1. Title : Love Note
2. Author : Fortunia Ryu
3. Casts : Kim Heechul, Kim Hyesoo, Choi Sungyoung. Super Junior’s member and other casts find by your self.
4. Genre : Family(ini pertama kalinya author bikin dengan genre utama ini#mian aneh#), Friendship, AU.
5. Lenght : Oneshoot
6. Rated : PG 15/PG 13
7. Disclaimer : Ini FF saya buat sambil ndengerin lagunya Ailee – Love note. Karena saya bingung mau pakai judul apa jadi saya pakai judul dari lagu itu. Story is Mine!!! Typo(s) anywhere. No Plagiat!! Mohon kritik dan sarannya. Ini FF khusus untuk lomba. Untuk Ryeowook Oppa, Leeteuk Oppa dan Heechul Oppa Saengil Chukha Hamnida. Bow.
Story......
Author POV
Seorang gadis cilik terus berlari di kantor sebuah perusahaan yang bergerak dibidang entertaiment diikuti beberapa orang dewasa yang mengejarnya. Sepertinya gadis itu berbakat untuk menjadi seorang atlit lari. Terbukti ia mampu membuat 4 bodyguard yang disewa abeoji tercintanya untuk menjaganya. Mungkin itu turunan dari sang eomma. Gadis cilik dengan tinggi sekitar 120 cm itu membuka knop pintu sebuah dilantai atas gedung tersebut. Tangan mungilnya menggapai daun pintu dengan sedikit berjinjit. Setelah terbuka, gadis itu langsung memeluk kaki jenjang abeojinya yang berdiri menghadap kota Seoul sesaat sebelum matahari terbenam dari ruangannya yang berdinding kaca.
“Abeoji” gadis itu menggoyangkan kaki abeoji-nya yang kini berada dalam dekapannya. Namun nampaknya usaha yeoja kecil itu belum memuahkan hasil.
“Abeoji, abeoji~” rengekan dari putri tunggalnya itu sepertinya berhasil menyadarkan direktur muda itu. Tangan halusnya melepaskan dekapan putrinya dari kakinya, ia berjongkok dan mengacak rambut putri tunggalnya gemas.
“Hyesoo-ya, kenapa kau bisa ada disini chagiya~ ?” bukannya menjawab bocah itu justru memeluk abeoji-nya, tangan kecilnya melingkar dileher abeojinya yang terkikik geli. Tingkah putrinya benar-benar mirip dengan mendiang istrinya.
“Hyesoo rindu abeoji. Bogoshipo~” ujar bocah cilik itu sambil menenggelamkan kepalanya dipundak abeojinya. Tak lama bocah itu melepaskan pelukannya dan menangkupkan pipi abeojinya dengan tangan kecilnya.
“Abeoji pulang dari Jepang tapi tidak langsung menemui Hyesoo malah berdiam diri disini menatap Sunshine. Ah~ jangan bilang abeoji lupa dengan oleh-oleh untuk Hyesoo makanya abeoji tidak pulang kerumah” namja itu-Heechul, terkikik geli mendengar ucapan putrinya, tangannya menurunkan kedua tangan putrinya dari pipinya yang kian hari makin tirus. Pria itu berdiri dan mengandeng tangan kanan putrinya dan mendudukannya diatas sofa berwarna coklat muda.
“Igo- semua boneka itu untuk putri abeoji yang paling cantik. Neomu yeppeo” tangan mungil itu mulai membuka satu per satu bag paper yang berada diatas meja rendah itu.
“Gomawo, abeoji paling baik” ucap Hyesoo menghentikan aktivitasnya. Sesaat bocah itu terlihat memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia bersuara.
“Uri chingudeul selalu menceritakan tentang eomma mereka disekolah, abeoji- sebenarnya seperti apa eomma ?” Heechul bingung harus seperti apa ia menjelaskan pada putrinya yang baru kelas 3 sekolah dasar. Ia melirik foto dirinya dan Sungyoung yang terletak diatas nakas kecil tak jauh dari sofa. Foto dengan nuansa musim gugur dibawah pohon ek, tempat dimana ia melamar Sungyoung untuk kedua kalinya. Heechul mengalihkan pandangan matanya menatap putrinya yang menunggunya memberi jawaban.
“Eomma-mu, dia adalah wanita sederhana. Abeoji jujur padamu bahwa eommamu bukan wanita yang cantik dimata abeoji. Tapi- Eommamu adalah wanita yang mengajari abeoji tentang ketulusan dan kasih sayang. Jika ada temanmu yang menanyakan bagaimana eomma-mu, katakan saja bahwa uri eomma adalah wanita yang paling tulus, wanita yang menyayangiku walau tak bisa disampingku, tapi kasih sayang eomma begitu besar padaku. Arratchi ?” bocah itu hanya mengangguk.
***
Lagi-lagi Hyesoo mendapati abeojinya termenung dibalkon rumah disaat senja. Ia melirik catatan kecil yang berada dalam gengamannya. Gadis yang kini hampir menginjak masa remaja itu tak sengaja menemukannya berada diatas tumpukan buku-buku yang diletakkan dilemari kamar yang baru ia tempati. Yeoja memutar badan lalu berlari kecil menuju kamarnya meninggalkan Heechul yang menatap Sunshine, namun pandangan matanya sarat akan kerinduan pada seseorang.
“Choi Sungyoung, uri yeoja~” ia mendongak. Mata dengan tatapan tajam itu berubah sendu. Menatap langit kemerahan disore hari.
“Apa kau dapat melihat dari sana putri kita sekarang sudah besar. Ia cantik sepertimu- hanya saja ia lebih beruntung darimu. Jantungnya normal young-ah, bukankah itu do’a yang selalu kau panjatkan saat mengandungnya dulu. Apa kau bahagia disana ? Apa kau sudah beraingkarnasi ? Seperti apa dirimu dalam kehidupanmu selanjutnya Young ? Hyesoo- ia sangat ingin mengenal eomma-nyaa. Apa yang harus aku katakan padanya ? Semakin besar sifatnya semakin mirip denganmu Young” matanya tiba-tiba memanas mengingat masa lalunya yang tak begitu- tak begitu nyaman untuk diingat.
***
Gadis berumur 12 tahun itu menyibak selimut dengan motif geometris. Ia beranjak dari ranjang empuknya menuju meja belajarnya. Tangannya menggapai laci meja belajarnya dan mengambil catatan yang membuatnya penasaran. Tangan mungilnya menyalakan lampu belajarnya. Rasa kantuknya menguap seketika saat mata bening dengan iris hitam legam itu menangkap nama Choi Sungyoung dipojok kanan bawah halaman pertama catatan kecil itu.
‘My Beloved Kim Heechul. Dialah oksigenku, dialah semangat hidupku, walau ia tak mengakuiku atapun tak menganggapku sebagai tunangannya. Gwaenchana. Aku yakin suatu saat nanti ia akan tulus mencintaiku. Walau aku akui bahwa diriku tak pantas sebanding dengannya’
Walau ia baru 12 tahun ia tahu maksud dari kalimat itu. Sepertinya drama yang ditontonnya setiap sore sedikit membantunya menelaah maksud dari catatan ini. Dapat ia simpulkan ini adalah buku yang ditulis eommanya.
“Bagaimana abeoji dulu ?” itulah yang ada dalam benaknya. Jari dengan kuku yang diberi warna biru muda itu membalik halaman selanjutnya. Disana ia menemukan foto seorang namja yang tak asing baginya.
“Uri abeoji. Ternyata memang tampan dari dulu” matanya tertuju pada catatan kecil dibawahnya.
‘06/11/2005 itulah saat ia debut dengan mereka. Sahabatnya yang sudah dianggap keluarganya. Aku sangat iri padanya, ia memiliki banyak teman yang mendukungnya. Sebentar lagi pasti banyak yeoja yang tergila-gila padanya. Mungkin aku akan semakin tersisihkan dari hatinya. Gwaenchana, asal ia bahagia. Neomu kyeopta’
“Hah- seperti didrama saja. Yang satu membenci yang satu mencintai setengah mati tapi akhirnya bersama. Ckckck- pasaran” jari lentik yeoja dengan hidung mancung dan kulit putih bersih itu kembali membuka membuka halaman demi halaman.
‘Dia menangisi kekasihnya yang meninggalkannya begitu saja. Yeoja kurang ajar itu meninggalkan Heechul oppa dan yang membuat hatiku begitu hancur adalah air mata Heechul oppa- ini pertama kalinya ia menangis untuk seorang wanita. Bukankah itu berarti Heechul oppa sangat mencintainya. Sebenatar lagi kami akan menikah- jikalau Heechul oppa tahu bahwa sebenarnya jatungku lemah apa yang akan ia lakukan ? Jikalau aku suatu saat pergi meninggalkannya untuk selamanya akankah ia menangis untukku ?’ 13/04/2007
‘Dia tak berubah, setelah pernikahan maupun sebelum pernikahan sama saja. Ia tak pernah menatapku. Namun pagi ini bolehkah aku sedikit berharap saat ia memakan masakan yang kubuatkan untuknya ? Tuhan, semoga harinya selalu menyenangkan, semoga kau selalu melindunginya. 17/07/2007’
‘Ia mulai berubah, entahlah aku tak tahu apa sebabnya. Hari ini ia mengajakku piknik. Saat dalam perjalanan, rasanya aku begitu lemas, aku tak sanggup berjalan lagi. Mungkin karena jantungku yang lemah. Aku tersentak kaget saat ia menggendongku dan kami memakan bekal yang kami bawa dibawah pohon ek. Ia melamarku untuk menjadi istrinya. Tentu saja aku bingung, bukankah selama ini aku sudah menjadi istrinya ? aku takkan pernah melupakan kata-katanya “Kau satu-satunya wanita yang dapat menyentuh hatiku dengan ketulusanmu. Kau tak lelah berdiri disampingku walau aku selalu mengacuhkanmu. Aku tak tahu mantra apa yang kau gunakan namun aku berjanji padamu secantik apapun wanita didunia ini hatiku akan tetap memilihmu. Kau- hanya dirimu yang mau memahamiku bukan menuntutku untuk mengerti dirimu. Sekarang aku ingin mengerti bagaimana dirimu, maukah kau menemaniku hingga aku tak mampu bernafas untuk melindungimu ?” Jika kau menjadi diriku apa yang akan kau katakan ? Aku hanya bungkam sampai ia memelukku dan aku mengangguk sama dalam dekapannya. Dia- sudah kubilang bukan ia pasti mau menerimaku. 24/09/2007’
“Takku sangka abeoji dapat merangkai kata-kata sebegitu romantisnya. Tapi kenapa abeoji begitu kaku dengan wanita-wanita cantik nan sexy yang berada disekitarnya. Sungguh tak bisa dipercaya” Hyesoo mendecak. Tangannya kembali membuka halaman demi halaman. Dia tersenyum sendiri, ternyata kedua orang tua-nya begitu romantis.
“Aku hamil tapi- aku takut. Aku tahu bagaimana keadaan fisikku. Jatung ini. Oppa, pasti tak akan lama aku bisa berada didekatmu. Namun aku rasa ini adil untukku. Aku sudah merasakan kebahagian didunia ini, mungkin Tuhan ingin orang lain juga merasakannya tak hanya aku. Lagi pula eommonim dan abeoji begitu menantikan kelahiran cucu mereka. Aku selalu memohon padamu Tuhan- semoga anak ini dapat menemani Heechul oppa dalam menjalani kehidupannya yang masih panjang. Semoga anak ini terlahir dengan normal agar ada yang dapat menghiburnya saat ia lelah. Setidaknya anak ini akan menjadi alasan untuk Heechul oppa terus menjalani hidupnya. Mungkin ada baiknya Heechul oppa dulu tak mencintaiku karena ia pasti tak akan merasa kehilangan. Aku menyesal membuatnya menatapku. 12/06/2008’
Dihalaman-halaman berikutnya masih berisi yang sama. Bagaimana keadaan kandungan Sungyoung, sikap Heechul yang begitu overprotective padanya. Sampai pada halaman dengan tulisan yang menggunakan warna biru muda.
‘Usianya kini sudah 9 bulan. Sebentar lagi ia akan melihat indahnya dunia ini, namun penuh dengan kekejaman. Eomma hanya ingin berpesan padamu jangan biarkan abeojimu merasa sendirian. Ia memang namja yang kuat tapi hatinya rapuh saat ia tak memiliki sandaran saat ia merasa lelah akan kehidupan yang dijalaninya. Jika eomma tak sempat melihat wajahmu walau hanya sekali namun eomma yakin kau pasti akan menjaga abeojimu dengan baik. Jaga dia untuk eomma. 15/02/2009’
Hyesoo mengambil pembatas buku dan menutupnya. Sudut matanya sedikit berair bukan karena kantuk. Tapi ia tak menyangka yang dipikirkan eomma disaat-saat terakhirnya adalah Abeojinya. Ia sadar bahwa abeojinya begitu mencintai eommanya. Ia kembali teringat saat Heechul mengatakan bahwa dirinya begitu mirip dengan eommanya.
“Eomma~, abeoji benar. Eomma adalah orang paling tulus di dunia ini. Bagaimana mungkin eomma lebih memilihku untuk tetap hidup dan mengorbankan nyawa eomma sendiri. Aku ingin bertemu eomma, sekali saja”
“Eomma~, apakah abeoji membenciku sehingga menitipkanku pada harabeoji dan halmeoni dan hanya menengokku saat hari libur saja eomma ?” yah memang benar, Hyesoo baru tinggal bersama Heechul saat Hyesoo masuk Junior high school. Kurang lebih baru 2 minggu.
Entah dorongan darimana Hyesoo melangkah mendekati jendela. Hyesoo menyibak gorden membuat cahaya bulan masuk ke kamarnya melalui celah-celah ventilasi udara. Tiba-tiba ada bayangan seorang yeoja dengan gaun putih panjang menatapnya sambil tersenyum manis. Angin malam membuat rambut hitam wanita itu berkibar berantakan. Tak lama bayangan itu kembali memudar.
“Eomma”
***
Saat jam istirahat tiba, Hyesoo berjalan riang menuju perpustakaan. Ia mengeluarkan buku catatan kecil eommanya. Duduk ditempat paling pojok yang menurutnya tenang. Ia kembali membaca buku catatan itu. Namun kali ini bukan cuharan hati eommanya. Hyesoo tersenyum kecil.
- Heechul oppa menyukai yeoja dengan kaki jenjang, itu berarti yeoja itu tinggi sedangkan aku pendek. Aku tidak termasuk.
- Heechul oppa menyukai yeoja yang berambut panjang dan menguncirnya agar lehernya terlihat. Itu berarti aku harus memanjangkan rambutku. Hwaiting!!
- Heechul oppa menyukai Kimchi, nasi goreng kimchi, nasi goreng beijing buatan Hangeng gege, bulgogi, dan makan yang tidak panas. Lidah Heechul oppa sangat sensitif, ia bisa merasakan maaknan yang kurang garam atau tidak. Aku harus bangun pagi saat aku sudah menjadi istrinya. Aku juga harus belajar memasak dengan Hangeng gege sepertinya.
- Heecul oppa tidak menyukai gadis-gadis yang menunjukan perut mereka. Hey, aku termasuk.
- Heechul oppa tidak menyukai anak kecil.
Hyesoo tercengang membacanya. Apa ini alasannya selama ia kecil abeojinya menitipkannya pada harabeojinya ? Molla. Hyesoo menggelengkan kepalanya cepat, jarinya kembali membuka halaman demi halaman membacanya dengan seksama.
Bisa dibilang tulisan yang berisi hal yang disuka ataupun tidak disukai Heechul tertulis semua disitu. Tebalnya hampir setelah buku catatan itu sendiri. Ck, Hyesoo berpikir ulang, Eommanya itu istri Abeoji-nya atau fans dari abeoji-nya ?
- Heechul oppa pernah mengatakan bahwa saat ulang tahunnya ia ingin merayakannya bersama member super junior yang lain. Walaupun mereka sudah menempuh jalan hidupnya masing-masing.
- Heechul oppa menyukai kue tart dengan buah strawberry atau cherry diatasnya dengan cream yang banyak.
- Heechul oppa pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin setiap hari menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya sambil minum teh hangat.
***
Heechul POV
Pagi ini ada yang berbeda. Itulah yang aku rasakan. Tak biasanya Hyesoo putri tunggalku itu bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan. Bocah itu, seperti eommanya. Keras kepala. ia kini dengan senyum polosnya melahap nasi gorengnya. Masakannya tak jauh berbeda dengan Sungyoung. Apakah karena ia putrinya ?
“Abeoji~” aku menaikkan sebelah alisku sambil meminum teh dari cangkir kecil yang ia buatkan.
“Mulai hari ini aku diantar abeoji ne ? Jebal~” ia menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Ck, bocah ini.
“Geurae, kkajja. Abeoji tak ingin terlambat” ucapku membuatnya tersenyum girang. Ternyata ia masih anak kecil. Sikapnya sama seperti dulu.
***
Aku tak tahu ada apa dengan Hyesoo. Tadi pagi ia yang membangunkanku dan membuatkanku sarapan. Sekarang ia memintaku untuk menemaninya jalan-jalan di pasar malam. Kenapa tidak bersama temannya saja, kenapa harus bersama abeojinya ? Apa ia tak malu. Ia bahkan hampir menginjak remaja.
“Abeoji~ igo, aku ingin boneka beruang itu” tangannya menunjuk kearah boneka beruang coklat dengan ukuran sedang disalah satu stand penjual. Aku mengangguk dan ia langsung menyeretku mendekat ke stand itu.
“Ahjumma, aku ingin boneka ini. Berapa ?” ahjumma penjual itu tersenyum ramah dan mengambilkan boneka yang digantung itu.
“10 ribu won ahgasshi” aku mengeluarkan dompetku dan mengambil uang untuk membayarnya, sedangkan boneka beruang itu sudah berada dalam dekapan Hyesoo. Aku tersenyum menatapnya begitu bahagia. Memang, aku tak begitu memperhatikannya. Aku hanya memenuhi kebutuhannya secara materi, namun aku paham ia pasti kurang akan kasih sayang.
“Apa nona itu yeojachingu anda ahgassi ? Ia terlihat masih begitu belia, tapi nampaknya kalian sangat serasi” aku hanya tersenyum sambil menatap Hyesoo yang sedang membeli permen kapas.
“Bukan ahjumma. Dia putriku” ahjumma penjual itu terlihat kaget. Aku permisi melewatinya dan menghampiri Hyesoo yang melambaikan tangannya menyuruhku mendekatinya. Ia menyodorkan permen kapas itu tapi aku hanya menggeleng ringan. Yah, aku dan Hyesoo sekarang berjalan menyusuri pasar malam ini. Ia persis seperti Sungyoung, mengingatnya ini seperti pertama kalinya aku mengajaknya jalan-jalan keluar.
“Hyesoo-ah!!”
“Ne, abeoji” tangannya terus mendekap boneka beruang yang tadi dibeli dan sesekali memakan permen kapasnya.
“Ini- seperti kencan pertama abeoji dan eommamu” ujarku sambil tersenyum.
“Aku tahu” aku menatapnya namun ia terlihat lebih tertarik menatap keramaian disini.
“Dari mana kau tahu ?”
“Abeoji aku ingin Bulgogi itu, kajja” ia terlihat kesusahan membawa boneka beruang yang cukup besar itu. Hingga aku mengambil alihnya lalu menggandengnya menuju penjual bulgogi.
***
“Kalian-”
“Saengil chukha hamnida uri Heechul” aku berbalik menatap putriku. Ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jeans biru dongker yang dipakainya.
“Igo- dari eomma abeoji. Aku tak sengaja menemukannya di kamar. Inisialnya H jadi kupikir itu untuk abeoji” matanya- mata Sungyoung. Mengapa aku merasa seperti berbicara dengan Sungyoung ?
“Hyesoo-ya, gomawo. Abeoji menyayangimu” aku memeluknya. Entah mengapa semakin ia tumbuh dalam dirinya sosok Sungyoung begitu kuat.
“Heechul-ah, kajja mulai acaranya” aku melepaskan pelukanku dan berbalik menatap tajam mereka satu per satu.
“Aish, kau itu tidak sabaran sekali Shindong-ah!! Lagi pula siapa yang menyuruh kalian datang kemari untuk merayakan ulang tahunku. Aku sendiri malah tak ingat” gerutuku sambil berjalan menuju sofa. Hah, lelahnya setelah berjalan-jalan dengan Hyesoo. Saat Hyesoo duduk disampingku aku menyandarkan kepalanya dipundakku. Ia pasti juga lelah.
“Sekarang tiup lilinya dulu Heechul-ah, setelah itu kita makan-makan dan minum soju sampai pagi. Bukankah sudah lama kita tak berkumpul seperti ini” aku mengangguk mendengar instruksi dari Leeteuk hyeong, Hyesoo menegakkan tubuhnya hingga ia tak bersandar pada bahuku lagi. Aku mencondongkan tubuhku untuk menium lilin.
“Hya kau mau apa Kim Heechul!!” aku mendesis sebal. Kenapa Donghae mengangkat kue tart dari atas meja dan menjauhkannya dariku.
Author POV
“Yak ikan!! Dasar tidak sopan” Heechul mendelik kesal pada Donghae karena ia tahu putrinya sudah beberapa kali menguap. Hyesoo memang tak pernah tidur larut malam, tapi kalaupun ia menyuruh Hyesoo tidur akan percuma gadis cilik itu masih ingin ikut merayakan ulang tahun abeojinya itu.
“Hyeong, sebelum tiup lilin kau harus membuat permintaan dulu” kali ini Eunhyuk yang bersuara.
“Aish, seperti anak kecil saja. Geurae” Heechul memejamkan matanya sedangkan Donghae kembali meletakkan kue tart dengan lilin berangka 37 tahun diatasnya.
‘Aku hanya ingin Hyesoo menjadi anak yang periang dan mudah bergaul sepertiku. Tapi aku ingin sifatnya seperti Sungyoung eomma-nya. Semoga Hyesoo tidak merasa kesepian karena hanya ada aku disampingnya. Semoga aku diberi umur panjang untuk dapat menjaganya. dan semoga Hyesoo tetap bisa tersenyum walau tanpa sosok eomma disampingnya. Dan terakhir semoga Sungyoung bahagia disana. Aku akan menjaga anak kita dengan baik’
Huft-
Tepuk tangan menggema dirumah mewah yang kini ramai itu. Potongan pertama kue itu hendak ia berikan pada putrinya namun saat ia menoleh yang ia dapati mata Hyesoo yang terpejam dengan kepala bersandar disandaran sofa. Ia meletakkan potongan kue itu diatas meja.
“Jangan kalian sentuh kue itu arra!!” semua manusia disitu mengangguk patuh. Potongan kedua Heechul tersenyum dan memberikannya pada namja berdarah China yang duduk disamping Siwon.
“Untuk sahabatku yang sudah lama tak jumpa, Hankyung-ah” ujar Heechul menatap namja itu. Namja yang mendengarkan keluh kesahnya selama ini.
“Gomawo Chullie”
“Ne, gomawo sudah mendengarkanku selama ini. Potongan ketiga untuk dongsaeng kesayanganku. Kibum-ah, semoga kariermu sebagai aktor semakin lancar. Cah! Sekarang kalian boleh makan. Aku keatas dulu”
Heechul menggendong Hyesoo menuju kamarnya dan merebahkan Hyesoo dengan hati-hati diatas ranjang. Ia menarik selimut sebatas dada lalu mengusap kening putrinya sayang.
“Jaljayo. Gomawo untuk hari ini” Heechul mengecup kening putrinya sebenar lalu mematikan lampu kamar Hyesoo sebelum akhirnya pergi.
***
“Hyeong, kau tahu- aku merasa sepertinya Heechul hyeong itu menganggap Hyesoo seperti Sungyoung. Apalagi sikap Hyesoo pada Heechul hyeong seperti sikap Sungyoung pada Heechul hyeong dulu” Heechul samar-samar mendengar pembicaraan member super junior diruang tengah. Ia tetap berdiri dibalik lemari untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Menurutku mungkin sikap Hyesoo yang manja pada Heechul hyeong itu karen Hyesoo tak memiliki eomma, jadi karena orang tua satu-satunya adalah Heechul hyeong jadi ia begitu manja pada Heechul hyeong” sahut Donghae menimpali ucapan Eunhyuk.
“Benar juga ucapan Donghae, Eunhyuk-ah kau terlalu berpikir yang aneh-aneh” sekarang uri Leader yang angkat bicara.
“Tapi hyeong. Bocah 12 tahun menghubungi Ryeowook pagi-pagi hanya untuk meminta Ryeowook mengajarinya memasak untuk ulang tahun ayahnya apa itu masuk akal ?” kini sang Evil magnae yang mengeluarkan pendapat.
“Aku tak tahu tapi yang jelas kasih sayang mereka hanya sebatas ayah dan anak. Karena aku merasakannya- saat abeoji meninggal aku begitu bergantung pada eomma dan tak ingin jauh dari eomma. Aku takut kehilangan eomma sampai-sampai aku menyuruh mereka pindah ke Seoul” semua orang diam. Bukan. Bukan karena ucapan Donghae, tapi karena Heechul berjalan menuju mereka. Heechul duduk diantara mereka namun suasana begitu kaku.
“Ekhm. Mari minum Heechul-ah, kau pasti merasa penat akan pekerjaanmu bukan ? Jadi sekarang kita minum-minum untuk menghilangkan stress” Hangeng menuangkan soju kegelas Heechul dan mengajaknya bersulang.
“Ayo minum” ujar Heechul membuat manusia disitu menghembuskan nafas lega. Heechul tak mendengar percakapan mereka itu artinya mereka selamat dari amukan manusia ini.
***
Diperpustakaan Hyesoo membuka buku catatan milik eommanya dihalaman yang masih kosong. Ia mengambil bolpoin warna hijau dari saku blazer miliknya. Gadis itu mulai tenggelam dalam dunianya.
‘Eomma~ satu keinginan eomma sudah aku wujudkan. Semalam abeoji terlihat senang akan kedatangan teman-temannya walaupun ia memasang muka jutek. Ckckck, apa abeoji memang seperti itu eomma. Sekarang aku sering melihat abeoji tersenyum saat memandang Sunshine dari balkon sambil minum teh. Sudah tak ada lagi mata sendunya. Aku mengerti mengapa abeoji menyukai Sunshine, karena Sunshine itu eomma- dan kata abeoji aku seperti bulan. Aku akan menggantikan eomma untuk berdiri disamping abeoji. Sekarang abeoji juga sering memperhatikanku eomma. Kami menyayangi Eomma’ – Kim Hyesoo
Nb : FF ini sudah di Post di FP.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar