1.
Title : Losing My Mine
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Cho Kyuhyun, Jung Hyeyoung
and other casts find by your self.
4.
Lenght : Oneshoot
5.
Rated : PG 15/T
6.
Genre : AU, Married Life, Hurt,
Angst (I Hope) and other up to reader.
7.
Disclaimer : Ini FF berasal dari khayalan saya
sebelum tidur jadinya aneh banget yah. Story is Mine!!! Typo(s) anywhere. No
plagiat.
Story....
Author POV
Seorang
yeoja membuka matanya yang terasa berat. Benar saja, bagaimana bisa ia
membersihkan dan merawat rumah dengan halamannya yang dihitung semuanya 20 x 25
m sendirian. Tidak terlalu besar untuk orang dengan kalangan ekonomi berasa
sepertinya tapi ingat!! Nyawa berusia 5 bulan di dalam perutnya itu perlu
dipertimbangkan.
Yeoja
itu duduk bersandar pada ranjang. Tangannya mengusap perutnya yang mulai tampak
membesar. Matanya menatap kosong kedepan. Disampingnya tak ada sang suami,
berarti dari semalam ia belum pulang. Yeoja itu mendesah berat, dulu ia
berpikir menikah dengan namja bermarga Cho itu adalah sebuah keputusan yang
tepat seperti sebuah anugerah dari Tuhan. Ia pikir ia akan bahagia disamping
namja Cho yang berprofesi sebagai seorang dokter diusianya yang masih muda itu.
Tapi nyatanya ? Tersenyum saja rasanya bibirnya begitu akku.
Tanpa terasa
air mata itu turun seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia bingung, dalam benaknya
hanya satu yang ia pikirkan. Bagaimana dengan nasib nyawa yang ada didalam
rahimnya kini. Ia tak ingin bayinya kekurangan kasih sayang dan figur seorang
‘ayah’.
***
Seorang
namja bernama lengkap Cho Kyuhyun itu tengah merapikan kemejanya. Ia
mengancingkan kancing dilengannya lalu merapikan kerah kemejanya menghadap
didepan cermin sebesar 1,5 dari tingginya.
“Oppa, kau baru saja pulang jam 8
dan kau pergi jam 12 siang. Apa kau tak lelah ? Walau kau seorang dokter kau
harus tetap istirahat. Dokter memang manusia yang bisa sakit tapi tidak lucukan
jika kau jatuh sakit hanya karena kau kurang istirahat” Hyeyoung, istri Kyuhyun
yang baru saja selesai merapikan tempat tidur mereka menghampiri Kyuhyun dengan
tas yang berisi perlengkapan Kyuhyun.
Tanpa
menyahut Kyuhyun meraih tasnya lalu berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun
dari hadapan Hyeyoung. Tanpa pamit atau setidaknya berkata terima kasih pada
yeoja yang sudah berusaha melayaninya selayaknya seorang istri. Yeoja itu hanya
bisa menundukan kepalanya sambil mengusap perutnya. Ketara seklai rauh sedih,
kecewa, cemas dan putus asa dari maniknya yang berlinang itu.
***
“Bagaimana perkembangannya Lee
Uisanim ?”Lee Uisanim, yang merupakan rekan kerja suaminya itu tersenyum
membuat Hyeyoung ikut tersenyum. ‘ini pasti sebuah perkembangan yang baik’
batin Hyeyoung.
“Kau sudah tidak merasa mual saat
makan itu sangat bagus. Dia sehat apa ia begitu aktif seperti perkiraanku ?”
Hyeyoung mengangguk semangat. Hyeyoung terus mengulum senyumnya mendengar
penjabaran dari dokter bernama Lee Donghae itu. Jarinya mengusap perutnya dari
luar pakaiannya seolah tengah mengusap sang jabang bayi sayang. Lihatlah betapa
bahagianya dia saat mendengar bagaimana keadaan bayi yang sedang dikandungnya.
Walau sang ‘appa’ tak mempedulikannya, bagaimana jika ‘appa’ dari sang jabang
bayi itu menerima dan mau menjaganya bersama-sama ?
“Jangan terlalu lelah, jangan
memikirkan hal-hal yang menguras pikiranmu. Jaga pola makan dan tetap rutin
mengonsumsi vitamin yang aku berikan” itulah pesan terakhir dari Donghae
sebelum Hyeyoung pamit pulang. Donghae mantap Hyeyoung yang menutup pintu
dengan perasaan sayang seperti pada adiknya sendiri, tapi setelah Hyeyoung tak
terlihat pandangan itu mengiba.
***
Donghae
masuk ke dalam ruangan Kyuhyun di Cheungwoon Jospital tanpa permisi dan
langsung berbaring di ranjang rumah sakit disamping meja kerja Kyuhyun dengan
tangan sebagai bantalnya. Ia memandang langit-langit yang dicat putih
menghiraukan tatapan Kyuhyun yang menatapnya seolah berkata ‘mau apa kau kemari
?’
“Kau tahu, dia baik-baik saja. Dia
sehat dan juga sangat aktif. Kata Hyeyoung disudah sering merasakan
perkembangannya seperti suka menendang-nedang didalam perutnya. Perkiraanku dia
laki-laki. Tapi mungkin dan aku harap ia mewarisi sifat ibunya daripada ayahnya
yang kaku” Kyuhyun langsung mengalihkan tatapannya dari Donghae yang kini
justru menatapnya. Kyuhyun tak ingin mendengar apapun dari mereka walau Donghae
selalu mengatakan tentang calon ‘anak’nya setelah Hyeyong memeriksakan
kandungannya.
“Mereka tak penting untukku. Jadi
berhenti membicarakan hal-hal tentang mereka karena itu seperti angin lalu
bagiku” kukuh Kyuhyun dengan ekspresi dinginnya membuat Donghae mendesah lemah.
“Tapi kau penting untuknya”
“Dan Daehee yang penting untukku”
“Berhentilah menjadi seperti ini Cho
Kyuhyun. Jangan terus menerus mengungkit-ungkit tentang Daehee ia sudah tenang.
Jangan membawanya dalam hal ini. Kau tahu sekarang ada orang yang lebih
membutuhkanmu daripada Daehee. Kuharap kau tidak egois” ujar Donghae dengan
emosi yang mulai tersulut. Ia tak ingin hidup Kyuhyun yang sudah ia anggap
seperti adiknya sendiri seperti ini. Daehee yeodongsaengnya yang sudah
meninggalkan dunia ini karena kecelakaan dan sejak itu hidup Kyuhyun mulai
berantakan. Ditambah anggapan Kyuhyun bahwa ia hanya bisa bahagia dan mencintai
yeodongsaengnya yang telah tiada.
“Bagiku mereka bukan siapa-siapaku
dan anak itu hanya sebuah kesalahan karena saat itu aku mabuk” Donghae berdiri
dihadapan Kyuhyun dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku jas putihnya.
“Kuharap kau sadar seharusnya yang
kau pikirkan adalah bagaimana membina rumah tangga yang baik dengan Hyeyoung
dan membahagiakan mereka. Dengan kau seperti ini Daehee tak akan kembali Cho
Kyuhyun. Daehee pernah mengatakan padaku, ia benci namja yang menyakiti hati
wanita, itu berarti orang itu juga menyakitinya karena dia juga seorang wanita.
Jangan terlalu egois Kyu”
***
Kyuhyun
memperhatikan Hyeyoung yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. Kyuhyun
bingung kenapa Hyeyoung masih tersenyum saat berhadapana dengannya ? Bahkan
hubungan mereka sangat buruk terlebih dirinya yang membuat benteng dihatinya
sendiri. Matanya tertuju pada pangan kiri Hyeyoung yang mengusap perutnya yang
membesar. Hyeyoung tampak bahagia eoh ? Tanpa Kyuhyun sadari terselip rasa
hangat yang membuat hatinya tenang. Sedetik kemudian Kyuhyun tersadar, ia
memejamkan mata lalu mengusap wajahnya kasar sambil menggeleng keras. ‘apa yang
kau pikirkan Cho Kyuhyun ?’
“Oppa, makanannya sudah siap”
Kyuhyun tersigap mendengar suara yang tak jauh darinya itu. Saat ia menurunkan
tangannya ia melihat Hyeyoung berdiri dihadapannya dengan mata yang menatapnya
khawatir.
“Oppa, kau baik-baik saja ?” Kyuhyun
mengangguk kaku mendengar suara lembut itu. Dengan cepat Kyuhyun bangkit dan
berjalan ke meja makan dengan sendirinya. Hyeyoung hanya menatap suaminya
bingung tapi ia tak mempedulikan kejanggalan itu. Biasanya ia harus membujuk
Kyuhyun sekuat tenaga agar Kyuhyun mau makan masakannya.
Hyeyoung
mengikuti Kyuhyun menuju meja makan. Dengan telaten wanita yang tengah
mengandung 7 bulan itu mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk Kyuhyun lalu
mengambil untuk dirinya sendiri. Kyuhyun menatap makanan yang ada dihadapannya
sejenak lalu mulai memakannya. Dari ekor matanya ia memperhatikan Hyeyoung yang
menyuapkan makanannya dengan semangat sambil terus tersenyum. ‘kandungannya
baik. Dia bisa melahirkan secara normal tanpa operasi’ Kyuhyun tanpa
sengaja mendengar ucapan Donghae saat Hyeyoung memeriksakan kandungannya di
rumah sakit tadi. Jadi karena itukah Hyeyoung terus tersenyum ?
***
Kyu,
aku terjebak macet tadi ada kecelakaan. Kata Park Uisanim ada pasienku yang
akan melahirkan, bisakan kau menggantikanku ? Dia ada diruang bersalin no 17
lantai 3. Tidak ada dokter yang kosong kecuali kau Kyu, Gomawo. Dengan cepat Kyuhyun meraih jas putih kebanggaannya lalu ia
berjalan cepat dari lantai 5 menuju lantai 3. Ia mengenakan masker putih sambil
berjalan hingga menutupi hidungnya.
Cekleettttttt
Deg.
Kyuhyun terpaku. Suara yang tengah merintih itu, wajah yang penuh peluh dan
menahan sakit itu. Hyeyoung. Jika salah seorang suster disana tidak
menyadarkannya ia pasti akan tetap terpaku diambang pintu. ‘jadi disinikah kau
sejak semalam eoh ?’ batin Kyuhyun.
Dengan
cepat walaupun ia bukan seorang dokter specialis kandungan atau semacamnya tapi
setidaknya ia tahu teknik dasar dalam persalinan. Terlebih yang terbaring
disana adalah istrinya. Hyeyoung terus meremas sprei putih itu untuk
melampiaskan rasa sakitnya. Melahirkan bukanlah hal yang mudah terlebih ini
adalah kelahiran pertamanya.
“Appeuda.. eh.. akh” suara seperti
itulah yang mengiringi lahirnya sosok mungil yang kini berada ditangannya.
Tubuh mungil itu penuh dengan bercak darah dan dengan tangan yang dilapisi
sarung tangan Kyuhyun menyentuh pipi mungil makhluk yang baru 3 menit yang lalu
melihat dunia ini.
“hoekk, oekk...” seorang suster
meminta bayi yang berada di tangan Kyuhyun untuk dibersihkan. Matanya menatap
wanita yang terbaring lemah dengan mata terpejam.
“Bayinya lucu sekali. Namja eoh ?
Sayangnya sepertinya yeoja itu kurang beruntung. Dari sore ia disini tidak ada
yang menjenguknya. Sepertinya rumah tangganya kurang harmonis, padahal ia
begitu baik dan menyenangkan” sayup-sayup ia mendengar percakapan 3 orang
suster yang tengah membersihkan ruangan ini. Mata Kyuhyun masih terpaku pada
wanita yang tengah memejamkan matanya diatas ranjang. Perlahan ia mendekat, ia
bisa melihat lelehan air mata yang membasahi pipi pucat itu. Kyuhyun meraih
tangan kanan Hyeyoung. Ia tersentak.
“Pindahkan keruang ICU. Denyut
nadinya melemah, ia pingsan dan ini bisa mengakibatkan pendarahan” petik
Kyuhyun membuat 3 suster yang ada disana tersigap. Dengan cepat mereka menarik
ranjang itu keluar dari ruang bersalin dengan Kyuhyun yang terlihat begitu
cemas.
***
Kyuhyun
menggendong putranya sambil membuat susu formula untuk putranya yang baru
berusia 4 hari itu. Ia menciumi bayi yang belum ia beri nama itu sebelum
memberikan botol susu formula itu pada putranya. Kyuhyun mendudukan dirinya di
kursi meja makan dengan tatapan yang fokus pada putranya. Senyum terus terukir
dibibirnya itu. Ia merasa bahagia, hanya itu yang ia tahu sekarang. Hyeyoung
sudah sadar dan keadaannya sudah lebih baik sekarang hanya saja tubuhnya masih
lemas. Kyuhyun memegangi botol susu itu sampi memainkan jarinya di kening,
hidung dan pipi bayi itu. Pipi gembul seperti dirinya saat kecil dulu dan mata
innocent dan berbinar seperti Hyeyoung.
***
Kyuhyun
meletakan tas kerja di meja rias. Ia duduk ditepi ranjang dan memandang
Hyeyoung yang terlihat kerepotan memakaikan putranya yang diberi nama Jong Hoon
karena bayi 2 bulan itu sibuk memainkan tangannya tak bisa diam. Kyuhyun
melangkah mendekati Hyeyoung dan berdiri disampingnya.
“Ada apa oppa ? Perlu sesuatu ?”
Kyuhyun meraih tangan mungil itu lalu memakaikan baju seperti kemeja itu pada
putranya yang tersenyum menatapnya. Hyeyoung memandang Kyuhyun dan Jong Hoon
bergantian sambil tersenyum. ‘mungkinkah ia bisa menerimaku dan Jong Hoon
sekarang ?’ batin Hyeyoung.
“Sebaiknya kau siapkan saja makan
malam” nada bicara yang masih terdengar datar itu menyadarkan Hyeyoung dan
Hyeyoung mengecup pipi putranya sebelum melangkah pergi untuk menyiapkan makan
malam.
***
Bugh dukkk
“oekk, hoekkk..” Kyuhyun tersigap
dan ia tersadar akan sesuatu. Ia mencampakan kertas berisi data pasiennya lalu
berlari menuju kamarnya disebelah ruangan ia menyimpan arsip-arsip penting
pasiennya.
Matanya
menangkap Hyeyoung yang tengah duduk dilantai dengan tangan yang memegangi
kepala Jong Hoon yang terlihat memar dan terus menangis. Dapat ia tarik
kesimpulan bahwa putranya yang usianya menginjak 7 bulan itu terjatuh dari atas
tempat tidur karena kelalaiannya. Hyeyoung mendongak dan matanya menatap Kyuhyun
yang berdiri tak jauh dari ambang pintu.
Kyuhyun
melangkah mendekati mereka lalu ia berjongkok disamping Hyeyoung. Tangannya
berusaha menyentuh kening putranya yang terlihat memar biru keunguan tapi
Hyeyoung menjauhkannya dan berdiri.
“Sini biar Jong Hoon aku yang obati”
ujar Kyuhyun dengan tangan yang meminta Hyeyoung menyerahkan Jong Hoon padanya.
“Mianhae seharusnya aku tak
memaksamu. Mianhae kau lanjutkan saja pekerjaanmu” Hyeyoung membungkukkan
badannya lalu ia berlalu dengan semakin menjauhnya tangisan Jong Hoon dari
indra pendengaran Kyuhyun.
“Bukan begitu. Bukan maksudku untuk
tak menjaganya sungguh, aku tak bermaksud” Kyuhyun menggeleng-gelengkan
kepalanya lemah. Ia merasa Hyeyoung begitu takut padanya kini. Ini hanya
kelelaiannya bukan karena ia tak mau menjaga putranya.
***
Hyeyoung
meletakan map berwarna coklat dihadapan Kyuhyun, ia sengaja memberikannya pada
Kyuhyun di rumah sakit tempat Kyuhyun bekerja. Didekapannya Cho Jung Hoon
menatap wajah sang ayah tanpa kedip. Bayi laki-laki itu menatap ayahnya dalam
diam dari dekapan sang ibu. Merasa Kyuhyun sama sekali tak melirik map coklat
yang dibawanya Hyeyoung berinisiatif membuka suara.
“Kyuhyun-ssi, Gamsahamnida atas
segalanya. Mianhae jika selama ini aku menganggu hidupmu. Sekali lagi maaf dan
terima kasih. Aku pergi, permisi” Hyeyoung bangkit dan berjalan meninggalkan
ruangan Kyuhyun, sementara Jung Hoon menolehkan kepalanya ingin menatap wajah
sang appa.
Dari
luar pintu ruangan Kyuhyun Hyeyoung mendesah lega. Walau rasa sakit itu ada tapi
ia merasa lega, pandangannya beralih pada Jong Hoon. Ia mengecup kening
putranya sayang. ‘eomma menyayangimu. Eomma tak ingin kau kecewa pada appa, dan
bukan maksud eomma memisahkan kalian sayang. Tapi eomma tak ingin kau
mengetahui appa yang tak pernah menginginkanmu. Eomma tak ingin kau merasa
kurang sayang’
***
Kyuhyun
menyandarkan tubuhnya dikursinya yang empuk. Pandangannya beralih pada map yang
diberikan oleh istrinya itu. Dengan tangan kirinya ia meraih map itu dan
membukanya. Matanya menatap cermat setiap kata yang tercantum disana. Setelah
selesai matanya menatap instansi yang berada pada kop lembaran surat itu.
Kyuhyun
meletakan surat itu begitu saja lalu ia berlari berharap bisa menemukan istri
dan anaknya yang 15 menit yang lalu keluar dari ruang kerjanya. Sampai
dihalaman depan ia tak menemukan sosok yang berusaha ditolak kehadirannya
dihatinya itu. Dengan gusar dokter itu berlari keparkiran dan masuk ke mobil
Renault Samsung hitamnya. Dalam hati ia berharap semuanya belum terlambat.
Tidak!! Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan jika semuanya harus berakhir
seperti ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya gusar berusaha menepis pikiran
negatifnya, hatinya diselimuti rasa takut hingga tanpa sadar mesin itu melaju
dengan kecepatan diatas 100 km/jam.
***
Dengan
deru napas yang tak beraturan Kyuhyun turun dari mobil dan membuka pintu rumah
dengan kunci otomatis. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan
yang berada dalam jarak pandangnya dari ambang pintu. Hanya beberapa detik
hingga ia berlari menuju kamarnya dan Hyeyoung didekat ruang keluarga. Ia
kemudian berlari menuju box bayi didekat tempat tidur mereka. Tidak ada Jong
Hoon disana. Kyuhyun membuka lemari dan tetesan air mata itu kembali mengalir.
Sudah tak ada harapan lagi.. Yah.. semuanya sudah berakhir sampai disini. Tubuh
dokter muda itu terasa lemas dan ia jatuh tertunduk dilantai yang dingin.
Semuanya sudah berakhir karena ego-nya sendiri. Kyuhyun tahu itu dan ia bingung
sekarang, bagaimana caranya untuk hidup menatap cahaya matahari esok ?
kyaaaaa perlu sequel thor,.
BalasHapuspdahal kyu udah mulai syang oo,. :O
Itu sequelnya udah ada. cek aja di list
HapusDAEBAK
BalasHapussuka banget ff nya sampe ikutan sakit hati :((
mampus lu kyu,,hahahha.. lagian ga enak banget ga di anggap,hhehee
BalasHapus#ditimbukin sparkyu q.hehe
lanjut eon q baca squel...
keren banget thor..
BalasHapusitu keputusan yang tepat di ambil oleh hyeyoung..percuma jadi istrinya tapi tak dianggap
sequel thor :)
BalasHapusdaebakk
yeeeee akhirnya ketemu juga , sudah pernah baca tapi lupa ada judulnya , T.T
BalasHapus