About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Kamis, 26 Juni 2014

[FF] Mission Impossible Part 3 - Cho Kyu Hyun


1.        Title                      : Mission Impossible Part 3
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Cast                      : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.        Rated                   : PG 13/T menyesuaikan.
5.        Lenght                  : Chaptered
6.        Genre                   : AU, married life, romance.
7.        Disclaimer            : story is mine! Typo(s) anywhere. NO Bash, NO Plagiat.

Summary :
Maaf... bukannya aku tak memikirkan dirimu. Akupun tak tahu akan berakhir seperti ini. Aku bahkan tak menduganya. Bukannya aku ingin bersikap egois. Aku bahkan tak mengenali siapa diriku sendiri.


Story...

Finlandia, 2013

            Kyu Hyun memasuki kamarnya dengan gaya angkuh ciri khasnya. Ia duduk di sofa putih dengan kaki yang disilangkan dan mata yang menatap lurus ke depan. Karena di depannya kini terlihat Ki Bum yang tengah menanyakan beberapa hal pada istrinya yang sekarang terlihat lebih sehat walau kakinya belum bisa digunakan untuk berjalan seperti biasanya. Karena jarak antara ranjang bak milik raja itu terpaut sekitar 5 meter dari sofa tempatnya duduk, alhasil ia tak dapat mendengar jelas apa yang kedua manusia itu bicarakan. Beruntungnya Ki Bum yang mengerti maksud hatinya mengeraskan sedikit volume suaranya yang dirasa Kyu Hyun perlu tahu.
            Hampir satu jam Ki Bum di sana, memeriksa bagian tubuh Ji Na, menanyakan hal – hal yang sebenarnya ditujukan untuk menenangkan kegelisahan hati Kyu Hyun. Ya, apalagi kalau bukan memastikan istrinya itu benar – benar hilang ingatan atau tidak. Mungkin istilah ini lebih tepat, memastikan ia berhasil menghapus ingatan Ji Na atau tidak.
            Kyu Hyun mengamati segala gerak – gerik Ji Na dan Ki Bum. Ki Bum terlihat menuliskan sesuatu dan sedikit berbincang dengan Ji Na sebelum menjabat tangan wanitanya dan beranjak melangkahkan kakinya mendekati Kyu Hyun yang duduk angkuh di sofa ruangan itu.
            “Ini resep yang harus kau tebus. Hanya vitamin dan obat penahan rasa sakit saja. Terapi akan dimulai besok, jadi kuharap Ji Na-ssi sudah ada di sana jam 10 pagi.” Ki Bum menyerahkan kertas kecil yang tadi sempat ia tuliskan sesuatu disana. “Aku pergi,” ujarnya kemudian.
            Belum sempat ia melangkah keluar dari ruangan itu, suara Kyu Hyun menghentikan langkahnya. “Terima kasih hyeong.” Walaupun Kyu Hyun masih mempertahankan nada dingin dan datarnya, Ki Bum mengangguk sekilas tanpa berbalik. Ki Bum, ia akan selalu memihak Kyu Hyun. Tak peduli Kyu Hyun berada di pihak yang salah atau benar. Karena bagi Ah Ra, Kyu Hyun adalah adiknya yang harus melepas masa remajanya. Ia sudah berjanji dalam hatinya, apapun itu, siapapun itu, asalkan itu adalah sesuatu yang berharga bagi Ah Ra ia akan menjaganya.

***

            Kyu Hyun menatap kertas kecil yang diserahkan Ki Bum tadi dengan senyuman penuh. Pertama memang karena kondisi Ji Na yang sudah stabil, kedua karena tulisan berupa sandi yang hanya dimengerti oleh kelompoknya itu yang membuatnya tak bisa menurunkan lengkungan manis di bibirnya. “Obat itu menghambat saraf di bagian Lobus frontalis. Bukan hanya memorinya yang hilang tapi daya analisa logis, berpikir, pengendalian gerak otot, dan beberapa emosinya akan terganggu.”
            Pikiran Kyu Hyun langsung melayang pada satu kata yaitu ‘agen’. Dengan menurunnya kemampuan pengendalian gerak ototnya bukankah ia tak akan segesit dulu. Ia juga tak akan secermat dulu karena daya analisanya menurun. Bukankah dengan kata lain Kyu Hyun bisa dengan mudahnya memanipulasi semua masa lalu, pola pikir atau bahkan mungkin kepribadian Ji Na ? yah, dengan begitu Kyu Hyun akan dengan semudah ia membalikan telapak tangan membuat Ji Na versi dirinya. Ji Na yang mencintainya, menuruti semua perkataannya, dan menjadi miliknya bukan ?
            “Kyu Hyun-ah.” Kyu Hyun menoleh cepat ke arah Ji Na. Wanita itu duduk di atas ranjang mereka dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Mungkin demam yang di alaminya belum turun sejak semalam. “Ada apa Angel ? butuh sesuatu ?” Ck. Siapa yang akan percaya ketua mafia kita ini sedang melayangkan senyuman mautnya seperti laki – laki normal saat melihat wanita cantik di hadapannya. Menggombal. Bukankah seorang Cho Kyu Hyun sekarang terlihat begitu manusiawi ?
            “Aku ingin lapar tapi aku tidak ingin bubur, nasi, roti atau sejenisnya. Aku ingin buah – buahan yang manis. Apa kau bisa membelikannya untukku ?” Kyu Hyun tersenyum semakin lebar saat retina matanya membentuk bayangan sosok di hadapannya tengah menatapnya penuh harap.
            Wait 30 minutes Angel. I’ll back okey ?” menuruti keinginan seorang wanita, mungkin ini pertama kalinya setelah ia ditinggal sang kakak menghadap sang pencipta. Kyu Hyun hendak berjalan keluar namun belum sampai 10 langkah ia kembali menghentikan langkahnya. “Angel, what do you want eoh ?” Ji Na berpikir sejenak membuat ruangan itu sunyi kembali. “Pear, apel, dan- emm, terserah padamu saja Kyu Hyun-ah.”
            Kyu Hyun menjentikkan jarinya. Mengangguk tanda mengerti dan kembali melanjutkan langkahnya. Awalya ia hanya ingin memanfaatkan Ji Na untuk mengorek informasi lebih lanjut tentang Korea. Mencari titik lemah untuk mengacaukan kestabilan negara itu, namun apa daya sepertinya ia memang terjerat pada wajah malaikat Ji Na. Entah sadar atau tidak tapi Kyu Hyun selalu menyebut Ji Na dengan panggilan Angel itu membuat dada wanita itu merasa gugup. Ia bahkan tak sanggup menatap iris caramel Kyu Hyun.

***

            Pagi menjelang, awan di langit sudah tampak kemerah-oranyean di ufuk timur. Bahkan beberapa kawanan burung sudah beterbangan menghiasi langit pagi. Udara pagi yang sejuk yang apabila kau hirup seolah – olah dapat membersihkan paru – parumu dari racun polusi udara.
            Pukul setengah enam pagi. Kyu Hyun menangkap dari matanya yang belum terbuka sempurna. Rekor paling lambat Kyu Hyun terbangun dari tidurnya. Mungkin bagi sebagian orang bangun jam setengah enam adalah hal biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. Namun bagi Kyu Hyun, ia tak pernah merasa dapat tidur dengan nyenyak seperti yang dirasakanya sejak dua hari yang lalu.
            “Morning Angel.” Kyu Hyun menarik tangannya pada pinggang Ji Na. Merasa terganggu akan pergerakan kecil itu, Ji Na mengerang pelan. Kyu Hyun langsung mengusap kening Ji Na. Kyu Hyun merenggangkan tubuhnya, menggeliat ke kanan ke kiri, lantas beranjak dari kasur empuknya.
Kyu Hyun menyibak gorden yang disulam dari benang emas pada kain sutra halus yang menghalangi masuknya cahaya matahari di kamarnya. Ji Na mengerang pelan. Kyu Hyun tak mampu menahan senyumnya saat melihat bagaimana ekspresi Ji Na yang tengah mengerang kesal saat cahaya matahari pagi mengetuk – ketuk kelopak matanya agar terbuka.
Menyerah. Akhirnya Ji Na membuka matanya dengan kesal. Wajahnya merenggut, dengan dagu ditekuk dalam. “Siapapun, tutup jendelanya.” Hening. Ji Na membuka matanya dengan sebal. Udara pagi ini cukup hangat tapi mengapa wanita itu sangat enggan bangun dari tidurnya.
“Ini sudah pagi, ayo bangun. Kau mau mandi dulu atau cuci muka lantas sarapan ?” matanya terpaku pada seorang yang baru saja mengeluarkan suara beratnya.  Otaknya masih memproses apa saja yang masih bisa ia ingat. Ah, Cho Kyu Hyun. Suaminya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa ? entahlah, dirinya seperti sulit sekali menerima keberadaan namja itu. Ia tak yakin tapi juga tak bisa menyangkal tentang apa yang Kyu Hyun tuturkan padanya.
“So . . .” Ji Na menghela napas, sebelum berucap. “Aku akan mandi dulu saja.” Kyu Hyun mengangguk lantas mengendong Ji Na menuju kamar mandi. Tak mungkin bukan dengan kakinya yang bisa dikatakan masih lumpuh ia bisa ke kamar mandi sendiri. “Jangan melamun, ini masih pagi,” ujar Kyu Hyun saat matanya menangkap wanita dalam gendongannya dengan tatapan kosong. “Aku tidak melamun,” kilahnya sambil merenggut sebal. “Aku hanya sedang berpikir,” lanjutnya. “Jangan berpikir yang macam – macam. Tidak baik untuk kesehatanmu.” Sesaat kemudian Kyu Hyun termenung, hatinya bertanya – tanya apakah istrinya itu mulai mengingat kembali memori yang berusaha ia hapus.
“Oppa.” Kyu Hyun tersadar kembali lantas tersenyum pada Ji Na. Tidak sepenuhnya sadar karena ia tak menyadari panggilan Ji Na untuknya. Andai saja kau mendengarnya Tuan Cho. Ckck, sayang sekali. “Pintu kamar mandinya dua puluh centi dari kakimu.” Baik. Tuan Cho sekarang siapa yang sedang melamun eoh ? Lihatlah, Kyu Hyun sekarang terlihat kikuk dan berdehem. “Jangan melamun ini masih pagi,” ujar Ji Na dengan nada yang dibuat – buat seperti Kyu Hyun mengatakannya tadi.  Kyu Hyun tertawa renyah, wajah Ji Na saat mengucapkan itu terlihat sangat menggemaskan.

***

            Bubur. Ji Na rasanya enggan untuk sekedar membau atau menengok wujud makanan itu kali ini. Tangannya hanya diam di atas meja, terlalu enggan untuk memegang sendok. Kyu Hyun yang masih mengunyah sandwich-nya mengusap rambut panjang Ji Na menarik perhatian wanita itu. “Aku tak ingin bubur Kyu Hyun-ah. Aku bosan. Hampir satu minggu ini aku hanya makan itu dan obat saja,” jelasnya saat matanya bertabrakan dengan iris caramel milik Kyu Hyun. “Apa yang kau mau sayang ?” tanya Kyu Hyun mengalah. “Apapun. Apapun selain bubur,” jawabnya, girang. Matanya yang teduh berbinar saat mengucapkannya, membuat Kyu Hyun tertegum.

            “Aku akan minta pelayan untuk membuatkanmu omelet saja. Eotteohkae ?” Kyu Hyun memasang senyumnya sambil kembali menggigit sandwich yang baru seperempat ia habiskan. “Bagaimana kalau kau saja yang membuatkannya untukku ?” “Uhukk – uhukkk . . .”  Ji Na memberikan segelas air putih pada Kyu Hyun dan menepuk punggung namja itu dari baik jas biru tua yang dikenakannya. Hey, tukang tembak seperti Kyu Hyun membuat omelet ? bahkan masuk dapur saja ia hanya mengambil air putih tak lebih.
            “Kau tak mau ?” tanya Ji na setelah Kyu Hyun baikan. “Masakanku tidak enak. Aku takut kau justru sakit saat memakannya,” ujar Kyu Hyun memberi pengertian. “Aku yakin kau pasti belum pernah memasak sebelumnya, jadi dari mana kau bisa menyimpulkan masakanmu tidak enak Kyu Hyun-ah,” Ji Na merajuk. Mau bagaimana lagi jika sudah begini. “Dan aku ingin melihatmu saat memasak nanti, aku tak ingin ternyata yang memasak adalah pelayan dan kau hanya berdiri diam disana dengan wajahmu yang sedatar tembok itu.” Mata Kyu Hyun menyipit, wajah sedatar tembok ? “yak, aku menghina wajah suami sendiri eoh ?” Ji Na terkikik, seraya berkata “kau menggebrak meja di ruang tengah karena mereka lupa harus menyiapkan air hangat untukku. Cho Kyu Hyun, itu terlalu berlebihan. Kau harus merubah sikapmu pada pelayan mulai sekarang. Aku tak mau memiliki suami bermuka datar, angkuh dan dibenci banyak orang. Tak mau.”
            Kyu Hyun mendengus sebal, tapi dibali itu semua ia senang. Hari ini Ji Na banyak bicara padanya, mengungkapkan hal yang ada dipikirannya dengannya, membagi unek – unek walaupun itu hal sepele dengannya dan memberikan penilaian tentang dirinya. Kyu Hyun meraih tisu lalu ia gunakan untuk membersihkan mulutnya. “As your wish my angel,” ujarnya sembari mendorong kursi roda Ji Na. “Aku menang,” petikanya senang.

***

            “Apa tidak ada penawaran lain ?” gerutu Kyu Hyun. Dirinya sedang berusaha mengikat tali apron baby blue kotak – kotak, sungguh lucu bagaimana ekspresi pria itu, membuat Ji Na membekap mulutnya sendiri agar tidak terdengar gelak tawanya. “Sudahlah Kyu Hyun-ah, lakukan saja. Kau tahu, jika seorang suami memasak untuk istrinya berarti suami itu sangat mencintai istrinya. Bersedia menerima apa adanya istrinya itu.” Kyu Hyun baru saja selesai memakai apron itu mendekati Ji Na. “Apa kau pikir aku tidak mencintaimu selama ini ? kata – kata darimana itu ?” tanya Kyu Hyun setengah menyindir. Ia merasa Ji Na meragukannya dengan segala ucapan wanita itu barusan. “Aku membaca buku di kamar saat kau pergi. Kurasa itu tidak buruk untuk dilakukan. Aku tak bisa melayanimu selayaknya istri biasa. Aku bahkan tak bisa kemana – mana sendiri, aku butuh bantuan orang lain. Mungkin dulu kau memang mencintaiku sebelum aku kecelakaan, tapi sekarang ? siapa yang tahu isi hatimu Kyu Hyun-ah ? aku hanya berusaha meyakinkan diri bahwa kau memang mencintaiku. Apa adanya.” Hati Kyu Hyun mencelos, ia merasa bersalah sekaligus bahagia. Ia pikir Ji Na masih saja tak percaya dengan segala skenario yang diaturnya, lebih dari itu ia bahagia Ji Na berusaha menerima takdir ciptaanya, menjadi teman hidupnya.
            “Maafkan aku, sungguh . . . aku sangat mencintaimu. Terlalu mencintaimu, dulu maupun sekarang, begitu juga dengan hari – hari yang akan datang.” Air mata Ji Na meleleh, ia bisa melihat kesungguhan itu dari mata Kyu Hyun. “Hanya satu yang aku takutkan, aku takut kau mengingat masa lalumu. Aku takut kenangan pahit diantara kita akan kembali terkuak dan mengganggu pikiranmu. Aku takut kau yang akan meragukanku karena kesalahan bodohku. Ji Na-ya, tak peduli bagaimana hubungan dimasa lalu kita, aku akan tetap mengikatmu disini. Maukah kau menyerahkan hatimu untukku ikat bersama dengan diriku ?” Ji Na mengangguk, tangannya mengusap air matanya pelan.
            “Cha, masaklah yang enak. Aku lapar.” Dengan senyum yang mengembang ia membalik tubuh Kyu Hyun yang lebih berat. Sayangnya, Kyu Hyun diam bergeming. “Kyu Hyun-ah,” rajuk Ji Na. “Oppa,” ucap Kyu Hyun singkat. “Geurae, Oppa. Oppa, buatkan aku omelet yang enak. Setelah ini kau harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Ppaliwa!!”

***

            Di lantai dua belas hotel milik Kyu Hyun, dua namja dewasa tengah duduk menghadap keluar. Di tangan mereka masing – masing menggenggam sekaleng soda yang sesekali disesapnya. Lantai dua belas hotel ini adalah tempat dimana Kyu Hyun menjalankan bisnis ilegalnya. Biasanya mereka akan merundingkan masalah kelompok mereka ataupun melakukan transaksi dengan pihak luar disini. “Kyu Hyun belum datang,” ujar salah seorang dari mereka memecah keheningan. “Belum,” jawab satunya singkat. Bukannya mereka tak akrab, hanya saja rasa canggung itu tak pernah lepas jika mereka hanya berdua.
            Sejenak mereka kembali hening. “Sudah hampir setengah jam. Ini pertama kalinya Kyu Hyun terlambat, padahal ia sendiri yang mengadakan janji.” Pria satunya mendengus kesal menanggapi pernyataan temannya. “Itulah sebabnya aku tak suka wanita itu ada di dekat Kyu Hyun. Kau yakin ia benar – benar kehilangan ingatannya ?” tanyanya sambari beradu pandang. “Yang aku takutkan Kyu Hyun tak akan sekejam dulu. Dengan adanya wanita itu sedikit demi sedikit rasa belas kasihan itu pasti akan timbul dan itu tak baik untuk kelompok kita. Disini hati justru akan menjadi bumerang untuk kita. Di sini yang dibutuhkan hanya kekuasaan, pengaruh dan kekayaan agar kita selamat. Aku takut wanita itu akan menjadi titik lemah bagi Kyu Hyun.” Pria itu menghela napas setelah mengeluarkan unek – uneknya. Ia sudah bersama Kyu Hyun hampir setengah umurnya dan ia tak akan membiarkan Kyu Hyun terjebak dalam permainannya. Choi Siwon.
            “Tapi aku bisa melihatnya hidup seperti monster setelah sekian lama. Yang perlu kita lakukan hanya menjaga wanita itu agar tidak mengingat kembali masa lalunya. Membuatnya mencintai Kyu Hyun hingga rasanya ia tak bisa bernapas tanpa Kyu Hyun disampingnya. Juga tentu saja melindungi Kyu Hyun dari keparat – keparat itu.” Mata sang kepala peneliti itu berubah dingin. Wajah datarnya terlihat sedikit menakutkan saat mengucapkan kata – kata yang seperti sumpah itu. “Benar, tidak ada cara lain selain ini. Kyu Hyun terlihat sangat posesif dengan wanita itu. Aku harap ia benar – benar kehilangan ingatannya selamanya,” tambah Si Won.
            Tuk tuk.
            Mendengar langkah sepatu mendekat, mereka berusaha menetralkan emosi mereka. Bukan emosi amarah tapi ambisi. “Eotteohkae ?” tanya orang yang baru datang tersebut. Si Won dan Ki Bum berbalik dan membungkuk menyambut Kyu Hyun. Si Won menyerahkan lembaran kertas berisi data orang – orang yang akan ia musnahkan dari dunia ini. Kyu Hyun menerimanya dengan tidak sabar, membuka lembaran itu tanpa membaca semua keterangannya.
            “Ada tiga orang yang menjabat menteri saat itu, enam orang dari pengadilan dan seorang dari militer. Semuanya pria tapi ada satu wanita disana. Salah satu dari mereka adalah abeoji dari Ji Na-ssi, Hwang Tae Joon menteri pendidikan saat itu.” Rahang Kyu Hyun mengeras mendengarnya. Pelaku pembunuh abeojinya secara tidak langsung itu harus merasakan akibatnya. Nyawa harus ditukar dengan nyawa. “Selidiki mereka lebih lanjut. Jebloskan mereka ke penjara sebelum tembak dada mereka dengan timah panas. Permalukan mereka dan buat publik mencemooh mereka dan keluarganya. Aku sangat yakin diantara mereka tidak ada yang bersih.” Si Won membuka mulutnya hendak berucap, namun dirinya ragu. Ki Bum yang melihatnya membuka mulutnya. “Apa itu berlaku untuk Hwang Tae Joon-ssi ?”
            “Siapapun itu aku tak peduli. Habisi mereka seperti ayahku meninggal dulu.” Kyu Hyun melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan wajah stoic yang belum berubah.

***

            Tujuh bulan berlalu begitu cepat, hawa musim gugur mulai terasa di Helsinki ketika angin bertiup. Dingin. Membuat siapa saja enggan meninggalkan rumah tanpa pakaian hangat mereka. Di arena pacuan kuda milik salah satu koleganya, Kyu Hyun berjalan dengan kuda yang ditunggangi Ji Na memasuki arena itu. Dengan topi khas coboy dan rompi pengganti jas mahalnya ia terlihat sangat gagah dan tentu saja tampan. Ji Na turun dengan dibantu Kyu Hyun, saat berhasil menyentuh tanah Kyu Hyun justru menarik pinggang istrinya semakin dekat. Wanita milik Kyu Hyun itu sekarang sudah bisa berjalan dengan baik walau kadang kesetimbagan tubuhnya terganggu. Kyu Hyun menunduk untuk melihat wajah istrinya yang tengah terpesona itu. Jarang – jarang Ji Na memperlihatkan ekspresi seperti ini, binar mata yang menariknya untuk masuk lebih dalam dan rona merah tipis tercetak dikedua pipi putihnya yang terlihat sedikit berisi sekarang. Cup.  Lagi, Kyu Hyun mengecup kening Ji Na lama, hingga deheman Si Won terdengar Kyu Hyun menjauhkan wajahnya namun tetap memeluk pingggang Ji Na.
            “Saat ini aku hanya bisa memberimu itu. Nanti saat aku menang melawan pawang kuda itu aku akan memberimu lebih. Setelah ini sebaiknya kau istirahat karena nanti malam sepenuhnya adalah waktu untukku.” Si Won menarik rompi coboy yang dikenakan Kyu Hyun membuat pelukan mereka terlepas. Dengan cepat ia menarik Ji Na untuk bersembunyi di belakangnya. “Jangan berbuat mesum di depanku Cho Kyu Hyun.” Kyu Hyun mendengus pelan, “sesukaku Hyeong, dia istriku. Dan jangan bertindak tak sopan padaku, ingat aku ini atasanmu.” Si Won tersenyum miring, “tapi disini aku kakak iparmu Kyu Hyun Sajangnim. Dan jangan terus – terusan menggoda adikku.” Rasanya saat ini juga Si Won ingin tertawa, lihatlah wajah Kyu Hyun. Ck. “Sudah kubilang dia istriku, mau aku menciumnya, memeluknya atau apapun itu terserah padaku.” Ji Na merenggut terasa terabaikan. Dirinya langsung melepaskan tangan Si Won yang menggenggam tangannya dan berjalan ke pinggir arena.
            “Sebaiknya kalian cepat bertanding. Aku masih mau jalan – jalan setelah ini atau aku jalan – jalan sendiri!” teriakannya cukup membuat dua pria itu menghentikan kegilaan mereka. Ck! “Ini kencan pertama kita Cho Kyu Hyun, awas kalau kau sampai mengacaukannya,” ancamnya lagi.

***

To Be Continue
Chap depan mulai masuk ke acara balas dendamnya Kyu Hyun dan akan ada banyak moment Kyu Hyun sama Ji Na.
Pertama saya mau mengucapkan terima kasih pada yang sudah mau baca FF aneh ini. Pedrosanya saya simpen sampai dua atau tiga chapter kedepan. Mohon Review-nya. *Bow_bareng_Yesungie_sama_Changminie*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar