1.
Title : The Fate
2.
Author
:
Fortunia Ryu
3.
Lenght : Oneshoot
4.
Rated : PG 15
5.
Genre : AU, Unbreakable, Married
life, Hurt. And other up to reader.
6.
Casts : Jung Byunghee [G.O MBLAQ],
Shin Sungyoung, Choi Hyuna and other casts find by your self.
7.
Disclaimer : Aish.. getok kepala Yoseob-ssi.
Aigoo, oppa kenapa lagumu enak banget ya ? Ini lagu ada memang gara-gara
caffeine-nya Yoseob oppa. Jadi kalau mau terima kasih pada Yoseob oppa. No
Plagiat. Story is Mine. Typo(s). I’m ELF. Gamsahamnida. #BOW narik tangan
Jeremy Kim.
Story...
Author POV
Prangg
Lagi, Sungyoung
hanya dapat meringkuk ketakutan dipojok kamar. Tubuhnya penuh dengan keringat
dingin, tubuhnya sedikit bergetar dan air matanya turun begitu saja. Yeoja itu
menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya yang ditekuk. Sementara seorang namja
yang tengah mabuk berat berdiri sempoyongan didekat nakas kecil dimana ia biasa
menyimpan vodka, tequila, atau sekedar soju biasa. Namja itu tak sadar bila ia
melempar sembarangan botol minumannya yang telah habis dan hampir mengenai
yeoja yang baru 2 bulan menjadi istrinya. Mungkin lebih tepatnya istri yang tak
pernah ia inginkan. Bukan karena perjodohan tapi karena kesalahan.
“ Choi Hyuna~, hikk.. ke- hikk-napa kau hikk pergi dan hikk tak
se-hikk-dikit-hikk-pun mendeng-hikk-arkan ku. Hahahaha... apa karena hikk
wanita hikk bodoh itu heh ?” yah kalimat
itulah yang selalu keluar dari mulut namja itu membuat Sungyoung semakin
bersalah, tapi dari rasa bersalah itulah mulai tumbuh rasa lain di hatinya dan
itu- membuatnya sulit bernafas. Sakit dan menyesakkan paru-parunya. Seolah-olah
paru-parunya ditekan kuat-kuat dan tak dapat bernafas.
***
“ Sungyoung-ah, tadi malam aku pulang jam berapa ? Aku tak ingat
apapun, apa terjadi sesuatu semalam. Aku terlalu banyak minum” Sungyoung tersenyum manis sambil menuangkan
teh dicangkir suaminya. Setelah selesai ia duduk di kursi disamping suaminya.
“ Ah, sekitar jam 1 malam. Tadi malam tidak terjadi apa-apa, oppa
muntah dan langsung tidur” Byunghee,
namja itu merasa tak yakin dengan jawaban istrinya. Bukan tanpa alasan ia
berpikir seperti itu, bukankah orang yang mabuk berat akan bertindak tak
beraturan, mengutarakan semua hal yang membuat otaknya mau pecah dan segala hal
yang mengganjal hatinya. Ia tak ingin melukai Sungyoung, walau pada awalnya ia
memang membenci yeoja yang duduk disampingnya sambil memakan nasi goreng yang
dibuatnya dengan tenang. Tapi gadis itu tulus dan baik, tak seperti apa yang
dipikirkannya selama ini.
“ Oppa, kenapa berhenti ? Apa masakanku tidak enak ? Atau oppa
ingin makan yang lain, maaf tadi bangun kesiangan jadi hanya bisa membuat nasi
goreng, lain kali aku akan memasakkan yang lain” Byunghee tersenyum lalu menyerap tehnya
sebentar.
“ Aniyo, ini enak. Tapi aku sedang ingin japchae” ujar Byunghee sambil kembali memakan nasi
goreng yang baru ia makan 3 sendok. Sungyoung terkekeh, lalu ia mengangguk
paham.
“ Gaeurae oppa. Nanti aku akan mengantarkan bekal ke kantor oppa
dan special hari ini japchae. Oppa, kau lucu sekali seperti yeoja hamil yang
sedang ngidap saja” . “ Mungkin kau hamil dan aku yang ngidap, bisa sajakan ?” Byunghee tersenyum melihat Sungyoung terdiam
dan kembali makan dengan tenang.
“ Bukankah eomma berkali-kali mengatakan ingin segera memiliki
cucu, jadi bisakah kita berikan ia seorang cucu” Sungyoung terdiam, ia menelan dengan susah
payah nasi yang masih ada dimulutnya. Yang ia pikirkan adalah bila Byunghee
mabuk dan lepas kendali, ia tak ingin anaknya melihatnya karena Byunghee tak
jarang melakukan kekerasan fisik padanya dan ia tak pernah tahu.
“ Aku terserah oppa saja, tapi oppa-” Sungyoung terlihat ragu untuk meneruskan
ucapannya melihat itu Byunghee tersenyum teduh meyakinkan Sungyoung.
“ Bisakah oppa berhenti minum. Bukan apa-apa hanya saja, alkohol
tidak baik untuk kesehatan dan emm, aku- tidak suka bau alkohol” ucap Sungyoung lirih. Sementara Byunghee hanya
terdiam, pelariannya dalam masalah alkohol, menghilangkan rasa penat urusan
pekerjaannya alkohol. Bagaimana bisa ia berhenti minum ?
“ Geurae, nae chagiya~”
***
Sungyoung memasuki
kamar tamu, ia berjalan ke dekat jendela untuk menyibak gorden, membuat ruangan
ini terang. Ia melepas sprei yang basah karena tumpahan alkohol dan membawanya
kebelakang. Ia masuk kembali dan membersihkan serpihan botol bekas alkohol yang
berserakan dilantai. Ia sudah terbiasa dengan hal ini. Walau pada awalnya ia menyembunyikan
ini karena merasa bersalah dan membiarkan suaminya-Byunghee-melampiaskannya,
tapi sekarang karena ia ingin mendampingi suaminya.
Setelah selesai
Sungyoung duduk ditepi ranjang dengan sprei berwarna dasar biru. Matanya
menerawang entah apa yang ia tatap sedangkan pikirannya kembali mengenang
bagaimana ia bertemu suaminya dan akhirnya menikah. Dan semuanya
terkesan—buruk.
***
“ Jung Sajangnim” Byunghee
mendongak melihat siapa yang datang keruangannya. Dengan gerakan mata ia
mengatakan ‘ada apa ?’ pada sekertarisnya.
“ Nona Choi Hyuna ingin menemui anda” Byunghee tergagap. Yeoja yang ia cintai kini
datang menemuinya untuk pertama kalinya setelah ia menikah. Yeoja yang
menghilang bagai ditelan bumi yang mampu memporak-porandakan hidupnya.
“ Sajangnim” Byunghee
tersadar dari lamunannya. Ia mengangguk dan tak lama setelah sekertarisnya
keluar seorang yeoja masuk.
“ Annyeong Byunghee-ssi” Hyuna-yeoja itu membungkuk memberi hormat pada
Byunghee, membuat Byunghee tertegu. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada
Hyuna saat ini. Hyuna berjalan mendekati Byunghee dan duduk didepannya.
“ Ada apa Hyuna-ah ? Kenapa kau baru datang ? Kau tahu aku kacau
tanpamu” suara itu- sejujurnya membuat
hati Hyuna bergetar. Ia dapat merasakan keputusaan disana, tapi bukan ini
niatnya.
“ Mian oppa. Tapi bisakah kau membantuku. Aku butuh pekerjaan
sekarang, ku mohon oppa” wajah sendu itu
tak mampu bagi Byunghee untuk menolak permintaanya. Tak sampai 5 detik Byunghee
mengangguk membuat Hyuna tersenyum girang tapi sudut bibirnya terangkat sedikit
membentuk senyuman yang err-seringaian mungkin lebih tepat.
“ Mulai hari ini kau bisa menjadi sekertarisku” ucap Byunghee dan membuat hati yeoja dengan
dress putih gading selutut itu kegirangan. ‘semua akan lebih mudah dan itu karena
kau sendiri Jung’
***
Sungyoung berjalan
menuju ruangan suaminya. Ia merasa ada yang aneh. Entahlah, biasanya didepan
ruangan Byunghee-suaminya ada Kang Jihyun-sekertaris suaminya. Karena tidak ada
Jihyun ia langsung masuk dan menemukan Byunghee sedang duduk disofa bersama
seorang yeoja. Mereka tertawa bahkan Byunghee merangkul pundak yeoja itu.
Sungyoung menepis pikiran buruknya lalu berjalan mendekati mereka.
“ Oppa, ige- japchae yang kau minta tadi pagi” Byunghee memperbaiki duduknya dan melepas rangkulannya
pada Hyuna.
“ Gomawo Sungyoung-ah, kenalkan ini Hyuna, Choi Hyuna” wajah Sungyoung langsung memucat. Nama yang
selalu disebut Byunghee tanpa sadar saat mabuk. Nama yang membuatnya merasakan
jantungnya berdetak tak karuan karena sakit. Paru-paru yang berfungsi tak
normal seolah diremas membuatnya sulit bernafas.
“ Ah, annyeong Hyuna-ssi. Aku Shin Sungyoung. Ah- mungkin sekarang
lebih tepatnya Jung Sungyoung” jujur.
Sungyoung ingin menyatakan pada yeoja itu bahwa dia adalah pemilik Byunghee sekarang
tapi keanehan ditangkap Sungyoung. Hyuna-yeoja itu justru tersenyum sinis samar
dan ia yaki itu ditunjukan untuknya.
“ O-oppa. Aku pulang dulu annyeong” Sungyoung langsung melesat pergi. Ia berlari
menuju tangga darurat. Sesampainya disana air matanya sudah mengalir begitu
deras. Pipinya sudah basah. Matanya sudah sembab. Mata dan hidungnya memerah
karena dingin dan akibat menangis.
‘Oppa- bahkan menggenggam tanganku saja kau tak pernah. Dengan
santainya kau merangkul wanita lain didepanku- didepan istrimu sendiri. Kau-
kau tak mengerti akan sesakit ini oppa. Ini sangat sakit. Neomu appeuda’
Sungyoung berlutut, ia mencengkram dadanya. Oksigennya menghilang entah kemana
membuatnya sulit bernafas.
“ Young” namja berkulit
putih pucat itu ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Sungyoung.
Menganggat dagu yeoja yang menangis tanpa isakan dan menghapus air matanya
dengan ibu jarinya lembut.
“ Jebal uljimmarago~” Sungyoung hanya diam. Jika ia membuka mulut ia
yakin bahwa yang keluar justru isakan.
“ Apa yang ia lakukan padamu ?” Sungyoung hanya diam tak menanggapi ucapan
teman yang sudah dianggap kakaknya. Pikirannya kosong!! Karena saudara sepupu
namja berkulit putih pucat itu yang kini menjadi suaminya.
***
“ Oppa kenalkan ini Choi Seunghyun. Dia namjachinguku. Kami bertemu
di Busan saat kau memutuskan untuk menikah” ucap Hyuna setelah melepaskan pelukannya
dengan Seunghyun. Byunghee belum sepenuhnya tersadar, tubuhnya terasa kaku. Ia
pikir ia bisa bersama lagi dengan Hyuna namun nyatanya tidak.
“ Oppa!!” Byunghee
tersentak. Namun dirinya kembali merasa kaku. Matanya menangkap tangan kiri
Seunghyun melingkar dipinggang Hyuna posesif.
“ Oppa!! Kenapa melamun lagi ? Oppa mau makan apa ?” Byunghee tergagap.
“ Samakan saja denganmu” rasa sakit bahkan lebih sakit dari pada saat
Hyuna pergi begitu saja tanpa kabar. Kedua telapak tangannya mengepal, menahan
emosinya untuk tidak meledak ditempat ini. Walau matanya terus menatap tajam
Seunghyun dan Hyuna yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.
“ Aku ketoilet sebentar” Byunghee mendesah kesal. Bahkan ucapannya
barusan tak mendapat tanggan apapun. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi walau
tak ada yang ingin ia lakukan disana. setidaknya ia tak ingin melihat kelakuan
mereka yang membuat hatinya hancur. Lagi dan lagi.
“ Kerja bagus Hyuna-ah, gomawo chagiya~” terukir jelas senyum kemenangan di bibir
Seunghyun. Tangannya sibuk menyuapi yeojachingunya dengan sumpit dan menarik perhatian
pengunjung lain. Pasangan serasi. Pikir mereka.
***
“ Yak!! Jung Byunghee!!” Kyuhyun. Sedari tadi ia terlihat histeris.
Terakhir ia minum dan Byunghee seperti ini adalah sebelum Hyuna datang kembali
kekehidupannya. Ia pikir dengan adanya Hyuna didekat sepupunya ini ia tak akan
mabuk-mabukan seperti ini. Tapi nyatanya ? Bahkan kemejanya saja basah karena
alkohol.
“ Waeyo Kyu-ah ? Apa ia tak tahu aku sangat bergantung padanya ?
Apa ia tak dapat merasakan bahwa aku masih mencintainya. Sangat mencintainya.
Aku tak bisa hidup dengan benar tanpa Kyu.. sekarang aku harus bagaimana Cho
Kyuhyun ?” Byunghee mengusap wajahnya
kasar. Air matanya turun bercampur dengan keringat. Suasana bar yang ramai
membuat suaranya yang melengking tenggelam begitu saja.
“ Kenapa kau tak pernah mencoba mencintai Sungyoung hyeong ?
Bukankah ia istrimu. Ia istri sahmu Hyeong. Ia wanita yang baik” ujar Kyuhyun lirih. Sungyoung adalah temannya
dan ia tahu persis bahwa Sungyoung mencintai sepupunya ini. Namun ironisnya
sepupunya ini justru tergila-gila pada wanita lain dan menjadi seperti orang
gila tiap malam seperti ini.
***
“ Oppa” Sungyoung
terperanjat kaget. Wajah Byunghee penuh luka memar dan sudut bibirnya
mengeluarkan darah. Begitu juga dengan tangannya. Darah segar mengalir dari
punggung tangannya.
“ Young, dimana kamar kalian ? Biar aku saja yang mengangkatnya” Sungyoung menunjuk kamar tamu yang berada
disamping ruang santai. Kali ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, biasanya
Byunghee akan terus memanggil-manggil nama Hyuna tapi kali ini Byunghee hanya diam
tanpa ekspresi. Tak lama Kyuhyun datang dan menghampiri Sungyoung yang sedang
mencari kotak obat.
“ Young” panggil Kyuhyun
membuat Sungyoung memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun.
“ Nan gwaenchana. Jeongmalyeo Kyuhyun-ah, gomawo sudah mengantarnya
pulang dan membantuku selama ini” Kyuhyun menghela nafas.
“ Aku tak bertanya kau baik-baik saja atau tidak. Young, ini sudah
terlalu lama. Kalian tak bisa seperti ini, ini menyakitimu Young. Aku tak tega
melihatmu meringkuk ketakutan saat Byunghee hyeong mengamuk. aku-”
“ Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Kyuhyun-ah, ini sudah
terlambat. Aku tak bisa pergi darinya. Ia sudah seperti oksigen bagiku aku tak
bisa tak melihat wajahnya dalam sehari saja. Setidaknya aku bisa merawatnya
bukan jika terjadi hal-hal seperti ini” Kyuhyun terus menyimak setiap penuturan
Sungyoung sambil mengekori yeoja itu menuju kamar tamu. Kenapa kamar tamu ?
Karena saat Byunghee sudah tertidur pulas Sungyoung akan memindahkan Byunghee
ke kamar mereka dan membersihkan kamar ini pagi harinya. Ia tak mungkin
membiarkan kamar mereka berantakan karena amukan Byunghee.
“ Ck, kau memang keras kepala. kau sama saja dengan Byunghee
hyeong. Kalian memang serasi” celetuk
Kyuhyun dan hanya dibalas senyuman dari Sungyoung.
“ Gomawo, atas pujian dan sindirannya tuan Cho. Ohya bagaimana Jung
ahjumma ? Aku dengar ia sakit” dengan
telaten Sungyoung membersihkan luka diwajah Byunghee dengan kain dan air
hangat.
“ Aish, sudah kubilang panggil uri eomma Cho ahjumma, bukan Jung
ahjumma arrachi ? Ia sudah baikan sekarang tapi masih rawat inap dirumah sakit.
Kau pandai sekali mengalihkan pembicaraan”
***
“ Oppa bagaimana Dakjuk-nya ? Wajah oppa sedikit pucat dan tapi
malam oppa demam jadi aku pikir Dakjuk baik untuk pencernaan oppa” Byunghee tersenyum manis seperti biasa. Ia
kembali menyendokkan bubur itu dan berakhir dimulutnya.
“ Oppa, kenapa tidak dijawab ? Aish, menyebalkan!!” gerutu Sungyoung membuat Byunghee terkekeh
geli. Akhir-akhir ini memang Sungyoung kerap kali merajuk.
“ Aigoo, uri anae. Achimae neomu yeppuda” kata Byunghee dengan kerlingan matanya.
“ Oppa aku tanya bagaiamana makanannya ? Aish, apa Kyuhyun yang
membuatmu menjadi menyebalkan seperti ini ? Aish, bocah itu. Jinjja!!” desis Sungyoung, namun tak lama raut wajahnya
berubah seketika. Ia terburu-buru bangkit. Wajahnya sedikit memucat, bukan
sakit tapi takut. Ia terus berusaha mengelurkan apa yang ada dalam perutnya. Ia
tak ingin Byunghee mengetahuinya secepat ini dan ia takut Byunghee tak
menginginkannya. Tak menyayangi buah hati yang kini berada didalam rahimnya.
“ Sungyoung-ah” Byunghee
memijit tengkuk Sungyoung namun yang keluar hanya air liur saja. Pikiran
Byunghee langsung tertuju pada satu hal.
“ Geuraeyeo ?” Sungyoung
terdiam. Ia tak bergerak, menatap pantulan dirinya dan suaminya yang ada
dicermin.
***
Byunghee POV
“ Hyeong!!” tak kuhiraukan
panggilan Kyuhyun. Kuteguk lagi segelas vodka untuk menghilangkan pening
dikepalaku yang tak kunjung hilang. Melupakan sejenak sakit hatiku yang tak
kunjung terobati.
“ Sebenarnya apa yang membuatmu begitu terluka ?” aku menatapnya dengan senyum getir. Wajahnya
begitu serius saat menanyakannya. Tapi Kyuhyun-ah, kau tak akan mengerti rasa
sakit ini. Dan kau tak tahu bagaimana cara aku mengungkapkannya. Ini begitu
menyesakkan.
“ Kau takkan memahaminya karena kau tak pernah merasakannya. Terima
kasih karena kau sudah mau menemaniku, kau boleh pulang jika kau mau” hampir setengah botol vodka habis kutenggak
tapi belum membuat kesadaranku menghilang. Mungkin sekarang alkoholpun tak
mampu membuatku melupakan masalah. Sial!!
“ Hah!! Mungkin aku memang tak merasakannya. Tapi seorang wanita
yang begitu kusayangi merasakannya” perasaan wanita ? Aku tak tahu!! Karena wanita
hanya membuatku merasakan sakit.
“ Kau tahu ? Rasanya saat orang yang kita cintai menangis karenamu.
Memilih pergi dari hidupmu karena dirimu, untuk kebaikanmu walau yang
sebenarnya kau butuhkan adalah dirinya. Juga rasa tak rela saat melihatnya
tersenyum bersama orang lain, untuk orang lain walau kau sadar bahwa kau tak
punya hak apapun atas dirinya. Saat dirimu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya
dapat mengikuti arus kehidupan, diombang-ambingkan takdir yang tak menentu” melihat Hyuna tersenyum pada Seunghyun membuat
darahku mendidih, apalagi saat mereka berpelukan. Ingin sekali aku meninju
wajah pria bodoh itu!! Tapi aku bahkan tak dapat berbuat apa-apa saat aku harus
melihat Hyuna menangis sendiri karena perjodohan itu.
“ Lalu bagaimana dengan temanku ? Dia seorang wanita. Sosok suami
yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar justru menyakitinya. Menyiksanya
secara tak langsung” kilatan mata
Kyuhyun terlihat berbeda. Ada apa dengan bocah ini ?
“ Lalu apa urusannya denganku ?” ucapku acuh.
“ Ia jauh lebih sakit daripada dirimu. Suaminya mencintai wanita
lain tapi didepan temanku itu suaminya bersikap seperti suaminya mencintai
dirinya. Seburuk apapun sikap suaminya ia selalu menyembunyikannya. Aku hanya
bisa melihatnya menangis dari kejauhan karena jika aku terang-terangan berada
disampingnya ia hanya akan tersenyum tegar. Ia- memang pintar sekali
menyembunyikan kesedihannya dari orang lain. Tapi ia juga terlalu bodoh karena
itu sama saja melukai hatinya terus-menerus. Meringkuk sendirian diataas
dinginnya lantai, melihat suaminya terus berucap mencintai wanita lain” heh! Wanita yang menarik.
“ Jika aku yang menjadi wanita itu sudah kulayangkan gugatan cerai
pada suamiku” cetusku sambil menegak
vodka. Hah, rasanya kini seperti meneggak air putih biasa.
“ Yah, kau benar!! Akupun akan melakukan hal yang sama denganmu.
Padahal aku mengenal siapa suaminya, tapi ia selalu bisa menahanku untuk diam
seolah tak tahu apa-apa”
“ Siapa wanita itu ?”
“ Kau tertarik dengannya ? wanita itu adalah Sungyoung. SHIN
SUNGYOUNG!!”
“ Mwo!!!k-ka-kau- hajiman-” Buuggh
“ DAN AKU INGIN SEKALI MELAKUKAN INI DARI DULU PADA SUAMINYA YANG
BODOH!! YANG MENGANGGAP WANITA YANG HAMPIR MEMBUAT PERUSAHAANNYA SENDIRI JATUH
ADALAH PIHAK YANG PALING TERLUKA. RASA BERSALAH YANG BODOH!!!” Buggg
Jadi- aku ? Apa
yang aku lakukan selama ini. Aish, pukulan Kyuhyun cukup membuat darah keluar
dari sudut bibirku ternyata. Kuusap kasar
darah yang keluar dari sudut bibirku, walaupun cukup perih. Ah,
kubenarkan posisi dudukku yang hampir terjatuh.
“ Apa yang kau lakukan ?” tanyaku tenang. Nafas Kyuhyun terlihat
terengah-engah. Dadanya naik turun tak karuan.
“ Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu Jung Byunghee!!! KAU
TAHU TIDAK KAU MEMBUATNYA KETAKUTAN SAAT KAU MELAMPIASKAN AMARAHMU. KAU TAK
SAKIT HATI TAPI KAU SALAH MENGARTIKAN DAN MELEBIH-LEBIHKAN TUAN JUNG YANG
TERHORMAT” Apa yang dikatakannya benar ?
Kyuhyun memang tak pernah membohongiku. Tapi- bukankah kata Sungyoung aku
langsung tertidur ?
“ Sebaiknya kau lihat saja video ini. Aku memasang cctv dikamar
tamu kalian karena aku takut terjadi apa-apa dengan Sungyoung. Kau tak akan
percaya jika aku yang mengatakannya bukan Tuan Jung ? Aku pergi” aku menatap punggung Kyuhyun yang berjalan
menjauh dan kepingan CD yang ada diatas meja bar bergantian.
“ Ah satu lagi. Hyuna itu tak tulus mencintaimu tuan Jung.
Sebaiknya lebih baik kau pikirkan saja apa yang akan terjadi dengan rumah
tanggamu setelah ini. Hyuna hanya ingin membuatmu terpuruk, merusak hidup dan
kehidupanmu. Kau bisa pegang kata-kataku”
***
Author POV
Sungyoung
mengusap-usap tengkuknya yang tak gatal. Ia tersenyum kaku sambil menyantap
sarapannya. Dari tadi pagi Byunghee tak berbicara sepatah katapun padanya, jika
ditanya hanya mengangguk atau menggeleng. Dan lebih membuatnya risih adalah
Byunghee, suaminya tercinta menatapnya tanpa berkedip dengan pandangan
menelisik.
“ Oppa waeyo ? kau- aneh sekali hari ini” Byunghee hanya menatapnya datar lalu mulai
menyantap sarapannya. Mengabaikan pertanyaan dari istrinya.
‘Apa terjadi sesuatu ? Apa Byunghee oppa berniat berpisah denganku
? Apa karena ia belum siap menerima anak yang kukandung, dan tak ingin menjadi
seorang ayah ?’ Sungyoung menggigit bibir bawahnya sendiri, tangan kirinya
mengusap perutnya yang mulai sedikit membesar. Yah sudah 4 bulan. Pikirannya
melayang kemana-mana. Karena ia tahu bahwa suaminya itu mencintai wanita lain,
hal yang paling ditakutkan dalam keluarganya adalah perpisahan. Ia menunduk,
matanya mulai berkaca-kaca. Biasanya ia bisa mengendalikan diri untuk tidak memperlihatkan
air matanya pada orang lain. Dari ekor mata Byunghee, ia dapat melihat mata
istrinya yang biasanya berbinar saat terkena cahaya kini mulai berkaca-kaca.
“ Aku tak pernah melihatmu menangis” Sungyoung tersadar dari pikiran kalutnya. Ia
mengusap dengan gerakan cepat kumpulan air mata yang hampir tumpah dari
matanya.
“ Karena aku bahagia oppa, untuk apa aku menangis” Sungyoung menatap Byunghee yang juga tengah
menatapnya. Sungyoung tersenyum tulus tapi sudut bibirnya sedikit bergetar.
Byunghee menatap setiap inchi wajah istrinya. Baru ia sadari bahwa senyum tulus
itu sarat akan rasa sakit. Ucapan Kyuhyun kembali terinang ‘Tapi ia juga
terlalu bodoh karena itu sama saja melukai hatinya terus-menerus. Meringkuk
sendirian diataas dinginnya lantai, melihat suaminya terus berucap mencintai
wanita lain’.
Byunghee memegang
kedua bahu istrinya. Namun ia masih menatapnya tanpa ekspresi. Wajah Sungyoung
yang berusaha tersenyum cerah kini berubah, walau senyum itu masih tetap
tercetak disana namun kini air matanya turun tanpa kendali dari Sungyoung.
“ Seberapa bahagianya kau hidup denganku ?” Byunghee menarik lengan kiri Sungyoung dan
menggulung kaos lengan panjang yang dipakai Sungyoung hingga terlihat luka
memar dilengan atas yang masih terlihat membiru. Sungyoung berusaha menarik
lengannya tapi Byunghee menahannya. Menatapnya tegas hingga membuatnya
menunduk.
“ Kau bahagia ?”
“ JAWAB AKU JUNG SUNGYOUNG!!” Sungyoung tak terisak. Ia takut, takut
Byunghee akan meninggalkannya. Padahal ia berusaha menutupi semua.
“ Kau bahagia seperti ini ? Hidup dengan orang yang memperlakukanmu
seperti ini. Kau benar-benar wanita bodoh” tubuh Sungyoung melemas saat lengannya dilepas
begitu saja oleh Byunghee.
“ Kumohon, jangan tinggalkan aku oppa” gumam Sungyoung yang membuat air mata Byunghee
turun. Ia menangis. Bukannya menyalahkan dirinya tapi justru menahannya untuk
tidak pergi. Sungguh wanita bodoh.
Grepppp
“ Mana mungkin aku meninggalkanmu Young ? Kau tahu, aku membuat
wanita yang kucintai menangis. Kupikir wanita itu baik-baik saja. Tapi ternyata
ia menangis dibelakangku dalam diam” Bisik Byunghee ditelinga Sungyoung. Siapa
wanita yang dimaksud suaminya ? Apakah ini sebuah pengakuan secara langsung
bahwa Byunghee mencintai wanita lain ? Apakah ini akhir dari segalanya.
“ Hiks..hiks” untuk pertama
kalinya Sungyoung menangis dihadapan orang lain sampai sesegukan. Dadanya
terasa sakit, melepas Byunghee sama saja melepas oksigen untuknya bernafas.
“ Ulljima” Byunghee mengelus
puncuk kepala Sungyoung. Tangannya merengkuh tubuh wanita yang tanpa sadar ia
sakiti.
“ Maafkan aku, aku janji. Untuk menjagamu dan anak kita. Aku
berjanji tak akan membuatmu menangis dalam diam seperti yang selama ini kau
lakukan. Young-” Byunghee mengangkat
dagu Sungyoung hingga mata mereka saling menatap.
“ Aku tahu perbuatanku, sikapku, semua yang pernah aku lakukan
padamu tak termaafkan tapi- bisakah aku memberiku satu kesempatan untuk
memperbaiki ini semua. Kumohon, beri aku kesempatan untuk membuat diriku
berguna sebagai seorang namja. Jung Sungyoung, aku memintamu untuk tetap
berdiri disampingku walau suatu saat nanti aku jatuh dan tak memiliki apapun.
Maukah kau menjalani sisa harimu untuk merawatku dan anak-anakku kelak ?
Menyambut pagi hariku dengan senyum dan mengantarkan diriku kedalam alam mimpi
dengan pelukan hangatmu” jarak antara
wajah mereka hanya 10 cm saja. Byunghee menangkupkan kedua tangannya dipipi
istrinya yang berair mata.
Tubuh Sungyoung
kaku, lidahnya kelu. Tubuhnya terasa ringan. Ketakutan yang dulu selalu
menghantuinya membuatnya enggan menutup matanya kini sirna. Pancaran mata
suaminya begitu tulus membuat air matanya tak kunjung berhenti menyusuri pipi
putihnya yang terlihat sedikit lebih tirus.
“ Kenapa tak menjawab ? Apa kau tak ingin berada disampingku Young
? Geurae, jika ini yang-”
“ Aniya!! Ani oppa. Aku- aku.. tak tahu harus berkata apa. Aku-
begitu takut kehilanganmu oppa” Byunghee
mengalihkan tangannya untuk merengkuh tubuh istrinya. Ia tersenyum, mengelus
rambut istrinya sayang.
“ Aku berjanji mulai sekarang tak akan ada kepura-puraan lagi.
Yaksokhae!!” bisik Byunghee
menenggelamkan wajahnya diantara leher istrinya. Menghangatkan pagi awal musim
gugur yang cukup dingin karena rintikan hujan turun membasahi bumi. Membawa
sejuta berkah bagi umat manusia.
“ Kau hanya terlalu kaku hingga tak bisa membedakan mana yang asli
dan mana yang semu. Kau sendiri yang membuat hidupmu seperti ini. Sekali lagi
jangan pernah menatap masa lalu jika itu menyakitkan” walau dalam keadaan setengah sadar, tapi
Byunghee masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dan bahkan mengingatnya sampai
detik ini.
Hidup
itu hanya sekali, jadi buatlah dirimu berguna untuk orang lain, karena itulah
saat dimana kau merasa benar-benar seperti hidup. Saat dimana kau menikmati
hidup...
Nb : Ini pernah saya ikut sertakan dalam event tapi sayang kagak menang T_T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar