About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Minggu, 09 Maret 2014

(Oneshoot) Return In Spring [Sequel Losing My Mine] - Cho Kyu Hyun


1.        Title                      : Return in Spring [Sequel Losing My Mine]
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.        Casts                    : Cho Kyu Hyun, Hye Young, Jong Hoon
4.        Support                : Choi Jong Hyun [Teen Top], Lee Dong Hae [Super Junior] and Others.
5.        Genre                   : AU, Family, Romance, and others.
6.        Lenght                  : One Shoot.
7.        Rated                   : PG 13
8.        Disclaimer            : FF pertama semenjak dua bulan haitus karena beberapa hal. Story is Mine!! Typo(s) and No Bash. No Plagiat. Hope you like it!!


Summary                     :
“Perbedaan cinta pertama dan terakhir adalah cinta pertama membantumu tumbuh menjadi lebih dewasa dan cinta terakhir yang melengkapimu”
 

Author POV

            Musim semi tak terjadi secara serempak di Korea. Mulai bagian selatan hingga ke utara. Mungkin angin hangat musim semi sudah menyapa wilayah pulau Jeju dan kuncup-kuncup bunga Canola maupun Sakura mulai mekar disepanjang mata memandang, tapi angin dingin belum sepenuhnya beranjak dari Seoul.

Cho Kyu Hyun. Namja dengan jas putih ala dokter itu seperti biasa, disaat langit mulai sepenuhnya menghitam namja itu keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja. Wajah datar dan tanpa ekspresi yang selalu membuat Dong Hae khawatir. Entahlah, ia merasa perubahan sikap Kyu Hyun yang menjadi seperti orang apatis saja.

Kyu Hyun melajukan mobilnya menembus jalanan kota Seoul yang padat dengan laju sedang. Tak selang lama sekitar 10 menit ia menghentikan mobilnya disekitar sungai Han. Duduk diam menatap air sungai yang diterpa cahaya bulan purnama menjadi salah satu aktivitas rutinnya sekitar 4 tahun terakhir. Semenjak istrinya meninggalkannya. Istri ? Kyu Hyun bahkan ingin menertawakan dirinya sendiri. Sejak kapan ia menganggap Hye Young istrinya ? Walau diatas kertas ia masih sah sebagai suaminya, tapi nyatanya ? Hanya kesakitan yang ia berikan.

“Aku tahu ini salahku. Aku tahu ini karena aku yang keras kepala. Aku tahu ini karena aku yang selalu egois dan selalu berpikir akulah yang paling benar. Hye Young-ah, jika aku diberi satu kali kesempatan untuk bertemu denganmu, aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu. Sungguh. Ini murni dan aku tak bisa hidup dengan baik tanpamu Hye Young-ah.” Rintihan lirih itu lolos dari bibir Kyu Hyun. Dengan bersandar pada pohon sakura yang tumbuh disekitar aliran sungai. Jas putih dokternya cukup menghangatkan tubuh namja yang tengah memejamkan matanya itu, tapi hatinya terasa beku dan hampa. Seseorang yang bisa mengangatkan hatinya dan membuat jiwanya hidup dan perasaannya terasa nyaman.

“Dua kali aku kehilangan, kenapa kau begitu kejam padaku Tuhan ? Kapan Engkau membiarkan aku  terbebas dari rasa sesak ini. Ini labih menyakitkan dari ditikam belati tajam. Kapan ini akan berakhir ?” Mata Kyu Hyun sedikit terbuka. Terlihat jelas linangan air mata yang siap turun menyusuri lekuk wajahnya yang terlihat menyedihkan. Seperti mayat hidup. Tanpa tujuan hidup dan hanya mengikuti alur kehidupan seperti potongan kayu yang terombang-ambing oleh derasnya arus kehidupan.


***

            Bocah manis itu berlari ke kanan kiri jalan setapak membuat sang ibu yang berada berusaha meraih tangan mungil putranya terlihat kesusahan. Tangan mungil anak perempuan itu melambai keatas berusaha menggapai kupu-kupu dengan sayap yang didominasi warna biru yang sedari tadi menarik perhatiannya.

            “Jong Hoon sayang, jangan lari-lari lagi.” Hye Young hampir menyerah. Dengan napas yang mulai tersengal-sengal ia berhenti sejenak lalu kembali berlari mendekati putranya yang berhenti di dekat rumpun bunga mawar yang tumbuh di taman ini. Hye Young terpaku melihat putranya yang menatap kupu-kupu yang tadi kejarnya hinggap di atas kucup bunga mawar.

            “Jong Hoon menyukai kupu-kupu itu ?” Gerakan tangan mungil putranya terhenti di udara saat ia membuka suara. Bocah lugu berusia 5 tahun itu menoleh dan mengerjapkan matanya lucu menatap eommanya. “Memangnya kenapa eomma ?” Hye Young tersenyum lalu tangannya menuntun kepala putranya menatap kupu-kupu yang masih hingga di kucup mawar tadi. “Lihat baik-baik. Sayap kupu-kupu itu sangat tipis dan rapuh, jika Jong Hoon menangkap kupu-kupu itu sayapnya bisa rusak padahal kupu-kupu butuh sayapnya agar bisa terbang. Eotteokhae ? Apa Jong Hoon masih ingin menangkap kupu-kupu itu ?”

            Bocah itu mengerucut sebal. Ia sangat ingin menangkap kupu-kupu itu dan membawanya pulang. Ia ingin kupu-kupu itu tinggal dirumahnya dan menjadi teman tidurnya. “Tapi kupu-kupu itu tak selalu ada sebanyak ini setiap hari eomma. Hanya saat musim semi saja mereka banyak keluar. Jika Jong Hoon menangkap satu dan memeliharanya tidak masalah bukan ?” Mata Hye Young bertemu dengan beningnya mata putranya. Hye Young menghela napas sejenak, putranya memang bisa dibilang keras kepala ia tahu tak akan mudah membujuk putranya yang sudah menginginkan sesuatu.

            “Umumnya kupu-kupu itu bisa terbang bukan ?” Jong Hoon mengangguk. “Jika Jong Hoon menangkap kupu-kupu itu dan melukai sayapnya sehingga kupu-kupu itu tidak bisa terbang lagi bagaimana ?” Bocah mungil itu menggigit kuku jarinya sembari terlihat sedang berpikir.

            “Mungkin ia akan dijauhi teman-temannya karena ia tidak bisa terbang.” Sahut bocah itu. Nada ucapannya terdengar melunak membuat Hye Young menghela napas lega. “Dan ia tak bisa bermain seperti kupu-kupu yang lainnya.” Jong Hoon mengangguk lalu memeluk leher eommanya. Dengan sigap Hye Young menggendong putranya untuk kembali ke rumah. Putra kecilnya sepertinya sudah cukup puas bermain di taman Hampyeong ini.

            “Lelah ?” bukannya menjawab putranya justru menyusupkan kepalanya diantara leher dan bahu Hye Young. Mencari posisi senyaman mungkin untuknya terlelap.


***

            “Eomma, Jong Hoon ingin bertanya. Boleh ?” Hye Young berhenti bercerita, ia menutup buku dongeng di tangannya lalu menatap putranya sayang. “Ada apa sayang ?” Manik hitam itu bergerak tak jelas. “Itu-” Hye Young mengusap pucuk kepala putranya yang sudah berbaring di atas ranjangnya. Matanya menatap putranya berusaha meyakinkan untuk mengatakan apa yang ada dibenak putranya.

            “Hah- kata Eun Young setiap anak memiliki orang tua. Mereka tinggal bersama dalam satu rumah, makan bersama, bercanda dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Setiap anak memiliki eomma dan appa. Jong Hoon bingung eomma, Jong Hyun Ahjussi mengatakan untuk menganggapnya appa Jong Hoon tapi Jong Hyun Ahjussi tidak tinggal dengan Jong Hoon dan Jong Hoon memanggilnya Ahjussi bukan appa. Jika Jong Hyun Ahjussi memang appa Jong Hoon seharusnya kita tinggal bersama dan Jong Hoon memanggilnya  Appa,” bocah itu berhenti sejanak. Sedari bercerita ia hanya menunduk, secara perlahan ia mengangkat wajahnya untuk melihat apakah eomma-nya marah saat ia akan menanyakan ini.

            “Jadi sebenarnya siapa Appa Jong Hoon ? Eun Young tidak mungkin berbohong pada Jong Hoon. Seonsaengnim juga bilang yang sama dengan Eun Young. Apa Jong Hoon memang hanya punya eomma saja ?” Hye Young hanya bisa terdiam. Untuk sesaat bahkan pergerakan tangannya yang mengusap pucuk kepala putranya terhenti. “Appa Jong Hoon,” Hye Young menatap putranya yang terlihat tengah menunggu jawaban darinya itu. “Ingat eomma hanya akan mengatakannya sekali ini saja.” Bocah itu mengangguk antusias. Ia mengeratkan pelukannya pada boneka Doraemon –tokoh kartun favoritenya selain Conan- yang tengah didekapnya.

            Appa Jong Hoon itu seorang dokter. Ia seorang dokter yang hebat. Banyak orang yang sakit yang ditolong Appa Jong Hoon. Appa Jong Hoon itu sangat sibuk dan appa ada ditempat yang jauh dari sini.” Hye Young berusaha tak memedulikan tatapan kurang puas dari putranya. “Seperti apa Appa Jong Hoon ? Kenapa Jong Hoon tak pernah bertemu dengan Appa ? Apa Appa sayang Jong Hoon seperti eomma ?” Pertanyaan terakhir yang terlontar dari bibir mungil putranya yang membuatnya tak berkutik.

            “Sudah malam, besok Jong Hoon harus sekolah. Nanti eomma akan ceritakan jika Jong Hoon sudah besar.” Bocah itu terlihat kecewa tapi ia tak ingin membuat eommanya pusing jadi ia memilih untuk memejamkan matanya.


***

            Kyu Hyun berjalan dengan langkah lamban di tengah makam. Tujuannya adalah makam seseorang yang pernah dan selamanya berarti dalam hidupnya. Walaupun dunia mereka telah berbeda, rasanya tak mungkin Kyu Hyun menutup kenangannya bersama orang itu.

            Annyeong. Dae Hee-ya, bagaimana keadaanmu disana ? Kuharap kau lebih baik daripada aku disini.” Kyu Hyun meletakkan sebuket bunga lili lalu ia berjongkok disamping pusara itu. Tangannya mengusap batu yang tertulis nama orang yang berada didalam sana. Ia menyingkirkan debu yang menempel hingga nama itu tercetak jelas disana.

            Lama ia terdiam disana hanya dengan duduk menunduk. Membiarkan angin musim semi yang cukup hangat menemani paginya disini. Terhitung sekitar 8 tahun sejak meninggalnya wanita yang berhasil mencuri perhatiannya untuk pertama kalinya. Membuatnya kacau hingga ia sempat berpikir bahwa ia tak akan jatuh cinta lagi tapi nyatanya ia salah besar. Dan ia lebih hampa, hancur dan berantakan sekarang.

            “Aku tak melarangmu mengunjungi makamnya tapi jangan pernah tampakan wajahmu yang seperti itu dihadapannya.” Kyu Hyun mendongak, ia tertawa sumbang sambil mengangguk. “Kau menakutkan Kyu.” Kyu Hyun terdiam mendengar komentar dari Hyeong orang yang menjadi cinta pertamanya.

            “Daripada kau disini akan lebih baik dan berguna jika kau mencari tahu tentang-”

            “Hasilnya tetap sama seperti 5 tahun yang lalu.” Cekat Kyu Hyun datar.

            Srett.
           
            Dong Hae merobek secarik kertas yang berisi tulisan dari buku note kecilnya. Ia menyodorkannya pada Kyu Hyun. “Datangi mereka. Buktikan kau menyesal tidak mengikuti saranku dan aku tak akan melarangmu kemari.” Kyu Hyun meraih kertas itu dengan senyum yang mengembang.

            Gomawo Hyeong.” Ujar Kyu Hyun sebelum ia beranjak meninggalkan area pemakaman. Sedangkan Dong Hae tersenyum dengan mata sendu. “Mianhae Oppa baru bisa mengabulkan permintaanmu sekarang. Oppa yakin wanita itu tepat untuk Kyu Hyun-mu. Kau rela bukan ?”


***

            Kyu Hyun turun dari mobilnya dengan langkah tergesa. Ia sedikit mengeryit heran melihat banyak tanaman di halaman rumah sederhana ini. Dan sebagian besar dari tanaman yang ada di sini adalah tanaman hias atau bunga. Kyu Hyun melangkah memasuki ruangan paling depan rumah yang menurut kertas yang diberikan Dong Hae adalah rumah Hye Young. Nihil. Ruang tamu itu kosong, tapi Kyu Hyun sempat melihat foto seorang balita yang tengah tersenyum memeluk boneka Doraemon.

            Chogiyo.” Seru Kyuhyun saat melihat keluar dari rumah Hye Young dan berpapasan dengan Jong Hyun. Sedikit curiga Jong Hyun berjalan mendekati Kyuhyun. Bukan apa-apa, tapi rasanya sedikit ganjil karena tadi saat ia mengambil bibit tanaman di gudang samping rumah ia tak melihat orang datang kemari.

            “Ada- yang bisa saya bantu tuan ?” Kyuhyun berdehem ia memasukan tangannya ke saku celananya. “Apa kau tahu dimana pemilik rumah ini sekarang ?” Jong Hyun mengeryitkan dahinya bingung. Kalau mau memesan karangan bunga kenapa harus bertemu dengan Hye Young ?

            “Memangnya Tuan ada urusan apa ? Mungkin saya bisa menyampaikannya pada Hye Young Noona nanti. Hye Young Noona sedang ada di Daegu sekarang, dia mungkin pulang seminggu lagi.” Kyu Hyun sedikit terkejut tapi ia berhasil mengontrol mimik wajahnya, kenapa Tuhan menyulitkannya bertemu dengan Hye Young ? Ah- tidak Cho Kyu Hyun, ini bukan karena Tuhan tak menyayangimu tapi karena Tuhan ingin mengujimu. Juga inilah balasan untukmu. Atas sikapmu dulu.

            “Ani, aku ingin mengatakannya sendiri karena ini tak bisa titipkan padamu. Ah, boleh aku minta nomer teleponnya saja ?” Jong Hyun mengangguk, sesekali ia mencuri pandang ke arah Kyu Hyun saat mencatatkan nomor telepon Hye Young pada secarik kertas. “Ige- ehkm tuan, maaf sebelumnya tapi perihal apa hingga tak kau titipkan saja biar aku yang sampaikan pada Hye Young Noona ?” Kyu Hyun terdiam, tak lama kemudian ia tersenyum simpul.

            “Ini perihal  Jong Hoon dan masa lalunya.”

***

            Jong Hyun mengangguk, pikirannya berkecambuk terus memikirkan Kyu Hyun dan apa hubungannya dengan Hye Young. Ya, Hye Young memang tak pernah membicarakan tentang masa lalunya. Lebih tepatnya tentang ayah dari Jong Hoon. Ia tak pernah mempermasalahkan itu tapi  tadi namja itu. Yang Jong Hyun pikirkan adalah apakah ia harus memberitahukan hal ini pada Hye Young atau tidak. Jika ia memberitahukan ini pada Hye Young ia takut ini akan menjadi beban pikiran Hye Young. Tapi bila ia tak memberitahukan ini pada Hye Young ia pikir ini hal yang cukup penting, terlebih menyangkut Jong Hoon.

***

            Eotteokkhae ?” Kyu Hyun tersenyum, senyum getir tapi cukup tenang. Ia menyanderkan tubuh bagian atasnya pada sandaran kursi di ruangan kerjanya. Sebenarnya perjalanan Seoul-Hampyeong-Seoul cukup melelahkan namun ia merasa tak bisa berlama – lama meninggalkan tugasnya sebagai seorang dokter. “Aku tak bertemu dengannya. Tapi aku bertemu salah seorang karyawan di tokonya. Sepertinya ia tangan kanan Hye Young karena saat itu toko bunga miliknya terlihat tutup.” Kyu Hyun memejamkan matanya sejenak lalu menatap Dong Hae yang duduk di ranjang biasa ia memeriksa pasien.

            “Setidaknya aku sudah menemukan tempat tinggalnya dimana. Kata orang itu Hye Young ada urusan di Daegu, mungkin kali ini aku harus meminta bantuan Eomma untuk mengirim beberapa orang untuk menjaga Hye Young sampai aku bertemu dengannya sendiri.” Dong Hae menatap Kyu Hyun dengan sebelah alis yang terangkat. “Kau yakin alamat itu benar – benar tempat tinggal Hye Young sekarang ? aku mendapatkan itu dari anak buahku, jadi aku sendiri tak yakin saat memberikannya padamu waktu itu. Karena kau terlihat sangat kacau maka kuputuskan untuk memberikannya. Memberimu sedikit harapan. Tapi bagaimana bisa kau yakin itu rumah Hye Young-mu ?” Kyu Hyun merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar foto dari sana. Lantas menetakkannya di atas meja, sehingga Dong Hae bisa melihatnya. “Aku masuk ke dalam rumahnya dan tak sengaja melihat itu. Kupikir mereka tidak akan curiga.” Dong Hae tersenyum. “Sepertinya putramu sangat mirip denganmu saat kecil. Tak kusangka kau masih bisa berpikir juga disaat seperti itu.”

            Pintu ruangan Kyu Hyun dibuka dengan tergesa, seorang perawat dengan napas tersenggal – senggal berkata, “ada korban kecelakaan lalu lintas uisanim, mereka di UGD. Salah seorang dari korban itu anak kecil, ia kekurangan banyak darah.”

***

            Kyu Hyun tertegum saat melihat anak kecil yang tak sadarkan diri dengan baju berlumuran darah di atas ranjang rawat. Ia dengan cekatan memerikasa tubuh kecil itu. “Napasnya lambat, denyut nadinya lemah. Apa golongan darah anak ini ?” tanya Kyu Hyun tanpa melepaskan tatapannya dari wajah anak itu. “B. Kata ibunya golongan darahnya B, tapi uisanim stok golongan darah B habis. Sedangkan golongan darah ibunya yang sekarang di ruang rawat itu A.” Jawab salah seorang perawat disana, Kyu Hyun mengangguk. “Panggilkan Lee Uisanim. Suruh dia menggantikanku sebentar. Aku akan mencari darah untuk anak ini.” seorang dari tiga perawat itu pergi dengan Kyu Hyun lalu mereka berjalan berlawanan arah. Kyu Hyun menuju lab sementara perawat itu menuju ruangan Dong Hae sesuai perintah Kyu Hyun.

            Kyu Hyun masuk ruangan itu dengan tergesa, ia menghampiri seorang perawat yang berjaga disana. “Ambil darahku dua kantong. Ppaliwa!” perawat itu menurut, tanpa banyak tanya ia menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Pikiran Kyu Hyun tak tenang. Jiwa seorang ayah yang mengkhawatirkan putranya tengah menguasainya. Terlebih ia tak pernah melihat anak itu tumbuh, tak pernah memberikan kasih sayang pada anak itu, tapi ia sangat menyayangi putra tunggalnya, dengan Hye Young.

            Saat nama itu terlintas ia baru sadar bahwa sejak mereka masuk rumah sakit ini ia belum melihat keadaan Hye Young. Hanya dari perawat yang bersamanya tadi ia mendengar Hye Young lebih baik daripada kondisi Jong Hoon. Putranya.

***

            Masa kritis Jong Hoon sudah lewat, namun anak yang biasanya hiperaktif itu hanya diam saja di atas ranjang tempat ia dirawat walau sudah sadar sejak 2 hari yang lalu. Terkadang anak itu mengeluhkan kakinya yang sakit saat ia mencoba untuk menggerakkannya. Tentu saja ia mengalami patah tulang ringan. Kyu Hyun masuk ke dalam ruang rawat putranya. Jong Hoon.  Ia tersenyum melihat putranya yang menatapi langit – langit kamarnya dirawat dengan tatapa kosong. Tentu saja bocah hiperaktif itu tengah dilanda kebosanan.

            “Halo Jong Hoon-ah.” Jong Hoon menoleh ke sumber suara. Senyum ceria khas anak – anak merekah di bibirnya melihat Kyu Hyun datang. “Annyeong Ahjussi.” Kyu Hyun menarik kursi di samping ranjang rawat Jong Hoon. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga dagunya sambil menatap wajah ceria putranya lekat – lekat. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap helaian lembut rambut putranya. “Kenapa ahjussi di sini ? Ahjussi tidak sibuk ? kata suster di sini ahjussi adalah uisa yang hebat jadi saat aku bertanya kenapa ahjussi tidak menemaniku di sini mereka bilang ahjussi sibuk menyembuhkan orang sakit.” Kyu Hyun mengulum senyumnya mendengar celotehan putranya. Seperti inikah rasanya memiliki buah hati ? Hye Young masih tinggal di satu negara yang sama dengannya tapi kenapa butuh waktu lima tahun untuk menemukan mereka ?

            “Ahjussi memang sedang tidak sibuk. Kau sendirian dimana eomma-mu ?” Hye Young sudah keluar dari rumah sakit ini sejak kemarin. Dan Kyu Hyun tahu Hye Young sibuk mengurus administrasi dan keperluan Jong Hoon lainnya. “Eomma sedang pergi membelikan baju ganti untukku. Aku tidak suka memakai baju rumah sakit terlalu lama. Semua baju ganti yang eomma bawa dari rumah sudah kotor semua.” Yah, dari cerita Jong Hoon mereka memang berencana ke Daegu karena ada urusan disana dan Jong Hoon merengek untuk melihat Seoul jadi mereka mampir ke Seoul setelahnya.

            “Kau bosan ?” Jong Hoon mengangguk lucu. “Apa yang membuaatmu tidak bosan lagi ?” Jong Hoon menatap kakinya lalu berkata, “aku biasanya bermain di kebun bunga milik eomma, menangkap kupu – kupu dan kumbang, main dengan Ji Hye, Dong Woon, Ji Young, Jung Jin, Tae Woo, Eun Young dan yang lainnya. Kadang membaca buku cerita atau saling bercerita dengan teman – temanku. Tapi aku paling suka saat bermain petak umpet di kebun belakang. Jadi kadang kami menginjak tanaman dan eomma marah, lalu Jong Hyun Ahjussi akan menengahi kami dan eomma tidak marah lagi. Aku tak bisa diam dan tak akan berhenti bermain sebelum matahari terbenam. Ia sering marah karena aku mandi saat malam hari tapi aku tahu eomma hanya khawatir aku jatuh sakit.”

            “Pasti sangat menyenangkan.” Timpal Kyu Hyun. “Benar tapi karena sekarang kakiku sakit aku bisa mati karena bosan. Ahjussi, ahjussi-kan dokter yang hebat. Bisa sembuhkan kakiku sekarang ? aku ingin pulang dan bertemu teman – teman dan bermain dengan mereka.” Lagi – lagi Kyu Hyun mengulum senyumnya, ia tersenyum hangat pada Jong Hoon. “Ahjussi bukan tuhan yang bisa menyembuhkan orang sakit dalam sekejap.  Ahjussi hanya membantu dan yang memberikan penyembuhan itu tuhan. Mengerti ? jadi jika Jong Hoon ingin cepat sembuh Jong Hoon harus mendengarkan kata – kata ahjussi dan rajin berdo’a pada tuhan.”

            “Jong Hoon-ah, Jong Hoon mau tidak menjadi anak ahjussi ?” mata bocah itu langsung berbinar. “Tentu saja Jong Hoon mau, Jong Hoon kan tidak punya appa.” Ucapnya lirih saat melafalkan kata ‘appa’. “Kalau begitu Jong Hoon sekarang punya appa. Coba panggil Ahjussi dengan appa sekarang.” Pintu Kyu Hyun. “APPA!!” petik Jong Hoon gembira, melihatnya Kyu Hyun terkekeh pelan.

***

            Hye Young terpaku saat membuka pintu ruangan seorang dokter. Ia lupa, dan benar – benar lupa. Jika ruangan ini adalah ruangan Kyu Hyun. Mantan suaminya. Ia pikir Kyu Hyun sudah tidak bekerja lagi di sini karena selama satu minggu ini ia berada di sini ia tak pernah melihat Kyu Hyun sekalipun. Awalnya ia berniat berterimakasih dan ingin pamit pada dokter yang telah merawat dan terkadang menemani putranya. Namun,

            “Mau sampai kapan kau berdiri di situ terus Hye Young-ah ?” dengan langkah kaku ia duduk di hadapan Kyu Hyun sekarang. Nyawanya masih separuh yang ada di tubuhnya sedangkah separuhnya terasa melayang – layang memikirkan kejadian beberapa hari terakhir. Ia tahu semuanya, Jong Hoon yang memanggil seorang dokter dengan sebutan ‘appa’. Tapi ia tidak mengira bahwa orang itu adalah Kyu Hyun. “Lama tak bertemu.” Sapa Kyu Hyun ramah, namun Hye Young masih bergeming tak bereaksi sedikitpun. Bahkan sejak masuk ke ruangan itu dirinya belum mengeluarkan sepatah katapun.

            “Aku akan pindah tugas di Hampyeong. Boleh aku tinggal bersama kalian. Ah, ini. Lihatlah.” Kyu Hyun meletakkan sebuah amplop coklat besar di atas meja. Hye Young meraihnya dengan gerakan tangan yang kaku. “Aku minta maaf. Sungguh. Tapi kita tak pernah bercerai dan setidaknya berikan aku  kesempatan kedua.” Kyu Hyun mengamati wajah Hye Young yang masih terpaku. Kyu Hyun mendesah lirih. “Baiklah setidaknya anggap kau menampungku setelah aku menyelamatkan Jong Hoon.” Hye Young tersadar, siapa yang mendonorkan darah untuk putranya itu.

            “Baiklah.” Ia tahu hati Hye Young masih sama lembutnya dengan dulu. Ia pasti tak akan tega. Dan setapa bodohnya-kah kau Cho Kyu Hyun menggoreskan luka sedalam itu pada wanita di hadapanmu ini. Rutuk Kyu Hyun dalam hati.

***

            Hari ini mereka berencana kembali ke Hampyeong, Jeollanam-ddo. Namun rencana mereka ditunda sebentar karena Kyu Hyun mengajak mereka untuk menikmati festival Yeuido. Kyu Hyun masuk ke ruang rawat Jong Hoon dan melihat Hye Young yang tengah merapikan baju – baju Jong Hoon dan memasukkannya ke dalam tas. Sementara putranya itu tengah jingkrak – jingkrak saking senangnya bebas dari rumah sakit. “Ayo.” Hye Young menoleh ke arah Kyu Hyun dengan canggung. Semenjak ia bicara sebatas kata ‘baiklah’ kemarin di ruangan Kyu Hyun ia belum bertemu dengan Kyu Hyun lagi. Berbeda dengan Hye Young, Jong Hoon langsung meraih tangan Kyu Hyun dan menyeretnya ke luar dari kamar berbau obat tersebut. Sementara Hye Young mengekor di belakang mereka.

            Dalam perjalanan terlihat Kyu Hyun dan Jong Hoon yang aktif berbicara, saling berceloteh dan bercanda. Sementara Hye Young hanya tersenyum sambil memangku putranya di samping Kyu Hyun yang tengah mengemudikan mobil. Ia sungguh merasa canggung. Setibanya di Yunjungno Avenue, berada di samping gedung National Assembly, terdapat sekitar 1400-an pohon sakura dengan bunga yang mekar sempurna. Kyu Hyun langsung menggandeng tangan Jong Hoon yang sudah hendak berlarian menyusuri jalanan yang cukup ramai dengan para pejalan kaki yang juga tengah menikamati suasana musim semi di sini. Kyu Hyun sedikit menoleh ke belakang, ia mengamati Hye Young yang sepertinya menjaga jarak dengannya. Ia mengaitkan jemarinya pada tangan Hye Young dan membuat Hye Young berjalan tepat di sampingnya. Hye Young menoleh ke arah Kyu Hyun, namja itu tahu apa arti tatapan Hye Young itu namun ia hanya membalasnya dengan tersenyum.

Festival Yeuido memang dimulai saat senja, namun selepas makan siang mereka berencana untuk pergi ke Hampyeong maka Kyu Hyun memutuskan untuk mengajak Jong Hoon dan Hye Young saat ini juga. Kyu Hyun dan Hye Young hanya duduk mengamati bunga sakura di sekeliling mereka sementara Jong Hoon bermain dengan sepatu roda yang dipinjamkan Kyu Hyun tak jauh dari tempat mereka duduk. Mata Hye Young terus mengawasi putranya itu. Sementara Jong Hoon sibuk ke sana ke mari dengan sepatu rodaa berwarna putih itu, menyusuri jalanan dengan riang. Bocah itu benar – baner tidak bisa diam rupanya.

            “Kau terlihat tak menikmati ini.” Hye Young menatap Kyu Hyun gugup. Tidak ia tak pernah membenci Kyu Hyun. Hanya saja ia ragu- ia tak ingin kembali jatuh. Tidak. Ia tak sanggup lagi. Kyu Hyun menautkan tangan mereka sementara tangannya yang lain bergerak mendorong kepala Hye Young agar bersandar di bahunya. “Maafkan aku, aku tak main – main kali ini. aku sadar bahwa sekarang aku- aku, tak bisa hidup lebih lama tanpamu. Aku mencintaimu. Sungguh.” Kyu Hyun menarik napas, ia  tahu Hye Young menegang dalam dekapannya. “Apa yang bisa membuatmu menerimaku lagi eoh ? Hye Young-ah, hanya dua nama wanita yang pernah merasuki hatiku. Pertama Daehee yang sekarang meninggalkanku. Dan yang kedua adalah kau. Aku tak sanggup jika kau meninggalkanku juga. Aku bisa dan tak mau hancur dua kali.” Mata Kyu Hyun mulai sembab, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

            “Aku tak memaksamu, tapi terimalah aku kembali sedikit demi sedikit dalam kehidupanmu lagi.” Kyu Hyun merogoh kantong sakunya. Ia memindahkan cincin putih itu dalam genggaman Hye Young. “Aku akan memakaikannya lagi saat kau sudah bisa menerimaku. Jika akhirnya kau tetap tidak bisa menerimaku setidaknya kau masih mau cincin kenangan itu semasa hidupmu.” Ya, cincin itu adalah cincin pernikahan mereka.

            Sejenak mereka terdiam, membiarkan hembusan angin hangat musim semi mengusap bagian kulit mereka yang terbuka. Hye Young menatapi cincin itu dalam, ia membuka genggaman tangannya. “Pakaikan.” Kyu Hyun tersentak. “Pakaikan.” Kyu Hyun menatap Hye Young lekat – lekat mencari tahu apa maksud wanita itu. “Aku, aku tak pernah mengeluarkanmu dari hidupku. Kau tetap orang yang aku cintai Cho Kyu Hyun. Selama ini.” Lirih Hye Young sambil menutup matanya tak ingin membalas tatapan Kyu Hyun. Walaupun demikian aku tetap merasa sakit. Batin Hye Young. “Tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Maaf jika aku tidak bisa langsung menerimamu ada di sekitarku dalam waktu yang singkat.” Kyu Hyun mengangguk, ia meraih cincin putih itu dan memakaikannya pada jari manis Hye Young. “Aku tahu. Walaupun kau tak mengatakannya luka itu pasti ada dan ijinkan aku menyembuhkan lukamu sedikit demi sedikit.” Hye Young menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kyu Hyun bukan lagi bersandar pada bahu tegap namja itu. Yah, begini lebih baik. Sedikit demi sedikit kau pasti bisa menghilangkan kesakitan yang pernah kau tolehkan pada hatinya itu Cho Kyu Hyun. Semangat Kyu Hyun dalam hati.

5 komentar:

  1. cerita squelnya happy ending,,, banyak pelajarannya.. di tungu eon ff lainnya semangat.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon dukungannya yah..
      Saya juga masih belajar

      Hapus
  2. woaah
    daebak
    senyum" sendiri bacanya thor :)
    ada kelanjutannya lagi ngga thor ?

    BalasHapus