1.
Title : Separation
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Lee Hyuk Jae (Super
Junior), Song Hye In and other casts find by your self.
4.
Lenght : Drible
5.
Rated : T/PG 13
6.
Genre : AU, Romance, Separation,
sad(?). and other up to reader.
7.
Disclaimer : Story is Mine!!! No Plagiat , Typo(s) anywhere. FF yang aku buat tepat
hari raya idul fitri.. Entah kenapa waktu baca FF kepikiran ide cerita, tapi
beda banget sama FF yang aku baca. Di FF itu yeoja-nya malah ngejar-ngejar
gitu. Judulnya aja Catch me, Capek!! Ok..
Story....
Hatimu tak bisa kau bohongi..
Jangan mengekangnya atau akan semakin sakit!!!
Song Hye In. Yeoja
itu membawa paper bag berwarna coklat dan mendekapnya erat. Ia melirik kearah
jam tangan putih yang melingkar ditangan kirinya.
‘Sebentar lagi jam 11. Aigoo aku harus cepat-cepat!!’ tanpa sadar
kini langkah lebar kaki Hye In berubah menjadi berlari. Ia menyusuri lorong
yang memisahkan kelas menyanyi dengan kelas modern dance.
Ia menaiki tangga
dengan keringatn yang mulai bercucuran di pelipisnya. Otaknya mengingat
bagaimana namja itu tersenyum, membentak hingga mengatainya. Hye In terdiam
didepan ruangan practice dance yang biasa digunakan namja itu. Hatinya ragu, ia
tak ingin terakhir bertemu dengan namja itu dan disuguhi makian yang
dilontarkan untuknya.
Hye In menutup
matanya rapat-rapat. Ia tahu dan sadar jika sikap namja itu padanya akibat
dirinya sendiri yang memaksa masuk ke kehidupan namja itu. Hye In membuka
matanya meraih handle pintu lalu membukanya. Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan
itu, matanya menatap sosok yang ia cari tengah duduk disudut ruangan tengah
meminum air mineral dikelilingi teman-temannya.
“Hyukjae-ah, murid kesayangan Jung Seonsaengnim datang, mungkin ia
mencarimu” celetuk seorang teman Hyungjae yang disambut gelak tawa oleh
teman-teman sekelasnya. Mereka memang seperti itu mungkin karena penampilan Hye
In yang “berbeda”.
Hyukjae hanya diam
tak berekspresi, ia berdiri melangkahkan kakinya mendekati Hye In. Yah....
hanya diam!!
Hye In mengamati
Hyukjae baik-baik. Rambut hitam, matanya yang selalu ingin ia tatap, rahang
yang kuat dengan tubuh dibalut celana training dan kaos tanpa lengan dan tak
ketinggalan keringat yang membasahi tubuh itu. Hye In ingin memandangnya
baik-baik dan menyimpannya di memori otaknya.
“Ige- untukmu Hyukjae-ssi” ucap Hye In menyodorkan paper bag yang
dibawanya. Dengan isyarat matanya ia seolah berkata ‘Terimalah, kumohon’
sementara Hyukjar, namja itu masih terperangah kaget. Hye In ta pernah
memanggilnya seformal itu. Tiba-tiba hatinya diselingkupi firasat buruk. Dengan
ragu Hyukjae meraih paper bag itu. Ia melihat sebuah syal berwarna abu-abu dari
kain wol yang dirajut.
“Aku menyerah, walau sebenarnya aku tak ingin menyerah. Mungkin
benda itu akan mengingatkanmu ada seorang yeoja yang selalu berusaha memasuki
kehidupanmu walau kau selalu menolaknya dengan keras. Yeoja yang tak tahu diri”
Hye In berhenti. Sudut bibirnya bergetar walau ia terus mempertahankan senyum
itu. Matanya memerah dan kedua tangannya mengepal.
“Maaf selama 2 tahun ini aku mengganggumu. Kau tenang saja mungkin
ini terakhir kalinya kau melihatku” Hye In kembali berhenti berucap. Ia
menunduk kini, ia tak ingin melihat seringaian Hyukjae yang ditunjukkan
untuknya.
“Sebentar lagi musim dingin, syal itu aku sendiri yang merajutnya
tapi jika kau benar-benar ingin menghilangkan apapun yang berhubungan denganku
kau bisa membuangnya. Permisi” Hye In berbalik. Ia hendak melangkah keluar
hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Gomawo Hye In-ah” suara itu terdengar begitu lembut dan Hye In
membalasnya dengan anggukan tanpa berbalik. Ia takut menemukan wajah Hyukjae
yang menatapnya tak suka jadi biarkan Hye In menganggap suara itu memang lembut
bukan hanya fantasinya.
Hye In melangkah
keluar ruang ‘Practice Dance’ sekolah yang akan ditinggalkannya. Air matanya
turun namun ia tersenyum manis. Lega. Itu yang menggambarkan perasaan Hye In
sekarang, setidaknya ia bisa pergi ke Jerman tanpa beban ataupun rasa bersalah
pada seseorang.
“Dia pergi... Geu yeoja” guman Hyukjae tanpa sadar. Hingga tepukan
dibahunya menyadarkannya. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit
itu tapi percuma saja. Justru setitik lelehan air bening itu turun menyusuri
pipi tirusnya.
“Bukankah sudah kukatakan. Jangan bohongi dirimu Hyuk!” bisik
Donghae sambil menghela nafas.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar