1.
Title : Jealousy
2.
Genre : AU, Life school, Romance
and other.
3.
Rated : PG 15/T
4.
Main Cast : Lee Sung Min, Park Hyun Ji.
5.
Author : Fortunia Ryu
7.
Twitter :
@ryu_woon
Story....
Author POV
Pagi awal musim dingin sedikit lebih
hangat daripada tadi malam. Secercah cahaya matahari bersinar walau terhalang
awan putih tipis di langit. Butiran – butiran salju sisa badai tadi malam mulai
mencair karena panas dari sang surya. Andaikan hari ini hari libur pasti
mayoritas orang akan memilih bergemul dengan selimut tebal di atas kasur
kesayangan mereka daripada memulai aktivitas.
Tapi sepertinya itu tidak berlaku
untuk Park Hyun Ji. Yeoja tersenyum saat menyibak gorden
kamarnya. Mata yeoja itu terpejam, menghirup udara yang masih tergolong
dingin ini dalam – dalam.
“Semangat!” Seru Hyun Ji sambil
mengepalkan tangannya di udara. Tak lama ia meraih gelang –pemberian namjachingu-nya
tadi malam- yang ada di atas meja belajarnya lalu memakainya. Hyun Ji kembali
tersenyum mengingat kejadian semalam.
Saat hendak pulang setelah berkencan dengan namjachingu-nya
salju turun membuat suhu di Seoul semakin dingin. Hyun Ji ingat betul bagaimana
wajah khawatir namjachingu-nya saat ia kedinginan lalu memakaikan sarung
tangan di kedua tangannya lalu menggosok-gosokan tangannya sendiri kemudian
menempelkannya di pipinya. Terlintas pula saat ia akan turun di mobil namjachingu-nya
ia sempat mencium pipi kiri namjachingu-nya itu. Hyu Ji memang tak
melihat ekspresi namjachingu-nya karena ia malu dan- senang. Bahkan saat
membayangkannya saja mampu membuat semburat merah di pipi yeoja berambut
hitam sepunggung itu.
“Ah, Molla molla. Park Hyun
Ji jangan pikirkan lagi. Aigoo~ memalukan.” Ujar Hyun Ji sebelum keluar
kamarnya. Wajahnya masih memanas saat teringat kejadian semalam.
“Putri Abeoji yang cantik
sudah bangun. Sarapan dulu sayang.” Hyun Ji tak menjawab namun ia mengecup pipi
eomma dan abeoji-nya. “Hyun Ji akan sarapan di sekolah saja.” Ya.
Sarapan di sekolah sama artinya dengan sarapan dengan namjachingu-nya.
“Ya sudah hati – hati. Sepertinya sudah ada yang menunggumu di depan.”
“Ne eomma.” Hyun Ji tersenyum senang lalu ia segera
berlari ke depan. Senyumnya langsung redup saat melihat namja yang
memakai seragam sama sepertinya tengah bersandar pada mobil Audi berwarna hitam
melatik itu.
“Kenapa kau yang menjemputku ?” Tanya Hyun Ji ketus, walaupun
demikian Hyun Ji tetap membuka pintu mobil itu sendiri dan masuk ke dalam tanpa
meminta ijin pada sang pemilik. Namja itu tersenyum ringan lalu ikut
masuk ke dalam. Ia menstater mobilnya lalu menjalankannya dengan kecepatan
sedang.
“Kau tak tahu ? Aku menjemputmu karena namjachingu-mu itu
yang menyuruhku. Kalau tidak mana mau aku mengantar yeoja cerewet dan
galak sepertimu. Aku heran kenapa Sung Min Hyeong bisa jatuh cinta
padamu.” Hyun Ji sedikit mengingat – ingat. Sepertinya semalam Sung Min tak
mengatakan apapun padanya kalau ia akan dijemput Kyu Hyun –sepupu Hyun Ji
sendiri sekaligus teman Sung Min-. Biasanya Sung Min akan memberitahunya karena
Hyun Ji dan Kyu Hyun itu seperti kucing dan tikus atau kucing dan angjing.
Intinya mereka tidak bisa akur, walaupun mereka saudara sepupu.
“Kenapa Sung Min Oppa tidak
mengatakan padamu kalau kau yang akan menjemputku. Dan jangan menghinaku Cho.
Setidaknya aku yeoja yang pengertian, kalau tidak aku tak mau berangkat
bersamamu.” Hyun Ji menjulurkan lidahnya pada Kyu Hyun yang dibalas seringaian
kecil dari Kyu Hyun.
“Kata Sung Min Hyeong, ia
tidak bisa menjemputmu karena ia harus berangkat lebih pagi hari ini. Sepupunya
akan sekolah di sekolah yang sama dengan kita, satu tingkat di bawahmu.
Sepupunya itu sangat cantik dan manis, wajah mereka juga sangat berbeda.
Menurutku mereka saudara jauh,” Kyu Hyun memberi jeda pada ucapannya, ia
melirik Hyun Ji yang duduk di sampingnya. Kyu Hyun tersenyum dalam hati lalu
melanjutkan ucapannya, “Menurutku mereka sangat serasi. Kau tahu Hyun Ji-ah yeoja
manis, cantik, feminim dan lemah lembut itu tipe wanita idaman Sung Min Hyeong.
Orang pasti akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih dan bisa saja kan
saudara jauh itu nanti akan menikah.”
Mata Kyu Hyun terus terfokus pada
jalanan. Tak ada respon dari Hyun Ji, akhirnya ia menoleh. Kyu Hyun sedikit
merasa bersalah. Wajah Hyun Ji terlihat murung tak seperti tadi pagi. Tapi apa
yang bisa ia perbuat jika sudah seperti ini. Jika ia meminta maaf juga Hyun Ji
pasti akan diam saja. Lagipula ia hanya ingin bercanda, ia tak tahu jika hari
ini mood Hyun Ji sedang tak stabil.
Mobil mereka memasuki gerbang
sekolah, Hyun Ji langsung turun setelah mereka ada di parkiran. “Kau merusak
moodku hari ini Cho!” Tungkas Hyun Ji sebelum ia menutup pintu mobil. Kyu Hyun
hanya menganggapnya angin lalu, toh nanti juga mereka akan akur lagi.
***
“Sung Min Oppa.” Teriak Hyun
Ji dari lorong, tapi sepertinya Sung Min yang ada beberapa meter di depannya
itu tak mendengar. Buktinya ia tetap berjalan malah sedikit berlari. Awalnya
Hyun Ji ingin berlari untuk mengejar langkah Sung Min tapi- “Eun Yeong-ah
dimana letak kelasmu ? Wajahmu terlihat lelah dan sedikit pucat. Bagaimana
kalau kau sakit ?” Hati Hyun Ji sedikit mencelos melihat tangan Sung Min
menyentuh wajah yeoja itu. Ia menggeram tertahan. Eun Yeong. Ya,
sepertinya itu nama yang Sung Min sebut tadi.
“10-6 oppa.” “Kenapa jauh sekali ?
sepertinya akan lebih baik jika kau pindah kelas agar kau tidak kelelahan
berjalan ke sana.” Eun Yeong menggeleng pelan. Ia tersenyum manis, Hyun Ji
ingat perkataan Kyu Hyun tadi pagi ‘yeoja itu sangat cantik dan manis’
dan harus Hyun Ji akui bahwa yeoja itu memang seperti apa yang Kyu Hyun
katakan. “Kalau begitu ayo ke kantin, tadi pagi kau belum sarapan aku tak mau
kalau kau sampai jatuh sakit.” Ujar Sung Min sambil meraih tangan Eun Yeong
mereka berjalan menjauh.
“Sepertinya Sung Min Oppa sangat
memperhatikan yeoja itu. Benar kata Kyu Hyun kalau mereka terlihat
seperti sepasang kekasih daripada sepupu.” Lirih Hyun Ji, gadis itu menatap
nanar punggung Sung Min yang menjauh darinya. Ia menghela napas lalu berbalik.
Niatnya untuk sarapan bersama Sung Min gagal total. Sepertinya kelas lebih baik
untuknya daripada kantin.
***
‘Sung Min Oppa nanti aku tunggu
di parkiran. Hari ini ekstra musik tidak ada jadi aku pulang jam pulang
sekolah’. Send. Hyun Ji merebahkan kepalanya di atas meja. Matanya hampir terpejam
jika ponsel di genggamannya bergetar. ‘Mianhae Hyun Ji-ah, Oppa hari ini
akan mengantar sepupuku memberi keperluan sekolahnya. Aku sudah meminta Kyu
Hyun untuk mengantarmu pulang. Eotteokhae ?’ Hyun Ji menghela napas. Kenapa
lagi – lagi sepupunya. Baru satu hari sepupu Sung Min di sini tapi kenapa sudah
merampas waktu Sung Min untuknya ?
‘Ne. Gwaenchana, selamat
bersenang – senang.’ Send. Hyun Ji kembali merebahkan kepalanya di atas
meja, ia terus menatap ponsel yang ia letakkan di hadapannya. Hyun Ji kembali
menghela napas. Tak ada balasan bahkan sampai bel masuk berbunyi. Setidaknya
ucapan semangat atau permintaan maaf lagi. Hyun Ji menggeleng pelan, tidak. Ia
tak mau kehilangan Sung Min. Ia bahkan harus bersaing dengan temannya dulu
untuk mendapatkan hati Sung Min dan kini- ia tak akan membiarkan itu terjadi.
Tak akan.
***
“Jalan.” Hanya itu yang diucapakan
Hyun Ji setelah masuk ke dalam mobil Kyu Hyun. Hyun Ji menyandarkan tubuhnya
mencari posisi senyaman mungkin lalu memejamkan matanya. Tak tahan melihat
sepupunya menjadi pendiam Kyu Hyun membuka suara. “Wae irae ?” Hyun Ji
tak menjawab. Yeoja itu sibuk dengan lamunannya dengan tangan yang
menyangga dagunya. Bagaimana jika Sung Min berpaling darinya ? Bagaimana jika Sung
Min meninggalkannya ? Tidak. Hyun Ji menggelengkan kepalanya menepis pikiran –
pikiran aneh yang ada di kepalanya.
“Yak. Park Hyun Ji kau kenapa ? Aneh
sekali.” Kyu Hyun kembali berseru dan kali ini Hyun Ji melirik sepupunya malas.
“Diamlah Cho.” Kyu Hyun mendengus. Pikirannya sedikit menerawan apa yang
membuat Hyun Ji tak bersemangat dan cenderung diam. Selang 5 menit mereka
terdiam hingga Hyun Ji kembali membuka suara. “Ini semua karenamu. Kau tahu
karena tadi pagi moodku rusak dan sekarang lebih parah.” Kyu Hyun diam ia
menunggu Hyun Ji melanjutkan ucapannya. “Sung Min Oppa. Hari ini aku
merasa ia seperti tak memperhatikanku. Ia terlihat sibuk memperhatikan
sepupunya itu Kyu.” Terdengar nada merajuk diakhir kalimat membuat Kyu Hyun
tersenyum miring.
Kyu Hyun mendesah dalam hati. ‘Sudah
kuduga, dasar tuan putri.’ Runtuk Kyu Hyun dalam hati. “Tentu saja, Eun Yeong
itu manis dan cantik. Ia juga tak manja, ia seperti tuan putri yang anggun.”
Hyun Ji mendelik tajam namun justru dibalas tawa kemenangan oleh Kyu Hyun.
“Aniyo aku bercanda. Sudah jangan
cemberut, wajarkan jika Sung Min Hyeong menjaga sepupunya. Sama seperti
aku menjagamu, Sung Min Hyeong tak pernah marah atau cemburu tak jelas
sepertimukan. Dasar labil. Kudengar Eun Yeong itu memang mudah jatuh sakit,
lagipula mereka pergi bukan untuk kencan tapi untuk membeli perlengkapan
sekolah Eun Yeong bukan ? Belum puas semalam kencan dengan Sung Min Hyeong.”
Hyun Ji merenggut. Ia memainkan seat belt kesal. “Tapi aku tadi melihatnya
mengusap kepala Eun Yeong. Aku tak suka Kyu.” Kyu Hyun kembali tertawa lalu
sebelah tangannya terangkat dan menyentuh pucuk kepala Hyun Ji. “Jangan manja.
Kau harus bisa mengerti Sung Min Hyeong seperti Sung Min Hyeong
mengerti sifat kekanakanmu itu.” Hyun Ji hanya tersenyum paska agar Kyu Hyun
berhenti menasehatinya.
“Lagipula Sung Min Hyeong
hanya tertarik padamu. Boneka kelinci~” Hyun Ji meringis saat tangan Kyu Hyun
mencubit pipi putihnya. “Yak Cho Kyu!! Sudah kukatakan berulang kali bukan
jangan sentuh pipiku.”
“Gomawo Kyu, setidaknya sekarang
lebih ringan.” Kyu Hyun hanya tersenyum membalas ucapan sepupunya. Wajah Hyun
Ji memang terlihat lebih cerah sekarang.
***
Park Hyun Ji POV
‘Jika nilai ulangan matematikamu
diatas 8. Aku akan mengajakmu jalan – jalan ke Myeongdeong seharian.’
Kutatap lembaran kertas di tanganku dalam, akhir – akhir ini hubungan kami
memang merenggang. 8,5. Sepertinya Kyu Hyun memang berbakat menjadi seorang
guru, tak sia – sia aku beberapa hari ini belajar keras untuk mata pelajaran
paling kubenci. Aku harus memanfaatkan ini baik – baik. Aku ingin hubungan kami
seperti dulu lagi.
‘Oppa, nilai matematikaku 8,5’.
Send.
‘Chukae. Pertahankan ne uri
chagiya~’. Mwo nde ? Hanya itu balasannya ? Oppa, kenapa kau
melupakan janjimu sendiri eoh ? Ah, tidak mungkin. Buang jauh – jauh pikiran
anehmu itu Park Hyun Ji. Lebih baik nanti aku menemuinya saja saat istirahat.
***
“Oppa,” aku berjalan
menghampirinya yang sedang makan dengan Eun Yeong. Jangan pikirkan yang macam –
macam Hyun Ji, mereka hanya saudara. “Hyun Ji-ah, ayo duduk. Mau oppa
pesankan sesuatu untukmu ?” Aku hanya menggeleng dan duduk di samping Sung Min Oppa.
Untuk sesaat kami hanya diam, tak mungkin aku mengatakan tentang janjinya saat
ini.
“Oppa aku ke perpustakaan
dulu. Annyeong Oppa, Eonni.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Eun
Yeong sepertinya anak baik, ya tidak sepantasnya aku cemburu padanya. “Hati –
hati Eun Yeong-ah, ingat jangan lari.” Tapi perhatian Sung Min Oppa
padanya itu berlebihan. Dan aku tak suka, itu menyebalkan. Hanya aku yang
diperhatikan Sung Min Oppa. Ah, Hyun Ji Babo. Buang jauh – jauh pikiran
itu. Kau harus bisa realistis dan tidak cemburuan lagi. Jangan labil!
“Hyun Ji-ah~,” aku menoleh sambil
tersenyum kaku karena baru tersadar dari pikiranku yang aneh – aneh.
“Sebenarnya ada apa ?” aku menunduk lalu kukeluarkan secarik kertas yang
dibagikan Jung Seonsaengnim tadi. Kuletakan kertas itu diatas meja. Sung
Min Oppa menatap kertas itu bingung sedangkan aku menatap Sung Min Oppa
harap – harap cemas. Ah, ayolah . . . ia tak pernah melupakan janjinya satu
kalipun padaku.
“Lalu ?”
“Oppa lupa ?” Wajahnya
terlihat berpikir keras namun pada akhirnya ia menggeleng. Ah- sudah kuduga.
Apa Sung Min Oppa mulai berubah karena sepupunya itu ?
“Oppa berjanji akan
mengajakku jalan – jalan ke Myeongdeong jika nilaiku diatas 8.” Tapi kenapa ?
Wajahnya masih terlihat ragu seperti ada beban.
“Hyun Ji,”
“Ne, waeyo Oppa ?”
“Mianhae, mulai sekarang
setiap hari Minggu Oppa tak bisa menemanimu. Oppa harap kau
mengerti, Oppa pergi dulu.” Kupejamkan mataku saat tangannya mengusap
puncuk kepalaku. Rasanya masih sama seperti seminggu yang lalu saat ia melakukan
ini padaku. Tapi mengapa- kita begitu jauh sekarang.
***
Lee Sung Min POV
“Hyeong, tadi kau saat
istirahat di mana ?” Tumben Kyu Hyun mengajakku bicara saat pelajaran. Ada apa
dengan anak ini ? Aneh. “Kantin, biasa sarapan.” Jawabku sekenanya, aku tetap
menghadap ke depan takut jika Park Seonsaengmin memergokiku tak
memperhatikannya aku bisa di keluarkan dari kelas. “Dengan siapa ?” Aish . . .
ada apa dengan bocah ini ? “Eun Yeong, tapi tadi Hyun Ji juga. Tapi Hyun Ji
hanya menemaniku. Katanya ia sudah sarapan dari rumah.”
“Dan kau percaya ?” Aku menoleh
menatapnya bingung.
“Tentu saja.”
“Hyun Ji tidak suka sarapan di pagi
hari jadi ia selalu sarapan di sekolah saat istirahat. Kau lupa Hyeong ?
Akhir – akhir ini ia jadi sedikit lebih kurus dan pendiam.” Ah benar. Hyun Ji
selalu sarapan bersamaku di sekolah tapi- hey! Berarti ia tadi tidak sarapan ?
“Akhir – akhir ini aku jarang melihatmu
bersama Hyun Ji, waeyo hyeong ? Kalian ada masalah ?” Masalah ? rasanya
tidak tapi- aku memang merasa akhir – akhir ini kami memang jauh. “Aku hanya
ingin mengingatkanmu, dia seperti adikku sendiri Hyeong. Mengecewakannya
berarti mengecewakanku. Membuatnya menangis sama dengan memukulku.”
***
Author POV
“Kata Nam Seongsaengnim nilai
ulangan kimiamu hanya 7,5 padahal dari kelas satu nilaimu paling rendah 9. Kau
kenapa Poor Princess ?” Hyun Ji masih diam di atas ranjang dengan
selimut yang menutupi tubuhnya hingga dada dan boneka teddy bear di dekapannya.
Kyu Hyun mendengus kesal karena Hyun Ji tak meresponnya padahal ia sudah
memancing gadis itu dengan memanggilnya ‘Poor Princess’.
“Pergi dari kamarku Oppa.” Kyu
Hyun mengalihkan pandangannya dari langit yang terlihat dari jendela kamar Hyun
Ji menatap gadis itu khawatir. “Mulai sekarang kau akan kuantar jemput. Sarapan
bersamaku di sekolah dan jangan menolak.”
“Tapi-” suara Hyun Ji terdengar
parau dan gadis itu tak jadi melanjutkan ucapannya karena Kyu Hyun menatapnya
tajam. “Kau sudah sakit mau apa lagi sekarang ? Perhatikan kesehatanmu.”
***
Hyun Ji menggeram kesal. 4 hari ia
tak masuk sekolah dan saat masuk sekolah ia di parkiran saja ia sudah melihat namjachingu-nya
merangkul gadis lain. “Kyu Hyun, sepertinya Eun Yeong memang bukan sekedar
sepupu untuk Sung Min.” Kyu Hyun tak menyahut. Ia memilih melangkah menuju
kelasnya yang mau tak mau Hyun Ji mengikutinya juga. Hyun Ji masih menggerutu,
selama ia sakit Sung Min tak menjenguknya sama sekali hanya menanyakan
keadaannya saja.
“Kau di sini untuk belajar jadi
belajar yang benar.” Hyun Ji hanya mengangguk. “Aku tak mau mendengar nilaimu
jatuh lagi.” Lagi – lagi Hyun Ji hanya mengangguk. “Aku akan membantumu untuk
masalah itu. Walau sebenarnya itu bukan masalah jika kau tak membesar –
besarkannya.” Hyun Ji langsung tersenyum cerah lalu berbalik untuk masuk ke
dalam kelasnya.
***
“Oppa.” Sung Min mendongak.
Panggilan Hyun Ji yang keras membuat mereka –Sung Min, Hyun Ji dan Eun Yeong-
ditatap oleh petugas perpustakaan. “Waeyo ?” tanya Sung Min lembut.
“Bisa kau tinggalkan kami berdua Eun Yeong-ssi ?” Sung Min mengeryit
bingung. Kenapa dengan gadisnya ? 4 hari tak masuk sikapnya sudah berbeda dari
yang dulu. Yang selalu manja padanya.
Eun Yeong melenggang keluar
perpustakaan, Hyun Ji duduk di bangku tepat di samping Sung Min. Ia mengambil
napas lalu menghembuskannya pelan. “Kenapa Oppa tak pernah ada waktu untukku ?”
Sung Min hendak membuka mulut tapi Hyun Ji lebih dulu berucap, “waktumu habis
untuk Eun Yeong. Kalian hanya sepupu tapi kenapa kau begitu perhatian padanya
hingga melupakanku. Kau bahkan tak memperhatikanku lagi, kau melupakanku. Jadi
bisakah Oppa menjaga jarak dengan Eun Yeong ?”
“Hyun Ji, kau tahu Oppa benar
– benar harus menjaganya. Dia tak sepertimu, ia mudah sakit jika terlalu lelah.
Aku tak ingin sesuatu terjadi-” “Tapi saat aku sakit Oppa tak
menjengukku sama sekali. Walau hanya sekedar untuk melihatku saja tidak.
Bisakah Oppa menjaga perasaanku ?” Mata Hyun Ji mulai berkaca – kaca.
Bahkan untuk mendengar kata tidak dari mulut Sung Min sangat sulit.
“Jadi kau lebih memilihnya ?” tanya
Hyun Ji lirih. Gadis itu menunduk, kepalanya terasa berat sekarang. “Jangan
kekanak-kanakan Hyun Ji. Bersikaplah dewasa. Kau itu terlalu pencemburu. Kau
tahu jika seperti ini terus aku bisa muak denganmu.” Hyun Ji memejamkan matanya
mendengar bentakan dari Sung Min. Ya, bentakan pertama Sung Min untuknya. . .
Hyun Ji bangkit. Belum lama ia
berjalan untuk meninggalkan perpustakaan tubuhnya oleng lalu tumbang. Dengan
segera Sung Min dan siswa yang ada di sana membawa Hyun Ji ke ruang kesehatan.
Panas. Pucat. Dan gelisah. Itulah yang menbuat Sung Min bingung dan bersalah.
“Jika masih sakit jangan masuk
dulu.” Sung Min menyodorkan teh hangat pada Hyun Ji yang membuka matanya
perlahan. Hyun Ji membuang tatapannya sembarang lalu perlahan kembali
memejamkan matanya. “Masih pusing ?” Hyun Ji tak menjawab. Tapi kepalanya benar
– benar sangat pening membuatnya enggan membuka mata.
“Mau mendengar penjelasanku ?” Hyun
Ji tak mengangguk atau menggeleng. Gadis itu masih enggan menatap Sung Min.
“Eun Yeong, benar- ia bukan sepupuku. Ia anak Lee Ahjussi supir keluarga
kami yang meninggal 2 bulan yang lalu karena kecelakaan saat akan mengantar
Hyun Mi Noona ke Jeju. Beliau meninggalkan seorang anak perempuan. Eun Yeong.
Jantungnya lemah sejak lahir. Jadi eomma memutuskan untuk mengadopsi Eun Yeong,
aku tahu jika kau tahu Eun Yeong tak ada hubungan darah apapun denganku kau
pasti akan marah. Kau tak pernah mengijinkanku untuk dekat dengan gadis lain
bukan ? Hyun Ji, mianhae chagiya. . .” Sung Min mengusap kening Hyun Ji
lembut, masih panas. “Setiap hari Minggu aku mengatarnya untuk check up
kesehatannya. Maaf jika aku melupakanmu akhir – akhir ini. Aku tak ada maksud
untuk menyakitimu, melupakanmu, apalagi mengkhianatimu. Aku hanya khawatir pada
kesehatan Eun Yeong. Tapi aku melupakan kesehatanmu. Typus-mu kambuh
lagi karena aku. Mianhae.”
Hyun Ji membuka suaranya perlahan,
Sung Min tersenyum dan membantu Hyun Ji untuk duduk. Tubuhnya masih terasa
lemas sekali. “Memaafkanku Princess ?” Hyun Ji mengangguk lemah. Sung
Min langsung memeluknya erat, mengecup puncuk kepala Hyun Ji berkali – kali.
“Jangan sakit lagi, kau membuat Oppa khawatir. Naekkeoya, uri
yepposeo yeoja. Jeongmal saranghamnida.” Hyun Ji lagi – lagi mengangguk.
Tenggorokannya terasa kering membuatnya malas membuka suara.
“Aku tak akan sakit jika Oppa
memperlakukanku dengan benar. Jangan acuhkan aku lagi. Yang aku butuhkan adalah
perhatianmu. Aku tak bisa hidup dengan baik tanpamu Oppa.”
“Aku tak bisa hidup dengan baik jika
senyummu lenyap dari jarak pandangku Hyun Ji-ah.”
End
NB : Ini pernah saya kirim untuk lomba di Lomba FP _*ELF Indonesia*_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar