1.
Title : Color of Dark
2.
Author : Ryu Fortun
3.
Cast : Park Jung Soo, Han Seung
Yeon, Jung Yun Ho and others.
4.
Rated : PG 15/T
5.
Genre : AU, Fantasy (akhirnya bisa
bikin juga), Romance, Angst, Family and others.
6.
Length : Oneshoot
7.
Disclaimer : Story is Mine!! Typo(s)
anywhere. No Plagiat. Cerita ini terinspirasi dari MV Seungyeon
(Kara Solo Collection) – guilty.
Author POV
Han Seung Yeon. Seorang putri dari
petinggi di dunia bawah –bisa dibilang bangsa Iblis- duduk bersimpuh di depan
penguasa dunia bawah. Tepat di hadapannya duduk di kursi kebesaran sang
penguasa dunia bawah dan putra mahkota Jung Yun Ho. Di sekeliling yeoja itu
berdiri para petinggi dunia bawah. Seung Yeon hanya terdiam menerima segala
kemungkinan yang mungkin terjadi padanya.
“Bukankah sudah jelas para iblis di
larang memasuki dunia terang ? Kenapa kau melakukannya lagi Nona Han ? Kami
sudah tak bisa menoleris lagi, perbuatanmu bisa berakibat gerbang dunia bawah
terbuka dan para angel bisa saja memusnahkan bangsa ini.” Seung Yeon hanya terdiam
saat seorang hakim yang berdiri diantara para petinggi dunia bawah membuka
suara.
“Kenapa juga kau bisa menembus dunia
terang dengan mudah ? Dan apa yang kau cari di dunia terang ?” Yun Ho menatap
Seung Yeon khawatir. Ya. Jung Yun Ho adalah calon suami Seung Yeon, tentu
mereka harus keras mendidik Seung Yeon karena Seung Yeon akan menjadi salah
seorang yang berpengaruh di dunia mereka kelak.
“Maaf Tuanku, sebenarnya saya sudah
merasakan hal ini sejak lama. Di dalam diri Nona Han ada mengalir darah putih,
walau darah hitam lebih dominan.” Ungkapan salah seorang petinggi itu membuat
Yun Ho semakin khawatir terlebih ayahnya kini menatapnya tajam.
“Kau sudah mengetahuinya kan Jung
Yun Ho ?” Yun Ho terdiam. Ia tak menyahut karena itu memang benar adanya. Yun
Ho menghela napas saat ayahnya mengalihkan tatapan tajamnya pada Tuan Han Dong
Woo –ayah Seung Yeon- yang hanya terdiam mendengar semua pendapat yang keluar
dari para petinggi dunia bawah.
“Dong Woo, katakan yang sebenarnya.”
Tubuh paruh baya itu bergetar saat mendengar perintah dingin dari pimpinannya. Ia
tak mungkin merahasiakan kenyataan ini lebih lama.
“Uri Eomma memang bukan dari bangsa
ini, tapi eomma dari bangsa dunia tengah.” Seung Yeon kini menjadi pusat
perhatian sekarang. “Aku mendengar setelah eomma meninggal ia diangkat dan
tinggal di dunia terang. Aku- hanya ingin bertemu eomma. Dulu eomma bukan dari
dunia terang jadi dalam hal ini abeoji tidak terlihat. Abeoji tidak menyalahi
aturan.”
Semua orang tercengang mendengar
penuturan dari Seung Yeon. Pantas Seung Yeon mempunyai aura yang berbeda dari
mereka. Apabila keturuanan raja menikah dengan orang yang memiliki darah
manusia itu akan memperkuat keturunannya kelak. Tapi jika keturuanan raja
menikah dengan orang yang memiliki darah dunia terang akan membuat garis
keturunan suci itu terputus.
Hal aneh yang ada pada diri Seung
Yeon adalah darah manusia yang mengalir di tubuhnya berubah menjadi darah
bangsa malaikat. Yah. Hanya ada satu cara untuk merubah darah malaikat yang
mengalir pada diri Seung Yeon menjadi darah manusia lagi.
“Sebagai hukuman karena kau
menyembunyikan kenyataan ini kau- Nona Han akan diasingkan di dunia tengah
–manusia- sampai batas waktu tertentu.” Seung Yeon menatap ayahnya yang
menatapnya sendu. Anak satu-satunya akan berada ditempat yang jauh darinya.
Pandangan Seung Yeon beralih pada Yun Ho, putra mahkota itu menatapnya tak
rela.
Namun kabut hitam karena mantra yang
dibacakan sang raja membuat tubuh Seung Yeon tak terlihat. Dan saat kabut itu
menghilang secara perlahan tubuh Seung Yeon sudah tak ada lagi di dunia bawah.
***
Di sebuah taman kota yang sunyi,
sebuah cahaya putih terlihat bersinar di balik pohon sakura yang sedang mekar.
Damainya angin malam perlahan meniup kumpulan cahaya itu hingga menyisakan seorang
wanita berpakaian putih tergeletak setengah duduk di bawah pohon sakura.
Wanita itu terlihat tenang dengan
matanya yang tertutup. Seolah ada mantra yang membuat tubuh itu seolah kaku dan
membuatnya terus terpejam. Tak selang beberapa lama muncul kembali cahaya putih
yang lama-lama berubah membentuk wujud sosok makhluk.
Sosok itu berdiri tak jauh dari
wanita itu terpejam. Ia melangkah mendekat dan berjongkok tepat di hadapan
wanita itu. Tangannya terulur menyentuh poni wanita itu. Tangannya turun menyusuri
bentuk wajah yang menjadi alasannya untuk tetap ada.
“Aku akan menjagamu dari jauh. Aku
tak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Seung Yeon-ah, cukup lakukan dengan
baik maka saat kita bertemu lagi pasti akan datang.” Sosok itu memejamkan
matanya dan tak lama ia menghilang bersama dengan tiupan angin malam musim
semi.
***
Di pagi buta Seoul diguyur
rintik-rintik gerimis. Memang tak lebat namun suhu di luar sana begitu dingin.
Aneh bukan ? Karena saat ini masih awal musim semi. Tetesan air langit itu
jatuh mengenai wajah Seung Yeon yang terpejam di bawah pohon sakura. Wanita itu
membuka matanya. Matanya menelisik sekitar. Asing. Sangat asing.
Seung Yeon berdiri ia berjalan
menembus gerimis membuat pakaiannya basah, beberapa orang yang sudah memenuhi
jalan dipagi buta ini menatap Seung Yeon heran. Beberapa berpikir mungkin Seung
Yeon gila atau kenapa wanita itu berjalan di tengah gerimis tanpa mantel
ataupun payung ?
Namun nyatanya Seung Yeon tak merasa
kedinginan. Karena- ia berbeda.
***
Sebuah cahaya muncul dari telapak
tangan Seung Yeon. Cahaya berwarna biru itu kini menyelimuti tubuh seorang
namja yang kini mengambang di udara. Ditengah gerimis hujan. Dengan gerakan
tangannya Seung Yeon membuat tubuh namja itu kembali menginjak permukaan tanah,
lalu dihampirinya namja yang kini terduduk di atas aspal jembatan di tengah
guyuran hujan yang mulai deras.
Seung Yeon duduk di samping namja
itu. Lagi-lagi dari telapak tangannya muncul cahaya- kali ini putih. Ia
menggerakkan tangannya melingkar hingga secara ajaib tubuhnya dan namja itu
seperti berada dalam ruangan sehingga tetesan air hujan yang mulai deras tak
mengenai tubuh mereka.
Merasa ada yang aneh namja itu
mengangkat wajahnya. Tepat saat ia menolehkan kepalanya ke kanan tatapan
matanya bertemu dengan Seung Yeon. “Kau siapa ?” Seung Yeon terdiam, ia bingung
akan menjawab apa. “Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja ? Setidaknya jika
aku loncat dari sini dan mati hidupku akan tenang.” Namja itu diam, ia memberi
jeda pada ucapannya. “Bagaimana bisa kau melakukan ini ?”
Seung Yeon menggerakan mulutnya
hendak menjawab namun tertahan karena kepala namja itu jatuh menimpa bahunya.
Seung Yeon menghela napas. Namja ini terlihat kacau sekali. Kasihan. Padahal
manusia itu makhluk yang paling mudah menurutnya. Mereka bebas melakukan apapun
yang mereka mau tanpa adanya aturan yang begitu mengikat dan apabila melanggar
hukuman yang diterima begitu berat seperti yang tengah dialaminya kini.
“Maaf.” Seung Yeon meletakkan kedua
telapak tangannya di pelipis namja itu. Matanya terpejam, tak lama tubuhnya dan
namja itu menghilang, berpindah ke suatu tempat yang ada dalam memori namja
itu.
***
Jung Soo, ia memegangi kepalanya
yang terasa begitu berdenyut. Perhatiannya teralihkan saat seseorang masuk ke
kamarnya. Ia menatap orang itu curiga. Semasa hidupnya ia selalu di kelilingi
oleh orang-orang bermuka dua. Orang-orang munafik dan licik. Dan oleh karena
itulah ia tak bisa mempercayai seseorang sampai sekarang.
“Siapa kau sebenarnya ?” wanita itu
duduk di pinggiran ranjang empuk Jung Soo. Bukannya menjawab wanita itu justru
mengaitkan tangan mereka. Jung Soo berusaha melepaskan genggaman tangan wanita
itu tapi sayang tubuhnya masih terasa lemas dan juga tenaga wanita itu bisa
dibilang besar.
“Pejamkan matamu.” Seolah
terhipnotis, Jung Soo mengikuti ucapan wanita itu. Wanita itu juga memejamkan
matanya, tak lama sebuah cahaya melingkupi mereka. Dan saat cahaya itu
menghilang, Jung Soo dan wanita itu membuka matanya.
Rasanya tubuh Jung Soo begitu segar,
ia menggerak-gerakkan tanganya. Tenaganya seolah pulih dan wajahnya yang pucat
kini kembali berseri. Jung Soo tersadar, wanita yang duduk di pinggiran
kasurnya itu menatapnya sendari tadi.
“Sebenarnya kau itu siapa ?”
“Jika aku memberitahumu apa bisa kau
mau menuruti keinginanku ?” Jung Soo tertawa renyah. Sungguh wanita aneh.
“Kau ingin memerasku ? Aku tak butuh
pertolonganmu, akan lebih baik jika aku mati. Kau tahu, aku tak akan menuruti
apapun keingianmu. Jika kau tak mau memberitahuku siapa kau sebenarnya tak
masalah. Kau bisa pergi.”
Seung Yeon menggeram tertahan.
Ucapan sinis Jung Soo membuatnya ingin mencekik leher namja itu. Ingat. Di
dalam tubuh Seung Yeon mengalir darah iblis dan malaikat.
“Namaku Han Seung Yeon. Aku makhluk
dari dunia bawah. Bisa di bilang aku bangsa iblis.” Jung Soo langsung menoleh
menatap wanita itu. Tak lama tawanya langsung menggelegar memenuhi kamarnya.
“Cih. Tak usah mengada-ada. Iblis ?
Hah. Konyol. Kau pikir aku anak kecil ? Nona- jangan-jangan kau tak waras ya ?”
Seung Yeon tak menyahut. Ia mengeluarkan cahaya biru dari telapak tangannya dan
mengarahkannya pada vas bunga yang berada di atas laci.
“Lihat in baik-baik.” Prangkkk.
Jung Soo terkejut. Ia terus
memandangi vas bunga yang telah hancur itu lekat-lekat. Yah. Jika dipikir-pikir
ucapan wanita itu mungkin ada benarnya juga.
“Kau tidak boleh mati dulu.” Jung
Soo menoleh kearah Seung Yeon.
“Waeyo ?” Tanya Jung Soo polos.
Bukan- tepatnya dalam keadaan setengah sadar.
“Aku diasingkan di dunia tengah
sampai waktu yang entah aku sendiri tak tahu. Jadi selama aku di dunia tengah,
aku ingin tinggal bersamamu.” Jung Soo mengendikan bahunya ngeri. Hidup dengan
seorang iblis wanita ? Bisa-bisa ia mati dulu.
“Kenapa harus denganku ?” Seung Yeon
merenggut. Ia tahu manusia di hadapannya ini benar-benar tak tahu terima kasih.
Sudah di tolong malah seperti ini.
“Aku akan membantumu menyelesaikan
masalahmu, asal kau mengijinkanku untuk tinggal di sini.” Jung Soo terdiam
sejenak. Saat ini ia sedang dalam puncak masalah hidupnya, tapi- ia ragu apa
wanita –setengah- iblis di hadapannya itu bisa membantunya keluar dari masalah
hidup yang kini tengah menjeratnya ?
“Buat perusahaanku kembali stabil
dan kau kuijinkan untuk tinggal di sini bersamaku.” Seung Yeon memetik senang
dan menghambur ke pelukan Jung Soo, bahkan membuat tubuh Jung Soo sedikit
terdorong ke belakang.
“Ah- kau memang manusia yang baik.
Kau tenang saja, besok pasti perusahaanmu sudah kembali stabil.” Seung Yeon
menyandarkan kepalanya di dada Jung Soo, ia tahu tubuh Jung Soo menegang entah
karena takut padanya –setengah iblis- atau karena hal lain yang jelas ia tak
memusingkannya.
“Dan sebagai tanda terima kasihku,
jika kau butuh apa-apa kau bisa katakan padaku. Aku akan berusaha
mewujudkannya.” Petik Seung Yeon girang.
Benar-benar seperti anak kecil. Batin Jung Soo, apa benar dia
seorang iblis yang tengah di hukum ?
***
“Kau sedang apa ?” Tanya Seung Yeon
menghampiri Jung Soo yang tengah memasak nasi goreng untuknya dan Seung Yeon.
Walau ia ragu wanita –iblis- itu suka nasi goreng atau tidak.
“Aku sedang memasak. Setiap makhluk
itu butuh makan, tapi aku tak tahu kau suka dengan makanan manusia atau tidak.”
Seung Yeon mengambil sendok lalu menyendok nasi goreng panas yang masih di atas
wajan dan memasukannya ke dalam mulutnya.
“Ya!! Itu panas. Kenapa kau makan
langsung begitu ?” Seung Yeon terlihat berpikir ia tak menjawab pertanyaan Jung
Soo. Namun tak lama sebuah senyuman terbit dari sudut bibirnya. Jung Soo sempat
terpaku. Darahnya berdesir hebat. Wanita di hadapannya begitu mempesona dan memiliki
aura yang tak bisa ia tolak.
“Sebenarnya makan makanan manusia
atau tidak itu tak berpengaruh pada diriku. Tapi aku akan terlihat aneh jika
tidak makan selama di sini. Lagi pula ini tidak beracun atau membuat energiku
terkuras.” Jung Soo tak memperhatikan penjelasan Seung Yeon, dia- hanya terpaku
pada wajah wanita itu. Sampai tangan Seung Yeon menyentuh pundaknya, ia kembali
tersadar. Tersadar dari lamunannya yang berisi tentang wanita itu.
“Tadi malam katanya kau harus pergi
pagi untuk bekerja. Kenapa sekarang malam melamun ?” Jung Soo hanya tersenyum
kikuk.
“Iya, setelah aku makan.” Jawab Jung Soo asal.
***
Sudah hampir sebulan Seung Yeon tinggal dengan Jung Soo. Dan
sepertinya mereka sudah saling menyesuaikan. Bahkan dibeberapa kali acara formal,
Jung Soo mengajak Seung Yeon dan mengatakan bahwa Seung Yeon adalah kekasihnya.
Karena Seung Yeon tidak mengerti apa itu kekasih, ia hanya diam sambil
tersenyum saja. Sedangkan Jung Soo ? Namja itu semakin merasa nyaman saat
berada di dekat Seung Yeon.
Seperti hari Minggu ini, jam baru
menunjukan pukul 7 pagi tapi mereka sudah berada di tepi pantai. Menikmati
hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukan. Mengenakan pakaian santai sekedar
duduk di atas batu karang dengan kaki yang terjuntai basah terkena ombak.
“Jangan coba-coba untuk bunuh diri
lagi. Di kehidupan selanjutnya belum tentu hidupmu akan lebih baik dari
kehidupanmu sekarang. Jika kau mati saat itu, bagaimana jika ternyata di masa
yang akan datang Tuhan merencanakan sesuatu yang begitu indah untukmu.” Jung
Soo hanya diam. Bunuh diri ? Ia tak akan melakukannya jika masalah pelik yang
melilit lehernya seakan membuatnya lemah tak dapat melakukan apa-apa.
“Kau tak tahu masalah yang aku
hadapi. Jikalau aku tetap hidup aku akan tetap mati dibunuh ‘mereka’ cepat atau
lambat,” Ujar Jung Soo datar. “Iblis sepertimu mana tahu masalah yang dimiliki
manusia.” Lanjut Jung Soo. Seung Yeon tersenyum kecil, ia mengayun-ayunkan
kakinya di permukaan air laut.
“Kuberitahu satu hal padamu, jadi
ingat baik-baik. Jika ada manusia yang meninggal, ada beberapa kemungkinan-
menjadi penghuni dunia terang, atau menjadi budak lucifer di dunia bawah.” Jung
Soo mendengus malas. Ia tak suka ada orang atau untuk kasus ini makhluk lain
menasehatinya tentang caranya hidup.
“Tidak ada yang namanya
rainkarnasi.” Jung Soo kini menoleh ke arah wanita itu. “Hidup ini hanya
sekali, sekalipun kau melakukan kesalahan sebesar apapun jangan menghindar dan
berpikiran untuk mati- itu tak akan menyelesaikan masalah. Gunakan hidupmu yang
sekali itu sebaik mungkin.” Sekarang Jung Soo hanya terpaku, bukan karena
kata-kata Seung Yeon tapi karena paras cantik wanita –iblis- itu.
“Aku tak yakin kau dari kalangan
iblis, kau lebih pantas berasal dari klan manusia.” Seung Yeon hanya tersenyum,
wanita itu masih terus menatap matahari yang baru terbit tanpa niat menatap
lawan bicaranya.
“Kau tak tahu,” “Aku tak tahu karena
kau tak memberitahuku. Sebenarnya aku bisa saja membaca pikiranmu tapi aku
menghargai itu urusanmu sendiri.” Jung Soo menunduk menatap pantulan dirinya di
permukaan air. Menilai seperti apa dirinya sendiri. Menatap hasil lukisan Tuhan
pada dirinya dengan semua takdir yang ia jalani.
“4 tahun yang lalu, orang tuaku
meninggal karena dibunuh orang yang dendam dengan mereka dulu. Sejak itu aku
tinggal bersama Samchon dan Imo, tapi ternyata mereka berusaha mengalihkan
harga keluargaku untuk diri mereka oleh karena itu aku keluar dari rumah
Samchon dan Imoku. Tapi ternyata di luar dugaanku mereka menggelapkan uang
perusahaan hingga perusahaan hampir bangkrut dan berniat- membunuhku.” Seung
Yeon hanya mengangguk sambil tersenyum, wanita itu menyentuh pundak Jung Soo
dan memberikannya senyum hangat miliknya, memberikan kekuatan pada Jung Soo
agar tetap tegar dalam hidupnya.
“Aku tak tahu bagaimana bisa setelah
aku bertemu denganmu segala teror yang mengarah padaku seakan menghilang. Seung
Yeon, aku yakin Samchon dan Imo masih berusaha membunuhku, entah mantra apa
yang kau lafalkan untukku, terima kasih untuk itu.” Senyum simpul nan manis milik
Seung Yeon terukir sempurna dibibirnya. Senyum yang teramat sangat disukai Jung
Soo.
“Sekarang kau bisa cerita padaku
kenapa kau bisa sampai di sini ?” Seung Yeon merapatkan tubuhnya pada Jung Soo
membuat Jung Soo mengeryit bingung. Seung Yeon mengarahkan tangannya pada
permukaan air laut di bawahnya hingga membentuk seperti gambar yang bergerak
–film-. Salah satunya di sana ada Seung Yeon. Saat dimana Seung Yeon dihakimi.
“Jadi kau,” Seung Yeon sudah
mengangguk sebelum Jung Soo melanjutkan kalimatnya. “Malaikat setengah iblis
atau, iblis setengah malaikat terserahlah yang jelas itu.” Jung Soo masih
tercengang, namja itu hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Kau ingin kembali ?” Tanya Jung Soo
hati-hati setelah mereka terdiam cukup lama. Seung Yeon menoleh lalu mengangguk
pasti. “Aku merindukan abeoji, sejak kecil aku tak melihat wajah eomma. Aku
hanya memiliki abeoji jadi aku tak ingin berpisah dengannya.” Terselip rasa tak
rela dari gurat wajah Jung Soo mendengar jawaban dari Seung Yeon. Namja itu
ingin Seung Yeon di sisinya. Yah, selalu di sisinya.
“Kaukan berhutang terima kasih
padaku, jadi kau harus membantuku untuk aku bisa kembali. Aku tak ingin berada
di dunia yang asing bagiku terlalu lama.”
***
Seperti biasa saat hari libur Jung Soo akan membawa Seung Yeon
berjalan-jalan menyusuri Korea, tak hanya di Seoul Seung Yeon pernah diajak
Jung Soo melihat taman yang penuh dengan kupu-kupu saat musim semi lalu. Mereka
kini tengah bersiap-siap, mereka tengah menyiapkan bekal yang sebagain besar
nanti tentu saja akan dihabiskan Jung Soo.
“Jung Soo-ah, sebenarnya kita akan
kemana ?” “Piknik.” Jawab Jung Soo singkat, Seung Yeon mengerutkan keningnya
bingung. Ia hendak membuka suara namun tangannya sudah dicekal oleh namja itu
dan membawanya ke mobil AU putih yang selalu membawanya kemana saja disini.
Di dekat lembah gunung mereka
berhenti. Jung Soo membukakan pintu untuk Seung Yeon lalu mereka menyusuri
jalan setapak yang di samping kanan kirinya ditumbuhi bunga liar diantara pohon
Oak dan ilalang. Setelah kurang lebih 500 meter mereka berjalan mereka berhenti
di sebuah bangunan dari kayu seperti gazebo. Jung Soo mengandeng tangan Seung
Yeon saat menaiki tangga kecil yang jumlahnya kurang lebih 10 buah. Ck! Sungguh
berlebihan bukan ?
“Untuk apa kita kesini ?” Jung Soo
tak menjawab, namja itu sibuk mengamati sekitar. Taman ini kini jarang
dikunjungi orang. Ia bersyukur karena setidaknya taman ini masih indah dan sama
seperti dulu. Sama seperti 10 tahun yang lalu.
“Itu apa ?” Jung Soo mengikuti arah
yang di tunjuk Seung Yeon, matanya menajam menebak apa yang ada di dahan pohon
itu. Mata manusia tak bisa melihat benda sekecil itu dari jarak 20 meter. “Itu
burung merpati.” Ucapnya saat makhluk yang ia amati itu terbang dari dahan
pohon. “Sayap putihnya seperti sayap malaikat.” Jung Soo hanya mengangguk, ia
tak tahu apapun tentang itu jadi ia lebih memilih mengangguk saja.
“Ayo makan.” Jung Soo membuka kotak
bekal yang mereka bawa. Ia mengambil hoedeok dan mengunyahnya pelan. Ia
memberikan satu untuk Seung Yeon dan wanita itu menerimanya.
“Apa iblis juga butuh makan ?”
“Tentu saja, asal kau tahu juga iblis itu juga bisa mati namun
umurnya lebih panjang dari manusia, iblis bisa mati tapi tak bisa dibunuh
manusia. Hanya lucifer atau malaikat dan Tuhan saja yang bisa membunuh iblis.
Dan iblis yang dikenal manusia sejatinya bukan kami tapi itu kaum lucifer.
Iblis yang sesungguhnya itu seperti bangsa siluman namun kami tak memiliki
bentuk seperti mereka.”
Lagi-lagi Jung Soo hanya tersenyum,
gadis ini- benar-benar mencuri hatinya. Ia bahkan hidup dengan baik kembali
setelah gadis ini ada di sampingnya. Tapi ia sadar, perpisahan itu akan segera
datang. Dunia mereka berbeda.
“Setelah makan aku akan mengajakmu
melihat pemandangan di danau yang tak jauh di sini. Jadi ayo cepat habiskan.”
***
“Yun Ho.” Seung Yeon berlari dan
langsung memeluk namja yang tiba-tiba muncul itu dengan sangat erat, membuat
hati Jung Soo mencelos. Hatinya terasa bergetar sakit saat melihat Seung Yeon
memeluk tubuh namja yang tak di kenalnya itu. Matanya menatap lekat-lekat
setiap gerakan namja itu.
Sungguh ia tak rela saat tangan
namja itu menyentuh rambut hitam Seung Yeon yang tergerai. Memeluk tubuh Seung
Yeon dan mendekap tubuh itu. Tangan Jung Soo mengepal menahan amarah, tapi ia
tahu ia bukan siapa-siapa. Ia tak berhak marah karena ia memiliki hak itu.
“Bisa tinggalkan kami berdua Jung
Soo-ssi ?” Jung Soo tak menjawab tapi ia berbalik dengan kaku. Ia tak mau, tapi
jubah hitam namja itu ia yakin bahwa namja itu satu bangsa dengan Seung Yeon
–iblis-.
Seung Yeon melepaskan pelukan
mereka. Ia berbalik dan melihat punggung Jung Soo yang kini jauh dari
penglihatan. Ia tahu Jung Soo sedang kesal karena ia sempat melihat ekspresi
namja itu. Seung Yeon mengalihkan tatapannya pada Yun Ho.
“Ada apa Yun Ho ?” Yun Ho
menggenggam tangan gadis itu. Mereka memejamkan mata, hingga tubuh mereka
perlahan menghilang dan berpindah di suatu bukit yang jauh dari keramaian.
“Aku tahu,” hanya itu yang diucapkan
Yun Ho, pangeran dengan jubah hitam itu melepaskan genggaman tangan Seung Yeon,
membuat gadis –iblis- itu sedikit keheranan. “Apa ?” tanya Seung Yeon penasaran
karena Yun Ho tak kunjung melanjutkan ucapannya. “Caranya agar kau bisa
kembali.” Seung Yeon langsung menoleh kearah Yun Ho, wajahnya semakin tak sabar
menunggu ucapan yang keluar dari mulut orang yang telah –mungkin- digariskan
untuk hidup bersamanya –calon suaminya-.
“Hisap aura manusia.” “Apa ?” Petik
Seung Yeon tertahan. Tak mungkin, ia tak bisa melakukannya.
***
“Kenapa sampai tengah malam begini
baru pulang ?” Seung Yeon langsung menghambur kepelukan Jung Soo tanpa permisi
wanita –iblis- itu memeluk namja –manusia- itu dengan erat. Sangat erat malah.
“Hey, kau kenapa ? Apa kau mau kembali ke alammu bersama laki-laki itu dan meninggalkanku
?” Seung Yeon diam. Entah sejak kapan ia yakin bahwa hatinya terbagi, ia yakin
setelah ia merasa nyaman di pelukan Jung Soo.
“Jika aku pergi apa yang akan kau
lakukan ?” Pertanyaan Seung Yeon membuat
Jung Soo bungkam, namja itu memejamkan matanya lalu membalas pelukan Seung
Yeon. “Aku tak tahu, selama beberapa bulan ini aku hidup dengan baik untukmu.
Aku tahu kau tahu karena kau bisa membaca pikiranku hanya saja kau pura-pura
tak menyadarinya bukan ?” Seung Yeon tak menjawab gadis itu masih gigih
bertanya, ia ingin Jung Soo menjawab pertanyaannya. “Katakan apa yang akan kau
lakukan jika aku kembali ?” Jung Soo masih diam, membuat Seung Yeon tak tahan.
“Aku akan kembali jika kau mengijinkanku untuk kembali.”
“Aku akan hidup dengan baik. Aku akan
menjalani hidupku dengan warna yang kuberi sendiri. Aku akan bekerja dengan
baik. Aku akan mencari wanita yang baik
untukku. Aku tak akan memikirkan masa laluku. Aku tak akan larut dalam
kesedihan.” Kaku dan kelu. Dua rasa itu yang Jung Soo rasakan saat ia
mengatakan hal itu. Ia tak ingin menghalangi Seung Yeon untuk bertemu dengan
keluarganya. Keluarga yang sangat dicintai oleh wanita ini. lagipula ia sadar,
dunia mereka berbeda dan tak mungkin mereka bersama.
“Kau mau berkorban sesuatu untukku
?” Jung Soo mengangguk tanpa ragu. “Bahkan jika itu mengorbankan nyawamu ?”
Jung Soo melepaskan pelukan Seung Yeon dan memandang manik gadis itu. “Apapun
untukmu, asal kau bisa kembali.”
Seung Yeon memandangi wajah Jung Soo
sejenak, lalu ia menempelkan bibirnya di bibir namja itu. Ia memejamkan matanya
erat-erat, ia terus menghisap aura manusia yang dimiliki Jung Soo dari sana.
Tak ia pedulikan rintihan yang keluar dari bibir Jung Soo. Ia teringat ucapan
Yun Ho, ‘Mati tidaknya dia tergantung berapa banyak kau menghisap auranya.
Jangan sampai kau melepaskannya saat kau menghisap auranya karena itu justru
membuatnya auranya hilang dan kau tak bisa kembali ke dunia kita. Kau tahukan
kita tak bisa melawan takdir ?’ Seung Yeon melepaskan tautannya saat sebuah
cahaya menariknya menjauh, ia sempat melihat Jung Soo menatapnya nanar. Namja
itu tak percaya perpisahan ini datang begitu cepat.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar