About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Sabtu, 14 Juni 2014

(FF) Mission Impossible Part 2 - Kyu Hyun


1.        Title                      : Mission Impossible
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast                      : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.        Rated                   : PG 13/T menyesuaikan.
5.        Lenght                  : Chaptered
6.        Genre                   : AU, married life –part 1 belum muncul-, romance.
7.        Disclaimer            : story is mine! Typo(s) anywhere. NO Bash, NO Plagiat.


Summary :
Maaf... bukannya aku tak memikirkan dirimu. Akupun tak tahu akan berakhir seperti ini. Aku bahkan tak menduganya. Bukannya aku ingin bersikap egois. Aku bahkan tak mengenali siapa diriku sendiri.

Story....



Author POV

            Dalam ruangan gelap namun jauh dari pengap, Ji Na dibaringkan di atas kasur  empuk disudut ruangan yang dikelilingi berbagai mesin dan alat – alat kedokteran yang terhubung dengan tubuhnya. Dibeberapa dinding ruangan itu terdapat senjata api yang tergantung disana. Mungkin dengan motif jaga – jaga apabila terjadi sesuatu mengingat mereka adalah kelompok mafia. Pastinya banyak pihak yang menginginkan kematiannya. Bukan hanya pemerintah dan kepolisian saja namun juga lawan mafianya.

            Kyu Hyun memasuki ruangan tersebut dari balik pintu besi dengan ketebalan setengah meter anti peluru dan hanya dapat dibuka dengan sandi yang dapat dibuka hanya dengan sidik jari orang – orang tertentu saja. Di samping Kyu Hyun, Si Won berjalan dengan raut wajah tenang sangat berbeda dengan Kyu Hyun walau ia berusaha menampilkan wajah dinginnya namun sorot matanya sarat akan kekhawatiran. Di belakang mereka berjalan 4 orang berjas putih dengan kemampuan ilmu kedokteran terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit yang Kyu Hyun miliki di Finlandia yang merupakan salah satu bisnis legalnya.

            Mereka berjalan mendekati ranjang tersebut, secara spontan Kyu Hyun mengusap kening yeoja yang tak dikenalnya itu dengan lembut. Seolah tak ingin mengganggu tidur indah yeoja dengan wajah yang menurutnya seperti malaikat itu. “Jadi bagaimana keadaanya ?” tanya Kyu Hyun tanpa menoleh. “Sudah lebih baik dari 2 jam yang lalu Mr. Cho. Lukanya tidak terlalu parah, mungkin benturan di kepalanya yang membuatnya kehilangan kesadaran. Dalam waktu kurang lebih 3 jam lagi ia nona akan terbangun. Mr. Cho tak perlu khawatir.” Jelas sang dokter kepala pada Kyu Hyun. Tanpa perintah Si Won membawa keempat dokter tersebut keluar dari ruangan setelah mengecek keadaan Ji Na. Menyisakan hanya Kyu Hyun dan Ji Na saja.

            Kyu Hyun menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Matanya menatap wajah yang menurutnya bak malaikat itu dengan seksama. Kagum. Itulah yang membuatnya tak bosan menatapnya, di matanya ia tak ingin wajah itu jauh dari pandangannya. Tidak. Tidak akan pernah ia membiarkan itu.
            PIP.
            Kyu Hyun mengeluarkan ponsel miliknya. Tangan kirinya menggenggam tangan wanita yang tengah terbaring di atas ranjang itu sedangkan tangan kanannya sibuk dengan ponsel putih miliknya. Matanya bergerak cepat membaca tiap huruf yang tertera di sana. Ia tak ingin mengalihkan perhatiannya terlalu lama dari wajah wanita itu.

            From : Henry
            Hwang Ji Na, 25 tahun. Salah satu agen rahasia terbaik Korea. Bersama tim-nya ia pernah menjebloskan ketua yakuza jepang. Memiliki kekasih namun di rahasiakan di data pribadinya. Putri tunggal tuan Hwang Ji Seub, mantan menteri pendidikan. Tinggal di Madrid saat masih usia 7 sampai 18 tahun.

            Ok, dari sekian banyak kata di sana yang masuk ke dalam otaknya hanya. “Memiliki KEKASIH namun dirahasiakan”. Catat memiliki kekasih. Matanya yang sedari tadi menatap ponsel kini kembali menatap wajah Ji Na namun berubah dingin.

            “Hwang Ji Na. Kau- milikku. Milik Cho Kyu Hyun.” Desisnya dengan sudut bibirnya yang terangkat memperlihatkan senyuman, ah- ani, seringaian mengerikannya. Tangan kirinya yang tadinya menggenggam tangan Ji Na kini beralih mengusap kening yang tertutupi kasa putih karena terdapat luka di sana.
            “Apapun yang terjadi, kau milikku. Tak peduli kau setuju atau tidak karena aku tak perlu ijin darimu. Asal kau tahu apapun yang Cho Kyu Hyun inginkan harus ia dapatkan. Sekalipun itu harus membunuh atau mungkin membinasakan orang yang menghalangiku tak terkecuali dirimu dan keluargamu. Chagiya~” bisiknya di telinga Ji Na. Seolah itu semua dapat di dengar oleh wanita itu.

            Suara pintu yang dibuka membuat Kyu Hyun menarik tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Ji Na. Ia berdiri lantas menghampiri Si Won yang hanya berdiri di dekat pintu besi itu. “Bagaimana ?” tanya Kyu Hyun dengan tatapan datarnya. Sebenarnya tanpa jawaban dari Si Won pun ia sudah tahu hasilnya. Pekerjaan itu terlalu mudah untuk Si Won lakukan. “Clear. Ini, hanya tinggal stempel tiga jari dari Ji Na-ssi.” Kyu Hyun mengambil buku kecil itu lantas menelisiknya.

            “Hyuk Jae.” Panggilnya keras. Tak sampai setengah menit pintu kembali terbuka. “Dekorasi ulang rumah Si Won Hyeong. Buat kamar tengah seperti kamar Ji Na yang asli. Jangan lupa rekayasa foto keluarga dan tempelkan di segala sudut rumah Si Won Hyeong. Juga kamarku, buat seolah kamar itu memang kamar kami berdua. Pastikan nanti malam semua sudah selesai. Data dan bahan yang kau butuhkan sudah ku kirim ke e-mailmu.” Orang yang dipanggil Hyuk Jae itu membungkuk paham lantas keluar tanpa komentar.

            Kyu Hyun berjalan kembali mendekati ranjang. Ia mengelurkan kotak tinta lantas meraih tangan Ji Na dan menempelkannya di sana. Setelah cukup ia menempelkan jemari Ji Na di buku kecil yang tadi di serahkan Si Won padanya. Kyu Hyun tersenyum puas melihat hasilnya. Spontan ia mencium punggung tangan itu.

            “Mulai sekarang kau resmi miliki. Cho Ji Na.”

***

            Kyu Hyun memasuki ruangan khusus itu bersama Si Won. Ia memandang Ki Bum yang berdiri di samping ranjang Ji Na dan botol kecil berisi cairan yang masih penuh dan jarum suntik di tangannya.

            “Kenapa belum kau suntikkan juga ? kau tak berniat mengkhiatani ataupun melawanku kan Ki Bum-ssi ?” Ki Bum menggeleng keras. Namun wajahnya masih dingin dan datar. Kyu Hyun menyukai cara kerja Ki Bum, tanpa perasaan, dingin,  namun begitu akurat dalam mengambil keputusan. Ki Bum adalah ketua dari tim penelitinya.

            “Aku memintamu kemari karena aku ingin kau melihat sendiri reaksi dari obat ini.” Ki Bum mengangkat botol kecil berisi cairan putih itu setinggi dadanya. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa obat ini memang bisa menghapus ingatan seseorang namun obat ini masih dalam uji coba. Kemungkinan paling mematikan adalah ia mati.” Jelasnya to the poin. “Jika ada kesalahan pada tubuh wanita itu, ini diluar tanggung jawab tim kami jadi kau tak bisa membantainya sesukamu.”

            “Lakukan saja, jika berhasil aku akan menambah dana penelitian dan jika Ji Na mati awetkan mayatnya. Kematiannya lebih baik daripada melihatnya dimiliki orang lain.” Ki Bum menoleh ke arah Si Won, menunggu penjelasan dari namja yang merupakan tangan kanan Kyu Hyun itu. “Dia masih sama. Rasa memilikinya seperti ambisi.” Ok. Sepertinya Ki Bum salah menafsirkan arti Ji Na untuk Kyu Hyun.

            Melihat raut tak sabar dari Kyu Hyun, Ki Bum mengambil beberapa mililiter cairan putih itu dengan jarum suntik lantas menyuntikkannya pada tubuh Ji Na. Awalnya tak ada reaksi namun selang 3 menit tubuh Ji Na dipenuhi peluk dan dirinya bergerak gelisah.

            “Lakukan yang terbaik.” Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut Kyu Hyun sebelum keluar dari ruangan itu diikuti Si Won, menjadikan ruangan itu hanya tersisa Ki Bum dan Ji Na. Ki Bum menghela napas, ia mulai membongkar tas kerjanya yang ada di nakas. Berusaha menyelamatkan nyawa wanita itu. Walau dalam hati sebenarnya ia berharap wanita itu dapat merubah sifat Kyu Hyun agar lebih manusiawi. Itulah harapannya sebagai kakak ipar Kyu Hyun dari mendiang kakak Kyu Hyun yang telah meninggal dunia saat melahirkan putri mereka. Kim Hyun Ah. Putrinya dengan Cho Ah Ra.

***

            Sinar matahari sudah menyentuh bumi sejak tadi. Namun di suatu ruangan di Mansion milik seorang Cho Kyu Hyun. Ruangan itu begitu tertutup dan tak memiliki celah yang dapat di masuki oleh cahaya matahari. Penerangan di dalamnya hanya dari lampu dan itu membuat siapapun yang ada di dalamnya tak akan dapat membedakan antara siang dan malam jika tidak keluar.

            Jari – jari wanita yang tengah tertidur –atau pingsan- itu bergerak lemah. Tak berselang lama suara lengkuhan lemah keluar dari bibirnya. Kelopak matanya terangkat perlahan dan mengerjeap – ngerjapkannya beberapa saat untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya. Saat matanya telah terbuka sempurna, ia mencoba duduk namun erangan kesakitan keluar dari bibirnya.

            “Ah...” tangan kirinya terangkat menyentuh keningnya yang terasa sakit dan pusing tak tertahan. Sangat sakit seperti kepalanya tengah dicengkram. “Ji Na-ya, are you okey ?” Ji Na mencari sumber suara itu. Seorang namja dengan setelan jas formal hitam yang terlihat sangat rapi, menawan dan berwibawa. Itulah penilaiannya pada namja tersebut.

            Cho Kyu Hyun. Orang itu dengan langkah lebarnya, ia mendekati Ji Na. Tepat di samping ranjang itu tangannya menyentuh kening Ji Na. Mendapat sentuhan dari namja itu entah kenapa rasa sakitnya berangsur – angsur menghilang. Kyu Hyun memperlihatkan senyuman manisnya pada Ji Na. “Gwaenchanayeo chagiya ?”

            Ji Na mengerutkan keningnya. ‘chagiya ?’. untuk siapa ? dirinya ? “Nuguseyeo ?” Kyu Hyun mengubah mimik wajahnya memperlihatkan raut kekecewaan yang mendalam. Tangannya yang mengusap kening Ji Na terhenti dan terhempas lemas di samping tubuhnya dengan wajah yang tertunduk. Gotcha. Girangnya dalam hati saat melihat wajah Ji Na yang panik menatapnya dengan perasaan bersalah.

            “Mianhae, jeongmal mianhae. Tapi sungguh aku tak mengenalmu. Apa kau dan aku saling mengenal dan kita- ya, kita memiliki suatu hubungan ? dan siapa yang kau sebut ‘Ji Na’ namaku- ah! Namaku. Appayeo.” Kyu Hyun panik saat Ji Na kembali kesakitan dan memegangi kepalanya. Mencengkram rambut kepalanya erat, terlalu kuat untuk Kyu Hyun melepaskannya.

            “Cukup. Hentikan, sayang. Jangan menyakiti dirimu, kumohon tenanglah. Ji Na-ya dengarkan aku. Lepaskan rambutmu, kau menyakiti dirimu sendiri. Sayang, hentikan.” Suara rendah Kyu Hyun seperti mantera bagi Ji Na. Wanita itu berhenti mengerang kesakitan dan melepaskan cengkramannya pada rambut kepalanya. Kyu Hyun tersenyum, menghela napas lega. Sungguh melegakan. Ini diluar kendali tubuhnya. Perasaan khawatir pada wanita itu tiba – tiba saja muncul dan memerintahkan tubuhnya untuk membuat wanita itu kembali baik – baik saja. Tubuhnya tak mengijinkan tubuh wanita itu terluka dan merasakan yang namanya ‘sakit’.

            “Sepertinya kondisimu mulai stabil. Kalau begitu lebih baik kita pindah ke kamar saja. Ruangan di sini terlalu tertutup dan kau membutuhkan udara segar. Ruangan yang tertutup seperti ini tak baik bagi kesehatanmu. Ayo.” Kyu Hyun mengulurkan tangannya. Ragu, tapi akhirnya Ji Na meraihnya juga. Hangat. Itulah perasaan yang saat ini menjalari jemari tangannya, merayap hingga hatinya terasa begitu tenang.

            “Ah, cukup satu yang perlu kau ingat. Aku Cho Kyu Hyun dan kau Choi- bukan sekarang Cho Ji Na. Hal lain kita bicarakan setelah kau benar – benar sehat.” Kyu Hyun memberikan senyuman manisnya.

Kyu Hyun memapah tubuh Ji Na hingga keluar dari ruangan itu, setelah mengunci pintu ruangan itu dengan kata sandi dan sidik jarinya, Kyu Hyun mengangkat tubuh Ji Na yang terasa ringan karena 2 hari tak mendapat asupan makanan kecuali suntikan gizi khusus dari Ki Bum tiap 3 jam sekali. Ji Na tak melawan, ia justru menelusupkan kepala diantara relung leher Kyu Hyun yang terasa hangat.

            “Sebenarnya siapa aku, dirimu dan seperti apa hubungan kita ?” pertanyaan itulah yang terus muncul dalam benaknya.

***

            Mendengar pintu kamar yang terbuka, Ji Na membuka matanya dan memperbaiki letak selimut yang membungkus tubuhnya lantas mendudukan tubuhnya yang masih lemas di atas ranjang seperti kamar raja dan ratu di kerajaan dongeng. Entahlah, ia merasa sangat asing di tempat ini dan itu membuatnya begitu waspada dan enggan mempercayai apapun saat ini karena pria yang menemuinya tadi dan memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’ itu belum menjelaskan apa – apa padanya.

            “Apa aku mengganggu tidurmu sayang ? tubuhmu masih lemah sebaiknya kau jangan banyak bergerak.” Ji Na tak menggubris, matanya selalu menuntut penjelasan lebih dari Kyu Hyun. Sayangnya pria itu selalu saja mengatakan kesehatannya yang utama. Semuanya akan ia jelaskan asalkan Ji Na sudah benar – benar sehat. Ia tak ingin kenyataan –ekhm, disini mungkin lebih tepatnya kenyataan dari rekayasa buatan- dirinya mengguncang kejiwaan Ji Na.

            “Ji Na-ya, aigoo~ adik kecilku kenapa kau suka sekali membuat Oppa-mu ini khawatir ? bagaimana keadaanmu sekarang ? abeoji sangat khawatir padamu. Terlebih kata Kyu Hyun kau kekurangan banyak darah saat kecelakaan.” Pandangannya kini tertuju pada pria yang usianya beberapa tahun di atas Kyu Hyun itu dengan mata menyipit.

            “Kyu.” Kyu Hyun menundukkan kepalanya, helaan napasnya terdengar jelas di ruangan ini. “Perkiraan Ki Bum Hyeong mungkin benar. Ji Na sepertinya mengalami dengan ingatannya karena kecelakaan itu. Benturan keras di kepalanya mengakibatkan Ji Na hilangan ingatan, dan mungkin itu permanen. Juga ia harus menjalani terapi selama beberapa bulan agar ia bisa kembali berjalan normal.” Jelas Kyu Hyun diakhiri dengan senyuman masamnya. Si Won yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala tanda mengerti sambil mengusap wajahnya frustasi. Seolah ia sangat sedih mendengar kondisi Ji Na.

            “Hiks, aku- tidak akan lumpuh bukan ? hiks, ja- hiks- wab.” Kedua namja itu mendudukan dirinya di tepi ranjang. Kyu Hyun langsung memeluk tubuh ringkih Ji Na yang memang masih lemah itu erat. Menyandarkan kepala wanita yang dianggapnya sebagai ‘malaikat’ miliknya itu pada dadanya yang bidang. Tangannya mengusap kepala Ji Na berusaha menenangkan wanita yang tengah menangis dengan isakan lirih di pelukannya itu. Sementara Si Won yang duduk di depan Ji Na memberikan senyuman lembutnya walau setitik air mata berada di ujung ekor matanya. Tangannya mengusap air mata yang turun membasahi pipinya yang terlihat pucat.

            “Ji Na-ya, dengar. Apapun yang terjadi oppa dan Kyu Hyun akan selalu menjagamu. Kami akan selalu melakukan yang terbaik untukmu. Untuk adik kecilku. Sekarang kau pulihkan dulu kondisi kesehatanmu. Tenang saja, cepat atau lambat kau pasti akan berjalan seperti biasa. Kau hanya perlu bersabar. Oppa pergi dulu, Kyu Hyun akan menjagamu disini.” Si Won memberikan kecupan ringan di kening Ji Na sebelum meninggalkan ruangan ini. Dirinya ingin tertawa saat melihat wajah membunuh Kyu Hyun yang baru pertama ini ditujukan untuk dirinya.

            Ok, jadi mungkin seperti inilah dunia baru bagi Hwang Ji Na. Menjadi adik dari Choi Si Won dan istri sah dari Cho Kyu Hyun. Selamat menempuh hidup keduamu Hwang Ji Na~

***

            Kyu Hyun tersenyum puas, sekarang ini ia memang benar – benar tersenyum. Senyuman di bibirnya itu tak pernah lepas saat matanya tak lepas pula dari sosok yang sedang terlelap di sampingnya dengan lengan kirinya digunakan oleh sosok ‘malaikat’-nya itu sebagai bantal. Sudah hampir satu jam yang lalu Ji Na –sosok malaikat bagi Kyu Hyun- tertidur pulas. Dan selama hampir satu jam itu pula sudut bibir namja dengan tinggi 180 cm itu tak henti – hentinya mengembangkan senyum. Tangannya menepikan anak rambut yang menutupi wajah Ji Na dengan pelan, tak ingin pergerakannya mengganggu tidur Ji Na.

            Namun saat mengusap kening Ji Na, ia mengusapnya dengan sedikit kasar. Mungkin kesal karena Si Won mencium kening wanitanya itu. “Angel, kau tahu tidak jika sekarang aku sangat ingin menggantung orang berani menyentuhmu selain aku, termasuk Si Won Hyeong. Hanya saja tak mungkinkan jika aku menggantung kakakmu  itu.”

            Kyu Hyun beranjak dari ranjang mewahnya. Ia membenarkan sedikit kemeja putih yang kini tengah dipakainya. Merasa cukup, Kyu Hyun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Tak lupa ia merapikan letak selimut Ji Na sebelumnya, memastikan kamera cctv dan segala keamanan di kamarnya berfungsi sempurna.

***

            Kyu Hyun membuka pintu ruang kerjanya dengan tergesa dan menutupnya dengan kasar, lantas duduk di sofa hitam yang ada di sudut ruangannya. Si Won yang tadinya duduk dengan tenang di sofa itu dengan membaca majalah otomotif sambil menunggu Kyu Hyun pun harus mengusap dadanya melihat kelakuan bos sekaligus orang yang sudah dianggap adiknya itu.

            “Wae ?” Si Won meletakkan majalah otomotif yang tadi dibacanya diatas meja. Ia mengalihkan pandangannya pada Kyu Hyun yang memijit kepalanya dengan wajah yang memerah. Tandanya jika ia sedang emosi. “Jangan kau pikir aku tak bisa melukaimu hyeong.” Si Won terkekeh pelan mendengar penuturan Kyu Hyun.

            “Ah. Rupanya kau memang sudah jatuh hati dengan agen itu Cho Kyu Hyun ?” Kyu Hyun mengangguk seraya berkata, “dan kau membuatku naik darah hyeong.” Si Won tersenyum lebar mendengar ucapan Kyu Hyun. “Slow Kyu Hyun-ah, seperti yang kau atur dalam dramamu aku ini hanya kakaknya, jadi aku akan menjadi kakak yang baik untuknya.” Si Won berdehem yang disambut lirikan tajam dari Kyu Hyun. “Dan aku tak berminat menjadi kekasihnya. Dia bukan tipeku.”

            “YAK! Menjadi kakaknya bukan berarti kau bebas menyentuhkan. Kau ingat hyeong, jangan menyentuhnya. Apalagi kau tadi mencium keningnya. Aku tak terima itu.” Ujar Kyu Hyun dengan emosi yang tersulut. Si Won mendesah pelan, kenapa emosi Kyu Hyun begitu labil ? seperti anak remaja saja, ck. Batin Si Won.

            “Ok. Aku minta maaf jika aku membuatmu marah. Jadi sekarang, apa yang sedang kau rencanakan pada wanita itu. Kau belum menceritakan detailnya padaku. Akta nikah, kartu identitas baru, bahkan kau merubah kartu keluargaku dan memasukkan disana. Apa maksudmu ?” “Tentu saja menikahinya. Menjadikannya milikku. Ada masalah hyeong ?” jawab Kyu Hyun dengan santai.

            “Kau yakin ia benar – benar hilang ingatan ? maksudku, ia itu agen korea Kyu Hyun-ah, itu yang perlu kau pertimbangkan. Ia bisa saja menghancurkanmu, menjebloskanmu dalam penjara dan berakhir mengerikan seperti Cho Ahjussi.” Kyu Hyun termenung memikirkan ucapan Si Won. Semua itu memang benar adanya. Tapi ia yakin jika Ji Na memang benar – benar tak mengingat masa lalunya. Ia bisa melihatnya dari bagaimana reaksi Ji Na saat pertama kali membuka matanya. Wajah polos bagai malaikat dengan binar mata yang tak redup walau wajahnya tampak pucat. Tapi ucapan Si Won tadi harus dipertimbangkan. Apapun itu tak boleh ada yang menghancurkannya, terlebih itu adalah cinta. Hal paling rendah menurutnya.

            “Aku akan meminta bantuan Ki Bum Hyeong untuk melakukan pemeriksaan ulang. Ah, hyeong seleksi 8 orang terbaik untuk Ji Na nanti jika obat itu benar – benar bereaksi.” Si Won tersenyum singkat. Benar, rupanya Cho Kyu Hyun begitu terobsesi pada sosok malaikatnya.

***

Korean South, 2013
            Pintu kamar di apartement mewah itu dibuka pelan. Langkah kaki laki – laki itu sangat pelan, mengamati setiap sudut ruangan milik orang yang sangat berarti baginya. Tahun depan. Yah, tahun depan mereka akan menghadapi dunia bersama – sama. Benar – benar menyatukan prinsip dan tujuan hidup mereka.

            Pandangan laki – laki itu jatuh pada sebuah bingkai foto yang tergantung di dekat lemari. Terdapat dua sosok anak manusia di sana. Dengan background pohon bunga canola di musim semi juga rumput – rumput liar yang menjadi alas mereka duduk. Mereka duduk berdampingan dan saling merangkul. Tersenyum cerah ke arah kamera seolah ingin menunjukan kepada siapa saja bahwa saat itu benar – benar saat yang membahagiakan. Musim semi tahun lalu mereka di Jeju.

            Daniel. Laki – laki itu menyentuh permukaan kaca yang melapisi foto tersebut. Sudut matanya berlinangan air mata namun belum ada setitik air matanya yang jatuh. Terlalu tabu baginya untuk menjatuhkan air mata.

            “Bukankah aku sudah melarangmu, kau tahu sekarang bagaimana bukan kejadiannya ? aku kehilanganmu, kau tahu, aku kehilanganmu. Kenapa sulit sekali untuk membuatmu luluh. Hwang Ji Na apa yang kau rasakan saat ini eoh ? katakan. Katakan padaku.”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar