The
Secret of Dark Devil and Vampire
Part 1 : Because there’s no tomorrow
Lee Dong Hae – Oh Min Hwa
Present By : Choikang Lover
“Kami
sama – sama makhluk kegelapan yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun
kaum kami berbeda. Apakah iya kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan
melakukan apapun termasuk menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu
bersama.”
Hush...
Min Hwa. Oh Min Hwa. Putri tunggal dari bangsa
vampire itu kembali menengok ke belakang untuk kesekian kalinya. Matanya
gelisah memandang ke sekitarnya. Ia yakin bahwa ada seseorang atau makhluk yang
sedang mengikutinya. Min Hwa memejamkan
matanya sejenak untuk menenangkan dirinya namun belum sempat ia membuka
matanya, ia merasakan hawa dingin dari senjaga yang terbuat dari besi di dekat
lehernya.
“Kau
melanggar batas wilayah yang telah kita sepakati Tuan Putri Oh,” Min Hwa menajamkan pendengarannya. Ia membuka
matanya namun tak bergerak sedikitpun. Min Hwa berbalik menatap makhluk yang
mengarahkan pedang padanya. Leher putri mahkota vampire itu hanya berjarak 2 cm
dari ujung pedang tajam itu. “Aku kemari untuk mencari tanaman obat yang
diminta tabib istana,” ujar Min Hwa
tenang. Tawa sosok yang masih mengacungkan pedang padanya itu pecah. Membelah
keheningan di antara lebatnya pepohonan hutan.
“Turunkan
pedangmu dan biarkan aku pergi,” ujar Min Hwa datar namun sarat akan perintah.
Mungkin akibat kebiasaannya sebagai putri mahkota. “Kau tahu bukan aku adalah
sosok yang paling ingin membunuhmu sejak kejadian 8 tahun yang lalu. Dan kau
memerintahku untuk melepaskanmu ? Hah yang benar saja. Hanya ada dalam mimpimu
nona,” ujar sosok itu diiringi tawa sinisnya. Sudut matanya memincing menatap Min Hwa penuh kebencian.
“Ucapkan
selamat tinggal pada ayahmu yang serakah itu,” desis sosok itu lantas
mengayunkan pedangnya kearah Min Hwa.
Gadis itu berhasil menghindar namun serangan kedua pedang yang ia yakini sudah
dilumuri racun itu berhasil menyayat lengan kirinya. “Argh.” Putri mahkota
vampire itu mengerang pelan. Ia bisa melihat sosok itu tengah melesat
kearahnya, ia paham sasaran pedang itu adalah jantungnya. Namun gadis itu
menunduk, ingatannya kembali pada kejadian 9 tahun yang lalu. Di tempat ini
juga mereka bertemu. Bolehkan ia berharap kejadian hari ini akan berakhir sama
dengan kejadian saat itu.
Min Hwa memejamkan matanya erat – erat.
Kematian. Mungkin dengan itu bisa menebus kesalahannya pada seorang iblis yang
sangat dicintainya. Kini. Kematiannya yang memang dinantikan banyak pihak.
Prangg.
Min Hwa tergelonjak kaget. Matanya menangkan
sosok bayangan hitam dengan sepasang sayap di punggungnya. Bayangan itu semakin
jelas hingga membentuk sosok yang selalu mengisi relung hati dan pikirannya.
Keberaniannya melewati wilayah perbatasan untuk mengambil tanaman obat untuk
ayahnya yang tengah sekarat juga karenanya. Walaupun kematian adalah harga yang
harus dibayarnya.
“Jangan
pernah menyentuhnya sebelum waktu itu tiba Yoo Chun.” Suara tegas namun merdu
itu sudah 8 tahun tak didengarnya. “Pergi dan anggap saja kejadian ini tak
nyata,” tukas sosok dengan sayap abu – abu itu. “Aku menyesal membiarkanmu
mengenalnya. Membiarkanmu bersamanya sama saja membiarkanmu berjalan menuju
kematian yang abadi. Dong Hae-ah walaupun kau putra mahkhota di kerajaan iblis
kau tak bisa memerintahku karena aku seorang panglima. Hanya ayahmu Yang Mulia
Raja yang bisa memerintahku. Lagi pula jika aku membunuhnya sekarang atau nanti
17 tahun lagi itu sama saja. Persiapan semuanya sudah selesai.” Terang Yoo
Chun.
Yoo Chun
menyarungkan kembali pedangnya. Ia melesat pergi meninggalkan Sang pewaris
kerajaan kegelapan itu dengan Putri Mahkota Vampire. Ia cukup tahu Dong Hae tak
akan macam – macam dengan kekuatan yang masih disegel oleh ayahnya. Dong Hae
menatap sendu Min Hwa yang tengah kesakitan. Gadis vampire itu menyengkram erat
lengan kirinya yang mengeluarkan darah merah kehitaman. Dong Hae tak sanggup,
entah sejak kapan seorang iblis mempunyai hati. Ia melayang rendah ke arah Min
Hwa yang sedang tertunduk kesakitan. Jubah kebesarannya sudah ternoda oleh
warna darahnya yang terus mengalir. “Min Hwa-ssi.” Mundur satu langkah, Min Hwa
mendongak menatap Dong Hae nyalang seolah menantangnya, menganggapnya musuh.
Tangan Dong Hae terulur untuk menyentuh tubuh sang putri namun ia urungkan
melihat wajah putri vampire yang tak bersahabat.
Dong Hae
melempar botol kecil berisi cairan namun Min Hwa tak berusaha untuk
menangkapnya, berdiam diri seolah patung. “Itu bisa menetralkan racun dari
pedang Yoo Chun. Ambilah, aku tak mungkin melihatmu mati begitu saja.” Min Hwa
menatap botol kecil yang ada di sampingnya datar, “terima kasih tapi aku tak
perlu bantuanmu.” Rahang Dong Hae mengeras mendengar penolakan dari Sang Putri.
Dong Hae tak suka dibantah, sekalipun itu oleh Yang Mulia Raja.
Dong Hae
menggeram, ia memusatkan kekuatannya –yang tersisa akibat sebagian besar
kekuatannya disegel Yang Mulia Raja-, Min Hwa menatap angin hitam yang
bergelung – gelung di sekitar tubuh Dong Hae. Pikirannya kosong, tak mungkin
bukan Dong Hae berniat memusnahkannya. Setidaknya ia yakin itu karena masa lalu
mereka. Entahlah, belum sempat berpikir terlalu jauh tubuhnya roboh sesaat
setelah Dong Hae mengarahkan angin hitam itu mengenai dirinya.
Dong Hae
melangkah pelan, namun karena sunyinya hutan ini membuat derap langkahnya
mendominasi suasana hutan yang mencekam. Ia duduk di samping tubuh Min Hwa yang
tak sadarkan diri. Dibawanya kepala Sang Putri Vampire itu ke pangkuannya.
Tangan kanannya menyibak rambut yang menutupi wajah pucat gadis vampire ini.
Salah satu dari tiga pemilik darah murni. Tangan kiri Dong Hae meraih botol
yang sempat dilemparnya itu membukannya dan meminumkannya pada Min Hwa. Dirinya
merasa seperti manusia biasa saat bersama dengan Sang Putri Vampire, manusia
yang memiliki hati dan perasaan. Melupakan sosoknya yang dingin, kejam, licik
dan tanpa ampun.
“Kau
mencari penawar untuk ayahmu bukan ? maaf telah membuat ayahmu terbujur kaku
seperti Min Hwa-ya.” Dong Hae tersenyum, wajah yang telah delapan tahun ini ia
rindukan. “Kau pasti sangat membenciku bukan saat ini ?” jari tangannya bermain
disekitar pipi dan hidung ekhm, pujaan hatinya. “Sebelum perang itu kau
milikku, setelah perang itu juga kau harus tetap menjadi milikku.” Dong Hae
merendahkan kepalanya, mengecup kening, turun mengecul pangkal hingga ujung
hidung wanita berkulit pucat itu dan berakhir dengan ciuman di bibir yang
terlihat membiru karena racun dalam tubuhnya. “Aku selalu mencintaimu, aku akan
berusaha agar kita bisa bersatu.”
Pewaris
tahta iblis itu membopong tubuh ringan Putri Vampire itu untuk direbahkannya
pada batang pohon besar yang rindang. Ia masih sempat mengusap pucuk kepala
sang pujaan hatinya sebelum melindungi tubuh gadis vampire itu dengan
mantranya. “Aura vampiremu terlalu kuat sayang. Aku masih bisa menghalangi Yoo
Chun untuk tidak membunuhmu. Namun aku tak tahu apabila nanti kau bertemu
dengan Kyu Hyun apakah kau akan selamat atau tidak.” Dong Hae teringat sesuatu,
ia dengan cepat melepas kalung yang melingkar di lehernya lalu memakaikannya pada
leher Min Hwa. “Kuharap itu cukup untuk melindungimu. Semoga kau tak
menyadarinya saat terbangun tengah malam nanti.”
Dong Hae
berbalik berjalan lima langkah lantas melesat pergi dengan sarap hitam yang
mengepak seperti burung keluar dari punggungnya. “Aku harus bertemu dengan Kyu Hyun. Aku harus membuatnya yakin dan
memihak padaku,” pikirnya.
***
Lolongan
serigala terdengar, hembusan angin malam menusuk tubuhnya yang terasa sedikit
kaku terutama di lengan kirinya. Min Hwa membuka matanya perlahan, matanya
berubah menjadi merah menyala. Ia menengok kanan – kiri namun tak ia temukan
siapapun sejauh mata vampire memandang hingga radius satu kilometer.
Min Hwa
memeriksa dadanya. Ia dapat merasakan jantungnya masih dalam kondisi baik walau
tak berdekat. Ia bersyukur dan tersenyum tipis. Andaikan mereka dari kaum yang
sama, andai tak ada keserakahan dan balas dendam, setidaknya mungkin ia masih
bisa dengan bebas bertemu dengan Pangerannya.
“Euuh. .
.” gadis vampire itu kembali melengkuh kesakitan saat berusaha berdiri. Ia
bahkan sampai harus berpegangan pada batang pohon. Sungguh memalukan.
Setidaknya ia sedikit berutung karena purnama penuh membantunya mengembalikan
energi dan luka yang masih menganga di lengan kirinya. Tak ada waktu untuk
menyembuhkan luka. Ayahnya harus segera mendapatkan obat. Sudah lebih dari
delapan tahun ayahnya hanya terbujur kaku diatas ranjangnya. Luka sayatan
pedang black soul Dong Hae membuat ayahnya tak mampu melakukan apa – apa. Mencinta
dan membenci pada orang yang sama adalah hal yang memuakkan.
To Be Continue. . .
Visual Oh Min Hwa : Han Seung Yeon (Kara)
NB : Saya mau tanya tolong jawab yah. bagusan kalo pake bahasa korea di beberapa kata atau pakai indonesia semua ? Gamsahamnida ^_^ #BOW

Tidak ada komentar:
Posting Komentar