1.
Title :
Catch You, And Be My Boy (Prekuel - Losing My Mine)
2.
Author :
Fortunia Ryu as Choikang Lover as Me
3.
Casts :
Cho Kyuhyun, Jung Hyeyoung and other casts find by your self.
4.
Lenght :
Oneshoot
5.
Rated :
PG 15/T
6.
Genre :
AU, Angst (I Hope), romance and other up to reader.
7.
Disclaimer : Ini FF setelah sekian kali dan
lamanya gagal untuk menulis kembali. Ternyata sindrom writing block itu
nyebelin banget. Angan – angan, disini banyak nulisnya susal. Okelah, cukup
sekian curhatannya but, Story is Mine!!! Typo(s) anywhere. No plagiat.
Story....
Author
POV
Seorang gadis muda tengah duduk santai sambil meminum
teh hijau menemani wanita yang sudah berusia setengah abad di sampingnya. Dari cara
mereka bercengkrama, ketara sekali mereka dari kalangan atas yang beradab. Gadis
muda itupun sangat sopan. Dengan gaun putih santai selulut dan bahu lebar namun
sopan, ia menceritakan bagaimana
kehidupan perkuliahannya.
“Ah ya Hye Young-ah, kapan Oppa-mu
selesai kuliah dari New York ?” gadis itu terpekur sejenak. Ia tersenyum hingga
kedua matanya terlihat berbinar dan menyipit. “Mungkin sekitar 4 bulan atau 6
bulan lagi ahjumma. Semenjak Yun Ho Oppa berpacaran dengan Hye
Woon Eonni, ia menjadi kurang serius dan banyak menhabiskan waktu untuk
berkencan dengan Hye Woon Eonni. Eomma bahkan sampai menelpon Hye
Woon Eonni agar menyuruh Oppa lebih serius.” Nyonya Cho – Cho(Kim)
In Na – terkekeh pelan, membuat Hye Young yang melihatnya menjadi bingung.
“Waeyo Ahjumma ?” Nyonya
Cho menggeleng pelan. Ia menyeruput teh dari cangkir keramik putih itu dengan
elegan. “Ani. Aku juga pernah merasakan hal itu. In Jung pasti sangat
kesal. Andai Yun Ho ada di Seoul, pasti tiap hari kau akan mendengar omelan
ibumu. Tapi lepas dari itu, sebenarnya ia hanya tak ingin anaknya gagal.” Hye Young mengangguk pelan. Ia tanpa sengaja melihat gelang dari
platina yang melingkar di lengan kiri Nyonya Cho. Berbentuk ukiran Kupu – kupu yang
indah lengkap dengan bunganya dengan lebar kurang lebih 1,5 cm.
“Areumdawa.” Ujar Hye Young
tanpa sadar membuat Nyonya Cho bingung. Ia mengikuti arah pandangan Hye Young. Sang
pemilik rumah itupun tersenyum mengetahui apa yang dilihat Hye Young.
Nyonya melepaskan gelang itu dari
pergelangannya, ia lantas memakaikannya pada Hye Young. Hal itu lantas membuat
gadis muda berusia 19 tahun itu bingung. “Ahjumma, kenapa
”,”ini dari Kyu Hyun saat ulang tahunku yang ke 46.” Ujarnya
lembut sambil tersenyum.
“Itu terakhir kalinya ahjumma melihat
Kyu Hyun tersenyum dengan benar.” Hye Young mengerutkan keningnya. Ia memang
tahu Kyu Hyun memang orang yang susah tersenyum. Orang yang dingin dan sukar
tersentuh. Namun, andaikan ia mau tersenyum, senyumnya seperti malaikat yang
menangkan.
“Mau mendengar cerita ?” Hye Young
mengangguk tanpa suara. Matanya masih terpana melihat gelang yang melingkar di
lengannya. “Kyu Hyun Oppa pasti sangat menyayangi ahjumma. Tapi, kenapa ahjumma
terlihat kurang baik ?” ia sebenarnya ingin mengatakan ‘sedih’ bukan ‘kurang
baik’ tapi ia tak ingin Nyonya Cho
tersinggung.
Nyonya Cho menyesap kembali teh
hijaunya. Ia mengambil napas dalam – dalam. “Kyu Hyun bukan tipe namja yang
mudah jatuh cinta.” Hye Young membenarkan dalam hati. Kyu Hyun seperti singa
yang lepas dari kandang saat di dekatnya ada wanita. Mana ada yang nekat mau
mendekatinya, batin Hye Young.
“Tapi aku percaya suatu saat akan
datang dengan sendirinya wanita baik yang memang ditakdirkan untuk anakku. Dan hari
itu datang juga, saat ulang tahunku yang ke 46, ia membawa gadis itu menemuiku.
Cantik, manis dan terlihat rapuh.” Jadi Kyu Hyun Oppa sudah punya kekasih. Aish,
malang sekali nasibku ini. Padahal ia kan tampan sekali, pupuslah sudah
harapnku bahkan sebelum aku mencoba, batin Hye Young lagi.
“Dari Kyu Hyun aku tahu, hidupnya
lebih berat daripada remaja seusianya saat itu. Ayah dan ibunya tak
menganggapnya, karena Da Hee, gadis itu anak dari kesalahan masa lalu ayahnya. Hanya
Dong Hae, kakaknya yang merupakan sahabat dekat Kyu Hyun yang menyayanginya. Mungkin
karena itu, dari rasa iba, sayang, kemudian tumbuh menjadi cinta.” Hye Young
terperangah tak menyangka, keluarga terhormat ini sepertinya tak
mempermasalahkan cap yang melekat pada gadis bernama Da Hee tersebut.
“Anda. . . tak mempermasalahkan Da Hee
yang-“, “tentu saja tidak. Namun awalnya aku syok, tentu saja. Tapi setelah aku
menceritakan ini pada In Jung, ia justru memarahi yang. . . kau tahu sendirilah
bagaimana ibumu.” Mereka tertawa ringan bersama. Semilir angin musin gugur
membuat suasana menjadi lebih hangat.
“Ah, Ahjumma. Lalu kenapa aku tidak
pernah melihat wanita itu ?” Nyonya Cho memalingkan wajahnya. Matanya mulai tak nyaman saat air mata terkumpul dipelupuk
matanya dan siap meleleh menyusuri kulit wajahnya yang mulai menua.
“Saat akan pergi untuk melamar Da Hee
untuk bertunangan, mereka kecelakaan. Kyu Hyun koma selama seminggu. Dan Da Hee
meninggal beberapa jam setelah Kyu Hyun sadar. Aku bahkan sempat berpikir,
gadis itu baru mau meninggalkan dunia saat Kyu Hyun terbangun. Apakah mungkin
itu yang disebut cinta sejati ? seolah ia memastikan Kyu Hyun baik – baik saja
lalu ia ikhlas meninggalkannya.” Eommanya pernah bercerita tentang ini, namun
ia tak tahu jika Kyu Hyun, pria berusia 23 tahun itu yang mengalaminya.
“Kematian Da Hee mengguncang psikis
Kyu Hyun. Bukan hanya menyalahkan dirinya saja, namun ia juga beberapa kali
menyakiti dirinya sendiri. Jarang makan, berhenti kuliah sementara, hanya
termenung dan menatap taman bunga mawar putih dan kolam teratai dengan hening.”
Ia tak tahu cerita ini, karena sejak kecil mereka tinggal di New York dan baru
pindah ke Seoul awal tahun ini. Itupun Yun Ho ditinggal disana karena hampir
menyelesaikan kuliahnya.
“Sampai Dong Hae yang baru pulang dari
merayakan kelulusannya datang dan menghajar Kyu Hyun. Mengatakan bahwa Da Hee
tidak akan bahagia melihat Kyu Hyun dalam keterpurukan seperti ini. Bahwa Kyu
Hyun hanya menyia – yiakan hidupnya untuk merenungi hal yang tidak bisa
didapatkan kembali. Yah, setelah mendapat tamparan keras dari Dong Hae, Kyu
Hyun bangkit. Hanya saja ia menjadi lebih dingin dan tak tersentuh seperti
sekarang ini. Sejak saat itu Kyu Hyun mati – matian agar cepat lulus dan
menjadi dokter. Aku bersyukur dan meminta Dong Hae agar terus mendampingi Kyu
Hyun dan menyangganya. Karena sampai sekarangpun Kyu Hyun masih rapuh. Aku dan
suamiku, entah mengapa tak pernah bisa menyentuh hatinya. Sangat sulit dan
dalam,” papar Nyonya Cho.
Marhajamyeon
saranghadeon maneun naldeure gi-eoki
Meomchul su eobneun na-e gaseumi
Meomchul su eobneun na-e gaseumi
Suara deringan ponsel Hye Young
membuat percakapan mereka terputus. Hye Young dengan isyarat matanya meminta
ijin untuk mengangkat telepon tersebut.
“Yeoboseyo.”
“................”
“Ne eomma, arraseo. Ggokjonghajimasaeyo.”
“................”
“Ne eomma.”
“In
Jung ?” tanya Nyonya Cho sambil mengulum senyum. Hye Young mengangguk. “Ahjumma,
sepertinya aku tidak bisa sering – sering menemanimu lagi. Kata eomma, mulai
minggu depan aku sudah harus masuk kuliah. Semua administrasinya sudah selesai
diurus.” Nyonya Cho menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menampilkan wajah
sesedih mungkin.
“Sepertinya
aku akan kesepian lagi. Ck, ini pasti akal – akalan In Jung saja. Ia mungkin
ketakutan sekarang, takut anak perempuannya aku culik.”
***
Oke prekuelnya satu scane dulu. abang Kyu Hyun yang tengah berbahagia -dilihat dari tubuhnya yang 'besar', semoga mengikhlaskan lagi saya apa - apain di- FF ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar