1.
Title :
Return in Spring [Sequel Losing My Mine]
2.
Author :
Fortunia Ryu
3.
Casts :
Cho Kyu Hyun, Hye Young, Jong Hoon
4.
Support :
Choi Jong Hyun [Teen Top], Lee Dong Hae [Super Junior] and Others.
5.
Genre :
AU, Family, Romance, and others.
6.
Lenght :
One Shoot.
7.
Rated :
PG 13
8.
Disclaimer :
FF pertama semenjak dua bulan haitus karena beberapa hal. Story is Mine!!
Typo(s) and No Bash. No Plagiat. Hope you like it!!
Summary :
“Perbedaan cinta pertama dan terakhir adalah
cinta pertama membantumu tumbuh menjadi lebih dewasa dan cinta terakhir yang
melengkapimu”
Author POV
Musim
semi tak terjadi secara serempak di Korea. Mulai bagian selatan hingga ke
utara. Mungkin angin hangat musim semi sudah menyapa wilayah pulau Jeju dan
kuncup-kuncup bunga Canola maupun Sakura mulai mekar disepanjang
mata memandang, tapi angin dingin belum sepenuhnya beranjak dari Seoul.
Cho Kyu Hyun. Namja dengan jas
putih ala dokter itu seperti biasa, disaat langit mulai sepenuhnya menghitam
namja itu keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja. Wajah datar dan tanpa
ekspresi yang selalu membuat Dong Hae khawatir. Entahlah, ia merasa perubahan
sikap Kyu Hyun yang menjadi seperti orang apatis saja.
Kyu Hyun melajukan mobilnya
menembus jalanan kota Seoul yang padat dengan laju sedang. Tak selang lama
sekitar 10 menit ia menghentikan mobilnya disekitar sungai Han. Duduk diam
menatap air sungai yang diterpa cahaya bulan purnama menjadi salah satu
aktivitas rutinnya sekitar 4 tahun terakhir. Semenjak istrinya meninggalkannya.
Istri ? Kyu Hyun bahkan ingin menertawakan dirinya sendiri. Sejak kapan ia
menganggap Hye Young istrinya ? Walau diatas kertas ia masih sah sebagai
suaminya, tapi nyatanya ? Hanya kesakitan yang ia berikan.
“Aku tahu ini salahku. Aku tahu
ini karena aku yang keras kepala. Aku tahu ini karena aku yang selalu egois dan
selalu berpikir akulah yang paling benar. Hye Young-ah, jika aku diberi
satu kali kesempatan untuk bertemu denganmu, aku hanya ingin mengatakan aku
mencintaimu. Sungguh. Ini murni dan aku tak bisa hidup dengan baik tanpamu Hye
Young-ah.” Rintihan lirih itu lolos dari bibir Kyu Hyun. Dengan
bersandar pada pohon sakura yang tumbuh disekitar aliran sungai. Jas
putih dokternya cukup menghangatkan tubuh namja yang tengah memejamkan matanya
itu, tapi hatinya terasa beku dan hampa. Seseorang yang bisa mengangatkan
hatinya dan membuat jiwanya hidup dan perasaannya terasa nyaman.
“Dua kali aku kehilangan, kenapa
kau begitu kejam padaku Tuhan ? Kapan Engkau membiarkan aku terbebas dari rasa sesak ini. Ini labih
menyakitkan dari ditikam belati tajam. Kapan ini akan berakhir ?” Mata Kyu Hyun
sedikit terbuka. Terlihat jelas linangan air mata yang siap turun menyusuri
lekuk wajahnya yang terlihat menyedihkan. Seperti mayat hidup. Tanpa tujuan
hidup dan hanya mengikuti alur kehidupan seperti potongan kayu yang
terombang-ambing oleh derasnya arus kehidupan.
***
Bocah
manis itu berlari ke kanan kiri jalan setapak membuat sang ibu yang berada
berusaha meraih tangan mungil putranya terlihat kesusahan. Tangan mungil anak
perempuan itu melambai keatas berusaha menggapai kupu-kupu dengan sayap yang
didominasi warna biru yang sedari tadi menarik perhatiannya.
“Jong
Hoon sayang, jangan lari-lari lagi.” Hye Young hampir menyerah. Dengan napas
yang mulai tersengal-sengal ia berhenti sejenak lalu kembali berlari mendekati putranya
yang berhenti di dekat rumpun bunga mawar yang tumbuh di taman ini. Hye Young
terpaku melihat putranya yang menatap kupu-kupu yang tadi kejarnya hinggap di
atas kucup bunga mawar.
“Jong
Hoon menyukai kupu-kupu itu ?” Gerakan tangan mungil putranya terhenti di udara
saat ia membuka suara. Bocah lugu berusia 5 tahun itu menoleh dan mengerjapkan
matanya lucu menatap eommanya. “Memangnya kenapa eomma ?” Hye Young tersenyum
lalu tangannya menuntun kepala putranya menatap kupu-kupu yang masih hingga di
kucup mawar tadi. “Lihat baik-baik. Sayap kupu-kupu itu sangat tipis dan rapuh,
jika Jong Hoon menangkap kupu-kupu itu sayapnya bisa rusak padahal kupu-kupu
butuh sayapnya agar bisa terbang. Eotteokhae ? Apa Jong Hoon masih ingin
menangkap kupu-kupu itu ?”
Bocah
itu mengerucut sebal. Ia sangat ingin menangkap kupu-kupu itu dan membawanya
pulang. Ia ingin kupu-kupu itu tinggal dirumahnya dan menjadi teman tidurnya.
“Tapi kupu-kupu itu tak selalu ada sebanyak ini setiap hari eomma. Hanya saat
musim semi saja mereka banyak keluar. Jika Jong Hoon menangkap satu dan
memeliharanya tidak masalah bukan ?” Mata Hye Young bertemu dengan beningnya
mata putranya. Hye Young menghela napas sejenak, putranya memang bisa dibilang
keras kepala ia tahu tak akan mudah membujuk putranya yang sudah menginginkan
sesuatu.
“Umumnya
kupu-kupu itu bisa terbang bukan ?” Jong Hoon mengangguk. “Jika Jong Hoon
menangkap kupu-kupu itu dan melukai sayapnya sehingga kupu-kupu itu tidak bisa
terbang lagi bagaimana ?” Bocah mungil itu menggigit kuku jarinya sembari
terlihat sedang berpikir.
“Mungkin
ia akan dijauhi teman-temannya karena ia tidak bisa terbang.” Sahut bocah itu.
Nada ucapannya terdengar melunak membuat Hye Young menghela napas lega. “Dan ia
tak bisa bermain seperti kupu-kupu yang lainnya.” Jong Hoon mengangguk lalu
memeluk leher eommanya. Dengan sigap Hye Young menggendong putranya untuk
kembali ke rumah. Putra kecilnya sepertinya sudah cukup puas bermain di taman
Hampyeong ini.
“Lelah
?” bukannya menjawab putranya justru menyusupkan kepalanya diantara leher dan
bahu Hye Young. Mencari posisi senyaman mungkin untuknya terlelap.
***
“Eomma,
Jong Hoon ingin bertanya. Boleh ?” Hye Young berhenti bercerita, ia menutup
buku dongeng di tangannya lalu menatap putranya sayang. “Ada apa sayang ?”
Manik hitam itu bergerak tak jelas. “Itu-” Hye Young mengusap pucuk kepala putranya
yang sudah berbaring di atas ranjangnya. Matanya menatap putranya berusaha
meyakinkan untuk mengatakan apa yang ada dibenak putranya.
“Hah-
kata Eun Young setiap anak memiliki orang tua. Mereka tinggal bersama dalam
satu rumah, makan bersama, bercanda dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama.
Setiap anak memiliki eomma dan appa. Jong Hoon bingung eomma,
Jong Hyun Ahjussi mengatakan untuk menganggapnya appa Jong Hoon tapi Jong Hyun Ahjussi
tidak tinggal dengan Jong Hoon dan Jong Hoon memanggilnya Ahjussi bukan appa.
Jika Jong Hyun Ahjussi memang appa Jong Hoon seharusnya kita tinggal
bersama dan Jong Hoon memanggilnya Appa,”
bocah itu berhenti sejanak. Sedari bercerita ia hanya menunduk, secara perlahan
ia mengangkat wajahnya untuk melihat apakah eomma-nya marah saat ia akan
menanyakan ini.
“Jadi
sebenarnya siapa Appa Jong Hoon ? Eun Young tidak mungkin berbohong pada
Jong Hoon. Seonsaengnim juga bilang yang sama dengan Eun Young. Apa Jong
Hoon memang hanya punya eomma saja ?” Hye Young hanya bisa terdiam.
Untuk sesaat bahkan pergerakan tangannya yang mengusap pucuk kepala putranya
terhenti. “Appa Jong Hoon,” Hye Young menatap putranya yang terlihat
tengah menunggu jawaban darinya itu. “Ingat eomma hanya akan
mengatakannya sekali ini saja.” Bocah itu mengangguk antusias. Ia mengeratkan
pelukannya pada boneka Doraemon –tokoh kartun favoritenya selain Conan- yang
tengah didekapnya.
“Appa
Jong Hoon itu seorang dokter. Ia seorang dokter yang hebat. Banyak orang yang
sakit yang ditolong Appa Jong Hoon. Appa Jong Hoon itu sangat
sibuk dan appa ada ditempat yang jauh dari sini.” Hye Young berusaha tak
memedulikan tatapan kurang puas dari putranya. “Seperti apa Appa Jong
Hoon ? Kenapa Jong Hoon tak pernah bertemu dengan Appa ? Apa Appa
sayang Jong Hoon seperti eomma ?” Pertanyaan terakhir yang terlontar
dari bibir mungil putranya yang membuatnya tak berkutik.
“Sudah
malam, besok Jong Hoon harus sekolah. Nanti eomma akan ceritakan jika Jong
Hoon sudah besar.” Bocah itu terlihat kecewa tapi ia tak ingin membuat eommanya
pusing jadi ia memilih untuk memejamkan matanya.
***
Kyu
Hyun berjalan dengan langkah lamban di tengah makam. Tujuannya adalah makam
seseorang yang pernah dan selamanya berarti dalam hidupnya. Walaupun dunia
mereka telah berbeda, rasanya tak mungkin Kyu Hyun menutup kenangannya bersama
orang itu.
“Annyeong.
Dae Hee-ya, bagaimana keadaanmu disana ? Kuharap kau lebih baik daripada
aku disini.” Kyu Hyun meletakkan sebuket bunga lili lalu ia berjongkok
disamping pusara itu. Tangannya mengusap batu yang tertulis nama orang yang
berada didalam sana. Ia menyingkirkan debu yang menempel hingga nama itu
tercetak jelas disana.
Lama
ia terdiam disana hanya dengan duduk menunduk. Membiarkan angin musim semi yang
cukup hangat menemani paginya disini. Terhitung sekitar 8 tahun sejak
meninggalnya wanita yang berhasil mencuri perhatiannya untuk pertama kalinya.
Membuatnya kacau hingga ia sempat berpikir bahwa ia tak akan jatuh cinta lagi
tapi nyatanya ia salah besar. Dan ia lebih hampa, hancur dan berantakan
sekarang.
“Aku
tak melarangmu mengunjungi makamnya tapi jangan pernah tampakan wajahmu yang
seperti itu dihadapannya.” Kyu Hyun mendongak, ia tertawa sumbang sambil
mengangguk. “Kau menakutkan Kyu.” Kyu Hyun terdiam mendengar komentar dari
Hyeong orang yang menjadi cinta pertamanya.
“Daripada
kau disini akan lebih baik dan berguna jika kau mencari tahu tentang-”
“Hasilnya
tetap sama seperti 5 tahun yang lalu.” Cekat Kyu Hyun datar.
Srett.
Dong
Hae merobek secarik kertas yang berisi tulisan dari buku note kecilnya. Ia
menyodorkannya pada Kyu Hyun. “Datangi mereka. Buktikan kau menyesal tidak
mengikuti saranku dan aku tak akan melarangmu kemari.” Kyu Hyun meraih kertas
itu dengan senyum yang mengembang.
“Gomawo
Hyeong.” Ujar Kyu Hyun sebelum ia beranjak meninggalkan area pemakaman.
Sedangkan Dong Hae tersenyum dengan mata sendu. “Mianhae Oppa baru bisa
mengabulkan permintaanmu sekarang. Oppa yakin wanita itu tepat untuk Kyu
Hyun-mu. Kau rela bukan ?”
***
Kyu
Hyun turun dari mobilnya dengan langkah tergesa. Ia sedikit mengeryit heran
melihat banyak tanaman di halaman rumah sederhana ini. Dan sebagian besar dari
tanaman yang ada di sini adalah tanaman hias atau bunga. Kyu Hyun melangkah memasuki
ruangan paling depan rumah yang menurut kertas yang diberikan Dong Hae adalah
rumah Hye Young. Nihil. Ruang tamu itu kosong, tapi Kyu Hyun sempat melihat
foto seorang balita yang tengah tersenyum memeluk boneka Doraemon.
“Chogiyo.”
Seru Kyuhyun saat melihat keluar dari rumah Hye Young dan berpapasan dengan
Jong Hyun. Sedikit curiga Jong Hyun berjalan mendekati Kyuhyun. Bukan apa-apa,
tapi rasanya sedikit ganjil karena tadi saat ia mengambil bibit tanaman di
gudang samping rumah ia tak melihat orang datang kemari.
“Ada-
yang bisa saya bantu tuan ?” Kyuhyun berdehem ia memasukan tangannya ke saku
celananya. “Apa kau tahu dimana pemilik rumah ini sekarang ?” Jong Hyun
mengeryitkan dahinya bingung. Kalau mau memesan karangan bunga kenapa harus
bertemu dengan Hye Young ?
“Memangnya
Tuan ada urusan apa ? Mungkin saya bisa menyampaikannya pada Hye Young Noona
nanti. Hye Young Noona sedang ada di Daegu sekarang, dia mungkin pulang
seminggu lagi.” Kyu Hyun sedikit terkejut tapi ia berhasil mengontrol mimik
wajahnya, kenapa Tuhan menyulitkannya bertemu dengan Hye Young ? Ah- tidak Cho
Kyu Hyun, ini bukan karena Tuhan tak menyayangimu tapi karena Tuhan ingin
mengujimu. Juga inilah balasan untukmu. Atas sikapmu dulu.
“Ani,
aku ingin mengatakannya sendiri karena ini tak bisa titipkan padamu. Ah, boleh
aku minta nomer teleponnya saja ?” Jong Hyun mengangguk, sesekali ia mencuri
pandang ke arah Kyu Hyun saat mencatatkan nomor telepon Hye Young pada secarik
kertas. “Ige- ehkm tuan, maaf sebelumnya tapi perihal apa hingga tak kau
titipkan saja biar aku yang sampaikan pada Hye Young Noona ?” Kyu Hyun
terdiam, tak lama kemudian ia tersenyum simpul.
“Ini
perihal
Jong Hoon dan masa
lalunya.”
***
Jong
Hyun mengangguk, pikirannya berkecambuk terus memikirkan Kyu Hyun dan apa
hubungannya dengan Hye Young. Ya, Hye Young memang tak pernah membicarakan
tentang masa lalunya. Lebih tepatnya tentang ayah dari Jong Hoon. Ia tak pernah
mempermasalahkan itu tapi
tadi namja itu.
Yang Jong Hyun pikirkan adalah apakah ia harus memberitahukan hal ini pada Hye
Young atau tidak. Jika ia memberitahukan ini pada Hye Young ia takut ini akan
menjadi beban pikiran Hye Young. Tapi bila ia tak memberitahukan ini pada Hye
Young ia pikir ini hal yang cukup penting, terlebih menyangkut Jong Hoon.
***
“Eotteokkhae
?” Kyu Hyun tersenyum, senyum getir tapi cukup tenang. Ia menyanderkan tubuh
bagian atasnya pada sandaran kursi di ruangan kerjanya. Sebenarnya perjalanan
Seoul-Hampyeong-Seoul cukup melelahkan namun ia merasa tak bisa berlama – lama
meninggalkan tugasnya sebagai seorang dokter. “Aku tak bertemu dengannya. Tapi
aku bertemu salah seorang karyawan di tokonya. Sepertinya ia tangan kanan Hye
Young karena saat itu toko bunga miliknya terlihat tutup.” Kyu Hyun memejamkan
matanya sejenak lalu menatap Dong Hae yang duduk di ranjang biasa ia memeriksa
pasien.
“Setidaknya
aku sudah menemukan tempat tinggalnya dimana. Kata orang itu Hye Young ada
urusan di Daegu, mungkin kali ini aku harus meminta bantuan Eomma untuk
mengirim beberapa orang untuk menjaga Hye Young sampai aku bertemu dengannya
sendiri.” Dong Hae menatap Kyu Hyun dengan sebelah alis yang terangkat. “Kau
yakin alamat itu benar – benar tempat tinggal Hye Young sekarang ? aku
mendapatkan itu dari anak buahku, jadi aku sendiri tak yakin saat memberikannya
padamu waktu itu. Karena kau terlihat sangat kacau maka kuputuskan untuk
memberikannya. Memberimu sedikit harapan. Tapi bagaimana bisa kau yakin itu
rumah Hye Young-mu ?” Kyu Hyun merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan selembar
foto dari sana. Lantas menetakkannya di atas meja, sehingga Dong Hae bisa
melihatnya. “Aku masuk ke dalam rumahnya dan tak sengaja melihat itu. Kupikir
mereka tidak akan curiga.” Dong Hae tersenyum. “Sepertinya putramu sangat mirip
denganmu saat kecil. Tak kusangka kau masih bisa berpikir juga disaat seperti
itu.”
Pintu
ruangan Kyu Hyun dibuka dengan tergesa, seorang perawat dengan napas tersenggal
– senggal berkata, “ada korban kecelakaan lalu lintas uisanim, mereka di
UGD. Salah seorang dari korban itu anak kecil, ia kekurangan banyak darah.”
***
Kyu
Hyun tertegum saat melihat anak kecil yang tak sadarkan diri dengan baju
berlumuran darah di atas ranjang rawat. Ia dengan cekatan memerikasa tubuh
kecil itu. “Napasnya lambat, denyut nadinya lemah. Apa golongan darah anak ini
?” tanya Kyu Hyun tanpa melepaskan tatapannya dari wajah anak itu. “B. Kata
ibunya golongan darahnya B, tapi uisanim stok golongan darah B habis. Sedangkan
golongan darah ibunya yang sekarang di ruang rawat itu A.” Jawab salah seorang
perawat disana, Kyu Hyun mengangguk. “Panggilkan Lee Uisanim. Suruh dia
menggantikanku sebentar. Aku akan mencari darah untuk anak ini.” seorang dari
tiga perawat itu pergi dengan Kyu Hyun lalu mereka berjalan berlawanan arah.
Kyu Hyun menuju lab sementara perawat itu menuju ruangan Dong Hae sesuai
perintah Kyu Hyun.
Kyu
Hyun masuk ruangan itu dengan tergesa, ia menghampiri seorang perawat yang
berjaga disana. “Ambil darahku dua kantong. Ppaliwa!” perawat itu
menurut, tanpa banyak tanya ia menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Pikiran
Kyu Hyun tak tenang. Jiwa seorang ayah yang mengkhawatirkan putranya tengah
menguasainya. Terlebih ia tak pernah melihat anak itu tumbuh, tak pernah
memberikan kasih sayang pada anak itu, tapi ia sangat menyayangi putra
tunggalnya, dengan Hye Young.
Saat
nama itu terlintas ia baru sadar bahwa sejak mereka masuk rumah sakit ini ia
belum melihat keadaan Hye Young. Hanya dari perawat yang bersamanya tadi ia
mendengar Hye Young lebih baik daripada kondisi Jong Hoon. Putranya.
***
Masa
kritis Jong Hoon sudah lewat, namun anak yang biasanya hiperaktif itu hanya
diam saja di atas ranjang tempat ia dirawat walau sudah sadar sejak 2 hari yang
lalu. Terkadang anak itu mengeluhkan kakinya yang sakit saat ia mencoba untuk
menggerakkannya. Tentu saja ia mengalami patah tulang ringan. Kyu Hyun masuk ke
dalam ruang rawat putranya. Jong Hoon. Ia tersenyum melihat putranya yang menatapi
langit – langit kamarnya dirawat dengan tatapa kosong. Tentu saja bocah
hiperaktif itu tengah dilanda kebosanan.
“Halo
Jong Hoon-ah.” Jong Hoon menoleh ke sumber suara. Senyum ceria khas anak
– anak merekah di bibirnya melihat Kyu Hyun datang. “Annyeong Ahjussi.”
Kyu Hyun menarik kursi di samping ranjang rawat Jong Hoon. Tangan kirinya ia
gunakan untuk menyangga dagunya sambil menatap wajah ceria putranya lekat –
lekat. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap helaian lembut
rambut putranya. “Kenapa ahjussi di sini ? Ahjussi tidak sibuk ?
kata suster di sini ahjussi adalah uisa yang hebat jadi saat aku
bertanya kenapa ahjussi tidak menemaniku di sini mereka bilang ahjussi sibuk
menyembuhkan orang sakit.” Kyu Hyun mengulum senyumnya mendengar celotehan
putranya. Seperti inikah rasanya memiliki buah hati ? Hye Young masih tinggal
di satu negara yang sama dengannya tapi kenapa butuh waktu lima tahun untuk
menemukan mereka ?
“Ahjussi
memang sedang tidak sibuk. Kau sendirian dimana eomma-mu ?” Hye Young
sudah keluar dari rumah sakit ini sejak kemarin. Dan Kyu Hyun tahu Hye Young
sibuk mengurus administrasi dan keperluan Jong Hoon lainnya. “Eomma
sedang pergi membelikan baju ganti untukku. Aku tidak suka memakai baju rumah
sakit terlalu lama. Semua baju ganti yang eomma bawa dari rumah sudah
kotor semua.” Yah, dari cerita Jong Hoon mereka memang berencana ke Daegu
karena ada urusan disana dan Jong Hoon merengek untuk melihat Seoul jadi mereka
mampir ke Seoul setelahnya.
“Kau
bosan ?” Jong Hoon mengangguk lucu. “Apa yang membuaatmu tidak bosan lagi ?”
Jong Hoon menatap kakinya lalu berkata, “aku biasanya bermain di kebun bunga
milik eomma, menangkap kupu – kupu dan kumbang, main dengan Ji Hye, Dong
Woon, Ji Young, Jung Jin, Tae Woo, Eun Young dan yang lainnya. Kadang membaca
buku cerita atau saling bercerita dengan teman – temanku. Tapi aku paling suka
saat bermain petak umpet di kebun belakang. Jadi kadang kami menginjak tanaman
dan eomma marah, lalu Jong Hyun Ahjussi akan menengahi kami dan eomma
tidak marah lagi. Aku tak bisa diam dan tak akan berhenti bermain sebelum
matahari terbenam. Ia sering marah karena aku mandi saat malam hari tapi aku
tahu eomma hanya khawatir aku jatuh sakit.”
“Pasti
sangat menyenangkan.” Timpal Kyu Hyun. “Benar tapi karena sekarang kakiku sakit
aku bisa mati karena bosan. Ahjussi, ahjussi-kan dokter yang
hebat. Bisa sembuhkan kakiku sekarang ? aku ingin pulang dan bertemu teman –
teman dan bermain dengan mereka.” Lagi – lagi Kyu Hyun mengulum senyumnya, ia
tersenyum hangat pada Jong Hoon. “Ahjussi bukan tuhan yang bisa
menyembuhkan orang sakit dalam sekejap. Ahjussi
hanya membantu dan yang memberikan penyembuhan itu tuhan. Mengerti ? jadi jika
Jong Hoon ingin cepat sembuh Jong Hoon harus mendengarkan kata – kata ahjussi
dan rajin berdo’a pada tuhan.”
“Jong
Hoon-ah, Jong Hoon mau tidak menjadi anak ahjussi ?” mata bocah itu
langsung berbinar. “Tentu saja Jong Hoon mau, Jong Hoon kan tidak punya appa.”
Ucapnya lirih saat melafalkan kata ‘appa’. “Kalau begitu Jong Hoon sekarang
punya appa. Coba panggil Ahjussi dengan appa sekarang.”
Pintu Kyu Hyun. “APPA!!” petik Jong Hoon gembira, melihatnya Kyu Hyun
terkekeh pelan.
***
Hye
Young terpaku saat membuka pintu ruangan seorang dokter. Ia lupa, dan benar –
benar lupa. Jika ruangan ini adalah ruangan Kyu Hyun. Mantan suaminya. Ia pikir
Kyu Hyun sudah tidak bekerja lagi di sini karena selama satu minggu ini ia
berada di sini ia tak pernah melihat Kyu Hyun sekalipun. Awalnya ia berniat
berterimakasih dan ingin pamit pada dokter yang telah merawat dan terkadang
menemani putranya. Namun,
“Mau
sampai kapan kau berdiri di situ terus Hye Young-ah ?” dengan langkah
kaku ia duduk di hadapan Kyu Hyun sekarang. Nyawanya masih separuh yang ada di
tubuhnya sedangkah separuhnya terasa melayang – layang memikirkan kejadian
beberapa hari terakhir. Ia tahu semuanya, Jong Hoon yang memanggil seorang
dokter dengan sebutan ‘appa’. Tapi ia tidak mengira bahwa orang itu adalah Kyu
Hyun. “Lama tak bertemu.” Sapa Kyu Hyun ramah, namun Hye Young masih bergeming
tak bereaksi sedikitpun. Bahkan sejak masuk ke ruangan itu dirinya belum
mengeluarkan sepatah katapun.
“Aku
akan pindah tugas di Hampyeong. Boleh aku tinggal bersama kalian. Ah, ini.
Lihatlah.” Kyu Hyun meletakkan sebuah amplop coklat besar di atas meja. Hye
Young meraihnya dengan gerakan tangan yang kaku. “Aku minta maaf. Sungguh. Tapi
kita tak pernah bercerai dan setidaknya berikan aku
kesempatan kedua.”
Kyu Hyun mengamati wajah Hye Young yang masih terpaku. Kyu Hyun mendesah lirih.
“Baiklah setidaknya anggap kau menampungku setelah aku menyelamatkan Jong
Hoon.” Hye Young tersadar, siapa yang mendonorkan darah untuk putranya itu.
“Baiklah.”
Ia tahu hati Hye Young masih sama lembutnya dengan dulu. Ia pasti tak akan
tega. Dan setapa bodohnya-kah kau Cho Kyu Hyun menggoreskan luka sedalam itu
pada wanita di hadapanmu ini. Rutuk Kyu Hyun dalam hati.
***
Hari
ini mereka berencana kembali ke Hampyeong, Jeollanam-ddo. Namun rencana mereka
ditunda sebentar karena Kyu Hyun mengajak mereka untuk menikmati festival
Yeuido. Kyu Hyun masuk ke ruang rawat Jong Hoon dan melihat Hye Young yang
tengah merapikan baju – baju Jong Hoon dan memasukkannya ke dalam tas.
Sementara putranya itu tengah jingkrak – jingkrak saking senangnya bebas dari
rumah sakit. “Ayo.” Hye Young menoleh ke arah Kyu Hyun dengan canggung.
Semenjak ia bicara sebatas kata ‘baiklah’ kemarin di ruangan Kyu Hyun ia
belum bertemu dengan Kyu Hyun lagi. Berbeda dengan Hye Young, Jong Hoon
langsung meraih tangan Kyu Hyun dan menyeretnya ke luar dari kamar berbau obat
tersebut. Sementara Hye Young mengekor di belakang mereka.
Dalam
perjalanan terlihat Kyu Hyun dan Jong Hoon yang aktif berbicara, saling
berceloteh dan bercanda. Sementara Hye Young hanya tersenyum sambil memangku
putranya di samping Kyu Hyun yang tengah mengemudikan mobil. Ia sungguh merasa
canggung. Setibanya di Yunjungno Avenue, berada di samping gedung National Assembly, terdapat
sekitar 1400-an pohon sakura dengan bunga yang mekar sempurna. Kyu Hyun
langsung menggandeng tangan Jong Hoon yang sudah hendak berlarian menyusuri
jalanan yang cukup ramai dengan para pejalan kaki yang juga tengah menikamati
suasana musim semi di sini. Kyu Hyun sedikit menoleh ke belakang, ia mengamati
Hye Young yang sepertinya menjaga jarak dengannya. Ia mengaitkan jemarinya pada
tangan Hye Young dan membuat Hye Young berjalan tepat di sampingnya. Hye Young
menoleh ke arah Kyu Hyun, namja itu tahu apa arti tatapan Hye Young itu namun
ia hanya membalasnya dengan tersenyum.
Festival Yeuido memang dimulai saat
senja, namun selepas makan siang mereka berencana untuk pergi ke Hampyeong maka
Kyu Hyun memutuskan untuk mengajak Jong Hoon dan Hye Young saat ini juga. Kyu
Hyun dan Hye Young hanya duduk mengamati bunga sakura di sekeliling mereka
sementara Jong Hoon bermain dengan sepatu roda yang dipinjamkan Kyu Hyun tak
jauh dari tempat mereka duduk. Mata Hye Young terus mengawasi putranya itu.
Sementara Jong Hoon sibuk ke sana ke mari dengan sepatu rodaa berwarna putih
itu, menyusuri jalanan dengan riang. Bocah itu benar – baner tidak bisa diam
rupanya.
“Kau
terlihat tak menikmati ini.” Hye Young menatap Kyu Hyun gugup. Tidak ia tak
pernah membenci Kyu Hyun. Hanya saja ia ragu- ia tak ingin kembali jatuh.
Tidak. Ia tak sanggup lagi. Kyu Hyun menautkan tangan mereka sementara
tangannya yang lain bergerak mendorong kepala Hye Young agar bersandar di
bahunya. “Maafkan aku, aku tak main – main kali ini. aku sadar bahwa sekarang
aku- aku, tak bisa hidup lebih lama tanpamu. Aku mencintaimu. Sungguh.” Kyu
Hyun menarik napas, ia tahu Hye Young
menegang dalam dekapannya. “Apa yang bisa membuatmu menerimaku lagi eoh ? Hye
Young-ah, hanya dua nama wanita yang pernah merasuki hatiku. Pertama
Daehee yang sekarang meninggalkanku. Dan yang kedua adalah kau. Aku tak sanggup
jika kau meninggalkanku juga. Aku bisa dan tak mau hancur dua kali.” Mata Kyu
Hyun mulai sembab, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
“Aku
tak memaksamu, tapi terimalah aku kembali sedikit demi sedikit dalam
kehidupanmu lagi.” Kyu Hyun merogoh kantong sakunya. Ia memindahkan cincin
putih itu dalam genggaman Hye Young. “Aku akan memakaikannya lagi saat kau
sudah bisa menerimaku. Jika akhirnya kau tetap tidak bisa menerimaku setidaknya
kau masih mau cincin kenangan itu semasa hidupmu.” Ya, cincin itu adalah cincin
pernikahan mereka.
Sejenak
mereka terdiam, membiarkan hembusan angin hangat musim semi mengusap bagian
kulit mereka yang terbuka. Hye Young menatapi cincin itu dalam, ia membuka
genggaman tangannya. “Pakaikan.” Kyu Hyun tersentak. “Pakaikan.” Kyu Hyun
menatap Hye Young lekat – lekat mencari tahu apa maksud wanita itu. “Aku, aku
tak pernah mengeluarkanmu dari hidupku. Kau tetap orang yang aku cintai Cho Kyu
Hyun. Selama ini.” Lirih Hye Young sambil menutup matanya tak ingin membalas
tatapan Kyu Hyun. Walaupun demikian aku tetap merasa sakit. Batin Hye Young. “Tapi
ada satu hal yang harus kau tahu. Maaf jika aku tidak bisa langsung menerimamu
ada di sekitarku dalam waktu yang singkat.” Kyu Hyun mengangguk, ia meraih
cincin putih itu dan memakaikannya pada jari manis Hye Young. “Aku tahu.
Walaupun kau tak mengatakannya luka itu pasti ada dan ijinkan aku menyembuhkan
lukamu sedikit demi sedikit.” Hye Young menenggelamkan wajahnya pada dada
bidang Kyu Hyun bukan lagi bersandar pada bahu tegap namja itu. Yah, begini
lebih baik. Sedikit demi sedikit kau pasti bisa menghilangkan kesakitan yang
pernah kau tolehkan pada hatinya itu Cho Kyu Hyun. Semangat Kyu Hyun dalam
hati.
cerita squelnya happy ending,,, banyak pelajarannya.. di tungu eon ff lainnya semangat.....
BalasHapusMohon dukungannya yah..
HapusSaya juga masih belajar
Msh ada kelanjutanya gk thor
BalasHapusWoahhhh~ daebakk, thor *-*
BalasHapuswoaah
BalasHapusdaebak
senyum" sendiri bacanya thor :)
ada kelanjutannya lagi ngga thor ?