1.
Title : I Got You Like Run Away
2.
Author
: Fortunia Ryu
3. Casts : Kim Jongwoon [Yesung Super
Junior], Kang Jihyun, and other casts find by your self.
4.
Lenght : Oneshoot
5.
Rated : PG13/T
6.
Genre : AU, No Plot, flow like
river. And other up to readers.
7.
Disclaimer : FF Khusus Ultah Yesung oppa suami
saya tercinta yang sedang menjalani wamil. Itu judul saya ngutip dari lirik
lagunya Super Junior – SPY. Karena entah kenapa hari ini saya suka lagi dengan
lagu itu dan seharian dengerin tuh lagu. Apalagi dibagian akhirnya. Oh My!!
Suaranya itu loh!! Story is Mine!! Typo(s) anywhere. No Plagiat.
Story....
Author POV
Seorang yeoja
turun dari mobil Renault Samsung SM5 dengan wajah tersungut-sungut kesal. Ia
melangkah kesal menuju halaman kampus tempatnya menimba ilmu tapi seseorang
mencekal lengan kiri membuatnya berhenti dan berbalik. Ia menatap garang namja
yang tadi mengantarnya ke Inha University ini. Dengan sekali hentakan tangannya
yang tadi digenggam setengah mencekal itu terbebas.
“KAU!!” tangan telunjuknya mengacung menunjuk tepat dihadapan namja
bersetelan jas hitam itu. Sedangkan namja itu hanya tersenyum biasa. Seorang ia
tak tahu kekesalan yang ditujukan yeoja itu padanya.
“Sudah kukatakan berulang kali Tuan Kim yang terhormat. Aku tak
suka padamu, jadi berhenti mengejarku. Apa kau kelebihan waktu untuk mengurus
perusahanmu dan anak-anaknya itu ? Kukira 24 jam dalam sehari itu tak cukup.
Berhenti mengikutiku” yeoja itu mundur beberapa langkah setelah memastikan
namja terhormat itu hanya diam ditempat ia dengan cepat berbalik dan berlari
memasuki universitas kebanggaannya. Sementara itu-
“Aku tak akan berhenti Ms. Kang. Aku tahu kau hanya ingin
bermain-main denganku ? Geuraeyeo ?” namja itu dengan gaya cool-nya memasukkan
kedua tangannya kesaku celana dan berjalan menuju mobil kesayangaanya yang
berada beberapa langkah dibelakangnya tadi. Ia tersenyum penuh maksud sebelum
akhirnya melajukan kuda besi itu menuju tempatnya menghabiskan waktunya.
Kantor!!
***
“Jihyun” yeoja itu mendengus kesal sambil terus melangkah menuruni
anak tangga. Dibawah dekat tangga itu eomma-nya dan seorang namja yang selalu
mengganggunya-menurut Jihyun- selama hampir 2 tahun terakhir ini.
“Ah, kalau begitu eomma tinggal dulu nde. Jihyun juga sudah siap,
ah- semoga acara makan malam kalian menyenangkan. Aigoo~ Jihyun-ah, kau harus
bersyukur pada Tuhan karena Yang Maha Esa memberikan namja yang tulus
mencintaimu seperti Jongwoon ini” cecer Ny. Kang sebelum meninggalkan anak
kesayangannya yang mendelik pada Jongwoon tanpa beliau sadari.
“Kajja” Jongwoon menautkan jarinya dengan Jihyun tapi Jihyun
berusaha melepaskannya tapi tak bisa. Akhirnya ia hanya pasrah saat mereka
mulai melangkah keluar rumah kediaman keluarganya.
***
“Mawar, untukmu Jihyun-ah” lagi-lagi Jihyun menerimanya lalu
meletakkannya diatas meja. Terhitung sudah kalung berlian, tas, parfume dari
paris, coklat, boneka bear kesayangan Jihyun, tapi wajah Jihyun masih saja
mengaduk-aduk makanannya tak semangat. Ia sudah bosan dengan Jongwoon yang
selalu mengganggu hidupnya. Yah... hanya itu!!
“Kang Jihyun” panggil Jongwoon lirih. Jihyun menatap Jongwoon
dengan bosan, ia seolah bertanya ‘ada apa ?’
Jongwoon tiba-tiba
berdiri dan berjongkok disamping kursi Jihyun, ia meraih tangan Jihyun dan
menggenggamnya halus. Jihyun hanya menatap Jongwoon jengah, Jongwoon tahu itu
tapi ia tak mempedulikannya. Jongwoon meraih saku jas hitamnya lalu
mengeluarkan kotak persegi berwarna merah darah. Ia membukanya sebuah cincin
dengan beberapa permata yang diukir begitu indah karena Jongwoon sendiri yang
mendesainnya. Didalamnya terdapat ukiran huruf Kim Jihyun dalam tulisan
hangeul.
“Maukah- kau menghabiskan sisa waktumu bersamaku. Menemaniku,
menjadi ibu dari anak-anakku kelak, mendidik mereka, menyayangi mereka, dan
membesarkan mereka bersamaku. Menjalani manis dan pahitnya kehidupan dunia ini
bersamaku, bersama-sama melewati waktu hingga Tuhan memanggil kita ? Jihyun-ah,
Neo hanaman saranghamikka ?” tubuh Jongwoon tersentak saat Jihyun mengibaskan
tangannya. Jihyun berlari menuju pintu keluar restaurant. Tapi sebelum sampai
dipintu Jihyun berbalik.
“Sampai kapanpun aku tak akan pernah mencintaimu, jadi jangan
pernah berharap aku mau menerima lamaranmu apalagi melahirkan anak-anakmu.
Bagiku kau itu adalah orang yang paling ingin kubuang jauh-jauh dari hidupku
karena kau hanyalah penggganggu. Aku menyesal pernah menolong anda Tuan Kim”
Jongwoon terpaku. Setelah Jihyun menghilang dari pandangannya ia masih dengan
posisinya yang berlutut menghadap pintu.
“Tuan gwaenchansumnikka ?” seorang waiter menepuk pundak Jongwoon
hingga namja itu tersadar. Ia buru-buru berdiri dan mengusap wajahnya kasar.
Dikeluarkannya kotak persegi panjang canggih andalannya dan menyentuh layarnya
lalu mendekatkannya ketelinga kirinya.
“Yeobosaeyo. Ye- kita bertemu. Geureom, diapartementmu. Ne-
sekarang” dengan langkah terburu-buru Jongwoon melangkah meninggalkan
restaurant itu.
***
Jongwoon dengan
tak sabar menekan bel di apartement sederhana dengan nomor 387 lantai 4 di
Nowon. Cekleeett. Seorang namja membukakan pintu itu dan tanpa sopan
santun Jongwoon langsung menerobos masuk kedalam apartement sederhana bahkan
tergolong kecil untuk orang
sederajatnya. Ia menghempaskan tubuhnya duduk disofa ruang tengah dan dengan
gusar menyalakan TV yang berada didepannya lalu membanting remote-nya.
Sedangkan sang pemilik apartement hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia
memilih menuju dapur untuk mengambilkan Jongwoon soda lalu kembali keruang
tengah.
“Katanya hari ini-” namja yang lebih tinggi beberapa centi dari
Jongwoon berkulit putih pucat itu menampakan senyum atau mungkin cengiran
mendapat tatapan tajam dari Jongwoon.
“Bagaimana hasilnya ?” Jongwoon menyandarkan kepalanya disofa lalu
mengacak rambutnya tanda ia frustasi.
“Apa kau tak lihat eoh Cho Kyuhyun ? Apa diotakmu hanya ada games
saja hingga kau tak bisa menafsirkan suasana hati seseorang lewat ekspresinya
eoh ?” namja Cho yang sudah dianggap seperti dongsaengnya sendiri itu hanya
tersenyum kikuk. Ia mengalihkan pandangannya dari Jongwoon.
“Hanya basa-basi hyeong” ujar Kyuhyun sambil meminum soda yang
berada ditangannya sedangkan Jongwoon. Menyentuhnya saja tidak. Jika sudah
seperti ini Jongwoon tidak akan melakukan apa-apa kecuali berpikir. Bagaimana
caranya membuat Jihyun- menjadi miliknya.
Beberapa saat
mereka saling terdiam. Kyuhyun mengambil remote TV yang tadi dibanting
Jongwoon. Ia mengganti channel drama yang menurutnya terlalu mengada-ada
berlebihan dan tak masuk akal menjadi acara musik. Ngomong-ngomong soal drama
mungkin kisah hidup namja yang dari tadi terus mengerang, mengusap wajahnya kasar, atau mengacak-acak
rambutnya sendiri itu drama terbaik menurutnya. Bagaimana tidak, dia pernah
berhubungan dengan beberapa yeoja yang ternyata hanya mendekatinya karena wajah
dan latar belakang keluarganya. Setelah bertemu dengan yeoja yang tak melihat
itu semua yeoja itu justru tidak melirik Jongwoon sedikitpun. Yah... walaupun
Jongwoon selalu mengatakan bahwa Jihyun itu menyukainya hanya saja malu
mengakuinya.
“Eotteokhae ?” Kyuhyun menoleh kearah Jongwoon yang menatap kedepan
dengan tatapan kosong. Jas hitam itu sudah lenyap dari tubuh Jongwoon yang kini
hanya memakai kemeja putih kotak-kotak dan celana hitam.
“Apanya hyeong ?”
“Appa menyuruhku untuk cepat menikah. Kalau tidak- mungkin akan ada
permainan jodoh-jodohan lagi. Aigoo~”
“Begini saja hyeong. Kita buktikan apakah Jihyun itu mencintaimu
atau tidak. Mendekatlah” Kyuhyun membisikkan sesuatu ditelinga kiri Jongwoon,
keningnya mengkerut. Setelah Kyuhyun menjauhkan mulutnya Jongwoon terlihat
masih mencerna apa yang baru saja sepupunya itu bisikan ditelinganya.
“Yak!! Cho Kyuhyun. Yang benar saja. Andwae!!!”
“Itu bagus hyeong. Daripada caramu yang kuno itu”
“Ini juga kuno Cho Kyuhyun!!!”
***
Seminggu. Genap
seminggu Jongwoon tidak menemui Jihyun. Sadar atau tidak dengan tidak adanya
Jongwoon itu membuat Jihyun lebih pendiam, terlalu banyak melamun daripada
berceloteh ria dengan chingudeul ataupun keluarganya. Terutama oppa-nya yang
baru datang dari Incheon. Kang Daesung. Tapi hari sabtu ini berbeda. Jihyun
terlihat begitu bersemangat dengan senyum cerah ia mencoba pakaian apa yang
akan digunakannya.
“Aigooo~ ternyata uri yeodongsaeng sudah besar. Eomma sepertinya
kau akan mendapat anak laki-laki baru tak lama lagi” Daesung mencubit pipi
Jihyun sebentar lalu langsung berlari keluar kamar Jihyun sebelum adiknya itu
mengeluarkan lengkingannya.
Kali ini Jihyun
tak mau ambil pusing tentang oppa-nya yang menggodanya tadi. Ia kembali
berkutat dengan dress-dress yang ia punya dan cermin. Ia tak menyadari kenapa
hatinya bisa sesenang ini saat akan bertemu dengan Jongwoon. Ia hanya
menikmatinya. Ia tak mau ambil pusing.
***
Jongwoon
melambaikan tangannya dan tersenyum lembut. Jihyun mendekat, dalam hati
Jongwoon berharap agar rencana itu tak usah dilakukan. Menurutnya itu- aish!!
Terlalu seperti drama yang didramatisir oleh para penulisnya.
“Ada apa ?” Jongwoon kembali tersenyum tak mempedulikan nada ketus
dalam ucapan itu. Ia mengeluarkan lagi cincin yang sama dengan yang ia gunakan
untuk melamar Jihyun di restaurant waktu itu.
“Bukankah sudah aku bilang aku tak ingin menikah. Lagi pula aku
masih kuliah, aku ingin mengejar impianku dulu menjadi seorang photographer”
Jongwoon meletakkan kotak itu dibangku tepat disamping Jihyun. Ia mendesah.
Sebenarnya Jihyun sedikit tersentak karena ini pertama kalinya melihat wajah
Jongwoon frustasi.
“Kalau kau menolak lebih baik aku mengakhiri hidupku. Kau tak tahu-
dalam hidupku aku tak pernah mencintai wanita hingga seperti ini” Jongwoon
berdiri. Matanya kini terlihat sayu tanpa senyum dibibir kecilnya.
“Aku tahu kau hanya menggertakku saja. Kau pikir aku takut jika kau
mati ? Aniyo!! Aku justru senang” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir
Jihyun. Jongwoon mengangguk air matanya keluar. Geureom.
Ia berlari dengan
cepat menuju jalan raya didepan taman itu. Tanpa menoleh kesamping kanan kiri,
Jongwoon langsung menyebrang jalan raya itu begitu saja. Tapi sebuah mobil
melaju dengan kecepatan diatas rata-rata yang akhirnya menghantam tubuh
Jongwoon karena sang supir tak bisa menghentikan laju mobil itu. Jihyun terdiam
ditempatnya duduk. Saat banyak orang mulai mengerubungi orang itu.
Sudut bibir Jihyun
bergetar. Ia berlari dan menerobos kerumunan orang itu. Ia mengerang berteriak
siapa saja menelpon ambulance. Tangannya meraih kepala Jongwoon yang bersimpah
darah karena terbentur.
“A-ak-ku tak per-nah. Ma-in-main” dengan tersendat-sendat Jongwoon
mengucapkan itu. Ia bisa merasakan air mata Jihyun yang menetes mengenai
pipinya.
“Ul-llji-ma” Jongwoon mengangkat sudut bibirnya keatas sebelum
kesadarannya hilang.
***
“Uisanim, eotteokhae ?” Kyuhyun memegangi tubuh Jihyun yang
mencegat Jung Uisanim yang baru keluar dari ruangan operasi. Dokter muda itu
tersenyum setelah melepas maskernya.
“Syukurlah nyawanya selamat. Benturan dikepalanya sepertinya tak
mempengaruhi otaknya. Tapi-” genggaman Kyuhyun dibahu Jihyun semakin erat saat
Jung Uisanim menggantung ucapannya.
“Tuan Kim koma, kami tak bisa memastikan kapan ia tersadar. Semua
yang ada didunia ini atas kehendak Tuhan, jadi berdo’alah agar Tuan Kim lekas
sembuh. Saya permisi” Kyuhyun menuntun Jihyun untuk kembali duduk tak lama
segerombolan orang keluar dari ruang operasi dengan Jongwoon yang berbaring tak
sadarkan diri diatas ranjang.
“Oppa”
“Jongwoon hyeong akan baik-baik saja” ujar Kyuhyun saat ia
menyadari Jihyun menatap lekat namja yang berbaring tak sadarkan diri itu.
“Semua ini tak akan terjadi jika bukan karena aku” lirih Jihyun.
***
Sinar matahari
pagi mengusik mata Jihyun hingga ia membuka kedua matanya. Ia mengecup tangan
lemah yang saat ia tidur selalu digenggamnya. Ia menoleh kearah sofa kecil
diruang rawat ini tapi ia tak menemukan Kyuhyun.
“Mencariku” Jihyun menoleh kearah toilet dan menemukan Kyuhyun yang
menggenggam handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Kyuhyun berjalan
mendekati Jihyun dan mengamati Jongwoon yang tertidur baik-baik.
“Apa kau mencintai Jongwoon hyeong ? Ia tampan walau aku lebih
tampan. Tapi menurutku hanya wanita bodoh saja yang menolak lamarannya” Jihyun
menggembungkan pipinya kesal, ia tahu dari nada bicara Kyuhyun namja itu
menyindirnya.
“Kau mencintainya ?”
“Molla” jawab Jihyun.
“Tapi aku merasa bersalah padanya hingga ia seperti ini” lanjut
Jihyun. Merasa kurang puas Kyuhyun kembali bertanya.
“Lalu kenapa kau menangis ? Air mata itu tanda kita menyayangi
seseorang, bukan karena rasa bersalah” tatapan mata Kyuhyun beralih pada tangan
Jihyun yang menggengam erat jemari Jongwoon.
“Kau bahkan tak melepaskan tangannya. Jangan membohongi dirimu
sendiri” hening. Jihyun tak menjawab. Tapi dalam hati ia mulai menyadari bahwa
ia- tak ingin Jongwoon pergi, itulah yang ada dalam pikirannya saat ia melihat
Jongwoon-
“Berapa lama lagi ia akan bangun ini sudah 3 minggu”
“Ia pasti bangun karena ada seorang wanita yang menunggunya disini.
Yang sabar saja. Ia bahkan menunggumu lebih dari 2 tahun” kata-kata itu kembali
membuatnya tersenyum kecut.
***
“Oppa” dengan cepat dokter dan 3 orang perawat yang hampir
meninggalkan ruang rawat itu mendekati ranjang Jongwoon yang mengerjap-erjapkan
matanya.
“Syukurlah. Semuanya tetap stabil. Anda hebat Tuan Kim, nona Kang
tolong jaga Tuan Kim agar kondisinya tetap stabil” Jihyun mengangguk antusias.
Ia mendekat kearah ranjang dan menghambur kepelukan Jongwoon.
“Akhirnya oppa dasar. Kenapa lama sekali, 4 bulan. Ck!!” Jongwoon
mengusap kepala Jihyun yang masih rebah dipundaknya yang terasa lemas.
“Ini karena kau bocah nakal”
***
Jihyun mendekat
kearah pintu kamar Jongwoon. Ia hampir membuka pintu kamar itu tapi ucapan
seseorang didalam sana membuatnya menghentikannya. Ia justru menajamkan indra
pendengarannya.
“Kau ini ceroboh sekali!! Kau tahu kau hampir membunuhku Cho Gamer
Babo!!!” Cho Gamer Babo ? Tak ada yang lain selain Kyuhyun. Itu pasti Kyuhyun.
Itulah yang ada dipikiran Jihyun.
“Tapi akhirnya ia mengaku bahwa ia menyukai ah- ani. Mencintaimu
hyeong” Cho terlihat tak terima dengan tuduhan sepupunya.
“Tapi intinya kau hampir membunuhku. Kau bilang hanya luka lecet
saja. Aish!! Kepalaku saja masih sakit”
“Kau sudah mengatakannya berkali-kali Kim Sajangnim”
“Dan kau sudah menyangkalnya berkali-kali Cho Gamer”
Jihyun terdiam.
Lalu ia milih ketaman belakang rumah besar Jongwoon. Ia melupakan sup rumput
laut untuk Jongwoon yang sudah mendingin kini. Ceroboh, membunuh, lecet,
mencintai. Atau jangan-jangan---- kecelakaan itu sebenarnya hanya rekayasa yang
menjadi sungguhan ?
***
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar