1.
Title : Lost
2.
Author : Choikang Lover
3.
Cast : Nicole Jung (Jung Yong
Joo), Yoo Seung Ho, Jung Yun Ho and others
4.
Lenght : Oneshoot
5.
Rated : T/PG15
6.
Genre : AU, Sad
7.
Disclaimer : Story Is Mine, Typo(s) anywhere.
No bash and no plagiat. Cerita ini sebagai wujud saking ngefansnya saya sama
Yoo Seung Ho Oppa sama Nicole Eonni.
One
shot two shot
I
remember those eyes
I guess we went different way
please
tell me why
Jung Yong Joo adalah
adik dari Jung Yun Ho, seorang dosen di Inha University. Kesalahan terbesarnya
adalah menyuruh adiknya yang satu angkatan dengan Yoo Seung Hoo untuk menjadi
guru les Seung Hoo, Seung Hoo bukannya kurang dalam hal pelajaran namun
sikapnya yang membuatnya mendapat julukan Bad
Boy. Baik, sedikit penjelasan Yong Joo adalah gadis yang penurut, ia
tinggal bersama Yun Ho dan eomma-nya. Appa-nya pergi setelah bercerai dengan
eomma-nya saat ia berusia 13 tahun. Ia cukup paham tentang masalah yang diterpa
keluarga. Tidak ada satu namja-pun yang ia percayai kecuali kakaknya, Yun Ho.
Itulah pertimbangan Yun
Ho kenapa ia memilih adiknya untuk menjadi guru Seung Hoo. Namja urakan seorang
anak menteri pertahanan dan keamanan negara (HANKAM) yang hobinya tidur di
ruang kelas dan keluar masuk klub malam. Sudah menjadi rahasia umum tentang
kelakuan Seung Hoo. Namun itu saat di luar. Seung Hoo dibebani tanggung jawab
besar oleh kakeknya untuk menjadi manager keuangan di perusahaan perbankan
milik keluarganya, ia akan menjadi sosok dingin dan bertanggung jawab. Yun Ho
sangat mengagumi namja yang usianya terpaut 6 tahun lebih muda darinya itu. Ia
berharap dapat merubah sosok Seung Hoo seperti yang pernah di katakan Tuan Yoo
– Appa Seung Hoo - padanya. Dan ia juga
berharap adiknya mulai bisa beradaptasi dengan makhluk yang berjenis kelamin
laki – laki.
Namun kini ia hanya
tersenyum miris. Ia merasa bersalah pada adik perempuannya, yang kini
didapatkannya hanya tatapan kosong Yong Joo.
One
shot two shot
Fates
pulling the lines
Lies flashback
I
remember those eyes
***
“Saya sangat berharap banyak pada
anda. Saya tahu anda adalah dosen yang sangat kompeten dalam mendidik mahasiswa
anda. Bukan hanya sempurna dalam hal otak namun juga sikap.” Yun Ho mengangguk
lalu memberi hormat pada sang menteri, orang tua dari salah satu mahasiswanya
itu.
“Saya
akan berusaha untuk mengubah sikap Seung Hoo semampu saya.” Tuan Yoo tersenyum
lalu menepuk pundak Yun Ho. “Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Aku permisi
dulu.” Yun Ho mengangguk lantas mempersilahkan Tuan Yoo keluar dari ruangannya.
***
Greppp
Yong Joo menoleh, ia
mendapati kakak satu – satunya tengah memeluk pundaknya dari belakang. Kecupan
ringan mendarat di pucuk kepalanya yang mulai terasa dingin akibat angin malam.
“Nanti Gyu Ri eonni salah paham. Kau tahu sendirikan dia sangat pencemburu.”
Tukas Yong Joo sambil menyentakkan tangan Yun Ho.
Yun Ho memasukan tangan
kirinya ke saku celana biru tuanya sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang
Yong Joo dari samping. “Mianhae Yong Joo-ah.” Bisik Yun Ho lirih. Yong Joo
menatap Yun Ho bingung. Lalu sepersekian detik berikutnya tatapannya kembali ke
langit yang berwarna hitam. “Ini bukan salahmu. Sungguh. Ini- ini karena
kebodohanku.” Setelah itu Yong Joo langsung berbalik meninggalkan Yun Ho.
Yun Ho hanya bisa
memandang punggung adiknya yang berjalan menjauh. Yun Ho menyesal membawa masuk
Seung Hoo dalam hidup adiknya. Andai ia bisa memutar kembali waktu ia akan
menempuh jalan lain.
Awalnya Yong Joo
berdiri di balkon untuk mendinginkan kepalanya. Ia ingin meredam emosinya tapi
Yun Ho kembali mengingatkannya pada namja itu. Pada namja yang masih begitu
dicintainya. Yoo Seung Hoo, Yong Joo mendesah berat sambil menutup pintu
kamarnya. Mengingat namja itu seberkas rasa hangat menyapa hatinya lantas
mendingin mengingat realita yang ada. Mereka berakhir.
Yong Joo merebahkan
tubuhnya di atas kasur dengan sprei dari kain sutra. Hadiah dari Seung Hoo saat
Seung Hoo pergi ke China. Yong Joo menarik sprei itu lalu mendekapnya erat –
erat. Ia tak bisa menahan dirinya lagi.
2 minggu mereka berpisah dan sekarang Yong Joo merasa sudah siap untuk
mendengar penjelasan dari Seung Hoo. Cepat atau lambat ini akan berakhir. Aku
harus siap dengan segala konsekuensinya, batin Yong Joo. Ia mengusap kasar sisa
– sisa lelehan air mata di pipi dan kelopak matanya lalu bangkit menyambar
sweater putih gading yang cukup hangat untuk di kenakannya saat musim dingin
seperti ini.
***
Suara
musik yang menghentak keras menyapa gendang telinga Yong Joo. Ia mengeratkan
sweater putih yang dikenakannya, matanya menelisik seisi ruangan yang
bergemerlap cahaya di sekitar DJ. Sedangkan sebagian besar ruangan itu terlihat
remang – remang. Matanya berhenti di sebuah meja paling sudut ruangan tersebut.
Ia teringat saat pertama kali mereka bertemu. Tanpa diperintah kakinya berjalan
mendekati meja yang kosong tersebut.
***
“Yoo Seung Hoo-ssi.” Seung Hoo menatap malas
yeoja yang tengah duduk bersedakap di hadapannya. Tatapan memerintah dari sang
yeoja membuat hasrat Seung Hoo untuk menghabiskan semalaman suntuk di klub ini
musnah. Dengan malas Seung Hoo melepaskan tangan nakal 2 wanita penghibur yang
duduk di pahanya. Seung Hoo berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang
setengah terbuka karena ulah dua wanita penghibur itu. “Oppa~” rengek salah
satunya manja. Kali ini Seung Hoo menyentakkan kedua tangan wanita penghibur
itu kasar. Merasa kesal karena kelakuan Seung Hoo, mereka memandang sinis pada
Yong Joo yang duduk di hadapan Seung Hoo. keduanya merenggut kesal tapi tak
dipedulikan oleh Seung Hoo.
“Ini. Ambillah.” Keduanya tersenyum
cerah lalu meraih lembaran won yang diletakkan Seung Hoo di atas meja. Cup. Kecupan ringin dirasakan Seung Hoo
sebelum kedua wanita itu beranjak meninggalkannya. Tatapan Seung Hoo kini
beralih pada Yong Joo yang duduk tenang dihadapannya. “Yak!! Kenapa kau diam
saja sekarang ? apa mau sebenarnya Yong Joo-ssi ?” Yong Joo memutar bola
matanya jengah. Ia kesal karena sudah seharian ini ia mengatakan hal yang sama
pada Seung Hoo. “Membuatmu berhenti mempermainkan wanita, keluar masuk dunia
malam, balapan liar juga one night stand yang biasa kau lakukan.” Jawab Yong
Joo malas. “Ayo pulang.” Ia berdiri dan meraih tangan Seung Hoo untuk berdiri
dan menyeretnya keluar dari tempat yang bising ini.
Seung Hoo berdiri mengikuti Yong
Joo, belum 3 langkah Seung Hoo meraih pinggang Yong Joo dan memutar tubuh Yong
Joo sehingga mereka berhadapan. Seung Hoo tersenyum membuat matanya menyipit.
Yong Joo terpaku melihat senyum itu. Namun. Cup. Seung Hoo melumat bibirnya lembut namun menuntut lantas
ciumannya turun ke leher putih Yong Joo. Meninggalkan sebuah Kissmark yang
mencolok tapi tersamarkan karena ditutupi rambut Yong Joo yang panjang.
Seung Hoo membenarkan rambut Yong
Joo agar menutupi kissmark tersebut lalu menatap tepat pada manik Yong Joo yang
masih terpaku. “Salahmu sudah mengganggu malam mingguku. Aku tak mungkin pergi
dari sini tanpa mendapat hiburan apapun.” Ujarnya santai lantas berjalan ke
arah pintu keluar. Yong Joo yang baru tersadar memegangi bibir dan lehernya
bergantian. “Yoo Seung Hoo.” Geramnya kesal sambil menghentakan kakinya
kelantai.
***
Yong Joo tersentak saat
seorang pelayan tak sengaja menyenggolnya. Jiwanya tertarik kembali ke alam
nyata. “Jeosunghamnida.” Pelayan itu membungkuk sebelum berlalu. Yong Joo hanya
tersenyum menanggapinya, ia mengusap pipinya yang tanpa ia sadari basah karena
air mata. Ia beranjak ke meja bartender dengan langkah gontai. “Kyu Hyun
sunbae, apa kau melihat Seung Hoo-ssi kemari hari ini ?” Gerakan Kyu Hyun yang
sedang meracik minuman terhenti sejenak. Ia mengerutkan keningnya tanda
berpikir. “Aku sudah tak melihatnya 4 bulan terakhir. Setelah ia bersamamu ia
tak pernah sekalipun kemari memangnya terjadi sesuatu Col-ie ?” Yong Joo
menunduk. Ia tersenyum getir. Ia bingung, kenapa Seung Hoo berubah seperti yang
ia harapkan ? Menjadi namja baik – baik dengan tata krama dan sopan santun yang
luar biasa. Namun saat ia pikir semuanya berakhir bahagia justru Seung Hoo
memutuskannya.
“Nicole
Jung ?” Yong Joo tersentak. Kyu Hyun memang terbiasa memanggilnya Nicole.
Mereka bertetangga saat SD di Las Vegas. Siapa yang tahu saat Kyu Hyun memasuki
sekolah menengah keluarganya gulung tikar. Namun Yong Joo salut pada Kyu Hyun,
ia bisa menghadapi hidupnya dengan tegar. Menjadi seorang bartender di klub
malam tidak merubah kepribadiannya yang hangat. “Kalau kau kemari hanya untuk
melamun sebaiknya kau pulang. Di sini bukan tempat yang tepat untukmu Col-ie.”
Yong Joo mengangguk. Ia sedikit menunduk sambil bergumam terma kasih.
“Aku
akan menghubungimu jika aku bertemu dengan Seung Hoo, atau jika ia kemari.”
Lengkingan Kyu Hyun membuatnya menoleh saat dirinya mulai beranjak menjauh.
Yong Joo mengangguk lalu tersenyum samar pada Kyu Hyun. Sesampainya di mobil ia
mendesah lemas. Percuma ia pergi di tengah malam yang dingin ini jika tidak
membuahkan hasil sama sekali.
Yong
Joo memandang cicin putih yang melingkar di jari manisnya. Ia masih ingat betul
apa yang dikatakan Seung Hoo saat itu padanya. “Jaga cincin ini baik – baik. Itu jaminan aku akan melamarmu suatu saat
nanti.” Yong Joo menghembuskan napasnya kasar. Ia menggelengkan kepalanya
berusaha mengusir Seung Hoo yang terus terinang – inang di kepalanya.
Pertanyaannya hanya satu kenapa ?
***
“Yong
Joo,” panggil Seung Hoo yang tengah berkutat di hadapan Laptopnya dengan
serius. “Yong Joo!!” Seung Hoo menaikkan intonasi suaranya karena tidak ada
respon dari yeoja yang diketahuinya tengah duduk di sofa bersebelahan
dengannya. “Yong~” Seung Hoo mengatupkan bibirnya saat matanya menangkap wajah
Yong Joo yang tenang. Kepala yeoja itu bersandar pada sandaran sofa dengan
posisi duduk dengan kaki dilipat.
“Ck!
Benar – benar. Katanya akan membantuku menyelesaikan skripsi, nyatanya justru
tidur pulas.” Mata Seung Hoo terus menelisik menyusuri garis wajah yeoja yang
kini ada di dekapannya. Entah mengapa ia merasa nyaman dan damai saat menatap
wajah itu. Melupakan semua yeoja diluar sana yang kini sedang menyandang gelar
yeojachingu-nya walaupun sebenarnya gelar itu mesti dipertanyakan lagi.
“Yong
Joo. Ekhm, sepertinya aku menyukaimu. Ah, ani mungkin mencintaimu.” Seung Hoo
berhenti, ia mengecup kening Yong Joo dengan sayang. “Sebelumnya tak ada yang
bisa membuatku keluar dari club. Kau benar – benar hebat. Jadi jangan sampai
kau meninggalkanku, arraseo!! Atau kau akan kuhantui seumur hidupmu.”
***
Seung
Hoo menghela napas. Ia tahu ia salah namun hatinya benar – benar telah berubah
sekarang. Ia dengan cepat melepas cincin yang sama seperti yang ia berikan
kepada Yong Joo, memasukannya kedalam saku cepat sebelum Ji Young kembali dari toilet. Hari ini ia dan Ha
Ra –yeojachingu-nya yang baru- sedang candle ligh dinner di restorant mewah
yang sengaja disiapkan untuk merayakan ulang tahun Ha Ra berdua dengannya.
“Oppa,
mianhae membuatmu menunggu.” Seung Hoo menggeleng untuk menutupi perasaan
kagetnya. Ia takut membuat Ha Ra terluka karena tahu ia masih mikirkan Yong
Joo. Sejujurnya, ia tak tega untuk meninggalkan yeoja itu. Meninggalkannya dan
kembali dalam kesendirian.
Ha
Ra tersenyum manis menatap cake coklat ukuran sedang dengan lima buah cherry
merah diatasnya dan lilin berjumlah 21 memenuhi permukaan cake tersebut yang
sudah mati. Ha Ra memang 2 tahun lebih muda dari Yong Joo. Ia harap
keputusannya meninggalkan Yong Joo dan memilih untuk sepenuhnya dengan Ha Ra
tidaklah salah. Ia takut salah mengartikan perasaannya pada Ha Ra.
“Oppa.”
Tegur Ha Ra saat Seung Hoo terlihat melamun. “Ah, mianhae chagiya. Saengil
chuka hamnida.”
***
Yong
Joo meremas ujung dress coklat dibawah lutut yang dikenakannya. Entah perasaan
apa yang kini ia rasakan saat menatap wajah dihadapannya. Seung Ho. Namja itu
memandangannya datar seperti saat mereka baru mengenal. Dalam hati Yong Joo
tersenyum miris. Ya, mungkin memang bukan dirinya yang Seung Ho inginkan.
Bukan.
Sudah
lebih dari 10 menit mereka duduk di cafe ini tanpa ada satu pun yang bersuara.
Yong Joo yang sibuk menertawakan dirinya sendiri, merasakan sesak dalam
dadanya. Sedangkan Seung Ho sibuk menyusun kata yang tepat untuk Yong Joo.
Setidaknya untuk tidak terlalu melukai hati yeoja dihadapannya. Bagaimanapun
yeoja itu cukup besar pengaruhnya dalam merubah sudut pandangannya pada dunia.
“Mianhae,
Yong Joo-ah. Tapi-” belum sempat Seung Ho menyelesaikan ucapannya Yong Joo
menyela. “Tak usah dilanjutkan aku sudah mengerti. Jebal, kau boleh pergi tapi
jangan katakan selamat tinggal padaku. Jangan. Jangan pernah.” Seung Ho terperanjat. Ia menatap wajah yeoja
dihadapannya yang tengah menunduk. Ia tertegum saat dengan matanya sendiri ia
melihat air mata itu turun menyusuri pipi yang selalu diusapnya dengan lembut
dan sarat akan kasih sayang saat mereka bertemu.
“Pergi.
Jika kau ingin pergi. Sekarang. Ppalli!” Seung Ho menunduk, ia meraih tangan
Yong Joo dan menggenggamnya erat. “Sungguh, aku tahu aku salah. Mianhae Yong
Joo-ah. Mianhae, aku tak bisa menjaga hatiku untukmu seorang maafkan aku.”
Seung Ho mengecup tangan itu sebelum melangkah pergi. Ia tak ingin menoleh, ia
tak bisa melihat Yong Joo yang menangis hingga mengeluarkan isakan kecil yang
tertahan. Tubuhnya terguncang karena tangisnya yang tak terbendung menatap
punggung Seung Ho –namjanya- yang perlahan menjauh. Jauh dari jangkauannya.
Yong Joo berlari keluar cafe tanpa mempedulikan berapa banyak mata yang
menatapnya dengan pandangan kasihan.
Ya,
mungkin mereka pikir ia baru saja diputuskan oleh kekasihnya dan ditinggal
pergi. Walau tak sepenuhnya seperti itu namun nyatanya memang tak jauh berbeda
dari persepsi mereka. Nyatanya ia memang ditinggalkan bukan ?
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar