The
Day We Felt The Distance
Cho Kyu Hyun || Kang Ji Young || Cho
Hyun Jin
Romance || Family || Hurts
“Oppa,
akhir bulan ini bisa kita mengunjungi eommanim di Daegu ? eommonim
menelpon, katanya beliau rindu, ingin bermain dengan Hyun Jin.” Cho Kyu Hyun.
Namja yang tengah sibuk rambutnya yang basah di depan kaca, melemparkan tatapan
malasnya pada wanita yang telah mendampinginya selama tiga tahun terakhir ini.
“Tidak
bisakah ?” tanya Ji Young lirih, mengerti tatapan Kyu Hyun yang kurang
bersahabat. Hatinya kembali sakit karena Kyu Hyun kembali mengabaikannya.
“Aku
sangat sibuk. Aku harus syuting radio star, promosi mini album baruku dan
aktivitas bersama hyeongdeul di Super Junior. Harusnya kau bisa mengerti
sebagai seorang istri. Waktu istirahat saja sulit sampai aku menjelang enlistment.
Lagipula eomma rindunya dengan Hyun Jin bukan denganku, kan bisa kau
saja yang menemaninya kesana. Jika eomma rindu denganku, katakan untuk
menelponku saja.”
Lalu
Kyu Hyun keluar kamar begitu saja. Mungkin untuk sarapan ? molla. Ji
Young, wanita yang dinikahi Kyu Hyun Super Junior secara diam – diam itu hanya
mampu menghela napas. Ia mengusap matanya yang sudah berkaca – kaca. Ji Young
turun dari ranjang, ia mendekati jendela kamar dan membukanya. Dibiarkannya
udara musim dingin di awal Desember menerpa kulit putihnya.
“Aku
takut,” angin bertiup lebih kencang dan bola – bola kecil salju mulai
berjatuhan dari langit. Ji Young mendongak, mengulurkan tangan kanannya keluar
jendela hingga butiran salju berjatuhan di atas telapak tangannya.
“Sikapmu
lebih dingin dari salju ini, tatapan lebih menusuk daripada pisau yang tajam,
berada di sekitarmu seperti berada dalam badai salju. Membuatku menggigil
ketakutan, sendirian.”
***
“Halmeoni.”
Hyun Jin sungguh anak yang hiperaktif, hingga terkadang membuatku takut ia akan
terluka jika aku tak disampingnya.
“Hati
– hati Hyun Jin-ah, jalannya licin tertutup salju.” Ck, dia sangat mirip
Kyu Hyun yang keras kepala. Dengan senyum lebar bocah dua tahun itu terus
berlari menghampiri eommonim yang sudah merentangkan tangannya lebar –
lebar.
Hupp
Hyun
Jin langsung terkikik saat eommonim menggendongnya dan menciumi wajahnya yang
gembul dengan gemas.
“Kyu
Hyun eoddi ?” Aku memberi salam
pada eommonim dan tersenyum secerah mungkin meski bibirku terasa kaku.
“Kyu
Hyun Oppa ada kerjaan eomma, ia bilang hingga menjelang masa enlistment-nya
ia akan benar – benar sibuk.” Eommonim menurunkan Hyun Jin dari gendongannya
dan menarik tanganku masuk.
Hatiku
kembali sakit saat eommonim memandanganku dengan kasihan. Aku, aku merasa gagal
menjadi seorang istri. Sangat memalukan.
***
Dengan
kegugupan aku menekan apartement di lantai 11 yang menjadi dorm Super Junior.
Sekitar dua menit, tidak ada tanda – tanda akan dibuka. Apakah aku harus ke
lantai atas ? mungkin disana ada orang. Kutekan sekali lagi.
“Ji
Young-ah.”
“Annyeonghasaeyeo
Oppa.”
“Masuklah,”
aku pun mengikuti Ryeo Wook Oppa dan duduk ruang tengah. Disana ada
Yesung Oppa yang tengah menonton TV.
“Apa
Kyu Hyun belum sampai rumah ?” aku menggeleng mendapat pertanyaan dari Yesung Oppa
sedetik setelah aku duduk di sampingnya.
“Minumlah,
kebetulan aku membuat teh. Udara sangat dingin diluar, harusnya kau menunggu
Kyu Hyun di rumah saja. Sepertinya Kyu Hyun mampir kesuatu tempat dulu sebelum
pulang.” Aku menerima cangkir teh yang disodorkan Ryeo Wook Oppa sambil
bergumam terima kasih.
Kuhabiskan
hingga tersisa seperempatnya lalu diletakkan cangkir teh di meja. “Sebenarnya
Hyun Jin demam setelah pulang dari rumah eommonim. Oppa tahukan
anak itu sangat manja dengan appa-nya saat sakit. Sampai sekarang Hyun Jin
belum mau minum obatnya, aku takut kalau Kyu Hyun Oppa menginap di dorm,
makanya aku kemari.”
“Tidak
mencoba menghubungi ponselnya ?” aku menggelengkan kepala lemah.
“Tidak
aktif.”
“Oh,
Ji Young-ah. Kau disini ? lalu yang aku lihat dengan Kyu Hyun itu siapa
?” aku mendongak menatap Hee Chul Oppa yang ikut duduk di sini.
“Eoddi
?”
“Cafe
sebrang kantor agency. Dari belakang itu seperti dirimu, ah Kyu Hyun tidak
bilang apa – apa padamu ? aneh sekali.”
Aku
meraih tasku dan berdiri,”aku pergi dulu Oppa, gomapta Oppa.”
***
Author POV
“Victoria
Song.” Gumam Ji Young dari luar cafe. “Bahkan dari sini terlihat sangat jelas.”
Air matanya kini benar – benar meleleh ditemani angin musim dingin yang kejam
menerpa tubuhnya.
Suamimu,
bayangkan jika itu suamimu yang sangat kau cintai tengah memeluk wanita lain
yang tidak memiliki hubungan darah apa – apa. Victoria menumpukan kepalanya
pada bahu Kyu Hyun, sedangkan namja itu melingkarkan tangannya di punggung dan
pinggang Victoria.
Lama,
sangat lama mereka dalam posisi seperti itu. Dan selama itu juga Ji Young
menatap mereka dari luar cafe ditengah cuaca yang tidak bersahabat ini. Ji
Young langsung menghapus air matanya kasar melihat Kyu Hyun melepaskan
pelukannya dengan Victoria dan berjalan, sepertinya ke toilet.
Dengan
setengah berlari Ji Young mengejar Kyu Hyun, di depan pintu toilet Ji Young
berhasil menahan lengan Kyu Hyun. Matanya Kyu Hyun menatap Ji Young kaget,
kilat marah jelas ada disana. Kyu Hyun menarik lengan Ji Young dan menyeretnya
ke toilet pria, membuka asal bilik toilet dan menghempaskan tubuh Ji Young
dengan kasar ke sudut toilet. Perih dan sakit. Terluka dan merana. Ji Young
sudah memantapkan hatinya untuk kembali mengecap semua perasaan yang ingin
dibuangnya jauh – jauh, sakit hati.
“Apa
yang kau lakukan disini eoh ? bagaimana jika ada paparazzi hah ? atau kau
sengaja mengikutiku ?” Ji Young terkekeh lirih, ia balas menatap nyalang Kyu
Hyun. Ia tak ingin terus menjadi wanita yang menunggu jalan takdir bergulir, ia
akan memilih sendiri takdir yang akan dijalaninya.
“Aku
punya seorang putra, dan putraku kini tengah sakit.” Ji Young memalingkan
wajahnya menatap sekat bilik toilet.
“Putraku
itu sangat manja dengan ayahnya saat sakit, tapi aku tak tahu ayahnya sedang
ada dimana. Kupikir karena ia mirip denganmu aku bisa membawamu pulang agar
anakku mau minum obat dan segera sembuh. Tapi sepertinya kau begitu tak
menyukai kehadiranku, jadi permintaan tolongku pun pasti kau tolak. Kalau
begitu aku pergi dulu,” Ji Young kembali menatap mata Kyu Hyun tengah
menatapnya dengan bingung.
“-Kyu
Hyun-ssi.” Ji Young membuka pintu kamar mandi dan lari keluar dari sana
secepatnya.
Sementara
Kyu Hyun masih berada di dalam bilik, ia mengatur napas lalu keluar dari
toilet, melupakan hasratnya untuk buang air kecil. Kyu Hyun menghampiri Victoria
yang tengah menantinya.
“Mianhae
Vic, aku harus pulang.”
“Tap-”
Kyu Hyun sudah berada di luar cafe dan menghilang.
***
“Eomma,
appa eoddi ?” Ji Young mengusap rambut anaknya yang tengah demam hebat
dengan sayang.
“Appa
sangat sibuk sayang. Sekarang minum obat dulu ya. Sirup rasa jeruk kesukaan
Jin.” Bocah itu menggeleng, wajahnya memerah hebat karena demam. Ji Young
mendesah bingung.
Digenggamnya
tangan kecil Hyun Jin seraya menatap putera semata wayangnya penuh kasih
sayang. “Kalau Jin seperti ini terus, eomma akan membawa Jin ke rumah sakit dan
di suntik dokter supaya sembuh.”
“Cirreo!
Jin anak baik, Jin benci lumah cakit.” Ji Young mengocok botol sirup dan
membuka tutupnya, dituangnya cairan berwarna oraye itu dalam sendok takar hingga
setengah.
“Kalau
begitu Jin harus minum sirupnya eotte ?” bocah itu mengangguk lemah. Ji
Young pun membantu Hyun Jin untuk duduk dan menyuapkan sirup itu kedalam mulut
anaknya, memastikan sirup itu tertelan anaknya. Diambilnya air putih yang ada
di meja sebelah ranjang, Hyun Jin pun meminumnya dengan rakus.
“Sekarang
tidur ya sayang, anak eomma yang paling tampan.” Hyun Jin kembali
berbaring dan terkekeh kecil, senang dipuji tampan oleh eomma.
“Ne
eomma.” Ji Young menepuk – nepuk Hyun Jin lembut, sambil bersenandung
melantunkan lagu penghantar tidur. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, cukup
sekali ia menggunakan cara ini. Ia tak suka menakuti putranya untuk melakukan
sesuatu seperti ini, namun ia tak punya pilihan lain.
***
Begitu
keluar dari kamar Hyun Jin, Ji Young langsung bertatapan dengan Kyu Hyun. Ji
Young membuang muka dan melewati Kyu Hyun begitu saja, ia membawa baskom berisi
air untuk mengompres Hyun Jin tadi menuju dapur.
“Bagaimana
keadaan Hyun Jin ?” Ji Young berhenti, mereka saling membelakangi satu sama
lain. Tidak ada yang berniat untuk berbalik.
“Sedang
tidur.” Singkat sekali, Ji Young kembali hendak melanjutkan langkahnya namun
suara Kyu Hyun lagi – lagi menahannya.
“Kau
menidurkan bahkan sebelum ia minum obatnya hah ? kau sebut dirimu seorang ibu
?” dengan nada tajam Kyu Hyun mengatakannya. Ji Young meletakkan baskom berisi
air di atas lantai begitu saja. Ia berbalik dan berjalan mendekati Kyu Hyun
dengan cepat.
Plakk
Sebuah
tamparan mengenai pipi kiri Kyu Hyun. Namja itu menatap istrinya tak percaya,
tanganya mengusap pipinya yang terasa panas.
“Aku
tak akan membiarkan anakku menahan sakit terlalu lama. Tidak akan kubiarkan
anakku terus sakit hanya karena menunggu ayahnya yang sudah tak mengingatnya.
Kau tenang saja, secara perlahan aku akan membuat Jin tidak bergantung lagi
denganmu dalam hal apapun.”
“Apa
maksudmu ?” Ji Young menguatkan hatinya.
“Kau
sebut dirimu ayah ? jika ayahnya seperti dirimu ini lebih baik Jin tidak usah
punya ayah.” Ji Young berbisik lirih dengan mata yang berkilat – kilat ingin
menelan Kyu Hyun.
***
Suara
pintu yang dibuka kasar, lalu teriakan marah Kyu Hyun memekakan telinga siapa
saja yang mendengarnya di pagi buta ini.
“Apa yang
kau lakukan disini ? kembali ke kamar sekarang juga.” Ji Young yang tengah
duduk diatas ranjang di kamar tamu menatap malas Kyu Hyun, mengabaikan tatapan
nyalang suaminya.
“Untuk
apa ? bukankah sudah jelas, atau kau tidak menangkap maksud ucapanku tadi ?”
Amarah Kyu Hyun terkumpul berkali – kali lipat melihat istrinya menatapnya
dengan senyum mengejek.
“Sebenarnya
ada apa denganmu Ji Young-ah ? aku seperti tak mengenalmu.” Kyu Hyun
mendengus karena yang didapati hanya palingan wajah dari Ji Young.
“Bukankah
sebenarnya itu pertanyaanku ? kenapa jadi kau yang mengatakannya, sungguh
lucu.” Ji Young berdiri, matanya menatap Kyu Hyun pedih.
“Setahun
belakangan ini, Jin hanya merasakan kehadiranku dariku. Kau-“ napas Ji Young
terengah – engah karena emosi.
“-Kau
tak pernah ada untuk Hyun Jin ataupun untukku.”
“Apa
kau tak merasakannya ? kau meninggalkan kami berdua di jalan yang sempit dan
menyesakkan. Jadi-,” Ji Young melirik sedikit tangan Kyu Hyun yang sudah
mengepal kuat. Wajah Ji Young menjadi datar, matanya menggelap penuh tekad.
“Mulai
sekarang kau bebas berjalan kemana pun tujuanmu sendiri. Tak usah pedulikan
kami lagi, aku dan Hyun Jin tak akan menahan tanganmu lagi.” Ji Young
memutuskan kontak mata mereka, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan
tubuhnya menyamping membelakangi Kyu Hyun.
“Kau
tidak bisa melakukan itu.” Kyu Hyun bersuara setelah sejenak keheningan
menyelimuti mereka.
“Kang
Ji Young, kubilang kau tidak bisa melakukan itu.” Kyu Hyun berteriak penuh
emosi. Ji Young menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
“Jika
kami terus bersamamu pada akhirnya pegangan tangan kami padamu akan kembali
terlepas dan kau akan berjalan sendiri, menjauh dari kami.” Suara lirih Ji
Young yang tengah menahan isakan menampar Kyu Hyun begitu keras.
“Kau
tak pernah menatap kami lagi, bahkan bayanganmu pun kami tak bisa menangkapnya.
Kapan kau terakhir kali menggendong Hyun Jin ? Kapan terakhir kali kau mengusap
rambutnya ? Kapan terakhir kali kau tersenyum untuk puteramu sendiri Kyu Hyun-ssi
? hiks. .” dan isakan itu akhirnya lolos juga memenuhi ruangan yang sunyi.
“Kau
terlalu cepat menghabiskan sarapan dan selalu pulang menjelang tengah malam,
apakah ada waktu untuk puteramu selama ini ? hiks, kau kejam, kau sungguh
kejam. Hiks. .”
“Kenapa
kau begitu menuntutku, kau tahu sendiri aku seorang pub-”
“Public
figure eh ? hahaha,” Ji Young tertawa hambar diantara isakannya.
“Kau
ingat saat dulu aku pernah bertanya bagaimana jika aku ingin melepaskan
ikatan kita kau menjawab aku akan
mengganti ikatan yang baru, agar kau tetap bersamaku.” Tubuh Kyu Hyun
terasa kaku mendengar ucapan Ji Young.
“Dan
saat aku bertanya jika aku mulai lelah dan kau tidak juga mengganti ikatan
itu, apa aku boleh berhenti ? kau
hanya berkata tak mungkin itu terjadi, tapi selanjutnya kau berkata jika berhenti akan menghentikan rasa sakit
yang kuberikan padamu, maka kau berhenti. Dan saat ini aku lebih dari
sekarat karena sakit itu.”
Kyu
Hyun tak menyahut, tapi matanya telah basah karena air matanya sendiri. Dia
masih berdiri ditempat sedari masuk tadi. Menatap punggung istrinya yang
bergetar karena tak kuasa menahan isak tangis.
“Sekarang
aku benar – benar harus berhenti, atau aku akan mati karena sakit ini.”
“Keluarlah,
tak perlu mengasihani aku.”
Kyu
Hyun berbalik, ia berjalan begitu lambat hingga mencapai pintu kamar. Kakinya
terasa begitu berat untuk melangkah. Ia membuka pintu dan menutupnya kembali
dengan suara sangat pelan. Tubuhnya merosot di depan pintu dengan air mata yang
mengalir dari kedua matanya.
***
Kyu
Hyun berbaring terlentang di ranjang sendirian. Tangan kanannya mengusap ruang
kosong tempat biasanya Ji Young tidur. Di dini hari yang dingin, Kyu Hyun benar
– benar merasa sendiri. Kesepian. Perasaannya kacau. Saat ini Kyu Hyun
merasakan jarak yang telah dibuatnya tanpa sadar dengan Ji Young.
Kyu
Hyun memejamkan matanya yang terasa pedih. Kepalanya pening membuatnya tak
nyaman. Kyu Hyun mengambil bantal yang biasa digunakan Ji Young dan memeluknya
erat. Aroma parfum lili yang biasa digunakan Ji Young samar – samar merasuki
indra penciumannya. Membuatnya nyaman dan akhirnya jatuh tertidur.
***
“Ah,
appa belum belangkat ?” Kyu Hyun tersenyum canggung akan pertanyaan
putranya yang tengah menikmati buburnya dengan berantakan. Wajah Hyun Jin mulai
tampak merona walau bibir bocah itu masih pucat.
Ji
Young ada disana. Memperhatikan Hyun Jin makan dengan seksama sambil
membersihkan baju dan wajah Hyun Jin yang gelepotan bubur karena cara makannya
yang berantakan.
Kyu
Hyun menghampiri keduanya, namun ia memilih berdiri di samping kursi sang anak.
“Ingin appa suapi ?” Bocah gembul itu menggeleng imut.
“Ani.
Appa cibuk, kalau Jin manja nanti appa tambah cibuk. Jin kan laki
– laki jadi halus mandili.” Hati Kyu Hyun melengos mendengarnya.
“Ohh
appa. Jin cudah bica minum obat cendiri cama eomma.” Saat itu Kyu
Hyun saat, banyak hal yang telah ia lewatkan dari perkembangan puteranya. Ia
telah berdiri terlalu jauh dari keluarganya.
Karir
membuatnya buka. Karir mengubahnya menjadi orang yang egois dan tidak peka.
Karir membuatnya sekarang jatuh dalam jurang kesepian.
***
Kyu
Hyun membuka pintu kamar tamu sepelan mungkin. Ji Young ada disana, di dekat
jendela memunggunginya. Ia melangkah pelan, tiga langkah dibelakang Ji Young,
Kyu Hyun berhenti. Cukup lama mereka larut dengan perasaan masing – masing.
Hingga Ji Young berbalik dan membentur tubuh Kyu Hyun.
Ji
Young tersentak, namun yang lebih mengagetkannya adalah Kyu Hyun merengkuhnya
begitu kencang. Menangis di bahunya dengan tersedu – sedu, dengan menggumamkan
kata maaf.
“Jika
aku berjalan menjauh dari kalian, lakukan apapun agar aku sadar dan berbalik
untuk bersamamu lagi. Jangan menunggu, tapi pukul saja aku.”
“Kajima,
jebal.. Ji Young-ah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar