About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Senin, 07 April 2014

(SERIES/CHAPTERED) Mission Impossible - Kyu Hyun-Daniel Pedrosa Part 1


1.        Title                      : Mission Impossible
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast                      : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.        Rated                   : PG 13/T menyesuaikan.
5.        Lenght                  : Chaptered
6.        Genre                   : AU, married life –part 1 belum muncul-, romance.
7.        Disclaimer            : FF yang muncul karena komentator bilang kaya gini ‘Kemungkinan Dani Pedrosa untuk bisa meraih gelar juara dunia memang belum tertutup sepenuhnya. Tapi ia seperti dalam Mission Impossible’. Lagipula ini FF chaptered ke-8 saya padahal FF yang lain numpuk di Draft dan belum ada kelanjutannya biasanya mentok sampe chaptered 3. Jadi kalo FF ini gak jadi juga jangan salahkan saya, salahin aja komentatornya. -_- J. Tapi saya akan berusaha menyelesaikan FF yang sudah saya mulai... Maaf juga kalo dinarasi kemaren ada yang saya ubah disini. Kaya Dani diawal jadi teknisi di F1, disini saya jadikan dia rider moto GP sesuai pekerjaan aslinya. Soalnya saya gak terlalu banyak tahu tentang F1 dan lebih paham Moto GP. :D


Story....


Author POV



            Tap tap tap tap.

            Semua orang yang duduk mengitari sebuah meja bundar menghentikan obrolan meja mendengar langkah kaki hingga keheningan menyelingkupi ruangan ini. cekleeet. Suara pintu dibuka membawa atmosfer tegang diantara mereka. Seorang namja paruh baya dengan setelan jas hitam berjalan perlahan menuju kursi yang disediakan khusus untuknya.

            “Selamat pagi pak.” Ujar salah seorang disana mewakili sekitar 8 orang yang duduk disana. Serempak mereka berdiri dan membungkuk hormat pada orang itu lalu kembali pada posisinya dengan duduk siap.

            Bugh. Suara buku yang dilempar oleh namja itu diatas meja menjadi pusat perhatian orang-orang yang duduk disana. “Selama 4 bulan ini aku menyuruh kalian menyelidiki tentang komplotan Andrew Choi dan kalian hanya menemukan bahwa pemimpin sebenarnya mereka adalah Marcus Cho eoh ?” Suara lantang bercampur marah dan kesal karena hasil kerja bawahannya tak ayal membuat orang disana menunduk. Antara takut –dipecat atau dipindah divisi- dan merasa bersalah –karena tidak bisa mendapatkan informasi lebih-.


            “Mianhada, kami akan berusaha lebih keras lagi.” Chang Jihoo –namja paruh baya tadi- menatap salah satu agen kebanggaanya ragu. Sebenarnya kasus komplotan mafia yang pada awalnya dipimpin oleh Andrew Choi itu sudah mereka incar sejak 3 tahun yang lalu. Dan selama 4 bulan yang lalu mereka baru secara serius mencari informasi secara detail tentang komplotan mafia itu. Fakta mengejutkan ternyata pemimpin besar komplotan mafia tersebut adalah Marcus Cho. Seorang hakim dipengadilan tinggi Seoul yang mengundurkan diri setahun yang lalu.

            “Aku tak yakin. Semua divisi lain sudah menyerah dan aku juga tak yakin kita bisa menangkap mereka. 4 bulan hanya mampu mengetahui dalang sebenarnya dibalik permainan ini dan tanpa bukti sama sekali. Apa kau yakin bisa menuntaskan kasus ini dan menyeret Marcus dan tangan kanannya –Andrew- kepengadilan Changhee ?” Jihoo dapat melihat gurat keraguan dari wajah Changhee sebelum ia menyembunyikannya. Semua agen divisi D sudah merasa sangat lelah hanya untuk mengorek informasi dan mereka juga tak yakin.

            “Kami akan melakukan yang terbaik pak.” Walau ragu, Changhee mengatakannya dengan penuh ketegasan, setidaknya itu membuat Jihoo menghela napas lega. Masih ada harapan untuk menuntaskan kasus ini. “Kuberi waktu 1 bulan untuk kembali mencari informasi dan jika bisa bukti-bukti yang bisa menguatkan kita dipengadilan. Jika tidak, berarti kasus ini ditutup dan mereka bebas melakukan transaksi gelap mereka. Rapat hari ini selesai.” Jihoo menutup rapat dan langsung keluar ruangan diikuti assistennya.

            “Kau yakin Changhee-ya, kita bahkan harus lembur untuk mencari informasi tentang mereka bahkan harus bolak-balik ke luar negeri hanya untuk mendapatkan informasi tentang mereka.” Jieun menatap ketua tim lapangan mereka ragu. “Aku juga tak yakin, tapi kita harus mencobanya. 1 bulan, gunakan waktu itu dengan baik. Kita bekerja untuk negara, ingat itu.” Ujar Changhee tanpa menatap lawan bicaranya. Sama sekali bukan Changhee yang mereka kenal. “Sudah banyak biaya yang dikeluarkan dalam kasus ini jadi kita harus menuntaskannya, jangan sia-siakan uang rakyat. Mereka sudah bekerja keras jadi kita harus membuat mereka nyaman.” Tambah Ji Na, setidaknya yeoja berusia 24 tahun itu selalu bisa membuat tim mereka kembali bersemangat diambang keputusasaan.

            Divisi D terdiri oleh 8 orang dengan 1 komandan-bisa disebut seperti itu-. Dari 8 orang ada 2 yeoja dan 6 namja dengan ketua tim lapangan Lee Changhee. Mereka adalah agen rahasia pemerintah Korea Selatan. Jangan tanyakan kehebatan mereka dalam mengorek informasi, mengumpulkan bukti sampai menyergap buronan. Tapi untuk mafia satu ini berbeda. Marcus Cho, mantan hakim ini berhasil membuat mereka kalang kabut. Secuil informasi saja rasanya masih dalam angan mereka untuk mendapatkannya. Tak akan ada yang menyangka bukan, mantan hakim yang terkenal ramah dan cerdas merupakan pemimpin mafia...


***


            “Daniel.” Ji Na tersenyum dan berlari menghambur kepelukan kekasihnya. Tak ayal tindakan Ji Na membuat Daniel hampir terjatuh kebelakang karenanya. Daniel Pedrosa Ramal. Seorang pembalap moto GP. Ada yang tak mengenalnya ? Pembalap asal negeri Matador –Spanyol- yang saat ini menempati urutan klasmen sementara diposisi ketiga. Ji Na mengeratkan pelukannya pada kekasihnya, sedangkan Daniel mengusap pucuk kepala Ji Na sayang. 2 bulan mereka tak bertemu karena Daniel sibuk mempersiapkan balapannya ditahun 2013 ini yang menyisakan 2 seri lagi.  Bahkan ia seharusnya ada di Jepang sekarang untuk uji coba motornya yang baru, tapi apa daya... rasa rindunya sudah tak terbendung lagi.

            Ji Na melepaskan pelukannya dan mengaitkan jemarinya pada jemari Daniel. “Seharusnya kau masuk saja kedalam. Apa eomma tidak ada dirumah ? Kaukan tahu eomma biasa meninggalkan kunci cadangan di pot aloevera.” Daniel yang tersenyum. Disini mengurangi rasa suntuk, bosan dan tertekannya menghadapi balapan yang mendekati penghujung tahun. “Aku sengaja menunggumu. Aku tak menekan bel mungkin bibi tidak tahu.” Ji Na menggunakan bahasa Korea sedangkan Daniel mengguakan bahasa inggris, kalian pasti akan pusing jika mendengar percakapan mereka. Daniel paham apa yang diucapkan Ji Na tapi lidahnya terasa aneh saat melafalkan kosakata bahasa korea hinga jadilah mereka seperti ini.

            Mereka masuk kedalam rumah setelah Ji Na membuka pintu dengan kunci yang dibawanya, ia meletakkan tas selempangnya disofa ruang tamu sementara Daniel sudah duduk manis disana. “Mau minum apa ?” “Ehm, coffee but not lot of sugar.” Ji Na mengangguk dan tak lama ia kembali dengan sekaleng soda untuknya dan kopi sesuai permintaan kekasihnya.

            “Katanya kemarin kau sedang di Jepang. Bukannya biasanya balapan diadakan hari minggu ? Berarti seharusnya kau sedang Free Test bukan ?” Daniel menyesap kopinya sambil mengangguk. “Wae ? Kenapa kau kemari ? Apa mereka mengijinkamu ?” Daniel meletakkan cangkir kopi itu sambil menjawab. “Aku merindukanmu, lagipula mereka membuatku tertekan. Kau tahu itukan, jika sudah seperti itu aku tak bisa membawa motor dengan baik. Jadi aku kemari untuk menenangkan pikiranku.” Daniel menarik kepala Ji Na untuk merebah dibahunya. “Kau tahu seperti ini membuatku nyaman dan tenang.” Ji Na hanya terdiam, tak tahukan Daniel jika berada dalam jarak sedekat ini membuat tubuh Ji Na menjadi tak karuan, gugup dan nyaman.
           
            “Karena itu jangan coba-coba untuk meninggalkanku. Jika kau sampai meninggalkanku aku akan mencarimu dan kupastikan orang yang telah membuatmu berpaling dariku mendapat pelajaran berharga.” Jangankan meninggalkannya, berhenti untuk memikirkan Daniel saja, hanya saat ia menjalankan misi saja. Setiap agen memang harus melupakan semua masalah pribadinya agar misi yang dijalankan tidak kacau.

            “Tahun depan kita akan menikah. Ji Na, bisakah kau berhenti menjadi seorang agen. Kau tahu bukan pekerjaan itu  memiliki resiko besar, aku ingin kau mengurus anak-anak kita saja nantinya. Biar aku yang bekerja dan menanggung hidup kalian nanti.” Ji Na menggeser kepalanya lalu mendongak hingga ia bisa menatap mata Daniel tajam sambil bersandar dibahu kekasihnya. “Bukankah pekerjaanmu sama beresikonya ? Sudah aku katakan bukan aku tak mungkin berhenti. Kami tim dan kami harus bekerja sama.” Daniel menghela napas. Sebaiknya ia mengalihkan pembicaraan ini. ini membuat moodnya menjadi buruk. Ada saat tersendiri untuk membicarakan ini. Pertengkaran hanya membuatnya semakin jenuh.

            “Lebih baik kita bicarakan ini nanti saja. Bisakah kau membuatkanku makanan. I’m hungry Ji Na.” Tatapan itu berubah dengan mata berbinar Ji Na mengangguk dan berdiri. “Aku masakan ramen saja yah...” ujar Ji Na tanpa menunggu persetujuan dari Daniel ia sudah melesat menuju dapur. Dalam hati Daniel ‘Bagaimana caranya membuat kekasihnya yang keras kepala mau keluar dari pekerjaannya yang penuh bahaya itu ?’


***


            Seorang pemuda duduk manis dengan senyuman terukir jelas dibibirnya saat rmenatap deretan-deretan angka yang tercetak di kertas yang berada di tangannya. “Ck! Dasar bodoh. Kerja bagus hyeong. Pastikan mereka terus terkecoh seperti ini. aku tak dapat membayangkan orang dulu mereka mintain tolong adalah pemimpin mafia. Bagaimana ekspresi mereka saat mendengarnya ? hahahaha.. aigoo~ wajah bodoh mereka seperti pemain opera saja.”

            Namja yang dipanggil hyeong oleh pemuda itu hanya tersenyum dingin, mata tajam dan tegas pantas saja membuat mereka terkecoh dan percaya bahwa dirinya adalah pemimpin mafia padahal sebenarnya bukan. “Mereka terlalu bodoh dan terlalu lelet untuk menghadapi kita.” Angin dingin negara asal pembuat salah satu merk telephone genggam ternama –Finlandia- di utara Eropa ini masuk dari jendela ruangan yang sengaja dibuka. Rumah ini terkesan bukan rumah seorang mafia melainkan orang terhormat. Bagaimana tidak disamping kanan rumah ini adalah kantor polisi dan terletak dipusat kota.

            “Pancing mereka, buat seolah-olah mereka memiliki peluang besar untuk menangkap kita tapi pada akhirnya- buat mereka putus asa dan menyerah Hyeong.” Ujar namja itu sambil meletakan kertas yang tadi dipegangnya. “Tanpa kau mintapun aku akan melakukannya. Semua orang yang menghalangi kita harus aku singkirkan Kyu Hyun-ah.” Mendengar jawaban dingin dari hyeong-nya namja yang dipanggil Kyu Hyun itu menampakan senyum setannya.

            “Bunuh mereka, jika membuat mereka menyerah memerlukan waktu yang lama.” Kejam dan sadis. Dunia gelap ini yang mengubah anak yatim piatu karena abeoji-nya ditembak mati karena menjadi kambing hitam atas kasus penggelapan uang. Abeoji-nya –tuan Cho Young Hwa- adalah salah satu dewan komisi III dilembaga legislatif, karena ayahnya yang dijatuhi hukuman mati membuat eommanya depresi dan menyusul abeojinya. 10 tahun, Kyu Hyun hanya bisa menangis saat melihat tubuh kaku orang tuanya. Dan tuan Choi Jiwoon –Abeoji Si Won- yang membesarkannya. 19 tahun, Kyu Hyun mulai bergabung dalam bisnis legal dan diusia 23 tahun ia mendirikan komplotannya sendiri hingga 3 tahun berjalan sampai sekarang. Rasa bencinya kepada pemerintah korea membuatnya ingin mengacaukan negara itu. Negera dimana ia dilahirkan dan dibesarkan...


***


            Chang Ji Hoo memasuki ruang rapat dengan senyum yang sedikit mengembang. Ia langusng duduk dikursi paling ujung di utara. Seperti biasa mereka memberi hormat kepada Jihoo sebelum rapat dimulai. “Kita sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk menangkap Marcus. Kita juga sudah mengetahui dimana ia berada sekarang. Tapi- aku belum bisa meyakinkan Kang Sajangnim untuk menurunkan divisi lain untuk membantu kita. Dengan kata lain.. kita harus menghadapi ini sendiri. Untuk misi kali ini aku akan ikut turun langsung untuk meringkus Cho. Persiapan dimulai dari sekarang. Bawa benda yang berguna, jangan sampai kehilangan komunikasi satu sama lain. Kita berangkat 2 hari lagi ke Finlandia. Choi Jong Hyun- terima kasih, atas kerjamu hingga bukti-bukti ini terkumpul.” Jong Hyun tersenyum sambil menundukkan kepala.

            Semua orang merasa tak percaya, terutama Changhee. Bagaimana mungkin Jong Hyun bisa mengumpulkan bukti transaksi ilegal itu dalam waktu 2 minggu sedangkan 4 bulan yang lalu tidak menghasilkan apa-apa kecuali otak mafia yang sebenarnya. Terlebih Jong Hyun terlihat paling santai dan ia tak pernah melihat Jong Hyun bersemangat dalam bekerja. Jong Hyun hanya mengikuti perintahnya tanpa berbuat lebih menuruti instingnya sendiri. Semua ini begitu mengganjal bagi Changhee, karena ia memahami sifat dan karakter dalam tim-nya.

“Satu lagi- jika misi ini gagal divisi ini akan dibubarkan dan kita akan dimasukan kedivisi yang lain. Dengan kata lain kita harus menyesuaikan diri dengan tim baru kita.. Ji-ka ki-ta ga-gal.” Semua orang tercengang. Bagaimana mungkin ? Membubarkan sebuah divisi karena satu misi yang gagal. Changhee mengangkat tangannya. “Pak, kenapa bisa seperti itu ? Bukankah sudah 3 divisi yang gagal tapi mereka tidak dibubarkan ?” Semua mengangguk menyetujui sanggahan Changhee yang disambut helaan napas oleh Jihoon. “Jangankan kalian, aku sendiri merasa ini tak adil dan tidak masuk akal. Kita hanya bisa mencoba yang terbaik. Oleh karenanya aku akan ikut turun tangan langsung pada misi kali ini.” Misi yang sangat berbeda bukan ?


***


            “Kau mau kemana ?” Ji Na menoleh, ia menghentikan aktivitasnya memasukan pakaiannya kedalam koper kecil berwarna hitam yang diletakkan diatas tempat tidurnya. Daniel melangkahkan kakinya mendekati Ji Na lalu meletakan tas punggung yang dibawanya disamping koper Ji Na yang masih terbuka. “Kenapa kau ada disini lagi ? Seharusnya kau itu konsentrasi pada balapanmu. 1 seri lagi dan- selamat atas kemenanganmu di Motegi kemarin.” Ji Na meraih pipi kanan Daniel dengan tangan kirinya lalu mengecup pipi kiri Daniel singkat.

            “Aku kemari untuk menghabiskan 1 minggu sebelum penentuan juara dunia dan kau- kau pasti ada tugas diluar. Dimana ?” Daniel meraih pinggang lansing milik kekasihnya lalu mendekapnya dengan satu tangan yang berada ditengkuk Ji Na. “Kami akan ke Finlandia.” Tungkas Ji Na, Daniel melepaskan rengkuhannya hingga mata mereka saling bertemu. “Dan kau meninggalkanku lagi. Finlandia itu berbahaya terlebih kau tak mengenal tempat itu. Disana masih ada banyak hutan lebat yang berbahaya dan aku yakin mereka menyuruhmu untuk menangkap penjahat mereka kesana.” Ji Na menggeleng mendengar argument yang menunjukan seberapa besar ke-posesifan kekasihnya ini padanya. “Mereka ada dipusat kota Helsingky, kau tenang saja aku tak sendirian.” Daniel mendesah berat. Acara 1 minggu yang sudah ia rencanakan untuk ia habiskan bersama Ji Na gagal total. Gadisnya tidak mungkin dicegah. Ia tahu seberapa besar kekeraskepalaan Ji Na.

            “Tetap saja disana berbahaya. Aku sebagai calon suamimu tidak mengijinkannya Hwang Ji Na.” Ji Na memeluk pinggang Daniel dan menyandarkan kepalanya didada pemuda dengan garis wajah arab itu. Ia berusaha merayu Daniel agar mengijinkannya pergi untuk misi kali ini. “Aku mohon, ayolah... aku selalu pulang dengan selamat bukan ?” Mendengar suara memelas itu membuat Daniel merasa bimbang, tapi perasaannya mendadak tidak enak tentang misi kali ini.

            “Baik, aku akan mengijinkanmu pergi dengan satu syarat.” Ji Na tersenyum dan melepaskan pelukannya. Binar matanya menunjukan ia sudah tak sabar mendengar apa syarat yang diajukan kekasihnya. Biasanya syarat yang Daniel ajukan seperti : menghabiskan waktu bersamanya seharian. Mengajaknya ke- “Berhenti menjadi agen dan ini misi terakhirmu.” Tatapan mata Ji Na menjadi sayu dan terlihat bingung. “Aku mengijinkanmu pergi, tapi setelah kau kembali kau harus berhenti menjadi agen. Aku sudah tak sanggup untuk terus merasa cemas dan khawatir padamu Ji Na. Kumohon  mengertilah..” ingatan Ji Na kembali pada rapat kemarin. Jika misi ini gagal maka divisinya akan dibubarkan. Tapi- ini demi divisinya.

            Geurae..” Daniel tersenyum lega, walau terdengar jelas nada ragu saat Ji Na memberikan jawabannya. “Thanks, baby.” Daniel kembali merengkuh tubuh Ji Na dan mendekapnya erat. Ia benar-benar akan merasa hidupnya berakhir jika Ji Na menginggalkannya. ‘Mianhae Daniel-ah, tapi untuk berhenti rasanya mustahil. Maaf, aku mengelabuhimu.’


***


            “Bawa mereka ke dekat jurang dibagian selatan.” Ujar Kyu Hyun pada salah seorang diujung sana menggunakan telepon. Ia menyerap anggur merah dengan Andrew Choi atau yang biasa dipanggil Kyu Hyun dengan sebutan ‘Hyeong’ tengah menyesap cerutu dan memainkan asapnya. Orang korea dengan nama asli Choi Si Won.

            “Eotteokhae ?” Kyu Hyun tersenyum setan mendengar pertanyaan dari hyeongnya. “Seperti yang direncanakan.” Ujar Kyu Hyun santai. “Kenapa kau merubah rencana untuk langsung melenyapkan mereka ?” Kyu Hyun menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah dengan senyum semringah. “Ada angjing peliharaanku yang ingin menggigitku hyeong.” Si Won mengangguk paham. Rupanya bocah itu mencari gara-gara dengannya.

            “Kau mau kemana ?” tanya Si Won menatap Kyu Hyun yang memakai jas hitamnya. “Memastikan anjing itu masuk ke lubang dan tidak pernah bisa keluar darisana.” Si Won berdiri, ia memakai kacamata hitamnya. “Aku ikut.” “Kau yakin ?” Si Won hanya mengangguk. “Ingin melihat wajah terakhirnya saja.”


***


            Mobil Kyu Hyun yang dikemudikan oleh Si Won berhenti di dekat tikungan. Kyu Hyun tersenyum melihat 2 mobil hitam ada disana dengan satu mobil terbalik dan satu mobil lagi menabrak dinding bebatuan dikanan jalan. Mereka berdua turun menghampiri mobil tersebut. Si Won melihat dengan teliti dan waspada takut-takut ini adalah jebakan walau ia tahu ini adalah skenario Kyu Hyun. Berbeda dengan Kyu Hyun yang berjalan dengan santainya menuju mobil yang menabrak babatuan dikanan jalan.

            “Yang ini ?” tanya Si Won yang dibalas anggukan Kyu Hyun. Si Won membuka pintu depan mobil. Ia melihat wajah Jong Hyun –sepupunya- dengan luka parah dan kepala yang dipenuhi pecahan kaca mobil. Ia masih hidup, matanya masih terbuka dan ia menyadari kehadiran Kyu Hyun dan Si Won. “Hyeong, to-long.” Ujar Jong Hyun lirih. Sementara Kyu Hyun tersenyum puas melihat Jong Hyun tanpa ingin menolong sedikitpun.

            “Sudah kukatakan jangan bermain-main padaku Jong Hyun-ah. Anjing itu kupelihara bukan untuk menggigitku.” Brakk. Kyu Hyun menutup pintu mobil hingga menimbulkan bunyi dentuman keras. Kyu Hyun beralih pada pintu belakang mobil, ia membukanya. Seorang gadis tak sadarkan hampir terjatuh jika tak ia tahan. “Kyu Hyun-ah, polisi sedang dalam perjalanan kemari. Mereka sudah mendapat laporan jika disini terjadi kecelakaan.” Kyu Hyun menatap gadis yang masih ditahan oleh tangannya agar tak terjatuh. Ia mengusap kening penuh darah itu dan mendadak tubuhnya terasa kaku menatap wajah bak malaikat itu. “Bawa dia.” Perintah Kyu Hyun dan dengan sigap Si Won menghampirinya menuntun gadis itu keluar dari mobil dan membawanya pergi dengan Ferari putih kebanggaanya.


TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar