About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Sabtu, 22 Maret 2014

[Oneshoot] To My Beloved - Lee Dong Hae


1.        Title                      : To My Beloved...
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast(s)                  : Lee Dong Hae, Jung/Lee Hyo Eun and other cast find by your self.
4.        Lenght                  : Oneshoot.
5.        Genre                   : AU, Romance, Married Life, Fluff.
6.        Rated                   : PG 15/T
7.        Facebook              : https://www.facebook.com/komozaku.mitsuyukikrillahKhElf
8.        Disclaimer            : Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No Plagiat. Saengil Chukae hamnida uri Ikan Nemo J. Semoga makin ganteng, sehat selalu, makin disayang sama ELF dan Fishy... Kariernya makin sukses..


Story....


Author POV

            Jung Hyo Eun. Yeoja itu terjaga dari tidurnya. Ia menatap rintik-tintik hujan dari jendela kamarnya. Sesekali ia melirik benda persegi yang ingin dipatahkan atau mungkin dilemparnya sebagai pelampiasan emosinya yang kini tengah meluap-luap. Sesekali gerutuannya menemani dinginnya malam. Sudah hampir pukul 2 pagi tapi Hyo Eun sepertinya masih enggan memejamkan mata.


“Awas kau Lee Dong Hae. Aku tidak akan menunggumu lagi, silahkan bersenang-senang saja diluar sana dengan assisten manager barumu itu. Aku tidak peduli!! Aku tidak peduli. Aku tidak peduli!!!” Hyo Eun menghempaskan tubuhnya begitu saja diatas ranjang. Ia menarik selimut cepat dan memejamkan matanya walau sebenarnya ia tak bisa tidur.

            Dan ini semua karena- Lee Dong Hae!!

***

            Hyo Eun terlihat sibuk dengan bahan-bahan makanan dihadapannya. Begitu serius untuk melupakan kekesalannya semalam hingga ia tak menyadari bahwa ibu mertua-nya sudah berdiri dibelakangnya sambil mengegeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ini sangat wajar terjadi pada wanita yang sedang hamil muda bukan ?

“Hyo Eun.” Sebuah suara menghentikan aktivitas memotong sayurannya. Ia menoleh dan tersenyum hangat saat melihat wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.

“Eommonim~” Nyonya Lee melangkah mendekati Hyo Eun. Beliau melihat apa yang dikerjakan Hyo Eun- sebuah senyuman hangat terbit dari sudut bibirnya. Sungguh bukan kebiasaan menantunya memasak hingga membuat dapur seperti kapal yang terkena badai. Apa ini bawaan dari janin yang dikandungnya yang mewarisi sifat putranya itu ?

Wae Eommonim ? Ah- mianhae aku membuat dapur berantakan. Nanti aku akan membersihkannya.” Nyonya Lee menggeleng pelan.

“Biar Eomma saja yang membersihkan ini. Setelah memasak kau istrirahat saja. Jaga kandunganmu baik-baik Hyo Eun-ah. Kau ingat pesan Nam Uisanim bukan ? Kehamilan pertama itu paling rentang.” Hyo Eun merenggut ia memotong-motong wortel dengan asal, sementara Nyonya Lee mulai membereskan piring-piring kotor.

“Eommonim melarangku ?” Nyonya Lee berbalik. Kenapa menantunya yang manis menjadi begitu sensitif ?

“Eomma tidak melarangmu, kau boleh melakukan hal apapun yang kau suka asal jangan sampai terlalu lelah. Kau sedang membuat apa Hyo Eun-ah  ?”

“Eoh- ini aku membuat japchae untuk Dong Hae Oppa.” Nyonya Lee bergidik ngeri saat Hyo Eun mengiris sekitar 10-15 cabai-mungkin-.

“Dan hanya Dong Hae Oppa yang boleh memakannya.” Final. Dong Hae tidak kuat makan makanan pedas tapi- mana mungkin putranya akan mengacuhkan permintaan istrinya yang sedang-bisa dibilang- mengidam ini bukan ?

***

            Hyo Eun melangkahkan kakinya menyusuri jalan kota Seoul sambil tersenyum riang. Dress cream selutut dengan motif bunga-bunga dengan syal abu-abu melikat ditubuhnya. Juga sebuah banda putih membuat siapa saja yang melihatnya ia tampak seperti gadis remaja berusia 17 tahun. Siapa yang akan menyangka ia seorang wanita berusia 23 tahun dan tengah hamil 3 bulan.

            Hyo Eun menatap gedung apartement yang ada di depannya. Ia sedikit mendongak lalu tersenyum girang. Ia ingin meluapkan rasa rindunya pada suaminya. Hyo Eun merapikan rambutnya sebelum ia memencet bel apartement suaminya-dan teman-teman suaminya(Super Junior)-.

“Annyeong Oppa~” Hyo Eun menunduk memberi hormat pada dongsaeng-bisa dibilang begitu-suaminya. Dengan gerakan tangan Ryeowook mengisyaratkan Hyo Eun untuk masuk.

“Donghae Oppa ada ? Aku harap ia belum pergi.” Ryeowook tampak berpikir, tak lama kemudian ia tersenyum.

“Sepertinya belum. Tapi sebentar lagi ia akan pergi mungkin ia sedang dikamar untuk bersiap-siap. Aku tinggal dulu ne.” Hyo Eun mengangguk. Lantas ia melangkahkan kakinya menuju kamar Donghae.

Kriyeettt

“Oppa~” Dong Hae awalnya tersenyum tapi tak lama senyumnya memudar saat ia mendapati ekspresi yang janggal dari istrinya. Hyo Eun menghempaskan kotak berisi makanan begitu saja lalu ia berbalik dan berlari, sadar akan suatu hal Dong Hae langsung menyentakkan tangan Jina yang masih memegangi dasinya yang belum terpasang dengan benar. Ia menatap sebuah kotak bekal –yang menurutnya- untuknya, lalu menyambarnya.

“Lee Hyo Eun geumanhae!!” itulah petikan Dong Hae saat ia melihat siluet istrinya.

***

            Hyo Eun tak mungkin berlari. Itulah persepsi Dong Hae. ‘yah- hanya butuh ketelitian untuk mengenalinya ditempat umum seperti ini’. Dengan hanya menggunakan kaca mata hitam yang besar ia bergabung dengan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Langit kelabu menjadi semakin menghitam dan jalanan di Seoul mulai menyepi. Tentu saja hujan akan segera turun.
           
            Dong Hae menghela napas. Rintik hujan mulai membasahi tubuhnya, dengan enggan akhirnya Dong Hae memilih untuk berteduh. Dengan agak sedikit berlari Dong Hae akhirnya berteduh di halte bus. Ada banyak orang disana. Dong Hae duduk dipaling ujung bangku sambil menyandarkan kepalanya. Ia hanya berharap Hyo Eun baik-baik saja sekarang. Setidaknya Hyo Eun bukan gadis ceroboh yang emosional tapi setelah Hyo Eun hamil Dong Hae menyadari perubahan emosi Hyo Eun, itu yang membuatnya khawatir.

            Sebuah bus datang ditengah-tengah rintik hujan yang semakin deras. Ia mengeratkan blazer hitam yang dipakainya. Setelah orang-orang itu masuk ke dalam bus perhatian Dong Hae tertuju pada sosok yang tengah meringkuk dengan kepala yang ditutup syal abu-abu diujung bangku yang lain. Dong Hae memincingkan matanya. ‘Dengan dress yang hanya selutut itu apa ia tidak kedinginan?’. Dong Hae kembali terperanjat. Aigoo~

            Dong Hae menyentuh pundak orang itu. Hati Dong Hae terenyuh. Hyo Eun. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ketara sekali ia tengah kedinginan. Dengan cepat Dong Hae melepas blazernya hingga ia kini hanya mengenakan kaos lengan pendek. Dong Hae mengenakan blazernya pada Hyo Eun, kemudian dipeluknya tubuh itu agar tidak kedinginan.

“Oppa~”

“Aku disini bersamamu. Tenanglah.” Donghae melupakan jadwalnya dan getaran dari ponselnya. Dan yeoja dalam pelukannya inilah yang membuatnya lupa.

***

Lee Dong Hae POV

“Dari siapa ?” aku tersentak dan reflek kusembunyikan ponselku darinya. Aku hanya menggeleng pelan.

“Bukan siapa-siapa.” Kurengkuh kutubuhnya, kubawa ia dalam pelukanku. Kusandarkan kepala didadaku karena katanya ini membuatnya nyaman.

“Tadi aku menemukan ini. Kenapa membuangnya ? Kau tidak sayang membuang makanan seperti ini. Katamu kita tidak boleh membuang makanan secara percuma karena ada banyak orang diluar sana yang masih kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.”  Jurus terakhirku untuk meluluhkannya tentu saja dengan jiwa sosial. Ia begitu menyukai seseorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Padahal kau tahu sendirilah aku seperti apa. Aku akui aku memang sedikit kekanakan-katanya- dan overprotective jika sudah menyangkut semua hal tentangnya tapi itu wajar bukan aku suaminya!!

“Aku membuatnya khusus untukmu. Tapi karena semalam kau mengabaikan pesan dan telepon dariku- juga tadi acara MEMAKAIKAN DASI yang memuakkan-munurutmu saja sayang- aku jadi membuangnya.” Aku hanya mengangguk dengan tampang innocent.

“Kalau ini special untukku aku mau memakannya tapi kau harus menyuapiku ?” Hyo Eun mengangguk. Ia mengambil kotak yang kuletakkan disampingku lalu membukanya. Hemm, japchae rupanya.. kelihatannya tidak buruk.

“Aa-“ kubuka mulutku lebar-lebar saat ia mengisyaratkanku untuk membuka mulutku. Wait!! Ini- ini japchae atau japchae cabai ? Belum sempat kukunyah Hyo Eun sudah menyodorkan sumpitnya lagi didepanku.

“Oppa buka mulutmu.” Aku menggeleng pelan, aku langsung menahan pingganya yang hendak berpaling dariku. Ia terlihat kecewa dan cemberut. Mati-matian kutelan sayuran dan mie yang sudah ada didalam mulutku. Uhhh~ aku ingin muntah.

“Masakanku tidak enak ya, hingga kau tak ingin memakannya lagi ?” aku menggeleng pelan. Kubaliknya tubuhnya hingga kini ia menghadap kearahku kuusap dahinya sayang sebelum mengecupnya lama.

Mashitaa~ neomu mashita.” Kucekal tangannya yang berusaha memasukan beberapa sayuran kemulutnya. Tapi dia memaksa dan belum ada satu detik sayuran itu berada dimulutnya Hyo Eun memutahkannya.

“Ini sangat pedas oppa, kenapa tidak bilang ?”

Aniya ini enak. Mungkin karena kau sedang hamil jadi seperti ini. Ini sudah hampir tengah hari. Ayo pulang, hujannya sudah berhenti.” Dia terlihat tidak percaya dan masih menatapku curiga tapi dengan cepat kuraih tanggan menuntunnya untuk berdiri tapi sepertinya ia masih tetap kukuh dan enggan berdiri. Ayolah~ bagaimanapun juga aku sudah lelah apalagi dia ?

Gomawo, kau yang terbaik Oppa.” Hyo Eun mengecup pipiku ringan. Ini yang pertama kalinya- apa ini bawaan dari anakku juga eoh ?

“Ayo pulang.” Ia menelusupkan jarinya diruas-ruas jariku. Hufft~ syukurlah suasana hatinya sudah kembali membaik. Aku pikir ini akan sangat lama. Jung- ah ani Lee Hyo Eun aku akan selalu menjagamu, terima kasih karena telah memberikan kebahagaian dan rasa hangat ini untukku. Terima kasih sudah menarikku dari lubang hitam yang hampir menenggelamkanku dalam kebencian. Saranghae- Uri Lee Hyo Eun.

***

Lee Hyo Eun

“Chagiya~ kau mau kemana ?” kuhentikan aktivitasku menyingkirkan tangannya yang berada dipinggangku. Kenapa dia sudah bangun ? Tidak biasanya. Paling cepat ia bangun jam 10 pagi saat tidur dirumah. Ck! Masih jam 5 pagi.

“Hyo Eun...” aku mendengus kesal. Kenapa malah mengeratkan pelukannya, ini jadi sulit Lee Dong Hae!!

“Oppa lepaskan.”

“Kau mau kemana ? Ini masih pagi, uhh~ kenapa udaranya begitu dingin ?” Aish!! Sekali ikan tetap saja ikan.

“Aku mau membuatkanmu chicken doritang kesukaanmu Oppa. Jadi singkirkan tanganmu.” Aku menghela napas berat. Sebenarnya apa maunya sih ?

“Oppa-”

“Jangan bergerak temani aku disini. Biarkan Eomma saja yang menyiapkan sarapan. Eomma pasti tidak ingin kau dan janin didalam sini lelah. Lagipula ini masih sangat pagi.” Aku mendengus pelan. Apa dia tidak mau memakan masakanku lagi ? Apa karena japchae buatanku kemarinitu ? Apa masakan buatan assistentnya itu lebih enak seperti yang dikatakan Ryeowook Oppa ? Ah~ MOLLA!!!

“Huwaa~ hikss- hikksss Lee Dong Hae- k-kau jahat hiksss. Nappeun!!” Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi ? Kenapa melarangku ? Aku kan hanya ingin memasakan sesuatu untuknya. Lihatlah ia sekarang melepaskan pelukannya. Hikss.

“Ya-ya-ya ssstt- uljima Hyo Eun-ah. Aigoo~ bukan begitu maksudku chagiya~” Apa maksudnya bukan maksudku ? Jelas-jelas ia melarangku. Hiks aku membencimu ikan!!

“Bukan begitu- Hyo Eun~ dengarkan aku. Berbaliklah. Hyo Eun.” Dengan kesal aku berbalik menghadapnya. Tuhan- kenapa aku selalu luluh setelah melihat wajahnya ?

“Apa aku terlihat tidak menyayangimu lagi ?”

Ani.”

“Apa dimataku penuh dengan kebohongan ?”

Ani.”

“Apa kau merasa hatiku dingin dengan perhatianmu ?”

Ani. Tapi- kau yang-”

“Itu bentuk perhatian dan kasih sayangku padamu. Tak masalah bagiku jika harus memakan masakanmu yang super pedas itu. Tapi aku melarangmu karena aku tak ingin kau terlalu lelah sayang. Ayolah Hyo Eun-ah, tidak mungkin aku berpaling darimu.” Grepp. Hah- hangatnya. Kutelusupkan kepalaku didadanya, mencari kehangatan yang lebih disana. Benar-benar nyaman.

“Lain kali kendalikan emosimu. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayo tidur.”


END
NB : Ini pernah saya kirim ke SJFF untuk lomba fluff-nya menyambut Ultah Dong Hae Oppa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar