About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Minggu, 23 Maret 2014

(Oneshoot) - Color of Dark [Park Jung Soo]


1.        Title                      : Color of Dark
2.        Author                  : Ryu Fortun
3.        Cast                      : Park Jung Soo, Han Seung Yeon, Jung Yun Ho and others.
4.        Rated                   : PG 15/T
5.        Genre                   : AU, Fantasy (akhirnya bisa bikin juga), Romance, Angst, Family and others.
6.        Length                  : Oneshoot
7.        Disclaimer            : Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No Plagiat. Cerita ini terinspirasi dari MV Seungyeon (Kara Solo Collection) – guilty.



Author POV

            Han Seung Yeon. Seorang putri dari petinggi di dunia bawah –bisa dibilang bangsa Iblis- duduk bersimpuh di depan penguasa dunia bawah. Tepat di hadapannya duduk di kursi kebesaran sang penguasa dunia bawah dan putra mahkota Jung Yun Ho. Di sekeliling yeoja itu berdiri para petinggi dunia bawah. Seung Yeon hanya terdiam menerima segala kemungkinan yang mungkin terjadi padanya.
            “Bukankah sudah jelas para iblis di larang memasuki dunia terang ? Kenapa kau melakukannya lagi Nona Han ? Kami sudah tak bisa menoleris lagi, perbuatanmu bisa berakibat gerbang dunia bawah terbuka dan para angel bisa saja memusnahkan bangsa ini.” Seung Yeon hanya terdiam saat seorang hakim yang berdiri diantara para petinggi dunia bawah membuka suara.


            “Kenapa juga kau bisa menembus dunia terang dengan mudah ? Dan apa yang kau cari di dunia terang ?” Yun Ho menatap Seung Yeon khawatir. Ya. Jung Yun Ho adalah calon suami Seung Yeon, tentu mereka harus keras mendidik Seung Yeon karena Seung Yeon akan menjadi salah seorang yang berpengaruh di dunia mereka kelak.
            “Maaf Tuanku, sebenarnya saya sudah merasakan hal ini sejak lama. Di dalam diri Nona Han ada mengalir darah putih, walau darah hitam lebih dominan.” Ungkapan salah seorang petinggi itu membuat Yun Ho semakin khawatir terlebih ayahnya kini menatapnya tajam.
            “Kau sudah mengetahuinya kan Jung Yun Ho ?” Yun Ho terdiam. Ia tak menyahut karena itu memang benar adanya. Yun Ho menghela napas saat ayahnya mengalihkan tatapan tajamnya pada Tuan Han Dong Woo –ayah Seung Yeon- yang hanya terdiam mendengar semua pendapat yang keluar dari para petinggi dunia bawah.
            “Dong Woo, katakan yang sebenarnya.” Tubuh paruh baya itu bergetar saat mendengar perintah dingin dari pimpinannya. Ia tak mungkin merahasiakan kenyataan ini lebih lama.
            “Uri Eomma memang bukan dari bangsa ini, tapi eomma dari bangsa dunia tengah.” Seung Yeon kini menjadi pusat perhatian sekarang. “Aku mendengar setelah eomma meninggal ia diangkat dan tinggal di dunia terang. Aku- hanya ingin bertemu eomma. Dulu eomma bukan dari dunia terang jadi dalam hal ini abeoji tidak terlihat. Abeoji tidak menyalahi aturan.”
            Semua orang tercengang mendengar penuturan dari Seung Yeon. Pantas Seung Yeon mempunyai aura yang berbeda dari mereka. Apabila keturuanan raja menikah dengan orang yang memiliki darah manusia itu akan memperkuat keturunannya kelak. Tapi jika keturuanan raja menikah dengan orang yang memiliki darah dunia terang akan membuat garis keturunan suci itu terputus.
            Hal aneh yang ada pada diri Seung Yeon adalah darah manusia yang mengalir di tubuhnya berubah menjadi darah bangsa malaikat. Yah. Hanya ada satu cara untuk merubah darah malaikat yang mengalir pada diri Seung Yeon menjadi darah manusia lagi.
            “Sebagai hukuman karena kau menyembunyikan kenyataan ini kau- Nona Han akan diasingkan di dunia tengah –manusia- sampai batas waktu tertentu.” Seung Yeon menatap ayahnya yang menatapnya sendu. Anak satu-satunya akan berada ditempat yang jauh darinya. Pandangan Seung Yeon beralih pada Yun Ho, putra mahkota itu menatapnya tak rela.
            Namun kabut hitam karena mantra yang dibacakan sang raja membuat tubuh Seung Yeon tak terlihat. Dan saat kabut itu menghilang secara perlahan tubuh Seung Yeon sudah tak ada lagi di dunia bawah.

***

            Di sebuah taman kota yang sunyi, sebuah cahaya putih terlihat bersinar di balik pohon sakura yang sedang mekar. Damainya angin malam perlahan meniup kumpulan cahaya itu hingga menyisakan seorang wanita berpakaian putih tergeletak setengah duduk di bawah pohon sakura.
            Wanita itu terlihat tenang dengan matanya yang tertutup. Seolah ada mantra yang membuat tubuh itu seolah kaku dan membuatnya terus terpejam. Tak selang beberapa lama muncul kembali cahaya putih yang lama-lama berubah membentuk wujud sosok makhluk.
            Sosok itu berdiri tak jauh dari wanita itu terpejam. Ia melangkah mendekat dan berjongkok tepat di hadapan wanita itu. Tangannya terulur menyentuh poni wanita itu. Tangannya turun menyusuri bentuk wajah yang menjadi alasannya untuk tetap ada.
            “Aku akan menjagamu dari jauh. Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Seung Yeon-ah, cukup lakukan dengan baik maka saat kita bertemu lagi pasti akan datang.” Sosok itu memejamkan matanya dan tak lama ia menghilang bersama dengan tiupan angin malam musim semi.

***

            Di pagi buta Seoul diguyur rintik-rintik gerimis. Memang tak lebat namun suhu di luar sana begitu dingin. Aneh bukan ? Karena saat ini masih awal musim semi. Tetesan air langit itu jatuh mengenai wajah Seung Yeon yang terpejam di bawah pohon sakura. Wanita itu membuka matanya. Matanya menelisik sekitar. Asing. Sangat asing.
            Seung Yeon berdiri ia berjalan menembus gerimis membuat pakaiannya basah, beberapa orang yang sudah memenuhi jalan dipagi buta ini menatap Seung Yeon heran. Beberapa berpikir mungkin Seung Yeon gila atau kenapa wanita itu berjalan di tengah gerimis tanpa mantel ataupun payung ?
            Namun nyatanya Seung Yeon tak merasa kedinginan. Karena- ia berbeda.

***

            Sebuah cahaya muncul dari telapak tangan Seung Yeon. Cahaya berwarna biru itu kini menyelimuti tubuh seorang namja yang kini mengambang di udara. Ditengah gerimis hujan. Dengan gerakan tangannya Seung Yeon membuat tubuh namja itu kembali menginjak permukaan tanah, lalu dihampirinya namja yang kini terduduk di atas aspal jembatan di tengah guyuran hujan yang mulai deras.
            Seung Yeon duduk di samping namja itu. Lagi-lagi dari telapak tangannya muncul cahaya- kali ini putih. Ia menggerakkan tangannya melingkar hingga secara ajaib tubuhnya dan namja itu seperti berada dalam ruangan sehingga tetesan air hujan yang mulai deras tak mengenai tubuh mereka.
            Merasa ada yang aneh namja itu mengangkat wajahnya. Tepat saat ia menolehkan kepalanya ke kanan tatapan matanya bertemu dengan Seung Yeon. “Kau siapa ?” Seung Yeon terdiam, ia bingung akan menjawab apa. “Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja ? Setidaknya jika aku loncat dari sini dan mati hidupku akan tenang.” Namja itu diam, ia memberi jeda pada ucapannya. “Bagaimana bisa kau melakukan ini ?”
            Seung Yeon menggerakan mulutnya hendak menjawab namun tertahan karena kepala namja itu jatuh menimpa bahunya. Seung Yeon menghela napas. Namja ini terlihat kacau sekali. Kasihan. Padahal manusia itu makhluk yang paling mudah menurutnya. Mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau tanpa adanya aturan yang begitu mengikat dan apabila melanggar hukuman yang diterima begitu berat seperti yang tengah dialaminya kini.
            “Maaf.” Seung Yeon meletakkan kedua telapak tangannya di pelipis namja itu. Matanya terpejam, tak lama tubuhnya dan namja itu menghilang, berpindah ke suatu tempat yang ada dalam memori namja itu.

***

            Jung Soo, ia memegangi kepalanya yang terasa begitu berdenyut. Perhatiannya teralihkan saat seseorang masuk ke kamarnya. Ia menatap orang itu curiga. Semasa hidupnya ia selalu di kelilingi oleh orang-orang bermuka dua. Orang-orang munafik dan licik. Dan oleh karena itulah ia tak bisa mempercayai seseorang sampai sekarang.
            “Siapa kau sebenarnya ?” wanita itu duduk di pinggiran ranjang empuk Jung Soo. Bukannya menjawab wanita itu justru mengaitkan tangan mereka. Jung Soo berusaha melepaskan genggaman tangan wanita itu tapi sayang tubuhnya masih terasa lemas dan juga tenaga wanita itu bisa dibilang besar.
            “Pejamkan matamu.” Seolah terhipnotis, Jung Soo mengikuti ucapan wanita itu. Wanita itu juga memejamkan matanya, tak lama sebuah cahaya melingkupi mereka. Dan saat cahaya itu menghilang, Jung Soo dan wanita itu membuka matanya.
            Rasanya tubuh Jung Soo begitu segar, ia menggerak-gerakkan tanganya. Tenaganya seolah pulih dan wajahnya yang pucat kini kembali berseri. Jung Soo tersadar, wanita yang duduk di pinggiran kasurnya itu menatapnya sendari tadi.
            “Sebenarnya kau itu siapa ?”
            “Jika aku memberitahumu apa bisa kau mau menuruti keinginanku ?” Jung Soo tertawa renyah. Sungguh wanita aneh.
            “Kau ingin memerasku ? Aku tak butuh pertolonganmu, akan lebih baik jika aku mati. Kau tahu, aku tak akan menuruti apapun keingianmu. Jika kau tak mau memberitahuku siapa kau sebenarnya tak masalah. Kau bisa pergi.”
            Seung Yeon menggeram tertahan. Ucapan sinis Jung Soo membuatnya ingin mencekik leher namja itu. Ingat. Di dalam tubuh Seung Yeon mengalir darah iblis dan malaikat.
            “Namaku Han Seung Yeon. Aku makhluk dari dunia bawah. Bisa di bilang aku bangsa iblis.” Jung Soo langsung menoleh menatap wanita itu. Tak lama tawanya langsung menggelegar memenuhi kamarnya.
            “Cih. Tak usah mengada-ada. Iblis ? Hah. Konyol. Kau pikir aku anak kecil ? Nona- jangan-jangan kau tak waras ya ?” Seung Yeon tak menyahut. Ia mengeluarkan cahaya biru dari telapak tangannya dan mengarahkannya pada vas bunga yang berada di atas laci.
            “Lihat in baik-baik.” Prangkkk.
            Jung Soo terkejut. Ia terus memandangi vas bunga yang telah hancur itu lekat-lekat. Yah. Jika dipikir-pikir ucapan wanita itu mungkin ada benarnya juga.
            “Kau tidak boleh mati dulu.” Jung Soo menoleh kearah Seung Yeon.
            “Waeyo ?” Tanya Jung Soo polos. Bukan- tepatnya dalam keadaan setengah sadar.
            “Aku diasingkan di dunia tengah sampai waktu yang entah aku sendiri tak tahu. Jadi selama aku di dunia tengah, aku ingin tinggal bersamamu.” Jung Soo mengendikan bahunya ngeri. Hidup dengan seorang iblis wanita ? Bisa-bisa ia mati dulu.
            “Kenapa harus denganku ?” Seung Yeon merenggut. Ia tahu manusia di hadapannya ini benar-benar tak tahu terima kasih. Sudah di tolong malah seperti ini.
            “Aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu, asal kau mengijinkanku untuk tinggal di sini.” Jung Soo terdiam sejenak. Saat ini ia sedang dalam puncak masalah hidupnya, tapi- ia ragu apa wanita –setengah- iblis di hadapannya itu bisa membantunya keluar dari masalah hidup yang kini tengah menjeratnya ?
            “Buat perusahaanku kembali stabil dan kau kuijinkan untuk tinggal di sini bersamaku.” Seung Yeon memetik senang dan menghambur ke pelukan Jung Soo, bahkan membuat tubuh Jung Soo sedikit terdorong ke belakang.
            “Ah- kau memang manusia yang baik. Kau tenang saja, besok pasti perusahaanmu sudah kembali stabil.” Seung Yeon menyandarkan kepalanya di dada Jung Soo, ia tahu tubuh Jung Soo menegang entah karena takut padanya –setengah iblis- atau karena hal lain yang jelas ia tak memusingkannya.
            “Dan sebagai tanda terima kasihku, jika kau butuh apa-apa kau bisa katakan padaku. Aku akan berusaha mewujudkannya.” Petik Seung Yeon girang.
Benar-benar seperti anak kecil. Batin Jung Soo, apa benar dia seorang iblis yang tengah di hukum ?

***

            “Kau sedang apa ?” Tanya Seung Yeon menghampiri Jung Soo yang tengah memasak nasi goreng untuknya dan Seung Yeon. Walau ia ragu wanita –iblis- itu suka nasi goreng atau tidak.
            “Aku sedang memasak. Setiap makhluk itu butuh makan, tapi aku tak tahu kau suka dengan makanan manusia atau tidak.” Seung Yeon mengambil sendok lalu menyendok nasi goreng panas yang masih di atas wajan dan memasukannya ke dalam mulutnya.
            “Ya!! Itu panas. Kenapa kau makan langsung begitu ?” Seung Yeon terlihat berpikir ia tak menjawab pertanyaan Jung Soo. Namun tak lama sebuah senyuman terbit dari sudut bibirnya. Jung Soo sempat terpaku. Darahnya berdesir hebat. Wanita di hadapannya begitu mempesona dan memiliki aura yang tak bisa ia tolak.
            “Sebenarnya makan makanan manusia atau tidak itu tak berpengaruh pada diriku. Tapi aku akan terlihat aneh jika tidak makan selama di sini. Lagi pula ini tidak beracun atau membuat energiku terkuras.” Jung Soo tak memperhatikan penjelasan Seung Yeon, dia- hanya terpaku pada wajah wanita itu. Sampai tangan Seung Yeon menyentuh pundaknya, ia kembali tersadar. Tersadar dari lamunannya yang berisi tentang wanita itu.
            “Tadi malam katanya kau harus pergi pagi untuk bekerja. Kenapa sekarang malam melamun ?” Jung Soo hanya tersenyum kikuk.
“Iya, setelah aku makan.” Jawab Jung Soo asal.

***
           
Sudah hampir sebulan Seung Yeon tinggal dengan Jung Soo. Dan sepertinya mereka sudah saling menyesuaikan. Bahkan dibeberapa kali acara formal, Jung Soo mengajak Seung Yeon dan mengatakan bahwa Seung Yeon adalah kekasihnya. Karena Seung Yeon tidak mengerti apa itu kekasih, ia hanya diam sambil tersenyum saja. Sedangkan Jung Soo ? Namja itu semakin merasa nyaman saat berada di dekat Seung Yeon.
            Seperti hari Minggu ini, jam baru menunjukan pukul 7 pagi tapi mereka sudah berada di tepi pantai. Menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukan. Mengenakan pakaian santai sekedar duduk di atas batu karang dengan kaki yang terjuntai basah terkena ombak.
            “Jangan coba-coba untuk bunuh diri lagi. Di kehidupan selanjutnya belum tentu hidupmu akan lebih baik dari kehidupanmu sekarang. Jika kau mati saat itu, bagaimana jika ternyata di masa yang akan datang Tuhan merencanakan sesuatu yang begitu indah untukmu.” Jung Soo hanya diam. Bunuh diri ? Ia tak akan melakukannya jika masalah pelik yang melilit lehernya seakan membuatnya lemah tak dapat melakukan apa-apa.
            “Kau tak tahu masalah yang aku hadapi. Jikalau aku tetap hidup aku akan tetap mati dibunuh ‘mereka’ cepat atau lambat,” Ujar Jung Soo datar. “Iblis sepertimu mana tahu masalah yang dimiliki manusia.” Lanjut Jung Soo. Seung Yeon tersenyum kecil, ia mengayun-ayunkan kakinya di permukaan air laut.
            “Kuberitahu satu hal padamu, jadi ingat baik-baik. Jika ada manusia yang meninggal, ada beberapa kemungkinan- menjadi penghuni dunia terang, atau menjadi budak lucifer di dunia bawah.” Jung Soo mendengus malas. Ia tak suka ada orang atau untuk kasus ini makhluk lain menasehatinya tentang caranya hidup.
            “Tidak ada yang namanya rainkarnasi.” Jung Soo kini menoleh ke arah wanita itu. “Hidup ini hanya sekali, sekalipun kau melakukan kesalahan sebesar apapun jangan menghindar dan berpikiran untuk mati- itu tak akan menyelesaikan masalah. Gunakan hidupmu yang sekali itu sebaik mungkin.” Sekarang Jung Soo hanya terpaku, bukan karena kata-kata Seung Yeon tapi karena paras cantik wanita –iblis- itu.
            “Aku tak yakin kau dari kalangan iblis, kau lebih pantas berasal dari klan manusia.” Seung Yeon hanya tersenyum, wanita itu masih terus menatap matahari yang baru terbit tanpa niat menatap lawan bicaranya.
            “Kau tak tahu,” “Aku tak tahu karena kau tak memberitahuku. Sebenarnya aku bisa saja membaca pikiranmu tapi aku menghargai itu urusanmu sendiri.” Jung Soo menunduk menatap pantulan dirinya di permukaan air. Menilai seperti apa dirinya sendiri. Menatap hasil lukisan Tuhan pada dirinya dengan semua takdir yang ia jalani.
            “4 tahun yang lalu, orang tuaku meninggal karena dibunuh orang yang dendam dengan mereka dulu. Sejak itu aku tinggal bersama Samchon dan Imo, tapi ternyata mereka berusaha mengalihkan harga keluargaku untuk diri mereka oleh karena itu aku keluar dari rumah Samchon dan Imoku. Tapi ternyata di luar dugaanku mereka menggelapkan uang perusahaan hingga perusahaan hampir bangkrut dan berniat- membunuhku.” Seung Yeon hanya mengangguk sambil tersenyum, wanita itu menyentuh pundak Jung Soo dan memberikannya senyum hangat miliknya, memberikan kekuatan pada Jung Soo agar tetap tegar dalam hidupnya.
            “Aku tak tahu bagaimana bisa setelah aku bertemu denganmu segala teror yang mengarah padaku seakan menghilang. Seung Yeon, aku yakin Samchon dan Imo masih berusaha membunuhku, entah mantra apa yang kau lafalkan untukku, terima kasih untuk itu.” Senyum simpul nan manis milik Seung Yeon terukir sempurna dibibirnya. Senyum yang teramat sangat disukai Jung Soo.
            “Sekarang kau bisa cerita padaku kenapa kau bisa sampai di sini ?” Seung Yeon merapatkan tubuhnya pada Jung Soo membuat Jung Soo mengeryit bingung. Seung Yeon mengarahkan tangannya pada permukaan air laut di bawahnya hingga membentuk seperti gambar yang bergerak –film-. Salah satunya di sana ada Seung Yeon. Saat dimana Seung Yeon dihakimi.
            “Jadi kau,” Seung Yeon sudah mengangguk sebelum Jung Soo melanjutkan kalimatnya. “Malaikat setengah iblis atau, iblis setengah malaikat terserahlah yang jelas itu.” Jung Soo masih tercengang, namja itu hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
            “Kau ingin kembali ?” Tanya Jung Soo hati-hati setelah mereka terdiam cukup lama. Seung Yeon menoleh lalu mengangguk pasti. “Aku merindukan abeoji, sejak kecil aku tak melihat wajah eomma. Aku hanya memiliki abeoji jadi aku tak ingin berpisah dengannya.” Terselip rasa tak rela dari gurat wajah Jung Soo mendengar jawaban dari Seung Yeon. Namja itu ingin Seung Yeon di sisinya. Yah, selalu di sisinya.
            “Kaukan berhutang terima kasih padaku, jadi kau harus membantuku untuk aku bisa kembali. Aku tak ingin berada di dunia yang asing bagiku terlalu lama.”

***
           
Seperti biasa saat hari libur Jung Soo akan membawa Seung Yeon berjalan-jalan menyusuri Korea, tak hanya di Seoul Seung Yeon pernah diajak Jung Soo melihat taman yang penuh dengan kupu-kupu saat musim semi lalu. Mereka kini tengah bersiap-siap, mereka tengah menyiapkan bekal yang sebagain besar nanti tentu saja akan dihabiskan Jung Soo.
            “Jung Soo-ah, sebenarnya kita akan kemana ?” “Piknik.” Jawab Jung Soo singkat, Seung Yeon mengerutkan keningnya bingung. Ia hendak membuka suara namun tangannya sudah dicekal oleh namja itu dan membawanya ke mobil AU putih yang selalu membawanya kemana saja disini.
            Di dekat lembah gunung mereka berhenti. Jung Soo membukakan pintu untuk Seung Yeon lalu mereka menyusuri jalan setapak yang di samping kanan kirinya ditumbuhi bunga liar diantara pohon Oak dan ilalang. Setelah kurang lebih 500 meter mereka berjalan mereka berhenti di sebuah bangunan dari kayu seperti gazebo. Jung Soo mengandeng tangan Seung Yeon saat menaiki tangga kecil yang jumlahnya kurang lebih 10 buah. Ck! Sungguh berlebihan bukan ?
            “Untuk apa kita kesini ?” Jung Soo tak menjawab, namja itu sibuk mengamati sekitar. Taman ini kini jarang dikunjungi orang. Ia bersyukur karena setidaknya taman ini masih indah dan sama seperti dulu. Sama seperti 10 tahun yang lalu.
            “Itu apa ?” Jung Soo mengikuti arah yang di tunjuk Seung Yeon, matanya menajam menebak apa yang ada di dahan pohon itu. Mata manusia tak bisa melihat benda sekecil itu dari jarak 20 meter. “Itu burung merpati.” Ucapnya saat makhluk yang ia amati itu terbang dari dahan pohon. “Sayap putihnya seperti sayap malaikat.” Jung Soo hanya mengangguk, ia tak tahu apapun tentang itu jadi ia lebih memilih mengangguk saja.
            “Ayo makan.” Jung Soo membuka kotak bekal yang mereka bawa. Ia mengambil hoedeok dan mengunyahnya pelan. Ia memberikan satu untuk Seung Yeon dan wanita itu menerimanya.
            “Apa iblis juga butuh makan ?”
“Tentu saja, asal kau tahu juga iblis itu juga bisa mati namun umurnya lebih panjang dari manusia, iblis bisa mati tapi tak bisa dibunuh manusia. Hanya lucifer atau malaikat dan Tuhan saja yang bisa membunuh iblis. Dan iblis yang dikenal manusia sejatinya bukan kami tapi itu kaum lucifer. Iblis yang sesungguhnya itu seperti bangsa siluman namun kami tak memiliki bentuk seperti mereka.”
            Lagi-lagi Jung Soo hanya tersenyum, gadis ini- benar-benar mencuri hatinya. Ia bahkan hidup dengan baik kembali setelah gadis ini ada di sampingnya. Tapi ia sadar, perpisahan itu akan segera datang. Dunia mereka berbeda.
            “Setelah makan aku akan mengajakmu melihat pemandangan di danau yang tak jauh di sini. Jadi ayo cepat habiskan.”

***

            “Yun Ho.” Seung Yeon berlari dan langsung memeluk namja yang tiba-tiba muncul itu dengan sangat erat, membuat hati Jung Soo mencelos. Hatinya terasa bergetar sakit saat melihat Seung Yeon memeluk tubuh namja yang tak di kenalnya itu. Matanya menatap lekat-lekat setiap gerakan namja itu.
            Sungguh ia tak rela saat tangan namja itu menyentuh rambut hitam Seung Yeon yang tergerai. Memeluk tubuh Seung Yeon dan mendekap tubuh itu. Tangan Jung Soo mengepal menahan amarah, tapi ia tahu ia bukan siapa-siapa. Ia tak berhak marah karena ia memiliki hak itu.
            “Bisa tinggalkan kami berdua Jung Soo-ssi ?” Jung Soo tak menjawab tapi ia berbalik dengan kaku. Ia tak mau, tapi jubah hitam namja itu ia yakin bahwa namja itu satu bangsa dengan Seung Yeon –iblis-.
            Seung Yeon melepaskan pelukan mereka. Ia berbalik dan melihat punggung Jung Soo yang kini jauh dari penglihatan. Ia tahu Jung Soo sedang kesal karena ia sempat melihat ekspresi namja itu. Seung Yeon mengalihkan tatapannya pada Yun Ho.
            “Ada apa Yun Ho ?” Yun Ho menggenggam tangan gadis itu. Mereka memejamkan mata, hingga tubuh mereka perlahan menghilang dan berpindah di suatu bukit yang jauh dari keramaian.
            “Aku tahu,” hanya itu yang diucapkan Yun Ho, pangeran dengan jubah hitam itu melepaskan genggaman tangan Seung Yeon, membuat gadis –iblis- itu sedikit keheranan. “Apa ?” tanya Seung Yeon penasaran karena Yun Ho tak kunjung melanjutkan ucapannya. “Caranya agar kau bisa kembali.” Seung Yeon langsung menoleh kearah Yun Ho, wajahnya semakin tak sabar menunggu ucapan yang keluar dari mulut orang yang telah –mungkin- digariskan untuk hidup bersamanya –calon suaminya-.
            “Hisap aura manusia.” “Apa ?” Petik Seung Yeon tertahan. Tak mungkin, ia tak bisa melakukannya.

***

            “Kenapa sampai tengah malam begini baru pulang ?” Seung Yeon langsung menghambur kepelukan Jung Soo tanpa permisi wanita –iblis- itu memeluk namja –manusia- itu dengan erat. Sangat erat malah. “Hey, kau kenapa ? Apa kau mau kembali ke alammu bersama laki-laki itu dan meninggalkanku ?” Seung Yeon diam. Entah sejak kapan ia yakin bahwa hatinya terbagi, ia yakin setelah ia merasa nyaman di pelukan Jung Soo.
            “Jika aku pergi apa yang akan kau lakukan  ?” Pertanyaan Seung Yeon membuat Jung Soo bungkam, namja itu memejamkan matanya lalu membalas pelukan Seung Yeon. “Aku tak tahu, selama beberapa bulan ini aku hidup dengan baik untukmu. Aku tahu kau tahu karena kau bisa membaca pikiranku hanya saja kau pura-pura tak menyadarinya bukan ?” Seung Yeon tak menjawab gadis itu masih gigih bertanya, ia ingin Jung Soo menjawab pertanyaannya. “Katakan apa yang akan kau lakukan jika aku kembali ?” Jung Soo masih diam, membuat Seung Yeon tak tahan. “Aku akan kembali jika kau mengijinkanku untuk kembali.”
            “Aku akan hidup dengan baik. Aku akan menjalani hidupku dengan warna yang kuberi sendiri. Aku akan bekerja dengan baik. Aku  akan mencari wanita yang baik untukku. Aku tak akan memikirkan masa laluku. Aku tak akan larut dalam kesedihan.” Kaku dan kelu. Dua rasa itu yang Jung Soo rasakan saat ia mengatakan hal itu. Ia tak ingin menghalangi Seung Yeon untuk bertemu dengan keluarganya. Keluarga yang sangat dicintai oleh wanita ini. lagipula ia sadar, dunia mereka berbeda dan tak mungkin mereka bersama.
            “Kau mau berkorban sesuatu untukku ?” Jung Soo mengangguk tanpa ragu. “Bahkan jika itu mengorbankan nyawamu ?” Jung Soo melepaskan pelukan Seung Yeon dan memandang manik gadis itu. “Apapun untukmu, asal kau bisa kembali.”
            Seung Yeon memandangi wajah Jung Soo sejenak, lalu ia menempelkan bibirnya di bibir namja itu. Ia memejamkan matanya erat-erat, ia terus menghisap aura manusia yang dimiliki Jung Soo dari sana. Tak ia pedulikan rintihan yang keluar dari bibir Jung Soo. Ia teringat ucapan Yun Ho, ‘Mati tidaknya dia tergantung berapa banyak kau menghisap auranya. Jangan sampai kau melepaskannya saat kau menghisap auranya karena itu justru membuatnya auranya hilang dan kau tak bisa kembali ke dunia kita. Kau tahukan kita tak bisa melawan takdir ?’ Seung Yeon melepaskan tautannya saat sebuah cahaya menariknya menjauh, ia sempat melihat Jung Soo menatapnya nanar. Namja itu tak percaya perpisahan ini datang begitu cepat.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar