About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Minggu, 22 Juni 2014

[FF] I Will Go If You Still Live


1.        Title                      : I Will Go If You Still Live
2.        Author                  : Choikang Lover
3.        Cast                      : Kim Ryeo Wook, Yoon (Kim) Eun Hwa. Super Junior and other.
4.        Rated                   : T
5.        Genre                   : AU, OC, OOC(beberapa), life, romance.
6.        Lenght                  : Oneshoot
7.        Author’s Note      : FF asli ide saya, munculnya sih sebenarnya waktu jam sebelas malem mau tidur kemaren (21 Juni), jadi baru dibuat hari ini.
8.        Summary              :
Hari demi hari berlalu, tapi kau tak disini
Apa yang aku inginkan saat ini adalah membiarkanmu pergi
Waktuku telah habis untukmu
Sekarang pergilah, pergilah


Story. . .



            “Ini foto Yoon Eun Hwa.” Ryeo Wook mengamati foto yang disodorkan Lee Soo Man padanya. Kini ia sedang menghadap petinggi SM itu seorang diri. “Bukankah ia salah satu staff yang mengurusi properti untuk SuShow ?” Lee Soo Man mengangguk. “Ia putri dari Yoon Shin Hwan. Beliau berjanji akan berinvestasi lima juta dollar bila kau mau menikahi putrinya.” Wajah Ryeo Wook mengeras. Marah ? tentu saja. Siapa orang dihadapannya ini yang berani mengatur pasangan hidupnya ?

            “Aku tak bisa sajangnim.” Sela Ryeo Wook. “Sayangnya aku memanggilmu kemari bukan untuk mendiskusikan ini denganmu Kim Ryeo Wook. Ini perintah dariku.” Terlihat jelas di mata Ryeo Wook, pak tua itu tengah menyeringai kearahnya. “Tapi aku-” “atau Super Junior bubar ?” telak. Ia kalah.

            “Setidaknya ia fansmu, sudah jelas ia mencintaimu. Yoon Shin Hwan-ssi terlalu menyayangi Eun Hwa hingga membiarkannya bekerja di SM untuk mengurus properti SuShow. Ibunya meninggal saat usianya empat belas tahun. Dan yang akan mewakilimu nanti untuk mendiskusikan tentang pernikahan kalian adalah aku.” Ryeo Wook membuang muka. Sungguh, ia ingin sekali berteriak di hadapan orang tua ini. Di dalam kontrak kerjanya tak tertulis ia harus menikah dengan wanita yang ditunjuk perusahaan bukan ?


***

            Ryeo Wook dan Eun Hwa berdiri menyalami sanak saudara terdekat mereka yang hadir dalam acara pernikahan mereka. Hanya orang terdekat mereka saja karena ini adalah pernikahan tertutup. Dirinya yang merupakan public figur yang masih aktif harus menikah di usia 25 tahun karena investasi untuk agensinya. Sungguh agensi yang mengerikan bukan ?

            Ryeo Wook tersenyum seadanya sedangkan Eun Hwa, gadis yang dinikahinya tersenyum penuh hari ini. Tentu saja, ia seorang fans dari grupnya. Lagipula gadis mana yang tak akan tersenyum berdiri di samping Kim Ryeo Wook Super Junior eoh ?


***

            “Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, Oppa mandilah dulu. Aku ingin melepas gaun menyebalkan ini dulu.” Ryeo Wook tak membalas, ia segera beranjak menuju kamar mandi apartement miliknya. Apartement ini berada di wiliyah yang sama dengan apartement member Super Junior. Jadi ia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana.

            “Eun Hwa-ssi,” panggil Ryeo Wook sebelum menutup pintu kamar mandi. “Aku tak ingin menipumu. Aku menikahimu agar SM mendapat suntikan dana dari perusahaan ayahmu. Maaf, tapi aku tidak mencintaimu.” Blam. Eun Hwa tersenyum lemah. Penolakan, belum apa – apa ia sudah mendapatkan itu.

            Eun Hwa duduk di tepi ranjang. Sudah ia duga, ini pasti ayahnya. Hahaha. . .  lagi – lagi ayahnya. Ia tahu ini semua untuk kebahagiaannya, tapi ia tak yakin Ryeo Wook pasti menilainya tak lebih dari fans yang ‘gila’.


***

Tiga Tahun. . .

            Tepat pukul dua belas malam Eun Hwa menatap pintu utama apartement mereka. Ia menghela napas. Tangannya dengan terampil membuka ponselnya. Tidak ada, jangankan panggilan dari suaminya, pesan singkat saja tidak ada. Mana mungkin Ryeo Wook mau menghubunginya ? Ryeo Wook pasti akan lebih memilih menghubungi salah satu member Super Junior. Memang siapa dirinya bagi Ryeo Wook ?

            Saengil chuka hamnida.” Diliriknya kue ulang tahun dengan lilin angka 28 berwarna biru. Kue coklat yang ia buat sendiri, sepenuh hatinya. “Geurae, bolehkah aku menyanyi ?” Persis seperti orang idiot, Eun Hwa meletakan jarinya di atas piano putih kesayangan Ryeo Wook. “Mianhada Oppa bila aku lancang. Sekali ini saja ijinkan aku menyentuhnya.” Tak ada suara, hanya embusan angin dari gorden yang tak disibakan dengan pintu jendela yang terbuka serta detak jarum jam yang membelah sunyinya malam ini. “Diam berarti iya,” lanjutnya.

. . . . .

Haruharuga gado neoneun eomneungeol (Hari demi hari berlalu, tapi kau tak disini),” Eun Hwa tersenyum menatap figura berisikan foto pernikahan mereka dua tahun yang lalu yang diletakkannya di atas piano.

Ara ijen neol jiwobolkke ijeullae (Aku tahu, Aku akan menghapusmu, Aku akan melupakannmu),” ia masih menekan tuts piano dan mengambil napas untuk melanjutkan lagunya.

Naega wonhago wonhangeon Neoreul nohajuneun geot (Apa yang aku inginkan adalah membiarkanmu pergi),” pandangannya jatuh pada cincin putih yang melingkar di jari manis kirinya.

Ijen let it go let it go (Sekarang pergilah, pergilah),” setetes air mata menuruni pipinya. Eun Hwa sudah tak fokus pada lagunya. Kali ini ia tak mampu menahan air mata dan kesedihannya selama ini. Ia tak mampu untuk terus memendamnya seorang diri. Lagi pula disini tak ada siapa – siapa, biarlah ia meresapi rasa sakit hatinya.

Neowahansigan (Waktuku telah habis untukmu), hiks . . ” isakan samar dari mulutnya berhasil keluar. Tangan kirinya terangkat untuk menahan isakan yang mungkin akan keluar lagi.

All i wanna do wanna do (Semua yang ingin kulakukan, ingin kulakukan),” ia menatap meja tamu yang penuh dengan makanan yang ia masak sendiri. Ia sungguh merasa apa yang dilakukannya sia – sia belaka.

Ganghan naega doeneun geot (Yaitu untuk menjadi lebih kuat),” lagi ia tersenyum sambil menatap foto kecil pernikahan mereka. Iya, Yoon Eun Hwa tersenyum. Tersenyum getir.

Honja namado aesseodo (Aku yang ditinggal seorang diri dan berusaha keras),” pikirannya kembali melayang hari dimana mereka resmi menjalin ikatan sebagai suami – istri di mata Tuhan dan negara.

Apahal saram, Na ingeor (Tetapi pada akhirya orang yang tersakiti adalah aku),” selesai. Eun Hwa menangkupkan tangannya pada kedua pipinya. Menghapus jejak air mata yang sempat tak tertahan tadi.

(Wanna Do – Kang Ji Young KARA)
. . . . . .

“Hahaha . . . maaf, sepertinya aku salah lagu. Mestinya aku menyanyikan lagu selamat ulang tahun ya padamu.” Eun Hwa menghelan napas sejenak. “Aku juga tak tahu kenapa aku menyanyikan lagu itu untukmu. Aku tak tahu apa lagu kesukaan saat ini. Maaf.” Ia menengok ke arah pintu masuk. Tak ada seorang pun disana. Tak ada tamu yang datang. Bukan, ia menanti suaminya tak belum pulang. Lagi – lagi paru – parunya terasa lebih sesak dan membuatnya sedikit kesulitan untuk mengambil napas. “Tidak bisakaah sekali ini saja menghabiskan waktu bersamaku ? sekali, hanya sekali. Hiks. . .”

Eomma, mianhae aku tak bisa menepati janjiku. Aku sudah tak sanggup untuk tidak menangis. Saat ini saja, biarkan aku melepas sedikit rasa sesak di hatiku,” gumamnya tak jelas dengan bahu yang bergetar. Mungkin benar bahwa tak semua hal yang kita inginkan tak semuanya bisa kita miliki. Terlebih itu adalah hati manusia yang sangat ambigu. Pemiliknya saja kadang salah menafsirkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh hatinya.

Terpaut satu meter di belakang Eun Hwa berdiri sosok yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Sosok wujud namja dengan pakaian serba putih dan bercahaya itu menunduk. Antara percaya dan tidak ia menatap punggung Eun Hwa yang masih bergetar. Bahkan suara isakannya pun terdengar jelas ditengah malam seperti ini. Inikah sosok sebenarnya dari istrinya itu ? sosok yang selalu tersenyum tegar pada apapun yang orang lontarkan padanya. Hinaan, cacian, makian. Sosok yang selalu menutupi rasa kecewa akan dirinya yang terus mengacuhkan wanita itu. Seperti itukah sosoknya yang sebenarnya ? iya tak tahu.

Haru-ee handeonman neol saenggakhae....
Eun Hwa mengangkat panggilan yang masuk dengan cepat. “Yeobosaeyo,” ujarnya sopan dengan isakan yang ia sembunyikan dengan menggigit kuku jarinya. Hatinya mencelos mendengan penuturan orang di seberang sana. Ia menutup matanya. Frustasi dan kacau, itulah kata yang menggambarkan keadaannya sekarang. “Nona anda masih disana ?,” tanya seseorang di seberang sana. “Mianhae, dimana ? dimana suami saya sekarang ?” tanya Eun Hwa tak sabar.

Setelah memutuskan sambungan telepon, Eun Hwa mengusap lelehan air matanya yang membasahi pipinya. “Hush. . .” Eun Hwa meniup lilin berangka 28 yang sebenarnya untuk suaminya. “Semoga kau baik – baik saja. Semakin sayangi oleh fansmu dan semoga karirmu lancar. Semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan dan kemudahaan.” Ia lalu bangkit dan mengambil tasnya di kamar, melangkah pergi meninggalkan apartement mereka dengan tergesa – gesa. Eun Hwa bahkan lupa mengunci- ani, bahkan penutup pintu apartementnya dengan benar. Sedangkan sosok tembus pandang itu mengamati apartement itu.

“Bukankah aku suaminya ? apa yang terjadi ?” sosok itu mengamati dirinya sendiri pada kaca besar yang menempel di dinding. “I-i-ini pasti lelucon. Ini pasti tipuan sulap, ini pasti bukan cermin biasa.” Sosok itu menggelengkan kepalanya tak percaya saat menatap cermin itu. Tidak ada bayangannya. “Kau- kau hantu Kim Ryeo Wook.”


***

            “Jadi aku belum mati ?,” itu bukan pertanyaan namun lebih tepatnya pernyataan. Ryeo Wook memutuskan untuk mengikuti Eun Hwa dengan ‘melayang’ di udara. Sesampainya di rumah sakit ia sedikit kesulitan karena harus menghindari orang yang berlalu lalang di sepanjang koridor rumah sakit. Padahal ia kan bisa menembusnya saja tanpa perlu menghindar (-_-). Di depannya, tepatnya tubuh yang tengah berbaring di atas ranjang putih rumah sakit ini adalah tubuhnya. Tubuh penuh luka robek yang dibalut oleh kain kasa tapi masih terlihat jelas darah disana. Belum lagi kepalanya yang dibebat perban penuh. Ia tak yakin wajahnya nanti akan tetap utuh setelah mendapat luka yang sangat serius di wajahnya yang tampan nan kyeopta itu. Entah bagaimana kecelakaan itu terjadi ? yang jelas ia tak ingat.

            Ia menengok jam dinding yang terpasang di kamar rumah sakit. Pukul 00.48 pagi –dini hari-. Ia mendekat ke arah ranjang, setelah ia puas mengamati keadaan fisiknya setelah kecelakaan ia beralih pada Eun Hwa. Wanita itu duduk dengan wajah yang terus menatap wajahnya yang tengah terpejam dengan air mata. Tak ada isakan, mungkin wanita itu tak ingin mengganggu pasien lain. Tangan Eun Hwa menggenggam erat jemarinya, dan entah kenapa ia merasa perasaan hangat merasuki relung hatinya.

            Duk duk duk
            Suara derap langkah, bukan lebih tepatnya orang yang berlari mendekat. Rye Wook mengalihkan pandangannya pada pintu kamarnya yang dalam detik berikutnya terbuka dan sekelompok manusia masuk dengan gaduhnya. Saling senggol, mendahului, dan cek – cok. “Merasa sama saja. Menjenguk orang sakit seperti orang lomba lari.” Ryeo Wook merasa tubuhnya tertembus saat Kyu Hyun berlari kecil mendekati ranjang. Dirinya memilih mundur membiarkan member Super Junior melihat keadaan jasadnya.

            “Bagaimana keadaannya Eun Hwa-ya ?” tanya Hee Chul mewakili member lain. Eun Hwa menunduk. “Ia lewat masa kritis, tapi ia koma. Benturan di kepalanya membuat Ryeo Wook Oppa kehilangan kesadarannya,” jelasnya lirih. Semua member terpaku, menatap wajah damai yang tengah terpejam di atas ranjang dengan sendu. “Kau harus yakin Ryeo Wook akan bangun. Ia pasti akan segera bangun karena ada wanita cantik yang selalu di sisinya,” Hyuk Jae berusaha menghibur. Bagaimana pun mereka anti dengan kata rumah sakit dan kecelakaan. Semuannya itu mengingatkan mereka pada kejadian tahun 2007 silum. Sung Min, Shin Dong, Si Won, dan Dong Hae duduk di sofa yang ada di kamar VIP ini, sedangkan Ye Sung, Hee Chul, Kyu Hyun, dan Hyuk Jae masih betah berdiri.

            “Bagaimana kejadiannya ?” Ye Sung membuka suara setelah mereka terdiam beberapa saat. Eun Hwa hanya menggeleng. “Aku ada di rumah saat menerima kabar dari seseorang yang membaw Ryeo Wook Oppa kemari.” Ye Sung mengusap pundak Eun Hwa, meyakinkannya bahwa ia tak sendiri. “Ryeo Wook adalah dongsaeng kesayanganku. Ia pernah berkata ia tak akan meninggalkan orang yang menyayanginya. Ia pasti bisa melewati semua ini.” Eun Hwa hanya mengangguk sebagai jawaban. “Kita akan bergantian menjaganya, kapan Ahjussi dan Ahjumma kemari ? kau sudah mengabari mereka bukan ?” tanya Ye Sung. Kali ini Eun Hwa mengangguk, “mungkin besok karena sekarang mereka ada di Daegu.”

            Ryeo Wook memerhatikan mereka –Eun Hwa dan member Super Junior-. Ia merasa tersentuh, kecelakaannya terjadi sekitar tengah malam dan mereka rela berlari kemari demi melihat keadaannya. “Gamsahamnida hyeongdeul, Kyu Hyunie dan juga untukmu Eun Hwa-ya.”

***

            Lima hari. Rye Wook –arwah- hanya mengikuti kemana Eun Hwa berada. Ia sebenarnya ingin membuka hatinya untuk istrinya itu tapi ia ragu. Dan dalam waktu yang entah ia juga tak tahu ia memutuskan untuk memantapkan hatinya. Ia ingin mengetahui bagaimana sosok istrinya itu sebenarnya.

            Ryeo Wook duduk di dekat kampor sedangkan Eun Hwa sedang mengiris sayuran. “Yak, seharusnya kau masukan dulu bumbunya baru sayurannya. Baru kalau kurang tambah bubunya. Sayuran itu tak baik direbus terlalu lama.” Yah, seperti inilah paginya. Ia ingin sekali merebut spatula itu dari tangan Eun Hwa. Ryeo Wook menghela napas, ia masih saja tak sadar bahwa Eun Hwa tak bisa mendengarnya. Jangankan mendengar, merasakan kehadirannya saja tidak.

            Selesai memasak Eun Hwa langsung makan dengan cepat. Ryeo Wook tersenyum tipis memperhatikan cara makan Eun Hwa di dekat dispenser. Sungguh lucu, seperti anak kecil yang sedang diburu – buru oleh temannya takut akan ditinggal bermain. “Uhukk,” Ryeo Wook berusaha meraih gelas yang ada di dekatnya tapi tak bisa. Tangannya tak bisa meraih gelas itu. Eun Hwa bangkit dan meraih gelas lantas mengisinya. Eun Hwa kembali meletakkan gelas itu setelah meneguknya setengah.

            “Sudah lima hari, tapi kenapa kau belum bangun juga ? sebenarnya apa yang kau impinkan hingga membuatmu betah memejamkan matamu ?” Eun Hwa berteriak ketika melihat foto pernikahan mereka yang ada di dapur. “Aku ingin mengatahui seperti apa istriku itu. Sosok seperti apa dia. Tapi sungguh bukan maksudku untuk terlalu lama memejamkan mata. Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya untuk kembali ke tubuhku,” sahut Ryeo Wook. “Apa mungkin dalam mimpimu itu kita berpisah hingga membuatmu enggan untuk bangun ? apa dalam mimpimu saja kau tak mau menganggapku istrimu eoh ?” Ryeo Wook tersentak. Apa ini yang dirasakan oleh istrinya selama ini ? merasa tak dianggap. “Kata – katamu seperti menikam jantungku Eun Hwa-ya,” gumam Ryeo Wook.

***

            “Aku memang tak sedekat Ye Sung dengan Ryeo Wook, tapi ia pernah secara tak langsung mengatakan padaku bahwa ia merasa masa depannya secara pribadi adalah haknya. Ia mengatakan itu padaku sekitar dua bulan yang lalu dalam keadaan mabuk.” Eun Hwa menunduk, ia meremat tas selempang biru yang ada di pangkuannya. Dirinya dan Hee Chul tengah berada di cafe dekat rumah sakit tempat Ryeo Wook di rawat. “Ia tak suka jika agensi mengatur hidupnya lebih dalam. Selama ini ia tak pernah membuat skandal yang merugikan perusahaan. Menurutnya perusahaan menjualnya demi investasi ayahmu pada SM Ent.” Dalam hati Eun Hwa membenarkan itu. Tapi selama ini ia berusaha untuk tidak memaksa Ryeo Wook untuk sekedar menerimanya. Tidak. Bahkan ia membebaskan Ryeo Wook untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Agar Ryeo Wook tidak merasa terkekang.

            “Aku tahu ini memang bukan urusanku tapi kurasa Rye Wook terbebani dengan ini semua. Termasuk statusnya, ia sangat khawatir bila statusnya terkuak.” Eun Hwa mengerti sekarang arah pembicaraan Hee Chul, ia hanya tersenyum getir. “Pikirkan baik – baik apa yang terbaik untuk kalian. Aku yakin kecelakaan Ryeo Wook kali ini juga karena faktor psikisnya.” Eun Hwa mengangguk, matanya sudah merah dan berkaca – kaca. Hee Chul meletakkan tisu yang dibawanya di atas meja, tapi sepertinya Eun Hwa tak berniat untuk mengambil satu pun.

“Maaf menambah beban pikiranmu tapi jika ini terus berlanjut kalian hanya akan saling menyakiti.” Hee Chul berdiri, sebelum melangkah ia kembali berujar, “terlebih dirimu. Apa hinaan, cacian dan tindakan mereka –sesaeng fans- tak membuatmu jengah ?” Eun Hwa tertentuk kembali. Ia menatap lantai yang dilapisi keramik putih itu dengan pandangan kosong.

“Apa saja yang tak aku tahu darimu ? siapa ? siapa yang menghinamu ?” Ryeo Wook mengangkat tangannya namun lagi – lagi ia tak bisa menyentuh kepala Eun Hwa. Ryeo Wook menghela napas. “Mianhae Eun Hwa-ya. Kukira hanya aku yang tak bahagia dalam pernikahan ini. Ku kira hanya aku yang menderita disini. Aku akan mencari cara agar aku bisa kembali ke tubuhku.”


***

            Eun Hwa menatap bintang dari balkon apartement mereka. Hari ini ia ingin berdiam disini untuk memikirkan semuanya. Karena disana pasti sikap egoisnya yang akan mendominasi. Ryeo Wook berdiri tepat di sampingnya, memerhatikan wajah risau wanitanya itu lekat – lekat. “Yeppuda. Kenapa aku baru sadar kalau aku memiliki istri secantik dirimu eoh ?” Ryeo Wook mengangkat tangan kirinya, namun tangannya hanya mematung di udara. Dua detik berikutnya ia menurunkan tangannya, lantas tersenyum getir. “Aku lupa kalau sekarang aku hanya arwah,” kesalnya diakhiri sedengusan sebal.

            “Tiga tahun. Mungkin saatnya aku harus menyerah.” Ryeo Wook mengerutkan dahinya. Istrinya itu bicara dengan siapa ? “Kau tahu, suamiku bahkan tak pernah menatap mataku. Hanya tersenyum canggung saat aku mengajaknya bicara dan hanya mengiyakan saat aku meminta sesuatu.” Ryeo Wook mengikuti arah pandangan Eun Hwa. Keatas. Bintang. Diatas ana ada sebuah bintang yang bersinar terang namun sendirian, tidak mengelompok dengan bintang lainnya.

            Eun Hwa menangkupkan tangannya di depan dada, detik berikutnya ia menutup matanya rapat. “Aku akan pergi setelah kau membuka matamu. Aku janji.” Eun Hwa membuka matanya bersamaan dengan setitik air mata yang meluncur dari mata kirinya. “Sampaikan maafku padanya jika aku tak bisa mengatakannya langsung. Sampaikan juga terima kasihku padanya karena tiga tahun ini sudah mau tinggal satu atap dengan gadis bodoh dan idot ini. Sampaikan maafku karena mengacaukan hidupnya.” Ryeo Wook tersenyum lembut, “kau tahu aku mencintaimu. Kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu dalam waktu kurang dari satu minggu. Padahal kita tinggal bersama selama tiga tahun bukan ? mungkin itu karena aku tak memiliki waktu bersamamu. Aku akan merantai tangan dan kakimu jika kau benar – benar berniat meninggalkanku.” “Hiks, hiks . . .” Ryeo Wook berusaha menyentuh pipi yang basah dengan air mata itu perlahan. Senyumnya mengembang saat ia bisa merasakan halus kulit pipi wanitanya.

            Eun Hwa tertegum. “Ry-Ryeo Wook Oppa.” Eun Hwa berusaha memeluk sosok fatamorgana di hadapannya. Ia menghambur pada sosok itu tapi yang didapatnya hanya udara kosong. Eun Hwa tersenyum getir. Lantas ia bisa apa lagi ?

***

            30 Juni 2014. Abeojinya sudah mengucapkan selamat padanya tadi pagi. Usianya genap 23 tahun sekarang. Tapi bukan itu yaang terpenting, hadiah yang Tuhan berikan untuknya. Suaminya, Kim Ryeo Wook sudah bangun dari tidurnya. Eun Hwa tersenyum sambil sesekali mengusap air matanya yang terjatuh di sepanjang koridor rumah sakit. Dengan cepat ia membuka pintu kamar dimana suaminya dirawat. Eun Hwa melangkahkan kakinya masuk, disana hanya ada Ye Sung dan suaminya yang tengah berbaring diatas ranjang. “Ye Sung Hyeong, bisakah kau meninggalkan kami sebentar ?” Ye Sung mengangguk lantas keluar dari ruangan. Sebelum benar – benar keluar ia tersenyum padaku.

            “Kemarilah,” aku mengikuti ucapannya. Melihatnya yang berusaha duduk aku membantunya dan menata bantal agar ia bisa bersandar dengan nyaman. “Bagaimana keadaanmu sekarang Oppa ?” Ryeo Wook tersenyum lalu mengulurkan tangannya, “saengil chuka hamnida.” Eun Hwa menyambut tangan Ryeo Wook dengan perasaan campur aduk. Biasanya hanya ayah saja yang mengingatnya. Ia tak punya teman dekat yang selalu ada untuknya. Ia anak yang kesepian. “Duduklah disini,” Ryeo Wook menepuk bagian kosong ranjang itu. Eun Hwa menurut.

            “Semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan. Memanjangkan umurmu dan memberimu kebahagiaan. Jadilah wanita dengan pemikiran yang dewasa. Do’aku selalu menyertaimu.” Ryeo Wook merengkuh pinggang Eun Hwa dan menariknya untuk lebih merapat padanya. Ia mengecup kening Eun Hwa cukup lama. Eun Hwa memajamkan mata, ia tak sempat berpikir apa ini mimpi ataukah kenyataan. Kembali, Ryeo Wook melihat titik air mata keluar dari mata Eun Hwa.

            “Maafkan aku yang selalu mengacuhkanmu selama ini. Kuharap kau mau memaafkanku, tidak kau memang harus memaafkanku.” Eun Hwa terisak keras, Ryeo Wook kelimpungan hingga akhirnya ia kembali merengkuh pinggang Eun Hwa untuk bersandar di bahunya, walau tak sepenuhnya menumpukan beban tubuh Eun Hwa pada pundaknya. “Eun Hwa-ya, aku tak tahu apa yang bisa meyakinkanmu. Tapi aku baru sadar, perhatianmu padaku mampu menggetarkan hatiku. Kumohon ajari aku cara mencintai seseorang,” Ryeo Wook mengecup punggung tangan Eun Hwa, menyesap aroma manis disana dalam.

***

            Oppa, seharusnya aku yang masak. Apa tidak lelah setelah bekerja seharian kau masak sebanyak ini ?” Ryeo Wook menggeleng. “Daripada kau protes lebih baik sekarang duduk di sampingku sayang.” Eun Hwa langsung tersipu saat Ryeo Wook memanggilnya ‘sayang’. “Kenapa Oppa melakukan ini ?” Ryeo Wook terdiam lalu megegang bahunya membuatnya manik mereka saling bertemu. “Aku sungguh-” “Itu sudah berlalu Oppa. Kenapa Oppa selalu membahasnya. Yang lalu biarkan saja berlalu.” Eun Hwa menghela napas. “Lagi pula itu semua bukan sepenuhnya salahmu Oppa,” rengeknya. Ryeo Wook terkekeh lantas mencubit hidungnya gemas.

            “Akan kuijinkan kau memasak bila masakanmu bisa mengalahkan masakanku.” Eun Hwa menggembungkan pipinya kesal. “Kalau begitu setelah promosi album ketujuh kalian Oppa harus 24 jam penuh selama seminggu menjadi guru masakku.” “Siap Princess.” Eun Hwa tersenyum. Tak ia sangka setelah sadarnya Ryeo Wook dari koma hubungan mereka menjadi lebih dekat.

            “Tapi Oppa, siapa yang akan menjadi jurinya ?” Ryeo Wook tersenyum lima jari. “Tentu saja member Super Junior. Siapa lagi ? oh ya aku lupa mengatakan padamu, hari ini mereka juga akan makan malam disini dengan kita.” Eun Hwa membulatkan matanya. Ia mengutuk dalam hati kenapa Ryeo Wook tetap saja terlalu polos. Kenapa tidak berdua saja dengannya ? pasti nanti akan jauh dari kata romantis mengingat member Super Junior yang lebih dari sekedar hiperaktif itu. “Kenapa Eun Hwa-ya ? kau tak suka atau keberatan ?” Eun Hwa menggeleng lemah. Padahal ruang makan sudah Ryeo Wook tata sedemikan rupa dengan bunga mawar putih dan merah, juga lilin yang menyala.

            Ting tong
            “Itu mereka,” Ryeo Wook segera bangkit dan membukakan pintu. Clik.Oppa, Ryeo Wook Oppa?” Eun Hwa panik. Disini remang – remang karena nyala lilin di sekitarnya. “Oppa ?” Eun Hwa menggigit bibirnya menahan tangis, ia tak suka tempat gelap.

            Neon mutji hangsang eolmana neol saranghaneunji,” suara Dong Hae terdengar bersamaan dengan dentingan piano yang dimainkan oleh Lee Teuk*. Awalnya ia hanya melihat Dong Hae, dan ia tak sadar piano putih milik Ryeo Wook yang ada di ruang tamu bisa berpindah kesini.
            Gakkeumsik ajik neon miraekkaji buranhaehaji,” Ryeo Wook mendekatinya dengan sebuket bunga mawar putih yang baru mekar. Eun Hwa menerimanya, lantas meletakkannya di atas meja makan karena Ryeo Wook menarik tangannya untuk mengikuti gerakan tubuhnya, berdansa.

            “Darimana kau tahu ini lagu kesukaanku ?” Ryeo Wook tersenyum, sungguh kesan dewasa itu begitu melekat saat dirinya memakai jas biru tua dengan dalaman kemeja putih. Kapan Ryeo Wook berganti eoh ? tadi ia masih memakai kemeja baby blue. “Mudah saja, ringtone ponselmu sayang.” Eun Hwa kembali tersipu. Ia tak ingin melihat ke arah member Super Junior yang bergantian menyanyi. Ia terlalu malu. “Gomawoyo,” ujarnya tulus. “Nado Saranghae.” Eun Hwa memukul dada Ryeo Wook pelan. Kenapa Ryeo Wook membalasnya seperti itu. Ia tak menyatakan cinta tadi.

            “Kalau begitu saranghae, jeongmal saranghada. Terima kasih karena telah mencintaiku, Kim Eun Hwa.”

            Malam yang tenang dengan lagu lembut menyiringi gerakan tubuh mereka. Kali ini Marry U mengalun memecah keheningan. Eun Hwa kali ini harus menarik kembali pemikirannya tentang Member Super Junior kali ini. Yah, walaupun pada akhirnya mereka yang lebih banyak makan daripada Eun Hwa dan Ryeo Wook.

END

*Disini Lee Teuk Oppa sudah keluar Wamil yah ^_^ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar