1.
Title : Mission Impossible
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Cast : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji
Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.
Rated : PG 13/T menyesuaikan.
5.
Lenght : Chaptered
6.
Genre : AU, married life –part 1
belum muncul-, romance.
7.
Disclaimer : story is mine! Typo(s)
anywhere. NO Bash, NO Plagiat.
Summary
:
Maaf...
bukannya aku tak memikirkan dirimu. Akupun tak tahu akan berakhir seperti ini.
Aku bahkan tak menduganya. Bukannya aku ingin bersikap egois. Aku bahkan tak
mengenali siapa diriku sendiri.
Story....
Author POV
Dalam ruangan gelap namun jauh dari
pengap, Ji Na dibaringkan di atas kasur
empuk disudut ruangan yang dikelilingi berbagai mesin dan alat – alat
kedokteran yang terhubung dengan tubuhnya. Dibeberapa dinding ruangan itu terdapat
senjata api yang tergantung disana. Mungkin dengan motif jaga – jaga apabila
terjadi sesuatu mengingat mereka adalah kelompok mafia. Pastinya banyak pihak
yang menginginkan kematiannya. Bukan hanya pemerintah dan kepolisian saja namun
juga lawan mafianya.
Kyu Hyun memasuki ruangan tersebut
dari balik pintu besi dengan ketebalan setengah meter anti peluru dan hanya
dapat dibuka dengan sandi yang dapat dibuka hanya dengan sidik jari orang –
orang tertentu saja. Di samping Kyu Hyun, Si Won berjalan dengan raut wajah
tenang sangat berbeda dengan Kyu Hyun walau ia berusaha menampilkan wajah
dinginnya namun sorot matanya sarat akan kekhawatiran. Di belakang mereka
berjalan 4 orang berjas putih dengan kemampuan ilmu kedokteran terbaik yang
dimiliki oleh rumah sakit yang Kyu Hyun miliki di Finlandia yang merupakan
salah satu bisnis legalnya.
Mereka berjalan mendekati ranjang
tersebut, secara spontan Kyu Hyun mengusap kening yeoja yang tak dikenalnya itu
dengan lembut. Seolah tak ingin mengganggu tidur indah yeoja dengan wajah yang
menurutnya seperti malaikat itu. “Jadi bagaimana keadaanya ?” tanya Kyu Hyun
tanpa menoleh. “Sudah lebih baik dari 2 jam yang lalu Mr. Cho. Lukanya tidak
terlalu parah, mungkin benturan di kepalanya yang membuatnya kehilangan kesadaran.
Dalam waktu kurang lebih 3 jam lagi ia nona akan terbangun. Mr. Cho tak perlu
khawatir.” Jelas sang dokter kepala pada Kyu Hyun. Tanpa perintah Si Won
membawa keempat dokter tersebut keluar dari ruangan setelah mengecek keadaan Ji
Na. Menyisakan hanya Kyu Hyun dan Ji Na saja.
Kyu Hyun menarik kursi dan duduk di
samping ranjang. Matanya menatap wajah yang menurutnya bak malaikat itu dengan
seksama. Kagum. Itulah yang membuatnya tak bosan menatapnya, di matanya ia tak
ingin wajah itu jauh dari pandangannya. Tidak. Tidak akan pernah ia membiarkan
itu.
PIP.
Kyu Hyun mengeluarkan ponsel
miliknya. Tangan kirinya menggenggam tangan wanita yang tengah terbaring di
atas ranjang itu sedangkan tangan kanannya sibuk dengan ponsel putih miliknya.
Matanya bergerak cepat membaca tiap huruf yang tertera di sana. Ia tak ingin
mengalihkan perhatiannya terlalu lama dari wajah wanita itu.
From : Henry
Hwang Ji Na, 25
tahun. Salah satu agen rahasia terbaik Korea. Bersama tim-nya ia pernah
menjebloskan ketua yakuza jepang. Memiliki kekasih namun di rahasiakan di data
pribadinya. Putri tunggal tuan Hwang Ji Seub, mantan menteri pendidikan.
Tinggal di Madrid saat masih usia 7 sampai 18 tahun.
Ok, dari sekian banyak kata di sana
yang masuk ke dalam otaknya hanya. “Memiliki KEKASIH namun dirahasiakan”.
Catat memiliki kekasih. Matanya yang sedari tadi menatap ponsel kini kembali
menatap wajah Ji Na namun berubah dingin.
“Hwang Ji Na. Kau- milikku. Milik
Cho Kyu Hyun.” Desisnya dengan sudut bibirnya yang terangkat memperlihatkan
senyuman, ah- ani, seringaian mengerikannya. Tangan kirinya yang tadinya
menggenggam tangan Ji Na kini beralih mengusap kening yang tertutupi kasa putih
karena terdapat luka di sana.
“Apapun yang terjadi, kau milikku.
Tak peduli kau setuju atau tidak karena aku tak perlu ijin darimu. Asal kau
tahu apapun yang Cho Kyu Hyun inginkan harus ia dapatkan. Sekalipun itu harus
membunuh atau mungkin membinasakan orang yang menghalangiku tak terkecuali
dirimu dan keluargamu. Chagiya~” bisiknya di telinga Ji Na. Seolah itu semua
dapat di dengar oleh wanita itu.
Suara pintu yang dibuka membuat Kyu
Hyun menarik tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Ji Na. Ia berdiri lantas
menghampiri Si Won yang hanya berdiri di dekat pintu besi itu. “Bagaimana ?”
tanya Kyu Hyun dengan tatapan datarnya. Sebenarnya tanpa jawaban dari Si Won
pun ia sudah tahu hasilnya. Pekerjaan itu terlalu mudah untuk Si Won lakukan.
“Clear. Ini, hanya tinggal stempel tiga jari dari Ji Na-ssi.” Kyu Hyun
mengambil buku kecil itu lantas menelisiknya.
“Hyuk Jae.” Panggilnya keras. Tak
sampai setengah menit pintu kembali terbuka. “Dekorasi ulang rumah Si Won
Hyeong. Buat kamar tengah seperti kamar Ji Na yang asli. Jangan lupa rekayasa
foto keluarga dan tempelkan di segala sudut rumah Si Won Hyeong. Juga kamarku,
buat seolah kamar itu memang kamar kami berdua. Pastikan nanti malam semua
sudah selesai. Data dan bahan yang kau butuhkan sudah ku kirim ke e-mailmu.”
Orang yang dipanggil Hyuk Jae itu membungkuk paham lantas keluar tanpa
komentar.
Kyu Hyun berjalan kembali mendekati
ranjang. Ia mengelurkan kotak tinta lantas meraih tangan Ji Na dan
menempelkannya di sana. Setelah cukup ia menempelkan jemari Ji Na di buku kecil
yang tadi di serahkan Si Won padanya. Kyu Hyun tersenyum puas melihat hasilnya.
Spontan ia mencium punggung tangan itu.
“Mulai sekarang kau resmi miliki.
Cho Ji Na.”
***
Kyu Hyun memasuki ruangan khusus itu
bersama Si Won. Ia memandang Ki Bum yang berdiri di samping ranjang Ji Na dan
botol kecil berisi cairan yang masih penuh dan jarum suntik di tangannya.
“Kenapa belum kau suntikkan juga ?
kau tak berniat mengkhiatani ataupun melawanku kan Ki Bum-ssi ?” Ki Bum
menggeleng keras. Namun wajahnya masih dingin dan datar. Kyu Hyun menyukai cara
kerja Ki Bum, tanpa perasaan, dingin,
namun begitu akurat dalam mengambil keputusan. Ki Bum adalah ketua dari
tim penelitinya.
“Aku memintamu kemari karena aku
ingin kau melihat sendiri reaksi dari obat ini.” Ki Bum mengangkat botol kecil
berisi cairan putih itu setinggi dadanya. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa
obat ini memang bisa menghapus ingatan seseorang namun obat ini masih dalam uji
coba. Kemungkinan paling mematikan adalah ia mati.” Jelasnya to the poin. “Jika
ada kesalahan pada tubuh wanita itu, ini diluar tanggung jawab tim kami jadi
kau tak bisa membantainya sesukamu.”
“Lakukan saja, jika berhasil aku
akan menambah dana penelitian dan jika Ji Na mati awetkan mayatnya. Kematiannya
lebih baik daripada melihatnya dimiliki orang lain.” Ki Bum menoleh ke arah Si
Won, menunggu penjelasan dari namja yang merupakan tangan kanan Kyu Hyun itu.
“Dia masih sama. Rasa memilikinya seperti ambisi.” Ok. Sepertinya Ki Bum salah
menafsirkan arti Ji Na untuk Kyu Hyun.
Melihat raut tak sabar dari Kyu
Hyun, Ki Bum mengambil beberapa mililiter cairan putih itu dengan jarum suntik
lantas menyuntikkannya pada tubuh Ji Na. Awalnya tak ada reaksi namun selang 3
menit tubuh Ji Na dipenuhi peluk dan dirinya bergerak gelisah.
“Lakukan yang terbaik.” Hanya tiga
kata itu yang keluar dari mulut Kyu Hyun sebelum keluar dari ruangan itu
diikuti Si Won, menjadikan ruangan itu hanya tersisa Ki Bum dan Ji Na. Ki Bum
menghela napas, ia mulai membongkar tas kerjanya yang ada di nakas. Berusaha
menyelamatkan nyawa wanita itu. Walau dalam hati sebenarnya ia berharap wanita
itu dapat merubah sifat Kyu Hyun agar lebih manusiawi. Itulah harapannya
sebagai kakak ipar Kyu Hyun dari mendiang kakak Kyu Hyun yang telah meninggal
dunia saat melahirkan putri mereka. Kim Hyun Ah. Putrinya dengan Cho Ah Ra.
***
Sinar matahari sudah menyentuh bumi
sejak tadi. Namun di suatu ruangan di Mansion milik seorang Cho Kyu Hyun.
Ruangan itu begitu tertutup dan tak memiliki celah yang dapat di masuki oleh
cahaya matahari. Penerangan di dalamnya hanya dari lampu dan itu membuat
siapapun yang ada di dalamnya tak akan dapat membedakan antara siang dan malam
jika tidak keluar.
Jari – jari wanita yang tengah
tertidur –atau pingsan- itu bergerak lemah. Tak berselang lama suara lengkuhan
lemah keluar dari bibirnya. Kelopak matanya terangkat perlahan dan mengerjeap –
ngerjapkannya beberapa saat untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke
dalam pupil matanya. Saat matanya telah terbuka sempurna, ia mencoba duduk
namun erangan kesakitan keluar dari bibirnya.
“Ah...” tangan kirinya terangkat
menyentuh keningnya yang terasa sakit dan pusing tak tertahan. Sangat sakit
seperti kepalanya tengah dicengkram. “Ji Na-ya, are you okey ?” Ji Na mencari
sumber suara itu. Seorang namja dengan setelan jas formal hitam yang terlihat
sangat rapi, menawan dan berwibawa. Itulah penilaiannya pada namja tersebut.
Cho Kyu Hyun. Orang itu dengan
langkah lebarnya, ia mendekati Ji Na. Tepat di samping ranjang itu tangannya
menyentuh kening Ji Na. Mendapat sentuhan dari namja itu entah kenapa rasa sakitnya
berangsur – angsur menghilang. Kyu Hyun memperlihatkan senyuman manisnya pada
Ji Na. “Gwaenchanayeo chagiya ?”
Ji Na mengerutkan keningnya.
‘chagiya ?’. untuk siapa ? dirinya ? “Nuguseyeo ?” Kyu Hyun mengubah mimik
wajahnya memperlihatkan raut kekecewaan yang mendalam. Tangannya yang mengusap
kening Ji Na terhenti dan terhempas lemas di samping tubuhnya dengan wajah yang
tertunduk. Gotcha. Girangnya dalam hati saat melihat wajah Ji Na yang panik
menatapnya dengan perasaan bersalah.
“Mianhae, jeongmal mianhae. Tapi
sungguh aku tak mengenalmu. Apa kau dan aku saling mengenal dan kita- ya, kita
memiliki suatu hubungan ? dan siapa yang kau sebut ‘Ji Na’ namaku- ah! Namaku.
Appayeo.” Kyu Hyun panik saat Ji Na kembali kesakitan dan memegangi kepalanya. Mencengkram
rambut kepalanya erat, terlalu kuat untuk Kyu Hyun melepaskannya.
“Cukup. Hentikan, sayang. Jangan
menyakiti dirimu, kumohon tenanglah. Ji Na-ya dengarkan aku. Lepaskan rambutmu,
kau menyakiti dirimu sendiri. Sayang, hentikan.” Suara rendah Kyu Hyun seperti
mantera bagi Ji Na. Wanita itu berhenti mengerang kesakitan dan melepaskan
cengkramannya pada rambut kepalanya. Kyu Hyun tersenyum, menghela napas lega.
Sungguh melegakan. Ini diluar kendali tubuhnya. Perasaan khawatir pada wanita
itu tiba – tiba saja muncul dan memerintahkan tubuhnya untuk membuat wanita itu
kembali baik – baik saja. Tubuhnya tak mengijinkan tubuh wanita itu terluka dan
merasakan yang namanya ‘sakit’.
“Sepertinya kondisimu mulai stabil.
Kalau begitu lebih baik kita pindah ke kamar saja. Ruangan di sini terlalu
tertutup dan kau membutuhkan udara segar. Ruangan yang tertutup seperti ini tak
baik bagi kesehatanmu. Ayo.” Kyu Hyun mengulurkan tangannya. Ragu, tapi
akhirnya Ji Na meraihnya juga. Hangat. Itulah perasaan yang saat ini menjalari
jemari tangannya, merayap hingga hatinya terasa begitu tenang.
“Ah, cukup satu yang perlu kau
ingat. Aku Cho Kyu Hyun dan kau Choi- bukan sekarang Cho Ji Na. Hal lain kita
bicarakan setelah kau benar – benar sehat.” Kyu Hyun memberikan senyuman
manisnya.
Kyu Hyun memapah tubuh Ji Na hingga keluar dari ruangan itu,
setelah mengunci pintu ruangan itu dengan kata sandi dan sidik jarinya, Kyu
Hyun mengangkat tubuh Ji Na yang terasa ringan karena 2 hari tak mendapat
asupan makanan kecuali suntikan gizi khusus dari Ki Bum tiap 3 jam sekali. Ji
Na tak melawan, ia justru menelusupkan kepala diantara relung leher Kyu Hyun
yang terasa hangat.
“Sebenarnya siapa aku, dirimu dan
seperti apa hubungan kita ?” pertanyaan itulah yang terus muncul dalam
benaknya.
***
Mendengar pintu kamar yang terbuka,
Ji Na membuka matanya dan memperbaiki letak selimut yang membungkus tubuhnya
lantas mendudukan tubuhnya yang masih lemas di atas ranjang seperti kamar raja
dan ratu di kerajaan dongeng. Entahlah, ia merasa sangat asing di tempat ini
dan itu membuatnya begitu waspada dan enggan mempercayai apapun saat ini karena
pria yang menemuinya tadi dan memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’ itu belum
menjelaskan apa – apa padanya.
“Apa aku mengganggu tidurmu sayang ?
tubuhmu masih lemah sebaiknya kau jangan banyak bergerak.” Ji Na tak
menggubris, matanya selalu menuntut penjelasan lebih dari Kyu Hyun. Sayangnya
pria itu selalu saja mengatakan kesehatannya yang utama. Semuanya akan ia
jelaskan asalkan Ji Na sudah benar – benar sehat. Ia tak ingin kenyataan –ekhm,
disini mungkin lebih tepatnya kenyataan dari rekayasa buatan- dirinya
mengguncang kejiwaan Ji Na.
“Ji Na-ya, aigoo~ adik kecilku
kenapa kau suka sekali membuat Oppa-mu ini khawatir ? bagaimana keadaanmu sekarang
? abeoji sangat khawatir padamu. Terlebih kata Kyu Hyun kau kekurangan banyak
darah saat kecelakaan.” Pandangannya kini tertuju pada pria yang usianya
beberapa tahun di atas Kyu Hyun itu dengan mata menyipit.
“Kyu.” Kyu Hyun menundukkan kepalanya,
helaan napasnya terdengar jelas di ruangan ini. “Perkiraan Ki Bum Hyeong
mungkin benar. Ji Na sepertinya mengalami dengan ingatannya karena kecelakaan
itu. Benturan keras di kepalanya mengakibatkan Ji Na hilangan ingatan, dan
mungkin itu permanen. Juga ia harus menjalani terapi selama beberapa bulan agar
ia bisa kembali berjalan normal.” Jelas Kyu Hyun diakhiri dengan senyuman
masamnya. Si Won yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala tanda mengerti
sambil mengusap wajahnya frustasi. Seolah ia sangat sedih mendengar kondisi Ji
Na.
“Hiks, aku- tidak akan lumpuh bukan
? hiks, ja- hiks- wab.” Kedua namja itu mendudukan dirinya di tepi ranjang. Kyu
Hyun langsung memeluk tubuh ringkih Ji Na yang memang masih lemah itu erat.
Menyandarkan kepala wanita yang dianggapnya sebagai ‘malaikat’ miliknya itu
pada dadanya yang bidang. Tangannya mengusap kepala Ji Na berusaha menenangkan
wanita yang tengah menangis dengan isakan lirih di pelukannya itu. Sementara Si
Won yang duduk di depan Ji Na memberikan senyuman lembutnya walau setitik air
mata berada di ujung ekor matanya. Tangannya mengusap air mata yang turun
membasahi pipinya yang terlihat pucat.
“Ji Na-ya, dengar. Apapun yang
terjadi oppa dan Kyu Hyun akan selalu menjagamu. Kami akan selalu melakukan
yang terbaik untukmu. Untuk adik kecilku. Sekarang kau pulihkan dulu kondisi
kesehatanmu. Tenang saja, cepat atau lambat kau pasti akan berjalan seperti
biasa. Kau hanya perlu bersabar. Oppa pergi dulu, Kyu Hyun akan menjagamu
disini.” Si Won memberikan kecupan ringan di kening Ji Na sebelum meninggalkan
ruangan ini. Dirinya ingin tertawa saat melihat wajah membunuh Kyu Hyun yang
baru pertama ini ditujukan untuk dirinya.
Ok, jadi mungkin seperti inilah
dunia baru bagi Hwang Ji Na. Menjadi adik dari Choi Si Won dan istri sah dari
Cho Kyu Hyun. Selamat menempuh hidup keduamu Hwang Ji Na~
***
Kyu Hyun tersenyum puas, sekarang
ini ia memang benar – benar tersenyum. Senyuman di bibirnya itu tak pernah
lepas saat matanya tak lepas pula dari sosok yang sedang terlelap di sampingnya
dengan lengan kirinya digunakan oleh sosok ‘malaikat’-nya itu sebagai bantal.
Sudah hampir satu jam yang lalu Ji Na –sosok malaikat bagi Kyu Hyun- tertidur
pulas. Dan selama hampir satu jam itu pula sudut bibir namja dengan tinggi 180
cm itu tak henti – hentinya mengembangkan senyum. Tangannya menepikan anak
rambut yang menutupi wajah Ji Na dengan pelan, tak ingin pergerakannya
mengganggu tidur Ji Na.
Namun saat mengusap kening Ji Na, ia
mengusapnya dengan sedikit kasar. Mungkin kesal karena Si Won mencium kening
wanitanya itu. “Angel, kau tahu tidak jika sekarang aku sangat ingin
menggantung orang berani menyentuhmu selain aku, termasuk Si Won Hyeong. Hanya
saja tak mungkinkan jika aku menggantung kakakmu itu.”
Kyu Hyun beranjak dari ranjang
mewahnya. Ia membenarkan sedikit kemeja putih yang kini tengah dipakainya.
Merasa cukup, Kyu Hyun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Tak lupa ia
merapikan letak selimut Ji Na sebelumnya, memastikan kamera cctv dan segala
keamanan di kamarnya berfungsi sempurna.
***
Kyu Hyun membuka pintu ruang
kerjanya dengan tergesa dan menutupnya dengan kasar, lantas duduk di sofa hitam
yang ada di sudut ruangannya. Si Won yang tadinya duduk dengan tenang di sofa
itu dengan membaca majalah otomotif sambil menunggu Kyu Hyun pun harus mengusap
dadanya melihat kelakuan bos sekaligus orang yang sudah dianggap adiknya itu.
“Wae ?” Si Won meletakkan majalah
otomotif yang tadi dibacanya diatas meja. Ia mengalihkan pandangannya pada Kyu
Hyun yang memijit kepalanya dengan wajah yang memerah. Tandanya jika ia sedang
emosi. “Jangan kau pikir aku tak bisa melukaimu hyeong.” Si Won terkekeh pelan
mendengar penuturan Kyu Hyun.
“Ah. Rupanya kau memang sudah jatuh
hati dengan agen itu Cho Kyu Hyun ?” Kyu Hyun mengangguk seraya berkata, “dan
kau membuatku naik darah hyeong.” Si Won tersenyum lebar mendengar ucapan Kyu
Hyun. “Slow Kyu Hyun-ah, seperti yang kau atur dalam dramamu aku ini hanya
kakaknya, jadi aku akan menjadi kakak yang baik untuknya.” Si Won berdehem yang
disambut lirikan tajam dari Kyu Hyun. “Dan aku tak berminat menjadi kekasihnya.
Dia bukan tipeku.”
“YAK! Menjadi kakaknya bukan berarti
kau bebas menyentuhkan. Kau ingat hyeong, jangan menyentuhnya. Apalagi kau tadi
mencium keningnya. Aku tak terima itu.” Ujar Kyu Hyun dengan emosi yang
tersulut. Si Won mendesah pelan, kenapa emosi Kyu Hyun begitu labil ? seperti
anak remaja saja, ck. Batin Si Won.
“Ok. Aku minta maaf jika aku
membuatmu marah. Jadi sekarang, apa yang sedang kau rencanakan pada wanita itu.
Kau belum menceritakan detailnya padaku. Akta nikah, kartu identitas baru,
bahkan kau merubah kartu keluargaku dan memasukkan disana. Apa maksudmu ?”
“Tentu saja menikahinya. Menjadikannya milikku. Ada masalah hyeong ?” jawab Kyu
Hyun dengan santai.
“Kau yakin ia benar – benar hilang
ingatan ? maksudku, ia itu agen korea Kyu Hyun-ah, itu yang perlu kau
pertimbangkan. Ia bisa saja menghancurkanmu, menjebloskanmu dalam penjara dan
berakhir mengerikan seperti Cho Ahjussi.” Kyu Hyun termenung memikirkan ucapan
Si Won. Semua itu memang benar adanya. Tapi ia yakin jika Ji Na memang benar –
benar tak mengingat masa lalunya. Ia bisa melihatnya dari bagaimana reaksi Ji
Na saat pertama kali membuka matanya. Wajah polos bagai malaikat dengan binar
mata yang tak redup walau wajahnya tampak pucat. Tapi ucapan Si Won tadi harus
dipertimbangkan. Apapun itu tak boleh ada yang menghancurkannya, terlebih itu
adalah cinta. Hal paling rendah menurutnya.
“Aku akan meminta bantuan Ki Bum
Hyeong untuk melakukan pemeriksaan ulang. Ah, hyeong seleksi 8 orang terbaik
untuk Ji Na nanti jika obat itu benar – benar bereaksi.” Si Won tersenyum
singkat. Benar, rupanya Cho Kyu Hyun begitu terobsesi pada sosok malaikatnya.
***
Korean South, 2013
Pintu kamar di apartement mewah itu
dibuka pelan. Langkah kaki laki – laki itu sangat pelan, mengamati setiap sudut
ruangan milik orang yang sangat berarti baginya. Tahun depan. Yah, tahun depan
mereka akan menghadapi dunia bersama – sama. Benar – benar menyatukan prinsip
dan tujuan hidup mereka.
Pandangan laki – laki itu jatuh pada
sebuah bingkai foto yang tergantung di dekat lemari. Terdapat dua sosok anak
manusia di sana. Dengan background pohon bunga canola di musim semi juga rumput
– rumput liar yang menjadi alas mereka duduk. Mereka duduk berdampingan dan
saling merangkul. Tersenyum cerah ke arah kamera seolah ingin menunjukan kepada
siapa saja bahwa saat itu benar – benar saat yang membahagiakan. Musim semi
tahun lalu mereka di Jeju.
Daniel. Laki – laki itu menyentuh
permukaan kaca yang melapisi foto tersebut. Sudut matanya berlinangan air mata
namun belum ada setitik air matanya yang jatuh. Terlalu tabu baginya untuk
menjatuhkan air mata.
“Bukankah aku sudah melarangmu, kau
tahu sekarang bagaimana bukan kejadiannya ? aku kehilanganmu, kau tahu, aku
kehilanganmu. Kenapa sulit sekali untuk membuatmu luluh. Hwang Ji Na apa yang
kau rasakan saat ini eoh ? katakan. Katakan padaku.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar