About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Kamis, 24 April 2014

[Onshoot] Lost - Nicole-Seung Ho


1.        Title                      : Lost
2.        Author                  : Choikang Lover
3.        Cast                      : Nicole Jung (Jung Yong Joo), Yoo Seung Ho, Jung Yun Ho and others
4.        Lenght                  : Oneshoot
5.        Rated                   : T/PG15
6.        Genre                   : AU, Sad
7.        Disclaimer            : Story Is Mine, Typo(s) anywhere. No bash and no plagiat. Cerita ini sebagai wujud saking ngefansnya saya sama Yoo Seung Ho Oppa sama Nicole Eonni.


One shot two shot
I remember those eyes
I guess we went different way
please tell me why



Jung Yong Joo adalah adik dari Jung Yun Ho, seorang dosen di Inha University. Kesalahan terbesarnya adalah menyuruh adiknya yang satu angkatan dengan Yoo Seung Hoo untuk menjadi guru les Seung Hoo, Seung Hoo bukannya kurang dalam hal pelajaran namun sikapnya yang membuatnya mendapat julukan Bad Boy. Baik, sedikit penjelasan Yong Joo adalah gadis yang penurut, ia tinggal bersama Yun Ho dan eomma-nya. Appa-nya pergi setelah bercerai dengan eomma-nya saat ia berusia 13 tahun. Ia cukup paham tentang masalah yang diterpa keluarga. Tidak ada satu namja-pun yang ia percayai kecuali kakaknya, Yun Ho.

Itulah pertimbangan Yun Ho kenapa ia memilih adiknya untuk menjadi guru Seung Hoo. Namja urakan seorang anak menteri pertahanan dan keamanan negara (HANKAM) yang hobinya tidur di ruang kelas dan keluar masuk klub malam. Sudah menjadi rahasia umum tentang kelakuan Seung Hoo. Namun itu saat di luar. Seung Hoo dibebani tanggung jawab besar oleh kakeknya untuk menjadi manager keuangan di perusahaan perbankan milik keluarganya, ia akan menjadi sosok dingin dan bertanggung jawab. Yun Ho sangat mengagumi namja yang usianya terpaut 6 tahun lebih muda darinya itu. Ia berharap dapat merubah sosok Seung Hoo seperti yang pernah di katakan Tuan Yoo – Appa Seung Hoo -  padanya. Dan ia juga berharap adiknya mulai bisa beradaptasi dengan makhluk yang berjenis kelamin laki – laki.

Namun kini ia hanya tersenyum miris. Ia merasa bersalah pada adik perempuannya, yang kini didapatkannya hanya tatapan kosong Yong Joo.


One shot two shot
Fates pulling the lines
Lies flashback
I remember those eyes


***

            “Saya sangat berharap banyak pada anda. Saya tahu anda adalah dosen yang sangat kompeten dalam mendidik mahasiswa anda. Bukan hanya sempurna dalam hal otak namun juga sikap.” Yun Ho mengangguk lalu memberi hormat pada sang menteri, orang tua dari salah satu mahasiswanya itu.
           
“Saya akan berusaha untuk mengubah sikap Seung Hoo semampu saya.” Tuan Yoo tersenyum lalu menepuk pundak Yun Ho. “Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Aku permisi dulu.” Yun Ho mengangguk lantas mempersilahkan Tuan Yoo keluar dari ruangannya.


***

            Greppp
           
Yong Joo menoleh, ia mendapati kakak satu – satunya tengah memeluk pundaknya dari belakang. Kecupan ringan mendarat di pucuk kepalanya yang mulai terasa dingin akibat angin malam. “Nanti Gyu Ri eonni salah paham. Kau tahu sendirikan dia sangat pencemburu.” Tukas Yong Joo sambil menyentakkan tangan Yun Ho.
           
Yun Ho memasukan tangan kirinya ke saku celana biru tuanya sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang Yong Joo dari samping. “Mianhae Yong Joo-ah.” Bisik Yun Ho lirih. Yong Joo menatap Yun Ho bingung. Lalu sepersekian detik berikutnya tatapannya kembali ke langit yang berwarna hitam. “Ini bukan salahmu. Sungguh. Ini- ini karena kebodohanku.” Setelah itu Yong Joo langsung berbalik meninggalkan Yun Ho.

Yun Ho hanya bisa memandang punggung adiknya yang berjalan menjauh. Yun Ho menyesal membawa masuk Seung Hoo dalam hidup adiknya. Andai ia bisa memutar kembali waktu ia akan menempuh jalan lain.

Awalnya Yong Joo berdiri di balkon untuk mendinginkan kepalanya. Ia ingin meredam emosinya tapi Yun Ho kembali mengingatkannya pada namja itu. Pada namja yang masih begitu dicintainya. Yoo Seung Hoo, Yong Joo mendesah berat sambil menutup pintu kamarnya. Mengingat namja itu seberkas rasa hangat menyapa hatinya lantas mendingin mengingat realita yang ada. Mereka berakhir.
           
Yong Joo merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sprei dari kain sutra. Hadiah dari Seung Hoo saat Seung Hoo pergi ke China. Yong Joo menarik sprei itu lalu mendekapnya erat – erat. Ia tak bisa menahan dirinya lagi.  2 minggu mereka berpisah dan sekarang Yong Joo merasa sudah siap untuk mendengar penjelasan dari Seung Hoo. Cepat atau lambat ini akan berakhir. Aku harus siap dengan segala konsekuensinya, batin Yong Joo. Ia mengusap kasar sisa – sisa lelehan air mata di pipi dan kelopak matanya lalu bangkit menyambar sweater putih gading yang cukup hangat untuk di kenakannya saat musim dingin seperti ini.

***

            Suara musik yang menghentak keras menyapa gendang telinga Yong Joo. Ia mengeratkan sweater putih yang dikenakannya, matanya menelisik seisi ruangan yang bergemerlap cahaya di sekitar DJ. Sedangkan sebagian besar ruangan itu terlihat remang – remang. Matanya berhenti di sebuah meja paling sudut ruangan tersebut. Ia teringat saat pertama kali mereka bertemu. Tanpa diperintah kakinya berjalan mendekati meja yang kosong tersebut.

***

            “Yoo Seung Hoo-ssi.” Seung Hoo menatap malas yeoja yang tengah duduk bersedakap di hadapannya. Tatapan memerintah dari sang yeoja membuat hasrat Seung Hoo untuk menghabiskan semalaman suntuk di klub ini musnah. Dengan malas Seung Hoo melepaskan tangan nakal 2 wanita penghibur yang duduk di pahanya. Seung Hoo berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang setengah terbuka karena ulah dua wanita penghibur itu. “Oppa~” rengek salah satunya manja. Kali ini Seung Hoo menyentakkan kedua tangan wanita penghibur itu kasar. Merasa kesal karena kelakuan Seung Hoo, mereka memandang sinis pada Yong Joo yang duduk di hadapan Seung Hoo. keduanya merenggut kesal tapi tak dipedulikan oleh Seung Hoo.

            “Ini. Ambillah.” Keduanya tersenyum cerah lalu meraih lembaran won yang diletakkan Seung Hoo di atas meja. Cup. Kecupan ringin dirasakan Seung Hoo sebelum kedua wanita itu beranjak meninggalkannya. Tatapan Seung Hoo kini beralih pada Yong Joo yang duduk tenang dihadapannya. “Yak!! Kenapa kau diam saja sekarang ? apa mau sebenarnya Yong Joo-ssi ?” Yong Joo memutar bola matanya jengah. Ia kesal karena sudah seharian ini ia mengatakan hal yang sama pada Seung Hoo. “Membuatmu berhenti mempermainkan wanita, keluar masuk dunia malam, balapan liar juga one night stand yang biasa kau lakukan.” Jawab Yong Joo malas. “Ayo pulang.” Ia berdiri dan meraih tangan Seung Hoo untuk berdiri dan menyeretnya keluar dari tempat yang bising ini.

            Seung Hoo berdiri mengikuti Yong Joo, belum 3 langkah Seung Hoo meraih pinggang Yong Joo dan memutar tubuh Yong Joo sehingga mereka berhadapan. Seung Hoo tersenyum membuat matanya menyipit. Yong Joo terpaku melihat senyum itu. Namun. Cup. Seung Hoo melumat bibirnya lembut namun menuntut lantas ciumannya turun ke leher putih Yong Joo. Meninggalkan sebuah Kissmark yang mencolok tapi tersamarkan karena ditutupi rambut Yong Joo yang panjang.

            Seung Hoo membenarkan rambut Yong Joo agar menutupi kissmark tersebut lalu menatap tepat pada manik Yong Joo yang masih terpaku. “Salahmu sudah mengganggu malam mingguku. Aku tak mungkin pergi dari sini tanpa mendapat hiburan apapun.” Ujarnya santai lantas berjalan ke arah pintu keluar. Yong Joo yang baru tersadar memegangi bibir dan lehernya bergantian. “Yoo Seung Hoo.” Geramnya kesal sambil menghentakan kakinya kelantai.

***
           
Yong Joo tersentak saat seorang pelayan tak sengaja menyenggolnya. Jiwanya tertarik kembali ke alam nyata. “Jeosunghamnida.” Pelayan itu membungkuk sebelum berlalu. Yong Joo hanya tersenyum menanggapinya, ia mengusap pipinya yang tanpa ia sadari basah karena air mata. Ia beranjak ke meja bartender dengan langkah gontai. “Kyu Hyun sunbae, apa kau melihat Seung Hoo-ssi kemari hari ini ?” Gerakan Kyu Hyun yang sedang meracik minuman terhenti sejenak. Ia mengerutkan keningnya tanda berpikir. “Aku sudah tak melihatnya 4 bulan terakhir. Setelah ia bersamamu ia tak pernah sekalipun kemari memangnya terjadi sesuatu Col-ie ?” Yong Joo menunduk. Ia tersenyum getir. Ia bingung, kenapa Seung Hoo berubah seperti yang ia harapkan ? Menjadi namja baik – baik dengan tata krama dan sopan santun yang luar biasa. Namun saat ia pikir semuanya berakhir bahagia justru Seung Hoo memutuskannya.

            “Nicole Jung ?” Yong Joo tersentak. Kyu Hyun memang terbiasa memanggilnya Nicole. Mereka bertetangga saat SD di Las Vegas. Siapa yang tahu saat Kyu Hyun memasuki sekolah menengah keluarganya gulung tikar. Namun Yong Joo salut pada Kyu Hyun, ia bisa menghadapi hidupnya dengan tegar. Menjadi seorang bartender di klub malam tidak merubah kepribadiannya yang hangat. “Kalau kau kemari hanya untuk melamun sebaiknya kau pulang. Di sini bukan tempat yang tepat untukmu Col-ie.” Yong Joo mengangguk. Ia sedikit menunduk sambil bergumam terma kasih.

            “Aku akan menghubungimu jika aku bertemu dengan Seung Hoo, atau jika ia kemari.” Lengkingan Kyu Hyun membuatnya menoleh saat dirinya mulai beranjak menjauh. Yong Joo mengangguk lalu tersenyum samar pada Kyu Hyun. Sesampainya di mobil ia mendesah lemas. Percuma ia pergi di tengah malam yang dingin ini jika tidak membuahkan hasil sama sekali.

            Yong Joo memandang cicin putih yang melingkar di jari manisnya. Ia masih ingat betul apa yang dikatakan Seung Hoo saat itu padanya. “Jaga cincin ini baik – baik. Itu jaminan aku akan melamarmu suatu saat nanti.” Yong Joo menghembuskan napasnya kasar. Ia menggelengkan kepalanya berusaha mengusir Seung Hoo yang terus terinang – inang di kepalanya. Pertanyaannya hanya satu kenapa ?

***

            “Yong Joo,” panggil Seung Hoo yang tengah berkutat di hadapan Laptopnya dengan serius. “Yong Joo!!” Seung Hoo menaikkan intonasi suaranya karena tidak ada respon dari yeoja yang diketahuinya tengah duduk di sofa bersebelahan dengannya. “Yong~” Seung Hoo mengatupkan bibirnya saat matanya menangkap wajah Yong Joo yang tenang. Kepala yeoja itu bersandar pada sandaran sofa dengan posisi duduk dengan kaki dilipat.

            “Ck! Benar – benar. Katanya akan membantuku menyelesaikan skripsi, nyatanya justru tidur pulas.” Mata Seung Hoo terus menelisik menyusuri garis wajah yeoja yang kini ada di dekapannya. Entah mengapa ia merasa nyaman dan damai saat menatap wajah itu. Melupakan semua yeoja diluar sana yang kini sedang menyandang gelar yeojachingu-nya walaupun sebenarnya gelar itu mesti dipertanyakan lagi.

            “Yong Joo. Ekhm, sepertinya aku menyukaimu. Ah, ani mungkin mencintaimu.” Seung Hoo berhenti, ia mengecup kening Yong Joo dengan sayang. “Sebelumnya tak ada yang bisa membuatku keluar dari club. Kau benar – benar hebat. Jadi jangan sampai kau meninggalkanku, arraseo!! Atau kau akan kuhantui seumur hidupmu.”

***

            Seung Hoo menghela napas. Ia tahu ia salah namun hatinya benar – benar telah berubah sekarang. Ia dengan cepat melepas cincin yang sama seperti yang ia berikan kepada Yong Joo, memasukannya kedalam saku cepat sebelum Ji  Young kembali dari toilet. Hari ini ia dan Ha Ra –yeojachingu-nya yang baru- sedang candle ligh dinner di restorant mewah yang sengaja disiapkan untuk merayakan ulang tahun Ha Ra berdua dengannya.

            “Oppa, mianhae membuatmu menunggu.” Seung Hoo menggeleng untuk menutupi perasaan kagetnya. Ia takut membuat Ha Ra terluka karena tahu ia masih mikirkan Yong Joo. Sejujurnya, ia tak tega untuk meninggalkan yeoja itu. Meninggalkannya dan kembali dalam kesendirian.

            Ha Ra tersenyum manis menatap cake coklat ukuran sedang dengan lima buah cherry merah diatasnya dan lilin berjumlah 21 memenuhi permukaan cake tersebut yang sudah mati. Ha Ra memang 2 tahun lebih muda dari Yong Joo. Ia harap keputusannya meninggalkan Yong Joo dan memilih untuk sepenuhnya dengan Ha Ra tidaklah salah. Ia takut salah mengartikan perasaannya pada Ha Ra.

            “Oppa.” Tegur Ha Ra saat Seung Hoo terlihat melamun. “Ah, mianhae chagiya. Saengil chuka hamnida.”

***

            Yong Joo meremas ujung dress coklat dibawah lutut yang dikenakannya. Entah perasaan apa yang kini ia rasakan saat menatap wajah dihadapannya. Seung Ho. Namja itu memandangannya datar seperti saat mereka baru mengenal. Dalam hati Yong Joo tersenyum miris. Ya, mungkin memang bukan dirinya yang Seung Ho inginkan. Bukan.

            Sudah lebih dari 10 menit mereka duduk di cafe ini tanpa ada satu pun yang bersuara. Yong Joo yang sibuk menertawakan dirinya sendiri, merasakan sesak dalam dadanya. Sedangkan Seung Ho sibuk menyusun kata yang tepat untuk Yong Joo. Setidaknya untuk tidak terlalu melukai hati yeoja dihadapannya. Bagaimanapun yeoja itu cukup besar pengaruhnya dalam merubah sudut pandangannya pada dunia.

            “Mianhae, Yong Joo-ah. Tapi-” belum sempat Seung Ho menyelesaikan ucapannya Yong Joo menyela. “Tak usah dilanjutkan aku sudah mengerti. Jebal, kau boleh pergi tapi jangan katakan selamat tinggal padaku. Jangan. Jangan pernah.”  Seung Ho terperanjat. Ia menatap wajah yeoja dihadapannya yang tengah menunduk. Ia tertegum saat dengan matanya sendiri ia melihat air mata itu turun menyusuri pipi yang selalu diusapnya dengan lembut dan sarat akan kasih sayang saat mereka bertemu.

            “Pergi. Jika kau ingin pergi. Sekarang. Ppalli!” Seung Ho menunduk, ia meraih tangan Yong Joo dan menggenggamnya erat. “Sungguh, aku tahu aku salah. Mianhae Yong Joo-ah. Mianhae, aku tak bisa menjaga hatiku untukmu seorang maafkan aku.” Seung Ho mengecup tangan itu sebelum melangkah pergi. Ia tak ingin menoleh, ia tak bisa melihat Yong Joo yang menangis hingga mengeluarkan isakan kecil yang tertahan. Tubuhnya terguncang karena tangisnya yang tak terbendung menatap punggung Seung Ho –namjanya- yang perlahan menjauh. Jauh dari jangkauannya. Yong Joo berlari keluar cafe tanpa mempedulikan berapa banyak mata yang menatapnya dengan pandangan kasihan.

            Ya, mungkin mereka pikir ia baru saja diputuskan oleh kekasihnya dan ditinggal pergi. Walau tak sepenuhnya seperti itu namun nyatanya memang tak jauh berbeda dari persepsi mereka. Nyatanya ia memang ditinggalkan bukan ?

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar