The Secret of Dark Devil and Vampire
Part
5 : Ren, Die to Live
Lee
Dong Hae – Oh Min Hwa
Present
By : Choikang Lover
“Kami sama – sama makhluk kegelapan
yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun kaum kami berbeda. Apakah iya
kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan melakukan apapun termasuk
menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu bersama.”
Precious Chapter. . .
Min
Hwa menarik lengan Dong Hae untuk menjauh dari dua orang yang tengah saling
melepas rindu. Jujur saja, ia sedikit takut dengan yang bernama Cho Kyu Hyun
itu. Belum lagi setelah mendengar peringatan itu. “Apa syarat itu ?” tanya Dong
Hae to the point, Min Hwa sedikit tersentak kaget. Dong Hae tak pernah seserius
ini saat bersama Min Hwa. “Membuat tak satupun dari bangsa kegelapan saling
menguasai,” bisiknya tepat di telinga Dong Hae dengan nada rendah yang menusuk
telinga. “Mari menyusun rencana Lee Dong Hae. tapi tidak disini,” pungkasnya
dengan senyum aneh yang terkesan penuh makna. “Lagipula kita telah diusir bukan
?”
Chapter 5. . .
Min Hwa masih berdiri di atas menara
sambil mengawasi pertempuran yang terjadi di bagian utara wilayah mereka.
Bangsa iblis datang secara tiba – tiba, membuka gerbang dimensi dan memisahkan
kepala dengan tubuh para vampire yang mereka temui. “Anda ingin disini sampai
kapan Yang Mulia ? saya tahu walau Raja menyuruh Anda untuk mengutamakan
keselamatan dan tetap tinggal di kastil, Anda pasti akan turun ke medan
pertempuran. Benar bukan ?” Min Hwa tak menoleh barang sejenak. Matanya, pikirannya
hanya tertuju pada pertempuran.
“Aku harap kau selamat. Kau tahu,
dunia manusia tak seburuk yang kita kira. Mungkin jauh lebih baik disana jika
kita sudah terbiasa.” Min Hwa mengambil jeda sejenak, membiarkan Eun Yeon
menebak arah pembicaraan mereka. “Yang Mulia-”, “pertempuran bodoh ini entah
kapan akan berakhir. Bila tak bisa diakhiri ada baiknya kita tinggalkan dan
pergi.” Eun Yeon menatap Min Hwa dengan penuh tanda tanya. “Tak ada yang bisa
meramalkan kapan ini akan berakhir, karena permusuhan ini memang tak bisa
diakhiri dengan salah satu pihak yang menang bukan ?”
Min Hwa berubah menjadi kelelawar.
“Jaga ibuku, aku pergi,” itulah bisikan Min Hwa sebelum terbang menuju bagian
utara hutan. Eun Yeon melangkah mendekati pembatas, ia merasa Tuan Putrinya
tengah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Entah apa itu, ia
merasa aneh namun- bukan sesuatu yang buruk.
***
Min Hwa terbang rendah saat mendekati
lokasi dimana pertempuran terjadi. Ia bisa mendengar dengan jelas suara
dentingan senjata dari logam entah itu pedang, tombak, atau yang lainnya saling
beradu. Jeritan dan rintihan kesakitan lalu suara ledakan atau suara api yang
meletup terdengar memekakan telinga. Min Hwa turun dan kembali merubah
wujudnya. Matanya tetap kelam, bukan merah menyala seperti vampire yang siap
menyerang.
Dirinya berlari, ia mengeluarkan
pedang yang diambilnya secara diam – diam dari ruangan ayahnya. Setelah hampir
sembilan tahun, akhirnya ia kembali menghunuskan pedangnya pada jantung iblis
yang ada di hadapannya. Beberapa prajurit yang melihatnya sempat terkaget,
namun mereka menghiraukannya begitu saja. Ada lawan di depan yang harus
dihadapi. “Dimana ? dimana Dong Hae ?” ia mendesis pelan sambil menebas para
iblis yang menghadangnya. Ketemu. Ia tersenyum tipis meloncat ke kiri setinggi
dua meter.
“Lee
Dong Hae,” panggil seseorang. Karena tak fokus bahu kirinya terkena anak panah.
“Sialan,” umpatnya sambil mencabut anak panah yang menancap di bahunya. Matanya
menangkap sosok yang telah ditunggu – tunggunya sejak tadi. Bahkan ia bertarung
dengan pedang biasa tanpa black soul-nya. “Kau terlalu lama.” Wanita itu
tersenyum simpul, ia mengeluarkan belati putih dari campuran besi dan tembaga
yang dilapisi emas –mungkin, karena tak ada yang tahu siapa yang membuat belati
itu-. Dong Hae membuang pedang yang digenggamnya sembarang lalu menarik tubuh
Min Hwa, lebih tepatnya pinggang Min Hwa membuat mereka tak ada jarak. Waktu
terasa berjalan begitu lambat, bahkan selama lima detik mereka saling menatap
seolah lebih lama hingga mereka bisa merasakan arti sorot mata masing – masing.
“Kau yakin ?” tanya Dong Hae, ia sudah siap mengayukan Black Soul yang kini
terlihat putih, biasanya pedang itu akan berlumuran darah vampire. “Jangan
pernah ragu.” Bukan jawaban, lebih seperti peringatan.
Jlebb. Min Hwa memejamkan matanya. Ia bisa
merasakan aliran darah yang keluar membahasi tangannya yang masih ada di dada
Dong Hae. Belati itu tepat menancap di sana. “Arghhh. . .” Min Hwa tersenyum
getir saat ia mendengar suara kesakitan Dong Hae yang sangat pelan. “Lakukan,” Blasss. Dong Hae menjatuhkan pedang
yang ia gunakan untuk menebas leher Min Hwa. Tak sampai terputus dengan
tubuhnya, tapi Dong Hae bisa melihat darah hitam keluar deras dari sana.
“Ssstt,” Dong Hae merengkuh Min Hwa melihat gadis itu menutup matanya.
Melupakan bahwa mereka tengah berada di medang perang. “Ini buktiku. Aku
mencintaimu.”
Brukk.
Keduannya
terjatuh. Menyisakan ribuan pasang mata melihat mereka dengan pandangan yang
sulit diartikan. Perlahan tubuh mereka terbakar oleh api yang berwarna biru
bercampur putih, api suci. Semuanya terdiam, bukankah bangsa vampire dan iblis
adalah makhluk terkutuk ? lantas kenapa api yang membakar mereka bukan api
berwarna hijau seperti biasanya ? Tubuh mereka menghilang, hilang bersamaan dengan
belati milik Min Hwa dan pedang milik Dong Hae yang sudah menemani hidup mereka
selama ini.
Di
atas menara, Eun Yeon menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya
terpejam dengan mulut yang bergerak samar, mengucap mantra. “Semoga kalian bisa melanjutkan kembali
takdir yang tertunda. Bukan mengulang takdir yang sama lagi,” batinnya
menatap api biru yang terlihat kecil hingga akhirnya menghilang tak berbekas.
***
Langit musim panas yang cerah,
matahari bersinar terik siang ini. Langit berwarna biru cerah dengan awan putih
seperti kapas membentuk bentuk abstrak di atas sana. Tokyo sepertinya tengah
berbahagia. Beberapa orang berlalu – lalang di jalan raya. Sudah waktunya makan
siang, tak heran jalanan menjadi lebih padat saat ini. Di pinggir sungai Tama,
seorang yeoja terlihat tengah duduk
di bangku yang ada disana. Tubuhnya terlindungi dari cahaya matahari karena
pepohonan di sana cukup rimbun dengan rumput yang tak tinggi mengelilingi
pinggiran sungai Tama. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri berkali – kali,
ia tengah menanti seseorang. Matanya kembali menatap aliran air sungai yang
tenang, namun setengah menit kemudian ia kembali menoleh. Wajahnya ditekuk,
merenggut kesal sambil menggerutu. “Lee Dong Hae babo. Dimana orang itu sih. Dia yang mengajak bertemu tapi ia juga
yang telat.” Ia menunduk, terlampau kesal menunggu orang sejak sejam yang lalu.
“Ren Ishida,” wanita itu mencebikan
bibirnya kesal. Ia memalingkan wajahnya. “Hahh, Ren-ie gomen. Aish, jangan
marah. . .” tuh kan Dong Hae justru yang merajuk. Dari awal hubungan mereka, ia sudah ragu. Terlebih Dong Hae yang tiga
tahun lebih mudah darinya. Dan dengan seenaknya Dong Hae kini duduk di samping Ren dan merengkuh
bahu wanita itu dari belakang.
"Ada apa ?" Dong Hae
tersenyum lebar,
setidaknya kekasihnya sudah mengeluarkan suaranya. Tak akan sulit untuknya membuat Ren luluh.
Dong Hae membalikan tubuh Ren hingga
kini mereka berhadapan. Ia memegang dagu Ren dan mata mereka
bertemu, saling
menarik untuk mendalaminya.
Tak lupa Dong Hae
tersenyum manis. "Seperti janjiku minggu lalu,
ayo kita ke kota.
Kata temanku taman
hiburan dan jalan – jalan di taman kota tak buruk juga.” Ren menatap Dong Hae
dengan raut menyelidik. “Jangan katakan kau belum pernah kencan sebelumnya ?”
Dong Hae cengengesan tanpa dosa. Ia berdiri lantas menarik tangan Ren untuk
mengikutinya. Ren bahkan tak menyadari suara sepeda motor saat Dong Hae datang
tadi, sepeda motor metik berwarna biru langit yang terkesan imut.
“Apa tak apa – apa menggunakan sepeda
motor milik temanmu lagi ? kau terlalu sering meminjamnya Hae.” Dong Hae
terdiam, ia paham Ren sangat menginginkan namja yang bertanggungjawab, penuh
wibawa dan pastinya mandiri, tidak bergantung pada orang lain. “Nanti jika aku
sudah lulus atau aku memiliki pekerjaan lain dan uangnya cukup, aku akan
membeli motor sendiri.” Ren menunduk mendengar ucapan Dong Hae. Bukan maksudnya
ia menyinggung perasaan Dong Hae, namun ia juga terlalu gengsi untuk meminta
maaf pada orang yang lebih darinya itu. “Sudahlah, ayo naik,” putus Dong Hae
sambil menyerahkan helm untuk Ren.
***
Sekitar pukul setengah lima sore,
mereka memutuskan untuk istirahat di taman kota yang cukup ramai. Di taman ini
terdapat kolam teratai yang airnya cukup keruh, di depan kolam itu terdapat air
mancur berbentuk kelopak teratai bening yang memancarkan air yang jernih. “Kau
suka teratai ?” Ren mengangguk seraya tersenyum simpul. “Kenapa ?” Dong Hae
menggeleng dengan cengiran bodohnya. “Teratai itu hidup di air keruh dan berlumpur. Biasanya wanita menyukai mawar
karena aromanya, edelweish karena maknanya atau lily karena-” “aku bukan wanita
seperti itu bodoh!” potong Ren gemas. Aish, namjachingunya itu kadang polos,
bodoh, tapi kadang romantisnya minta ampun.
“Aku lupa kau itu termasuk orang yang limited edition.” Ren tak menanggapinya,
matanya menatap warna langit di atas kolam teratai yang mulai menjingga.
“Bukankah teratai bukan bunga yang biasa ? selain teratai, bunga itu pasti
sudah mati.” Dong Hae bergumam kecil menyetujui pendapat Ren. “Arti namaku juga
teratai. Entah kenapa ojisan
memberikan nama itu untukku. Aku pernah mendengar kalau agar teratai bisa
memiliki tumbuhan baru –sejenis tunas- ia harus membunuh dirinya sendiri.
Teratai tidak pernah mati.” Dong Hae hanya mengangguk, ia tak mengerti tentang
hal seperti itu. Dunianya hanya musik, gitar, dan not.
“Tuan Muda,” petik seseorang dengan
pakaian serba hitam lengkap dari ujung rambut sampai kaki lengkap dengan
kacamata hitam yang menutupi matanya. Orang itu tergesa – gesa berlari ke arah
Dong Hae dan Ren. Oke, awalnya Ren tak mempermasalahkan teriakan orang itu.
Tapi saat yang dimaksud ‘Tuan Muda’ itu adalah orang yang duduk di bangku taman
di sampingnya itu itu menatap sang kekasih dengan penuh tanda tanya. Jangan
tanyakan Dong Hae, namja itu hanya diam membatu dengan keringat dingin di
pelipisnya.
“Tuan Besar menelpon Anda, ada hal
penting yang harus dibicarakan. Anda harus segera pulang ke Korea. Ini masalah
jamuan negara, Tuan Besar meminta Anda untuk menemaninya, jad-” bugh. Orang itu memegangi pipinya yang
terasa berdenyut sakit. Napas Dong Hae terengah – engah. Ia menatap Ren yang
masih bungkam dengan mata yang menyiratkan – oh, ia enggan mengakuinya-
kekecewaan. “Ren-ie-” “Lee Dong Hae! Jadi kau Lee Dong Hae,” ujarnya dengan
nada tinggi.
“Kita selesai.” Usai mengucapkan dua
kata itu Ren langsung melenggang pergi tanpa menoleh sedikitpun walaupun
telinganya bisa mendengar Dong Hae terus meneriakan namanya. Ia mengusap
setitik air mata yang meluncur keluar saat kelopak matanya tertutup sesaat.
“Aish.” Wajah Dong Hae pucat pasi, ia menatap bodyguard yang pipinya telah
membiru itu sengit. Orang tua mereka sangat tak akrab, tapi ia terlanjur jatuh
hati pada wanita muda bermarga Ishida itu. Ia pun tahu Ren sangat tak ingin
berhubungan dengan keluarganya, bahkan sangat membenci keluarganya. Entah
bagaimana awal kedua keluarga itu bertikai.
“Apapun urusannya jangan sekali – kali muncul
di hadapanku saat aku bersama Ren Ishida apa kau tak mengerti peraturan
‘pertama’ menjadi bodyguard-ku eoh ?” Dong Hae menggeram marah. Orang itu hanya
mampu menunduk, ia akui ia salah dan kini ia hanya bisa berdiam melihat Dong
Hae mengacak rambutnya frustasi. “Eottokhae ?” gumamnya lirik. Sungguh ia
sangat panik saat Presiden korea yang dipanggilnya Tuan Besar itu mengharuskan
putranya ada di tanah kelahiran mereka sebelum pukul tujuh malam ini.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar