About

Welcome To My Dream World... Enjoy... Catatan yang ingin aku bagikan

Telusuri

Minggu, 25 Agustus 2013

I Got You Little Run Away [Kim Jongwoon]

1.        Title                      : I Got You Like Run Away
2.        Author                  : Fortunia Ryu
3.      Casts                   : Kim Jongwoon [Yesung Super Junior], Kang Jihyun, and other casts find by your self.
4.        Lenght                  : Oneshoot
5.        Rated                   : PG13/T
6.        Genre                   : AU, No Plot, flow like river. And other up to readers.
7.        Disclaimer            : FF Khusus Ultah Yesung oppa suami saya tercinta yang sedang menjalani wamil. Itu judul saya ngutip dari lirik lagunya Super Junior – SPY. Karena entah kenapa hari ini saya suka lagi dengan lagu itu dan seharian dengerin tuh lagu. Apalagi dibagian akhirnya. Oh My!! Suaranya itu loh!! Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No Plagiat.

Story....


Author POV

            Seorang yeoja turun dari mobil Renault Samsung SM5 dengan wajah tersungut-sungut kesal. Ia melangkah kesal menuju halaman kampus tempatnya menimba ilmu tapi seseorang mencekal lengan kiri membuatnya berhenti dan berbalik. Ia menatap garang namja yang tadi mengantarnya ke Inha University ini. Dengan sekali hentakan tangannya yang tadi digenggam setengah mencekal itu terbebas.
“KAU!!” tangan telunjuknya mengacung menunjuk tepat dihadapan namja bersetelan jas hitam itu. Sedangkan namja itu hanya tersenyum biasa. Seorang ia tak tahu kekesalan yang ditujukan yeoja itu padanya.
“Sudah kukatakan berulang kali Tuan Kim yang terhormat. Aku tak suka padamu, jadi berhenti mengejarku. Apa kau kelebihan waktu untuk mengurus perusahanmu dan anak-anaknya itu ? Kukira 24 jam dalam sehari itu tak cukup. Berhenti mengikutiku” yeoja itu mundur beberapa langkah setelah memastikan namja terhormat itu hanya diam ditempat ia dengan cepat berbalik dan berlari memasuki universitas kebanggaannya. Sementara itu-
“Aku tak akan berhenti Ms. Kang. Aku tahu kau hanya ingin bermain-main denganku ? Geuraeyeo ?” namja itu dengan gaya cool-nya memasukkan kedua tangannya kesaku celana dan berjalan menuju mobil kesayangaanya yang berada beberapa langkah dibelakangnya tadi. Ia tersenyum penuh maksud sebelum akhirnya melajukan kuda besi itu menuju tempatnya menghabiskan waktunya. Kantor!!
***
“Jihyun” yeoja itu mendengus kesal sambil terus melangkah menuruni anak tangga. Dibawah dekat tangga itu eomma-nya dan seorang namja yang selalu mengganggunya-menurut Jihyun- selama hampir 2 tahun terakhir ini.
“Ah, kalau begitu eomma tinggal dulu nde. Jihyun juga sudah siap, ah- semoga acara makan malam kalian menyenangkan. Aigoo~ Jihyun-ah, kau harus bersyukur pada Tuhan karena Yang Maha Esa memberikan namja yang tulus mencintaimu seperti Jongwoon ini” cecer Ny. Kang sebelum meninggalkan anak kesayangannya yang mendelik pada Jongwoon tanpa beliau sadari.
“Kajja” Jongwoon menautkan jarinya dengan Jihyun tapi Jihyun berusaha melepaskannya tapi tak bisa. Akhirnya ia hanya pasrah saat mereka mulai melangkah keluar rumah kediaman keluarganya.
***
“Mawar, untukmu Jihyun-ah” lagi-lagi Jihyun menerimanya lalu meletakkannya diatas meja. Terhitung sudah kalung berlian, tas, parfume dari paris, coklat, boneka bear kesayangan Jihyun, tapi wajah Jihyun masih saja mengaduk-aduk makanannya tak semangat. Ia sudah bosan dengan Jongwoon yang selalu mengganggu hidupnya. Yah... hanya itu!!
“Kang Jihyun” panggil Jongwoon lirih. Jihyun menatap Jongwoon dengan bosan, ia seolah bertanya ‘ada apa ?’
            Jongwoon tiba-tiba berdiri dan berjongkok disamping kursi Jihyun, ia meraih tangan Jihyun dan menggenggamnya halus. Jihyun hanya menatap Jongwoon jengah, Jongwoon tahu itu tapi ia tak mempedulikannya. Jongwoon meraih saku jas hitamnya lalu mengeluarkan kotak persegi berwarna merah darah. Ia membukanya sebuah cincin dengan beberapa permata yang diukir begitu indah karena Jongwoon sendiri yang mendesainnya. Didalamnya terdapat ukiran huruf Kim Jihyun dalam tulisan hangeul.
“Maukah- kau menghabiskan sisa waktumu bersamaku. Menemaniku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak, mendidik mereka, menyayangi mereka, dan membesarkan mereka bersamaku. Menjalani manis dan pahitnya kehidupan dunia ini bersamaku, bersama-sama melewati waktu hingga Tuhan memanggil kita ? Jihyun-ah, Neo hanaman saranghamikka ?” tubuh Jongwoon tersentak saat Jihyun mengibaskan tangannya. Jihyun berlari menuju pintu keluar restaurant. Tapi sebelum sampai dipintu Jihyun berbalik.
“Sampai kapanpun aku tak akan pernah mencintaimu, jadi jangan pernah berharap aku mau menerima lamaranmu apalagi melahirkan anak-anakmu. Bagiku kau itu adalah orang yang paling ingin kubuang jauh-jauh dari hidupku karena kau hanyalah penggganggu. Aku menyesal pernah menolong anda Tuan Kim” Jongwoon terpaku. Setelah Jihyun menghilang dari pandangannya ia masih dengan posisinya yang berlutut menghadap pintu.
“Tuan gwaenchansumnikka ?” seorang waiter menepuk pundak Jongwoon hingga namja itu tersadar. Ia buru-buru berdiri dan mengusap wajahnya kasar. Dikeluarkannya kotak persegi panjang canggih andalannya dan menyentuh layarnya lalu mendekatkannya ketelinga kirinya.
“Yeobosaeyo. Ye- kita bertemu. Geureom, diapartementmu. Ne- sekarang” dengan langkah terburu-buru Jongwoon melangkah meninggalkan restaurant itu.
***
            Jongwoon dengan tak sabar menekan bel di apartement sederhana dengan nomor 387 lantai 4 di Nowon. Cekleeett. Seorang namja membukakan pintu itu dan tanpa sopan santun Jongwoon langsung menerobos masuk kedalam apartement sederhana bahkan tergolong kecil untuk  orang sederajatnya. Ia menghempaskan tubuhnya duduk disofa ruang tengah dan dengan gusar menyalakan TV yang berada didepannya lalu membanting remote-nya. Sedangkan sang pemilik apartement hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memilih menuju dapur untuk mengambilkan Jongwoon soda lalu kembali keruang tengah.
“Katanya hari ini-” namja yang lebih tinggi beberapa centi dari Jongwoon berkulit putih pucat itu menampakan senyum atau mungkin cengiran mendapat tatapan tajam dari Jongwoon.
“Bagaimana hasilnya ?” Jongwoon menyandarkan kepalanya disofa lalu mengacak rambutnya tanda ia frustasi.
“Apa kau tak lihat eoh Cho Kyuhyun ? Apa diotakmu hanya ada games saja hingga kau tak bisa menafsirkan suasana hati seseorang lewat ekspresinya eoh ?” namja Cho yang sudah dianggap seperti dongsaengnya sendiri itu hanya tersenyum kikuk. Ia mengalihkan pandangannya dari Jongwoon.
“Hanya basa-basi hyeong” ujar Kyuhyun sambil meminum soda yang berada ditangannya sedangkan Jongwoon. Menyentuhnya saja tidak. Jika sudah seperti ini Jongwoon tidak akan melakukan apa-apa kecuali berpikir. Bagaimana caranya membuat Jihyun- menjadi miliknya.
            Beberapa saat mereka saling terdiam. Kyuhyun mengambil remote TV yang tadi dibanting Jongwoon. Ia mengganti channel drama yang menurutnya terlalu mengada-ada berlebihan dan tak masuk akal menjadi acara musik. Ngomong-ngomong soal drama mungkin kisah hidup namja yang dari tadi terus mengerang,  mengusap wajahnya kasar, atau mengacak-acak rambutnya sendiri itu drama terbaik menurutnya. Bagaimana tidak, dia pernah berhubungan dengan beberapa yeoja yang ternyata hanya mendekatinya karena wajah dan latar belakang keluarganya. Setelah bertemu dengan yeoja yang tak melihat itu semua yeoja itu justru tidak melirik Jongwoon sedikitpun. Yah... walaupun Jongwoon selalu mengatakan bahwa Jihyun itu menyukainya hanya saja malu mengakuinya.
“Eotteokhae ?” Kyuhyun menoleh kearah Jongwoon yang menatap kedepan dengan tatapan kosong. Jas hitam itu sudah lenyap dari tubuh Jongwoon yang kini hanya memakai kemeja putih kotak-kotak dan celana hitam.
“Apanya hyeong ?”
“Appa menyuruhku untuk cepat menikah. Kalau tidak- mungkin akan ada permainan jodoh-jodohan lagi. Aigoo~”
“Begini saja hyeong. Kita buktikan apakah Jihyun itu mencintaimu atau tidak. Mendekatlah” Kyuhyun membisikkan sesuatu ditelinga kiri Jongwoon, keningnya mengkerut. Setelah Kyuhyun menjauhkan mulutnya Jongwoon terlihat masih mencerna apa yang baru saja sepupunya itu bisikan ditelinganya.
“Yak!! Cho Kyuhyun. Yang benar saja. Andwae!!!”
“Itu bagus hyeong. Daripada caramu yang kuno itu”
“Ini juga kuno Cho Kyuhyun!!!”
***
            Seminggu. Genap seminggu Jongwoon tidak menemui Jihyun. Sadar atau tidak dengan tidak adanya Jongwoon itu membuat Jihyun lebih pendiam, terlalu banyak melamun daripada berceloteh ria dengan chingudeul ataupun keluarganya. Terutama oppa-nya yang baru datang dari Incheon. Kang Daesung. Tapi hari sabtu ini berbeda. Jihyun terlihat begitu bersemangat dengan senyum cerah ia mencoba pakaian apa yang akan digunakannya.
“Aigooo~ ternyata uri yeodongsaeng sudah besar. Eomma sepertinya kau akan mendapat anak laki-laki baru tak lama lagi” Daesung mencubit pipi Jihyun sebentar lalu langsung berlari keluar kamar Jihyun sebelum adiknya itu mengeluarkan lengkingannya.
            Kali ini Jihyun tak mau ambil pusing tentang oppa-nya yang menggodanya tadi. Ia kembali berkutat dengan dress-dress yang ia punya dan cermin. Ia tak menyadari kenapa hatinya bisa sesenang ini saat akan bertemu dengan Jongwoon. Ia hanya menikmatinya. Ia tak mau ambil pusing.
***
            Jongwoon melambaikan tangannya dan tersenyum lembut. Jihyun mendekat, dalam hati Jongwoon berharap agar rencana itu tak usah dilakukan. Menurutnya itu- aish!! Terlalu seperti drama yang didramatisir oleh para penulisnya.
“Ada apa ?” Jongwoon kembali tersenyum tak mempedulikan nada ketus dalam ucapan itu. Ia mengeluarkan lagi cincin yang sama dengan yang ia gunakan untuk melamar Jihyun di restaurant waktu itu.
“Bukankah sudah aku bilang aku tak ingin menikah. Lagi pula aku masih kuliah, aku ingin mengejar impianku dulu menjadi seorang photographer” Jongwoon meletakkan kotak itu dibangku tepat disamping Jihyun. Ia mendesah. Sebenarnya Jihyun sedikit tersentak karena ini pertama kalinya melihat wajah Jongwoon frustasi.
“Kalau kau menolak lebih baik aku mengakhiri hidupku. Kau tak tahu- dalam hidupku aku tak pernah mencintai wanita hingga seperti ini” Jongwoon berdiri. Matanya kini terlihat sayu tanpa senyum dibibir kecilnya.
“Aku tahu kau hanya menggertakku saja. Kau pikir aku takut jika kau mati ? Aniyo!! Aku justru senang” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jihyun. Jongwoon mengangguk air matanya keluar. Geureom.
            Ia berlari dengan cepat menuju jalan raya didepan taman itu. Tanpa menoleh kesamping kanan kiri, Jongwoon langsung menyebrang jalan raya itu begitu saja. Tapi sebuah mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata yang akhirnya menghantam tubuh Jongwoon karena sang supir tak bisa menghentikan laju mobil itu. Jihyun terdiam ditempatnya duduk. Saat banyak orang mulai mengerubungi orang itu.
            Sudut bibir Jihyun bergetar. Ia berlari dan menerobos kerumunan orang itu. Ia mengerang berteriak siapa saja menelpon ambulance. Tangannya meraih kepala Jongwoon yang bersimpah darah karena terbentur.
“A-ak-ku tak per-nah. Ma-in-main” dengan tersendat-sendat Jongwoon mengucapkan itu. Ia bisa merasakan air mata Jihyun yang menetes mengenai pipinya.
“Ul-llji-ma” Jongwoon mengangkat sudut bibirnya keatas sebelum kesadarannya hilang.
***
“Uisanim, eotteokhae ?” Kyuhyun memegangi tubuh Jihyun yang mencegat Jung Uisanim yang baru keluar dari ruangan operasi. Dokter muda itu tersenyum setelah melepas maskernya.
“Syukurlah nyawanya selamat. Benturan dikepalanya sepertinya tak mempengaruhi otaknya. Tapi-” genggaman Kyuhyun dibahu Jihyun semakin erat saat Jung Uisanim menggantung ucapannya.
“Tuan Kim koma, kami tak bisa memastikan kapan ia tersadar. Semua yang ada didunia ini atas kehendak Tuhan, jadi berdo’alah agar Tuan Kim lekas sembuh. Saya permisi” Kyuhyun menuntun Jihyun untuk kembali duduk tak lama segerombolan orang keluar dari ruang operasi dengan Jongwoon yang berbaring tak sadarkan diri diatas ranjang.
“Oppa”
“Jongwoon hyeong akan baik-baik saja” ujar Kyuhyun saat ia menyadari Jihyun menatap lekat namja yang berbaring tak sadarkan diri itu.
“Semua ini tak akan terjadi jika bukan karena aku” lirih Jihyun.
***
            Sinar matahari pagi mengusik mata Jihyun hingga ia membuka kedua matanya. Ia mengecup tangan lemah yang saat ia tidur selalu digenggamnya. Ia menoleh kearah sofa kecil diruang rawat ini tapi ia tak menemukan Kyuhyun.
“Mencariku” Jihyun menoleh kearah toilet dan menemukan Kyuhyun yang menggenggam handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Kyuhyun berjalan mendekati Jihyun dan mengamati Jongwoon yang tertidur baik-baik.
“Apa kau mencintai Jongwoon hyeong ? Ia tampan walau aku lebih tampan. Tapi menurutku hanya wanita bodoh saja yang menolak lamarannya” Jihyun menggembungkan pipinya kesal, ia tahu dari nada bicara Kyuhyun namja itu menyindirnya.
“Kau mencintainya ?”
“Molla” jawab Jihyun.
“Tapi aku merasa bersalah padanya hingga ia seperti ini” lanjut Jihyun. Merasa kurang puas Kyuhyun kembali bertanya.
“Lalu kenapa kau menangis ? Air mata itu tanda kita menyayangi seseorang, bukan karena rasa bersalah” tatapan mata Kyuhyun beralih pada tangan Jihyun yang menggengam erat jemari Jongwoon.
“Kau bahkan tak melepaskan tangannya. Jangan membohongi dirimu sendiri” hening. Jihyun tak menjawab. Tapi dalam hati ia mulai menyadari bahwa ia- tak ingin Jongwoon pergi, itulah yang ada dalam pikirannya saat ia melihat Jongwoon-
“Berapa lama lagi ia akan bangun ini sudah 3 minggu”
“Ia pasti bangun karena ada seorang wanita yang menunggunya disini. Yang sabar saja. Ia bahkan menunggumu lebih dari 2 tahun” kata-kata itu kembali membuatnya tersenyum kecut.
***
“Oppa” dengan cepat dokter dan 3 orang perawat yang hampir meninggalkan ruang rawat itu mendekati ranjang Jongwoon yang mengerjap-erjapkan matanya.
“Syukurlah. Semuanya tetap stabil. Anda hebat Tuan Kim, nona Kang tolong jaga Tuan Kim agar kondisinya tetap stabil” Jihyun mengangguk antusias. Ia mendekat kearah ranjang dan menghambur kepelukan Jongwoon.
“Akhirnya oppa dasar. Kenapa lama sekali, 4 bulan. Ck!!” Jongwoon mengusap kepala Jihyun yang masih rebah dipundaknya yang terasa lemas.
“Ini karena kau bocah nakal”
***
            Jihyun mendekat kearah pintu kamar Jongwoon. Ia hampir membuka pintu kamar itu tapi ucapan seseorang didalam sana membuatnya menghentikannya. Ia justru menajamkan indra pendengarannya.
“Kau ini ceroboh sekali!! Kau tahu kau hampir membunuhku Cho Gamer Babo!!!” Cho Gamer Babo ? Tak ada yang lain selain Kyuhyun. Itu pasti Kyuhyun. Itulah yang ada dipikiran Jihyun.
“Tapi akhirnya ia mengaku bahwa ia menyukai ah- ani. Mencintaimu hyeong” Cho terlihat tak terima dengan tuduhan sepupunya.
“Tapi intinya kau hampir membunuhku. Kau bilang hanya luka lecet saja. Aish!! Kepalaku saja masih sakit”
“Kau sudah mengatakannya berkali-kali Kim Sajangnim”
“Dan kau sudah menyangkalnya berkali-kali Cho Gamer”
            Jihyun terdiam. Lalu ia milih ketaman belakang rumah besar Jongwoon. Ia melupakan sup rumput laut untuk Jongwoon yang sudah mendingin kini. Ceroboh, membunuh, lecet, mencintai. Atau jangan-jangan---- kecelakaan itu sebenarnya hanya rekayasa yang menjadi sungguhan ?
***
End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar