1.
Title :
To My Beloved...
2.
Author :
Fortunia Ryu
3.
Cast(s) : Lee
Dong Hae, Jung/Lee Hyo Eun and other cast find by your self.
4.
Lenght :
Oneshoot.
5.
Genre : AU,
Romance, Married Life, Fluff.
6.
Rated : PG
15/T
7.
Facebook : https://www.facebook.com/komozaku.mitsuyukikrillahKhElf
8.
Disclaimer : Story
is Mine!! Typo(s) anywhere. No Plagiat. Saengil Chukae hamnida uri Ikan
Nemo J.
Semoga makin ganteng, sehat selalu, makin disayang sama ELF dan Fishy...
Kariernya makin sukses..
Story....
Author
POV
Jung Hyo Eun. Yeoja itu terjaga dari
tidurnya. Ia menatap rintik-tintik hujan dari jendela kamarnya. Sesekali ia
melirik benda persegi yang ingin dipatahkan atau mungkin dilemparnya sebagai
pelampiasan emosinya yang kini tengah meluap-luap. Sesekali gerutuannya
menemani dinginnya malam. Sudah hampir pukul 2 pagi tapi Hyo Eun sepertinya
masih enggan memejamkan mata.
“Awas
kau Lee Dong Hae. Aku tidak akan menunggumu lagi, silahkan bersenang-senang
saja diluar sana dengan assisten manager barumu itu. Aku tidak peduli!! Aku
tidak peduli. Aku tidak peduli!!!” Hyo Eun menghempaskan tubuhnya begitu saja
diatas ranjang. Ia menarik selimut cepat dan memejamkan matanya walau
sebenarnya ia tak bisa tidur.
Dan ini semua karena- Lee Dong Hae!!
***
Hyo Eun terlihat sibuk dengan
bahan-bahan makanan dihadapannya. Begitu serius untuk melupakan kekesalannya
semalam hingga ia tak menyadari bahwa ibu mertua-nya sudah berdiri
dibelakangnya sambil mengegeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ini sangat wajar
terjadi pada wanita yang sedang hamil muda bukan ?
“Hyo
Eun.” Sebuah suara menghentikan aktivitas memotong sayurannya. Ia menoleh dan
tersenyum hangat saat melihat wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu
kandungnya sendiri.
“Eommonim~”
Nyonya Lee melangkah mendekati Hyo Eun. Beliau melihat apa yang dikerjakan Hyo
Eun- sebuah senyuman hangat terbit dari sudut bibirnya. Sungguh bukan kebiasaan
menantunya memasak hingga membuat dapur seperti kapal yang terkena badai. Apa
ini bawaan dari janin yang dikandungnya yang mewarisi sifat putranya itu ?
“Wae
Eommonim ? Ah- mianhae aku membuat dapur berantakan. Nanti aku akan
membersihkannya.” Nyonya Lee menggeleng pelan.
“Biar
Eomma saja yang membersihkan ini. Setelah memasak kau istrirahat saja. Jaga
kandunganmu baik-baik Hyo Eun-ah. Kau ingat pesan Nam Uisanim bukan ? Kehamilan
pertama itu paling rentang.” Hyo Eun merenggut ia memotong-motong wortel dengan
asal, sementara Nyonya Lee mulai membereskan piring-piring kotor.
“Eommonim
melarangku ?” Nyonya Lee berbalik. Kenapa menantunya yang manis menjadi begitu
sensitif ?
“Eomma
tidak melarangmu, kau boleh melakukan hal apapun yang kau suka asal jangan
sampai terlalu lelah. Kau sedang membuat apa Hyo Eun-ah ?”
“Eoh-
ini aku membuat japchae untuk Dong Hae Oppa.” Nyonya Lee bergidik ngeri saat
Hyo Eun mengiris sekitar 10-15 cabai-mungkin-.
“Dan
hanya Dong Hae Oppa yang boleh memakannya.” Final. Dong Hae tidak kuat makan
makanan pedas tapi- mana mungkin putranya akan mengacuhkan permintaan istrinya
yang sedang-bisa dibilang- mengidam ini bukan ?
***
Hyo Eun melangkahkan kakinya
menyusuri jalan kota Seoul sambil tersenyum riang. Dress cream selutut dengan
motif bunga-bunga dengan syal abu-abu melikat ditubuhnya. Juga sebuah banda
putih membuat siapa saja yang melihatnya ia tampak seperti gadis remaja berusia
17 tahun. Siapa yang akan menyangka ia seorang wanita berusia 23 tahun dan
tengah hamil 3 bulan.
Hyo Eun menatap gedung apartement
yang ada di depannya. Ia sedikit mendongak lalu tersenyum girang. Ia ingin
meluapkan rasa rindunya pada suaminya. Hyo Eun merapikan rambutnya sebelum ia
memencet bel apartement suaminya-dan teman-teman suaminya(Super Junior)-.
“Annyeong
Oppa~” Hyo Eun menunduk memberi hormat pada dongsaeng-bisa dibilang
begitu-suaminya. Dengan gerakan tangan Ryeowook mengisyaratkan Hyo Eun untuk
masuk.
“Donghae
Oppa ada ? Aku harap ia belum pergi.” Ryeowook tampak berpikir, tak lama
kemudian ia tersenyum.
“Sepertinya
belum. Tapi sebentar lagi ia akan pergi mungkin ia sedang dikamar untuk
bersiap-siap. Aku tinggal dulu ne.” Hyo Eun mengangguk. Lantas ia melangkahkan
kakinya menuju kamar Donghae.
Kriyeettt
“Oppa~”
Dong Hae awalnya tersenyum tapi tak lama senyumnya memudar saat ia mendapati
ekspresi yang janggal dari istrinya. Hyo Eun menghempaskan kotak berisi makanan
begitu saja lalu ia berbalik dan berlari, sadar akan suatu hal Dong Hae
langsung menyentakkan tangan Jina yang masih memegangi dasinya yang belum
terpasang dengan benar. Ia menatap sebuah kotak bekal –yang menurutnya-
untuknya, lalu menyambarnya.
“Lee
Hyo Eun geumanhae!!” itulah petikan Dong Hae saat ia melihat siluet
istrinya.
***
Hyo Eun tak mungkin berlari. Itulah
persepsi Dong Hae. ‘yah- hanya butuh ketelitian untuk mengenalinya ditempat
umum seperti ini’. Dengan hanya menggunakan kaca mata hitam yang besar ia
bergabung dengan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Langit kelabu menjadi
semakin menghitam dan jalanan di Seoul mulai menyepi. Tentu saja hujan akan
segera turun.
Dong Hae menghela napas. Rintik
hujan mulai membasahi tubuhnya, dengan enggan akhirnya Dong Hae memilih untuk
berteduh. Dengan agak sedikit berlari Dong Hae akhirnya berteduh di halte bus.
Ada banyak orang disana. Dong Hae duduk dipaling ujung bangku sambil
menyandarkan kepalanya. Ia hanya berharap Hyo Eun baik-baik saja sekarang.
Setidaknya Hyo Eun bukan gadis ceroboh yang emosional tapi setelah Hyo Eun
hamil Dong Hae menyadari perubahan emosi Hyo Eun, itu yang membuatnya khawatir.
Sebuah bus datang ditengah-tengah
rintik hujan yang semakin deras. Ia mengeratkan blazer hitam yang dipakainya.
Setelah orang-orang itu masuk ke dalam bus perhatian Dong Hae tertuju pada
sosok yang tengah meringkuk dengan kepala yang ditutup syal abu-abu diujung
bangku yang lain. Dong Hae memincingkan matanya. ‘Dengan dress yang hanya
selutut itu apa ia tidak kedinginan?’. Dong Hae kembali terperanjat. Aigoo~
Dong Hae menyentuh pundak orang itu.
Hati Dong Hae terenyuh. Hyo Eun. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ketara
sekali ia tengah kedinginan. Dengan cepat Dong Hae melepas blazernya hingga ia
kini hanya mengenakan kaos lengan pendek. Dong Hae mengenakan blazernya pada
Hyo Eun, kemudian dipeluknya tubuh itu agar tidak kedinginan.
“Oppa~”
“Aku
disini bersamamu. Tenanglah.” Donghae melupakan jadwalnya dan getaran dari
ponselnya. Dan yeoja dalam pelukannya inilah yang membuatnya lupa.
***
Lee
Dong Hae POV
“Dari
siapa ?” aku tersentak dan reflek kusembunyikan ponselku darinya. Aku hanya
menggeleng pelan.
“Bukan
siapa-siapa.” Kurengkuh kutubuhnya, kubawa ia dalam pelukanku. Kusandarkan
kepala didadaku karena katanya ini membuatnya nyaman.
“Tadi
aku menemukan ini. Kenapa membuangnya ? Kau tidak sayang membuang makanan
seperti ini. Katamu kita tidak boleh membuang makanan secara percuma karena ada
banyak orang diluar sana yang masih kesulitan untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya.” Jurus terakhirku untuk
meluluhkannya tentu saja dengan jiwa sosial. Ia begitu menyukai seseorang yang
memiliki jiwa sosial yang tinggi. Padahal kau tahu sendirilah aku seperti apa.
Aku akui aku memang sedikit kekanakan-katanya- dan overprotective jika
sudah menyangkut semua hal tentangnya tapi itu wajar bukan aku suaminya!!
“Aku
membuatnya khusus untukmu. Tapi karena semalam kau mengabaikan pesan dan
telepon dariku- juga tadi acara MEMAKAIKAN DASI yang memuakkan-munurutmu saja
sayang- aku jadi membuangnya.” Aku hanya mengangguk dengan tampang innocent.
“Kalau
ini special untukku aku mau memakannya tapi kau harus menyuapiku ?” Hyo Eun
mengangguk. Ia mengambil kotak yang kuletakkan disampingku lalu membukanya.
Hemm, japchae rupanya.. kelihatannya tidak buruk.
“Aa-“
kubuka mulutku lebar-lebar saat ia mengisyaratkanku untuk membuka mulutku.
Wait!! Ini- ini japchae atau japchae cabai ? Belum sempat kukunyah Hyo Eun
sudah menyodorkan sumpitnya lagi didepanku.
“Oppa
buka mulutmu.” Aku menggeleng pelan, aku langsung menahan pingganya yang hendak
berpaling dariku. Ia terlihat kecewa dan cemberut. Mati-matian kutelan sayuran
dan mie yang sudah ada didalam mulutku. Uhhh~ aku ingin muntah.
“Masakanku
tidak enak ya, hingga kau tak ingin memakannya lagi ?” aku menggeleng pelan.
Kubaliknya tubuhnya hingga kini ia menghadap kearahku kuusap dahinya sayang
sebelum mengecupnya lama.
“Mashitaa~
neomu mashita.” Kucekal tangannya yang berusaha memasukan beberapa sayuran
kemulutnya. Tapi dia memaksa dan belum ada satu detik sayuran itu berada
dimulutnya Hyo Eun memutahkannya.
“Ini
sangat pedas oppa, kenapa tidak bilang ?”
“Aniya
ini enak. Mungkin karena kau sedang hamil jadi seperti ini. Ini sudah hampir
tengah hari. Ayo pulang, hujannya sudah berhenti.” Dia terlihat tidak percaya
dan masih menatapku curiga tapi dengan cepat kuraih tanggan menuntunnya untuk
berdiri tapi sepertinya ia masih tetap kukuh dan enggan berdiri. Ayolah~
bagaimanapun juga aku sudah lelah apalagi dia ?
“Gomawo,
kau yang terbaik Oppa.” Hyo Eun mengecup pipiku ringan. Ini yang pertama
kalinya- apa ini bawaan dari anakku juga eoh ?
“Ayo
pulang.” Ia menelusupkan jarinya diruas-ruas jariku. Hufft~ syukurlah suasana
hatinya sudah kembali membaik. Aku pikir ini akan sangat lama. Jung- ah ani Lee
Hyo Eun aku akan selalu menjagamu, terima kasih karena telah memberikan kebahagaian
dan rasa hangat ini untukku. Terima kasih sudah menarikku dari lubang hitam
yang hampir menenggelamkanku dalam kebencian. Saranghae- Uri Lee Hyo Eun.
***
Lee
Hyo Eun
“Chagiya~
kau mau kemana ?” kuhentikan aktivitasku menyingkirkan tangannya yang berada
dipinggangku. Kenapa dia sudah bangun ? Tidak biasanya. Paling cepat ia bangun
jam 10 pagi saat tidur dirumah. Ck! Masih jam 5 pagi.
“Hyo
Eun...” aku mendengus kesal. Kenapa malah mengeratkan pelukannya, ini jadi
sulit Lee Dong Hae!!
“Oppa
lepaskan.”
“Kau
mau kemana ? Ini masih pagi, uhh~ kenapa udaranya begitu dingin ?” Aish!!
Sekali ikan tetap saja ikan.
“Aku
mau membuatkanmu chicken doritang kesukaanmu Oppa. Jadi singkirkan
tanganmu.” Aku menghela napas berat. Sebenarnya apa maunya sih ?
“Oppa-”
“Jangan
bergerak temani aku disini. Biarkan Eomma saja yang menyiapkan sarapan. Eomma
pasti tidak ingin kau dan janin didalam sini lelah. Lagipula ini masih sangat
pagi.” Aku mendengus pelan. Apa dia tidak mau memakan masakanku lagi ? Apa
karena japchae buatanku kemarinitu ? Apa masakan buatan assistentnya itu lebih
enak seperti yang dikatakan Ryeowook Oppa ? Ah~ MOLLA!!!
“Huwaa~
hikss- hikksss Lee Dong Hae- k-kau jahat hiksss. Nappeun!!” Apa dia
sudah tidak mencintaiku lagi ? Kenapa melarangku ? Aku kan hanya ingin
memasakan sesuatu untuknya. Lihatlah ia sekarang melepaskan pelukannya. Hikss.
“Ya-ya-ya
ssstt- uljima Hyo Eun-ah. Aigoo~ bukan begitu maksudku chagiya~” Apa
maksudnya bukan maksudku ? Jelas-jelas ia melarangku. Hiks aku membencimu
ikan!!
“Bukan
begitu- Hyo Eun~ dengarkan aku. Berbaliklah. Hyo Eun.” Dengan kesal aku
berbalik menghadapnya. Tuhan- kenapa aku selalu luluh setelah melihat wajahnya
?
“Apa
aku terlihat tidak menyayangimu lagi ?”
“Ani.”
“Apa
dimataku penuh dengan kebohongan ?”
“Ani.”
“Apa
kau merasa hatiku dingin dengan perhatianmu ?”
“Ani.
Tapi- kau yang-”
“Itu
bentuk perhatian dan kasih sayangku padamu. Tak masalah bagiku jika harus
memakan masakanmu yang super pedas itu. Tapi aku melarangmu karena aku tak
ingin kau terlalu lelah sayang. Ayolah Hyo Eun-ah, tidak mungkin aku berpaling
darimu.” Grepp. Hah- hangatnya. Kutelusupkan kepalaku didadanya, mencari
kehangatan yang lebih disana. Benar-benar nyaman.
“Lain
kali kendalikan emosimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayo tidur.”
END
NB : Ini pernah saya kirim ke SJFF untuk lomba fluff-nya menyambut Ultah Dong Hae Oppa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar