1.
Title : Coagulation [You Leave
Me Again..]
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Lee Donghae, Choi Jina.
4.
Genre : AU, Angst, Romance.
5.
Rated : PG 13
6.
Lenght : Ficlet
7.
Disclaimer : Tengah malam gak bisa tidur.
Bongkar HP eh nemu video lama Coagulation – Super Junior KRY, track 3 album 4.
Dan entah nama pingin buat untuk bang Ikan Mokpo. Story is Mine!! Typo(s)
anywhere. No Plagiat.
Story....
Selalu
ada yang membuat kita terpisah..
Bahkan
sang waktupun enggan memihak kita...
“Kenapa harus ke China ? Kenapa tidak di Korea saja..” Jina, yeoja
itu membekap mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Berusaha meredam suara
isakan yang tak bisa ia tahan.
“Hanya 4 tahun chagiya~. Kumohon jangan seperti ini, kau membuatku
tidak tenang” Jina sedikit tenang karena namja yang duduk disampingnya kini
merangkul pundaknya dan menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.
“Aku janji. Kalau kau takut aku berpaling aku tak akan pernah
berpaling darimu. Ulljima” namja itu mengecup hangat puncuk kepala Jina memberi
ketenangan bagi yeoja yang sibuk dengan isakannya.
어디서 어떻게 자꾸만 맺히는지 나도 모르죠
Eodiseo eoddeoke jagguman
maetineunji nado moreujyo
Dari mana, bagaimana hal ini
terus menerus terbentuk akupun tidak tahu
그냥 내가 많이 아픈 것만 알아요
Geunyang naega mani apeun
geotman arayo
Aku banyak tersakiti, hanya
itu yang kuketahui
뜨거웠던 가슴이 점점 싸늘하죠
Ddeugeowotddeon gaseumi
jeomjeom ssaneulhajyo
Hari yang hangat
perlahan-lahan menjadi sangat dingin
뭐라고 말할지, 어떻게 붙잡을지 나도 모르겠잖아
Mworago malhalji, eoddeoke
butjapeulji nado moreugetjjana
Aku tidak dapat berkata
apapun, bagaimana cara menahannya pun aku juga tidak tahu
어떻게 난 어떻게 하죠
Eoddeoke nan eoddeoke hajyo
Bagaimana, apa yang harus
kulakukan
***
“Oppa” namja itu tersenyum sambil melembaikan tangannya pada yeoja
yang berlari menuju tempatnya berdiri. Karena kecerobohannya tak memperhatikan
jalan, yeoja itu jatuh tersandung hingga kakinya terkilir membuat namja itu
panik dan berlari menuju yeoja itu.
“Jina-ah, Ck! Kau ini, dasar ceroboh” Jina hanya meringis sambil
memegangi kaki kirinya yang terkilir. Namja itu tanpa babibu lagi menggendong
Jina dan membawanya menuju mobilnya yang di parkir di halaman kampus. Tak
diharaukan tatapan para mahasiswa disini karena Jina tak pernah dekat dengan
namja kecuali teman biasa.
***
Didalam mobil,
Jina terus tersenyum mengingat kenangan bersama namja yang duduk di belakang
kemudi. Melihat gelagat yeojachingu-nya tak ayal membuat namja itu terkekeh
geli.
“Waeyo oppa ? Kenapa kau terkekeh seperti itu ?”
“Aniyo, hanya saja aku gemas melihatmu yang dari tadi tersenyum tak
jelas seperti remaja yang baru jatuh cinta saja” Jina terdiam. Dibenaknya
terlintas sesuatu hal yang membuatnya kini menatap namja itu serius.
“Ini belum 4 tahun bahkan hanya 3 tahun lebih beberapa bulan.
Bukannya aku tak senang oppa kembali tapi memangnya ada apa oppa kembali ke
Korea ? Oppa tidak akan memberiku undangan pernikahanmu dengan yeoja lainkan ?
Oppa tak akan meninggalkankukan ?” namja itu mengerem mobilnya mendadak. Jina mengamati
baik-baik ekspresi namja itu.
Jina tersentak
melihat namja itu mengambil sesuatu dari saku jas hitamnya. Jina menggelengkan
kepalanya. Undangan berbentuk persegi panjang dengan warna dasar biru muda.
Tubuh Jina bergetar, matanya berkaca-kaca dengan deru napas yang tak beraturan.
“Jina”
“Andwae!! Ini bukan drama sore oppa. Katakan kalau kau hanya
bercanda” suaranya bergetar. Ia mencengkram erat tasnya dengan mata yang fokus
menatapi undangan itu. Seolah dengan menatapnya dapat membuat undangan itu musnah.
“Kau bohong” Jina mengalihkan pandangannya ke depan lalu memejamkan
matanya saat mata itu benar-benar panas tak sanggup menatap wajah Donghae
ataupun undangan sialan itu.
“Aku tidak terima penolakan” Jina tersentak saat sesuatu melingkar
di jari manisnya dan saat ia membuka matanya wajah namja itu berjarak hanya 5
cm darinya.
“Aku sudah menanyakannya pada Ahjumma dan Ahjussi. Mereka setuju.
Baca ini baik-baik” Namja itu mengecup kening Jina sambil meletakkan undangan
itu ditangan Jina. Setelahnya tangan itu bergerak menghapus air mata yang masih
keluar. Namja itu menjauhkan dirinya. Kembali duduk dibelakang kemudi.
Wedding...
Lee Donghae
Choi Jina
14/08/2013
Jina tersenyum. Ia
menatap Donghae yang menatapnya dengan senyuman teduh.
“Mian, tapi kau usil sekali Lee Dongdong”
***
Jina POV
“Oppa, Donghae oppa!! Oppa berhenti, jangan tinggalkan aku. Oppa,
tteonakajima!! Oppa~” aku hanya bisa berdiri sambil mericau tak jelas memanggil
namanya. Tubuhku kaku walau aku ingin menggerakkannya. Ingin berlari memeluk
tubuhnya menehannya untuk tidak meninggalkanku. Punggung itu perlahan berbalik.
“Oppa” panggilku sekencang mungkin. Sekeras yang aku bisa. Tapi
Donghae oppa hanya tersenyum lalu kembali berbalik memunggungiku dan
meninggalkanku sendiri.
“Oppa... hiks” kupejamkan mataku. Andai menangis bisa membuat sakit
ini hilang...
“Jina, Jina-ah..” Kubuka mataku yang terasa sembab. Ini- kamarku ?
“Donghae oppa” benarkah ? Kupeluk erat tubuhnya. Kutenggelamkan
wajahku didadanya. Menghirup aroma tubuh maskulinnya. Hanya mimpi...
“Gwaenchana Chagiya~”
***
Author POV
“Setelah ini kau ingin kemana ?” Donghae menoleh kearah
yeojachingu-nya yang dari tadi hanya terdiam, sambil memainkan jari tangannya.
Donghae menghela nafas, ia tahu suasana hati Jina sedang tidak baik. Ia memutar
mobilnya, sadar ini bukan jalan menuju rumahnya Jina menoleh.
“Oppa”
“Akan kubuat kau tak murung lagi. Ck!! Ikut saja ok ?” Jina hanya
mengangguk. Pikirannya masih penuh dengan mimpinya. Karena menunggu Donghae
menjemputnya untuk fitting baju pengantin, Jina ketiduran dan biasanya ia tak
bermimpi saat tidur siang. Itulah yang mengganggu pikirannya.
“Lotte World” Donghae mengangguk antusias.
“Kajja”
Jina yang tadinya
hanya diam kini terlihat antusias, wajahnya kembali cerah. Donghae tahu betul
apa yang disukai dan membuat yeoja-nya tersenyum ceria. Hingga menjelang sore,
mereka keluar dengan Jina yang berada dipunggung Donghae. Kelelahan mungkin ?
Pasangan yang serasi. Aigoo~ romantisnya.
***
Jina POV
“Eotteokhae ?”
“Neomu yeppeo” ucapku sambil tertawa renyah menatapnya dari
samping.
“Kalung itu dari eomma. Katanya itu pemberian appa dan itu
turun-temurun” aku mengangguk paham. Aigoo~
“Eomma sangat ingin melihat kau memakainya. Sekarang eomma begitu
menyayangimu sampai melupakan aku, anaknya sendiri!!” aku hanya tertawa
mendengar celotehannya. Memang awalnya Lee Ahjumma kurang menyukaiku. Bahkan
aku pernah hampir ditampar olehnya, tapi itu dulu.
Aku menoleh
kesamping dan mendapati wajah Donghae oppa tengah memandangku. Aish!! Kenapa
kau menatapku seperti itu oppa. Ini musim semi kenapa udara begitu panas ?
Wajahku~. Segera kualihkan pandanganku kedepan. Deg!!
“Oppa awas!!” petikku panik. Kulihat ia juga mengalihkan
pandangannya kedepan.
“Remnya blong” aku membatu. Kupejamkan mataku enggan untuk melihat
apa yang terjadi. Kami tidak menabrak truk itu tapi menabrak sesuatu entah apa
yang membuat kepalaku pusing dan serasa berputar. Sesuatu menyayat kulitku
perih ditangan dan sekitar wajahku. Donghae Oppa ?
Kubuka paksa
mataku perlahan. Pusing. Kutolehkan wajahku kesamping. Donghae oppa... inikah
mimpi itu ? Tapi kenapa dalam mimpi itu kau pergi meninggalkanku ? Kuulurkan
tanganku yang terasa sakit untuk menyentuh wajahnya.
“O-op-pa” kumohon bukan matamu oppa... aku tersenyum lega, ia
menoleh dan membalas senyumanku dengan senyuman- lemah ?
Aku baru sadar
keadaan mobil yang terbalik dan- kaki Donghae oppa terjepit daskboard!! Kulepas
seatbelt yang membelit tubuhku lalu merangkak mendekatinya. Kubuka seatbelt
yang mengunci tubuh Donghae oppa, tapi kakinya- sulit dikeluarkan!! Hingga
tangannya menghentikanku.
“Keluarlah, disini bahaya” aku menggeleng keras. Aku tak akan
meninggalkan oppa. Biar aku berada dalam bahaya asal bersama oppa.
“Aku tidak akan keluar tanpa oppa”
“Jina-ah, jangan keras kepala. Sekarang keluar, biar saat petugas
datang mereka yang membantu oppa keluar”
“Tapi itu sangat lama~ oppa bisa kehabisan darah. Oppa tak lihat
kepalamu-”
Cup
Kurasakan hangat
dibibirku. Kupejamkan mataku merasakan air mata yang turun membasahi pipiku
juga pipinya. Ia melepaskannya lalu tersenyum, sangat manis. Ia tak merintih
kesakitan padahal aku tahu lukanya cukup parah. Kenapa kau selalu seperti ini
oppa ?
“Tunggu aku diluar”
“Tapi oppa-”
“Oppa selalu mencintaimu Jina-ah, ulljima. Terima kasih sudah menemani
hidupku selama ini” aku menggeleng tapi kurasakan beberapa orang menarikku
hingga keluar dan menjauh dari mobil.
“Aku baik-baik saja. Selamatkan Donghae oppa kumohon”
“Iya nona tapi anda tenanglah” aku menghentakkan tanganku untuk
melepaskan diri. Donghae oppa tak boleh meninggalkanku sendirian disini ? Aku
harus ikut. Dia sudah berjanji tak akan meninggalkanku lagi..
“Tapi dia calon suamiku. Dia yang harus ditolong, dia yang terluka
parah” Omona!! Api? Andwae
“lepaskan!!” kumohon seseorang mengertiku..
DUARR.. BOUMMMM
“Oppa~ hiks”
“Andwae!!” pandanganku mengosong, mimpi!! Semoga...
***
“Oh ya, kenapa hari kau terlihat murung?”
“Tadi aku bermimpi, oppa meninggalkanku”
“Aigoo~ itu hanya mimpi, aku tak akan meninggalkan yeoja cengeng
yang akan menangis jika satu hari saja aku tidak menghubunginya. Yeoja paling
cantik akan selalu kujaga”
“Geuraeyo?”
“Ehm, Geurae. Satu-satunya yang memiliki hatiku hingga akhir
hayatku”
“Sinca ? Aku tak yakin”
“Biar waktu yang akan meyakinkanmu Nona Choi Jina~”
***
어떻게 다신 널 볼 수 없으면 난 어떻게
Eoddeoke dasin neol bol su
eopseumyeon nan eoddeoke
Bagaimana jika aku tidak dapat
melihatmu lagi, apa yang harus kulakukan
내일 아침 나도 모르게 전화기에 손이 닿으면 그러면 나는 어떻게
Naeil achim nado moreuge
jeonhwagie soni daheumyeon geureomyeon naneun eoddeoke
Setiap pagi tanpa kusadari
tangan ini menggenggam telefon, oleh karena itu apa yg harus kulakukan
웃으며 너에게 좋은 모습 남기고 싶어 너를 봤지만
Useumyeo neoege joeun moseup
namgigo sipeo neoreul bwatjiman
Aku ingin meninggalkan kesan
yg baik dan senyuman kepadamu, tetapi ketika aku melihatmu
결국엔 흘러 내렸지
Gyeolgugen heulleo naeryeotji
Pada akhirnya air mataku jatuh
menetes
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar