About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Sabtu, 28 Juni 2014

[FF] The Secret of Dark Devil and Vampire I - Lee Dong Hae


The Secret of Dark Devil and Vampire
Part 1 : Because there’s no tomorrow
Lee Dong Hae – Oh Min Hwa
Present By : Choikang Lover



“Kami sama – sama makhluk kegelapan yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun kaum kami berbeda. Apakah iya kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan melakukan apapun termasuk menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu bersama.”





          Hush...
           Min Hwa. Oh Min Hwa. Putri tunggal dari bangsa vampire itu kembali menengok ke belakang untuk kesekian kalinya. Matanya gelisah memandang ke sekitarnya. Ia yakin bahwa ada seseorang atau makhluk yang sedang mengikutinya.  Min Hwa memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya namun belum sempat ia membuka matanya, ia merasakan hawa dingin dari senjaga yang terbuat dari besi di dekat lehernya.

          “Kau melanggar batas wilayah yang telah kita sepakati Tuan Putri Oh,”  Min Hwa menajamkan pendengarannya. Ia membuka matanya namun tak bergerak sedikitpun.  Min Hwa berbalik menatap makhluk yang mengarahkan pedang padanya. Leher putri mahkota vampire itu hanya berjarak 2 cm dari ujung pedang tajam itu. “Aku kemari untuk mencari tanaman obat yang diminta tabib istana,” ujar  Min Hwa tenang. Tawa sosok yang masih mengacungkan pedang padanya itu pecah. Membelah keheningan di antara lebatnya pepohonan hutan.

          “Turunkan pedangmu dan biarkan aku pergi,” ujar  Min Hwa datar namun sarat akan perintah. Mungkin akibat kebiasaannya sebagai putri mahkota. “Kau tahu bukan aku adalah sosok yang paling ingin membunuhmu sejak kejadian 8 tahun yang lalu. Dan kau memerintahku untuk melepaskanmu ? Hah yang benar saja. Hanya ada dalam mimpimu nona,” ujar sosok itu diiringi tawa sinisnya. Sudut matanya memincing menatap  Min Hwa penuh kebencian.

          “Ucapkan selamat tinggal pada ayahmu yang serakah itu,” desis sosok itu lantas mengayunkan pedangnya kearah  Min Hwa. Gadis itu berhasil menghindar namun serangan kedua pedang yang ia yakini sudah dilumuri racun itu berhasil menyayat lengan kirinya. “Argh.” Putri mahkota vampire itu mengerang pelan. Ia bisa melihat sosok itu tengah melesat kearahnya, ia paham sasaran pedang itu adalah jantungnya. Namun gadis itu menunduk, ingatannya kembali pada kejadian 9 tahun yang lalu. Di tempat ini juga mereka bertemu. Bolehkan ia berharap kejadian hari ini akan berakhir sama dengan kejadian saat itu.

           Min Hwa memejamkan matanya erat – erat. Kematian. Mungkin dengan itu bisa menebus kesalahannya pada seorang iblis yang sangat dicintainya. Kini. Kematiannya yang memang dinantikan banyak pihak.

          Prangg.
           Min Hwa tergelonjak kaget. Matanya menangkan sosok bayangan hitam dengan sepasang sayap di punggungnya. Bayangan itu semakin jelas hingga membentuk sosok yang selalu mengisi relung hati dan pikirannya. Keberaniannya melewati wilayah perbatasan untuk mengambil tanaman obat untuk ayahnya yang tengah sekarat juga karenanya. Walaupun kematian adalah harga yang harus dibayarnya.

          “Jangan pernah menyentuhnya sebelum waktu itu tiba Yoo Chun.” Suara tegas namun merdu itu sudah 8 tahun tak didengarnya. “Pergi dan anggap saja kejadian ini tak nyata,” tukas sosok dengan sayap abu – abu itu. “Aku menyesal membiarkanmu mengenalnya. Membiarkanmu bersamanya sama saja membiarkanmu berjalan menuju kematian yang abadi. Dong Hae-ah walaupun kau putra mahkhota di kerajaan iblis kau tak bisa memerintahku karena aku seorang panglima. Hanya ayahmu Yang Mulia Raja yang bisa memerintahku. Lagi pula jika aku membunuhnya sekarang atau nanti 17 tahun lagi itu sama saja. Persiapan semuanya sudah selesai.” Terang Yoo Chun.

          Yoo Chun menyarungkan kembali pedangnya. Ia melesat pergi meninggalkan Sang pewaris kerajaan kegelapan itu dengan Putri Mahkota Vampire. Ia cukup tahu Dong Hae tak akan macam – macam dengan kekuatan yang masih disegel oleh ayahnya. Dong Hae menatap sendu Min Hwa yang tengah kesakitan. Gadis vampire itu menyengkram erat lengan kirinya yang mengeluarkan darah merah kehitaman. Dong Hae tak sanggup, entah sejak kapan seorang iblis mempunyai hati. Ia melayang rendah ke arah Min Hwa yang sedang tertunduk kesakitan. Jubah kebesarannya sudah ternoda oleh warna darahnya yang terus mengalir. “Min Hwa-ssi.” Mundur satu langkah, Min Hwa mendongak menatap Dong Hae nyalang seolah menantangnya, menganggapnya musuh. Tangan Dong Hae terulur untuk menyentuh tubuh sang putri namun ia urungkan melihat wajah putri vampire yang tak bersahabat.

          Dong Hae melempar botol kecil berisi cairan namun Min Hwa tak berusaha untuk menangkapnya, berdiam diri seolah patung. “Itu bisa menetralkan racun dari pedang Yoo Chun. Ambilah, aku tak mungkin melihatmu mati begitu saja.” Min Hwa menatap botol kecil yang ada di sampingnya datar, “terima kasih tapi aku tak perlu bantuanmu.” Rahang Dong Hae mengeras mendengar penolakan dari Sang Putri. Dong Hae tak suka dibantah, sekalipun itu oleh Yang Mulia Raja.

          Dong Hae menggeram, ia memusatkan kekuatannya –yang tersisa akibat sebagian besar kekuatannya disegel Yang Mulia Raja-, Min Hwa menatap angin hitam yang bergelung – gelung di sekitar tubuh Dong Hae. Pikirannya kosong, tak mungkin bukan Dong Hae berniat memusnahkannya. Setidaknya ia yakin itu karena masa lalu mereka. Entahlah, belum sempat berpikir terlalu jauh tubuhnya roboh sesaat setelah Dong Hae mengarahkan angin hitam itu mengenai dirinya.

          Dong Hae melangkah pelan, namun karena sunyinya hutan ini membuat derap langkahnya mendominasi suasana hutan yang mencekam. Ia duduk di samping tubuh Min Hwa yang tak sadarkan diri. Dibawanya kepala Sang Putri Vampire itu ke pangkuannya. Tangan kanannya menyibak rambut yang menutupi wajah pucat gadis vampire ini. Salah satu dari tiga pemilik darah murni. Tangan kiri Dong Hae meraih botol yang sempat dilemparnya itu membukannya dan meminumkannya pada Min Hwa. Dirinya merasa seperti manusia biasa saat bersama dengan Sang Putri Vampire, manusia yang memiliki hati dan perasaan. Melupakan sosoknya yang dingin, kejam, licik dan tanpa ampun.

          “Kau mencari penawar untuk ayahmu bukan ? maaf telah membuat ayahmu terbujur kaku seperti Min Hwa-ya.” Dong Hae tersenyum, wajah yang telah delapan tahun ini ia rindukan. “Kau pasti sangat membenciku bukan saat ini ?” jari tangannya bermain disekitar pipi dan hidung ekhm, pujaan hatinya. “Sebelum perang itu kau milikku, setelah perang itu juga kau harus tetap menjadi milikku.” Dong Hae merendahkan kepalanya, mengecup kening, turun mengecul pangkal hingga ujung hidung wanita berkulit pucat itu dan berakhir dengan ciuman di bibir yang terlihat membiru karena racun dalam tubuhnya. “Aku selalu mencintaimu, aku akan berusaha agar kita bisa bersatu.”

          Pewaris tahta iblis itu membopong tubuh ringan Putri Vampire itu untuk direbahkannya pada batang pohon besar yang rindang. Ia masih sempat mengusap pucuk kepala sang pujaan hatinya sebelum melindungi tubuh gadis vampire itu dengan mantranya. “Aura vampiremu terlalu kuat sayang. Aku masih bisa menghalangi Yoo Chun untuk tidak membunuhmu. Namun aku tak tahu apabila nanti kau bertemu dengan Kyu Hyun apakah kau akan selamat atau tidak.” Dong Hae teringat sesuatu, ia dengan cepat melepas kalung yang melingkar di lehernya lalu memakaikannya pada leher Min Hwa. “Kuharap itu cukup untuk melindungimu. Semoga kau tak menyadarinya saat terbangun tengah malam nanti.”

          Dong Hae berbalik berjalan lima langkah lantas melesat pergi dengan sarap hitam yang mengepak seperti burung keluar dari punggungnya. “Aku harus bertemu dengan Kyu Hyun. Aku harus membuatnya yakin dan memihak padaku,” pikirnya.

***

          Lolongan serigala terdengar, hembusan angin malam menusuk tubuhnya yang terasa sedikit kaku terutama di lengan kirinya. Min Hwa membuka matanya perlahan, matanya berubah menjadi merah menyala. Ia menengok kanan – kiri namun tak ia temukan siapapun sejauh mata vampire memandang hingga radius satu kilometer.

          Min Hwa memeriksa dadanya. Ia dapat merasakan jantungnya masih dalam kondisi baik walau tak berdekat. Ia bersyukur dan tersenyum tipis. Andaikan mereka dari kaum yang sama, andai tak ada keserakahan dan balas dendam, setidaknya mungkin ia masih bisa dengan bebas bertemu dengan Pangerannya.

          “Euuh. . .” gadis vampire itu kembali melengkuh kesakitan saat berusaha berdiri. Ia bahkan sampai harus berpegangan pada batang pohon. Sungguh memalukan. Setidaknya ia sedikit berutung karena purnama penuh membantunya mengembalikan energi dan luka yang masih menganga di lengan kirinya. Tak ada waktu untuk menyembuhkan luka. Ayahnya harus segera mendapatkan obat. Sudah lebih dari delapan tahun ayahnya hanya terbujur kaku diatas ranjangnya. Luka sayatan pedang black soul Dong Hae membuat ayahnya tak mampu melakukan apa – apa. Mencinta dan membenci pada orang yang sama adalah hal yang memuakkan.

To Be Continue. . .
Visual Oh Min Hwa : Han Seung Yeon (Kara)
NB : Saya mau tanya tolong jawab yah. bagusan kalo pake bahasa korea di beberapa kata atau pakai indonesia semua ? Gamsahamnida ^_^ #BOW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar