Last Step
Kim Jong Woon || Kang Ji Hyun
Sequel : I Got You Little Runaway
Semenjak Ji Hyun mengetahui bahwa
kecelakaan yang menyebabkan Jong Woon koma selama 4 minggu itu, ia mulai mundur
teratur. Kang Ji Hyun. Bagi gadis itu segalanya akan berakhir buruk jika sudah
dimulai dengan kebohongan, titik!
Selama dua bulan ia masih menjenguk
Jong Woon. Membawakannya makanan dan menemaninya bicara. Tapi semua itu ia
lakukan tak lebih karena ia merasa menjadi penyebab Jong Woon melakukan hal
seaneh dan senekat itu. Yah, meski pencetus ide yang sebenarnya adalah ‘orang gila’
bernama Cho Kyu Hyun.
***
“Hyun Min Ahjussi, Ji Hyun ada
di rumah ?” tanya Jong Woon pada Kang Hyum Min –ayah Ji Hyun- yang tengah
bermain catur dengan salah seorang tukang kebunnya di teras rumah. Sambil
menghabiskan sore akhir pekan katanya, sayang putrinya tidak ada. Dan akan
selalu tidak ada.
“Jong Woon-ah, datanglah kesini
Hari Selasa. Ji Hyun tidak ada jadwal kuliah sama sekali hari itu.” Saran dari
sang nyonya rumah ternyata cukup membuat moodnya kembali membaik.
Ditampilkannya senyum terbaiknya untuk calon mertua.
Jangan tanya kenapa Jong Woon tidak
berusaha mencari tahu dimana Ji Hyun berada sekarang. Karena jawabannya ada di
toko bunga lengkap dengan kebunnya. Ia sudah sebulan ini membantu temannya
mengurus toko bunga itu tiap akhir pekan. Dan sarang berlindung yang baik dari
Jong Woon yang alergi serbuk bunga. Saat memberikan bunga kepada Ji Hyun yang
setangkai dua tangkai saja ia akan bersin – bersin setelahnya hingga susah
tidur. Bagaimana mau ke sarang penuh sebuk bunga itu ?
“Ne Ahjumma, gamsahamnida.
Kalau boleh saya tahu apa Ji Hyun mengganti nomor telponnya ? sekitar dua
minggu ini ia tak bisa dihubungi,” Jong Woon mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
Sekalian pendekatan kepada sang calon mertua. Menunjukan bahwa dirinya
namja yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, serta memperhatikan detail putri
tunggal mereka.
“Ahh! Anak itu benar – benar. Ia belum
memberitahumu, Ck! Kenapa calon suaminya
tidak ia beritahu sih ?! Dasar anak manja.” Puas merutuki anak perempuannya,
Nyonya Kang –Lee- Hyo Eun mengalihkan perhatiannya pada Jong Woon.
“Jadi dua minggu yang lalu, saat di
halte bus dekat kampusnya Ji Hyun kecopetan. Untung saja saat itu didalam
tasnya tidak ada yang terlalu penting kecuali beberapa lembar uang dan yah
ponselnya. Untung saja ia tidak membawa dompetnya. Aku malas sekali kalau harus
mengurus data administrasinya lagi.” Setelahnya Jong Woon menerima selembar
kertas bertuliskan sederet nomor yang membuat senyum Jong Woon langsung
mengembang sempurna.
“Gamsahamnida ahjumma, ahjussi.
Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu bersantai kalian. Saya undur diri.”
Jong Woon membungkukkan badannya memberi hormat sebelum memasuki mobil putih
kesayangannya.
“Yeobo, sebenarnya ada apa
dengan Ji Hyun. Kemarin – kemarin mereka sangat dekat. Aish, impianku untuk
memiliki calon menantu sepertinya bisa gagal kalau begini.” Gerutu Nyonya Kang
yang sayup – sayup masih dapat di dengar Jong Woon.
***
“Ji Hyun-ah, ige. Salah
seorang pelangganku memberikan ini untukmu.” Ji Hyun menerimanya, namun lima
detik kemudian ia memberikan rangkaian bunga mawar merah yang belum mekar
sempurna itu pada Hye In.
“Jual saja lagi. Aku tak terlalu suka
bunga. Too cheesy,” katanya tak peduli. Hye In tertawa pelan, gadis
berwajah feminim itu tahu pasti karakter temannya itu. Mereka terlalu dekat,
hingga hal kecil itupun jadi mudah terlihat.
“Kenapa kau tidak menjadi pegawai
disini saja. Kau tahu banyak tentang bunga, tapi kenapa kau tak mau membantuku
lebih ? terlebih kalau kau disini aku jadi bisa menggajiku, tidak seperti ini.
Dan yah, pembeli disini pasti akan meningkat tajam karena florist-nya
sangat cantik.” Ji Hyun tak menanggapi, gadis itu hanya mengangkat bahunya tak
mau tahu. Hari sudah malam dan ia harus segera kembali.
“Kau menghindari calon suamimu itu ?.”
Tepat. Gerakan tangan Ji Hyun langsung terhenti. Ia terlihat gugup hingga
tangannya tak sengaja terkena duri mawar. Ia langsung menyembunyikannya.
“A-a-apa yang kau bicarakan ? aku, aku
tak mengerti. Calon suami yang mana.” Dahi Hye In langsung berkerut menyelidik.
“Kim Jong Woon. Seorang CEO sekaligus
pemegang saham di Crown Hotel and Resort.” Ji Hyun tak menjawab. Gadis itu pura
– pura meminum teh camomile yang tadi diletakan Hye In diatas meja kosong.
“Ji Hyun-ah, bukannya aku mau
ikut campur atau sok menasehatimu, tapi ia terlihat tulus. Coba lihat ia dari
sisi yang berbeda. Coba lihat kelebihannya baru kekurangannya lalu lihat
dirimu. Perhatikan baik – baik bagaimana cara ia memperlakukanmu dan caramu
memperlakukannya. Lalu lihat binar cinta penuh kesungguhan dimatanya dan
bagaimana hatimu merespon itu, Ok ?. Sekarang ayo pulang, aku mau mengunci toko.”
Walau terlihat tidak memedulikan apa
yang Hye In katakan, Ji Hyun masih bisa merekamnya baik – baik di otaknya. Perhatikan
baik – baik bagaimana cara ia memperlakukanmu dan caramu memperlakukannya. Lalu
lihat binar cinta penuh kesungguhan dimatanya dan bagaimana hatimu merespon itu.
Ji Hyun pun masih bertanya sendiri pada hatinya, siapa Jong Woon baginya ?
“Hachii~.” Ji Hyun dengan sebal
mencari tisu di atas meja. Mawar sialan.
***
Sesampainya di rumah, ternyata orang
tuanya sudah berada di meja makan dan menantinya. Ibunya bahkan sampai ngomel
panjang lebar karena kelakuannya yang pergi jam tujuh pagi dan pulang jam
delapan malam. Tuan Kang hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan
istri dan anaknya itu, namun tak urung itu membuatnya merasa hangat dan
bahagia.
“Besok malam adalah pesta pertunangan
Cho Kyu Hyun dengan Jung Hye Young. Appa ingin kau dan eomma-mu
datang bersama appa.” Ucapan sang ayah membuat otaknya memproses dengan
cepat untuk menolak. Yah menolak. Harus menolak!
“Abeoji, aku malas datang ke
pesta seperti itu.” Nyonya Kang memelototi anaknya yang cuek bebek sibuk dengan
sup ayamnya. Bagi Ji Hyun datang kesana maka sama saja mendatangi Jong Woon.
Terlebih si pembuat ide – ide gila itu ada disana. Tidak! Ia tidak mau ada hal
– hal aneh nan ganjil terjadi lagi.
“Kenapa tidak mau ? kau takut iri
sehingga ingin cepat bertunangan dengan Jong Woon ya ? kalau begitu bilang pada
Jong Woon untuk menyuruh orang tuanya menemui kami dan kita bisa mengatur itu
secepatnya.” Ji Hyun menghentikan makannya. Ia memandang eommanya dengan wajah
cemberut dan kesal.
“Abeoji,” rengek Ji Hyun dengan
wajah se-innocent mungkin. Bagaimanapun Ji Hyun tetap saja anak tunggul yang
manja, geutchi ?
“Appa tetap ingin kau dan eomma-mu
ikut. Tanpa bantahan.” Ji Hyun semakin menekuk wajahnya. Setelah dua minggu ia
tidak bertemu Jong Woon besok malam ia harus melihat wajah penuh tipu muslihat
–menurut Ji Hyun- itu lagi. Dan itu membuat Ji Hyun tidak tenang.
***
Yeap. Begitu Ji Hyun tiba, Jong Woon langsung terus berada
di sampingnya. Bahkan saking fokusnya menjaga Ji Hyun dari nama namja lain yang
melirik kearah calon istrinya itu ia tak sempat mengagumi kecantikan Ji Hyun
dibalik dress ungu muda itu. Dress simpel tanpa lengan dengan rambut yang
dibiarkan tergerai dan ia curly diujungnya serta kalung berbentuk wajik dengan
satu permata besar di tengah dan di kelilingi permata kecil disekitarnya,
membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Ayo kita ke tempat Kyu Hyun dan Hye
Young, Honey.” Ji Hyun mendelik tajam menatap Jong Woon yang seenaknya
saja menyeret lengannya –walau halus- dari samping orang tuanya. Dan yang lebih
menjengkelkan lagi, ibunya malah menyuruh mereka berdua saja menepi. Ck!
“Kyu Hyun-ah, chukaeyo.
Tak kusangka, kau ternyata selangkah lebih maju dariku.” Kyu Hyun hanya nyengir
polos. Sedangkan Ji Hyun hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada
dengan wajah ditekuk.
“Tentu saja hyeong. Jangan
samakan langkahku dengan langkahmu yang lebih lamban dari kura – kura itu.” Jong
Woon mendecih lirih setengah mengejek, namun hatinya membenarkan akan hal itu.
Semenjak kecelakaan itu, ia pikir semuanya akan berjalan lancar. Namun
ternyata, Ji Hyun makin jauh di sebrang sana. Makin jauh dari rengkuhannya.
“Wanita itu kenapa lagi hyeong
?” bisik Kyu Hyun tepat di telinga Jong Woon. Tentu untuk menghindari ada orang
lain yang mendengar, terutama objek yang tengah mereka bicarakan itu. Bagi Kyu
Hyun Ji Hyun adalah macan betina. Bukan karena wajah Ji Hyun yang mengerikan,
gadis itu terlampau nekat dalam bertindak.
“Molla. Ia aneh kembali
beberapa minggu terakhir ini. Mungkin akhir – akhir bulan ini lebih tepatnya.”
Jawab Jong Woon tak kalah lirih. Kyu Hyun mengangguk – angguk samar. Otak
jeniusnya langsung menelisik, merangkai sebab – akibat yang mungkin
berkesinambungan.
Tak sampai lima detik, Kyu Hyun
melebarkan mata bulatnya. Membuat lelehan caramel di bola matanya terlihat
penuh. Kyu Hyun kembali berbisik, “apa ia pernah melihatmu jalan dengan client
wanita dan terlihat akrab hyeong ? kalau begitu itu tandanya cemburu.”
Mendengar prasangka Kyu Hyun, mata
Jong Woon melebar sempurna penuh binar kebahagiaan. Namun, dua detik berikutnya
binar itu hilang. Mata sipit, seperti kucing itu kembali sayu. “Kalau ia
cemburu ia akan mengamuk Kyu. Kau bodoh, lupa atau sudah tua sih! Aku kan sudah
puluhan kali mengatakan saat Ji Hyun cemburu dan akhirnya putus dengan Dong Hae
–cinta pertama, pacar pertama dan mantan pacar terakhir Ji Hyun hingga saat
ini- ia memukuli Dong Hae. Menjambar, mencakar, seperti hewan kanibal.”
Kyu Hyun terkekeh, ia yakin Jong Woon
tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Sangat jarang Jong Woon
mengakui kekurangan sang gadis. Yah, sebut saja Kang Ji Hyun is his dream
girl. Not wanna be his girl, but wanna be his wife. Huhuhu~
Kekehan Kyu Hyun ternyata mendatangkan
tatapan setajam kucing betina dari Ji Hyun. Yah dalam otak Ji Hyun, ada memori
khusus untuk menyimpan data tentang rencana – rencana gila Jong Woon, termasuk
dalang, pelaku, pencetus ide, pemain pembantu, latar, serta maksud dan tujuan.
“Hyeong, ia memelototiku. Aku
mencari Hye Young dulu, sebenar lagi acara intinya mulai.” Jong Woon mengangguk
paham. Setelah Kyu Hyun menghilang, perhatian Jong Woon kembali terfokus pada
Ji Hyun. Sebaliknya, gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Ayo kita duduk di pinggir kolam
renang saja. Di sana suasana tidak terlalu ramai. Cukup cocok untuk bicara dari
hati ke hati.” Ji Hyun hanya diam mengikuti Jong Woon yang menggenggam
pergelangan tangannya erat. Gadis itu menatap punggung Jong Woon yang membukaan
jalan diantara keramaian untuknya. Seperti yang dilakukan pengawal kepada tuan
putrinya.
Jong Woon-ah, apa benar kau
mencintaiku ? atau hanya egomu saja untuk menaklukanku ? cinta itu tulus, bukan
obsesi. Pria yang mencintai wanitanya akan melakukan apapun agar wanitanya
bahagia. Bukan melakukan tindakan gila untuk menahan wanita itu disisinya.
***
Jong Woon akhirnya mendudukan diri di
sebuah kursi yang terbuat dari semen dan batu kapur berwarna hitam semen. Di
hadapannya terdapat sebuah meja yang juga sama. Di atas meja tersebut terdapat
rangkaian bunga lili putih, mawar merah, hydragea biru dan putih yang ditata
apik di dalam vas. Terdapat juga lilin aroma terapi berjumlah tiga yang
memberikan aroma menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya.
Tepat di hadapannya Ji Hyun duduk dengan wajah yang
menunduk, dan Jong Woon yakin bukan karena takut padanya, tapi gadis itu enggan
bertatapan dengannya. Entah kenapa. Tangan mereka masih bertautan di atas meja.
Jong Woon memandang ke atas, mencari – cari apa yang bisa ia gunakan untuk
memulai pembicaraan. Dapat.
“Ah, musim panas hampir tiba ya. Ji Hyun-ah, diatas
sana, ada tiga bintang yang terlihat paling terang diantara yang lain. Kau
lihat bukan ?.” Ji Hyun mengangkat wajahnya, ia tak tahu apa maksud pria
dihadapannya itu. Sedangkan Jong Woon tersenyum senang, setidaknya ia bisa
melihat wajah gadisnya yang baik – baik saja.
“Jong Woon-ssi, bukankah disini terlalu sepi ?.” Jong
Woon menggeleng ringan, ia tersenyum simpul. Senyum yang menenangkan. Namun
tahukan dibatinnya, namja itu menggeram kesal. Tentu saja karena gadis itu
mengangkat topik yang tidak ingin dibicarakannya.
Gadis itu tidak tahu atau tidak peka sih!
“Ada tiga bintang, yaitu Altair yang merupakan bintang alpha rasi Aquila,
Vega yang merupakan bintang alpha rasi Lyra, dan Deneb yang merupakan
bintang alpha rasi Cygnus. Mereka disebut triangle
summer. Penanda musim panas.” Ji Hyun ikut memandang tiga bintang itu lagi.
Memang paling terang diantara yang lain.
“Dalam
mitologi Yunani ketiganya adalah sahabat. Altair yang paling kuat, ia-”
“bukan.
Bukan mitologi Yunani. Aku tak perlu menceritakan lagi tentang mitologi Yunani
padamu. Kau pasti sudah tahu.” Ji Hyun menunduk sebentar. Ia merasa malu karena
sikapnya yang bisa dikatakan sok tahu.
“Kisah
ini dari tiongkok, kemudian menjadi legenda di Jepang. Cukup terkenal hingga
melahirkan festival Tanabata.” Ji Hyun cukup tertarik, ia putuskan untuk
mendengarkan cerita itu. Dalam keremangan, dengan jemari yang saling bertautan,
di bawah taburan bintang saling bertatapan.
“Legenda
ini berkisah tentang bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi
Lyra sebagai Orihime (Shokujo),
putri Raja Langit yang pandai menenun. Bintang Altair yang berada di rasi
Aquila dikisahkan sebagai penggembala sapi bernama Hikoboshi (Kengyu).
Hikoboshi adalah orang yang rajin bekerja sehingga diizinkan Raja Langit untuk
menikahi Orihime. Suami istri Hikoboshi dan Orihime pun hidup bahagia, tetapi
sayang sejak itu Orihime tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi
menggembala. Raja Langit pun menjadi sangat marah, dan keduanya dipaksa
berpisah.” Jong Woo memutuskan kontak mata mereka, retinanya membentuk bayangan
langit hitam yang cerah dengan taburan bintang diakhir musim semi yang tinggal
menghitung hari.
“Lalu
? apakah hanya sampai disitu saja kisahnya ?” tanya Ji Hyun antusias. Dari ekor
matanya, Jong Woon dapat melihat raut wajah gadis itu sudah berubah 180
derajat. Tadi, gadis itu terlihat seperti bersama mafia yang menodongkan pistol
di dadanya, tepat membunuh di jantungnya.
Jong
Woon menggeleng sambil tersenyum misterius. “Kalaupun mereka harus berakhir
seperti itu tandanya mereka memang sebenarnya tidak ditakdirkan bersama. Tidak
ada cinta yang membuat orang lemah. Harusnya karena cinta mereka saling
menjaga.” Jong Woon terkekeh pelan. Pemikiran gadis ini selalu berbeda dengan
yang orang lainnya. Semua orang akan memilih kisah cinta dengan akhir bahagia
–akhir bersama-, sedangkan gadis itu akan memilih kisah cinta dengan akhir yang
membuat semua orang menguras air mata. Namun gadis itu hanya tersenyum senang,
bahagia. Saat mereka terpisah, mereka berusaha lebih kuat untuk menjaga
cinta mereka masing – masing. Jika akhirnya mereka tetap saling mencintai,
itulah cinta yang sebenarnya.
“Jadi
kau suka jika mereka terpisah ?” Ji Hyun tersentak saat tangan merasa diusap.
Ji Hyun berusaha menarik tangannya namun genggaman namja itu terlalu kuat
membuatnya membiarkan Jong Woon menggenggam tangannya terlampau erat, akhirnya.
“Kadang
dengan berpisah kita tahu harus bagaimana baiknya kita menjalani hidup dan
memperlakukan orang tersebut,” jawab Ji Hyun tenang. Namun, mata gadis itu
penuh penentangan.
“Jadi
bagaimana perasaanmu selama sebulan terakhir ini ?.”
“MWO
?” Jong Woon terkekeh pelan. Ia mengangkat tangan kanan Ji Hyun yang sedari
tadi digenggamnya, lalu mengecupnya pelan. Gadis itu mati kutu. Bagaimana ia
bisa memberitahu kalau ia sendiri tengah dilanda kebingungan.
“A-apa
mak-sudmu ? aku tak mengerti,” bantahnya. Jong Woon meletakan kembali genggaman
tangan mereka di atas meja. Matanya melihat dengan jelas tangan kiri gadis itu
meremat bunga lily yang jatuh dari vas dengan kuat. Sial, sial, sial, rutuk
gadis itu dalam hati.
“Kau
lebih dari sekedar mengerti Kang Ji Hyun Ahgassi,” tandas Jong Woon.
“Orihime
dan Hikoboshi tinggal dipisahkan oleh sungai Amanogawa (sungai jalur susu/Milky
Way) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam ke-7 bulan ke-7
setelah mereka bekerja keras selama setahun. Kalau kebetulan hujan turun,
sungai Amanogawa menjadi meluap dan Orihime tidak bisa menyeberangi sungai
untuk bertemu Hikoboshi. Sehingga sekawanan burung kasasagi pun terbang
menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih, dan berbaris membentuk
jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa
menyeberang dan bertemu. Bagaimana menurutmu ?” tanya Jong Woon dengan senyum
yang mirip seringaian.
“Cinta
memiliki jalannya masing – masing untuk bahagia. Walau harus menunggu selama
satu tahun, kurasa itu bukan masalah.” Saat ini, Jong Woon bisa melihat ada
luka di mata itu. Yah, baru kali ini. Ia tak tahu itu luka baru atau luka lama
yang baru terbuka.
“Kenapa
kau selalu berpikiran bahagia adalah tidak bersama!” Jong Woon menaikan nada
bicaranya. Sungguh, ia tak paham dengan pemikiran gadis ini.
“Karena
memang begitu. Kalian semua, orang yang dianggap mendekati sempurna oleh orang
lain selalu seperti itu.” Jong Woon mengernyit bingung.
“Maksudmu
?” gadis itu menarik tangan kanannya dari genggaman Jong Woon, dan namja itu membiarkannya.
Ji Hyun membekap mulutnya sendiri untuk meredam suara isakan dari bibirnya.
Matanya sudah berlinang air mata, wajahnya sudah memerah. Dimata Jong Woon
tidak ada kata lain selain rapuh.
“Kau, Dong
Hae, dan semua laki – laki seperti kalian sama saja. Kalian hanya mendekatiku
untuk pride kalian saja. Untuk memuaskan ego kalian sebagai laki – laki,
geutchi ?” Jong Woon langsung bangkit lalu pindah ke samping Ji Hyun
duduk. Namja itu langsung memasang posisi seperti berlutut lantas menarik
kepala gadis itu untuk bersandar di pundaknya. Menumpahkan semua tangisnya
disana.
“Hiks, hiks, apa yang
kau lakukan ?” tanya gadis itu lirih ditengah suaranya yang parau. Terdengar
seperti bisikan. Jong Woon mengusap punggung Ji Hyun, menyalurkan rasa tenang
dari sana.
“Dong Hae, aku sangat
mencintainya. Teramat sangat. Lalu aku harus bagaimana saat ia meminta putus
dariku karena menurutnya hubungan ini hanya untuk membuktikan pesonanya sebagai
laki – laki ? aku hanya ingin hidup tenang, hidup sederhana dengan suami dari
orang biasa dan bahagia. Apa itu begitu sulit ?.” Suara gadis itu terdengar
semakin lirih. Napas gadis itu terdengar tak beraturan. Jong Woon meraih jemari
kiri Ji Hyun dan mengecupnya.
“Kau juga kan ? kau
sama saja. Itu bukan cinta Jong Woon-ssi, itu obsesi. Setelah kau
mendapatkannya, setelah kau merasa cukup kau akan membuangnya. Saat kau merasa
ada hal baru yang lebih menantang untuk kau dapatkan kau akan menyingkirkannya
dari hadapanmu. Bukankah laki – laki seperti itu ?”
Jong Woon menggeleng mendengar tuduhan
yang terlontar dari bibir wanita yang dicintainya. Hatinya ikut sakit. Salahnya
kenapa ia tak peka terhadap gadis ini. Gadisnya ini tengah menanti
kesungguhannya. Bukan kesungguhan untuk mempertahankannya, tapi untuk
memperjuangkannya.
“Besok malam aku jemput.”
***
“Hye In-ssi, bisa bicara
denganmu sebentar ?” Oh Hye In, gadis itu tergagap kaku melihat Jong Woon di
dekat mobilnya dengan senyum yang menawan. Pakaian yang rapi, wajah yang tampan
serta senyum menawan, membuat sedikit banyak mahasiswi yang lewat menatapnya
lekat – lekat –terpesona-.
“Hye In-ssi.” Panggil Jong Woon
lagi. Tersadar, gadis itu langsung mendekat ke tempat Jong Woon. “Y-ye. Jong
Woon-ssi ?” Jong Woon memasukkan tangannya ke saku celana, wajahnya
berubah serius.
“Geureom. Apa Ji Hyun sering
membicarakanku padamu ? Apa saja yang ia katakan ?” tanya Jong Woon bertubi –
tubi. Hye In menggeleng beberapa kali terlihat kaku, mulutnya membuka, namun
tergagap untuk berucap. “J-ji Hy-yun, ekhm,” Hye In menarik napas, “Ji Hyun
lebih sering mengeluh tentang kelakuanmu.”
Jong Woon langsung tertawa geli,
matanya seperti bulan sabit yang sangat tipis. Wajah seriusnya luntur sudah.
“Apa, Anda mencari Ji Hyun ? Ini hari Senin, Ji Hyun masuk agak siang.”
Pertanyaan Hye In terdengar seperti gumaman, namun masih tertangkap jelas di
telinga Jong Woon.
Jong Woon langsung menghentikan
tawanya, lalu berujar dengan serius. “Aniyo. Aku ada perlu denganmu, kuharap
kau mau bekerja sama denganmu.” Dan dengan tangkap ia membekap Hye In dan memasukkannya
ke dalam mobil hitam kesayangannya.
***
Di dalam mobil, Hye In terduduk kaku
di sebelah Jong Woon yang fokus menyetir. Ia melirik Jong Woon beberapa kali
namun hasilnya sama. Geu Namja, ia tetap menampakkan wajah datar nan
stoicnya. Membuatnya menelan ludah takut – takut.
Angan – angan Hye In teringat ucapan
Ji Hyun yang selalu berseru, “orang itu tidak pernah serius denganku. Aku tahu
itu.” Otak pecinta Drama, novel, serta fanfictionnya langsung me-loading. Apa
Jong Woon hanya mendekati Ji Hyun karenanya ? apa itu yang dimaksud Ji Hyun
dengan ‘orang itu tidak pernah serius denganku’ ? tapi Ji Hyun agak –sangat-
jauh lebih cantik darinya ? Oke. Mungkin itu tidak mungkin.
Hye In melirik Jong Woon lagi, kali
ini ujung matanya menangkap ada setitik kemarahan yang terpadam dari sudut mata
sipit Jong Woon. Gadis itu langsung menatap lurus kedepan. Angannya kembali
berfantasi. Apa Jong Woon memendam dendam pada keluarga Ji Hyun ? sehingga
orang ini mendekati Ji Hyun. Kalau benar, mungkin Jong Woon bermaksud mengorek
keterangan darinya. Hye In, gadis itu menggeleng keras – keras, mencoba
mengusir pemikiran anehnya. Kim Jong Woon itu termasuk golongan orang yang
bersih. Ia tahu itu.
Hye In melirik Jong Woon lagi, dan
matanya membelalak takut – takut melihat Jong Woon tengah meliriknya juga. Hye
In tersenyum kaku, sedangkan Jong Woon kembali menatap lurus ke depan.
“Hentikan pikiranmu yang terlalu dipenuhi cerita fantasimu itu.”
Hye In menunduk takut – takut.
Sementara Jong Woon terlihat mengulum senyum gelinya. Dalam hati ia berpikir,
kenapa Ji Hyun bisa berteman akrab dengan gadis periang yang tak bisa diam.
Berbanding terbalik dengan Ji Hyun yang memiliki kepribadian perfectionis,
kalem cenderung datar dan cuek.
***
Jong Woon menarik tangan Hye In, lalu berlutut
dihadapannya. “Hye In-ssi, apa kau mau jadi kekasihku ?” Hye In langsung
terdiam seperti patung dengan mata membulat dan mulut menganga. Jong Woon
menunduk, ia mendesah pelan.
“Apa aku terlihat tidak serius ?” tanya Jong Woon dengan
wajah seriusnya. Hye In dibuat sesak napas karenanya. Ia menoleh ke samping
kanan – kiri taman kota yang agak sepi. Dengan gugup ia menarik tangan kanannya
yang digenggam Jong Woon.
“Na-naeun, eh-.” “Maafkan aku Hye In-ssi, apa aku
membuatmu bingung barusan ?” Jong Woon berdiri membersihkan celananya yang
sedikit kotor. Ia lantas duduk di samping Hye In.
“Bagaimana menurutmu tadi ?” tanya Jong Woon setelah
agak lama keheningan menghinggapi mereka. “Maksudmu Jong Woon-ssi ?.”
Jong Woon menautkan jemarinya, raut mukanya berubah sendu.
“Apa aku terlihat seperti ingin bermain – main saja ?”
Hye In menggeleng cepat. Lidahnya terlalu kaku untuk menjawab, harus ia akui
dirinya sedikit banyak masih syok dengan apa yang dilakukan Jong Woon barusan.
“Kalau begitu kenapa Ji Hyun selalu mengatakan cinta itu
bukan obsesi ? kenapa ia selalu berpikir cinta itu tidak harus bersama ?” Hye
In terdiam. Ia masih sedikit ragu untuk mengatakan alasannya, namun melihat
Jong Woon yang kebingungan membuatnya bimbang.
“Ji Hyun sangat mencintai seorang yang bernama Lee Dong
Hae. Saat masih SMP dulu mereka menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan.
Tapi karena tugas, ayah Dong Hae dipindah ke luar kota dan Dong Hae ikut.
Karena saat SMA mereka terpisah, ternyata Dong Hae selingkuh. “ Jong Woon
pernah mendengar ini dari ayah Ji Hyun sendiri.
“Tapi ternyata itu semua hanya rekayasa dari Dong Hae.
Ternyata ia menderita kepribadian ganda. Ia hampir membunuh adik perempuannya.
Ia tewas karena jatuh dari lantai dua rumahnya. Tapi disaat terakhirnya sebelum
meninggal, Ji Hyun menengok Dong Hae yang kritis di rumah sakit. Ia terlihat
sangat rapuh saat itu. Orang yang berusaha ia benci mati – matian ternyata
memikul beban berat sendiri.” Hati Jong Woon tersentuh mendengarnya. Siapapun
itu Lee Dong Hae, terima kasih karena telah mengajari Ji Hyun akan cinta yang
tulus.
“Ji Hyun tetap menangis di sisi Dong Hae walau Dong Hae
melarangnya. Aku melihatnya sendiri, bahkan orang tua Dong Hae tak berani masuk
ke dalam, tapi Ji Hyun justru berada di samping Dong Hae. Dong Hae bahkan
berpesan, jangan pernah berikan hatimu pada namja lain yang tak lebih baik
dariku. Jangan pernah, carilah namja yang bisa menjagamu, selalu di sampingmu,
karena dia benar – benar mencintaimu. Kalimat itu ia ucapkan sesaat sebelum
dokter memutuskan untuk disuntik mati.”
“Setiap setahun sekali, Ji Hyun akan dengan rutin
mengunjungi makam Dong Hae. Itulah kenapa ia berpikir, tak masalah harus
berpisah, saat kita masih saling mencintai, semuanya akan baik – baik
saja.” Hye In menyeka air matanya. Ia
berpaling menatap rumpunan bunga yang tak jauh dari mereka duduk.
“Itulah sebabnya Ji Hyun menyukai Lilac terutama mauve,
bunga itu selain lambang cinta pertama.” Jong Woon menoleh, bukankah Ji Hyun
alergi serbuk sari bunga mawar ?
“Ji Hyun suka bunga ?” Hye In menggeleng. Ia mengibaskan
tangannya. “Ia tak suka bunga, hanya Lilac dan anggrek. Anggrek melambangkan
ketulusan dan kesungguhan hati.” Sebuah senyum kemenangan tercetak jelas di
bibir Jong Woon. Inilah jawabannya.
***
Jong Woon muncul di rumah Ji Hyun
tepat saat akan makan malam. Tentu saja eomma Ji Hyun dengan segenap hati
menyambut Jong Woon dan mengajaknya makan malam bersama keluarga mereka. Eomma
Ji Hyun bercerita tanpa henti saat makan malam ini. Sesekali Jong Woon dan sang
ayah menimpali. Hanya Ji Hyun yang menyantap makan malamnya tanpa suara.
Sepertinya sang eomma lupa dengan peraturannya sendiri, dilarang
bicara di meja makan.
“Aigoo, aku bahagia sekali hari
ini. Kau memang datang di saat yang tepat Jong Woon-ah. Ah, sudah lama
sekali aku ingin makan malam seperti ini. Rasanya aku punya menantu saja.
Benarkan yeobo ?” Hyo Eun menatap Hyun Min –suaminya- dengan mata
berbinar. Jong Woon mengulum senyum, mendapat dukungan penuh dari kedua orang
tua Ji Hyun. Sementara anak mereka sendiri menantapnya merinding.
“Jong Woon-ah, ngomong –
ngomong apa orang tuamu setuju jika kau pacaran dengan uri Ji Hyun-ie ?”
tanya sang ayah. Jong Woon memberikan senyum cerianya. Ia berkata, “tentu saja.
Apa yang membuat mereka tidak setuju. Walaupun Ji Hyun cenderung pendiam dan
tak acuh dengan sekitar, sebenarnya Ji Hyun orang yang sangat pengertian.”
Kedua orang tua Ji Hyun tersenyum bangga, sementara sang anak menunduk dengn
muka memerah parah.
Orang tua Jong Woon bukanlah orang
sembarangan. Dari ayahnya mengalir darah pembisnis yang kental, sedangkan
ibunya merupakan puteri mantan jenderal korea. “Kau sering sekali berkunjung
kemari, tapi Ji Hyun tak pernah sekalipun berkunjung ke rumah orang tuamu,”
keluh sang nyonya rumah.
“Aku bisa kapan saja mengantar Ji Hyun
ke rumah jika Ji Hyun ingin bertemu kedua orang tuaku.” Ji Hyun sontak
mengangkat wajahnya. Matanya menatap Jong Woon lurus penuh kesal. “Eomma,
appa, aku ke ruang tengah dulu. Jong Woon-ssi, setelah selesai
kau bisa menyusulku ke sana,” pamit Ji Hyun undur diri.
Hyo Eun langsung memberi isyarat pada
Jong Woon untuk langsung menemui Ji Hyun. Dengan segera, ia bergegas melesat
menuju ruang tengah. Sementara sepasang suami – istri itu saling menatap penuh
arti.
***
Jong Woon berjalan dengan langkah
pelan. Entah kenapa hatinya terasa begitu berdebar – debar sekarang. Ia
berbelok ke kiri dan terlihat Ji Hyun sedang duduk santai di sofa dengan TV
yang tetap mati.
“Apa yang barusan kau lakukan Jong
Woon-ssi ?” tanya Ji Hyun dengan nada yang tajam. Jong Woon menghampiri
gadis itu, namun tetap berdiri di belakang gadis yang ia yakini telah
ditakdirkan untuk dirinya.
“Hanya berusaha menunjukkan betapa
seriusnya aku terhadapmu, Kang Ji Hyun,” jawab Jong Woon tenang. Jong Woon
mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans-nya. Cincin putih dengan ukiran
setangkai kelopak anggrek. Di setiap kelopak terdapat berlian kecil berwarna
biru muda.
Jong Woon menyodorkan cincin itu pada
Ji Hyun dari belakang. Tanpa melihat pun ia tahu, gadis itu pasti terkejut
dengan lamarannya. Jong Woon berputar, kini dirinya berdiri dihadapan Ji Hyun
yang masih mematung. Matanya menatap lekat cincin yang disodorkan Jong Woon
padanya.
Jong Woon berlutut, kini mata Ji Hyun
teralihkan pada wajah yang selalu mengganggu harinya. Yang baru ia sadari,
perlahan – lahan mengambil alih ruang kosong di hatinya. Yang kini menjadi
sosok yang sangat ditakutinya pula.
“Aku serius Ji Hyun-ah. Aku
meminangmu, untuk menjadi istriku, menjadi ibu dari anak – anakku kelak. Aku
memilihmu, untuk menjadi wanita pertama yang kulihat saat aku membuka mata dan
terakhir sebelum aku terlelap. Aku hanya ingin bersama dirimu, untuk menjalani
sisa hidupku. Aku ingin dirimu seutuhnya, lengkap dengan lukamu, masa lalumu,
juga dengan senyum ceriamu, serta masa depanmu.”
Ji Hyun tak berkutik, namun Jong Woon
tetap menunggu. Tangan kirinya yang bebas menggenggam tangan kanan Ji Hyun,
merematnya halus. Ji Hyun tersadar dari keterpakuannya, wajahnya berubah
bimbang. Jong Woon mengulum senyum.
“Kisah hidup manusia seperti sebuah
buku. Bagi mereka yang telah ditakdirkan untuk kembali ke sisi Tuhan, maka buku
itu telah berakhir kisahnya. Namun, bagi mereka yang masih hidup ada banyak
lembaran yang harus mereka isi,” papar Jong Woon seolah ia tahu isi hati Ji
Hyun.
“Kau tahu apa itu cinta untukku ?”
Jong Woon mengangguk. Dengan mantap ia menjawab, “cinta adalah menjaga.” “Lalu,
apa kau bisa menjaga cintamu untukku sampai akhir ? hal yang paling aku
takutkan adalah orang aku cintai berpaling dariku, mengkhianatiku, membuat luka
hingga berakhir dengan dendam. Aku tak mau menjadi salah seorang dari manusia
menyedihkan itu.”
Jong Woon bangkit, lalu duduk di
samping Ji Hyun dan memeluk gadis itu dari samping. “Aku tak bisa berjanji
padamu, karena hati manusia tidak pernah bisa dibaca dan dikendalikan. Namun
saat aku meragu dengan cinta ini, aku akan kembali mengenang saat – saat dimana
aku harus berjuang keras mendapatkanmu,” bisik Jong Woon di telinga Ji Hyun.
Setitik air mata meleleh dari mata kanan gadis itu. Ji
Hyun melepaskan pelukan Jong Woon padanya. “Geurae, aku akan mencoba
serius denganmu Jong Woon-ssi.” Semua beban terangkat dari lubuk hati Jong
Woon, namja itu langsung memakaikan cincin yang telah dibawa pada jari manis Ji
Hyun.
“Gomawo, karena pada akhirnya kau mau
memberikanku kepercayaan itu. Tapi pertama, bisakah kau memanggilku sedikit
lebih baik. Seperti oppa.” Ji Hyun
mengangguk, “geurae, oppa.” Jong Woon tersenyum senang. Mungkin selama hidupnya
inilah malam paling membahagiakan baginya. Rasa – rasanya ia akan tertidur
nyenyak tanpa bebas sedikitpun di benaknya.
“Chankamman,” Jong Woon berujar. Ia mengeluarkan smartphone
berwarna hitam dari saku jasnya. “Yeobosaeyo abeoji. Ne, geureom. Ne.
Aku akan menunggu abeoji dan eomma ke sini. Hati – hati di jalan. Ne,
annyeong.” Ji Hyun menatap Jong Woon penuh tanda tanya.
“Kim Ahjusshi ?” Jong Woon mengangguk. “Aku ingin
kau mengenal keluargaku lebih dalam Ji Hyun-ah. Eomma sudah
sangat ingin bertemu denganmu.” Ji Hyun melepaskan tangannya yang digenggam
Jong Woon.
“Tapi tidak secepat ini. Oppa, eotteohke
?” rengek Ji Hyun. Dirinya benar – benar tak siap jika harus bertemu dengan
calon mertuanya sekarang.
***
“Jadi ini hadiah yang kau maksud ?”
tanya Ji Hyun mendekati Jong Woon yang tertinggal di belakangnya. Mereka sedang
berada di rumah kaca milik keluarga Jong Woon yang berada di villa mereka yang
ada di kota Gwangyang. Letaknya yang di kaki bukit kecil membuat tempat ini
terasa menyatu dengan alam.
“Tentu saja.” Ji Hyun mengangguk,
namun sedetik kemudian ia kembali menghilang di antara rak – rak bunga anggrek,
cattleya, daisy dan baby breath. Jong Woon memutuskan untuk duduk di kursi
taman yang ada di tengah – tengah rumah kaca. Sebenarnya ia agak bosan, tapi ia
biarkan Ji Hyun untuk bermain sepuasnya sekarang.
“Oppa, kenapa disebelah sana ada
tanah yang kosong ? seperti ada bekas tumbuhan.” Ji Hyun muncul dengan
setangkai lilac putih di tangannya. “Itu sebenarnya tempat mawar, tapi karena
kau alergi dengan serbuk sarinya aku menyuruh orang untuk memindahkannya.”
Ji Hyun sungguh merasa tersentuh, “gomawo.”
Satu ucapan yang sungguh tulus ia ucapkan dari hatinya. Ji Hyun menghirup aroma
dari lilac yang pegangnya, namun ia mendesah kecewa. “Benar – benar tidak ada
aromanya,” keluh Ji Hyun.
“Aku mengerti sekarang kenapa lilac
menjadi lambang cinta pertama. Sebagaian orang cinta pertamanya bukan cinta
terakhirnya, namun setiap orang pasti mengingat cinta pertamanya.” Ji Hyun
duduk di samping Jong Woon, ia menyodorkan bunga lilac yang dipegangnya.
Ji Hyun tersenyum saat Jong Woon
menerimanya. “Gomawo, karena telah menerima ketakutanku akan cinta.”
Jong Woon mengangguk, jemarinya terangkat hendak menyentuk kepala Ji Hyun namun
terhenti saat Ji Hyun tiba – tiba menoleh ke arahnya.
Jong Woon bangkit dan memetik azalea
merah yang ada tak jauh dari tempat mereka duduk. “Azalea, penyembuh luka. Apa
aku berhasil ?” Ji Hyun mengangguk, ia meraih setangkai kelopak azalea itu.
“Kau masih berhutang satu penjelasan
padaku Oppa. Tentang kecelakaanmu empat bulan yang lalu,” ujar Ji Hyun
penuh titah yang membuat Jong Woon pucat pasi. Bagaimana Ji Hyun bisa tahu ?
END.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar