1. Title : Kiss The Rain
2. Cast(s) : Kim Yu Ra, Lee Dong Hae
3. Author : Choikang (ganti pena name dari Fortunia Ryu.)
4. Lenght : One Shoot.
5. Genre : AU, Romance, Angst, Fantasy, etc.
6. Rated : T/PG15
7. Disclaimer : NO Plagiat, no bash, typo(s) anywhere.
8. Summary : Hujan mengambil semuanya dariku dan saat hujan aku merasa Tuhan mengijinkanku untuk merasakan apa yang telah diambilnya dariku lagi. Mengenang dan seolah dapat merasakanya secara nyata.
Kiss The Rain
Kim Yu Ra – Lee Dong Hae
Gadis itu menatap rintik - rintik hujan dari balik kaca jendela di kamarnya. Hujan. Tetesan air dari langit itu selalu membawa kenangan itu bersama. Kenangan yang menyakitkan namun begitu berarti untuknya. Hujan pertama di Seoul setelah hampir 4 tahun ia meninggalkan tanah kelahirannya. Walaupun menyakitkan ia akan tetap memilih mengingatnya daripada hilang ingatan.
Banyak sekali perbedaan pada diri gadis itu. Dulu 4 tahun yang lalu ia biasa mengenakan sepasang anting dengan 2 tindik dimasing - masing telinganya. Rambut yang di cat seperti rainbow cake namun didominasi warna pirang dan violet dan dipotong serampangan, juga kuku jarinya yang dicat hitam pekat. Sungguh penampilan yang wow untuk ukuran anak bekas panti asuhan yang masih berumur 18 tahun.
Tapi lihatlah kini. Rambut hitam pekat seperti warna aslinya, wajah yang dilapisi make up tipis, dengan sebuah anting - anting kecil dimasing - masing telinganya berbentuk ukiran bunga dengan satu batu permata. Kuku yang putih tanpa dicat, juga sebuah mantel hangat menutupi dirinya dari udara dingin walau sekarang ia berada di dalam rumahnya.
Hujan terakhir ia berada di Seoul adalah saat ia kehilangan orang yang membuatnya kembali menemukan semangat hidupnya. Orang yang kembali membuatnya bangkit setelah berkali - kali ia terjatuh. Ia masih ingat waktu itu hampir senja, di sebuah bukit kecil, ia dengan orang itu menikmati rintik gerimis hujan di sebuah pondok diantara Redwood yang berusia paling tua sekitar 50 tahun ditemani matahari senja yang hampir tenggelam di balik bukit. Namun tiba - tiba orang itu meringis kesakitan di tengah gerimis.
Gadis itu mengusap air mata yang ikut mengalir. Jemari lentiknya mengusap kaca jendela. Matanya terpejam seolah merasakan dingin dan sunyinya hujan dibalik kaca itu. Ia kembali kesini bukan untuk kembali pada masa dimana kegelapan melingkupi hidupnya namun ia kembali disini untuk kembali ke sisi orang yang yang dikasihinya. Orang - orangnya disayanginya, menjadi semangatnya, dan pengisi energinya.
***
"Nona Kim Yu Ra." Gadis itu tersenyum lalu berdiri menghampiri seorang wanita yang memanggilnya tadi. Yu Ra mengikuti wanita itu, memasuki sebuah ruangan orang penting yang ada di gedung dengan 15 lantai tersebut.
"Jadi... ?" Yu Ra tersenyum ia menunduk hormat bersama wanita tadi pada seorang pria yang berusia sekitar akhir 40 tahun itu. Setelah memberi hormat wanita tadi pergi meninggalkan ruangan itu. Yu Ra mendudukkan dirinya tepat berhadapan pada sang CEO agensinya.
Yu Ra tersenyum, tapi bukan senyum yang menampilkan suatu penghormatan melainkan senyum pada sahabat, orang yang kita kenal, atau orang yang dekat dengan kita. "Ahjussi, aku tak ingin go internasional, jadi batal saja konser di Amerika dan Brazil nde ?" sang CEO yang dipanggil ahjussi oleh Yu Ra itu mengetuk - ketukkan bolpoin hitam yang ada di genggamannya seraya memasang ekspresi berpikir. "Sebagai gantinya aku ingin menghibur anak - anak panti di konser amal saat perayaan Gurye Sansuyu Festival di Gunung Jirisan." Sang CEO semakin menatap Yu Ra penuh curiga. Matanya menyipit mengamati setiap ekspresi wajah yang Yu Ra tunjukan.
Tak sampai lima detik CEO itu menghempaskan badanya pada sandaran kursi kebesarannya. "Aku tahu apa yang ada dipikiranmu Yu Ra. Musim semi, anak kecil, perayaan Gurye Sansuyu, bukit dan danau." Namja paruh baya itu menghembuskan napasnya sejenak sementara dibalik meja itu Yu Ra menanti apa yang akan keluar dari mulut sang CEO itu. Namja itu mengaitkan jemari tangannya sehingga berkaitan seraya berkata, "bukannya aku melarangmu hanya sama menurutku keputusanmu itu kurang tepat. Aku tahu udara Seoul membuatmu lebih bersemangat untuk hidup kembali tapi mengorbankan jerih payahmu selama 4 tahun di Jepang hanya untuk mengenang masa lalu itu bukan hal yang bijak Yu Ra-ya. Dong Hae adalah keponakanku yang paling kusayangi, ia berkata kau adalah wanita tangguh tapi kenapa kau begitu melankolis dimataku eoh ?"Yu Ra tersenyum miring.
Ia sedikit jengah karena orang dihadapannya salah mengartikan keinginannya. "Lee Ahjussi, bukan begitu maksudku. Aku keluar dari industri musik Jepang karena aku ingin berkarir di Korea. Aku ingin menulis semua lagu-ku sendiri, dengan semua masa lalu yang pernah kualami. Aku ingin mengabadikan mereka dengan cara seperti itu. Selain itu, aku memang belum mau untuk go internasional. Setelah aku mendapatkan piala Daesang di GDA, setelah semua orang mengakui kemampuanku, aku baru akan terbang ke sana dengan sendirinya." "Sebelum memulai semua itu, sebelum aku menjadi seniman yang hebat aku ingin mengenang semuanya. Semuanya sekali lagi. Untuk kusimpan baik - baik dalam memoriku. Untuk mengingatkanku sebelum aku berdiri di panggung ini merekalah yang menyokongku." Lanjut Yu Ra dengan penuh keyakinan. Tak lama kemudian senyum kemenangan terbit dari bibir Yu Ra. "GAMSAHAMNIDA AHJUSSI." Ujarnya dengan semangat dan menggebu - gebu.
***
Yu Ra tersenyum saat jari - jarinya menari diatas piano putih milik sebuah panti asuhan yang menyeponsori acara ini. Sebenarnya ia dijadwalkan untuk menyanyikan salah satu lagu namun ia ingin memainkan piano untuk seseorang saat ia berkeliling panti asuhan tersebut jadi ia memaksa untuk memainkan sebuah lagu dari piano putih yang sekarang ada dihadapannya. Konser memang diselenggarakan di dekat panti asuhan tersebut, dekat danau dan dikelilingi pohon - pohon sakura yang bermekaran juga bunga Sansuyu. Lagu yang ia mainkan adalah Kiss The Rain milik Yiruma idola Dong Hae. Lagu yang dimainkan Dong Hae untuknya saat pertama kalinya ia merayakan ulang tahunnya dengan Dong Hae. 16 tahun.
Dentingan piano itu berakhir seraya diiringi tepuk tangan. Yu Ra tersenyum lalu turun dari panggung terbuka dengan tinggi hanya 1 meter tersebut. Ia berjalan ke backstage lalu meraih sweater biru muda miliknya lantas mengenakannya. Ia merapikan sedikit poni rambutnya yang sudah menutupi mata obsidiannya, lantas melangkah meninggalkan tempat tersebut setelah pamit dengan salah satu kru.
Yu Ra tersenyum memandang kelopak - kelopak bunga yang bermekaran. Langkahnya terhenti saat kakinya menginjak dermaga kecil di danau. Di dekat danau itu terdapat beberapa prahu kecil yang bisa digunakan untuk ke tengah danau. Jika ia sedang bersama seseorang mungkin ia akan langsung menyeret orang tersebut untuk menemaninya ke tengah danau. Seperti yang pernah ia lakukan pada Dong Hae. Yu Ra terkikik pelan, apapun yang dilakukannya, apapun yang ada dipikirannya tak akan pernah lepas dari satu nama yaitu Lee Dong Hae. Seolah tak ada kegiatan apapun yang dilakukannya tanpa bersama dengan namja tersebut.
Yu Ra menjelupkan kedua kakinya ke air danau yang tak terlalu dingin. Beruntung ia mengenakan sweater karena angin malam di tepi danau ini ternyata cukup dingin. Matahari sudah tenggelam sejak Yu Ra tiba disini. Kepalanya mendongak menatap bintang tepat di atas kepalanya.
"Lee Dong Hae. Kau tahu, aku merasa bintang yang berkedip itu dirimu. Apa disana kau juga suka menggoda yeoja seperti saat kau masih disini ? Dulu kupikir kau adalah matahariku, sampai aku sadar bahwa matahari juga termasuk bintang. Kau ada disaat masa - masa kelamku yang jauh lebih kelam dari langit ini." Yu Ra menarik napas lalu menghembuskannnya pelan. "Naega neomu bogoshipda."
***
Yu Ra keluar dari hotel tempatnya menginap saat matahari belum sepenuhnya keluar dari balik mega. Penampilannya sedikit berberbeda kali ini. Celana jeans abu - abu, kaos lengan pendek yang ia tutupi dengan sweater rajut berwarna coklat pudar dan juga rambutnya yang tadi malam ia rubah menjadi kecoklatan. Ia sedikit berniat mengubah gaya-nya mengikuit tren fashion korea. Ia menghentikan langkah kakinya yang sejak tadi melangkah menyusuri kota yang jauh dari kebisingan ini. Berbanding terbalik dengan Seoul pikirnya.
Yu Ra memilih untuk duduk di bangku taman, belum sempat ia duduk matanya menangkap anak perempuan yang mungkin usianya sekitar 8 tahun duduk diatas tanah dengan kepala tertunduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Yu Ra menghampiri bocah itu, pertama ia berjongkok tepat dihadapan bocah yang mengenakan dress putih selutut yang sedikit kotor karena ia duduk diatas tanah. Kedua Yu Ra mengayunkan tangannya mengusap kepala anak perempuan itu. Merasa ada orang atau terganggu, bocah itu menengadahkan kepalanya menatap Yu Ra. Yu Ra-pun tersenyum bukan hanya dengan lengkungan bibirnya namun juga membuat senyum dari matanya.
"Aigoo anak manis. Apa yang kau lakukan di taman ini sendirian eoh ? apa tadi kau bersama dengan ibumu lalu kalian terpisah ?" tanya Yu Ra tanpa menghentikan usapan tangannya pada kepala anak itu. Bukannya menjawab bocah itu kembali menunduk. "Aniya ? hemmm, lalu kenapa ? anak manis sepertimu tidak seharusnya murung seperti itu." Anak perempauan itu berdiri menepuk - tepuk bagian dressnya sehingga tidak terlalu kotor.
"Eonni, ayo ikut aku." Yu Ra mengikuti anak perempuan itu. Mereka sampai di belakang taman yang tak terlalu terawat. Terdapat banyak kawat bekas pagar yang sudah tak terpakai dibiarkan berserakan disini. "Eonni itu. Maki. Jebal, tolong dia." Yu Ra mengikuti arah yang ditunjukan anak perempuan itu. Matanya menangkap seekor kelinci putih dengan sebagian badan dan kaki yang berwarna coklat tua bercampur abu - abu. Kelinci itu tak bisa bergerak karena kakinya terjepit kawat. Yu Ra berjalan dengan hati - hati diantara kawat - kawat tersebut karena sebagian pada ujungnya runcing sehingga dapat menyebabkan kakinya terluka.
Setelah menangkap kelinci yang tergolong gemuk dan lucu tersebut dirinya kembali menghampiri anak perempuan itu. "Igo. Syukurlah ia tak terluka. Jaga ia baik - baik ya anak manis." Anak itu mengangguk dengan semangat setelah kelinci itu ada ditangannya. Tangan kecil itu tak henti - hentinya mengusap punggung peliharaannya tersebut.
Yu Ra POV
"Apa permintaan eonni ? Berhubung eonni cantik, eonni boleh meminta satu permintaan padaku dan Maki. Tapi satu saja eonni, hanya satu." Aku tertawa melihat cara bicara anak ini. Sungguh lucu saat ia berkata layaknya orang dewasa. "Aku ingin mengulang hari terakhirku bersama seseorang yang ada di surga. Nah sekarang ayo eonni antar pulang.?" ujarku sambil sedikit menunduk untuk menyejajarkan tinggi kami. Hendak kuraih tangan gadis namun ia malah menatap kelinci yang selalu dipanggilnya 'Maki' itu. Entah mengapa aku secara spontan mengatakan itu. "Maki-ya, eonni ingin menghabiskan satu hari bersama seseorang. Kau bisa membantunya agar keinginannya terkabul kan ?"
"Nama kelinciku ini maki kata temanku yang memberikannya, Maki artinya harapan yang sejati. Semoga harapan eonni terkabul. Kami pamit pulang dulu. Gomawo eonni yang sudah membantuku dan Maki. Semoga harapan eonni terkabul... dada~" aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saat melihatnya. Karena Dong Hae juga aku menyukai anak kecil. Yah, semua karena Dong Hae. Aku tak tahu akan sekelam apa hidupku tanpanya.
***
Author POV
"L-lee Do-dong Hae!" petik Yu Ra saat melihat seorang namja berdiri di depan kamar hotelnya dengan stelan jas putih kemeja putih dan celana bahan berwarna putih. Juga wajah namja itu memancarkan sinar walau tak sampai membuat orang yang melihatnya silau.
Yu Ra membekap mulutnya dengan tangan kirinya. Kepala terus menggeleng lemah namun tak sampai 10 detik ia sudah menghambur ke pelukan namja itu. "Niga neomu bogoshipoyeo. Hiks.." namja itu mengusap punggung Yu Ra pelan tak ingin mengusik Yu Ra yang tengah terisak pelan di dekapannya. Ia membiarkan wanita yang sangat dicintainya itu untuk menyalurkan kerinduan yang selama ini menghinggapi hatinya.
***
Yu Ra tersenyum riang saat mereka menjelajahi kaki gunung Jirisan dengan bersepeda. Dulu ia yang memboncengkan Dong Hae, namun kini ia bisa merasakan punggung namja itu dan bersandar disana saat Dong Hae mengayuh sepeda menyusuri tempat - tempat yang dipenuhi bunga Sansuyu yang berwarna kuning terang seolah memancarkan begitu banyak harapan. Yah, ia bisa mendekap tubuh itu dari belakang sekarang. Dengan kondisi Dong Hae yang memiliki kelainan jantung sejak lahir. Mereka berdua sama, sama - sama dikucilkan oleh banyak orang karena kekurangan mereka.
Mereka mengadakan mengunjungi pasar tradisional yang ada di desa Sangwi di kaki gunung Jirisan untuk makan -khusus Yu Ra karena Dong Hae hanya diam dan sibuk menyaksikan betapa lahapnya Yu Ra mengunyah makanan itu hingga membuat kedua pipinya mengembung penuh nasi kamchi. Dong Hae tersenyum dan terkikik pelan melihat cara makan wanita-nya -jika masih bisa dikatakan begitu karena Yu Ra memang belum memiliki kekasih semenjak kepergiannya. Yu Ra bahkan tak mengindahkan perkataan Dong Hae yang terus berujar 'kau adalah calon bintang besar, bagaimana bisa begitu berantakannya cara makanmu eoh ? kau itu wanita. Bertingkahlah selakunya wanita yang anggun dan lembut.'
Menjelang sore, Dong Hae mengayuh sepeda yang dikendarainya menuju danau. Mereka duduk di dermaga kecil yang ada dipinggir danau sambil menatap matahari yang hendak tenggelam dibalik bukit di depan sana. Yu Ra menyandarkan kepalanya dibahu Dong Hae sambil menatap matahari senja dengan senyum yang merekah. Sedangkan Dong Hae memejamkan matanya menikmati hembusan angin musim semi yang damai. Yu Ra memainkan telapak kakinya dipermukaan air danau hingga timbul gelombang - gelombang air kecil di sekitar kakinya.
"Aku yakin ini pasti akan berakhir. Kau tak mungkin selamanya disini. Jadi kapan ? kapan kau akan pergi." Dong Hae membuka matanya, ia menatap pucuk kepala Yu Ra yang terlihat nyaman di bahunya. Ini adalah pertama kalinya Yu Ra membuka suara saat mereka tiba disini sejak sore tadi dan sekarang matahari sudah benar - benar tenggelam di ufuk sana. "Aku bersandar dibahumu agar aku bisa merasakan dengan jelas kapan kau akan pergi. Kapan kau akan menghilang. Jika aku tahu itu akan terkabul aku akan memintamu untuk tetap hidup untukku. Biasanya mereka hanya memiliki waktu sampai matahari terbenam, tapi bahkan sampai gelap-pun kau tetap ada disini. Apakah kau sebenarnya tidak meninggal Oppa ? apa sebenarnya kau hanya pergi untuk berobat saja ? tapi kenapa waktu itu jantungmu berhenti berdetak dan kau tak lagi bernapas."
Dong Hae mengusap rambut kecoklatan itu dengan pelan. Ia terkekeh pelan, dengan suara yang terdengar sangat lembut ditelinga. Ia sedikit bingung Yu Ra, entah wanita itu menganggap apa kejadian hari ini. "Ternyata sifat egoismu masih mendarah daging pada dirimu. Ingat Yu Ra-ya, jangan melawan dan jangan berusaha melawan takdir yang tak bisa kau ubah dari Tuhan. Kelahiran, jodoh dan kematian. Aku selamanya ada di sisimu. Saranghae..." Dong Hae berujar seolah berbisik di telinga kiri Yu Ra.
Langit hitam tanpa bintang. Hanya cahaya bulan yang tertutup kabut dan kadang kembali terlihat tergambar jelas diatas permukaan air danau. Dong Hae menarik tangan Yu Ra, mereka menaiki sampan kecil yang ada dipinggir dermaga. Langit terlihat semakin hitam pekat namun cahaya bulan semakin terang. Dong Hae mengayuh sampan itu dengan pelan, sampai ditengah danau ia menatap Yu Ra dalam.
"Aku telah pergi, memang telah pergi." Dong Hae menghentikan ucapannya sejenak ia menarik napas untuk kemudian melanjutkan kata - katanya. "Aku bahagia kau berubah. Penampilanmu, kepribadianmu, tapi tidak dengan sikapmu selama aku disisimu. Aku senang dan bangga melihatmu yang tak kembali jatuh pada masa kelam itu lagi." Dong Hae membuka genggaman tangan kirinya dan menunjukan benda itu pada Yu Ra. Yu Ra sudah menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan tangis. "Seharusnya saat itu inilah kelanjutan, mungkin karena ini aku tidak bisa benar - benar melepas dunia. Kuharap kau tetap melanjutkan hidupmu dengan benar, dan benar - benar membuang bayang - bayang perasaanmu padaku setelah aku mengatakan ini." Rintik hujan mulai turun namun bulan tetap terang dilangit sana.
"Kim Yu Ra, maukah kau menikah denganku ?" tubuh Yu Ra bergetar dalam hujan yang semakin lebat. Namun bukan karena dingin tubuhnya bergetar, namun karena perasaan lain. Perasaan hangat yang membuatnya merasa sangat bahagia dan nyaman akan segera lepas dari rengkuhanya. Dong Hae menarik tengkuk Yu Ra cepat. Menyatukan bibir mereka tanpa saling melumat. Air mata mereka turun menjadi satu- bersama hujan.
"Yu Ra-ya. Kumohon, lepas aku."
***
Yu Ra menggeliat pelan, ia membuka matanya perlahan hingga nampak apa yang tertangkap oleh retina. Warna putih dari hotel tempatnya menginap. Yu Ra mendesah pelan, kepalanya terasa sangat pusing sekarang. Ia menggerakan tangan kirinya menyentuh keningnya untuk mengukur suhu tubuhnya yang ia rasa sedikit panas dari biasanya. Matanya menangkap benda yang ada digenggaman Dong Hae semalam melingkar di jari manisnya. Yu Ra termenung menatap benda itu di jarinya. Bukankah dirinya semalam hanya memejamkan mata ditengah hujan bersama Dong Hae namun kenapa saat ia membuka mata ia sudah berada di atas ranjang kamar hotel tempatnya menginap ?
"Lee - Dong - Hae." Ujarnya menatap ukiran hangul pada cincin berwarna putih itu dengan pikiran kosong. Otaknya terasa buntu untuk memikirnya apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengecek kalender pada handphone-nya.
"18 April adalah hari konser, jika kejadian kemarin benar - benar nyata seharusnya terjadi tanggal 19 April tapi- sekarang tanggal 19 April lalu-", Yu Ra menatap bingung cincin dan tanggal pada layar handphonenya. "Apa yang sebenarnya terjadi ?"
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar