1.
Title : Mission Impossible
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Cast : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji
Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.
Rated : PG 13/T menyesuaikan.
5.
Lenght : Chaptered
6.
Genre : AU, married life –part 1
belum muncul-, romance.
7.
Disclaimer : FF yang muncul karena komentator
bilang kaya gini ‘Kemungkinan Dani Pedrosa untuk bisa meraih gelar juara dunia
memang belum tertutup sepenuhnya. Tapi ia seperti dalam Mission Impossible’.
Lagipula ini FF chaptered ke-8 saya padahal FF yang lain numpuk di Draft dan
belum ada kelanjutannya biasanya mentok sampe chaptered 3. Jadi kalo FF ini gak
jadi juga jangan salahkan saya, salahin aja komentatornya. -_- J. Tapi saya akan berusaha menyelesaikan FF yang sudah saya mulai...
Maaf juga kalo dinarasi kemaren ada yang saya ubah disini. Kaya Dani diawal
jadi teknisi di F1, disini saya jadikan dia rider moto GP sesuai pekerjaan
aslinya. Soalnya saya gak terlalu banyak tahu tentang F1 dan lebih paham Moto
GP. :D
Story....
Author POV
Tap tap tap tap.
Semua orang yang duduk mengitari
sebuah meja bundar menghentikan obrolan meja mendengar langkah kaki hingga
keheningan menyelingkupi ruangan ini. cekleeet. Suara pintu dibuka
membawa atmosfer tegang diantara mereka. Seorang namja paruh baya dengan
setelan jas hitam berjalan perlahan menuju kursi yang disediakan khusus
untuknya.
“Selamat pagi pak.” Ujar salah
seorang disana mewakili sekitar 8 orang yang duduk disana. Serempak mereka
berdiri dan membungkuk hormat pada orang itu lalu kembali pada posisinya dengan
duduk siap.
Bugh. Suara buku yang
dilempar oleh namja itu diatas meja menjadi pusat perhatian orang-orang yang
duduk disana. “Selama 4 bulan ini aku menyuruh kalian menyelidiki tentang komplotan
Andrew Choi dan kalian hanya menemukan bahwa pemimpin sebenarnya mereka adalah
Marcus Cho eoh ?” Suara lantang bercampur marah dan kesal karena hasil kerja
bawahannya tak ayal membuat orang disana menunduk. Antara takut –dipecat atau
dipindah divisi- dan merasa bersalah –karena tidak bisa mendapatkan informasi
lebih-.
“Mianhada, kami akan berusaha lebih
keras lagi.” Chang Jihoo –namja paruh baya tadi- menatap salah satu agen
kebanggaanya ragu. Sebenarnya kasus komplotan mafia yang pada awalnya dipimpin
oleh Andrew Choi itu sudah mereka incar sejak 3 tahun yang lalu. Dan selama 4
bulan yang lalu mereka baru secara serius mencari informasi secara detail
tentang komplotan mafia itu. Fakta mengejutkan ternyata pemimpin besar
komplotan mafia tersebut adalah Marcus Cho. Seorang hakim dipengadilan tinggi
Seoul yang mengundurkan diri setahun yang lalu.
“Aku tak yakin. Semua divisi lain
sudah menyerah dan aku juga tak yakin kita bisa menangkap mereka. 4 bulan hanya
mampu mengetahui dalang sebenarnya dibalik permainan ini dan tanpa bukti sama
sekali. Apa kau yakin bisa menuntaskan kasus ini dan menyeret Marcus dan tangan
kanannya –Andrew- kepengadilan Changhee ?” Jihoo dapat melihat gurat keraguan
dari wajah Changhee sebelum ia menyembunyikannya. Semua agen divisi D sudah
merasa sangat lelah hanya untuk mengorek informasi dan mereka juga tak yakin.
“Kami akan melakukan yang terbaik
pak.” Walau ragu, Changhee mengatakannya dengan penuh ketegasan, setidaknya itu
membuat Jihoo menghela napas lega. Masih ada harapan untuk menuntaskan kasus
ini. “Kuberi waktu 1 bulan untuk kembali mencari informasi dan jika bisa
bukti-bukti yang bisa menguatkan kita dipengadilan. Jika tidak, berarti kasus
ini ditutup dan mereka bebas melakukan transaksi gelap mereka. Rapat hari ini
selesai.” Jihoo menutup rapat dan langsung keluar ruangan diikuti assistennya.
“Kau yakin Changhee-ya, kita bahkan
harus lembur untuk mencari informasi tentang mereka bahkan harus bolak-balik ke
luar negeri hanya untuk mendapatkan informasi tentang mereka.” Jieun menatap
ketua tim lapangan mereka ragu. “Aku juga tak yakin, tapi kita harus
mencobanya. 1 bulan, gunakan waktu itu dengan baik. Kita bekerja untuk negara,
ingat itu.” Ujar Changhee tanpa menatap lawan bicaranya. Sama sekali bukan
Changhee yang mereka kenal. “Sudah banyak biaya yang dikeluarkan dalam kasus
ini jadi kita harus menuntaskannya, jangan sia-siakan uang rakyat. Mereka sudah
bekerja keras jadi kita harus membuat mereka nyaman.” Tambah Ji Na, setidaknya
yeoja berusia 24 tahun itu selalu bisa membuat tim mereka kembali bersemangat
diambang keputusasaan.
Divisi D terdiri oleh 8 orang dengan
1 komandan-bisa disebut seperti itu-. Dari 8 orang ada 2 yeoja dan 6 namja
dengan ketua tim lapangan Lee Changhee. Mereka adalah agen rahasia pemerintah
Korea Selatan. Jangan tanyakan kehebatan mereka dalam mengorek informasi,
mengumpulkan bukti sampai menyergap buronan. Tapi untuk mafia satu ini berbeda.
Marcus Cho, mantan hakim ini berhasil membuat mereka kalang kabut. Secuil
informasi saja rasanya masih dalam angan mereka untuk mendapatkannya. Tak akan
ada yang menyangka bukan, mantan hakim yang terkenal ramah dan cerdas merupakan
pemimpin mafia...
***
“Daniel.” Ji Na tersenyum dan
berlari menghambur kepelukan kekasihnya. Tak ayal tindakan Ji Na membuat Daniel
hampir terjatuh kebelakang karenanya. Daniel Pedrosa Ramal. Seorang pembalap
moto GP. Ada yang tak mengenalnya ? Pembalap asal negeri Matador –Spanyol- yang
saat ini menempati urutan klasmen sementara diposisi ketiga. Ji Na mengeratkan
pelukannya pada kekasihnya, sedangkan Daniel mengusap pucuk kepala Ji Na
sayang. 2 bulan mereka tak bertemu karena Daniel sibuk mempersiapkan balapannya
ditahun 2013 ini yang menyisakan 2 seri lagi.
Bahkan ia seharusnya ada di Jepang sekarang untuk uji coba motornya yang
baru, tapi apa daya... rasa rindunya sudah tak terbendung lagi.
Ji Na melepaskan pelukannya dan
mengaitkan jemarinya pada jemari Daniel. “Seharusnya kau masuk saja kedalam.
Apa eomma tidak ada dirumah ? Kaukan tahu eomma biasa meninggalkan kunci
cadangan di pot aloevera.” Daniel yang tersenyum. Disini mengurangi rasa
suntuk, bosan dan tertekannya menghadapi balapan yang mendekati penghujung
tahun. “Aku sengaja menunggumu. Aku tak menekan bel mungkin bibi tidak tahu.” Ji
Na menggunakan bahasa Korea sedangkan Daniel mengguakan bahasa inggris, kalian
pasti akan pusing jika mendengar percakapan mereka. Daniel paham apa yang
diucapkan Ji Na tapi lidahnya terasa aneh saat melafalkan kosakata bahasa korea
hinga jadilah mereka seperti ini.
Mereka masuk kedalam rumah setelah Ji
Na membuka pintu dengan kunci yang dibawanya, ia meletakkan tas selempangnya
disofa ruang tamu sementara Daniel sudah duduk manis disana. “Mau minum apa ?”
“Ehm, coffee but not lot of sugar.” Ji Na mengangguk dan tak lama ia kembali
dengan sekaleng soda untuknya dan kopi sesuai permintaan kekasihnya.
“Katanya kemarin kau sedang di
Jepang. Bukannya biasanya balapan diadakan hari minggu ? Berarti seharusnya kau
sedang Free Test bukan ?” Daniel menyesap kopinya sambil mengangguk. “Wae ?
Kenapa kau kemari ? Apa mereka mengijinkamu ?” Daniel meletakkan cangkir kopi
itu sambil menjawab. “Aku merindukanmu, lagipula mereka membuatku tertekan. Kau
tahu itukan, jika sudah seperti itu aku tak bisa membawa motor dengan baik.
Jadi aku kemari untuk menenangkan pikiranku.” Daniel menarik kepala Ji Na untuk
merebah dibahunya. “Kau tahu seperti ini membuatku nyaman dan tenang.” Ji Na
hanya terdiam, tak tahukan Daniel jika berada dalam jarak sedekat ini membuat
tubuh Ji Na menjadi tak karuan, gugup dan nyaman.
“Karena itu jangan coba-coba untuk
meninggalkanku. Jika kau sampai meninggalkanku aku akan mencarimu dan
kupastikan orang yang telah membuatmu berpaling dariku mendapat pelajaran
berharga.” Jangankan meninggalkannya, berhenti untuk memikirkan Daniel saja,
hanya saat ia menjalankan misi saja. Setiap agen memang harus melupakan semua
masalah pribadinya agar misi yang dijalankan tidak kacau.
“Tahun depan kita akan menikah. Ji
Na, bisakah kau berhenti menjadi seorang agen. Kau tahu bukan pekerjaan
itu memiliki resiko besar, aku ingin kau
mengurus anak-anak kita saja nantinya. Biar aku yang bekerja dan menanggung
hidup kalian nanti.” Ji Na menggeser kepalanya lalu mendongak hingga ia bisa
menatap mata Daniel tajam sambil bersandar dibahu kekasihnya. “Bukankah
pekerjaanmu sama beresikonya ? Sudah aku katakan bukan aku tak mungkin
berhenti. Kami tim dan kami harus bekerja sama.” Daniel menghela napas.
Sebaiknya ia mengalihkan pembicaraan ini. ini membuat moodnya menjadi buruk.
Ada saat tersendiri untuk membicarakan ini. Pertengkaran hanya membuatnya
semakin jenuh.
“Lebih baik kita bicarakan ini nanti
saja. Bisakah kau membuatkanku makanan. I’m hungry Ji Na.” Tatapan itu berubah
dengan mata berbinar Ji Na mengangguk dan berdiri. “Aku masakan ramen saja
yah...” ujar Ji Na tanpa menunggu persetujuan dari Daniel ia sudah melesat
menuju dapur. Dalam hati Daniel ‘Bagaimana caranya membuat kekasihnya yang
keras kepala mau keluar dari pekerjaannya yang penuh bahaya itu ?’
***
Seorang pemuda duduk manis dengan senyuman
terukir jelas dibibirnya saat rmenatap deretan-deretan angka yang tercetak di
kertas yang berada di tangannya. “Ck! Dasar bodoh. Kerja bagus hyeong. Pastikan
mereka terus terkecoh seperti ini. aku tak dapat membayangkan orang dulu mereka
mintain tolong adalah pemimpin mafia. Bagaimana ekspresi mereka saat
mendengarnya ? hahahaha.. aigoo~ wajah bodoh mereka seperti pemain opera saja.”
Namja yang dipanggil hyeong oleh
pemuda itu hanya tersenyum dingin, mata tajam dan tegas pantas saja membuat
mereka terkecoh dan percaya bahwa dirinya adalah pemimpin mafia padahal
sebenarnya bukan. “Mereka terlalu bodoh dan terlalu lelet untuk menghadapi
kita.” Angin dingin negara asal pembuat salah satu merk telephone genggam
ternama –Finlandia- di utara Eropa ini masuk dari jendela ruangan yang sengaja
dibuka. Rumah ini terkesan bukan rumah seorang mafia melainkan orang terhormat.
Bagaimana tidak disamping kanan rumah ini adalah kantor polisi dan terletak
dipusat kota.
“Pancing mereka, buat seolah-olah
mereka memiliki peluang besar untuk menangkap kita tapi pada akhirnya- buat
mereka putus asa dan menyerah Hyeong.” Ujar namja itu sambil meletakan kertas
yang tadi dipegangnya. “Tanpa kau mintapun aku akan melakukannya. Semua orang
yang menghalangi kita harus aku singkirkan Kyu Hyun-ah.” Mendengar jawaban
dingin dari hyeong-nya namja yang dipanggil Kyu Hyun itu menampakan senyum
setannya.
“Bunuh mereka, jika membuat mereka
menyerah memerlukan waktu yang lama.” Kejam dan sadis. Dunia gelap ini yang
mengubah anak yatim piatu karena abeoji-nya ditembak mati karena menjadi
kambing hitam atas kasus penggelapan uang. Abeoji-nya –tuan Cho Young Hwa-
adalah salah satu dewan komisi III dilembaga legislatif, karena ayahnya yang
dijatuhi hukuman mati membuat eommanya depresi dan menyusul abeojinya. 10
tahun, Kyu Hyun hanya bisa menangis saat melihat tubuh kaku orang tuanya. Dan
tuan Choi Jiwoon –Abeoji Si Won- yang membesarkannya. 19 tahun, Kyu Hyun mulai
bergabung dalam bisnis legal dan diusia 23 tahun ia mendirikan komplotannya
sendiri hingga 3 tahun berjalan sampai sekarang. Rasa bencinya kepada
pemerintah korea membuatnya ingin mengacaukan negara itu. Negera dimana ia
dilahirkan dan dibesarkan...
***
Chang Ji Hoo memasuki ruang rapat
dengan senyum yang sedikit mengembang. Ia langusng duduk dikursi paling ujung
di utara. Seperti biasa mereka memberi hormat kepada Jihoo sebelum rapat
dimulai. “Kita sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk menangkap Marcus. Kita
juga sudah mengetahui dimana ia berada sekarang. Tapi- aku belum bisa
meyakinkan Kang Sajangnim untuk menurunkan divisi lain untuk membantu kita. Dengan
kata lain.. kita harus menghadapi ini sendiri. Untuk misi kali ini aku akan
ikut turun langsung untuk meringkus Cho. Persiapan dimulai dari sekarang. Bawa
benda yang berguna, jangan sampai kehilangan komunikasi satu sama lain. Kita
berangkat 2 hari lagi ke Finlandia. Choi Jong Hyun- terima kasih, atas kerjamu
hingga bukti-bukti ini terkumpul.” Jong Hyun tersenyum sambil menundukkan
kepala.
Semua orang merasa tak percaya,
terutama Changhee. Bagaimana mungkin Jong Hyun bisa mengumpulkan bukti
transaksi ilegal itu dalam waktu 2 minggu sedangkan 4 bulan yang lalu tidak
menghasilkan apa-apa kecuali otak mafia yang sebenarnya. Terlebih Jong Hyun
terlihat paling santai dan ia tak pernah melihat Jong Hyun bersemangat dalam
bekerja. Jong Hyun hanya mengikuti perintahnya tanpa berbuat lebih menuruti
instingnya sendiri. Semua ini begitu mengganjal bagi Changhee, karena ia
memahami sifat dan karakter dalam tim-nya.
“Satu lagi- jika misi ini gagal divisi ini akan dibubarkan dan kita
akan dimasukan kedivisi yang lain. Dengan kata lain kita harus menyesuaikan
diri dengan tim baru kita.. Ji-ka ki-ta ga-gal.” Semua orang tercengang.
Bagaimana mungkin ? Membubarkan sebuah divisi karena satu misi yang gagal.
Changhee mengangkat tangannya. “Pak, kenapa bisa seperti itu ? Bukankah sudah 3
divisi yang gagal tapi mereka tidak dibubarkan ?” Semua mengangguk menyetujui
sanggahan Changhee yang disambut helaan napas oleh Jihoon. “Jangankan kalian,
aku sendiri merasa ini tak adil dan tidak masuk akal. Kita hanya bisa mencoba
yang terbaik. Oleh karenanya aku akan ikut turun tangan langsung pada misi kali
ini.” Misi yang sangat berbeda bukan ?
***
“Kau mau kemana ?” Ji Na menoleh, ia
menghentikan aktivitasnya memasukan pakaiannya kedalam koper kecil berwarna hitam
yang diletakkan diatas tempat tidurnya. Daniel melangkahkan kakinya mendekati Ji
Na lalu meletakan tas punggung yang dibawanya disamping koper Ji Na yang masih
terbuka. “Kenapa kau ada disini lagi ? Seharusnya kau itu konsentrasi pada
balapanmu. 1 seri lagi dan- selamat atas kemenanganmu di Motegi kemarin.” Ji Na
meraih pipi kanan Daniel dengan tangan kirinya lalu mengecup pipi kiri Daniel
singkat.
“Aku kemari untuk menghabiskan 1
minggu sebelum penentuan juara dunia dan kau- kau pasti ada tugas diluar.
Dimana ?” Daniel meraih pinggang lansing milik kekasihnya lalu mendekapnya
dengan satu tangan yang berada ditengkuk Ji Na. “Kami akan ke Finlandia.”
Tungkas Ji Na, Daniel melepaskan rengkuhannya hingga mata mereka saling
bertemu. “Dan kau meninggalkanku lagi. Finlandia itu berbahaya terlebih kau tak
mengenal tempat itu. Disana masih ada banyak hutan lebat yang berbahaya dan aku
yakin mereka menyuruhmu untuk menangkap penjahat mereka kesana.” Ji Na
menggeleng mendengar argument yang menunjukan seberapa besar ke-posesifan
kekasihnya ini padanya. “Mereka ada dipusat kota Helsingky, kau tenang saja aku
tak sendirian.” Daniel mendesah berat. Acara 1 minggu yang sudah ia rencanakan
untuk ia habiskan bersama Ji Na gagal total. Gadisnya tidak mungkin dicegah. Ia
tahu seberapa besar kekeraskepalaan Ji Na.
“Tetap saja disana berbahaya. Aku
sebagai calon suamimu tidak mengijinkannya Hwang Ji Na.” Ji Na memeluk pinggang
Daniel dan menyandarkan kepalanya didada pemuda dengan garis wajah arab itu. Ia
berusaha merayu Daniel agar mengijinkannya pergi untuk misi kali ini. “Aku
mohon, ayolah... aku selalu pulang dengan selamat bukan ?” Mendengar suara
memelas itu membuat Daniel merasa bimbang, tapi perasaannya mendadak tidak enak
tentang misi kali ini.
“Baik, aku akan mengijinkanmu pergi
dengan satu syarat.” Ji Na tersenyum dan melepaskan pelukannya. Binar matanya
menunjukan ia sudah tak sabar mendengar apa syarat yang diajukan kekasihnya.
Biasanya syarat yang Daniel ajukan seperti : menghabiskan waktu bersamanya seharian.
Mengajaknya ke- “Berhenti menjadi agen dan ini misi terakhirmu.” Tatapan mata Ji
Na menjadi sayu dan terlihat bingung. “Aku mengijinkanmu pergi, tapi setelah
kau kembali kau harus berhenti menjadi agen. Aku sudah tak sanggup untuk terus
merasa cemas dan khawatir padamu Ji Na. Kumohon
mengertilah..” ingatan Ji Na kembali pada rapat kemarin. Jika misi ini
gagal maka divisinya akan dibubarkan. Tapi- ini demi divisinya.
“Geurae..” Daniel tersenyum
lega, walau terdengar jelas nada ragu saat Ji Na memberikan jawabannya.
“Thanks, baby.” Daniel kembali merengkuh tubuh Ji Na dan mendekapnya erat. Ia
benar-benar akan merasa hidupnya berakhir jika Ji Na menginggalkannya. ‘Mianhae
Daniel-ah, tapi untuk berhenti rasanya mustahil. Maaf, aku mengelabuhimu.’
***
“Bawa mereka ke dekat jurang
dibagian selatan.” Ujar Kyu Hyun pada salah seorang diujung sana menggunakan
telepon. Ia menyerap anggur merah dengan Andrew Choi atau yang biasa dipanggil Kyu
Hyun dengan sebutan ‘Hyeong’ tengah menyesap cerutu dan memainkan asapnya.
Orang korea dengan nama asli Choi Si Won.
“Eotteokhae ?” Kyu Hyun tersenyum
setan mendengar pertanyaan dari hyeongnya. “Seperti yang direncanakan.” Ujar Kyu
Hyun santai. “Kenapa kau merubah rencana untuk langsung melenyapkan mereka ?” Kyu
Hyun menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah dengan senyum semringah.
“Ada angjing peliharaanku yang ingin menggigitku hyeong.” Si Won mengangguk
paham. Rupanya bocah itu mencari gara-gara dengannya.
“Kau mau kemana ?” tanya Si Won
menatap Kyu Hyun yang memakai jas hitamnya. “Memastikan anjing itu masuk ke
lubang dan tidak pernah bisa keluar darisana.” Si Won berdiri, ia memakai
kacamata hitamnya. “Aku ikut.” “Kau yakin ?” Si Won hanya mengangguk. “Ingin
melihat wajah terakhirnya saja.”
***
Mobil Kyu Hyun yang dikemudikan oleh
Si Won berhenti di dekat tikungan. Kyu Hyun tersenyum melihat 2 mobil hitam ada
disana dengan satu mobil terbalik dan satu mobil lagi menabrak dinding bebatuan
dikanan jalan. Mereka berdua turun menghampiri mobil tersebut. Si Won melihat
dengan teliti dan waspada takut-takut ini adalah jebakan walau ia tahu ini
adalah skenario Kyu Hyun. Berbeda dengan Kyu Hyun yang berjalan dengan
santainya menuju mobil yang menabrak babatuan dikanan jalan.
“Yang ini ?” tanya Si Won yang
dibalas anggukan Kyu Hyun. Si Won membuka pintu depan mobil. Ia melihat wajah Jong
Hyun –sepupunya- dengan luka parah dan kepala yang dipenuhi pecahan kaca mobil.
Ia masih hidup, matanya masih terbuka dan ia menyadari kehadiran Kyu Hyun dan Si
Won. “Hyeong, to-long.” Ujar Jong Hyun lirih. Sementara Kyu Hyun tersenyum puas
melihat Jong Hyun tanpa ingin menolong sedikitpun.
“Sudah kukatakan jangan bermain-main
padaku Jong Hyun-ah. Anjing itu kupelihara bukan untuk menggigitku.” Brakk.
Kyu Hyun menutup pintu mobil hingga menimbulkan bunyi dentuman keras. Kyu Hyun
beralih pada pintu belakang mobil, ia membukanya. Seorang gadis tak sadarkan
hampir terjatuh jika tak ia tahan. “Kyu Hyun-ah, polisi sedang dalam perjalanan
kemari. Mereka sudah mendapat laporan jika disini terjadi kecelakaan.” Kyu Hyun
menatap gadis yang masih ditahan oleh tangannya agar tak terjatuh. Ia mengusap
kening penuh darah itu dan mendadak tubuhnya terasa kaku menatap wajah bak
malaikat itu. “Bawa dia.” Perintah Kyu Hyun dan dengan sigap Si Won
menghampirinya menuntun gadis itu keluar dari mobil dan membawanya pergi dengan
Ferari putih kebanggaanya.
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar