About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Selasa, 16 Desember 2014

[FF] The Secret of Dark Devil and Vampire V || Lee Dong Hae


The Secret of Dark Devil and Vampire
Part 5 : Ren, Die to Live
Lee Dong Hae – Oh Min Hwa
Present By : Choikang Lover



“Kami sama – sama makhluk kegelapan yang dianggap tak berguna dan berbahaya namun kaum kami berbeda. Apakah iya kami tak bisa bersama ? sayangnya aku akan melakukan apapun termasuk menghancurkan kaumku ataupun kaummu agar kita selalu bersama.”



Precious Chapter. . .


Min Hwa menarik lengan Dong Hae untuk menjauh dari dua orang yang tengah saling melepas rindu. Jujur saja, ia sedikit takut dengan yang bernama Cho Kyu Hyun itu. Belum lagi setelah mendengar peringatan itu. “Apa syarat itu ?” tanya Dong Hae to the point, Min Hwa sedikit tersentak kaget. Dong Hae tak pernah seserius ini saat bersama Min Hwa. “Membuat tak satupun dari bangsa kegelapan saling menguasai,” bisiknya tepat di telinga Dong Hae dengan nada rendah yang menusuk telinga. “Mari menyusun rencana Lee Dong Hae. tapi tidak disini,” pungkasnya dengan senyum aneh yang terkesan penuh makna. “Lagipula kita telah diusir bukan ?”


Chapter 5. . .



          Min Hwa masih berdiri di atas menara sambil mengawasi pertempuran yang terjadi di bagian utara wilayah mereka. Bangsa iblis datang secara tiba – tiba, membuka gerbang dimensi dan memisahkan kepala dengan tubuh para vampire yang mereka temui. “Anda ingin disini sampai kapan Yang Mulia ? saya tahu walau Raja menyuruh Anda untuk mengutamakan keselamatan dan tetap tinggal di kastil, Anda pasti akan turun ke medan pertempuran. Benar bukan ?” Min Hwa tak menoleh barang sejenak. Matanya, pikirannya hanya tertuju pada pertempuran.

          “Aku harap kau selamat. Kau tahu, dunia manusia tak seburuk yang kita kira. Mungkin jauh lebih baik disana jika kita sudah terbiasa.” Min Hwa mengambil jeda sejenak, membiarkan Eun Yeon menebak arah pembicaraan mereka. “Yang Mulia-”, “pertempuran bodoh ini entah kapan akan berakhir. Bila tak bisa diakhiri ada baiknya kita tinggalkan dan pergi.” Eun Yeon menatap Min Hwa dengan penuh tanda tanya. “Tak ada yang bisa meramalkan kapan ini akan berakhir, karena permusuhan ini memang tak bisa diakhiri dengan salah satu pihak yang menang bukan ?”

          Min Hwa berubah menjadi kelelawar. “Jaga ibuku, aku pergi,” itulah bisikan Min Hwa sebelum terbang menuju bagian utara hutan. Eun Yeon melangkah mendekati pembatas, ia merasa Tuan Putrinya tengah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Entah apa itu, ia merasa aneh namun- bukan sesuatu yang buruk.

***

          Min Hwa terbang rendah saat mendekati lokasi dimana pertempuran terjadi. Ia bisa mendengar dengan jelas suara dentingan senjata dari logam entah itu pedang, tombak, atau yang lainnya saling beradu. Jeritan dan rintihan kesakitan lalu suara ledakan atau suara api yang meletup terdengar memekakan telinga. Min Hwa turun dan kembali merubah wujudnya. Matanya tetap kelam, bukan merah menyala seperti vampire yang siap menyerang.

          Dirinya berlari, ia mengeluarkan pedang yang diambilnya secara diam – diam dari ruangan ayahnya. Setelah hampir sembilan tahun, akhirnya ia kembali menghunuskan pedangnya pada jantung iblis yang ada di hadapannya. Beberapa prajurit yang melihatnya sempat terkaget, namun mereka menghiraukannya begitu saja. Ada lawan di depan yang harus dihadapi. “Dimana ? dimana Dong Hae ?” ia mendesis pelan sambil menebas para iblis yang menghadangnya. Ketemu. Ia tersenyum tipis meloncat ke kiri setinggi dua meter.

“Lee Dong Hae,” panggil seseorang. Karena tak fokus bahu kirinya terkena anak panah. “Sialan,” umpatnya sambil mencabut anak panah yang menancap di bahunya. Matanya menangkap sosok yang telah ditunggu – tunggunya sejak tadi. Bahkan ia bertarung dengan pedang biasa tanpa black soul-nya. “Kau terlalu lama.” Wanita itu tersenyum simpul, ia mengeluarkan belati putih dari campuran besi dan tembaga yang dilapisi emas –mungkin, karena tak ada yang tahu siapa yang membuat belati itu-. Dong Hae membuang pedang yang digenggamnya sembarang lalu menarik tubuh Min Hwa, lebih tepatnya pinggang Min Hwa membuat mereka tak ada jarak. Waktu terasa berjalan begitu lambat, bahkan selama lima detik mereka saling menatap seolah lebih lama hingga mereka bisa merasakan arti sorot mata masing – masing. “Kau yakin ?” tanya Dong Hae, ia sudah siap mengayukan Black Soul yang kini terlihat putih, biasanya pedang itu akan berlumuran darah vampire. “Jangan pernah ragu.” Bukan jawaban, lebih seperti peringatan.

Jlebb. Min Hwa memejamkan matanya. Ia bisa merasakan aliran darah yang keluar membahasi tangannya yang masih ada di dada Dong Hae. Belati itu tepat menancap di sana. “Arghhh. . .” Min Hwa tersenyum getir saat ia mendengar suara kesakitan Dong Hae yang sangat pelan. “Lakukan,” Blasss. Dong Hae menjatuhkan pedang yang ia gunakan untuk menebas leher Min Hwa. Tak sampai terputus dengan tubuhnya, tapi Dong Hae bisa melihat darah hitam keluar deras dari sana. “Ssstt,” Dong Hae merengkuh Min Hwa melihat gadis itu menutup matanya. Melupakan bahwa mereka tengah berada di medang perang. “Ini buktiku. Aku mencintaimu.”

Brukk.
Keduannya terjatuh. Menyisakan ribuan pasang mata melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan tubuh mereka terbakar oleh api yang berwarna biru bercampur putih, api suci. Semuanya terdiam, bukankah bangsa vampire dan iblis adalah makhluk terkutuk ? lantas kenapa api yang membakar mereka bukan api berwarna hijau seperti biasanya ? Tubuh mereka menghilang, hilang bersamaan dengan belati milik Min Hwa dan pedang milik Dong Hae yang sudah menemani hidup mereka selama ini.

Di atas menara, Eun Yeon menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam dengan mulut yang bergerak samar, mengucap mantra. “Semoga kalian bisa melanjutkan kembali takdir yang tertunda. Bukan mengulang takdir yang sama lagi,” batinnya menatap api biru yang terlihat kecil hingga akhirnya menghilang tak berbekas.

***

          Langit musim panas yang cerah, matahari bersinar terik siang ini. Langit berwarna biru cerah dengan awan putih seperti kapas membentuk bentuk abstrak di atas sana. Tokyo sepertinya tengah berbahagia. Beberapa orang berlalu – lalang di jalan raya. Sudah waktunya makan siang, tak heran jalanan menjadi lebih padat saat ini. Di pinggir sungai Tama, seorang yeoja terlihat tengah duduk di bangku yang ada disana. Tubuhnya terlindungi dari cahaya matahari karena pepohonan di sana cukup rimbun dengan rumput yang tak tinggi mengelilingi pinggiran sungai Tama. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri berkali – kali, ia tengah menanti seseorang. Matanya kembali menatap aliran air sungai yang tenang, namun setengah menit kemudian ia kembali menoleh. Wajahnya ditekuk, merenggut kesal sambil menggerutu. “Lee Dong Hae babo. Dimana orang itu sih. Dia yang mengajak bertemu tapi ia juga yang telat.” Ia menunduk, terlampau kesal menunggu orang sejak sejam yang lalu.

          “Ren Ishida,” wanita itu mencebikan bibirnya kesal. Ia memalingkan wajahnya. “Hahh, Ren-ie gomen. Aish, jangan marah. . .” tuh kan Dong Hae justru yang merajuk. Dari awal hubungan mereka, ia sudah ragu. Terlebih Dong Hae yang tiga tahun lebih mudah darinya. Dan dengan seenaknya Dong Hae kini duduk di samping Ren dan merengkuh bahu wanita itu dari belakang. "Ada apa ?" Dong Hae tersenyum lebar, setidaknya kekasihnya sudah mengeluarkan suaranya. Tak akan sulit untuknya membuat Ren luluh.

          Dong Hae membalikan tubuh Ren hingga kini mereka berhadapan. Ia memegang dagu Ren dan mata mereka bertemu, saling menarik untuk mendalaminya. Tak lupa Dong Hae tersenyum manis. "Seperti janjiku minggu lalu, ayo kita ke kota. Kata temanku taman hiburan dan jalan – jalan di taman kota tak buruk juga.” Ren menatap Dong Hae dengan raut menyelidik. “Jangan katakan kau belum pernah kencan sebelumnya ?” Dong Hae cengengesan tanpa dosa. Ia berdiri lantas menarik tangan Ren untuk mengikutinya. Ren bahkan tak menyadari suara sepeda motor saat Dong Hae datang tadi, sepeda motor metik berwarna biru langit yang terkesan imut.

          “Apa tak apa – apa menggunakan sepeda motor milik temanmu lagi ? kau terlalu sering meminjamnya Hae.” Dong Hae terdiam, ia paham Ren sangat menginginkan namja yang bertanggungjawab, penuh wibawa dan pastinya mandiri, tidak bergantung pada orang lain. “Nanti jika aku sudah lulus atau aku memiliki pekerjaan lain dan uangnya cukup, aku akan membeli motor sendiri.” Ren menunduk mendengar ucapan Dong Hae. Bukan maksudnya ia menyinggung perasaan Dong Hae, namun ia juga terlalu gengsi untuk meminta maaf pada orang yang lebih darinya itu. “Sudahlah, ayo naik,” putus Dong Hae sambil menyerahkan helm untuk Ren.

***

          Sekitar pukul setengah lima sore, mereka memutuskan untuk istirahat di taman kota yang cukup ramai. Di taman ini terdapat kolam teratai yang airnya cukup keruh, di depan kolam itu terdapat air mancur berbentuk kelopak teratai bening yang memancarkan air yang jernih. “Kau suka teratai ?” Ren mengangguk seraya tersenyum simpul. “Kenapa ?” Dong Hae menggeleng dengan cengiran bodohnya. “Teratai itu hidup di air keruh  dan berlumpur. Biasanya wanita menyukai mawar karena aromanya, edelweish karena maknanya atau lily karena-” “aku bukan wanita seperti itu bodoh!” potong Ren gemas. Aish, namjachingunya itu kadang polos, bodoh, tapi kadang romantisnya minta ampun.

          “Aku lupa kau itu termasuk orang yang limited edition.” Ren tak menanggapinya, matanya menatap warna langit di atas kolam teratai yang mulai menjingga. “Bukankah teratai bukan bunga yang biasa ? selain teratai, bunga itu pasti sudah mati.” Dong Hae bergumam kecil menyetujui pendapat Ren. “Arti namaku juga teratai. Entah kenapa ojisan memberikan nama itu untukku. Aku pernah mendengar kalau agar teratai bisa memiliki tumbuhan baru –sejenis tunas- ia harus membunuh dirinya sendiri. Teratai tidak pernah mati.” Dong Hae hanya mengangguk, ia tak mengerti tentang hal seperti itu. Dunianya hanya musik, gitar, dan not.

          “Tuan Muda,” petik seseorang dengan pakaian serba hitam lengkap dari ujung rambut sampai kaki lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Orang itu tergesa – gesa berlari ke arah Dong Hae dan Ren. Oke, awalnya Ren tak mempermasalahkan teriakan orang itu. Tapi saat yang dimaksud ‘Tuan Muda’ itu adalah orang yang duduk di bangku taman di sampingnya itu itu menatap sang kekasih dengan penuh tanda tanya. Jangan tanyakan Dong Hae, namja itu hanya diam membatu dengan keringat dingin di pelipisnya.

          “Tuan Besar menelpon Anda, ada hal penting yang harus dibicarakan. Anda harus segera pulang ke Korea. Ini masalah jamuan negara, Tuan Besar meminta Anda untuk menemaninya, jad-” bugh. Orang itu memegangi pipinya yang terasa berdenyut sakit. Napas Dong Hae terengah – engah. Ia menatap Ren yang masih bungkam dengan mata yang menyiratkan – oh, ia enggan mengakuinya- kekecewaan. “Ren-ie-” “Lee Dong Hae! Jadi kau Lee Dong Hae,” ujarnya dengan nada tinggi.

          “Kita selesai.” Usai mengucapkan dua kata itu Ren langsung melenggang pergi tanpa menoleh sedikitpun walaupun telinganya bisa mendengar Dong Hae terus meneriakan namanya. Ia mengusap setitik air mata yang meluncur keluar saat kelopak matanya tertutup sesaat. “Aish.” Wajah Dong Hae pucat pasi, ia menatap bodyguard yang pipinya telah membiru itu sengit. Orang tua mereka sangat tak akrab, tapi ia terlanjur jatuh hati pada wanita muda bermarga Ishida itu. Ia pun tahu Ren sangat tak ingin berhubungan dengan keluarganya, bahkan sangat membenci keluarganya. Entah bagaimana awal kedua keluarga itu bertikai.

 “Apapun urusannya jangan sekali – kali muncul di hadapanku saat aku bersama Ren Ishida apa kau tak mengerti peraturan ‘pertama’ menjadi bodyguard-ku eoh ?” Dong Hae menggeram marah. Orang itu hanya mampu menunduk, ia akui ia salah dan kini ia hanya bisa berdiam melihat Dong Hae mengacak rambutnya frustasi. “Eottokhae ?” gumamnya lirik. Sungguh ia sangat panik saat Presiden korea yang dipanggilnya Tuan Besar itu mengharuskan putranya ada di tanah kelahiran mereka sebelum pukul tujuh malam ini.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar