About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Jumat, 03 Juli 2015

[FF] Last Step - Kim Jong Woon (Sequel : I Got You Little Runaway)


Last Step
Kim Jong Woon || Kang Ji Hyun



   

          Semenjak Ji Hyun mengetahui bahwa kecelakaan yang menyebabkan Jong Woon koma selama 4 minggu itu, ia mulai mundur teratur. Kang Ji Hyun. Bagi gadis itu segalanya akan berakhir buruk jika sudah dimulai dengan kebohongan, titik!
          Selama dua bulan ia masih menjenguk Jong Woon. Membawakannya makanan dan menemaninya bicara. Tapi semua itu ia lakukan tak lebih karena ia merasa menjadi penyebab Jong Woon melakukan hal seaneh dan senekat itu. Yah, meski pencetus ide yang sebenarnya adalah ‘orang gila’ bernama Cho Kyu Hyun.
***


          “Hyun Min Ahjussi, Ji Hyun ada di rumah ?” tanya Jong Woon pada Kang Hyum Min –ayah Ji Hyun- yang tengah bermain catur dengan salah seorang tukang kebunnya di teras rumah. Sambil menghabiskan sore akhir pekan katanya, sayang putrinya tidak ada. Dan akan selalu tidak ada.
          “Jong Woon-ah, datanglah kesini Hari Selasa. Ji Hyun tidak ada jadwal kuliah sama sekali hari itu.” Saran dari sang nyonya rumah ternyata cukup membuat moodnya kembali membaik. Ditampilkannya senyum terbaiknya untuk calon mertua.
          Jangan tanya kenapa Jong Woon tidak berusaha mencari tahu dimana Ji Hyun berada sekarang. Karena jawabannya ada di toko bunga lengkap dengan kebunnya. Ia sudah sebulan ini membantu temannya mengurus toko bunga itu tiap akhir pekan. Dan sarang berlindung yang baik dari Jong Woon yang alergi serbuk bunga. Saat memberikan bunga kepada Ji Hyun yang setangkai dua tangkai saja ia akan bersin – bersin setelahnya hingga susah tidur. Bagaimana mau ke sarang penuh sebuk bunga itu ?
          Ne Ahjumma, gamsahamnida. Kalau boleh saya tahu apa Ji Hyun mengganti nomor telponnya ? sekitar dua minggu ini ia tak bisa dihubungi,” Jong Woon mulai mengeluarkan keluh kesahnya. Sekalian pendekatan kepada sang calon mertua. Menunjukan bahwa dirinya namja yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, serta memperhatikan detail putri tunggal mereka.
          “Ahh! Anak itu benar – benar. Ia belum memberitahumu, Ck!  Kenapa calon suaminya tidak ia beritahu sih ?! Dasar anak manja.” Puas merutuki anak perempuannya, Nyonya Kang –Lee- Hyo Eun mengalihkan perhatiannya pada Jong Woon.
          “Jadi dua minggu yang lalu, saat di halte bus dekat kampusnya Ji Hyun kecopetan. Untung saja saat itu didalam tasnya tidak ada yang terlalu penting kecuali beberapa lembar uang dan yah ponselnya. Untung saja ia tidak membawa dompetnya. Aku malas sekali kalau harus mengurus data administrasinya lagi.” Setelahnya Jong Woon menerima selembar kertas bertuliskan sederet nomor yang membuat senyum Jong Woon langsung mengembang sempurna.
          Gamsahamnida ahjumma, ahjussi. Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu bersantai kalian. Saya undur diri.” Jong Woon membungkukkan badannya memberi hormat sebelum memasuki mobil putih kesayangannya.
          Yeobo, sebenarnya ada apa dengan Ji Hyun. Kemarin – kemarin mereka sangat dekat. Aish, impianku untuk memiliki calon menantu sepertinya bisa gagal kalau begini.” Gerutu Nyonya Kang yang sayup – sayup masih dapat di dengar Jong Woon.
***
          “Ji Hyun-ah, ige. Salah seorang pelangganku memberikan ini untukmu.” Ji Hyun menerimanya, namun lima detik kemudian ia memberikan rangkaian bunga mawar merah yang belum mekar sempurna itu pada Hye In.
          “Jual saja lagi. Aku tak terlalu suka bunga. Too cheesy,” katanya tak peduli. Hye In tertawa pelan, gadis berwajah feminim itu tahu pasti karakter temannya itu. Mereka terlalu dekat, hingga hal kecil itupun jadi mudah terlihat.
          “Kenapa kau tidak menjadi pegawai disini saja. Kau tahu banyak tentang bunga, tapi kenapa kau tak mau membantuku lebih ? terlebih kalau kau disini aku jadi bisa menggajiku, tidak seperti ini. Dan yah, pembeli disini pasti akan meningkat tajam karena florist-nya sangat cantik.” Ji Hyun tak menanggapi, gadis itu hanya mengangkat bahunya tak mau tahu. Hari sudah malam dan ia harus segera kembali.
          “Kau menghindari calon suamimu itu ?.” Tepat. Gerakan tangan Ji Hyun langsung terhenti. Ia terlihat gugup hingga tangannya tak sengaja terkena duri mawar. Ia langsung menyembunyikannya.
          “A-a-apa yang kau bicarakan ? aku, aku tak mengerti. Calon suami yang mana.” Dahi Hye In langsung berkerut menyelidik.
          “Kim Jong Woon. Seorang CEO sekaligus pemegang saham di Crown Hotel and Resort.” Ji Hyun tak menjawab. Gadis itu pura – pura meminum teh camomile yang tadi diletakan Hye In diatas meja kosong.
          “Ji Hyun-ah, bukannya aku mau ikut campur atau sok menasehatimu, tapi ia terlihat tulus. Coba lihat ia dari sisi yang berbeda. Coba lihat kelebihannya baru kekurangannya lalu lihat dirimu. Perhatikan baik – baik bagaimana cara ia memperlakukanmu dan caramu memperlakukannya. Lalu lihat binar cinta penuh kesungguhan dimatanya dan bagaimana hatimu merespon itu, Ok ?. Sekarang ayo pulang, aku mau mengunci toko.”
          Walau terlihat tidak memedulikan apa yang Hye In katakan, Ji Hyun masih bisa merekamnya baik – baik di otaknya. Perhatikan baik – baik bagaimana cara ia memperlakukanmu dan caramu memperlakukannya. Lalu lihat binar cinta penuh kesungguhan dimatanya dan bagaimana hatimu merespon itu. Ji Hyun pun masih bertanya sendiri pada hatinya, siapa Jong Woon baginya ?
          “Hachii~.” Ji Hyun dengan sebal mencari tisu di atas meja. Mawar sialan.
***
          Sesampainya di rumah, ternyata orang tuanya sudah berada di meja makan dan menantinya. Ibunya bahkan sampai ngomel panjang lebar karena kelakuannya yang pergi jam tujuh pagi dan pulang jam delapan malam. Tuan Kang hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan istri dan anaknya itu, namun tak urung itu membuatnya merasa hangat dan bahagia.
          “Besok malam adalah pesta pertunangan Cho Kyu Hyun dengan Jung Hye Young. Appa ingin kau dan eomma-mu datang bersama appa.” Ucapan sang ayah membuat otaknya memproses dengan cepat untuk menolak. Yah menolak. Harus menolak!
          Abeoji, aku malas datang ke pesta seperti itu.” Nyonya Kang memelototi anaknya yang cuek bebek sibuk dengan sup ayamnya. Bagi Ji Hyun datang kesana maka sama saja mendatangi Jong Woon. Terlebih si pembuat ide – ide gila itu ada disana. Tidak! Ia tidak mau ada hal – hal aneh nan ganjil terjadi lagi.
          “Kenapa tidak mau ? kau takut iri sehingga ingin cepat bertunangan dengan Jong Woon ya ? kalau begitu bilang pada Jong Woon untuk menyuruh orang tuanya menemui kami dan kita bisa mengatur itu secepatnya.” Ji Hyun menghentikan makannya. Ia memandang eommanya dengan wajah cemberut dan kesal.
          Abeoji,” rengek Ji Hyun dengan wajah se-innocent mungkin. Bagaimanapun Ji Hyun tetap saja anak tunggul yang manja, geutchi ?
          Appa tetap ingin kau dan eomma-mu ikut. Tanpa bantahan.” Ji Hyun semakin menekuk wajahnya. Setelah dua minggu ia tidak bertemu Jong Woon besok malam ia harus melihat wajah penuh tipu muslihat –menurut Ji Hyun- itu lagi. Dan itu membuat Ji Hyun tidak tenang.
***
          Yeap. Begitu  Ji Hyun tiba, Jong Woon langsung terus berada di sampingnya. Bahkan saking fokusnya menjaga Ji Hyun dari nama namja lain yang melirik kearah calon istrinya itu ia tak sempat mengagumi kecantikan Ji Hyun dibalik dress ungu muda itu. Dress simpel tanpa lengan dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan ia curly diujungnya serta kalung berbentuk wajik dengan satu permata besar di tengah dan di kelilingi permata kecil disekitarnya, membuatnya menjadi pusat perhatian.
          “Ayo kita ke tempat Kyu Hyun dan Hye Young, Honey.” Ji Hyun mendelik tajam menatap Jong Woon yang seenaknya saja menyeret lengannya –walau halus- dari samping orang tuanya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ibunya malah menyuruh mereka berdua saja menepi. Ck!
          “Kyu Hyun-ah, chukaeyo. Tak kusangka, kau ternyata selangkah lebih maju dariku.” Kyu Hyun hanya nyengir polos. Sedangkan Ji Hyun hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah ditekuk.
          “Tentu saja hyeong. Jangan samakan langkahku dengan langkahmu yang lebih lamban dari kura – kura itu.” Jong Woon mendecih lirih setengah mengejek, namun hatinya membenarkan akan hal itu. Semenjak kecelakaan itu, ia pikir semuanya akan berjalan lancar. Namun ternyata, Ji Hyun makin jauh di sebrang sana. Makin jauh dari rengkuhannya.
          “Wanita itu kenapa lagi hyeong ?” bisik Kyu Hyun tepat di telinga Jong Woon. Tentu untuk menghindari ada orang lain yang mendengar, terutama objek yang tengah mereka bicarakan itu. Bagi Kyu Hyun Ji Hyun adalah macan betina. Bukan karena wajah Ji Hyun yang mengerikan, gadis itu terlampau nekat dalam bertindak.
          Molla. Ia aneh kembali beberapa minggu terakhir ini. Mungkin akhir – akhir bulan ini lebih tepatnya.” Jawab Jong Woon tak kalah lirih. Kyu Hyun mengangguk – angguk samar. Otak jeniusnya langsung menelisik, merangkai sebab – akibat yang mungkin berkesinambungan.
          Tak sampai lima detik, Kyu Hyun melebarkan mata bulatnya. Membuat lelehan caramel di bola matanya terlihat penuh. Kyu Hyun kembali berbisik, “apa ia pernah melihatmu jalan dengan client wanita dan terlihat akrab hyeong ? kalau begitu itu tandanya cemburu.”
          Mendengar prasangka Kyu Hyun, mata Jong Woon melebar sempurna penuh binar kebahagiaan. Namun, dua detik berikutnya binar itu hilang. Mata sipit, seperti kucing itu kembali sayu. “Kalau ia cemburu ia akan mengamuk Kyu. Kau bodoh, lupa atau sudah tua sih! Aku kan sudah puluhan kali mengatakan saat Ji Hyun cemburu dan akhirnya putus dengan Dong Hae –cinta pertama, pacar pertama dan mantan pacar terakhir Ji Hyun hingga saat ini- ia memukuli Dong Hae. Menjambar, mencakar, seperti hewan kanibal.”
          Kyu Hyun terkekeh, ia yakin Jong Woon tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Sangat jarang Jong Woon mengakui kekurangan sang gadis. Yah, sebut saja Kang Ji Hyun is his dream girl. Not wanna be his girl, but wanna be his wife. Huhuhu~
          Kekehan Kyu Hyun ternyata mendatangkan tatapan setajam kucing betina dari Ji Hyun. Yah dalam otak Ji Hyun, ada memori khusus untuk menyimpan data tentang rencana – rencana gila Jong Woon, termasuk dalang, pelaku, pencetus ide, pemain pembantu, latar, serta maksud dan tujuan.
          Hyeong, ia memelototiku. Aku mencari Hye Young dulu, sebenar lagi acara intinya mulai.” Jong Woon mengangguk paham. Setelah Kyu Hyun menghilang, perhatian Jong Woon kembali terfokus pada Ji Hyun. Sebaliknya, gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
          “Ayo kita duduk di pinggir kolam renang saja. Di sana suasana tidak terlalu ramai. Cukup cocok untuk bicara dari hati ke hati.” Ji Hyun hanya diam mengikuti Jong Woon yang menggenggam pergelangan tangannya erat. Gadis itu menatap punggung Jong Woon yang membukaan jalan diantara keramaian untuknya. Seperti yang dilakukan pengawal kepada tuan putrinya.
          Jong Woon-ah, apa benar kau mencintaiku ? atau hanya egomu saja untuk menaklukanku ? cinta itu tulus, bukan obsesi. Pria yang mencintai wanitanya akan melakukan apapun agar wanitanya bahagia. Bukan melakukan tindakan gila untuk menahan wanita itu disisinya.
***
          Jong Woon akhirnya mendudukan diri di sebuah kursi yang terbuat dari semen dan batu kapur berwarna hitam semen. Di hadapannya terdapat sebuah meja yang juga sama. Di atas meja tersebut terdapat rangkaian bunga lili putih, mawar merah, hydragea biru dan putih yang ditata apik di dalam vas. Terdapat juga lilin aroma terapi berjumlah tiga yang memberikan aroma menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya.
Tepat di hadapannya Ji Hyun duduk dengan wajah yang menunduk, dan Jong Woon yakin bukan karena takut padanya, tapi gadis itu enggan bertatapan dengannya. Entah kenapa. Tangan mereka masih bertautan di atas meja. Jong Woon memandang ke atas, mencari – cari apa yang bisa ia gunakan untuk memulai pembicaraan. Dapat.
“Ah, musim panas hampir tiba ya. Ji Hyun-ah, diatas sana, ada tiga bintang yang terlihat paling terang diantara yang lain. Kau lihat bukan ?.” Ji Hyun mengangkat wajahnya, ia tak tahu apa maksud pria dihadapannya itu. Sedangkan Jong Woon tersenyum senang, setidaknya ia bisa melihat wajah gadisnya yang baik – baik saja.
“Jong Woon-ssi, bukankah disini terlalu sepi ?.” Jong Woon menggeleng ringan, ia tersenyum simpul. Senyum yang menenangkan. Namun tahukan dibatinnya, namja itu menggeram kesal. Tentu saja karena gadis itu mengangkat topik yang tidak ingin dibicarakannya. Gadis itu tidak tahu atau tidak peka sih!
“Ada tiga bintang, yaitu Altair yang merupakan bintang alpha rasi Aquila, Vega yang merupakan bintang alpha rasi Lyra, dan Deneb yang merupakan bintang alpha rasi Cygnus. Mereka disebut triangle summer. Penanda musim panas.” Ji Hyun ikut memandang tiga bintang itu lagi. Memang paling terang diantara yang lain.
“Dalam mitologi Yunani ketiganya adalah sahabat. Altair yang paling kuat, ia-”
“bukan. Bukan mitologi Yunani. Aku tak perlu menceritakan lagi tentang mitologi Yunani padamu. Kau pasti sudah tahu.” Ji Hyun menunduk sebentar. Ia merasa malu karena sikapnya yang bisa dikatakan sok tahu.
“Kisah ini dari tiongkok, kemudian menjadi legenda di Jepang. Cukup terkenal hingga melahirkan festival Tanabata.” Ji Hyun cukup tertarik, ia putuskan untuk mendengarkan cerita itu. Dalam keremangan, dengan jemari yang saling bertautan, di bawah taburan bintang saling bertatapan.
“Legenda ini berkisah tentang bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi Lyra sebagai Orihime (Shokujo), putri Raja Langit yang pandai menenun. Bintang Altair yang berada di rasi Aquila dikisahkan sebagai penggembala sapi bernama Hikoboshi (Kengyu). Hikoboshi adalah orang yang rajin bekerja sehingga diizinkan Raja Langit untuk menikahi Orihime. Suami istri Hikoboshi dan Orihime pun hidup bahagia, tetapi sayang sejak itu Orihime tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Raja Langit pun menjadi sangat marah, dan keduanya dipaksa berpisah.” Jong Woo memutuskan kontak mata mereka, retinanya membentuk bayangan langit hitam yang cerah dengan taburan bintang diakhir musim semi yang tinggal menghitung hari.
“Lalu ? apakah hanya sampai disitu saja kisahnya ?” tanya Ji Hyun antusias. Dari ekor matanya, Jong Woon dapat melihat raut wajah gadis itu sudah berubah 180 derajat. Tadi, gadis itu terlihat seperti bersama mafia yang menodongkan pistol di dadanya, tepat membunuh di jantungnya.
Jong Woon menggeleng sambil tersenyum misterius. “Kalaupun mereka harus berakhir seperti itu tandanya mereka memang sebenarnya tidak ditakdirkan bersama. Tidak ada cinta yang membuat orang lemah. Harusnya karena cinta mereka saling menjaga.” Jong Woon terkekeh pelan. Pemikiran gadis ini selalu berbeda dengan yang orang lainnya. Semua orang akan memilih kisah cinta dengan akhir bahagia –akhir bersama-, sedangkan gadis itu akan memilih kisah cinta dengan akhir yang membuat semua orang menguras air mata. Namun gadis itu hanya tersenyum senang, bahagia. Saat mereka terpisah, mereka berusaha lebih kuat untuk menjaga cinta mereka masing – masing. Jika akhirnya mereka tetap saling mencintai, itulah cinta yang sebenarnya.
“Jadi kau suka jika mereka terpisah ?” Ji Hyun tersentak saat tangan merasa diusap. Ji Hyun berusaha menarik tangannya namun genggaman namja itu terlalu kuat membuatnya membiarkan Jong Woon menggenggam tangannya terlampau erat, akhirnya.
“Kadang dengan berpisah kita tahu harus bagaimana baiknya kita menjalani hidup dan memperlakukan orang tersebut,” jawab Ji Hyun tenang. Namun, mata gadis itu penuh penentangan.
“Jadi bagaimana perasaanmu selama sebulan terakhir ini ?.”
“MWO ?” Jong Woon terkekeh pelan. Ia mengangkat tangan kanan Ji Hyun yang sedari tadi digenggamnya, lalu mengecupnya pelan. Gadis itu mati kutu. Bagaimana ia bisa memberitahu kalau ia sendiri tengah dilanda kebingungan.
“A-apa mak-sudmu ? aku tak mengerti,” bantahnya. Jong Woon meletakan kembali genggaman tangan mereka di atas meja. Matanya melihat dengan jelas tangan kiri gadis itu meremat bunga lily yang jatuh dari vas dengan kuat. Sial, sial, sial, rutuk gadis itu dalam hati.
“Kau lebih dari sekedar mengerti Kang Ji Hyun Ahgassi,” tandas Jong Woon.
“Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan oleh sungai Amanogawa (sungai jalur susu/Milky Way) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam ke-7 bulan ke-7 setelah mereka bekerja keras selama setahun. Kalau kebetulan hujan turun, sungai Amanogawa menjadi meluap dan Orihime tidak bisa menyeberangi sungai untuk bertemu Hikoboshi. Sehingga sekawanan burung kasasagi pun terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih, dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Bagaimana menurutmu ?” tanya Jong Woon dengan senyum yang mirip seringaian.
“Cinta memiliki jalannya masing – masing untuk bahagia. Walau harus menunggu selama satu tahun, kurasa itu bukan masalah.” Saat ini, Jong Woon bisa melihat ada luka di mata itu. Yah, baru kali ini. Ia tak tahu itu luka baru atau luka lama yang baru terbuka.
“Kenapa kau selalu berpikiran bahagia adalah tidak bersama!” Jong Woon menaikan nada bicaranya. Sungguh, ia tak paham dengan pemikiran gadis ini.
“Karena memang begitu. Kalian semua, orang yang dianggap mendekati sempurna oleh orang lain selalu seperti itu.” Jong Woon mengernyit bingung.
“Maksudmu ?” gadis itu menarik tangan kanannya dari genggaman Jong Woon, dan namja itu membiarkannya. Ji Hyun membekap mulutnya sendiri untuk meredam suara isakan dari bibirnya. Matanya sudah berlinang air mata, wajahnya sudah memerah. Dimata Jong Woon tidak ada kata lain selain rapuh.
“Kau, Dong Hae, dan semua laki – laki seperti kalian sama saja. Kalian hanya mendekatiku untuk pride kalian saja. Untuk memuaskan ego kalian sebagai laki – laki, geutchi ?” Jong Woon langsung bangkit lalu pindah ke samping Ji Hyun duduk. Namja itu langsung memasang posisi seperti berlutut lantas menarik kepala gadis itu untuk bersandar di pundaknya. Menumpahkan semua tangisnya disana.
“Hiks, hiks, apa yang kau lakukan ?” tanya gadis itu lirih ditengah suaranya yang parau. Terdengar seperti bisikan. Jong Woon mengusap punggung Ji Hyun, menyalurkan rasa tenang dari sana.
“Dong Hae, aku sangat mencintainya. Teramat sangat. Lalu aku harus bagaimana saat ia meminta putus dariku karena menurutnya hubungan ini hanya untuk membuktikan pesonanya sebagai laki – laki ? aku hanya ingin hidup tenang, hidup sederhana dengan suami dari orang biasa dan bahagia. Apa itu begitu sulit ?.” Suara gadis itu terdengar semakin lirih. Napas gadis itu terdengar tak beraturan. Jong Woon meraih jemari kiri Ji Hyun dan mengecupnya.
“Kau juga kan ? kau sama saja. Itu bukan cinta Jong Woon-ssi, itu obsesi. Setelah kau mendapatkannya, setelah kau merasa cukup kau akan membuangnya. Saat kau merasa ada hal baru yang lebih menantang untuk kau dapatkan kau akan menyingkirkannya dari hadapanmu. Bukankah laki – laki seperti itu ?”
          Jong Woon menggeleng mendengar tuduhan yang terlontar dari bibir wanita yang dicintainya. Hatinya ikut sakit. Salahnya kenapa ia tak peka terhadap gadis ini. Gadisnya ini tengah menanti kesungguhannya. Bukan kesungguhan untuk mempertahankannya, tapi untuk memperjuangkannya.
          “Besok malam aku jemput.”
***

          “Hye In-ssi, bisa bicara denganmu sebentar ?” Oh Hye In, gadis itu tergagap kaku melihat Jong Woon di dekat mobilnya dengan senyum yang menawan. Pakaian yang rapi, wajah yang tampan serta senyum menawan, membuat sedikit banyak mahasiswi yang lewat menatapnya lekat – lekat –terpesona-.
          “Hye In-ssi.” Panggil Jong Woon lagi. Tersadar, gadis itu langsung mendekat ke tempat Jong Woon. “Y-ye. Jong Woon-ssi ?” Jong Woon memasukkan tangannya ke saku celana, wajahnya berubah serius.
          Geureom. Apa Ji Hyun sering membicarakanku padamu ? Apa saja yang ia katakan ?” tanya Jong Woon bertubi – tubi. Hye In menggeleng beberapa kali terlihat kaku, mulutnya membuka, namun tergagap untuk berucap. “J-ji Hy-yun, ekhm,” Hye In menarik napas, “Ji Hyun lebih sering mengeluh tentang kelakuanmu.”
          Jong Woon langsung tertawa geli, matanya seperti bulan sabit yang sangat tipis. Wajah seriusnya luntur sudah. “Apa, Anda mencari Ji Hyun ? Ini hari Senin, Ji Hyun masuk agak siang.” Pertanyaan Hye In terdengar seperti gumaman, namun masih tertangkap jelas di telinga Jong Woon.
          Jong Woon langsung menghentikan tawanya, lalu berujar dengan serius. “Aniyo. Aku ada perlu denganmu, kuharap kau mau bekerja sama denganmu.” Dan dengan tangkap ia membekap Hye In dan memasukkannya ke dalam mobil hitam kesayangannya.
***

          Di dalam mobil, Hye In terduduk kaku di sebelah Jong Woon yang fokus menyetir. Ia melirik Jong Woon beberapa kali namun hasilnya sama. Geu Namja, ia tetap menampakkan wajah datar nan stoicnya. Membuatnya menelan ludah takut – takut.
          Angan – angan Hye In teringat ucapan Ji Hyun yang selalu berseru, “orang itu tidak pernah serius denganku. Aku tahu itu.” Otak pecinta Drama, novel, serta fanfictionnya langsung me-loading. Apa Jong Woon hanya mendekati Ji Hyun karenanya ? apa itu yang dimaksud Ji Hyun dengan ‘orang itu tidak pernah serius denganku’ ? tapi Ji Hyun agak –sangat- jauh lebih cantik darinya ? Oke. Mungkin itu tidak mungkin.
          Hye In melirik Jong Woon lagi, kali ini ujung matanya menangkap ada setitik kemarahan yang terpadam dari sudut mata sipit Jong Woon. Gadis itu langsung menatap lurus kedepan. Angannya kembali berfantasi. Apa Jong Woon memendam dendam pada keluarga Ji Hyun ? sehingga orang ini mendekati Ji Hyun. Kalau benar, mungkin Jong Woon bermaksud mengorek keterangan darinya. Hye In, gadis itu menggeleng keras – keras, mencoba mengusir pemikiran anehnya. Kim Jong Woon itu termasuk golongan orang yang bersih. Ia tahu itu.
          Hye In melirik Jong Woon lagi, dan matanya membelalak takut – takut melihat Jong Woon tengah meliriknya juga. Hye In tersenyum kaku, sedangkan Jong Woon kembali menatap lurus ke depan. “Hentikan pikiranmu yang terlalu dipenuhi cerita fantasimu itu.”
          Hye In menunduk takut – takut. Sementara Jong Woon terlihat mengulum senyum gelinya. Dalam hati ia berpikir, kenapa Ji Hyun bisa berteman akrab dengan gadis periang yang tak bisa diam. Berbanding terbalik dengan Ji Hyun yang memiliki kepribadian perfectionis, kalem cenderung datar dan cuek.
***
Jong Woon menarik tangan Hye In, lalu berlutut dihadapannya. “Hye In-ssi, apa kau mau jadi kekasihku ?” Hye In langsung terdiam seperti patung dengan mata membulat dan mulut menganga. Jong Woon menunduk, ia mendesah pelan.
“Apa aku terlihat tidak serius ?” tanya Jong Woon dengan wajah seriusnya. Hye In dibuat sesak napas karenanya. Ia menoleh ke samping kanan – kiri taman kota yang agak sepi. Dengan gugup ia menarik tangan kanannya yang digenggam Jong Woon.
“Na-naeun, eh-.” “Maafkan aku Hye In-ssi, apa aku membuatmu bingung barusan ?” Jong Woon berdiri membersihkan celananya yang sedikit kotor. Ia lantas duduk di samping Hye In.
“Bagaimana menurutmu tadi ?” tanya Jong Woon setelah agak lama keheningan menghinggapi mereka. “Maksudmu Jong Woon-ssi ?.” Jong Woon menautkan jemarinya, raut mukanya berubah sendu.
“Apa aku terlihat seperti ingin bermain – main saja ?” Hye In menggeleng cepat. Lidahnya terlalu kaku untuk menjawab, harus ia akui dirinya sedikit banyak masih syok dengan apa yang dilakukan Jong Woon barusan.
“Kalau begitu kenapa Ji Hyun selalu mengatakan cinta itu bukan obsesi ? kenapa ia selalu berpikir cinta itu tidak harus bersama ?” Hye In terdiam. Ia masih sedikit ragu untuk mengatakan alasannya, namun melihat Jong Woon yang kebingungan membuatnya bimbang.
“Ji Hyun sangat mencintai seorang yang bernama Lee Dong Hae. Saat masih SMP dulu mereka menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Tapi karena tugas, ayah Dong Hae dipindah ke luar kota dan Dong Hae ikut. Karena saat SMA mereka terpisah, ternyata Dong Hae selingkuh. “ Jong Woon pernah mendengar ini dari ayah Ji Hyun sendiri.
“Tapi ternyata itu semua hanya rekayasa dari Dong Hae. Ternyata ia menderita kepribadian ganda. Ia hampir membunuh adik perempuannya. Ia tewas karena jatuh dari lantai dua rumahnya. Tapi disaat terakhirnya sebelum meninggal, Ji Hyun menengok Dong Hae yang kritis di rumah sakit. Ia terlihat sangat rapuh saat itu. Orang yang berusaha ia benci mati – matian ternyata memikul beban berat sendiri.” Hati Jong Woon tersentuh mendengarnya. Siapapun itu Lee Dong Hae, terima kasih karena telah mengajari Ji Hyun akan cinta yang tulus.
“Ji Hyun tetap menangis di sisi Dong Hae walau Dong Hae melarangnya. Aku melihatnya sendiri, bahkan orang tua Dong Hae tak berani masuk ke dalam, tapi Ji Hyun justru berada di samping Dong Hae. Dong Hae bahkan berpesan, jangan pernah berikan hatimu pada namja lain yang tak lebih baik dariku. Jangan pernah, carilah namja yang bisa menjagamu, selalu di sampingmu, karena dia benar – benar mencintaimu. Kalimat itu ia ucapkan sesaat sebelum dokter memutuskan untuk disuntik mati.”
“Setiap setahun sekali, Ji Hyun akan dengan rutin mengunjungi makam Dong Hae. Itulah kenapa ia berpikir, tak masalah harus berpisah, saat kita masih saling mencintai, semuanya akan baik – baik saja.”  Hye In menyeka air matanya. Ia berpaling menatap rumpunan bunga yang tak jauh dari mereka duduk.
“Itulah sebabnya Ji Hyun menyukai Lilac terutama mauve, bunga itu selain lambang cinta pertama.” Jong Woon menoleh, bukankah Ji Hyun alergi serbuk sari bunga mawar ?
“Ji Hyun suka bunga ?” Hye In menggeleng. Ia mengibaskan tangannya. “Ia tak suka bunga, hanya Lilac dan anggrek. Anggrek melambangkan ketulusan dan kesungguhan hati.” Sebuah senyum kemenangan tercetak jelas di bibir Jong Woon. Inilah jawabannya.
***
          Jong Woon muncul di rumah Ji Hyun tepat saat akan makan malam. Tentu saja eomma Ji Hyun dengan segenap hati menyambut Jong Woon dan mengajaknya makan malam bersama keluarga mereka. Eomma Ji Hyun bercerita tanpa henti saat makan malam ini. Sesekali Jong Woon dan sang ayah menimpali. Hanya Ji Hyun yang menyantap makan malamnya tanpa suara. Sepertinya sang eomma lupa dengan peraturannya sendiri, dilarang bicara di meja makan.
          Aigoo, aku bahagia sekali hari ini. Kau memang datang di saat yang tepat Jong Woon-ah. Ah, sudah lama sekali aku ingin makan malam seperti ini. Rasanya aku punya menantu saja. Benarkan yeobo ?” Hyo Eun menatap Hyun Min –suaminya- dengan mata berbinar. Jong Woon mengulum senyum, mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua Ji Hyun. Sementara anak mereka sendiri menantapnya merinding.
          “Jong Woon-ah, ngomong – ngomong apa orang tuamu setuju jika kau pacaran dengan uri Ji Hyun-ie ?” tanya sang ayah. Jong Woon memberikan senyum cerianya. Ia berkata, “tentu saja. Apa yang membuat mereka tidak setuju. Walaupun Ji Hyun cenderung pendiam dan tak acuh dengan sekitar, sebenarnya Ji Hyun orang yang sangat pengertian.” Kedua orang tua Ji Hyun tersenyum bangga, sementara sang anak menunduk dengn muka memerah parah.
          Orang tua Jong Woon bukanlah orang sembarangan. Dari ayahnya mengalir darah pembisnis yang kental, sedangkan ibunya merupakan puteri mantan jenderal korea. “Kau sering sekali berkunjung kemari, tapi Ji Hyun tak pernah sekalipun berkunjung ke rumah orang tuamu,” keluh sang nyonya rumah.
          “Aku bisa kapan saja mengantar Ji Hyun ke rumah jika Ji Hyun ingin bertemu kedua orang tuaku.” Ji Hyun sontak mengangkat wajahnya. Matanya menatap Jong Woon lurus penuh kesal. “Eomma, appa, aku ke ruang tengah dulu. Jong Woon-ssi, setelah selesai kau bisa menyusulku ke sana,” pamit Ji Hyun undur diri.
          Hyo Eun langsung memberi isyarat pada Jong Woon untuk langsung menemui Ji Hyun. Dengan segera, ia bergegas melesat menuju ruang tengah. Sementara sepasang suami – istri itu saling menatap penuh arti.
***
          Jong Woon berjalan dengan langkah pelan. Entah kenapa hatinya terasa begitu berdebar – debar sekarang. Ia berbelok ke kiri dan terlihat Ji Hyun sedang duduk santai di sofa dengan TV yang tetap mati.
          “Apa yang barusan kau lakukan Jong Woon-ssi ?” tanya Ji Hyun dengan nada yang tajam. Jong Woon menghampiri gadis itu, namun tetap berdiri di belakang gadis yang ia yakini telah ditakdirkan untuk dirinya.
          “Hanya berusaha menunjukkan betapa seriusnya aku terhadapmu, Kang Ji Hyun,” jawab Jong Woon tenang. Jong Woon mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans-nya. Cincin putih dengan ukiran setangkai kelopak anggrek. Di setiap kelopak terdapat berlian kecil berwarna biru muda.
          Jong Woon menyodorkan cincin itu pada Ji Hyun dari belakang. Tanpa melihat pun ia tahu, gadis itu pasti terkejut dengan lamarannya. Jong Woon berputar, kini dirinya berdiri dihadapan Ji Hyun yang masih mematung. Matanya menatap lekat cincin yang disodorkan Jong Woon padanya.
          Jong Woon berlutut, kini mata Ji Hyun teralihkan pada wajah yang selalu mengganggu harinya. Yang baru ia sadari, perlahan – lahan mengambil alih ruang kosong di hatinya. Yang kini menjadi sosok yang sangat ditakutinya pula.
          “Aku serius Ji Hyun-ah. Aku meminangmu, untuk menjadi istriku, menjadi ibu dari anak – anakku kelak. Aku memilihmu, untuk menjadi wanita pertama yang kulihat saat aku membuka mata dan terakhir sebelum aku terlelap. Aku hanya ingin bersama dirimu, untuk menjalani sisa hidupku. Aku ingin dirimu seutuhnya, lengkap dengan lukamu, masa lalumu, juga dengan senyum ceriamu, serta masa depanmu.”
          Ji Hyun tak berkutik, namun Jong Woon tetap menunggu. Tangan kirinya yang bebas menggenggam tangan kanan Ji Hyun, merematnya halus. Ji Hyun tersadar dari keterpakuannya, wajahnya berubah bimbang. Jong Woon mengulum senyum.
          “Kisah hidup manusia seperti sebuah buku. Bagi mereka yang telah ditakdirkan untuk kembali ke sisi Tuhan, maka buku itu telah berakhir kisahnya. Namun, bagi mereka yang masih hidup ada banyak lembaran yang harus mereka isi,” papar Jong Woon seolah ia tahu isi hati Ji Hyun.
          “Kau tahu apa itu cinta untukku ?” Jong Woon mengangguk. Dengan mantap ia menjawab, “cinta adalah menjaga.” “Lalu, apa kau bisa menjaga cintamu untukku sampai akhir ? hal yang paling aku takutkan adalah orang aku cintai berpaling dariku, mengkhianatiku, membuat luka hingga berakhir dengan dendam. Aku tak mau menjadi salah seorang dari manusia menyedihkan itu.”
          Jong Woon bangkit, lalu duduk di samping Ji Hyun dan memeluk gadis itu dari samping. “Aku tak bisa berjanji padamu, karena hati manusia tidak pernah bisa dibaca dan dikendalikan. Namun saat aku meragu dengan cinta ini, aku akan kembali mengenang saat – saat dimana aku harus berjuang keras mendapatkanmu,” bisik Jong Woon di telinga Ji Hyun.
Setitik air mata meleleh dari mata kanan gadis itu. Ji Hyun melepaskan pelukan Jong Woon padanya. “Geurae, aku akan mencoba serius denganmu Jong Woon-ssi.” Semua beban terangkat dari lubuk hati Jong Woon, namja itu langsung memakaikan cincin yang telah dibawa pada jari manis Ji Hyun.
Gomawo, karena pada akhirnya kau mau memberikanku kepercayaan itu. Tapi pertama, bisakah kau memanggilku sedikit lebih baik. Seperti oppa.”  Ji Hyun mengangguk, “geurae, oppa.” Jong Woon tersenyum senang. Mungkin selama hidupnya inilah malam paling membahagiakan baginya. Rasa – rasanya ia akan tertidur nyenyak tanpa bebas sedikitpun di benaknya.
Chankamman,” Jong Woon berujar. Ia mengeluarkan smartphone berwarna hitam dari saku jasnya. “Yeobosaeyo abeoji. Ne, geureom. Ne. Aku akan menunggu abeoji dan eomma ke sini. Hati – hati di jalan. Ne, annyeong.” Ji Hyun menatap Jong Woon penuh tanda tanya.
“Kim Ahjusshi ?” Jong Woon mengangguk. “Aku ingin kau mengenal keluargaku lebih dalam Ji Hyun-ah. Eomma sudah sangat ingin bertemu denganmu.” Ji Hyun melepaskan tangannya yang digenggam Jong Woon.
“Tapi tidak secepat ini. Oppa, eotteohke ?” rengek Ji Hyun. Dirinya benar – benar tak siap jika harus bertemu dengan calon mertuanya sekarang.
***
         “Jadi ini hadiah yang kau maksud ?” tanya Ji Hyun mendekati Jong Woon yang tertinggal di belakangnya. Mereka sedang berada di rumah kaca milik keluarga Jong Woon yang berada di villa mereka yang ada di kota Gwangyang. Letaknya yang di kaki bukit kecil membuat tempat ini terasa menyatu dengan alam.
          “Tentu saja.” Ji Hyun mengangguk, namun sedetik kemudian ia kembali menghilang di antara rak – rak bunga anggrek, cattleya, daisy dan baby breath. Jong Woon memutuskan untuk duduk di kursi taman yang ada di tengah – tengah rumah kaca. Sebenarnya ia agak bosan, tapi ia biarkan Ji Hyun untuk bermain sepuasnya sekarang.
          Oppa, kenapa disebelah sana ada tanah yang kosong ? seperti ada bekas tumbuhan.” Ji Hyun muncul dengan setangkai lilac putih di tangannya. “Itu sebenarnya tempat mawar, tapi karena kau alergi dengan serbuk sarinya aku menyuruh orang untuk memindahkannya.”
          Ji Hyun sungguh merasa tersentuh, “gomawo.” Satu ucapan yang sungguh tulus ia ucapkan dari hatinya. Ji Hyun menghirup aroma dari lilac yang pegangnya, namun ia mendesah kecewa. “Benar – benar tidak ada aromanya,” keluh Ji Hyun.
          “Aku mengerti sekarang kenapa lilac menjadi lambang cinta pertama. Sebagaian orang cinta pertamanya bukan cinta terakhirnya, namun setiap orang pasti mengingat cinta pertamanya.” Ji Hyun duduk di samping Jong Woon, ia menyodorkan bunga lilac yang dipegangnya.
          Ji Hyun tersenyum saat Jong Woon menerimanya. “Gomawo, karena telah menerima ketakutanku akan cinta.” Jong Woon mengangguk, jemarinya terangkat hendak menyentuk kepala Ji Hyun namun terhenti saat Ji Hyun tiba – tiba menoleh ke arahnya.
          Jong Woon bangkit dan memetik azalea merah yang ada tak jauh dari tempat mereka duduk. “Azalea, penyembuh luka. Apa aku berhasil ?” Ji Hyun mengangguk, ia meraih setangkai kelopak azalea itu.
          “Kau masih berhutang satu penjelasan padaku Oppa. Tentang kecelakaanmu empat bulan yang lalu,” ujar Ji Hyun penuh titah yang membuat Jong Woon pucat pasi. Bagaimana Ji Hyun bisa tahu ?
END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar