1.
Title : Mission Impossible Part
3
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Cast : Cho Kyu Hyun, Hwang Ji
Na, Daniel Pedrosa Ramal, Choi Si Won and others.
4.
Rated : PG 13/T menyesuaikan.
5.
Lenght : Chaptered
6.
Genre : AU, married life, romance.
7.
Disclaimer : story is mine! Typo(s)
anywhere. NO Bash, NO Plagiat.
Summary
:
Maaf...
bukannya aku tak memikirkan dirimu. Akupun tak tahu akan berakhir seperti ini.
Aku bahkan tak menduganya. Bukannya aku ingin bersikap egois. Aku bahkan tak
mengenali siapa diriku sendiri.
Finlandia, 2013
Kyu Hyun memasuki kamarnya dengan
gaya angkuh ciri khasnya. Ia duduk di sofa putih dengan kaki yang disilangkan
dan mata yang menatap lurus ke depan. Karena di depannya kini terlihat Ki Bum
yang tengah menanyakan beberapa hal pada istrinya yang sekarang terlihat lebih
sehat walau kakinya belum bisa digunakan untuk berjalan seperti biasanya.
Karena jarak antara ranjang bak milik raja itu terpaut sekitar 5 meter dari
sofa tempatnya duduk, alhasil ia tak dapat mendengar jelas apa yang kedua
manusia itu bicarakan. Beruntungnya Ki Bum yang mengerti maksud hatinya
mengeraskan sedikit volume suaranya yang dirasa Kyu Hyun perlu tahu.
Hampir satu jam Ki Bum di sana,
memeriksa bagian tubuh Ji Na, menanyakan hal – hal yang sebenarnya ditujukan
untuk menenangkan kegelisahan hati Kyu Hyun. Ya, apalagi kalau bukan memastikan
istrinya itu benar – benar hilang ingatan atau tidak. Mungkin istilah ini lebih
tepat, memastikan ia berhasil menghapus ingatan Ji Na atau tidak.
Kyu Hyun mengamati segala gerak –
gerik Ji Na dan Ki Bum. Ki Bum terlihat menuliskan sesuatu dan sedikit
berbincang dengan Ji Na sebelum menjabat tangan wanitanya dan beranjak
melangkahkan kakinya mendekati Kyu Hyun yang duduk angkuh di sofa ruangan itu.
“Ini resep yang harus kau tebus.
Hanya vitamin dan obat penahan rasa sakit saja. Terapi akan dimulai besok, jadi
kuharap Ji Na-ssi sudah ada di sana jam 10 pagi.” Ki Bum menyerahkan kertas
kecil yang tadi sempat ia tuliskan sesuatu disana. “Aku pergi,” ujarnya
kemudian.
Belum sempat ia melangkah keluar
dari ruangan itu, suara Kyu Hyun menghentikan langkahnya. “Terima kasih hyeong.”
Walaupun Kyu Hyun masih mempertahankan nada dingin dan datarnya, Ki Bum
mengangguk sekilas tanpa berbalik. Ki Bum, ia akan selalu memihak Kyu Hyun. Tak
peduli Kyu Hyun berada di pihak yang salah atau benar. Karena bagi Ah Ra, Kyu
Hyun adalah adiknya yang harus melepas masa remajanya. Ia sudah berjanji dalam
hatinya, apapun itu, siapapun itu, asalkan itu adalah sesuatu yang berharga
bagi Ah Ra ia akan menjaganya.
***
Kyu Hyun menatap kertas kecil yang
diserahkan Ki Bum tadi dengan senyuman penuh. Pertama memang karena kondisi Ji
Na yang sudah stabil, kedua karena tulisan berupa sandi yang hanya dimengerti
oleh kelompoknya itu yang membuatnya tak bisa menurunkan lengkungan manis di
bibirnya. “Obat itu menghambat saraf di bagian Lobus frontalis. Bukan hanya
memorinya yang hilang tapi daya analisa logis, berpikir, pengendalian gerak
otot, dan beberapa emosinya akan terganggu.”
Pikiran Kyu Hyun langsung melayang
pada satu kata yaitu ‘agen’. Dengan menurunnya kemampuan pengendalian gerak
ototnya bukankah ia tak akan segesit dulu. Ia juga tak akan secermat dulu
karena daya analisanya menurun. Bukankah dengan kata lain Kyu Hyun bisa dengan
mudahnya memanipulasi semua masa lalu, pola pikir atau bahkan mungkin
kepribadian Ji Na ? yah, dengan begitu Kyu Hyun akan dengan semudah ia
membalikan telapak tangan membuat Ji Na versi dirinya. Ji Na yang mencintainya,
menuruti semua perkataannya, dan menjadi miliknya bukan ?
“Kyu Hyun-ah.” Kyu Hyun menoleh
cepat ke arah Ji Na. Wanita itu duduk di atas ranjang mereka dengan selimut
yang menutupi setengah tubuhnya. Mungkin demam yang di alaminya belum turun
sejak semalam. “Ada apa Angel ? butuh sesuatu ?” Ck. Siapa yang akan percaya
ketua mafia kita ini sedang melayangkan senyuman mautnya seperti laki – laki
normal saat melihat wanita cantik di hadapannya. Menggombal. Bukankah seorang
Cho Kyu Hyun sekarang terlihat begitu manusiawi ?
“Aku ingin lapar tapi aku tidak
ingin bubur, nasi, roti atau sejenisnya. Aku ingin buah – buahan yang manis.
Apa kau bisa membelikannya untukku ?” Kyu Hyun tersenyum semakin lebar saat
retina matanya membentuk bayangan sosok di hadapannya tengah menatapnya penuh
harap.
“Wait 30 minutes Angel. I’ll back
okey ?” menuruti keinginan seorang wanita, mungkin ini pertama kalinya
setelah ia ditinggal sang kakak menghadap sang pencipta. Kyu Hyun hendak
berjalan keluar namun belum sampai 10 langkah ia kembali menghentikan
langkahnya. “Angel, what do you want eoh ?” Ji Na berpikir sejenak
membuat ruangan itu sunyi kembali. “Pear, apel, dan- emm, terserah padamu saja
Kyu Hyun-ah.”
Kyu Hyun menjentikkan jarinya.
Mengangguk tanda mengerti dan kembali melanjutkan langkahnya. Awalya ia hanya
ingin memanfaatkan Ji Na untuk mengorek informasi lebih lanjut tentang Korea.
Mencari titik lemah untuk mengacaukan kestabilan negara itu, namun apa daya
sepertinya ia memang terjerat pada wajah malaikat Ji Na. Entah sadar atau tidak
tapi Kyu Hyun selalu menyebut Ji Na dengan panggilan Angel itu membuat dada
wanita itu merasa gugup. Ia bahkan tak sanggup menatap iris caramel Kyu Hyun.
***
Pagi menjelang, awan di langit sudah
tampak kemerah-oranyean di ufuk timur. Bahkan beberapa kawanan burung sudah
beterbangan menghiasi langit pagi. Udara pagi yang sejuk yang apabila kau hirup
seolah – olah dapat membersihkan paru – parumu dari racun polusi udara.
Pukul setengah enam pagi. Kyu Hyun
menangkap dari matanya yang belum terbuka sempurna. Rekor paling lambat Kyu
Hyun terbangun dari tidurnya. Mungkin bagi sebagian orang bangun jam setengah
enam adalah hal biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. Namun bagi Kyu Hyun, ia
tak pernah merasa dapat tidur dengan nyenyak seperti yang dirasakanya sejak dua
hari yang lalu.
“Morning Angel.” Kyu Hyun menarik
tangannya pada pinggang Ji Na. Merasa terganggu akan pergerakan kecil itu, Ji
Na mengerang pelan. Kyu Hyun langsung mengusap kening Ji Na. Kyu Hyun
merenggangkan tubuhnya, menggeliat ke kanan ke kiri, lantas beranjak dari kasur
empuknya.
Kyu Hyun menyibak gorden yang disulam dari benang emas pada kain
sutra halus yang menghalangi masuknya cahaya matahari di kamarnya. Ji Na
mengerang pelan. Kyu Hyun tak mampu menahan senyumnya saat melihat bagaimana
ekspresi Ji Na yang tengah mengerang kesal saat cahaya matahari pagi mengetuk –
ketuk kelopak matanya agar terbuka.
Menyerah. Akhirnya Ji Na membuka matanya dengan kesal. Wajahnya
merenggut, dengan dagu ditekuk dalam. “Siapapun, tutup jendelanya.” Hening. Ji
Na membuka matanya dengan sebal. Udara pagi ini cukup hangat tapi mengapa
wanita itu sangat enggan bangun dari tidurnya.
“Ini sudah pagi, ayo bangun. Kau mau mandi dulu atau cuci muka
lantas sarapan ?” matanya terpaku pada seorang yang baru saja mengeluarkan
suara beratnya. Otaknya masih memproses apa
saja yang masih bisa ia ingat. Ah, Cho Kyu Hyun. Suaminya. Bagaimana mungkin ia
bisa lupa ? entahlah, dirinya seperti sulit sekali menerima keberadaan namja
itu. Ia tak yakin tapi juga tak bisa menyangkal tentang apa yang Kyu Hyun
tuturkan padanya.
“So . . .” Ji Na menghela napas, sebelum berucap. “Aku akan mandi
dulu saja.” Kyu Hyun mengangguk lantas mengendong Ji Na menuju kamar mandi. Tak
mungkin bukan dengan kakinya yang bisa dikatakan masih lumpuh ia bisa ke kamar
mandi sendiri. “Jangan melamun, ini masih pagi,” ujar Kyu Hyun saat matanya
menangkap wanita dalam gendongannya dengan tatapan kosong. “Aku tidak melamun,”
kilahnya sambil merenggut sebal. “Aku hanya sedang berpikir,” lanjutnya.
“Jangan berpikir yang macam – macam. Tidak baik untuk kesehatanmu.” Sesaat
kemudian Kyu Hyun termenung, hatinya bertanya – tanya apakah istrinya itu mulai
mengingat kembali memori yang berusaha ia hapus.
“Oppa.” Kyu Hyun tersadar kembali lantas tersenyum pada Ji Na. Tidak
sepenuhnya sadar karena ia tak menyadari panggilan Ji Na untuknya. Andai saja
kau mendengarnya Tuan Cho. Ckck, sayang sekali. “Pintu kamar mandinya dua puluh
centi dari kakimu.” Baik. Tuan Cho sekarang siapa yang sedang melamun eoh ?
Lihatlah, Kyu Hyun sekarang terlihat kikuk dan berdehem. “Jangan melamun ini
masih pagi,” ujar Ji Na dengan nada yang dibuat – buat seperti Kyu Hyun
mengatakannya tadi. Kyu Hyun tertawa
renyah, wajah Ji Na saat mengucapkan itu terlihat sangat menggemaskan.
***
Bubur. Ji Na rasanya enggan untuk
sekedar membau atau menengok wujud makanan itu kali ini. Tangannya hanya diam
di atas meja, terlalu enggan untuk memegang sendok. Kyu Hyun yang masih
mengunyah sandwich-nya mengusap rambut panjang Ji Na menarik perhatian wanita itu.
“Aku tak ingin bubur Kyu Hyun-ah. Aku bosan. Hampir satu minggu ini aku hanya
makan itu dan obat saja,” jelasnya saat matanya bertabrakan dengan iris caramel
milik Kyu Hyun. “Apa yang kau mau sayang ?” tanya Kyu Hyun mengalah. “Apapun.
Apapun selain bubur,” jawabnya, girang. Matanya yang teduh berbinar saat
mengucapkannya, membuat Kyu Hyun tertegum.
“Aku akan minta pelayan untuk
membuatkanmu omelet saja. Eotteohkae ?” Kyu Hyun memasang senyumnya sambil
kembali menggigit sandwich yang baru seperempat ia habiskan. “Bagaimana kalau
kau saja yang membuatkannya untukku ?” “Uhukk – uhukkk . . .” Ji Na memberikan segelas air putih pada Kyu
Hyun dan menepuk punggung namja itu dari baik jas biru tua yang dikenakannya.
Hey, tukang tembak seperti Kyu Hyun membuat omelet ? bahkan masuk dapur saja ia
hanya mengambil air putih tak lebih.
“Kau tak mau ?” tanya Ji na setelah
Kyu Hyun baikan. “Masakanku tidak enak. Aku takut kau justru sakit saat
memakannya,” ujar Kyu Hyun memberi pengertian. “Aku yakin kau pasti belum
pernah memasak sebelumnya, jadi dari mana kau bisa menyimpulkan masakanmu tidak
enak Kyu Hyun-ah,” Ji Na merajuk. Mau bagaimana lagi jika sudah begini. “Dan
aku ingin melihatmu saat memasak nanti, aku tak ingin ternyata yang memasak
adalah pelayan dan kau hanya berdiri diam disana dengan wajahmu yang sedatar
tembok itu.” Mata Kyu Hyun menyipit, wajah sedatar tembok ? “yak, aku menghina
wajah suami sendiri eoh ?” Ji Na terkikik, seraya berkata “kau menggebrak meja
di ruang tengah karena mereka lupa harus menyiapkan air hangat untukku. Cho Kyu
Hyun, itu terlalu berlebihan. Kau harus merubah sikapmu pada pelayan mulai
sekarang. Aku tak mau memiliki suami bermuka datar, angkuh dan dibenci banyak
orang. Tak mau.”
Kyu Hyun mendengus sebal, tapi
dibali itu semua ia senang. Hari ini Ji Na banyak bicara padanya, mengungkapkan
hal yang ada dipikirannya dengannya, membagi unek – unek walaupun itu hal
sepele dengannya dan memberikan penilaian tentang dirinya. Kyu Hyun meraih tisu
lalu ia gunakan untuk membersihkan mulutnya. “As your wish my angel,” ujarnya
sembari mendorong kursi roda Ji Na. “Aku menang,” petikanya senang.
***
“Apa tidak ada penawaran lain ?”
gerutu Kyu Hyun. Dirinya sedang berusaha mengikat tali apron baby blue kotak –
kotak, sungguh lucu bagaimana ekspresi pria itu, membuat Ji Na membekap
mulutnya sendiri agar tidak terdengar gelak tawanya. “Sudahlah Kyu Hyun-ah,
lakukan saja. Kau tahu, jika seorang suami memasak untuk istrinya berarti suami
itu sangat mencintai istrinya. Bersedia menerima apa adanya istrinya itu.” Kyu
Hyun baru saja selesai memakai apron itu mendekati Ji Na. “Apa kau pikir aku
tidak mencintaimu selama ini ? kata – kata darimana itu ?” tanya Kyu Hyun
setengah menyindir. Ia merasa Ji Na meragukannya dengan segala ucapan wanita
itu barusan. “Aku membaca buku di kamar saat kau pergi. Kurasa itu tidak buruk
untuk dilakukan. Aku tak bisa melayanimu selayaknya istri biasa. Aku bahkan tak
bisa kemana – mana sendiri, aku butuh bantuan orang lain. Mungkin dulu kau
memang mencintaiku sebelum aku kecelakaan, tapi sekarang ? siapa yang tahu isi
hatimu Kyu Hyun-ah ? aku hanya berusaha meyakinkan diri bahwa kau memang
mencintaiku. Apa adanya.” Hati Kyu Hyun mencelos, ia merasa bersalah sekaligus
bahagia. Ia pikir Ji Na masih saja tak percaya dengan segala skenario yang
diaturnya, lebih dari itu ia bahagia Ji Na berusaha menerima takdir ciptaanya,
menjadi teman hidupnya.
“Maafkan aku, sungguh . . . aku
sangat mencintaimu. Terlalu mencintaimu, dulu maupun sekarang, begitu juga
dengan hari – hari yang akan datang.” Air mata Ji Na meleleh, ia bisa melihat
kesungguhan itu dari mata Kyu Hyun. “Hanya satu yang aku takutkan, aku takut
kau mengingat masa lalumu. Aku takut kenangan pahit diantara kita akan kembali
terkuak dan mengganggu pikiranmu. Aku takut kau yang akan meragukanku karena
kesalahan bodohku. Ji Na-ya, tak peduli bagaimana hubungan dimasa lalu kita,
aku akan tetap mengikatmu disini. Maukah kau menyerahkan hatimu untukku ikat
bersama dengan diriku ?” Ji Na mengangguk, tangannya mengusap air matanya
pelan.
“Cha, masaklah yang enak. Aku
lapar.” Dengan senyum yang mengembang ia membalik tubuh Kyu Hyun yang lebih
berat. Sayangnya, Kyu Hyun diam bergeming. “Kyu Hyun-ah,” rajuk Ji Na. “Oppa,”
ucap Kyu Hyun singkat. “Geurae, Oppa. Oppa, buatkan aku omelet yang enak.
Setelah ini kau harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Ppaliwa!!”
***
Di lantai dua belas hotel milik Kyu
Hyun, dua namja dewasa tengah duduk menghadap keluar. Di tangan mereka masing –
masing menggenggam sekaleng soda yang sesekali disesapnya. Lantai dua belas
hotel ini adalah tempat dimana Kyu Hyun menjalankan bisnis ilegalnya. Biasanya
mereka akan merundingkan masalah kelompok mereka ataupun melakukan transaksi
dengan pihak luar disini. “Kyu Hyun belum datang,” ujar salah seorang dari
mereka memecah keheningan. “Belum,” jawab satunya singkat. Bukannya mereka tak
akrab, hanya saja rasa canggung itu tak pernah lepas jika mereka hanya berdua.
Sejenak mereka kembali hening.
“Sudah hampir setengah jam. Ini pertama kalinya Kyu Hyun terlambat, padahal ia
sendiri yang mengadakan janji.” Pria satunya mendengus kesal menanggapi
pernyataan temannya. “Itulah sebabnya aku tak suka wanita itu ada di dekat Kyu
Hyun. Kau yakin ia benar – benar kehilangan ingatannya ?” tanyanya sambari
beradu pandang. “Yang aku takutkan Kyu Hyun tak akan sekejam dulu. Dengan
adanya wanita itu sedikit demi sedikit rasa belas kasihan itu pasti akan timbul
dan itu tak baik untuk kelompok kita. Disini hati justru akan menjadi bumerang
untuk kita. Di sini yang dibutuhkan hanya kekuasaan, pengaruh dan kekayaan agar
kita selamat. Aku takut wanita itu akan menjadi titik lemah bagi Kyu Hyun.”
Pria itu menghela napas setelah mengeluarkan unek – uneknya. Ia sudah bersama
Kyu Hyun hampir setengah umurnya dan ia tak akan membiarkan Kyu Hyun terjebak
dalam permainannya. Choi Siwon.
“Tapi aku bisa melihatnya hidup
seperti monster setelah sekian lama. Yang perlu kita lakukan hanya menjaga wanita
itu agar tidak mengingat kembali masa lalunya. Membuatnya mencintai Kyu Hyun
hingga rasanya ia tak bisa bernapas tanpa Kyu Hyun disampingnya. Juga tentu
saja melindungi Kyu Hyun dari keparat –
keparat itu.” Mata sang kepala peneliti itu berubah dingin. Wajah datarnya
terlihat sedikit menakutkan saat mengucapkan kata – kata yang seperti sumpah
itu. “Benar, tidak ada cara lain selain ini. Kyu Hyun terlihat sangat posesif
dengan wanita itu. Aku harap ia benar – benar kehilangan ingatannya selamanya,”
tambah Si Won.
Tuk
tuk.
Mendengar langkah sepatu mendekat,
mereka berusaha menetralkan emosi mereka. Bukan emosi amarah tapi ambisi.
“Eotteohkae ?” tanya orang yang baru datang tersebut. Si Won dan Ki Bum
berbalik dan membungkuk menyambut Kyu Hyun. Si Won menyerahkan lembaran kertas
berisi data orang – orang yang akan ia musnahkan dari dunia ini. Kyu Hyun
menerimanya dengan tidak sabar, membuka lembaran itu tanpa membaca semua
keterangannya.
“Ada tiga orang yang menjabat
menteri saat itu, enam orang dari pengadilan dan seorang dari militer. Semuanya
pria tapi ada satu wanita disana. Salah satu dari mereka adalah abeoji dari Ji
Na-ssi, Hwang Tae Joon menteri pendidikan saat itu.” Rahang Kyu Hyun mengeras
mendengarnya. Pelaku pembunuh abeojinya secara tidak langsung itu harus
merasakan akibatnya. Nyawa harus ditukar dengan nyawa. “Selidiki mereka lebih
lanjut. Jebloskan mereka ke penjara sebelum tembak dada mereka dengan timah
panas. Permalukan mereka dan buat publik mencemooh mereka dan keluarganya. Aku
sangat yakin diantara mereka tidak ada yang bersih.” Si Won membuka mulutnya
hendak berucap, namun dirinya ragu. Ki Bum yang melihatnya membuka mulutnya.
“Apa itu berlaku untuk Hwang Tae Joon-ssi ?”
“Siapapun itu aku tak peduli. Habisi
mereka seperti ayahku meninggal dulu.” Kyu Hyun melangkahkan kakinya keluar
ruangan dengan wajah stoic yang belum berubah.
***
Tujuh bulan berlalu begitu cepat,
hawa musim gugur mulai terasa di Helsinki ketika angin bertiup. Dingin. Membuat
siapa saja enggan meninggalkan rumah tanpa pakaian hangat mereka. Di arena
pacuan kuda milik salah satu koleganya, Kyu Hyun berjalan dengan kuda yang ditunggangi
Ji Na memasuki arena itu. Dengan topi khas coboy dan rompi pengganti jas mahalnya
ia terlihat sangat gagah dan tentu saja tampan. Ji Na turun dengan dibantu Kyu
Hyun, saat berhasil menyentuh tanah Kyu Hyun justru menarik pinggang istrinya
semakin dekat. Wanita milik Kyu Hyun itu sekarang sudah bisa berjalan dengan
baik walau kadang kesetimbagan tubuhnya terganggu. Kyu Hyun menunduk untuk
melihat wajah istrinya yang tengah terpesona itu. Jarang – jarang Ji Na
memperlihatkan ekspresi seperti ini, binar mata yang menariknya untuk masuk
lebih dalam dan rona merah tipis tercetak dikedua pipi putihnya yang terlihat
sedikit berisi sekarang. Cup. Lagi, Kyu Hyun mengecup kening Ji Na lama,
hingga deheman Si Won terdengar Kyu Hyun menjauhkan wajahnya namun tetap
memeluk pingggang Ji Na.
“Saat ini aku hanya bisa memberimu
itu. Nanti saat aku menang melawan pawang kuda itu aku akan memberimu lebih.
Setelah ini sebaiknya kau istirahat karena nanti malam sepenuhnya adalah waktu
untukku.” Si Won menarik rompi coboy yang dikenakan Kyu Hyun membuat pelukan
mereka terlepas. Dengan cepat ia menarik Ji Na untuk bersembunyi di
belakangnya. “Jangan berbuat mesum di depanku Cho Kyu Hyun.” Kyu Hyun mendengus
pelan, “sesukaku Hyeong, dia istriku. Dan jangan bertindak tak sopan padaku,
ingat aku ini atasanmu.” Si Won tersenyum miring, “tapi disini aku kakak iparmu
Kyu Hyun Sajangnim. Dan jangan terus – terusan menggoda adikku.” Rasanya saat
ini juga Si Won ingin tertawa, lihatlah wajah Kyu Hyun. Ck. “Sudah kubilang dia
istriku, mau aku menciumnya, memeluknya atau apapun itu terserah padaku.” Ji Na
merenggut terasa terabaikan. Dirinya langsung melepaskan tangan Si Won yang
menggenggam tangannya dan berjalan ke pinggir arena.
“Sebaiknya kalian cepat bertanding.
Aku masih mau jalan – jalan setelah ini atau aku jalan – jalan sendiri!”
teriakannya cukup membuat dua pria itu menghentikan kegilaan mereka. Ck! “Ini
kencan pertama kita Cho Kyu Hyun, awas kalau kau sampai mengacaukannya,”
ancamnya lagi.
***
To Be Continue
Chap
depan mulai masuk ke acara balas dendamnya Kyu Hyun dan akan ada banyak moment
Kyu Hyun sama Ji Na.
Pertama
saya mau mengucapkan terima kasih pada yang sudah mau baca FF aneh ini.
Pedrosanya saya simpen sampai dua atau tiga chapter kedepan. Mohon Review-nya.
*Bow_bareng_Yesungie_sama_Changminie*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar