1.
Title : Redwood [Lets not Meet Again]
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Kibum/Bryan, Juliane and other casts
find by your self.
4.
Lenghat : Ficlet
5.
Rated : PG 15
6.
Genre : AU, Romance, Angst. And other up to
reader.
7.
Disclaimer:
No Plagiat, Story Is Mine!! Typo(S).
Story....
Sepasang kekasih
terlihat tengah duduk bersandar dibawah pohon Redwood. Hawa musim semi yang
segar ditambah disekeliling pohon itu ditumbuhi bunga matahari dan mawar. Sang
yeoja merebahkan kepalanya dipangkuan sang namja. Mereka hanya terdiam namun
dibibir mereka senyuman tak terlepaskan. Tangan kekar namja itu sibuk mengelus
rambut hitam gadisnya yang tengah memejamkan mata dipangkuannya.
Pagi hari yang
sejuk tak panas juga tak dingin. Membuat mereka betah berdiam diri disana.
tempat yang menurut mereka adalah tempat pribadi mereka. Perlahan mata sang
gadis terbuka. Mata penuh binar itu langsung bertatapan dengan mata sejuk
namjanya. Membuat gerakan tangan namja itu berhenti.
“Bryan oppa” panggil yeoja itu lirih namun terdengar jelas karena
tempat itu begitu sepi.
“Waeyo Jul ?” gadis yang dipanggil Jul atau lebih tepatnya
Sthephany Juliane itu merubah posisinya menjadi duduk bersandar dibawah pohon
Redwood seperti namja-nya. Namun dengan cepat Bryan menarik kepala Juliane
untuk bersandar dibahunya dan melingkarkan tangan kirinya dibahu Juliane.
“Oppa tahu, teman-temanku selalu mengatakan bahwa kita tak seperti pasangan
kekasih pada umumnya. Oppa tahukan sebagian besar dari mereka memutuskan untuk
berkencan ditaman hiburan atau tempat-tempat romantis lainnya. Mereka membeli
kaos pasangan, topi pasangan, cincin ataupun gelang. Tapi aku hanya meresponnya
dengan mengatakan : Kami- aku dan Bryan oppa, mempunyai prinsip. Cinta kami itu
sesuatu di yang abadi jadi kami juga melambangkannya dengan sesuatu yang abadi.
Dan itu rahasia. Setelah mendengarnya mereka hanya diam oppa” Bryan tersenyum
lalu mengecup kening kekasihnya sayang.
“Siapa yang mengajarimu seperti itu. Aku seperti ini karena saat
dulu aku mengejarmu kau mengatakan dengan jelas ‘Aku tak ingin cara yang biasa’
jadi menurutku ini cara yang jarang digunakan orang bukan ?” Juliane mengangguk
samar.
“Jika kau ingin kita sesekali pergi ketempat-tempat seperti itu aku
akan mengabulkannya. Eotteohke ?” Juliane menegakkan kepalanya lalu menggeleng.
“Aniyo. Tapi oppa- sejujurnya aku masih bingung kenapa oppa selalu
mengungkapkan rasa cinta dengan redwood ini. Kenapa tidak dengan menggunakan
bunga untuk melambangkannya ?” Bryan mengedarkan pandangannya menatap bunga
matahari yang tumbuh liar tak jauh dari tempat mereka duduk. Juliane
mengikutinya lalu menatap Bryan dengan tatapan mata seolah berkata ‘ada apa ?’
“Bunga matahari. Jika aku bunganya dan kau mataharinya. Bunga
matahari akan selalu mengikuti matahari setiap waktu tanpa rasa lelah. Tidak!!
Jika aku lelah mengejarmu aku akan berhenti. Bunga mawar putih, walau itu
melambangakan ketulusan tapi apa itu melambangkan keabadian ? Bunga mawar
merah. Banyak yang mengatakan bahwa bunga itu memberi kesan romantis tapi mawar
merah itu melambangkan hasrat ingin memiliki bukan ?” Bryan menghentikan
penjelasannya sejenak. Ia menarik nafas dan menyandarkan kepalanya dibatang
pohon Redwood. Matanya kini menatap yeojanya yang masih setia menunggu
penjelasannya.
“Redwood. Pohon ini dapat berusia hingga 3000 tahun. Kau tahu, akar
pohon ini saling menguatkan satu sama lain. Cintaku padamu akan selama itu
karena kau disisiku. Aku tak akan membuatmu bahagia walau apapun itu cara. Walau
aku tak dapat memilikimu, tapi cintaku akan tetap ada hingga aku mati, walau
aku berkata aku tak mencintaimu lagi atau bahkan aku mengatakan bahwa aku
membencimu”
***
Namja bertubuh
sedang dengan kulit putih salju itu berjalan lambat. Matanya menelisik tempat
itu, membuat memori itu menguar diotaknya. Membuat kepalanya sedikit pening. Ia
melangkah mendekati pohon redwood yang masih tetap berdiri kokoh walau sudah 25
tahun dari ia meninggalkan yeoja yang menjadi pusat pengendali dunianya disini.
Tempat yang menyimpan segala kenangan itu.
Bryan, namja itu berjongkok.
Tangannya mengusap ukiran dibatang pohon itu. Dulunya tempat ini dikelilingi
bunga yang tumbuh liar, namun kini tempat itu dikelilingi rumbut hijau yang
tumbuh liar.
“Bryan Kim. Sthephany Juliane” desis Bryan lirih. Ia masih ingat
dengan riang kekasihnya dimasa lalu itu mengukir nama mereka dengan cutter
hingga tanpa sengaja melukai jarinya sendiri dan membuat dirinya panik.
Juliane. Nama itu- tiba-tiba hatinya merasa sakit. Ngilu, kenangan terakhir
yang dimilikinya bersama kekasihnya- membuatnya ingin menangis.
***
“O-op-pa!” Bryan tak berekspresi saat kekasihnya memanggil namanya.
Mungkin ?
“Oppa, dia siapa ? Katanya kau ingin memperkenalkan seseorang
padaku apa itu dia ? Kalau begitu Hello, aku Hwang Hyeyoung. Oh ya eonni, aku
pikir kalian berteman baik. Jadi eonni harus datang keacara pernikahan kami,
tapi mungkin itu akan diselenggarakan di Korea. Ah- begini saja nanti aku akan
mengatakan pada abeoji untuk pernikahannya diadakan disini saja agar
teman-teman Kibum oppa bisa datang semua” Juliane diam tak bergeming mendengar
penjelasan yang tak diinginkannya daru gadis yang terlihat bahagia saat
mengatakannya. Dalam pikirannya hanya kalimat pernikahan kami yang membuat
kerja otaknya menjadi lambat. Juliane mengambil nafas lalu beralih pada Bryan
yang enggan membalas tatapan matanya.
“Ada yang diingin kau katakan oppa ?” Bryan diam. Ia takut jika
menatap mata binar Juliane yang kini berbinar karena menahan tangis akan
membuatnya memeluknya dan enggan melepaskannya.
“Kau mengatakan cintamu seperti pohon ini, tapi kenapa kau lakukan
ini ? Kau mengatakan jika kau berkata aku sudah tak mencintaiku lagi berarti
itu bohong tapi sekarang kau tak mengatakan apa-apa kau membuatku bingung. Apa
yang kau rasakan oppa ? Katakan~” air mata itu turun tanpa isakan bahkan mata
Juliane tak berkedip sedikitpun. Ia tak habis pikir setelah pulang selama 2
bulan ke Korea ini adalah oleh-oleh yang dibawanya.
“Oppa, katakan sesuatu!! Kau membuatku bingung” nada bicara sedikit
menyentak membuat Bryan mengusap wajahnya kasar lalu menarik tangan Juliane sedikit
menjauh dari Hyeyoung.
“Dengarkan baik-baik. Jangan cintai namja namja seperti lagi,
carilah namja yang tak dapat hidup tanpamu yang dapat bernapas dengan baik saat
kau tak ada disisinya. Kita akhiri semuanya sampai disini” Julian terdiam.
Isakan kecil itu mulai terdengar namun dengan cepat Bryan berbalik berjalan
mendekati Hyeyoung sambil tersenyum cerah. Membuat air mata Juliane semakin
deras turun melalui pipinya.
Matanya tak dapat
lepas dari Bryan. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri menahan isak tangis walau
tak sepenuhnya berhasil. Ia memandangi punggung Bryan yang berjalan dengan
menggandeng tangan Hyeyoung pergi menjauh.
“Bryan Kim aku mencintaimu dan aku tahu kau juga mencintaiku. Jadi
berhenti bersikap seperti ini. Ini semua tidak lucu oppa!! Hentikan sekarang.
Ini tak lucu!!” Namun teriakan Juliane tak dapat menghentikan langkah Bryan dan
Hyeyoung yang pergi meninggal tempat itu.
“Kau bilang cintamu selamanya untukku apa ini yang kau maksud ? Aku
yakin ini bukan dirimu. Cepat kembali oppa atau aku akan benar-benar marah. Aku
tak akan membencimu jika kau kembali” Juliane tak menyerah. Hingga siluet
mereka sudah tak terlihat kembali. Matanya memerah karena menangis. Hatinya
hancur. Tentu saja!!
“Bahkan kau tak berbalik oppa” ucapnya lirih sebelum akhirnya ia
jatuh tertunduk. Lututnya melemas tak mampu menahan berat tubuhnya.
“Haruskah seperti ini ? Kau mengatakan bahwa cintamu selamanya
untukku. Seperti pohon ini yang tak tumbang walau hujan, badai menerpanya. Hiks
Aniyo oppa!! Aku tak bisa!! Aku tak rela kau menikah dengan yeoja lain. Aku
mencintaimu oppa, dan kau mencintaiku. Hiks.. hiks.. tak ada yang akan
memisahkan kita” gumamnya tak jelas. Kepalanya menggeleng-geleng seolah isyarat
tak ingin semuanya seperti ini.
***
Bryan menyentakkan
tangannya membuat Hyeyoung mengerucutkan bibirnya kesal. Tangan Hyeyoung
berusaha menggapai tangan Bryan kembali tapi dengan cepat Bryan berjalan
berbalik menuju tempat tadi membuat Hyeyoung menghentakkan kakinya kesal.
“Sudahlah lupakan dia. Pada akhirnya kau tetap akan menjadi milikku
oppa” ucapan itu membuat langkah Bryan terhenti.
“Kibum Oppa. Selamanya kau tetap akan menjadi milikku” dengan nada
memerintah sambil tersenyum sinis gadis itu melipat tangannya didepan dada.
“Kau wanita siluman. Menggunakan segala cara untuk kepentinganmu
sendiri” dingin. Bryan akan kembali melanjutkan langkahnya namun kembali
terhenti.
“Setidaknya aku bukan orang pengecut sepertimu. Heh, tapi tak apa.
Karena sifat pengecutmu itulah aku dapat dengan mudah mendapatkanmu” Bryan enggan
mendengarkan ocehan Hyeyoung lebih lama baginya melihat keadaan Juliane lebih
penting. Ia kini berlari menuju tempat tapi dengan jalan memutar agar Juliane
tak melihatnya.
Setelah tubuh
Bryan menghilang wajah sinis Hyeyoung berubah datar dan kemudian menjadi sendu.
Tangannya ditangkupkan diwajahnya. Menutupi raut wajah lemahnya. Ia tak ingin
seorang pun melihatnya.
“Ternyata benar. Cintamu hanya untuknya. Apa begitu sulit berpaling
darinya oppa ?”
***
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar