak orang yang menyukai grup appa.
Tapi- ada peri kecil yang memberikan serbuk ajaibnya sehingga appa dan
teman-teman appa bisa bersinar. Mereka, peri kecil itu selalu melindungi kami.
Bukankah peri itu sangat baik hati Eunji-ya ?”
“Ne appa.
Seperti yang eomma bacakan dibuku dongengku sebelum aku tidur.” Seru bocah
berusia 6 tahun itu. “Jadi mereka nyata ?” Namja paruh baya itu mengangguk
sambil tersenyum...
“Seperti apa
mereka ? Apa Eunji bisa bertemu mereka appa ? Mereka sekecil apa ? Apa mereka
bisa sihir dan memberikan permen kapas yang banyak untuk Eunji ?” celotehan
manisnya keluar membuat sang appa semakin tersenyum lebar. “Yang jelas mereka bercahaya.”
사랑은 그렇게 처음 순간부터 찾아와 가장 깊은 곳에 날아와 날 뜨겁게 해
변하지 않는 떨림 그대는
(Sarangeun
geureohke cheoeum sunganbutheo chijawa gajang gipeun gose narawa nal
tteugeopgehae
Byeonhaji
anhneun tteollim geudaeneun)
Cinta terbang ke
bagian terdalam dari jantung dari awal dan membuatku hangat, gemetar tak pernah
berubah, kamu
“Yeobosaeyeo.”
“Yeobosaeyo.”
“Hyora-ah,
bisakah aku meminta bantuanmu ? Jebal... ini sangat penting untuk project itu.”
Jina harap-harap cemas. Ini harapan terakhirnya. Dana yang terkumpul memang
cukup untuk mendanai project itu. Tapi, untuk tempat- tidak ada sponsor yang
ikut mendanai jelas ini sangat kurang.
“Untuk
tempat- bisakah kau meminta Lee Ahjussi untuk meminjamkan gedung olahraga yang
ada dibagian selatan Seoul ?” harapan terakhirnya. Kumohon Tuhan.. kali ini
saja. Aku benar-benar merindukan mereka.
“Mianhae
Jina-ah, tapi- appa tidak pernah mau memberi ijin atau menyewakan gedung
olahraga untuk konser.” Rasanya tubuhnya ingin meleleh. Apa gunanya usahanya
selama 3 minggu ini. Mengumpulkan dana dan mengatur project mereka bersama-sama
dengan yang lainnya tapi kini harus berakhirkah usahanya ?
“Tidak
bisakah kau coba mengatakannya pada Lee Ahjussi... jebal. Kau juga ikut
terlibat bukan didalamnya.” Hyora menunduk. Jika saja ia bisa, ia pasti akan
melakukannya. Tapi ayahnya bukanlah tipikal orang yang mudah dipengaruhi walau
oleh putrinya sendiri.
“Bukan hanya
kau saja Jina-ah, tapi aku juga ingin. Geurae, aku akan coba bicara dengan
appa. Kuharap ia mau.” Jina berjingkrak senang diseberang sana. Masih ada
harapan dan semuanya belum berakhir. Bintang akan tetap bersinar walau
terhalang kabut sehingga manusia mengira bintang itu menghilang.
Shining Star
태양보다 밝아 햇살 같은 그대 눈빛은 내게 휴식을 줘
(Thaeyangboda
balka haessal gatheun geudae nunbicheun naege hyusigeuljweo)
Lebih terang
dari matahari, kamu seperti sinar matahari, matamu meberikanku istirahat
“Dongwoon-ah,
tolong sampaikan ini pada appa-mu ne.” Bocah itu mengangguk lalu meraih
undangan berwarna biru yang kusodorkan padanya. “Memangnya ini apa Ahjumma ?”
aku tersenyum sambil mengacak rambutnya. Apakah Siwon Oppa dulu seperti ini
saat masih kecil ? Aigoo~ menggemaskan sekali. Neomu kyeopta. “Katakan saja,
itu sebuah acara perayaan kecil, tetapi banyak orang yang mengharapkan
kedatangan appa-mu ne.” Lagi-lagi Dongwoon mengangguk.
Sungguh anak yang manis. Beda sekali dengan keponakanku itu... Tapi
bagaimanapun juga karena Jonghyun aku bisa menemukan mereka satu per satu.
Gomawo Jonghyun-ah... Jeongmal Saranghamnida Jonghyun-ah...
지쳐있을 땐 내 맘을 밝혀 줘 Promise 믿기로 해 언제든 네 편이 되어줄게
(Jichyeoisseul
ttaen nae mameul bakhyeojweo promise mitgiro hae eonjedeun ne phyeoni
dwieojulkka)
Ketika kamu
lelah mencurahkan cahaya di hatiku, berjanji untuk percaya kepadamu, akan
selalu berada disisimu
“Kau-
Leeteuk hyeong!!” Sungmin tersenyum lalu berlari kecil menghampiri Park Jung
Soo atau Leeteuk yang tengah menatap bingung gedung dihadapannya. Sebuah gedung
olahraga. Tak lama Leeteuk kembali menatap undangan biru yang ada ditangannya.
“Sama. Ini alamatnya. Siapa yang mengadakan acara perayaan digedung olahraga
seperti ini ?” Sungmin tersadar. Benar, apakah ia salah alamat juga ?
“Sungmin-ah,
apa kau juga mendapat undangan ini ?” Sungmin mengangguk. Undangan itu sama
persis seperti yang ia miliki kecuali nama undangan itu ditujukan kepada siapa.
“Hyeong!” Sungmin dan Leeteuk menoleh, Kyuhyun berjalan sambil tersenyum lalu
membungkukan badannya memberi hormat kepada hyeong-nya. “Lama tak bertemu
hyeong. Kalian sedang apa disini ?” “Kami mendapat undangan ini.” Kyuhyun
melihat undangan yang ada ditangan Sungmin. Sama, sama persis dengan undangan
yang dibawanya juga. “Lebih baik kita masuk bersama.” Ujar Leeteuk menatap dua
dongsaengnya.
Mereka
melangkah mendekati pintu utama, dengan ragu Leeteuk membuka pintu itu. Ramai
sekali. Itulah hal pertama yang terlintas dibenak mereka. Beberapa orang disana
tersadar ada orang yang masuk berbalik menghadap kearah Leeteuk, Kyuhyun dan
Sungmin yang berdiri di depan pintu. “Oppa, mari kami antar.” Walau masih
bingung tapi mereka tetap saja mengikuti 3 wanita yang membawanya kebelakang. Mereka
baru sadar disini senang ada apa saat melihat banner ‘Super Junior The Last Man
Standing’, ‘We’ll be Stay Together Until The End of Time’. “Hyeong-” Leeteuk
hanya mengangguk merespon panggilan dari Kyuhyun.
누구보다 더 큰 사랑으로 네 작은 어깨 감싸줄게
(Nugubodadeo
kheun sarangeuro ne jageun eokkae gamsajullke)
Aku akan merangkul
bahu kecilmu, dengan kasih yang lebih besar dari orang lain
Kuarahkan
kamera DSRL-ku pada mereka. Senangnya, sudah berapa lama aku tak melakukan ini.
Aku tersenyum melihat hasil cepretanku. Mereka benar-benar mampu memuatku
terbius dan tersenyum tanpa alasan. Cukup melihat mereka tersenyum mampu
membuat kedua sudut bibirku terangkat. “Eonni!!!” Ah!! Hyora. Kupikir siapa, ck! Mengagetkanku
saja. “Sedang apa ?” kusodorkan kamera yang masih terkait dileherku kearahnya.
“Aigoo~ ternyata kebiasaanmu menjadi stalker belum hilang juga.” Aku hanya
mengendikan bahu masa bodoh lalu kembali menfokuskan kamerea DSRL-ku pada
mereka yang terlihat asyik bercanda. Benar-benar terlihat seperti keluarga.
“Kenapa
tidak datangi saja mereka. Lagipula tanpamu acara ini tak akan ada eonni.” Aku
menatap Hyora dengan tidak suka membuat Hyora menundukan kepalanya dalam. “Mianhae.” “Gwaenchana. Kau tahu sendiri bukan, aku tidak bisa dekat
dengan mereka. Bintang itu lebih indah jika dipandang dari jauh. Kau tak akan
merasakan panasnya jika kau jauh darinya, kau hanya merasa cahayanya yang bersinar
itu menerangimu. Jadi, sebelum kau terbakar karena panasnya lebih baik kau
menjauh darinya.”
“Maksudnya eonni ? Jangan bermain kata-kata denganku. Aku bukan Eunhwa
yang suka merangkai kata-kata puitis tanpa maksud yang jelas.” Aku hanya
tersenyum sambil kembali mengambil gambar dari balik sekat tembok di backstage
ini. “Kau tahu sendirikan bagaimana kondisiku saat bertemu tanpa sengaja dengan
Siwon Oppa di sekolahnya Jonghyun ?” huuuh, seharusnya aku tidak mengatakannya!
Lihatlah sekarang sudut bibirnya berkedut menahan tawa. “Fine. Tertawalah
sesukamu nona Kang. Asal kau tahu kebahagiaan bagi seorang fans adalah melihat
idolanya tersenyum tulus bukan karena tuntutan pekerjaan. Yang terpenting itu
bukan bagaimana cara mereka membuat kita untuk tersenyum tapi bagaimana cara
mereka tersenyum tulus karena kita.”
사랑은 그렇게 처음 순간부터 찾아와 가장 깊은 곳에 날아와 날 뜨겁게 해
변하지 않는 떨림 그대는
(Sarangeun geureohke cheoeum sunganbutheo chijawa gajang gipeun gose narawa nal
tteugeopgehae
Byeonhaji
anhneun tteollim geudaeneun)
Cinta terbang ke
bagian terdalam dari jantung dari awal dan membuatku hangat, gemetar tak pernah
berubah, kamu
“Kau tak
meninggalkan sesuatu ?” Aku menggeleng sambil tersenyum menatap panggung dari
backstage. “Choi Jina- tapi kau melupakan-” “Mianhae kami terlambat. Tadi kami
ketinggalan pesawat jadi kami terlambat 1 jam.” Aku mengangguk tanpa niat
mendekati 2 orang china yang baru sampai dan sedang berbincang dengan kru. “Apa
atau- Siapa yang aku lupakan ?” aku hanya tersenyum lalu menepuk bahu Hyora
yang mendengus kesal. Aku berjalan keluar stage menuju kelas festival. Dari
sini stage terlihat semua. Dan lautan biru lebih nyaman daripada backstage.
“Kenapa
tidak di backstage saja ?” aku hanya bisa tersenyum. Impianku- aku tak
menyangka bisa terwujud sekarang. “Lautan biru ini tempatku. Jika kau ingin di
backstage kembali saja kesana. Aku lebih suka disini.”
“Huh..
baiklah kau menang. Choi Jina-ssi”
Lampu mulai
padam, kali ini bukan seperti Sushow yang diadakan 11 tahun yang lalu. Tanpa
VCR, satu persatu member keluar dari backstage dengan lampu panggung yang
menyorot mereka. Semua orang mulai berteriak histeris, suaraku terasa habis
hingga aku hanya bisa mengayunkan light stick sapphire blue yang kugenggam.
Ddareureung sori juhnhwareul deulmyuhn deullyuhoneun geudae moksori
Bogopeun maeum ganulsu uhbsuh keunmamuhkgo juhnhwahaeddaeyo
Haenimi bangshil dalnimi binggeut
Woorideurui sarangeul jikyuhbwa juneun
guht gatayo
Gaseumeuro neukkyuhboseyo
Nan uhlmamankeum geudaeane inneunji
Geu ipsullo marhaeboseyo
Oraejuhnbutuh nareul saranghaewaddago
marieyo
Mannamyuhn ddaeron jogeuman ire hwareul
naego torajijiman
Eure geu daeumen hwahaehaenohgo
dorasuhsuh na honja woonne
Saedeuri sogon kkotdeuri sugeun
Woorideurui sarange jilturado
haneungabwayo
Gaseumeuro neukkyuhboseyo
Nan uhlmamankeum geudaeane inneunji
Geu ipsullo marhaeboseyo
Oraejuhnbutuh nareul saranghaewaddago
marieyo~ (OUR LOVE – SUPER JUNIOR)
Shining Star!!
like a little diamond, makes me love
내겐 꿈결같은 달콤한 미소로 날 바라보며 속삭여줘 항상 함께 할거라 till the end of time
(Naegen
kkumgyeolgatheun dalkhomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo hangsang hamkke
halgeora till the end of time)
Menatapku dengan
senyum manis seperti mimpi untukku, kita akan selalu bersama, hingga akhir
waktu
“Aku tak menyangka, aku bahkan tak
berani bermimpi untuk bisa berdiri disini seperti sekarang.” Aku hanya mampu
menutup mulutku untuk tidak mengeluarkan isak tangis. Hati ELF yang mana yang
tidak tersentuh mendengar hal ini. “Jeongmal Gamsahamnida ELFdeul. Kupikir
tahun 2009 yang lalu adalah akhir dari ini semua.” Aniya Hangeng Gege. Dengan
kau berdiri ditengah-tengah kami atau tidak tapi bagi kami kau tetap bagian
dari Super Junior. Dimanapun kau berada kau tetap seorang Tan Hangeng Super
Junior. “Aku harap tahun depan kalian mau menyelenggarakan acara ini lagi. Kami
tidak bisa berkata banyak, tapi terima kasih, jeongmal gamsahamnida.. kalian
mau menerima kami, tetap mencintai kami walau kami bukan Super Junior yang
dulu. Kami bukan sekelompok grup idol seperti 13 tahun yang lalu, terima kasih
karena mau menjadi teman kami selama ini. lagu penutup acara ini... Shining
star~ like a little diamond, makes me love~”
3 jam, rasanya masih sama seperti 13
tahun yang lalu. Hanya usia kami saja yang berbeda. Semuanya tetap sama, rasa
cinta, sayang, dan ketulusan ini tetap sama. Cinta ini akan tetap sama
selamanya. You’re my shining star, my Hero, My Super Junior. “Jina~” aku
berbalik dan langsung memeluk Minhye Eonni yang juga terisak. “Hikss, apa ini
nyata ?” aku hanya bisa mengangguk. Tenggorokanku terasa tersekat. Minhye Eonni
melepaskan pelukannya, ia menatapku sambil tersenyum. “Seperti mimpi ? Aku
pikir aku tak bisa berada dilautan biru ini lagi. Jina~ Gomawo.” Aku
menggangguk. “Berterimakasihlah kepada Hyora, ia yang membujuk Kang Ahjussi
untuk meminjamkan gedung ini.” bagi kami, usia mereka bukan batasan bagi kami
untuk mencintai mereka. Karena cinta kami kepada mereka berbeda, begitu berbeda
dengan cinta biasa. Ini benar-benar cinta yang murni dan tulus tanpa hasrat dan
ego. Cinta yang akan selalu mengalir untuk mereka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar