1.
Title
: Late Autumn
2.
Author : Fortunia Ryu
3.
Casts : Cho Kyuhyun, Lian, and other
casts find by ur self.
4.
Length : Songfict
5.
Rated : PG 13/PG 15
6.
Genre : AU, Memories.
7.
Disclaimer : Story is Mine. Typo(s) anywhere. No
Plagiat. Ff yang muncul dengan sendirinya. Lagu kesukaan author dari semua
lagu yang pernah author denger yang pernah dinyanyiin solo ama si Evil#dijewer
Evil. Cukup curhatnya.
Story....
Ot jangeul
yeoreo bo asseo
Myeot
beori nune ttwi eosseo
Jogeum
ireun geot gat jiman i beosseo
Geo-ul
apnae moseubeun geuttae geu moseub
Aku
membuka lemari
Beberapa
pakaian tertangkap mataku
Meskipun
aku pikir itu sedikit lebih awal, aku memakainya
Berdiri di
depan cermin, aku terlihat sama seperti waktu itu
Aku
terbangun menatap matahari yang mulai meninggi pagi ini. Berjalan menyibak
gorden crem dengan hiasan bunga dari kain flanel yang bermacam-macam. Suara
burung yang berkicau dengan sinar matahari pagi yang cukup cerah. Aku berjalan
kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Kubuka
lemari pakaian berwarna putih gading yang terbuat dari kayu yang diukir.
Gardigan putih, kaos abu-abu lengan pendek dan celana hitam. Kenapa aku merasa
seperti saat aku akan bertemu dengannya dulu ? Musim dingin memang belum datang
dan cuaca cukup hangat. Aku mengambil ponselku dan menyentuh layarnya
mengetikan beberapa angka lalu mendekatkannya ketelinga kiriku.
“Yeobosaeyo”
“Yeobosaeyo.
Appa, hari ini aku ijin tidak kerumah sakit” ucapku sambil menatap pantulan
diriku di cermin dengan tinggi 2 m.
“Waeyo ?
Apa kau ingin ketempatnya lagi seperti tahun-tahun sebelumnya Kyu ? Appa mohon
padamu, mulailah hidup tanpanya. Jangan seperti ini. Appa berterima kasih
padanya karenanya kau dapat hidup seperti saat ini tapi Kyu, appa juga ingin
aku seperti putra teman-teman appa. Menikah dan memiliki anak” aku menghela
nafas.
“Bukan.
Hari ini aku tak akan pergi menemuinya. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan
appa” ujarku lemah. Entah aku sanggup atau tidak. Mengingat semuanya kembali.
Tapi aku ingin mengingat segalanya tentangnya, saat-saat ia tertawa disisiku.
Mewarnai hidupku. Walau pada akhirnya air mataku turun karena tak sanggup
mengingatnya.
“Baiklah”
aku menutup telepon setelah mendengar jawaban dari appa.
Ssaneul
haeseo deo johasseo
Golmogeun hae
ga jiryeo hae
Keopi
hyangi geuttaero nal teryeo ga
Sho windou
gyeo-ul oseul bara bodeon geuttaero
Aku lebih
menyukainya karena itu dingin
Matahari
terbenam di jalanan
Aroma kopi
membawaku ke masa itu
Ketika aku
melihat pakaian musim dingin melalui jendela toko
Aku menghirup udara
sedalam-dalamnya. Merasakan hangatnya matahari pagi dan segarnya udara akhir
musim panas. Aku meneguk kopi dalam genggamanku sambil terus melangkah. Jalan
ini. Tempat dimana aku bertemu dengannya. Banyak orang yang menatapku aneh. Pagi
yang hangat dengan pakaian musim dingin. Ck, aku tak peduli. Aku hanya ingin
memakai ini saja.
****
“Yak!! Apa
yang kau lakukan ?” aku hanya terdiam. Tubuhku terasa kaku bahkan aku belum
tersadar sepenuhnya dari kejadian yang baru saja aku alami. Yeoja itu
memuntunku memepi tapi aku merasa tubuhku melemas. Jantungku. Aigoo~
“Yak,
Ahgassi!!” seseorang memepuk-nepuk pipiku tapi aku hanya bisa tertunduk dan
meringis ditepi jalan sebelum kesadaranku menghilang tiba-tiba.
***
Aku membuka mataku perlahan. Silau.
Kukerjap-kerjapkan mataku berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk
kepupil mataku. Bayangan seorang gadis yang awalnya tak jelas kini dapat
kulihat dengan jelas.
“Kau sudah
bangun. Biar aku panggilkan dokter Cho dulu” aku hanya terdiam melihatnya
keluar dari ruang rawatku. Ternyata aku masih hidup, aku pikir aku sudah mati.
Tak lama aku melihat appa dan 2 orang perawat dan yeoja yang tadi menolongku
mengekor dibelakang mereka. Appa memeriksa denyut nadi dan tekanan darahku.
“Kau harus
lebih hati-hati lagi Kyuhyun-ah, appa sudah bilang jangan beraktivitas yang
membuatmu lelah, jangan berlari, jangan pergi sendiri tanpa supir atau
pengawal. Kenapa kau melanggarnya Kyu ?” aku hanya terdiam. Aku merasa tak
berguna bagi mereka. Aku hanya menyusahkan mereka saja. Mungkin lebih baik aku
mati saja.
“Baiklah
appa keluar dulu. Tetap istirahat. Ahgassi terima kasih karena telah menolong
putraku. Tapi bisakah anda menjaganya sebenatar karena aku harus menangani
pasien lain dan sebentar lagi akan ada orang yang menjaganya. bisakah kau
menjaganya sebenatar” dari ekor mataku aku melihat yeoja itu mengangguk ringan
lalu duduk dikursi dekat ranjang setelah appa dan kedua perawat itu pergi. Kami
terdiam cukup lama. Aku tak mengenalnya jadi untuk apa memulai pembicaraan
dengannya.
“Sepertinya
musim gugur tahun ini akan datang lebih awal padahal ini masih musim panas tapi
udara sudah mulai dingin” aku tetap diam tak menanggapi ucapannya.
“Aku baru
tahu kau putra pemilik rumah sakit ini, pantas saja tadi beliau begitu panik
saat aku membawamu kemari. Memangnya kau sakit apa ?” aku tetap diam dengan
pandangan mata tertuju keluar jendela. Langit gelap ditengah-tengah musim
panas. Memang cukup aneh.
“Kau tahu
aku iri padamu tuan. Orang tuamu begitu menyayangimu, sesibuk apapun mereka,
mereka masih memperhatikanmu. Kau beruntung, sangat beruntung. Seharusnya kau
menjalani hidupmu dengan baik. Aku tadi melihatmu menyebrang dengan tatapan
mata kosong bahkan kau tak mendengar saat orang-orang meneriakimu. Sebenarnya
kau ada masalah apa ? Mungkin dengan bercerita kau kan sedikit merasa lega” aku
memutar bola mataku kesal. Ck, yeoja memang cerewet.
“Kau tak
akan mengerti. Orang sepertimu tak akan pernah mengerti masalahku” ucapku
ketus.
“Setiap
orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Contohnya saja aku. Orang tuaku sibuk
dengan dirinya sendiri, secara material mungkin kebutuhanku tercukupi dan kasih
sayang ? Aku bahkan tak dapat melihat wajah mereka setiap hari. Jadi aku
memutuskan untuk pindah kemari, berharap hidup disini akan lebih baik. Kajja
ceritakan masalahmu” gadis yang menarik. Ia mengatakannya dengan senyum tanpa
ada raut kesedihan secuilpun dibalik matanya.
“Kau lebih
beruntung daripada aku. Aku tak bisa hidup bebas sepertimu. Bahkan yeojachingu-
ah ani. Mantan yeojachinguku sendiri memutuskanku karena aku penyakitan. Ck,
kata mereka aku lemah. Aku menghentikan kuliahku karena aku tak sanggup
mendengarnya setiap hari. Orang tuaku- aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak
bisa menjaga mereka. Bahkan aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Aku lemah,
jantung ini. Aku membencinya” desisku lirih pada akhir kalimat.
“Jika aku
yang menjadi dirimu aku tak akan mempermasalahkannya. Aku akan membuat orang
tuaku merasa memiliki anak. Walau orang mengatakan aku lemah. Kau tahu, tak
banyak orang memiliki orang tua seperti orang tuamu. Kau hanya perlu menunjukan
sedikit saja pada orang tuamu bahwa kau bisa. Walau kau berbeda dengan orang
pada umumnya tapi kau bisa melakukannya. Menjadi dokter aku pikir itu bukan
sesuatu yang buruk”
Barameul
masheo bo-asseo
Gaseum do
bogopa haeseo
Han-gyeol
na ajin gaseumeun jae chokhae
Himdeun
bami ogi jeone dora gajago
Aku
mencoba untuk menghirup angin karena hatiku kehilangan dirimu
Hatiku
terasa jauh lebih baik dan mempercepatku
Mari kita
kembali sebelum malam yang berat datang
Aku memasuki sebuah cafe dikawasan
Nowon dekat tempat tinggalku. Seharusnya ini sudah memasuki musim gugur tapi
mengapa hari masih panas seperti ini ? aku menghampiri seorang namja yang duduk
didekat pintu memudahkanku mengenalinya.
“Annyeong
hyeong” aku duduk didepannya. Matanya menelisik diriku. Hey ! memangnya kenapa
? Ada yang aneh dengan diriku ? Aku rasa tidak. Aish, membuat risih saja.
“Waeyo
hyeong ?” ia mengfokuskan tatapan matanya padaku.
“Ckck, tak
kusangka. Sepertinya adikku berbakat menjadi peramal” aku mencerna
kata-katanya. Adik ? Bukankah adiknya hanya Lian dan Lian sudah-
“Dia
mengatakan padaku bahwa ia sangat menyayangimu, ia tak ingin saat dirinya sudah
tak ada disampingmu kau tetap akan tersenyum” aku menghela nafas. Babo Yeoja!!
“Untuk apa
aku tersenyum sedangkan alasanku untuk tersenyum sudah tak ada. Lebih baik aku
hidup dalam keterbatasan daripada aku sehat seperti sekarang tanpa dirinya.
Adikmu sungguh bodoh hyeong. Ia membuatku jatuh cinta padanya dan meninggalkanku
setelahnya, tanpa memberiku waktu untuk mengungkapkannya” rahang wajahnya
mengeras tanda ia marah. Mungkin karena aku menjelek-jelekkan adiknya. Tapi
sungguh aku begitu mencintainya hingga aku membenci diriku sendiri karena tak
dapat mengendalikan perasaanku.
“Ini
adalah yang ia tak mau. Banyak orang menyayangimu dan berharap kau sembuh. Kau
memiliki masa depan yang cerah dan panjang. Orangtuamu begitu menyayangimu.
Tapi dibanding dengan kami- aku dan Lian, bahkan orang tuaku berencana menjual
Lian untuk mendapat uang untuk kesenangan mereka sendiri. Ini alasan sebenarnya
Lian memberikan jantungnya untukmu. Bukan karena dia semata-mata mencintaimu.
Ia berpikir akan lebih berguna jika jantung itu untukmu. Sebenarnya Lian tak
ingin aku mengatakan ini padamu tapi kupikir kau perlu tahu. Dan ini- surat
dari Lian yang baru bisa aku sampaikan padamu. Aku pergi, jalani hidupmu dengan
baik jangan seperti ini” aku menatap amplop berwarna coklat tua bergaris-garis
hitam. ‘Cho Kyuhyun’ itulah yang tertulis didepan amplop itu.
Geurae neo
yeosseo nal terigo na on-geon
Nae jumeoni
sok nae soneul kkok jabdeon
Geuhae
neut ga-eul ye neo, ijen eodireul geot ni
Neoye
balsori ga geuriwo
Ya, itu
kau yang membawaku keluar dari sana
Kau
menggenggam erat tanganku yang ada di sakuku
Kau selama
akhir musim gugur tahun itu
Di mana
kau berjalan sekarang?
Aku
merindukan suara langkah kakimu
Babo yeoja!! Kenapa kau
meninggalkanku. Dulu, ditaman ini- bukankah aku memintamu untuk menungguku.
Jika kau tak bisa mengapa memenuhinya kenapa keu menyanggupinya ?. Mengapa
membuatku berantakan tanpa dirimu ? Lian- apa bedanya kau dengan Hyehwa ? Hah,
tentu saja kalian berbeda. Hyehwa meninggalkanku karena tahu aku ini penyakitan
sedangkan kau meninggalkanku untuk diriku- walau bagian dari dirimu tetap
bersamaku. Aku tak puas jika hanya bersama bagian dari dirimu bukan dirimu
seutuhnya. Aku akui aku serakah.
Kumasukan tangan kananku kesaku
celana panjangku. Mengambil amplop yang tadi siang belum sempat kubaca. Membuka
amplopnya dan mengambil sepucuk kertas putih yang berisi tulisan tangannya.
‘Kyuhyun-ah, maaf aku berbohong.
Keluargaku lebih dari itu. Maaf aku tak dapat menceritakannya padamu karena aku
tak sanggup. Ketika melihatmu satu hal yan terlintas dalam pikiranku. Aku ingin
membuatmu memiliki semangat untuk hidup, kau begitu beruntung dan sekarang aku
merasa berguna. Aku- menyayangimu lebih dari sekedar teman. Maaf. Aku tahu aku
lancang. Masuk dalam kehidupanmu secara tiba-tiba dan menghilang secata
tiba-tiba pula. Anggaplah aku angin musim gugur. Menemanimu dalam kediaman. Aku
selalu berdo’a untuk kebahagaianmu Kyu. Lanjutkan hidupmu. Aku tak ingin
seperti yeojachingu yang lain pergi meninggalkanmu tanpa permisi walau aku
memang bukan yeojachingumu. Lian’ aku menutup kertas dan memasukkannya kembali
kedalam amplop. Dalam sesalku hanya satu. Andai aku menyatakannya waktu itu-
mungkin setidaknya aku dapat mendengar pernyataan bahwa ia juga mencintaiku.
Secara langsung.
Aku melangkahkan kakiku meninggalkan
taman ini. Malam semakin larut dan udara sedikit dingin mungkin sekitar 17˚C.
Aku memasukkan tanganku kesaku cardigan putih yang kupakai. Syal biru muda
pemberiannya kurapikan agar lebih menghangatkan leherku. Jalan dengan pohon ek
disamping kanan kiri jalan. Ini memang jalan yang diperuntukan untuk pejalan
kaki. Ingatan itu- masih jelas terekam diingatanku. Saat terakhir aku melihat
wajahmu. Satu-satunya orang yang dapat menghangatkan hatiku di musim gugur yang
dingin.
Geurae neo
yeosseo ga-eul eul gareu chyeojun
Galsaek
geuri umi kkeuti eobtneun bam
Daga-ol
nae gyeo ureul, ije junbihae ya hae
Bami gilgo
gin nae gyeo-ureul
Niga neomu
manheun nae gyeo-ureul
Ya, itu kau
yang mengajariku musim gugur
Sebuah
malam dengan jalan cokelat panjang tak berujung
Aku harus
mempersiapkan diri untuk musim dingin yang mendekatiku
Musim
dinginku yang memiliki malam yang panjang
Musim
dinginku yang memiliki dirimu lebih banyak
Kami terus berjalan berdampingan.
Walau angin malam musim gugur tak baik untuk kesehatanku, aku ingin bersamanya.
Entah mengapa hari ini, aku benar-benar ingin menghabiskan waktu dengannya.
Lian memasukkan tangannya kesaku sweater cream yang ia pakai. Malam semakin
larut dan udara terasa dingin, hingga ekor mataku menatap sebuah kedai kecil
diujung jalan. Aku menarik tangannya untuk mengikutiku.
“Ahjumma,
aku ingin teh hangat saja. Udara begitu dingin, Lian. Kau ingin apa ?” aku
menatapnya intens. Bola mata dari tadi bergerak tak diam. Aku tahu ia tengah
gelisah namun aku tak tahu apa penyebabnya. Bahkan mengatakan yang sejujurnya
pada yeoja berdarah China disampingku saja aku tak sanggup.
“Xian
Lian!!” ia tergelonjak kaget saat aku memanggilnya dan menggenggam tangannya
yang tadi kulepaskan.
“Eh!! Kyu~
mian tadi kau bilang apa ?” aku tersenyum dan mengangguk.
“Teh satu
dan coffee satu ahjumma” aku sangat tahu dirinya. Disaat seperti ini ia pasti
membutuhkan kopi. Menurutnya kopi selain bisa menghangatkan tubuh juga dapat
menenangkan pikirannya. Sedangkan aku- orang dengan kelainan jatung sepertiku
tak baik mengonsumsi kopi bukan ?
“Kalian
sepasang kekasih ? Biasanya mereka akan memesan soju untuk diminum berdua.
Kalian pasangan yang berbeda. Sangat romantis” komentar ahjumma itu sebelum
pergi membuatkan pesanan untuk kami. Mungkin karena aku terus menggenggam
tangannya erat seperti ini. Kami bukan sepasang kekasih namun kami akan segera
menjadi pasangan kekasih setelah operasiku berjalan lancar.
“Ini sudah
malam dan cuaca diluar tak baik untuk kesehatanmu Kyu~. Bukankah besok kau akan
operasi ? Aku takut tubuhmu drop Kyu~, sebaiknya kita pulang saja” aku mengacak
poninya gemas. Karena besok aku akan operasi jadi jika operasi itu gagal aku
ingin bersamamu Lian. Aku mendekapnya dalam pelukanku, ia menenggelamkan
wajahnya didadaku. Hey~ kenapa aku merasa seperti ia yang akan melakukan
operasi ? Ketakutannya begitu ketara saat giginya bergemelatuk karena gemetar.
“Kita akan
pulang tapi nanti. Aku masih ingin bersamamu Lian. Jebal~” samar-samar aku rasa
ia mengangguk juga dalam pelukanku. Aku mengusap rambutnya sayang. Aku tak akan
membiarkanmu sendiri di dunia ini Lian, bahkan orang tuamu aku tak akan
membiarkan mereka membuatmu menitihkan air mata.
“Kau mau
memenuhi permintaaku ?” aku melonggarkan pelukanku dan menatap manik-manik
matanya yang terlihat berbinar karena air mata yang ada dibola matanya.
“Tunggu
aku ditaman itu. Setelah operasi aku ingin mengatakan sesuatu padamu” aku
melihat matanya ragu. Lian- gadis ini
sulit untuk kupahami.
“Eottheokhe
?” ia mengangguk samar tanpa menjawab. Terlihat ragu.
“Boleh aku
memelukmu ?” aku mengangguk. Aroma tubuhnya yang begitu manis di indra
penciumanku. Entah sejak kapan gadis dalam dekapanku ini menjadi semangatku
untuk hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar