About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Rabu, 20 Januari 2016

FF - The Day We Felt Distance || Kyu Hyun [Oneshoot]


The Day We Felt The Distance
Cho Kyu Hyun || Kang Ji Young || Cho Hyun Jin
Romance || Family || Hurts


          “Oppa, akhir bulan ini bisa kita mengunjungi eommanim di Daegu ? eommonim menelpon, katanya beliau rindu, ingin bermain dengan Hyun Jin.” Cho Kyu Hyun. Namja yang tengah sibuk rambutnya yang basah di depan kaca, melemparkan tatapan malasnya pada wanita yang telah mendampinginya selama tiga tahun terakhir ini.
          “Tidak bisakah ?” tanya Ji Young lirih, mengerti tatapan Kyu Hyun yang kurang bersahabat. Hatinya kembali sakit karena Kyu Hyun kembali mengabaikannya.
          “Aku sangat sibuk. Aku harus syuting radio star, promosi mini album baruku dan aktivitas bersama hyeongdeul di Super Junior. Harusnya kau bisa mengerti sebagai seorang istri. Waktu istirahat saja sulit sampai aku menjelang enlistment. Lagipula eomma rindunya dengan Hyun Jin bukan denganku, kan bisa kau saja yang menemaninya kesana. Jika eomma rindu denganku, katakan untuk menelponku saja.”
          Lalu Kyu Hyun keluar kamar begitu saja. Mungkin untuk sarapan ? molla. Ji Young, wanita yang dinikahi Kyu Hyun Super Junior secara diam – diam itu hanya mampu menghela napas. Ia mengusap matanya yang sudah berkaca – kaca. Ji Young turun dari ranjang, ia mendekati jendela kamar dan membukanya. Dibiarkannya udara musim dingin di awal Desember menerpa kulit putihnya.
          “Aku takut,” angin bertiup lebih kencang dan bola – bola kecil salju mulai berjatuhan dari langit. Ji Young mendongak, mengulurkan tangan kanannya keluar jendela hingga butiran salju berjatuhan di atas telapak tangannya.
          “Sikapmu lebih dingin dari salju ini, tatapan lebih menusuk daripada pisau yang tajam, berada di sekitarmu seperti berada dalam badai salju. Membuatku menggigil ketakutan, sendirian.”
***


          “Halmeoni.” Hyun Jin sungguh anak yang hiperaktif, hingga terkadang membuatku takut ia akan terluka jika aku tak disampingnya.
          “Hati – hati Hyun Jin-ah, jalannya licin tertutup salju.” Ck, dia sangat mirip Kyu Hyun yang keras kepala. Dengan senyum lebar bocah dua tahun itu terus berlari menghampiri eommonim yang sudah merentangkan tangannya lebar – lebar.
          Hupp
          Hyun Jin langsung terkikik saat eommonim menggendongnya dan menciumi wajahnya yang gembul dengan gemas.
          “Kyu Hyun eoddi ?” Aku memberi salam  pada eommonim dan tersenyum secerah mungkin meski bibirku terasa kaku.
          “Kyu Hyun Oppa ada kerjaan eomma, ia bilang hingga menjelang masa enlistment-nya ia akan benar – benar sibuk.” Eommonim menurunkan Hyun Jin dari gendongannya dan menarik tanganku masuk.
          Hatiku kembali sakit saat eommonim memandanganku dengan kasihan. Aku, aku merasa gagal menjadi seorang istri. Sangat memalukan.
***
          Dengan kegugupan aku menekan apartement di lantai 11 yang menjadi dorm Super Junior. Sekitar dua menit, tidak ada tanda – tanda akan dibuka. Apakah aku harus ke lantai atas ? mungkin disana ada orang. Kutekan sekali lagi.
          “Ji Young-ah.”
          “Annyeonghasaeyeo Oppa.”
          “Masuklah,” aku pun mengikuti Ryeo Wook Oppa dan duduk ruang tengah. Disana ada Yesung Oppa yang tengah menonton TV.
          “Apa Kyu Hyun belum sampai rumah ?” aku menggeleng mendapat pertanyaan dari Yesung Oppa sedetik setelah aku duduk di sampingnya.
          “Minumlah, kebetulan aku membuat teh. Udara sangat dingin diluar, harusnya kau menunggu Kyu Hyun di rumah saja. Sepertinya Kyu Hyun mampir kesuatu tempat dulu sebelum pulang.” Aku menerima cangkir teh yang disodorkan Ryeo Wook Oppa sambil bergumam terima kasih.
          Kuhabiskan hingga tersisa seperempatnya lalu diletakkan cangkir teh di meja. “Sebenarnya Hyun Jin demam setelah pulang dari rumah eommonim. Oppa tahukan anak itu sangat manja dengan appa-nya saat sakit. Sampai sekarang Hyun Jin belum mau minum obatnya, aku takut kalau Kyu Hyun Oppa menginap di dorm, makanya aku kemari.”
          “Tidak mencoba menghubungi ponselnya ?” aku menggelengkan kepala lemah.
          “Tidak aktif.”
          “Oh, Ji Young-ah. Kau disini ? lalu yang aku lihat dengan Kyu Hyun itu siapa ?” aku mendongak menatap Hee Chul Oppa yang ikut duduk di sini.
          “Eoddi ?”
          “Cafe sebrang kantor agency. Dari belakang itu seperti dirimu, ah Kyu Hyun tidak bilang apa – apa padamu ? aneh sekali.”
          Aku meraih tasku dan berdiri,”aku pergi dulu Oppa, gomapta Oppa.”
***
Author POV
          “Victoria Song.” Gumam Ji Young dari luar cafe. “Bahkan dari sini terlihat sangat jelas.” Air matanya kini benar – benar meleleh ditemani angin musim dingin yang kejam menerpa tubuhnya.
          Suamimu, bayangkan jika itu suamimu yang sangat kau cintai tengah memeluk wanita lain yang tidak memiliki hubungan darah apa – apa. Victoria menumpukan kepalanya pada bahu Kyu Hyun, sedangkan namja itu melingkarkan tangannya di punggung dan pinggang Victoria.
          Lama, sangat lama mereka dalam posisi seperti itu. Dan selama itu juga Ji Young menatap mereka dari luar cafe ditengah cuaca yang tidak bersahabat ini. Ji Young langsung menghapus air matanya kasar melihat Kyu Hyun melepaskan pelukannya dengan Victoria dan berjalan, sepertinya ke toilet.
          Dengan setengah berlari Ji Young mengejar Kyu Hyun, di depan pintu toilet Ji Young berhasil menahan lengan Kyu Hyun. Matanya Kyu Hyun menatap Ji Young kaget, kilat marah jelas ada disana. Kyu Hyun menarik lengan Ji Young dan menyeretnya ke toilet pria, membuka asal bilik toilet dan menghempaskan tubuh Ji Young dengan kasar ke sudut toilet. Perih dan sakit. Terluka dan merana. Ji Young sudah memantapkan hatinya untuk kembali mengecap semua perasaan yang ingin dibuangnya jauh – jauh, sakit hati.
          “Apa yang kau lakukan disini eoh ? bagaimana jika ada paparazzi hah ? atau kau sengaja mengikutiku ?” Ji Young terkekeh lirih, ia balas menatap nyalang Kyu Hyun. Ia tak ingin terus menjadi wanita yang menunggu jalan takdir bergulir, ia akan memilih sendiri takdir yang akan dijalaninya.
          “Aku punya seorang putra, dan putraku kini tengah sakit.” Ji Young memalingkan wajahnya menatap sekat bilik toilet.
          “Putraku itu sangat manja dengan ayahnya saat sakit, tapi aku tak tahu ayahnya sedang ada dimana. Kupikir karena ia mirip denganmu aku bisa membawamu pulang agar anakku mau minum obat dan segera sembuh. Tapi sepertinya kau begitu tak menyukai kehadiranku, jadi permintaan tolongku pun pasti kau tolak. Kalau begitu aku pergi dulu,” Ji Young kembali menatap mata Kyu Hyun tengah menatapnya dengan bingung.
          “-Kyu Hyun-ssi.” Ji Young membuka pintu kamar mandi dan lari keluar dari sana secepatnya.
          Sementara Kyu Hyun masih berada di dalam bilik, ia mengatur napas lalu keluar dari toilet, melupakan hasratnya untuk buang air kecil. Kyu Hyun menghampiri Victoria yang tengah menantinya.
          “Mianhae Vic, aku harus pulang.”
          “Tap-” Kyu Hyun sudah berada di luar cafe dan menghilang.
***
         “Eomma, appa eoddi ?” Ji Young mengusap rambut anaknya yang tengah demam hebat dengan sayang.
          “Appa sangat sibuk sayang. Sekarang minum obat dulu ya. Sirup rasa jeruk kesukaan Jin.” Bocah itu menggeleng, wajahnya memerah hebat karena demam. Ji Young mendesah bingung.
          Digenggamnya tangan kecil Hyun Jin seraya menatap putera semata wayangnya penuh kasih sayang. “Kalau Jin seperti ini terus, eomma akan membawa Jin ke rumah sakit dan di suntik dokter supaya sembuh.”
          “Cirreo! Jin anak baik, Jin benci lumah cakit.” Ji Young mengocok botol sirup dan membuka tutupnya, dituangnya cairan berwarna oraye itu dalam sendok takar hingga setengah.
          “Kalau begitu Jin harus minum sirupnya eotte ?” bocah itu mengangguk lemah. Ji Young pun membantu Hyun Jin untuk duduk dan menyuapkan sirup itu kedalam mulut anaknya, memastikan sirup itu tertelan anaknya. Diambilnya air putih yang ada di meja sebelah ranjang, Hyun Jin pun meminumnya dengan rakus.
          “Sekarang tidur ya sayang, anak eomma yang paling tampan.” Hyun Jin kembali berbaring dan terkekeh kecil, senang dipuji tampan oleh eomma.
          “Ne eomma.” Ji Young menepuk – nepuk Hyun Jin lembut, sambil bersenandung melantunkan lagu penghantar tidur. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, cukup sekali ia menggunakan cara ini. Ia tak suka menakuti putranya untuk melakukan sesuatu seperti ini, namun ia tak punya pilihan lain.
***
          Begitu keluar dari kamar Hyun Jin, Ji Young langsung bertatapan dengan Kyu Hyun. Ji Young membuang muka dan melewati Kyu Hyun begitu saja, ia membawa baskom berisi air untuk mengompres Hyun Jin tadi menuju dapur.
          “Bagaimana keadaan Hyun Jin ?” Ji Young berhenti, mereka saling membelakangi satu sama lain. Tidak ada yang berniat untuk berbalik.
          “Sedang tidur.” Singkat sekali, Ji Young kembali hendak melanjutkan langkahnya namun suara Kyu Hyun lagi – lagi menahannya.
          “Kau menidurkan bahkan sebelum ia minum obatnya hah ? kau sebut dirimu seorang ibu ?” dengan nada tajam Kyu Hyun mengatakannya. Ji Young meletakkan baskom berisi air di atas lantai begitu saja. Ia berbalik dan berjalan mendekati Kyu Hyun dengan cepat.
          Plakk
          Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Kyu Hyun. Namja itu menatap istrinya tak percaya, tanganya mengusap pipinya yang terasa panas.
          “Aku tak akan membiarkan anakku menahan sakit terlalu lama. Tidak akan kubiarkan anakku terus sakit hanya karena menunggu ayahnya yang sudah tak mengingatnya. Kau tenang saja, secara perlahan aku akan membuat Jin tidak bergantung lagi denganmu dalam hal apapun.”
          “Apa maksudmu ?” Ji Young menguatkan hatinya.
          “Kau sebut dirimu ayah ? jika ayahnya seperti dirimu ini lebih baik Jin tidak usah punya ayah.” Ji Young berbisik lirih dengan mata yang berkilat – kilat ingin menelan Kyu Hyun.
***
          Suara pintu yang dibuka kasar, lalu teriakan marah Kyu Hyun memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya di pagi buta ini.
“Apa yang kau lakukan disini ? kembali ke kamar sekarang juga.” Ji Young yang tengah duduk diatas ranjang di kamar tamu menatap malas Kyu Hyun, mengabaikan tatapan nyalang suaminya.
          “Untuk apa ? bukankah sudah jelas, atau kau tidak menangkap maksud ucapanku tadi ?” Amarah Kyu Hyun terkumpul berkali – kali lipat melihat istrinya menatapnya dengan senyum mengejek.
          “Sebenarnya ada apa denganmu Ji Young-ah ? aku seperti tak mengenalmu.” Kyu Hyun mendengus karena yang didapati hanya palingan wajah dari Ji Young.
          “Bukankah sebenarnya itu pertanyaanku ? kenapa jadi kau yang mengatakannya, sungguh lucu.” Ji Young berdiri, matanya menatap Kyu Hyun pedih.
          “Setahun belakangan ini, Jin hanya merasakan kehadiranku dariku. Kau-“ napas Ji Young terengah – engah karena emosi.
          “-Kau tak pernah ada untuk Hyun Jin ataupun untukku.”
          “Apa kau tak merasakannya ? kau meninggalkan kami berdua di jalan yang sempit dan menyesakkan. Jadi-,” Ji Young melirik sedikit tangan Kyu Hyun yang sudah mengepal kuat. Wajah Ji Young menjadi datar, matanya menggelap penuh tekad.
          “Mulai sekarang kau bebas berjalan kemana pun tujuanmu sendiri. Tak usah pedulikan kami lagi, aku dan Hyun Jin tak akan menahan tanganmu lagi.” Ji Young memutuskan kontak mata mereka, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya menyamping membelakangi Kyu Hyun.
          “Kau tidak bisa melakukan itu.” Kyu Hyun bersuara setelah sejenak keheningan menyelimuti mereka.
          “Kang Ji Young, kubilang kau tidak bisa melakukan itu.” Kyu Hyun berteriak penuh emosi. Ji Young menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
          “Jika kami terus bersamamu pada akhirnya pegangan tangan kami padamu akan kembali terlepas dan kau akan berjalan sendiri, menjauh dari kami.” Suara lirih Ji Young yang tengah menahan isakan menampar Kyu Hyun begitu keras.
          “Kau tak pernah menatap kami lagi, bahkan bayanganmu pun kami tak bisa menangkapnya. Kapan kau terakhir kali menggendong Hyun Jin ? Kapan terakhir kali kau mengusap rambutnya ? Kapan terakhir kali kau tersenyum untuk puteramu sendiri Kyu Hyun-ssi ? hiks. .” dan isakan itu akhirnya lolos juga memenuhi ruangan yang sunyi.
          “Kau terlalu cepat menghabiskan sarapan dan selalu pulang menjelang tengah malam, apakah ada waktu untuk puteramu selama ini ? hiks, kau kejam, kau sungguh kejam. Hiks. .”
          “Kenapa kau begitu menuntutku, kau tahu sendiri aku seorang pub-”
          “Public figure eh ? hahaha,” Ji Young tertawa hambar diantara isakannya.
          “Kau ingat saat dulu aku pernah bertanya bagaimana jika aku ingin melepaskan ikatan kita  kau menjawab aku akan mengganti ikatan yang baru, agar kau tetap bersamaku.” Tubuh Kyu Hyun terasa kaku mendengar ucapan Ji Young.
          “Dan saat aku bertanya jika aku mulai lelah dan kau tidak juga mengganti ikatan itu, apa aku boleh berhenti ?  kau hanya berkata tak mungkin itu terjadi, tapi selanjutnya kau berkata  jika berhenti akan menghentikan rasa sakit yang kuberikan padamu, maka kau berhenti. Dan saat ini aku lebih dari sekarat karena sakit itu.”
          Kyu Hyun tak menyahut, tapi matanya telah basah karena air matanya sendiri. Dia masih berdiri ditempat sedari masuk tadi. Menatap punggung istrinya yang bergetar karena tak kuasa menahan isak tangis.
          “Sekarang aku benar – benar harus berhenti, atau aku akan mati karena sakit ini.”
          “Keluarlah, tak perlu mengasihani aku.”
          Kyu Hyun berbalik, ia berjalan begitu lambat hingga mencapai pintu kamar. Kakinya terasa begitu berat untuk melangkah. Ia membuka pintu dan menutupnya kembali dengan suara sangat pelan. Tubuhnya merosot di depan pintu dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
***
          Kyu Hyun berbaring terlentang di ranjang sendirian. Tangan kanannya mengusap ruang kosong tempat biasanya Ji Young tidur. Di dini hari yang dingin, Kyu Hyun benar – benar merasa sendiri. Kesepian. Perasaannya kacau. Saat ini Kyu Hyun merasakan jarak yang telah dibuatnya tanpa sadar dengan Ji Young.
          Kyu Hyun memejamkan matanya yang terasa pedih. Kepalanya pening membuatnya tak nyaman. Kyu Hyun mengambil bantal yang biasa digunakan Ji Young dan memeluknya erat. Aroma parfum lili yang biasa digunakan Ji Young samar – samar merasuki indra penciumannya. Membuatnya nyaman dan akhirnya jatuh tertidur.
***
          “Ah, appa belum belangkat ?” Kyu Hyun tersenyum canggung akan pertanyaan putranya yang tengah menikmati buburnya dengan berantakan. Wajah Hyun Jin mulai tampak merona walau bibir bocah itu masih pucat.
          Ji Young ada disana. Memperhatikan Hyun Jin makan dengan seksama sambil membersihkan baju dan wajah Hyun Jin yang gelepotan bubur karena cara makannya yang berantakan.
          Kyu Hyun menghampiri keduanya, namun ia memilih berdiri di samping kursi sang anak. “Ingin appa suapi ?” Bocah gembul itu menggeleng imut.
          “Ani. Appa cibuk, kalau Jin manja nanti appa tambah cibuk. Jin kan laki – laki jadi halus mandili.” Hati Kyu Hyun melengos mendengarnya.
          “Ohh appa. Jin cudah bica minum obat cendiri cama eomma.” Saat itu Kyu Hyun saat, banyak hal yang telah ia lewatkan dari perkembangan puteranya. Ia telah berdiri terlalu jauh dari keluarganya.
          Karir membuatnya buka. Karir mengubahnya menjadi orang yang egois dan tidak peka. Karir membuatnya sekarang jatuh dalam jurang kesepian.
***
          Kyu Hyun membuka pintu kamar tamu sepelan mungkin. Ji Young ada disana, di dekat jendela memunggunginya. Ia melangkah pelan, tiga langkah dibelakang Ji Young, Kyu Hyun berhenti. Cukup lama mereka larut dengan perasaan masing – masing. Hingga Ji Young berbalik dan membentur tubuh Kyu Hyun.
         Ji Young tersentak, namun yang lebih mengagetkannya adalah Kyu Hyun merengkuhnya begitu kencang. Menangis di bahunya dengan tersedu – sedu, dengan menggumamkan kata maaf.
          “Jika aku berjalan menjauh dari kalian, lakukan apapun agar aku sadar dan berbalik untuk bersamamu lagi. Jangan menunggu, tapi pukul saja aku.”
          “Kajima, jebal.. Ji Young-ah.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar